alt/text gambar

Senin, 15 Juni 2026

Topik Pilihan: ,

Khutbah Jumat: Fitrah versi I

Sidang shalat Jumat yang berbahagia. 


Dalam kesempatan khutbah yang pendek ini, mari kita merenungkan sedikit mengenai apa yang disebut sebagai fitrah atau kesucian asal. Manusia, menurut agama kita, diciptakan oleh Allah Swt. dalam keadaan fitrah. Sebuah hadis yang sering sekali dikutip oleh para mubalig ialah: 

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Bukhari) 

Adanya fitrah adalah sebagai kelanjutan dari perjanjian kita dengan Allah Swt. ketika kita masih berada di alam ruhani. Oleh karena itu juga disebut sebagai perjanjian azali, perjanjian di masa yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity. Yang digambarkan oleh sebuah ayat suci, bahwa kita sebelum lahir dipanggil oleh Allah Swt. secara 

bersama-sama menghadap dan dimintakan kesaksian, bahwa kita akan ber-Tuhan-kan Allah, ber-Pangeran-kan Tuhan, dan ber-Rabb yang lebih tinggi yaitu Allah: 

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (OS Al-A'af (7): 172) 

Jadi, kita ini terikat dalam perjanjian itu. Maka dari itu, agama pun sebetulnya memangadalah perj anjian, yang dalam bahasa Arab disebut mitsag atau 'ahdun, perjanjian dengan Allah Swt. Seluruh hidup kita merupakan realisasi atau pelaksanaan untuk memenuhi perjanjian kita dengan Allah. Yang intinya ialah ibadah, artinya memperhambakan diri kepada Allah. Karena Allah telah kita akui sebagai Rabb, sebagai Pangeran kita. Maka implikasinya, akibat dari beribadah kepada Allah itu adalah, bahwa kita harus menempuh jalan hidup yang benar. Inilah yang pernah dimintakan juga kepada Adam. 

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi 

dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat: padanya. (OS Tha Ha (20): 115)

Adam pun melanggar perjanjian itu. Sebagaimana yang kita baca di Al-Ouran mengenai kisah bagaimana dia melanggar larangan mendekati pohon di surga. Akibatnya ialah, Adam pun diusir dari surga. Jatuh tidak terhormat. Mengapa Adam dan Hawa itu sampai melanggar, sebetulnya tidak lain karena tidak tahan terhadap dorongan keserakahan, thama' dalam bahasa Arabnya. Yaitu, nafsu memiliki sesuatu lebih dari keperluan yang wajar. Apalagi kalau pemilikan tadi tidak benar Oleh karena itu, dosa pertama manusia ialah karena keserakahan itu. 

Dan karena kita ini adalah anak cucu Adam, maka kita semuanya punya potensi untuk jatuh seperti itu. Kita semuanya punya kemungkinan untuk melanggar larangan Allah, melupakan janji kita dengan Allah, dan kemudian kita akan jatuh tidak terhormat. Sebab, itulah yang dialami oleh Adam. Manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci, maka dia sebetulnya lahir dalam Kebahagiaan, dalam surga, dalam paradiso. Tapi karena melanggar larangan-larangan Allah, dia jatuh masuk ke neraka (interno). 

Jadi, kita semuanya pernah di surga. Kalau surga itu intinya ialah cinta kasih, maka sebetulnya surga kita yang paling dekat ialah, ketika kita masih berada dalam perut ibu. Maka tempatnya itu disebut rahim, yang artinya cinta kasih. Cinta kasih Allah Swt. Karena perkataan rahm itu satu akar kata dengan rahmatun, rahman, dan rahim, oleh kerena itu kita kemudian harus menyucikan diri. Menyucikan diri dalam arti, membersihkan diri, yaitu masuk bulan Ramadhan, masuk alam purgatorio itu, yang kalau sukses, maka 1 Syawwal kita kembali ke fitrah. Fitri itu kembali ke paradiso, 

ke surga. Tentu saja kita harus menjaga keadaan kita alan surga itu, yaitu dengan jalan menjaga kesucian kita sendir!: Tazkiyatun-nafs dalam bahasa Arabnya. 

