alt/text gambar

Senin, 17 Agustus 2026

Topik Pilihan: ,

SUSI PUDJIASTUTI: TAK TAMAT SEKOLAH, PANTANG MENYERAH

Kompas, 16 Agustus 1998


Letter of Credit (LC) Indonesia boleh tidak diterima di luar negeri. Investor asing boleh berpikir dua kali menanam modalnya di Indonesia. Tapi diam-diam pada bulan April 1998 lalu seorang pengusaha perempuan dengan mudahnya memperoleh 200.000 dollar AS dari pemesannya di Jepang dalam bentuk red close LC. Bulan Oktober sebelumnya dia bahkan memperoleh pinjaman tanpa syarat sebesar 30 juta yen.

Adalah Susi Pudjiastuti (33), Presiden Direktur PT Andhika Samudera Internasional (ASI) pengusaha beruntung tersebut. Bagi pembelinya di Jepang, pinjaman tersebut tidak seberapa ketimbang harapan mereka agar PT ASI terus mengirim ikan, udang, lobster, dan produk-produk laut lainnya. Singapura dan Hongkong juga tercatat sebagai negara tujuan ekspor PT ASI dengan merek dagang Susi Brand.

Tak heran ketika pengusaha lain sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), merumahkan karyawan tanpa kepastian atau mengurangi jam kerja, sampai akhir Juli ini dia masih menambah tenaga kerja. Kegiatan pabriknya di Pangandaran, Kabupaten Ciamis (Jabar) yang tidak pernah berhenti selama 24 jam sehari, 30 hari sebulan atau total 365 hari setahun.

Tak hanya karyawan dan nelayan di sepanjang Pantai Pangandaran, Cipatujah, Sukabumi, Batang, Pamengpeuk, Sadeng, dan Pacitan yang ikut menikmati rezeki ini, para janda dan yatim piatu di sekitar PT ASI juga kebagian rezeki. Setiap tahun pada hari Lebaran, PT ASI sedikitnya memberi 25 kg beras plus uang Rp 25.000 per keluarga tergantung banyak sedikitnya anggota keluarga.

                                                 ***

Keberhasilan tidak didapatkan Susi hanya dengan duduk berpangku tangan. Setidaknya selama delapan tahun (1983-1991) ia telah pontang-panting kerja serabutan dan menghabiskan hidupnya di jalan. Ia pernah berkejar-kejaran dengan petugas keamanan, bergulat dengan ombak dan karang, ikut mencari harta karun di Nusakambangan. Ganti usaha, ia keliling menembus belantara hutan Sumatera mencari sarang burung. Kadang dalam pencarian itu ia menyetir sendiri mobil truknya.

"Perkenalannya" dengan ikan sebenarnya sudah dimulai tahun 1983 itu juga. Dengan modal Rp 100.000, Susi membeli ikan di Pangandaran dan menjualnya sendiri ke mana-mana. Keuntungan dari modal awal itu ditambah untung dari kerja serabutan lainnya terus diputar dan berkembang hingga bisa membeli ikan dalam jumlah banyak.

Waktu itu praktis setiap subuh ia menunggui nelayan-nelayan yang pulang melaut, membeli ikan dan membawanya ke Jakarta dengan menyetir sendiri mobil truknya. Bahkan itu dilakukan saat dia hamil sampai kandungannya usia tujuh bulan. Kerja kerasnya tidak sia-sia karena masuk tahun 1997, ekspornya sudah solid. Sekadar gambaran terhitung sejak tahun 1996 nilai ekspornya terus meningkat mencapai 2,7 juta dollar AS per tahun. Di Jepang khusus lobster 46 persen impornya disuplai PT ASI.

Sadar akan kekuatan dan posisinya itu, Susi pun tidak mau diatur seenaknya dan bahkan berani membuat aturan main sendiri yang harus diikuti pemesannya. Sekadar contoh yang juga gebrakannya adalah produk non chemical treatment. Ini juga telah ditulis tuntas tiga halaman di majalah perikanan terbesar di Australia, Austasia Aquaculture terbitan 96/97, dan beberapa majalah asing lainnya. 

