alt/text gambar

Minggu, 21 Juni 2026

Topik Pilihan: , ,

Khutbah Jumat: Sikap terhadap Kemungkaran

Rasulullah pernah mengingatkan kepada kita: apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah umatku, kata beliau, maka Allah akan menurunkan azab tanpa terkecuali. Semuanya kena.

Ummu Salamah bertanya kepada Nabi SAW: Ya Rasulullah, apakah di situ tidak ada orang shaleh?"

Apa jawaban Rasulullah? "Orang baik ada. Orang shaleh ada."

"Tapi bagaimana bisa terjadi ya Rasulullah?" tanya Ummu Salamah. "Kalau orang berbuat maksiat kena, wajar. Pantas. Tapi kalau orang baik-baik, yang tidak bersalah, kenapa kena juga?"

Rasulullah menjawab: "Ini akibat ulah sebagian manusia."

Karena itu, sidang Jumat yang berbahagia, semua kita ini berkewajiban untuk mencegah terjadinya kemungkaran, kemaksiatan, dalam masyarakat. Karena itu pula para khatib setiap Jumat mengingatkan: ittaqullah, ittaqullah. Jalankan perintah Allah, jauhi larangan Allah. Ini diingatkan agar langit tidak runtuh, bumi tidak goyang. Agar tidak turun azab dari Allah SWT.

Allah berfirman dalam surah al-Anfal: 25,

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.”

Karena itu kalau ada yang mengatakan tak usah saling nasihat-menasihati. Tak usah ceramah-ceramah agama. Maksiat, maksiat saya. Dosa, dosa saya. Tak bisa begitu.

Dunia ini ibarat sebuah kapal. Kalau ada satu orang yang melubanginya, yang tenggelam bukan hanya orang itu saja, tapi semua penumpang kapal akan ikut tenggelam.

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia,

Bagaimanakah sikap kita terhadap kemungkaran, kezaliman, kemaksiatan?

Allah menjelaskan dalam surat Al 'Ashr:

"Watawa saubil haq (saling nasihat-menasihati)

Dalam surat Ali Imran ayat 104

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Rasulullah mengajarkan:

 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ.

Dari Abu Said Al Khudri ra, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya (membenci/menolak dalam hati. Dan inilah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Jadi, begitulah sikap seorang muslim yang beriman kepada Allah di hadapan kemungkaran dan kezaliman. Jadi, ketika mencegah kemungkaran dengan tangan dan dengan lisan (berbicara, speak up. Bisa juga dengan tulisan. Katakan yang benar adalah benar walaupun itu pahit) tak mampu dilakukan, minimal kita membenci dalam hati walaupun itu bentuk iman yang lemah. Membenci kemungkaran dalam hati itu lebih mendingan daripada membenarkan kejahatan apalagi ikut dalam kemungkaran itu. Seperti kata sastrawan Pramoedya Ananta Toer, "Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati."

Jangan karena kita tak mampu berbuat apa-apa, lantas ikut membenarkan suatu yang salah.

Seorang pujangga besar tanah Jawa, Rangga Warsita (1802–1873), dalam karyanya Serat Kalatidha, mengatakan, “Akan datang saatnya jaman edan/gila. Orang yang tidak ikut edan tidak akan mendapatkan bagian. Namun sebesar apapun beruntungnya orang edan, masih lebih beruntung lagi orang eling lan waspodo (sadar dan waspada).”

Orang yang “eling lan waspodo” itu artinya orang yang masih menggunakan akal sehat, yang menjaga kewarasan, yang tidak ikut tenggelam dalam kerusakan masyarakat, kemungkaran, dan kezaliman. Meminjam istilah Buya Syafii Maarif, yaitu orang yang masih berada dalam "mazhab kewarasan".

Jadi masing-masing kita harus berjihad melawan kemungkaran, kezaliman, dengan apa saja yang kita bisa. Karena Allah tak menilai hasil, tapi usaha kita.

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌ  ۙلَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ

Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Q.s. Al-Ghasyiyah)

Kaum Muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia,

Dalam perjuangan kita menegakkan kebenaran dan melawan kemungkaran, ada kisah yang sangat inspiratif:

Yakni kisah seekor burung pipit dalam menolong Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud. Dikisahkan, saat api sedang dinyalakan untuk mencelakakan Nabi Ibrahim AS, seekor burung pipit bergegas terbang ke danau.

Di danau tersebut burung pipit menghisap air dengan paruhnya yang mungil dan menyimpannya dengan hati-hati di dalamnya. Setelah itu, ia dengan cepat menuju api yang akan membakar Nabi Ibrahim AS.

Begitu dekat dengan api, ia lantas menuangkan tetesan air dari paruhnya ke arah api. Lalu, ia kembali ke danau mengambil air. Begitulah ia lakukan berulang-ulang.

Melihat hal itu, seekor gagak bertanya, "Apa yang kau lakukan itu?"

"Aku mengambil air untuk memadamkan api," jawab burung pipit.

Gagak bertanya lagi, "Api apa?"

"Api yang disiapkan untuk membakar Ibrahim," jawab burung pipit.

Gagak pun melihat burung pipit dengan tatapan aneh. Ia merasa bingung, bagaimana mungkin tetesan air yang dibawa burung pipit mampu memadamkan kobaran api.

"Apakah engkau yakin bahwa dirimu dapat memadamkan api sebesar itu? Apakah air yang kau teteskan dari paruhmu tidak sia-sia saja? Engkau hanya mempersulit dirimu saja," kata gagak mencemooh burung pipit.

Burung pipit pun menyahut, "Aku tahu air yang kubawa ini tidak dapat memadamkan api tersebut, karena memang hal itu berada di luar kemampuanku. Tapi setidaknya ada alasan mengapa aku melakukan hal itu."

"Apa itu?" tanya gagak yang tidak sabar mendengar jawaban burung pipit.

Burung pipit menjawab, "Setidaknya, aku punya alasan di hadapan Tuhanku kelak, di posisi siapa aku berdiri. Aku ingin punya andil, setidaknya dengan menunjukkan siapa yang aku bela."

 

 

0 komentar:

Posting Komentar