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (OS Al-Syams (91): 7-10) 

Kalau diri sendiri itu sudah suci atau berusaha menjadi suci, maka dia harus berbuat suci kepada orang lain. Oleh karena itu, takwa harus menghasilkan amal saleh atau budi pekerti luhur yang sudah kita ketahui semuanya. Jadi, di sini kita bertemu dengan suatu hal yang sangat nyata untuk kebahagiaan kita sendiri. Kita harus hidup dalam salim, dalam kedamaian. Tetapi sebetulnya, perkataan saltim itu lebih mendalam daripada damai dalam arti peace dalam bahasa Inggris. Karena salim adalah suatu keadaan diri kita yang bersih, yang utuh, yang integral. Salim itu artinya adalah sana dalam bahasa Inggris. 

Oleh karena itu, moto olimpiade men sana in corporisano diterjemahkan menjadi al-'aglus-salim fi-jismis-salim, akal yang "bersih" (utuh) ada dalam badan yang "bersih" (utuh). Di Al-Ouran, digambarkan bahwa nanti kalau kita menghadap Allah di Hari Kiamat, maka seluruh harta dan anak kita itu tidak berguna: 

(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (OS Al-Syu'ara (261: 88-89) 

Memang, salah satu wujud dari hati yang bersih—wujud integralitas—itu ialah kedamaian. Bahkan juga kelapangan dada. Oleh karena itu, Rasulullah dalam sekian banyak definisi beliau, mengenai sebaik-baik agama itu disebutkan: 

“Seseorang bertanya pada Nabi, Ajaran Islam yang mana yang lebih baik?" Nabi menjawab, “Kamu memberi makan orang yang - memerlukan dan mengucap salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR Nasa'i) 

Oleh karena itu, Nabi selalu mengucapkan salam pada siapa pun. Kepada yang dikenal dan kepada yang tidak dikenal. Memang dalam suasana yang kadang-kadang tegang di Madinah, ada semacam krisis dalam soal salam itu, misalnya ada sekelompok orang Yahudi yang datang kepada Nabi dengan perasaan bermucuhan. Dan kita membayangkan bahwa masyarakat di zaman Nabi itu sangat demokratis, tidak terlalu banyak unggah-ungguh. Orang yahudi itu mengucapkan suatu ucapan yang sebetulnya kurang ajar, karena: mereka mengatakan assammu “alayka. As-samm, itu artinya mati. Jadi kalau kita terjemahkan agak sedikit kasar, "Mampus engkau Muhammad. Mendengar itu, Nabi tidak menjawab as sammu “alayka, melainkan hanya 'alayka. Suatu saat, beberapa orang Yahudi masuk rumah Nabi dan mengucapkan hal seperti itu. Di samping Nabi ada Aisyah. Aisyah sangat marah sekali dan dijawab dengan ucapan was-sammu 'alayka wa la'natulldhi ikhwan al-giradah al-khasin. 

Di dalam Al-Ouran dijelaskan bahwa ada sebagian orang Yahudi dan pernah dikutuk menjadi seperti kera-kera yang sangat hina. Jadi Aisyah menjawab, “Mampus kamu juga dan laknat Allah atas kamu, kamu orang-orang yang dikutuk oleh Tuhan menjadi kera-kera yang hina itu.” Mendengar itu, Nabi marah sekali, “Aisyah! Jangan begitu, siapa yang mengajari kamu seperti itu! Aku tidak diutus untuk melaknat orang dan 

bicara kasar seperti itu.” Aisyah menjawab, “Nabi mendengar sendiri apa yang dikatakan orang itu, jadi saya balas.” 