Semua produk yang diekspor berupa ikan, udang, lobster dan lainnya hanya diolah dengan cara tradisional yakni dicuci dengan air garam, disterilkan, dan dibekukan. Untuk alat, hanya dicuci air panas. Jepang yang terkenal sangat ketat dalam soal makanan semula menolak cara itu. "Saya mati-matian meyakinkan hingga mereka datang sendiri ke pabrik kami dan melihat bagaimana kami mengolah makanan," ujar perempuan kelahiran 15 Januari 1965 ini.

Alhasil, berpuluh-puluh kontainer produknya telah masuk ke Jepang dan tak satu pun yang ditolak.

Dengan cara seperti itu, Susi memang punya alasan sendiri. Selain karena cinta lingkungan, ia juga bertekad menciptakan industri hijau sekaligus ingin membuktikan bahwa industri tidak selamanya merusak lingkungan.

Setidaknya itu terlihat di lingkungan PT ASI yang sekelilingnya pepohonan dan kolam ikan. Pabriknya sendiri beratap rumbia dan sebagian lantai dari kayu. Limbah ikan praktis tidak ditemui karena setiap hari kepala dan tulang sisa ikan telah ditampung tukang kerupuk dan bakso. Di setiap ruangan terdapat tiga tempat sampah masing-masing sampah kering, basah dan plastik. Setiap sore sampah-sampah yang bisa dibakar, akan dibakar, sedangkan sisanya dibuat kompos. Di samping itu sepertiga dari tanah-tanah kosong di sekitar rumah dan pabriknya akan dijadikan hutan bakau.

Untuk menciptakan industri yang benar-benar hijau, Susi kini sedang membuat pembangkit listrik tenaga matahari. "Agar ozon tidak semakin rusak," tambahnya.

                                          ***

Sederhana, itulah kesan yang terlihat pada perempuan tomboy ini. Melihat penampilannya sehari-hari yang lebih banyak bercelana jeans atau celana pendek, kaos oblong, kemeja, jam tangan plastik murahan, topi pandan atau rajut dengan wajah yang nyaris polos tanpa polesan serta atribut lainnya berupa perhiasan emas atau berlian dan sejenisnya. Siapapun mungkin tidak percaya bahwa dia pengusaha sukses.

Apalagi setelah tahu bahwa dia hanyalah drop out kelas dua dari SMAN I Yogyakarta tahun 1982. Tentang drop outnya ini ada cerita sendiri. Pada waktu itu menjelang Pemilu ia membuat dan berjalan-jalan memakai baju putih berhias garis segi lima berisi tanda tanya besar. Petugas Laksusda (Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah) kemudian menyekapnya dalam kamar gelap selama berhari-hari. Sesudah penyekapan, ia tidak bisa begitu saja masuk ke sekolah kembali. Ia mendapat "hukuman" lain ketika berusaha mencari surat kelakuan baik. Surat itu tak berhasil didapat sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti mengurusnya dan berhenti sekolah.

Meski boleh dibilang sudah kaya, Susi masih lebih suka menggunakan motor balap kesayangannya. Bila bertemu atau bercakap-cakap dengan karyawannya, hampir tidak ada kesan bahwa ia bos dan yang lainnya anak buah. Semua disapa dengan ramah. Susi juga dikenal sebagai orang yang punya kepedulian sosial tinggi.

"Setiap lebaran, puluhan masyarakat dari kampung atau dari gunung yang ingin menikmati pantai Pangandaran sambil makan-makan, tertahan di pintu masuk karena tidak punya uang. Kalau sudah begitu, Ibu biasanya menyetir sendiri mobil truknya dan bolak-balik mengangkuti mereka hingga semuanya bisa masuk," kisah seorang karyawannya.

"Mereka itu tidak punya uang tapi mau menikmati lebaran sekaligus pantai sekali setahun. Terlalu sekali rasanya hanya karena alasan itu lalu mereka tidak bisa bergembira. Perasaan saya tidak tenang dan hati saya sakit melihat pemandangan seperti itu," ujarnya ketika dikonfirmasi cerita karyawannya.

Kini Susi terus membenahi dan membesarkan usahanya. "Rencana saya selambatnya pada usia 40 tahun sudah bisa go public. Mungkin 30 persen saham saya jual ke Jepang, 30 persen untuk saya, 2,5 persen saya hibahkan ke karyawan dan sisanya untuk publik," ujarnya.

(Reny Sri Ayu Arman)


Sumber: Kompas, 16 Agustus 1998



0 komentar:

Posting Komentar