alt/text gambar

Rabu, 22 April 2026

Topik Pilihan: ,

DAOED JOESOEF TENTANG MAHASISWA DAN MISINYA

(TEMPO, No. 8, Thn. VIII, 22 APRIL 1978)


Menteri P & K Doed Joesoef nampaknya sudah lama merenungkan masalah kehadiran mahasiswa di masyarakat. Sarjana ekonomi yang menyatakan perlunya penggabungan antara kecakapan teknis dengan filosofi ini siap betul menjelaskan pandangannya tentang hal itu seperti terdapat dalam jawabnya kepada TEMPO di bawah ini:


Kekuatan Individuil Akalbudi

Mahasiswa harus mampu membangkitkan kekuatan pemikiran. Nah, kalau pun di samping itu mereka mau menjadikan dirinya kekuatan moral, itu harus dalam arti mereka harus bertanggungjawab kepada masyarakat. Sebab masyarakat 'kan sudah memanjakan mereka. Mereka boleh menolak disebut golongan elite, tapi mereka itu elite dibanding misalnya dengan masyarakat pedesaan. Mereka harus bisa mempertanggungjawabkan bahwa misi mereka telah dijalankan. Misi mahasiswa itu adalah membangkitkan kekuatan pemikiran tadi. Bukan kekuatan politik, tapi kekuatan individuil dalam akalbudi (the individual power of the reason).

Mengapa individuil, ini penting. Karena yang kita hendak bangkitkan adalah suatu masyarakat demokrasi, bukan suatu masyarakat kolektif otoriter, di mana manusia-manusianya mau didikte. Nah, syaratnya harus setiap orang itu bisa berpikiran sendiri. Dan juga kenapa individuil, karena kalau jalan pemikirannya itu individuil, itu sumber kreatifitas. Tidak akan ada kreasi kalau orang itu jalan pikirannya tidak individuil. Dan kalau tak ada kreasi hari ini, besok kita tak punya tradisi. Dan suatu masyarakat tanpa tradisi akan ambruk. Tradisi hari ini adalah kreatifitas kemarin.

Yang harus dijaga melalui pendidikan adalah supaya kekuatan individuil dalam pemikiran itu tak tercermin dalam aktifitas sosial. Dalam aktifitas sosial, individu itu di bawah ketentuan masyarakat. Jadi ada kontak sosial terus menerus.

Kita Perlu Politisi, Tapi...

Mahasiswa selama ini melupakan misi pokoknya. Mereka mengklaim dirinya mahasiswa tapi mereka bertindak sebagai politisi. Itu bukan buruk. Kita memerlukan politisi. Tapi kalau mereka benar politisi, mereka harus bersedia mendefinir dirinya sebagai politisi. Jadi jangan di satu pihak berteriak sebagai mahasiswa tapi yang mereka lakukan politik, sementara ketika mau ditindak mereka menyebut mahasiswa lagi. Ini tidak satria.

Mahasiswa juga harus berusaha menjadi seorang gentleman, bukan hero. Sebab lebih sulit menjadi gentleman dari pada hero. Di masyarakat demokrasi paling mudah jadi hero. Kritik saja pemerintah, maka orang akan jadi hero.

Ya, kurikulum tidak mendorong ke arah menjadikan mereka manusia penganalisa. Mahasiswa 'kan harus jadi the man of analysis, bukan manusia rapat umum. Itu bukan berarti mereka tak boleh berpolitik. Tapi, kalau politik tanpa didasarkan pada konsep yang teratur, kacau balau. Kalau misalnya mereka mengatakan demokrasi, mereka harus bisa mengatakan apa itu demokrasi.

Maka dalam kurikulum bakal ada perubahan. Akan saya usulkan dan saya perjuangkan supaya bisa diterima agar mahasiswa lebih aktif dalam bentuk kegiatan tulisan, tidak hanya kuliah. Ini tentu akan minta waktu lebih banyak. Yang saya bayangkan, pada tingkat pertama, mahasiswa sudah harus digiring untuk mencari data. Sebab mencari data dan mengumpulkan data adalah langkah pertama berpikir secara ilmiah.

Pada tahun kedua, mereka sudah harus diajak membuat analisa. Analisa secara rudimenter atau membuat tabel. Pada tahun ketiga, membuat skripsi singkat. Ini pengantar ke arah tradisi tulisan. Skripsi kecil ini tak perlu dipertahankan, hanya perlu dikoreksi. Skripsi ini bisa diperluas pada waktu dia mau lulus sebagai sarjana. Maka itu penting pelajaran mengarang di sekolah menengah. Anak saya sekolah di SMP. Selama itu setahu saya dia hanya tiga atau empat kali diajar mengarang. Dan kalau kita sebut di Indonesia pelajaran mengarang, itu mengarang roman dalam rangka pelajaran bahasa Indonesia. Saya tak menganggap pelajaran mengarang roman itu jelek. Tapi 'kan perlu anak-anak itu mengarang analitis. 

SK 028

Dalam keadaan kondisi sekarang, saya kira tidak perlu diterapkan peraturan semacam SK 028. Tapi dalam kampus yang akan datang, kampus betul-betul akan kita kondisikan untuk bisa menghasilkan orang yang mempunyai kekuatan individuil dalam akal-budi. Itu stereotip mahasiswa yang saya bayangkan.


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. VIII, 22 APRIL 1978



0 komentar:

Posting Komentar