![]() |
| Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003 |
Kerja seorang filsuf adalah mencari kebenaran. Namun, kebenaran bukan satu yang ajeg dan pasti. Ia ditemukan lewat koreksi, kritik, sanggahan terus-menerus. Sebagai seorang filsuf, status kebenaran sebuah pemikiran harus ditanggapi dengan penuh kehati-hatian. Tak ada satu pun bangunan pemikiran yang lolos dari kesalahan. Pun apabila bangunan itu adalah miliknya sendiri.
Heidegger pun tak lepas dari hukum filsafat tersebut. Pemikirannya dalam Being and Time dirasakannya kurang memadai. Dia merasa perlu membenahi pemikirannya yang belum tuntas dan masih cacat di sana-sini. Kecacatan akibat masih menapaknya jejak filsafat Barat dalam pemikiran awalnya tersebut.
Dalam Being and Time, Heidegger masih berupaya merumuskan konsepsi alternatif tentang “Ada”. Konseptualisasi “Ada” yang berbeda dari apa yang selama ini dirumuskan filsafat Barat. Namun, ambisi inilah yang menjerumuskan Heidegger dalam tradisi yang dia kritisi habis-habisan. Tradisi yang menempatkan “Ada” sebagai objek representasi subjek. Tradisi representasionalisme. Bagaimana aku menangkap objek dan merepresentasikannya seakurat mungkin.
Perubahan dalam pemikiran Heidegger bisa dilihat dalam esai-esai maupun buku yang ditulisnya setelah Being and Time. Teks-teks kunci seperti What is Metaphysics, On the Essence of Truth, Introduction to Metaphysics, dan On The Origin of the Work of Art merupakan sebagian dari sekian banyak tulisan yang menunjukkan perubahan pemikiran sang filsuf. Dalam On the Origin of the Work of Art tampak kegairahan Heidegger lanjut dalam mempersoalkan seni. Penulis sendiri berpendapat bahwa pemikiran Heidegger tentang seni adalah pesta perpisahan terakhirnya pada filsafat Barat.
Perubahan pemikiran Heidegger bisa dilihat dalam beberapa hal. Pertama, perubahan konsentrasi dari dasein (manusia) ke “Ada” itu sendiri. Perbincangan yang terlalu intens tentang dasein dalam Being and Time membuat Heidegger terjebak dalam polarisasi subjek-objek. Kedua, penolakan Heidegger terhadap modus berfilsafat transendental. Modus berfilsafat yang tidak lagi mencari tahu apa itu kenyataan melainkan syarat kemungkinan pengetahuan kita tentangnya. Heidegger lanjut mengkoreksi gaya berfilsafatnya tersebut. Ketiga, Heidegger tidak lagi berbicara tentang peran aktif dasein dalam menangkap kenyataan. Heidegger lebih banyak berbicara tentang menerima, menunggu, dan mendengarkan. Berfilsafat bukan lagi memaksakan rumusan kita atas “Ada” melainkan mendengarkan dan menerima kidung penyingkapan “Ada”. Keempat, pemikiran ulang tentang relasi antara “Ada” “dan “Waktu” dengan lebih menekankan dimensi kesementaraan “Ada”. Kuliahnya tentang “Waktu dan Ada” (diterbitkan dengan judul On Time and Being) merupakan hasil pemikiran ulangnya tersebut. Keempat komponen perubahan tersebut didasari atas satu benang merah: ambisi Heidegger untuk melepaskan diri dari tradisi representasionalisme filsafat Barat dan memikirkan ulang hubungan antara manusia dan kenyataan.
Karakter dasar filsafat Barat adalah pencarian prinsip dasar yang menyatukan kenyataan. Sebuah rumusan umum yang mengatasi sekaligus mendefinisikan partikularitas. Plato menyebutnya dunia ide. Aristoteles menyebutnya substansi. Nietzsche menyebutnya kehendak untuk penguasaan. Kenyataan tak pernah dibiarkan berbicara sendiri. “Ada” selalu ditelikung oleh rumusan-rumusan sang subjek.
Sejak kapan ritual pembatasan “Ada” itu mulai dijalankan. Heidegger menunjuk hidung para filsuf pasca-Sokrates, khususnya Plato. Sebelum Sokrates, para filsuf Yunani memahami “Ada” sebagai physis. Physis, menurut Heidegger, pada awalnya diartikan sebagai “menjelma dan bertahan”. “Ada” dipahami sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Ia menjelma, bertahan kemudian menghilang. Bayangkan setangkai bunga jambu. Kebenaran sang bunga mengaktualisasikan, menyingkapkan atau memanifestasikan dirinya. Ia bertahan sejenak lalu lenyap guna memberi jalan bagi sang buah mengaktualisasikan dirinya.
Para filsuf Yunani pra-Sokrates memahami “Ada” sebagai yang menyingkapkan dirinya. Karenanya, kebenaran diartikan sebagai aleitheia: penyingkapan. Sebuah kejadian yang muncul dari kekosongan untuk kembali pada kekosongan itu lagi. Kesementaraan bukan kekekalan.
Plato meratakan semua ini dengan teori dua dunianya. Plato membagi dunia menjadi dunia kekal dan dunia kemenjadian. “Ada” dipahami sebagai kekekalan sedang waktu sebagai kesementaraan. “Ada” merupakan sesuatu yang tetap di dalam waktu yang berubah. Kebenaran bukan lagi dipahami sebagai “yang menyingkap” melainkan semata-mata kesesuaian antara gagasan dengan kenyataan. Kebenaran selalu diasosiasikan dengan keajekan bukan kebetulan. Plato memulai tradisi “kealpaan Ada” filsafat Barat.
