SAYA temukan dia di reception room--duduk di kursi sambil memutar untaian tasbih kecil di pangkuannya. la memakai serban Persia dan jubah Arab, seperti yang biasa dipakai oleh para mullah di Iran atau Iraq. Wajahnya yang bersih dan kelihatan ramah mengundang saya untuk mendekatinya. Setelah berbasa-basi sebentar, tahulah saya mullah bercambang lebat ini bernama Luthfullah Ash-Shafi. Begitu disebut nama itu, saya segera terkenang buku Ihsan Il lahi Zhahir, Asy-Syiah was Sunnah. Namanya disebut berkali-kali dalam buku itu.
"Ya Syaikh, ma'a ihtirami lakum, saya mendengar kabar bahwa Anda orang-orang Persia memilih syi'ah dengan maksud untuk menghancurkan Islam, karena dendam Anda kepada Sayyidina Umar bin Khatab ra, atau Arab yang menaklukkan negeri Anda". Saya berusaha menangkap ekspresi wajahnya. Biasa. Tidak terkejut, juga tidak marah Tampaknya ia membenarkan kabar. itu atau menerima dakwaan itu. Beberapa saat kemu dian ia tersenyum.
Ya akhi, ma'a ihtirami lil 'arab wa taqdiri lahum, Saya bangga saya menguasai bahasa Arab dan sanggup menulis dalam bahasa itu, sebagus saya menulis dalam bahasa ibu saya, bahasa Persia; walaupun saya tidak memiliki ijazah magister dalam bahasa Arab. Saya menganggap bumi Arab tanah yang suci. Saya jadikan Arab kiblat saya. Saya cium tanahnya yang pernah di injak Nabi Islam walaupun orang melarang saya. Saya ingin tulang-tulangku dibenamkan di tanah suci dan dibangkitkan dari situ juga
Wa ma'a dzalik walaupun begitu, saya ingin menyatakan bahwa Arab tidak beriman kepada Muhammad, kecuali setelah dakwah Islamiah. mengetuk telinga mereka. Maka berimanlah kaum muslimin yang pertama yang memiliki kemuliaan dan ketinggian karena menjadi pelopor keislaman. Tetapi sebagian yang lain bahkan kebanyakan masuk Islam belakangan. Banyak di antara mereka yang masuk Islam (setelah Futuh Makkah); menerima Islam karena takut dan bumi sudah sempit buat mereka.
Ada seseorang yang masuk Islam dengan petunjuk akalnya, la tinggalkan negerinya untuk mencari kebenaran. Ditemukannya segala kesulitan dan marabahaya. Sampai ia menemukan kebenaran itu. pada diri Muhammad Saw. la beriman - padanya dan menjadi sahabatnya yang setia la memberikan petunjuk yang bijaksana pada perang Khandaq, juga pada peristiwa lainnya. Nabi yang mulai membalasnya dengan penghargaan yang luhur: "Salman min ahlil bait" Inilah kebanggaan orang Persia.
Orang Persia masuk Islam bukan karena ditaklukkan orang Arab. Mereka mendengar Islam yang mengajarkan persamaan dan Kasih Sayang kebenaran dan keadilan, agama yang menyatakan: Tidak ada kelebihan bagi orang Arab di atas orang Ajam, orang putih di atas orang hitam, agama yang menegaskan tidak ada lagi Kisra sesudah hari ini Orang Persia melihat Salman, orang rantau, menjadi ahli bait Nabi. Ia melihat Ammar bin Yasir, budak hitam, menjadi sahabat setianya. Ia menyaksikan Bilal, orang Afrika yang ucapan sin-nya dihitung sebagai syin oleh Rasul dan dijadikan muadzinnya. Maka masuklah orang-orang Persia ke dalam Islam dan berjihad secara ilmi dengan mengembangkan ilmu hadist, fiqh, adab, nahwu, kedokteran, syair, fisika, dan sebagainya.
Tetapi dengan otaknya yang jernih, ia melihat Islam. tidak dicerminkan pada perilaku penguasa-penguasa Islam Istana-istana para khalifah ternyata jauh dari ajaran Islam dan ajaran Muhammad. Kisrawiyah yang diperangi Nabi bahkan muncul pada Mu'awiyah dan i putra-putri Marwan Orang Persia melihat unsur kesu kuan menyebar di tengah-tengah umat, yang membeda kan antara Arab dan mawali, antara Adnaniyah dan Mudhariyah. Mereka menyaksikan harta kaum muslimin digunakan untuk foya-foya dan maksiat.
Mereka tidak melihat Islam di istana yang gemerlapan. Mereka menemukan Islam (sambil mengutip ucapan Ihsan Ilahi Zhahir) pada "orang-orang yang berlindung di gua-gua, menutup dirinya, dan bersembu nyi di lubang-lubang".
Mereka melihat Islam pada Ali Zainal Abidin yang mengangkut karung makanan di punggungnya dan membagikannya pada orang-orang miskin, bukan pada Hisyam bin Walid yang menggenggam kekuasaan; pada Musa bin Ja'far yang pindah dari penjara yang satu ke penjara yang lain, bukan pada Harun al-Rasyid yang menyeret orang hanya karena kecintaannya pada keluarga Nabi, pada Al-Hadi yang tinggal bersama orang-orang miskin di Samira, bukan pada penguasa yang meminum khamar di pesta-pesta.
