Rasulullah pernah mengingatkan kepada kita: apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah umatku, kata beliau, maka Allah akan menurunkan azab tanpa terkecuali. Semuanya kena.
Ummu Salamah bertanya kepada Nabi
SAW: Ya Rasulullah, apakah di situ tidak ada orang shaleh?"
Apa jawaban Rasulullah?
"Orang baik ada. Orang shaleh ada."
"Tapi bagaimana bisa terjadi
ya Rasulullah?" tanya Ummu Salamah. "Kalau orang berbuat maksiat
kena, wajar. Pantas. Tapi kalau orang baik-baik, yang tidak bersalah, kenapa
kena juga?"
Rasulullah menjawab: "Ini
akibat ulah sebagian manusia."
Karena itu, sidang Jumat yang
berbahagia, semua kita ini berkewajiban untuk mencegah terjadinya kemungkaran,
kemaksiatan, dalam masyarakat. Karena itu pula para khatib setiap Jumat
mengingatkan: ittaqullah, ittaqullah. Jalankan perintah Allah, jauhi
larangan Allah. Ini diingatkan agar langit tidak runtuh, bumi tidak goyang.
Agar tidak turun azab dari Allah SWT.
Allah berfirman dalam surah
al-Anfal: 25,
“Dan peliharalah dirimu
daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di
antara kamu.”
Karena itu kalau ada yang
mengatakan tak usah saling nasihat-menasihati. Tak usah ceramah-ceramah agama.
Maksiat, maksiat saya. Dosa, dosa saya. Tak bisa begitu.
Dunia ini ibarat sebuah kapal.
Kalau ada satu orang yang melubanginya, yang tenggelam bukan hanya orang itu
saja, tapi semua penumpang kapal akan ikut tenggelam.
Kaum muslimin, sidang shalat
Jumat yang berbahagia,
Bagaimanakah sikap kita terhadap
kemungkaran, kezaliman, kemaksiatan?
Allah menjelaskan dalam surat Al
'Ashr:
"Watawa saubil haq (saling
nasihat-menasihati)
Dalam surat Ali Imran ayat 104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Hendaklah ada di antara kamu
segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf,
dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Rasulullah mengajarkan:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ
فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ.
Dari Abu Said Al Khudri ra, dia
berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian
yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya).
Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak
mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya (membenci/menolak dalam hati. Dan
inilah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)
Jadi, begitulah sikap seorang
muslim yang beriman kepada Allah di hadapan kemungkaran dan kezaliman. Jadi, ketika
mencegah kemungkaran dengan tangan dan dengan lisan (berbicara, speak up. Bisa juga
dengan tulisan. Katakan yang benar adalah benar walaupun itu pahit) tak mampu
dilakukan, minimal kita membenci dalam hati walaupun itu bentuk iman yang
lemah. Membenci kemungkaran dalam hati itu lebih mendingan daripada membenarkan
kejahatan apalagi ikut dalam kemungkaran itu. Seperti kata sastrawan Pramoedya
Ananta Toer, "Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam
hati."
Jangan karena kita tak mampu
berbuat apa-apa, lantas ikut membenarkan suatu yang salah.
Seorang pujangga besar tanah Jawa,
Rangga Warsita (1802–1873), dalam karyanya Serat Kalatidha, mengatakan, “Akan
datang saatnya jaman edan/gila. Orang yang tidak ikut edan tidak akan
mendapatkan bagian. Namun sebesar apapun beruntungnya orang edan, masih lebih
beruntung lagi orang eling lan waspodo (sadar dan waspada).”
Orang yang “eling lan waspodo”
itu artinya orang yang masih menggunakan akal sehat, yang menjaga kewarasan,
yang tidak ikut tenggelam dalam kerusakan masyarakat, kemungkaran, dan
kezaliman. Meminjam istilah Buya Syafii Maarif, yaitu orang yang masih berada dalam "mazhab kewarasan".
Jadi masing-masing kita harus
berjihad melawan kemungkaran, kezaliman, dengan apa saja yang kita bisa. Karena
Allah tak menilai hasil, tapi usaha kita.
فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌ ۙلَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ
Maka, berilah peringatan karena
sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah
orang yang berkuasa atas mereka. (Q.s. Al-Ghasyiyah)
Kaum Muslimin, sidang shalat
Jumat yang berbahagia,
Dalam perjuangan kita menegakkan
kebenaran dan melawan kemungkaran, ada kisah yang sangat inspiratif:
Yakni kisah seekor burung pipit
dalam menolong Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh Raja
Namrud. Dikisahkan, saat api sedang dinyalakan untuk mencelakakan Nabi Ibrahim
AS, seekor burung pipit bergegas terbang ke danau.
Di danau tersebut burung pipit
menghisap air dengan paruhnya yang mungil dan menyimpannya dengan hati-hati di
dalamnya. Setelah itu, ia dengan cepat menuju api yang akan membakar Nabi
Ibrahim AS.
Begitu dekat dengan api, ia
lantas menuangkan tetesan air dari paruhnya ke arah api. Lalu, ia kembali ke
danau mengambil air. Begitulah ia lakukan berulang-ulang.
Melihat hal itu, seekor gagak
bertanya, "Apa yang kau lakukan itu?"
"Aku mengambil air untuk
memadamkan api," jawab burung pipit.
Gagak bertanya lagi, "Api
apa?"
"Api yang disiapkan untuk
membakar Ibrahim," jawab burung pipit.
Gagak pun melihat burung pipit
dengan tatapan aneh. Ia merasa bingung, bagaimana mungkin tetesan air yang
dibawa burung pipit mampu memadamkan kobaran api.
"Apakah engkau yakin bahwa
dirimu dapat memadamkan api sebesar itu? Apakah air yang kau teteskan dari
paruhmu tidak sia-sia saja? Engkau hanya mempersulit dirimu saja," kata
gagak mencemooh burung pipit.
Burung pipit pun menyahut,
"Aku tahu air yang kubawa ini tidak dapat memadamkan api tersebut, karena
memang hal itu berada di luar kemampuanku. Tapi setidaknya ada alasan mengapa
aku melakukan hal itu."
"Apa itu?" tanya gagak
yang tidak sabar mendengar jawaban burung pipit.
Burung pipit menjawab,
"Setidaknya, aku punya alasan di hadapan Tuhanku kelak, di posisi siapa
aku berdiri. Aku ingin punya andil, setidaknya dengan menunjukkan siapa yang
aku bela."

0 komentar:
Posting Komentar