Masih berpendarnya nyala representasionalisme dalam Being and Time, membuat Heidegger merasa perlu memikirkan ulang tentang “Ada”, waktu, kebenaran, dan dasein. Penelitiannya terhadap khazanah klasik filsafat pra-Sokrates menghasilkan kesimpulan yang mengejutkan: “Ada” adalah yang menyingkapkan diri. “Ada” adalah sebuah kejadian bukan kekekalan. Definisi Platonian tentang “Ada” dan “Waktu” pun runtuh. “Ada” bukan lagi sesuatu yang menetap dalam waktu yang berubah. “Ada” adalah kesementaraan itu sendiri.
Seiring waktu bergerak, makna “Ada” timbul dan tenggelam. “Ada” menyingkapkan dirinya, bertahan lalu hilang. Setiap revolusi adalah momen pergantian “Ada”. Revolusi sosial di Prancis, misalnya. Kenyataan sosial yang bertingkat berubah menjadi lebih setara. Kekuasaan memperoleh makna baru. Bukan lagi hadiah Sang Ilahi melainkan hasil kontrak sosial sang rakyat. Begitu pula konsep-konsep seperti negara, politik, konstitusi, dan lain sebagainya. Semuanya mengalami perubahan.
Kesementaraan sang “Ada” berhubungan erat dengan karakter dasein. Karakter dasein, seperti sudah dibahas di bab kedua, adalah kesementaraan. Dasein tidak sekadar “ada”, ia “mengada”. Ia terlempar dari kekosongan ke-dalam dunia eksistensial yang sarat warisan makna. Dunia yang menenggelamkannya sekaligus memberinya kemungkinan-kemungkinan. Nasibnya ini memberinya hak istimewa sebagai sang penyingkap.
Dasein bukan satu keajekan. Ia adalah kebisajadian. Karena itu ia selalu mempersoalkan keberadaannya dan benda-benda. Apabila dunia disimbolisasikan sebagai rimba belantara yang gelap, maka dasein bisa diibaratkan sebagai obor. Obor yang menyingkapkan segala sesuatu di sekelilingnya. Sebuah “penyingkapan" (clearing), begitu diistilahkan Heidegger. Hubungan dasein dan “Ada” tidak sedingin yang dikira filsafat Barat. “Ada” bukanlah sesuatu yang tercerabut dari kita. Ia bukanlah objek yang membentang untuk kita representasikan. Dan kita bukan pengamat a-sejarah yang mampu merumuskan, “Ada” secara jernih dan akurat. Heidegger mengatakan bahwa “Ada” melibatkan kepemilikan dan perhatian. “Ada” adalah milik kita. Milik tradisi yang kita jalani dan hidupi bersama. Demikian halnya “Ada” pun memiliki kita. Ia menangkap dan mengubah kita menjadi dasein. Dasein menjadi dasein berkat “Ada”. Kita menjadi sang penyingkap karena “Ada” yang menyingkapkan dirinya. Hubungan yang sungguh hangat nan mesra.
Kita tidak menjadi makhluk tertutup berkat “Ada”. Hanya pada dasein “Ada” menampilkan dirinya dalam pelbagai manifestasi. Awan, misalnya. Pada sang penyair ia menampilkan dirinya sebagai metafor kegalauan. Pada sang petani ia menampilkan dirinya sebagai tanda-tanda hujan. Sedang pada sang ilmuwan geofisika, ia menampilkan dirinya sebagai campuran uap air dan kristal-kristal es.
Fakta bahwa dasein (manusia) terbuka pada pelbagai manifestasi “Ada” adalah bukti kebebasannya. Binatang tidak bebas karena tak bisa memaknai objek selain apa yang didefinisikam oleh instingnya. Binatang tidak bisa memaknai objek sebagai sesuatu yang estetis, misalnya. Ernst Cassirer, filsuf neo-Kantian asal Jerman, membahasakan gagasan ini dengan menarik. Binatang bereaksi terhadap tanda sedang manusia: simbol. Tanda adalah bagian dari dunia fisik. Asap adalah tanda api. Sedangkan simbol adalah bagian dari dunia budaya. Ia adalah produk konsensus pemaknaan manusia. Bendera kuning adalah simbol kematian. Namun di tempat lain mungkin kebahagiaan. Simbol berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Namun, mesti diingat, bahwa kebebasan dasein bukanlah kebebasan ala eksistensialisme. Kebebasan eksistensial menolak rumusan makna, nilai, patokan yang mendahului pilihan. Manusia adalah sang pencipta makna.
Sedangkan, manusia bagi Heidegger bukanlah pencipta makna. Makna tertanam dalam satu tradisi yang membatasi kemungkinan-kemungkinan manifestasinya. Manusia yang mentradisi tidak bebas menciptakan makna. Kebebasan yang dimaksud Heidegger lebih pada keterbukaan manusia pada pelbagai penyingkapan “Ada”. Manusia tidak terisolasi oleh satu pemaknaan “Ada” layaknya binatang. Inilah kebebasan menurut Heidegger. Secarik kebebasan semiotikal bukan eksistensial.
Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 64-71


0 komentar:
Posting Komentar