Barangkali ada yang tertarik mendengarkan pandangan Heidegger mengenai ketiadaan (das Nichts). Ini adalah rekaman webinar Circle Indonesia pada Sabtu, 8 Juni 2024 lalu.
Ketiadaan adalah struktur terdasar realitas. Ketiadaan menyingkapkan dirinya melalui pengalaman kecemasan (Angst, anxiety). Kecemasan itu menyangkut keberadaan kita di dunia (In-der-Welt-sein), maksudnya dunia yang bermakna. Dunia adalah struktur kebermaknaan. Itulah pengertian dunia dalam fenomenologi.
Dalam kecemasan, dunia yang sebelumnya bermakna (meaningful), tampak tidak bermakna (meaningless). Kecemasan menyingkapkan ketidakbermaknaan dunia. Itulah yang dimaksud oleh Heidegger dengan ketiadaan.
Kecemasan yang menghadirkan ketiadaan itu bagaikan disrupsi ontologis (ontological disruption) dari dunia keseharian yang kita akrabi. Melalui kecemasan kita seakan-akan dibawa ke titik nol, atau ke "situasi batas" (Grenzsituation, menurut Karl Jaspers). Kita melihat bahwa keseluruhan realitas, bahkan diri kita sendiri, ternyata ditopang oleh ketiadaan.
Respons orang terhadap situasi batas itu bermacam-macam. Misalnya bunuh diri, karena ia mengalami bahwa dunia ini tidak lagi bermakna. Tapi bisa juga pengalaman eksistensial di situasi batas itu mendorongnya melakukan leap of faith (lompatan iman), berpegang pada Tuhan atau pegangan lainnya, misalnya tradisi, sains, dll. Keluar dari situasi batas menghasilkan "hidup baru".
Ketiadaan itu lebih primordial dibandingkan ke-ada-an (keseluruhan realitas yang kita lihat dan kita akrabi dalam keseharian). Pada mulanya adalah ketiadaan. Melalui/dari ketiadan itulah ada muncul sebagaimana ada-nya mereka. Ex nihilo omne ens qua ens fit -- "dari ketiadaan semua yang ada menjadi ada."
Sumber: Fb Fitzerald Kennedy Sitorus

0 komentar:
Posting Komentar