alt/text gambar

Senin, 11 Mei 2026

Topik Pilihan: ,

Arah Pendidikan Doktoral


Oleh  I Wayan Suartana   


Beberapa tahun terakhir, muncul gejala yang semakin sulit diabaikan: jumlah lulusan doktor meningkat, lulusan dengan pujian (cum laude) juga meningkat, malah terkesan inflasi, tetapi relevansi penelitian mereka terhadap dunia nyata—berbagai ekosistem—relatif sering dipertanyakan. Skeptisisme berkembang dan dampaknya pun diperdebatkan. Di tengah ekonomi yang bergerak cepat, geopolitik dan ekonomi tak menentu, keseimbangan semu disrupsi teknologi, dan kebutuhan solusi praktis yang mendesak, pertanyaan mendasar pun muncul, untuk siapa sebenarnya pendidikan doktoral diselenggarakan? Bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan administratif dan substansi?


Program doktoral (S-3) di Indonesia diatur dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 9. Program ini berada di jenjang tertinggi yang menuntut kompetensi penelitian dan luaran yang mendalam, penciptaan pengetahuan/teknologi dan seni baru, serta pendekatan multi dan transdisiplin. Itulah rumusan normatif yang menjadi acuan dalam membentuk dan menghasilkan doktor yang mumpuni. Dengan masa studi tepat waktu tiga tahun, luaran berupa hasil riset yang bermakna penyelesai masalah sering mengalami trade off, sementara sinyal pasar—tidak selalu berorientasi ekonomi—bergerak dinamis. Standar luaran mestinya tegak lurus dengan standar proses. Pengayaan proses menghasilkan lulusan yang ”kaya”.


Di sisi lain, pada abad ke-21 kita menyaksikan pergeseran paradigma dalam pendidikan doktoral seiring ekonomi global yang semakin menuntut penelitian yang menghasilkan baik wawasan teoretis maupun nilai praktis (Panta dan Thapaliya, 2025). Di berbagai negara, meskipun doctor of philosophy (PhD) tradisional tetap menjadi landasan utama keilmuan akademik, kemunculan doktor profesional atau doktor terapan—seperti doctor of business administration (DBA), doctor of education (EdD), dan doctor of engineering (EngD)—telah mendefinisikan ulang tujuan dan cakupan pembelajaran doktoral.


Program-program ini mengintegrasikan ketelitian akademik dengan penerapan profesional sehingga memungkinkan basis praktisi untuk menangani persoalan dunia nyata yang kompleks melalui penyelidikan, observasi berbasis dampak. Resonansi doktoral yang berkelanjutan akan bergantung pada integrasi praktik reflektif, augmentasi teknologi, dan kemitraan lintas sektor untuk menghasilkan pemimpin yang mampu menciptakan pengetahuan dengan dampak sosial dan ekonomi yang terukur.


Pendidikan doktoral berada di persimpangan yang krusial dan berisiko. Risiko dalam pengertian ditinggalkan calon mahasiswa sangat mungkin terjadi bila tidak peka dengan perubahan. Dahulu terbatas pada pencetakan sarjana dan peneliti untuk dunia akademik, perjalanan doktoral kini telah berkembang untuk melayani banyak tujuan yang lebih beragam—mulai dari pengembangan kepemimpinan hingga inovasi, kewirausahaan, dan penghasil kebijakan publik. Dalam model tradisional, doctor of philosophy (PhD) menekankan kontribusi teoretis dan penelitian orisinal yang terutama dirancang untuk diseminasi akademik dan pengembangan keilmuwan. Karena pemangku kepentingan lebih demanding, perguruan tinggi harus membaca sinyal ini untuk melakukan tinjau ulang sembari meletakkan dasar-dasar orientasi baru.


Fit dengan perubahan lingkungan

Dalam ekonomi berbasis pengetahuan dan sumber daya manusia, pendidikan tinggi semakin diakui bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, pengabdian, dan penelitian, melainkan juga sebagai mesin inovasi, kewirausahaan, dan kemajuan sosial peradaban. Pemerintah, industri, dan institusi akademik kini berkolaborasi untuk menghasilkan pengetahuan bersama yang tidak hanya bereputasi secara ilmiah, tetapi juga berguna secara sosial—sebuah konsep yang diperkuat oleh Triple Helix Model tentang model relasi perguruan tinggi-industri-pemerintah. Dalam konteks ini, gelar doktor telah berkembang dari sekadar upaya ilmiah individual menjadi suatu bentuk inovasi kolektif.


DBA dan doktor profesional serupa lainnya mencontohkan evolusi ini dengan membentuk praktisi yang mampu beroperasi di titik perpotongan dinamis antara teori dan praktik. Mereka bertindak sebagai mediator pengetahuan yang menerjemahkan wawasan akademik menjadi solusi konkret yang dapat ditindaklanjuti atau diterjemahkan, serta berkontribusi pada pembelajaran organisasi, pengembangan kepemimpinan, dan transformasi strategis lintas organisasi/kultural.


Catatan yang harus terus diperbaiki pada doktor terapan adalah legitimasi akademik, filsafat ilmu, dan kualitas riset. Institusi pendidikan tinggi juga semakin intens mengukur keberhasilan melalui inovasi, kemampuan menghasilkan ceruk kerja, dan keterlibatan sosial, sehingga perbedaan antara penelitian akademik dan profesional menjadi semakin tidak kaku dan keduanya beririsan. Dengan semangat ini sesungguhnya tidak selalu dieksekusi dengan penerbitan legalitas, misalnya usulan pendirian program studi baru, yaitu doktor terapan, tetapi bisa saja legalitas lama disesuaikan dengan melakukan berbagai perbaikan di proses bisnis internal dan kurikulum.


Dalam konteks globalisasi dan ekonomi yang didorong inovasi, doktor profesional atau terapan berkontribusi pada pembentukan modal manusia yang mampu menavigasi lingkungan bisnis dan kebijakan yang kompleks.


Digitalisasi praktik penelitian telah mempercepat munculnya bentuk-bentuk baru pendidikan doktoral, termasuk luaran berupa publikasi ilmiah. Perangkat riset berbantuan AI, supervisi virtual, dan lingkungan pembelajaran digital sedang mendefinisikan ulang pedagogik doktoral. Model-model hibrida kini memungkinkan para profesional, usahawan, serta penikmat seni dan budaya menempuh penelitian tingkat lanjut dengan supervisi jarak jauh sambil terlibat dalam proyek kolaboratif berbasis praktik.


Inovasi-inovasi ini meningkatkan inklusivitas dan kolaborasi global dalam pendidikan doktoral. Namun, terkhusus untuk publikasi jangan sampai sekolah doktor ini dikesankan menjadi tempat ”kursus publikasi”, sebuah metafora diduga betapa masifnya ”industri” perpublikasian saat ini. Maka itu, rumusan profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), dan rubrik harus mencerminkan wadah portofolio yang lengkap dan menjadi suluh mengembangkan kompetensi utama. Pada saat yang sama dia juga menjadi alat perencanaan dan pengendalian....



Lengkapnya:  

https://www.kompas.id/artikel/arah-pendidikan-doktoral 


I Wayan Suartana 

Koprodi S-3 Akuntansi FEB Unud dan Koordinator S-3 Akuntansi IAI KAPd


0 komentar:

Posting Komentar