![]() |
| Sisyphus |
Albert Camus adalah seorang penulis dan filsuf asal Aljazair-Prancis yang hidup di era perang dunia 2, kolonialisme, dan kehancuran moral umat manusia. Ia menulis novel-novel legendaris seperti The Stranger dan The Plague, dan pada usia 44 tahun memenangkan Hadiah Nobel Sastra.
Terlepas Anda setuju atau tidak dengan filsafat ya, ia adalah seorang filusuf besar dan pemikiran ya, bisa kita ambil pelajaran, meski harus tak menyetujui semuanya.
Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah esai filosofis berjudul The Myth of Sisyphus sebuah karya yang memulai perjalanannya dengan kalimat yang menggemparkan:
"Hanya ada satu pertanyaan filosofi yang benar-benar serius: apakah hidup layak untuk dijalani?"
Bukan pertanyaan tentang Tuhan. Bukan tentang kematian. Tapi tentang "bunuh diri" lebih tepatnya, mengapa kita tidak melakukannya meski hidup sering terasa tidak masuk akal. Ini berkenaan dengan gagasan Absurd.
Apa Itu Absurd?
Dalam bahasa sehari-hari, kata "absurd" sering kita pakai untuk sesuatu yang konyol atau tidak logis. Tapi dalam filsafat Camus, absurd memiliki makna yang jauh lebih dalam dan lebih serius.
Bayangkan skenario ini:
Seorang pria berjalan ke tengah lapangan perang, hanya berbekal pedang, menghadapi puluhan tentara bersenjata mesin. Kita akan spontan berkata: Itu absurd. Tapi kenapa? Bukan karena tindakannya salah secara moral melainkan karena ada jurang besar antara niatnya dan realitas yang dihadapinya. Keinginannya (menang atau bertahan hidup) bertabrakan keras dengan kenyataan (ia pasti kalah).
Di sinilah inti dari konsep Camus: absurd bukan ada di dalam diri manusia, bukan juga ada di dalam dunia tapi lahir dari benturan antara keduanya.
Kita, sebagai manusia, punya kehausan yang luar biasa terhadap kejelasan, makna, dan kepastian. Kita ingin tahu mengapa kita ada, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita pergi setelah mati.
Tapi dunia? Menurut Camus, dunia diam saja. Alam semesta tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia terus berputar, bintang-bintang terus meledak dan mati, dan tidak ada suara dari langit yang menjelaskan apa pun.
Absurd adalah perceraian antara manusia dan dunia.Sebuah hubungan yang gagal bukan karena salah satu pihak jahat, tapi karena keduanya memang tidak berbicara dalam bahasa yang sama.
Camus mengatakan bahwa perasaan absurd bisa muncul kapan saja, dalam momen yang paling biasa sekalipun. Mungkin kamu pernah mengalaminya tanpa menyadarinya:
1. Rutinitas yang tiba-tiba terasa aneh
Kamu berangkat kerja, duduk di depan layar, mengetik, rapat, pulang, tidur lalu besoknya diulang lagi. Dan di suatu Senin pagi, tiba-tiba kamu bertanya: "Mengapa aku terus melakukan ini?" Bukan karena kamu malas. Tapi karena kamu sebentar menyadari betapa mekanisnya hidupmu dan betapa dunia tidak pernah memintamu untuk menjelaskannya.
2. Kehilangan orang yang dicintai
Saat seseorang yang kamu sayangi meninggal, dunia di luar terus berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap tertawa, matahari tetap terbit, kafe-kafe tetap ramai. Perasaan itu bahwa alam semesta tidak peduli dengan kesedihanmu itulah absurd.
3. Pertanyaan besar yang tidak terjawab
Apakah ada kehidupan setelah mati? Apakah ada tujuan tertinggi dari keberadaan kita? Semakin keras kamu mencari, semakin besar kediamannya. Dan diam itu terasa mencekik.
Menurut Camus, ketika seseorang berhadapan dengan absurd dengan kenyataan bahwa hidup tidak memiliki makna yang sudah ditetapkan ada tiga kemungkinan respons:
Respons Pertama: Bunuh Diri Fisik
Jika hidup memang tidak bermakna, mengapa harus dilanjutkan? Ini adalah "jalan keluar" yang paling literal. Tapi Camus menolaknya. Baginya, mengakhiri hidup justru adalah pelarian dari absurd, bukan jawaban atasnya.Kamu tidak menyelesaikan masalah kamu hanya kabur darinya.
Respons Kedua: "Bunuh Diri Filosofis"
Inilah yang paling menarik dan paling sering dilakukan orang tanpa sadar. Bunuh diri filosofis bukan berarti mati secara fisik tapi mematikan kemampuan berpikir dan merasakan absurd dengan cara berlindung di balik keyakinan tertentu.
Camus mengkritik para filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard yang, setelah mengakui absurd, kemudian melompat ke keyakinan religius. "Ah, kalau hidup ini tidak bermakna, pasti ada Tuhan yang memberi makna lebih tinggi!" Bagi Camus, ini adalah pengkhianatan terhadap kejujuran intelektual. Kamu mengakui masalahnya, lalu segera melarikan diri ke solusi yang justru menghapus masalah itu.
Ini seperti seseorang yang mengakui bahwa hubungannya bermasalah, lalu bukannya menghadapinya ia malah berpura-pura masalah itu tidak ada dengan terus senyum setiap hari.