Berpalinglah orang Persia pada ahli bait- keluarga Nabi yang ditindas dan dikejar-kejar, karena mereka tahu ahli bait lebih tahu tentang apa-apa yang berada di dalam keluarga Nabi. Mereka mendengar hadits yang mengamanatkan Al Qur'an dan keluarga Nabi, yang suci. Ke situlah orang-orang Persia menyimpan hati mereka"
la berbicara cepat sekali. Saya berkali-kali ingin menyelanya dan gagal Untunglah kemudian datang Asy-Syaikh Jawad-Mughniyah, alim dari Libanon yang sudah sava kenal sebelumnya Luthfullah berhenti sebentar. Saya ceritakan kepadanya apa yang tengah kami perbincangkan. Saya sebutkan beberapa kecaman tentang orang Persia dan Syi'ah yang ditulis oleh Ihsan Ilahi Zhahir.
Syaikh Jawad Mughniyah menarik nafas panjang Seperti mengeluh, ia berkata: "Di dunia ini segala hal berubah kecuali tulisan yang menentang Syi'ah Segala permulaan ada ujungnya, kecuali tuduhan terhadap Syi'ah. Segala vonis harus berdasarkan bukti kecuali vonis terhadap Syi'ah Mengapa? Apakah Syi'ah itu pembuat onar atau pembikin kekacauan, yang hanya in gin mengganggu orang?
Saya segera menukas, "Maaf, saya kira Anda bermubalaghah. Kebencian pada Syi'ah ada juga ujung nya Lihatlah Dr. Ahmad Amin, sebagai misal. Pada Fairul Islam, ia melukiskan Syi'ah. sebagai produk Yahudi,
PANJI MASYARAKAT NO 513
Drs. Jalaluddin Rakh mat, M.Sc., adalah dosen pada Fakultas Komunikasi dan Pasca Sarjana, Univer sitas Padjadjaran (Un padi dan Institut Tekno logi Bandung (ITB) Tamat dari Fakultas Pur blisistik Lopad (1976) kemudian melanjutkan studi bidang Penelitian Komunikasi di lowa State University (19821 dan memperoleh Master of Science dengan tesis berjudul A Model for the Study of Mass Media Effects on Political Leaders
Walaupun saya mengaku tidak bermazhab. Tetapi karena seperti -Syaltut saya berusaha mendekatkan Sunni dan Syi'ah, orang menganggap saya Syi'ah
Cap Syi'ah dikenakan pada saya, hanya karena saya mengatakan bahwa Syi'ah adalah saudara kita seagama, bahwa kita dapat belajar banyak dari mereka, seperti juga mereka dari kita."
"Saya dengar", sela Jawad Mughniyah, "Para ulama Indonesia mencemaskan timbulnya kelompok
kelompok Syi'ah di perguruan tinggi di Indonesia".
"Sebetulnya sulit mencari Syi'ah di mana pun di Indonesia, yang mereka cemaskan sesungguhnya orang
orang seperti saya; yang ingin mengembangkan
wawasan melewati batas-batas mazhab tradisional,
yang ingin menghidupkan semangat ukhuwwah bukan
saja dalam ucapan, tetapi juga dalam pikiran dan amal.
Bagi kami, tidak ada Sunni dan Syi'ah. Yang ada ialah
Islam". Aku berkata penuh semangat
Syaikh Luthfullah tersenyum. "Tidak semua orang
akan menanggapi Anda seperti itu. Anda boleh masuk
salah-satu organisasi Zionisme, dan rekan-rekan Anda
tidak akan apa-apa. Anda sebut Syi'ah agak positif,
orang akan mengucilkan Anda. Karena semangatnya
untuk mempersatukan umat, Syaltut dicemoohkan dan
diejek orang. Ihsan Illahi Zhahir menyebutnya sebagai
orang tua yang terkecoh oleh tipudaya orang Syi'ah."
Sebuah buku diterbitkan. Judulnya: Tanbihul Imam li
khuruji Syaltut minal Islam (Peringatan pada imam,
karena keluarganya Syaltut dari Islam). Sebuah negara
Islam menghentikan bantuan keuangan pada Dr. Kalim
Siddiqui di Muslim Institute, London, karena ia menulis
baik tentang Syi'ah, padahal Siddiqui adalah Hanafi."
Hal yang sama terjadi pada Ismail Faruqi, karena ia dan
istrinya menghadiri Seminar Al-Qur'an di Iran"
"Betul, sampai sekarang saya berada dalam posisi
yang bingung. Orang menyebut saya Syi'ah, padahal
saya berpegang pada ushul dan furu Ahlu sunnah. Orang
menuduh saya propagandis mut'ah, padahal hukum
mut'ah tidak saya ketahui. Akibatnya, Sunni menolak
saya dan Syi'ah tidak mengakui saya Ngomong
ngomong (sambil melirik Syaikh Jawad Mughniyah,
penulis Al Figh alal Madzahib Al Khamsah)
bagaimana sebetulnya fiqih Syi'ah itu?"
Syaikh Jawad Mughniyah tersenyum, "Akhi, saya
tidak menghendaki Anda menjadi Syi'ah. Jadilah
Sunni yang baik. Lagipula, bukanlah perbedaan paham akan memperkaya wawasan kita. Pada suatu
hari seseorang mendatangi Imam Ja'far As-Shadiq
meminta makanan. Murid-muridnya memperbincangkan dan mencela orang itu yang meminta makanan sebelum mengucapkan salam. Imam Ja'far mencela perbincangan itu la menegaskan bahwa fiqihnya mengajurkan memberi makanan dahulu dan
baru memperbincangkan salam. Inilah fiqih Ja'fari.
ya akhi atasi dahulu keterbelakangan dan kesengsaraan kaum muslimin. Setelah itu barulah kita
berdebat tentang masalah furu'.
Bandung. 10 Agustus 1986



0 komentar:
Posting Komentar