alt/text gambar

Senin, 15 Juni 2026

Topik Pilihan: , ,

Khutbah Jumat: Fitrah versi 2

Sidang shalat Jumat yang berbahagia. 

Marilah kita merenungkan mengenai apa yang disebut sebagai fitrah atau kesucian asal manusia. Manusia, menurut agama kita, diciptakan oleh Allah Swt. dalam keadaan fitrah. Rasulullah mengatakan: 

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Bukhari) 

Adanya fitrah adalah sebagai kelanjutan dari perjanjian kita dengan Allah Swt. ketika kita masih berada di alam ruhani. Oleh karena itu juga disebut sebagai perjanjian primordial (perjanjian azali), perjanjian di masa yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity. Waktu ruh mau ditiupkan dalam diri kita Ketika kita masih berada di alam Rahim, Allah mengambil kesaksian pada diri kita. Jadi, ia merupakan syahadat setiap manusia. Dari Rahim siapa pun dia, ia sudah bersyahadat (bersaksi). Dijelaskan oleh Allah Swt dalam surah Al A’raf ayat 172:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ”Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: ”Betul (Engkau Tuhan kami). Kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.  (Q.,s. al-A’raaf/ 7:172).

Hasil dari bersyahadat dalam alam ruh itu maka setiap anak itu dalam keadaan fitrah (suci; berislam)

Fitrah inilah yang membuat manusia berkeinginan suci dan selalu cenderung kepada kebenaran (hanif). Fitrah pada diri manusia itu, semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, tidak pernah berubah dan akan berubah. Artinya, fitrah dalam diri setiap manusia itu tetap sama: sama-sama cenderung pada kebenaran dan kebaikan. Terlepas apapun ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, waktu, tempat, dan lain sebagainya. Fitrah pada setiap manusia itu tidak akan berubah sepanjang masa. Firman Allah:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.,s. Ar-Ruum/ 30:30).

Jadi, manusia, semenjak Nabi Adam hingga kini, diciptakan dalam kesucian asal yang disebut fitrah. Fitrah membuat manusia cenderung pada hal-hal yang baik, yang benar, yang adil, yang indah, yang  suci, meskipun dalam faktanya versi tentang kebenaran itu berlainan. Tapi yang jelas, manusia itu suka pada kebaikan dan kebenaran.  (cenderung pada kebenaran dan kebaikan), yang disebut hanif.

Nah, tempat bersemayamnya kesucian asal itu pada diri manusia adalah hati yang disebut “nurani” (bersifat nur/cahaya; bersifat terang).

Kata hanief  ini selalu kita ucapkan dalam  do’a iftitah di waktu shalat. (inni wajjahtu wajhia lilladzii fatharas-samaawaati wal ardla hanifaw wa maa ana minal musyrikin). Artinya: Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif (selalu cenderung kepada kebenaran), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

Hati nurani (dlamier) inilah yang selalu mencahayai manusia sehingga manusia mampu mengetahui  apa yang baik, apa yang suci dan benar. Manusia akan selalu dalam fitrahnya jika ia hidup mengikuti nuraninya yang suci.

Fitrah bawaan harus dibantu dengan fitrah yang diturunkan

Tapi, walaupun manusia pada dasarnya adalah hanif, manusia juga diciptakan sebagai makhluk yang lemah. Hal itu dijelaskan dalam beberapa,misalnya:

(Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. Q.,s. al-Nisaa'/4:28)

Karena kelemahannya itu, maka manusia cenderung berpandangan pendek, mementingkan hal-hal segera, dan mengabaikan hal-hal jangka Panjang. Dalam surat Al A’la, Allah mengatakan:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ

Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia,

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Jadi, karena kelemahan-kelemahan itu semua membuat manusia juga rawan terhadap kesalahan dan kekeliruan.

Manusia, dalam kehidupannya sehari-hari, tak selalu dapat mendengar hati nuraninya. Atau karena hati sudah kehilangan cahayanya, sehingga tak lagi bersifat terang atau bersifat cahaya (nurani). Yang membuat hati kehilangan cahaya apa? Yaitu  dosa dan kejahatan yang dilakukan. Dosa yang sering dilakukan akan menjadikan hati tidak lagi bersifat nur atau cahaya, tapi membuat hati gelap—tak mampu lagi membedakan yang baik dan yang zalim. Karena itu, dosa—dalam al Qur’an—disebut zhulm yang berarti “gelap”, dan orang yang berbuat dosa disebut “zhalim” (orang yang melakukan kegelapan).

Orang yang selalu berbuat jahat akan melihat kejahatan itu sebagai kebaikan. Tak dirasakannya sebagai dosa karena sudah terbiasa. Itulah yang dikatakan oleh Allah:

”Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (Al Furqan ayat 43)

Jadi, karena kelemahan manusia itulah, maka Allah karena kasih sayangnya, membantu fitrah yang sudah ada pada diri manusia itu dengan wahyu (kitab-kitab) yang disampaikan melalui nabi-nabi. Itulah yang kita kenal dengan agama. Jadi, agama ini juga merupakan fitrah. Yaitu, ”fitrah yang diturunkan”, yang diistilah oleh Ibnu Taymiyyah sebagai ”fitrah munazzalah”. Jadi, bisa katakan bahwa hati nurani itu sifatnya internal, sedangkan agama itu faktor eksternal.

Artinya, manusia itu secara instingtif bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Jika tidak terkontaminasi oleh pengaruh kehidupan sosial, ia akan tetap suci dan tetap dalam keadaan fitrah. Tetapi, adalah tidak mungkin kita bisa hidup tanpa interaksi sosial. Karena itulah, Allah memberikan manusia itu pedoman: yakni wahyu Allah yang disampaikan kepada para nabi, terutama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang berupa al-Qur’an, sehingga kita tetap berada dalam fitrah atau di jalan  yang lurus (siratul mustaqim).

Jadi, sikap lurus sesuai fitrah kita ini, itulah sikap islam yang sejatinya. Sikap tunduk, patuh dan berserah diri (islam) pada Allah berdasarkan nurani, itulah inti ajaran para nabi mulai dari Nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa al-Masih, sampai Nabi Muhammad s.a.w. Itulah yang dimaksud dalam surat Ar Ruum/30:30 di atas.

Jadi, islam itu sikap batin, bukan organisasi. Walaupun di KTP-nya tertulis agama: Islam, belum tentu ia islam dalam hakikat batin.

Jadi, marilah kita beragama dengan selalu setia pada suara hati nurani kita yang suci. ”Istafti kalbaka,” kata Rasulullah. ”Mintalah fatwa pada hatimu sendiri.” Agar nurani kita ini selalu tajam membedakan apa yang baik apa yang jahat, maka selalulah kita berbuat baik dalam kehidupan kita, bukan memperbanyak dosa. Jika perbuatan baik yang kita perbanyak, maka hati kita akan semakin tajam membedakan kebaikan dan keburukan, tetap akan menjadi cahaya (nur) yang akan senantiasa membimbing kita pada kebenaran, di samping kita berpedoman kepada Al Quran dan hadits tentunya.

Sebaliknya, hati akan gelap tak bersifat nurani (cahaya) lagi dikarenakan dosa, kejahatan, dan kezaliman yang banyak. Lawan dari ”nurani” adalah ”zulmani”. Hati yang gelap bukan lagi disebut nurani, tapi zulmani. Karena itulah ada istilah ”zulumati ilannur; dari lumpur kegelapan kepada cahaya yang terang benderang”. Semoga kita selalu berada dalam fitrah kita dengan setia pada suara nurani kita.



0 komentar:

Posting Komentar