Nabi berkata, "Saya 'kan sudah membalas dan saya jawab wa '“alaykum saja.” Nabi tetap menerima mereka dan berbicara dengan baik sekali. Jadi, kesopanan-kesopanan ini adalah termasuk kemanusiaan. Karena itu manusia dalam bahasa Arab disebut insan, insun, al-ins, artinya ramah, lemah lembut. Maka ada orang namanya anis, artinya adalah orang yang ramah dan lemah lembut. 

Jadi, rahmat Allah kepada kita sebagai manusia itu diwujudkan ke dalam salam. Dan dari situlah perkataan Islam diambil. Yaitu suatu keadaan di mana kita bersih, utuh dan integral, tidak ada perasaan dengki, perasaan iri hati, perasaan buruk sangka pada orang dan sebagainya. Hal itu yang disebut halalun bi haldalin, sama-sama bersih, sama-sama tidak ada persoalan. Kita juga harus halalbihalal dengan Allah, dalam arti, ridha kepada Allah. Dan karena itu, Allah akan ridha. Itulah yang akan menjadi ketenteraman 

ketika disebutkan dalam Al-Ouran berkenaan dengan al-nafs al-muthma'innah. 

 Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (OS Al-Fajr (891: 27-30) 

Karena itu, tidak ada persoalan dengan Tuhan dan Tuhan pun tidak ada persoalan dengan kita. Itu juga halalbihalal dengan Allah. Karenanya dengan begitu kita memperoleh tuma'ninah dan akan memperoleh sakinah. Yang dalam bahasa lain disebut qurratu a'yun, suatu inti atau esensi kebahagiaan. Seperti misalnya, tujuan dari rumah tangga itu ialah untuk menciptakan sakinah, yang dalam bahasa lain ialah gurratu ayun. Seperti kita ungkapkan dalam doa: 

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (OS Al-Furgan (25): 74) | 

Esensi kebahagiaan itu adalah surga. Surga itu setidaknya adalah sakinah. Karena itu, banyak sekali gambarangambaran mengenai surga. Tetapi rupanya yang paling menarik bagi Nabi adalah di dalam Surah Al-Sajdah ketika disebutkan: 

Maka tidak seorang pun mengetahui apayang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan 

hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. (OS Al-Sajdah (32J: 17) 

Itulah surga. Surga itu tidak ada seorang pun yang mengetahui. Lalu bagaimana dengan gambaran di Al-OGuran? Itu semuanya adalah simbol, adalah metafora, adalah gambaran-gambaran populer Karena itu, Nabi kemudian menyampaikan sebuah firman Allah atau Hadis Oudsi (firman Allah tapi kalimatnya dari Nabi), Allah berfirman:

“Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan kalau kamu mau (kata Nabi), bacalah (ayat Ouran itu), tidak seorang pun mengetahui esensi kebahagiaan yang dirahasiakan baginya sebagai balasan untuk amal perbuatan baiknya.” (HR Bukhari) 

Nah, kita itu akan merasa aman, salam, dan sebagainya, dalam suatu stadium tingkat tertinggi yang bersifat ruhani, yang sebetulnya tidak bisa digambarkan. Itu hanya bisa dialami. Dan untuk mengalaminya pun perlu usaha yang sungguhsungguh, yang dalam bahasa Arabnya disebut juhdun. Dari perkataan juhdun (usaha yang sungguh-sungguh) diambil perkataan jihad. Jihad itu tidak hanya berarti fisik seperti perang, tetapi juga jihddun-nafs, jihad melawan diri sendiri, atau ijtihad menggunakan seluruh kemampuan kita. Dan bahkan mujahadah, atau spiritual exercise, olah ruhani. Jadi tidak hanya olahraga, olah jasmani, juga tidak hanya olah jiwa, olah nafsanf, tapi juga olah ruhani. 

