Sidang shalat Jumat yang berbahagia.
Marilah kita merenungkan mengenai apa yang disebut sebagai fitrah
atau kesucian asal manusia. Manusia, menurut agama kita, diciptakan oleh Allah
Swt. dalam keadaan fitrah. Rasulullah mengatakan:
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua
orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Bukhari)
Adanya fitrah adalah sebagai kelanjutan dari perjanjian kita
dengan Allah Swt. ketika kita masih berada di alam ruhani. Oleh karena itu juga
disebut sebagai perjanjian primordial (perjanjian azali), perjanjian di masa
yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity. Waktu ruh mau ditiupkan
dalam diri kita Ketika kita masih berada di alam Rahim, Allah mengambil
kesaksian pada diri kita. Jadi, ia merupakan syahadat setiap manusia. Dari
Rahim siapa pun dia, ia sudah bersyahadat (bersaksi). Dijelaskan oleh Allah Swt
dalam surah Al A’raf ayat 172:
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
”Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: ”Betul (Engkau Tuhan kami). Kami
menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: ”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (Q.,s. al-A’raaf/ 7:172).
Hasil dari
bersyahadat dalam alam ruh itu maka setiap anak itu dalam keadaan fitrah (suci;
berislam)
Fitrah inilah
yang membuat manusia berkeinginan suci dan selalu cenderung kepada kebenaran
(hanif). Fitrah pada diri manusia itu, semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman,
tidak pernah berubah dan akan berubah. Artinya, fitrah dalam diri setiap
manusia itu tetap sama: sama-sama cenderung pada kebenaran dan kebaikan.
Terlepas apapun ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, waktu, tempat, dan
lain sebagainya. Fitrah pada setiap manusia itu tidak akan berubah sepanjang
masa. Firman Allah:
Jadi, manusia, semenjak Nabi
Adam hingga kini, diciptakan dalam kesucian asal yang disebut fitrah. Fitrah
membuat manusia cenderung pada hal-hal yang baik, yang benar, yang adil, yang
indah, yang suci, meskipun dalam
faktanya versi tentang kebenaran itu berlainan. Tapi yang jelas, manusia itu
suka pada kebaikan dan kebenaran.
(cenderung pada kebenaran dan kebaikan), yang disebut hanif.
Nah, tempat bersemayamnya
kesucian asal itu pada diri manusia adalah hati yang disebut “nurani” (bersifat
nur/cahaya; bersifat terang).
Kata hanief ini
selalu kita ucapkan dalam do’a iftitah di waktu shalat. (inni
wajjahtu wajhia lilladzii fatharas-samaawaati wal ardla hanifaw
wa maa ana minal musyrikin). Artinya: Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi dengan hanif (selalu cenderung
kepada kebenaran), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.
Hati nurani (dlamier)
inilah yang selalu mencahayai manusia sehingga manusia mampu
mengetahui apa yang baik, apa yang suci dan benar. Manusia akan
selalu dalam fitrahnya jika ia hidup mengikuti nuraninya yang suci.
Fitrah bawaan harus dibantu
dengan fitrah yang diturunkan
Tapi, walaupun manusia pada
dasarnya adalah hanif, manusia juga diciptakan sebagai makhluk yang lemah. Hal
itu dijelaskan dalam beberapa,misalnya:
(Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan
manusia dijadikan bersifat lemah. Q.,s.
al-Nisaa'/4:28)
Karena
kelemahannya itu, maka manusia cenderung berpandangan pendek, mementingkan
hal-hal segera, dan mengabaikan hal-hal jangka Panjang. Dalam surat Al A’la,
Allah mengatakan:
بَلْ
تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ
Adapun kamu (orang-orang
kafir) mengutamakan kehidupan dunia,
وَالْاٰخِرَةُ
خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ
padahal
kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Jadi, karena
kelemahan-kelemahan itu semua membuat manusia juga rawan terhadap kesalahan dan
kekeliruan.