Respons Ketiga: Pemberontakan (Revolt)
Inilah jawaban Camus. Dan ini yang paling sulit tapi juga paling jujur, paling manusiawi, dan paradoksnya, paling membebaskan.
Pemberontakan bukan berarti kamu marah pada dunia dan memukul-mukul tembok. Pemberontakan dalam pengertian Camus adalah keputusan untuk tetap hidup, tetap sadar, tetap merasakan absurd dan menolak untuk menyerah padanya.
Kamu tidak mencari makna yang sudah jadi. Kamu tidak berlari ke pelukan agama atau ideologi untuk menenangkan dirimu. Kamu berdiri tegak di tengah kekosongan itu dan berkata: "Ya, aku tahu hidup ini tidak memberikan jawaban. Dan aku tetap akan hidup sepenuhnya."
Ada satu poin perlu dicatat dari Camus yang sering terlewat, absurd tidak bisa ada tanpa manusia yang hidup dan sadar.
Kalau kamu mati, absurd juga mati. Kalau dunia hancur, absurd juga lenyap. Absurd adalah makhluk yang hanya bisa hidup dalam ketegangan antara kamu (dengan segala pertanyaanmu) dan dunia (dengan segala kebisuannya).
Ini berarti, setiap kali kamu memilih untuk terus hidup dan terus berpikir, kamu sedang mempertahankan absurd itu sendiri.
Dan bagi Camus, itu bukan beban itu adalah bentuk kebebasan tertinggi. Karena kamu tidak butuh alam semesta untuk melegitimasi eksistensimu. Keberadaanmu sah karena kamu ada, karena kamu merasakan, karena kamu melawan.
Pemikiran Albert Camus memang cenderung sekuler serta ateis dan pengalaman World War II jelas ikut memengaruhi filsafatnya terutama dalam memperkuat kesadarannya tentang absurditas, kekerasan, dan bahaya ideologi absolut namun tidak tepat jika perang dianggap sebagai satu-satunya sumber pemikirannya, karena gagasan absurd sudah mulai ia rumuskan sebelum perang melalui karya seperti Nuptials dan The Myth of Sisyphus, sementara akar lainnya juga berasal dari masa kecil miskin di Algeria kolonial, kematian ayahnya dalam World War I, pengalaman sakit tuberkulosis, serta krisis spiritual barat modern pasca Friedrich Nietzsche.
Dan Camus menegaskan bahwa untuk benar-benar hidup dalam pemberontakan terhadap absurd, ada tiga hal yang tidak boleh hilang:
1. Tidak Ada Harapan (tapi bukan putus asa)
Ini terdengar keras, tapi Camus tidak sedang menyuruh kita menjadi nihilis. Ia membedakan antara hope (harapan akan solusi permanen, akan makna yang sudah tersedia) dan despair (keputusasaan yang pasif). Yang ia tolak adalah harapan palsu, harapan bahwa suatu hari semua pertanyaan akan terjawab. Yang ia pegang adalah semangat untuk terus hidup tanpa jaminan itu.
2. Penolakan yang Terus-Menerus (tapi bukan pengabaian)
Kita harus terus-menerus menolak untuk menerima absurd sebagai sesuatu yang "biasa saja" atau "tidak apa-apa." Bukan karena kita harus terus marah tapi karena kesadaran akan absurd harus dijaga agar tetap hidup. Begitu kita berdamai dan berhenti merasakannya, kita sudah mulai melakukan bunuh diri filosofis.
3. Ketidakpuasan yang Sadar (tapi bukan kegelisahan remaja)
Ada bedanya antara ketidakpuasan yang matang dan kegelisahan yang dangkal. Ketidakpuasan yang dimaksud Camus adalah kesadaran dewasa bahwa dunia tidak sempurna, hidup tidak sempurna dan kita terus bergerak bukan karena sudah puas, tapi karena kita memilih untuk bergerak.
Camus dengan gambaran yang sangat terkenal: Sisifus, tokoh mitologi Yunani yang dikutuk untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali ke bawah selamanya.
Bagi kebanyakan orang, ini terdengar seperti hukuman yang mengerikan. Tidak ada kemajuan. Tidak ada tujuan akhir. Hanya pengulangan yang abadi dan sia-sia.
Tapi Camus berkata sesuatu yang mengejutkan: "Kita harus membayangkan Sisifus bahagia."
Mengapa? Karena Sisifus sadar akan kondisinya. Ia tidak tertipu oleh harapan palsu. Ia tidak menyerah. Ia tahu bahwa batu itu akan selalu menggelinding ke bawah, dan ia tetap mendorongnya bukan karena terpaksa, tapi karena itulah pilihannya. Itulah pemberontakannya. Itulah hidupnya.
Dan dalam kesadaran itu dalam pemberontakan yang sadar terhadap takdir yang absurd ada sesuatu yang menyerupai kebahagiaan. Bukan kebahagiaan yang naif atau yang dipaksakan. Tapi kebahagiaan yang lahir dari kejujuran total terhadap kondisi manusia.
Hidup memang tidak selalu masuk akal. Kadang kerja keras tidak menghasilkan apa yang kita inginkan. Kadang orang baik menderita, dan orang jahat hidup makmur. Ya itulah kehidupan menurut Albert Camus: Absurd.


0 komentar:
Posting Komentar