Maka dari itu, sebetulnya kebahagiaan itu ialah dalam kelapangan ini, yang sebetulnya tempat di mana terletak adanya rahmat Allah kepada kita. Ketika Allah memuji Nabi Muhammad sebagai orang yang lapang dada, maka dikaitkan dengan rahmat Allah: 

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (OS Ali Imran (3): 159) 

Jadi, Nabi itu seorang yang paling empatik. Empatik itu menempatkan diri pada posisi orang. Sehingga, mengetahui dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mengerti orang lain, considerate, penuh pertimbangan dengan orang lain. 

Jadi, orang lain diikutsertakan dalam proses-proses pengambilan keputusan oleh beliau. Selama hal itu tidak mengenai agama murni. Karena kalau agama murni itu memang hanya wewenang beliau sebagai rasul Allah Swt. 

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (OS Had (11): 118119) 

Bagi orang yang mendapat rahmat dari Allah, perbedaan tidak akan menjadi unsur pertentangan. Juga misalnya firman Allah agar kita selalu melakukan ishlah, perdamaian antara sesama manusia itu dinamakan rahmat.  

(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan takwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (OS a-Hujurat (491: 10) 

Artinya, hanya orang yang mendapat rahmat dari Allah yang bisa mendamaikan orang-orang yang berselisih. Maka karena kita sekarang 

ini sedang berada dalam serba permusuhan, sehingga ada orang mengatakan kita ini adalah masyarakat dengan tingkat saling percaya yang rendah, Iow truth society. Itu berarti ada sesuatu yang hilang. Dan ini sangat prinsipiil, yaitu rahmat Allah tidak ada. Oleh karena itulah, salah satu perintah Allah yang disejajarkan dengan perintah untuk bertakwa itu, ialah memelihara cinta kasih sesama manusia. Yang istilahnya sudah kita kenal, yaitu silaturahim. Tapi biasanya suatu istilah banyak sekali digunakan sehari-hari, lalu mengalami inflasi, 

— nilainya turun tapi tidak terasa. Silaturahim adalah persoalan yang sangat prinsipiil, yaitu menciptakan hubungan saling kasih antara sesama manusia. 

Dan juga salah satu ciri yang paling penting dari orang kafir, ialah tidak adanya saling cinta kasih sesama manusia. Arhim, bentuk jamak dari rahmah. Maka, Allah yang memberi contoh lebih dahulu. Ada sebuah hadis Nabi yang mengatakan bahwa cinta kasih Allah itu seratus. 99 persen untuk dirinya sendiri, satu persen dibagi untuk seluruh makhluk. Dari 99 persen yang terbagi secara tak terhingga itu, maka kasih itu terwujud dalam hadis. Misalnya, dalam gejala bagaimana 

kuda melindungi anaknya. Kalau ada anaknya yang terbaring di tanah, pasti kuda akan mengangkat kakinya untuk tidak menginjak anaknya itu. Itu adalah rahmah. Maka dari itu, termasuk kepada binatang, kita harus menunjukkan kasih. Allah berfirman: 

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (OS Al-An'aim (61: 38) 

Oleh karena itulah, dalam ibadah haji, kita dikasih pelajaran. Jangan membunuh apa pun, biarpun semut yang merambat di badan kita. Membunuh seekor semut yang merambat di badan, kita sudah kena denda. Itu sebenarnya adalah pendidikan supaya kita itu melanjutkan rahmah ini kepada semuanya. Karena itu, sekali lagi Allah memberikan contoh rahmat itu. Dalam sebuah hadis kita didorong untuk meniru budi pekerti Tuhan, “Tirulah akhlak Allah”. Salah satu yang paling penting adalah rahmah. Yang satu-satunya sifat Allah, yang diwajibkan atas Diri-Nya. 

Diri kita harus kembali ke fitrah itu. Kita harus menjadi manusia in optima forma, manusia yang suci dan berbuat suci kepada orang lain. Manusia itu suci maka harus berbuat suci bagi sesamanya.



0 komentar:

Posting Komentar