Manusia, dalam kehidupannya
sehari-hari, tak selalu dapat mendengar hati nuraninya. Atau karena hati sudah
kehilangan cahayanya, sehingga tak lagi bersifat terang atau bersifat cahaya
(nurani). Yang membuat hati kehilangan cahaya apa? Yaitu dosa dan kejahatan yang dilakukan. Dosa yang
sering dilakukan akan menjadikan hati tidak lagi bersifat nur atau cahaya, tapi
membuat hati gelap—tak mampu lagi membedakan yang baik dan yang zalim. Karena itu, dosa—dalam al Qur’an—disebut zhulm yang
berarti “gelap”, dan orang yang berbuat dosa disebut “zhalim” (orang
yang melakukan kegelapan).
Orang yang selalu berbuat
jahat akan melihat kejahatan itu sebagai kebaikan. Tak dirasakannya sebagai
dosa karena sudah terbiasa. Itulah yang dikatakan oleh Allah:
”Sudahkah engkau (Nabi
Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (Al
Furqan ayat 43)
Jadi, karena kelemahan manusia
itulah, maka Allah karena kasih sayangnya, membantu fitrah yang sudah ada pada
diri manusia itu dengan wahyu (kitab-kitab) yang disampaikan melalui nabi-nabi.
Itulah yang kita kenal dengan agama. Jadi, agama ini juga merupakan fitrah.
Yaitu, ”fitrah yang diturunkan”, yang diistilah oleh Ibnu Taymiyyah sebagai ”fitrah
munazzalah”. Jadi, bisa katakan bahwa hati nurani itu sifatnya internal,
sedangkan agama itu faktor eksternal.
Artinya, manusia itu secara
instingtif bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Jika tidak
terkontaminasi oleh pengaruh kehidupan sosial, ia akan tetap suci dan tetap
dalam keadaan fitrah. Tetapi, adalah tidak mungkin kita bisa hidup tanpa interaksi
sosial. Karena itulah, Allah memberikan manusia itu pedoman: yakni wahyu Allah yang disampaikan
kepada para nabi, terutama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang
berupa al-Qur’an, sehingga kita tetap berada dalam fitrah atau di
jalan yang lurus (siratul mustaqim).
Jadi, sikap lurus sesuai
fitrah kita ini, itulah sikap islam yang sejatinya. Sikap tunduk, patuh
dan berserah diri (islam) pada Allah berdasarkan nurani, itulah inti
ajaran para nabi mulai dari Nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa al-Masih, sampai Nabi
Muhammad s.a.w. Itulah yang dimaksud dalam surat Ar Ruum/30:30 di atas.
Jadi, islam itu sikap batin,
bukan organisasi. Walaupun di KTP-nya tertulis agama: Islam, belum tentu ia
islam dalam hakikat batin.
Jadi, marilah kita beragama
dengan selalu setia pada suara hati nurani kita yang suci. ”Istafti kalbaka,”
kata Rasulullah. ”Mintalah fatwa pada hatimu sendiri.” Agar nurani kita ini
selalu tajam membedakan apa yang baik apa yang jahat, maka selalulah kita
berbuat baik dalam kehidupan kita, bukan memperbanyak dosa. Jika perbuatan baik
yang kita perbanyak, maka hati kita akan semakin tajam membedakan kebaikan dan
keburukan, tetap akan menjadi cahaya (nur) yang akan senantiasa membimbing kita
pada kebenaran, di samping kita berpedoman kepada Al Quran dan hadits tentunya.
Sebaliknya, hati akan gelap tak bersifat nurani (cahaya) lagi dikarenakan dosa, kejahatan, dan kezaliman yang banyak. Lawan dari ”nurani” adalah ”zulmani”. Hati yang gelap bukan lagi disebut nurani, tapi zulmani. Karena itulah ada istilah ”zulumati ilannur; dari lumpur kegelapan kepada cahaya yang terang benderang”. Semoga kita selalu berada dalam fitrah kita dengan setia pada suara nurani kita.

0 komentar:
Posting Komentar