Jamaah Jumat yang berbahagia, Allah melalui AlOuran memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada umatnya agar berdakwah. Mengajak umat manusia mengikuti jalan Allah, karena satu-satunya jalan kebenaran adalah jalan Allah. Al-Ouran dengan tegas mengatakan:
Ajaklah umat manusia agar mengikuti jalan Tuhanmu, bukan jalanmu, bukan jalan manusia, bukan jalan hawa nafsumu, bukan jalan kepentinganmu, bukan hasratmu, tapi jalan Allah, Tuhanmu. Sabilil hag, al-hag fil 'agidah wal hag fis syariah wal hag fil akhlag. Ajaklah manusia ke jalan yang benar, jalan Tuhanmu, kebenaran dalam beragidah, beriman pada Allah, pada para malaikat, pada para anbiya, pada kitab suci yang diturunkan, pada hari kiamat, pada gadla dan godar. Al hag fis Syariah, kita harus mengikuti perintah Allah dalam beribadah, dengan berdasarkan Al-Ouran, Hadits, Ijma' dan Oiyas. Al hag fil akhlag, bertasawwuf, kita harus membangun erat budaya, birrul walidain berbakti pada orang tua, ikromu dluyuf (menghormati tamu), ighatsatul lahfan (menolong orang yang sedang kesusahan), izalatul gham wal hamm, takziatul maut (bertakziah), silatur
rahim, adamut takabbur (tidak sombong), hormat orang tua, hormat kyai, silaturrahim, menolong sesama, gotong royong, tidak boleh bohong, adu domba, fitnah, menghina satu sama lain, ini namanya sabiili rabbika fil akhlaq.
Kemudian, dakwahnya dengan apa itu? Dengan metode seperti apa? Nabi Muhammad sendiri diperintah oleh Allah dan kita harus mengikuti, agar dakwahnya bil hikmah, dengan penuh kearifan, dengan penuh bijak, tidak boleh kasar, tidak boleh menyakiti hati orang, tidak boleh menyinggung. Dakwahnya bit tadrij, step by step, bit taklif, raeminimalisir beban, kemudian “adamul haraj, tidak boleh melukai orang lain, menyinggung perasaan orang. Dan bil masuliyyah dengan tanggung jawab. Ini namanya dakwah bil hikmah.
Contoh, ringkas saja dalam khotbah terbatas sekali waktunya. Contoh, ketika ada orang Badui masuk islam, Nabi Muhammad memberikan pengarahan kemudian dia terima. “Semua arahan dari Anda Rasulullah, saya terima kecuali. satu, saya minta izin diperbolehkan berzina, satu saja ini. Saya mau shalat, mau zakat, mau puasa, mau apa, satu saja, izinkan saya berzina.” Apa jawabnya Nabi Muhammad? Bukan “Haram”. Tapi jawabnya “Coba kalau yang zina itu teman kamu menzinai. ibumu, kalau yang zina itu tetanggamu menzinai
putrimu, kalau yang zina itu teman kamu, tetanggamu menzinai istrimu, ibumu, putrimu, bagaimana kirakira?” Dia baru tersentuh hatinya dan sumpah dia tidak akan berzina lagi. :
Itu artinya Nabi Muhammad berhasil memasukkan dakwah bil hikmah. Yidak bil ikrah, tidak menteror, ancaman, menakut-nakuti, tidak, tapi bil hikmah. Seperti ketika Rasulullah masuk kota Makkah dengan penuh kemenangan, Rasul mengatakan “al-Yaum yaumul marhamah.” Yang dulu orang Makkah mengusir, menyiksa, menyakiti bahkan membunuh, sahabat Yasir, sahabat Sumaiyah dibunuh oleh Abu Jahal, Rasulullah masuk kota Makkah setelah 8 tahun penuh kemenangan, apa kata beliau? “Al-yaum yaumul marhamah,” hari ini hari rekonsiliasi, menyambung kembali persaudaraan, tidak ada balas dendam, semua dimaafkan, termasuk anaknya Abu Jahal, Ikrimah, dimaafkan. .
Dari situ orang Makkah berbondong-bondong masuk islam. “ Wa raitannaasa yadkhuluuna fii dinillaahi afwaajaa.” Lihatlah Muhammad, orang Makkah semua masuk islam dengan mengatakan “bi abii wa ummii antal karim ibnil karim ibnil karim,” “Demi ayahku, demi ibuku, engkau Muhammad sungguh orang yang mulia dan bijak, putra dari seorang ayah yang mulia dan bijak, cucu dari seorang kakek mulia dan bijak” Panjang kalau
2
kita bicara hikmah, itu salah satu contoh saja.
Yang kedua, wal mauidzatil hasanah, tutur kata yang simpati, tutur kata yang baik. Mengapa Al-Ouran turun dengan bahasa yang indah? Mengapa bahasa AlOuran itu sangat indah? Itu supaya menarik, supaya orang yang membaca atau mendengarkan tertarik bahasa arab. Kemudiah lahirlah ilmu yang digagas oleh seorang ulama yang bernama Amr bin Ubayd, meneliti, mengkaji rahasia bahasa Al-Ouran, lahirlah namanya ilmul balaghah. Terdiri dari tiga komponen, ilmu maani, ilmu bayan, ilmu badi. Panjang kalau saya terangkan ini, yang jelas Al-Ouran menggunakan bahasa yang sangat indah. Dan bagi yang mengerti bahasa arab, luar biasa. Bukan syair, bukan pantun, tapi seperti syair, seperti pantun. Bukan sajak, Al-Ouran itu bukan sajak, tapi ada sajaknya dan tidak semuanya sajak. Bukan pantun, tapi ada pantunnya dan tidak semuanya pantun. Bukan syair,
tapi ada seperti syairnya, tapi bukan. semuanya syair. Itulah bahasa Al-Our'an.
Dengan menyampaikan kandungan, bukan hanya . perintah dan larangan, tapi kisah-kisah para nabi, kisah-kisah umat terdahulu, ada yang menjadi contoh agar menjadi teladan untuk kita semua. Bagaimana nasibnya orang yang menentang Allah, dan bagaimana akhir daripada orang yang bertakwa pada Allah. Semua
disampaikan dalam Al-Ouran dengan tutur kata yang indah dan baik, luar biasa.
Ketika gempar orang Badui masuk masjid, kencing. Sahabat mau bentak-bentak, Nabi “Biarkan, biarkan, biarkan tuntaskan dulu pipisnya, setelah itu baru dibersihkan, dicuci dan dikasih nasihat bahwa di masjid tidak boleh pipis sembarangan” Itu cara-cara dakwah bil maudzatil hasanah. “Inna fil bayaani as syira” dalam menyampaikan ceramah atau mauidzah di situ harus mengandung syiir, mengandung daya tarik yaitu dengan . tutur kata yang indah yang baik. Sekali-kali ada syairnya, “ada pantunnya, sekali-kali ada puisinya, sekali-kali ada dongengnya, supaya dapat menarik bagi para pendengar dan para pemirsa kalau di televisi.
Tidak ada aturan Al-Ouran, tidak boleh dalam AlOuran, dakwah dengan kekerasan, teror, mengancam, caci maki, tidak boleh sama sekali. Seorang sahabat bernama Hassin al Khazraj mempunyai anak tidak mau masuk islam, lama-lama diancam, lama-lama mengancam, ayah kepada anak. “Kalau kamu tidak mau masuk islam saya bunuh” Begitu ada ayahnya mengancam anak, turun ayat Al-Ouran “Laa ikraaha fid diin”, tidak boleh ada kekerasan, teror, dalam agama. Ayat tidak boleh mengancam anak dalam masalah agama.
Yang terakhir, “wa jaadilhum billati hiya ahsar”. Tapi kalau di kalangan intelektual, kalangan kampus, kalangan orang yang berfikir, maka harus menggunakan diskusi. Tapi diskusi juga ada adabul bahtsi wal munadzarah. Ada metode, ada sistem, harus saling menghormati. Nabi Muhammad, lagi-lagi jadi contoh Nabi Muhammad, kedatangan orang Kristen Najran, tamu orang Kristen dari Najran. Terkenal kota Najran pusatnya Kristen dari — sejak dulu. Apa kata Nabi? Apa kata Al-Ouran?
| 4, . £ P . £ 4 ad JM GI ea Jd BU Usa Y3 Ayo, kita diskusi yuk. “Innaa au iyyakum” Entah saya
» €
atau Anda” “Jaalaa hudan” “yang benar” “au dlalaalin” “atau yang salah. Ayo diskusi mencari kebenaran, entah saya entah Anda yang benar ini. Coba, caranya mujadalah seperti itu, tidak langsung “saya benar kamu salah” tidak ada itu. Ketika kedatangan tamu Kristen | Najran, Nabi mengajak diskusi dengan berangkat dari nol, berangkat dari zero. Ayo kita mencari kebenaran, “Jaalii au iyyakum” aku atau Anda. “Laala hudan au fii
dlalalin mubin” yang benar atau yang salah.
Itu, adabul bahtsi wal munadzarah, cara berdebat, cara diskusi, cara berdialog seperti itu. Begitu pula banyak sekali contoh-contoh para auliya, para wali songo sering berdebat dengan masyarakat di nusantara
ini. Dengan kecerdasannya berdebat, mereka luluh hatinya, merasa kalah dan memeluk agama islam. Dalam berdebat ini antara lain harus mengerti tentang ilmu mantig, logika. Harus menggunakan premis minor, premis major, dan konklusi yang benar. Seperti Nabi Ibrahim dalam pengembangan intelektualitasnya, ketika . melihat bintang dikira tuhan, ternyata hilang, Tuhan tidak mungkin hilang. Kemudian melihat bulan, oh ini Tuhan, ternyata hilang bulan itu. Tidak mungkin Tuhan itu hilang. Ketika melihat matahari, wah ini besar, ini Tuhan ini, tapi ternyata matahari juga hilang, maka tidak mungkin Tuhan itu bisa hilang.
Ini namanya menggunakan premis minor premis major dan konklusi. Alaalamul mutaghayyir wa kullu mutaghayyirin haadits, wa kullu haaditsin yahtaaju ilaa . muhdits wal muhdits huwallaah. Alam berubah, setiap yang berubah pasti baru, setiap yang baru membutuhkan yang menciptakan, yang menciptakan tidak boleh berubah dan tidak boleh baru, maka itulah Allah, Tuhan wahdahuu laa syariika lah. Ini namanya ilmu mantig, menggunakan intelektualitas, akal yang jernih, akal yang sehat, yang cerdas, sadar Nabi Ibrahim kepada tauhid, kepada Allah.
Sumber:
Said Aqil Siradj, Khutbah Jumat Said Aqil Siradj, Mojokerto: Ulama Nusantara dan Penerbit Kalam, 2021, h. 1-8.
Bisa juga dilihat di YouTube:
https://www.youtube.com/live/hx32b0hYBzI?si=uJCKAY46Brn345_w

0 komentar:
Posting Komentar