alt/text gambar
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2026

,

SUSI PUDJIASTUTI: TAK TAMAT SEKOLAH, PANTANG MENYERAH

Kompas, 16 Agustus 1998


Letter of Credit (LC) Indonesia boleh tidak diterima di luar negeri. Investor asing boleh berpikir dua kali menanam modalnya di Indonesia. Tapi diam-diam pada bulan April 1998 lalu seorang pengusaha perempuan dengan mudahnya memperoleh 200.000 dollar AS dari pemesannya di Jepang dalam bentuk red close LC. Bulan Oktober sebelumnya dia bahkan memperoleh pinjaman tanpa syarat sebesar 30 juta yen.

Adalah Susi Pudjiastuti (33), Presiden Direktur PT Andhika Samudera Internasional (ASI) pengusaha beruntung tersebut. Bagi pembelinya di Jepang, pinjaman tersebut tidak seberapa ketimbang harapan mereka agar PT ASI terus mengirim ikan, udang, lobster, dan produk-produk laut lainnya. Singapura dan Hongkong juga tercatat sebagai negara tujuan ekspor PT ASI dengan merek dagang Susi Brand.

Tak heran ketika pengusaha lain sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), merumahkan karyawan tanpa kepastian atau mengurangi jam kerja, sampai akhir Juli ini dia masih menambah tenaga kerja. Kegiatan pabriknya di Pangandaran, Kabupaten Ciamis (Jabar) yang tidak pernah berhenti selama 24 jam sehari, 30 hari sebulan atau total 365 hari setahun.

Tak hanya karyawan dan nelayan di sepanjang Pantai Pangandaran, Cipatujah, Sukabumi, Batang, Pamengpeuk, Sadeng, dan Pacitan yang ikut menikmati rezeki ini, para janda dan yatim piatu di sekitar PT ASI juga kebagian rezeki. Setiap tahun pada hari Lebaran, PT ASI sedikitnya memberi 25 kg beras plus uang Rp 25.000 per keluarga tergantung banyak sedikitnya anggota keluarga.

                                                 ***

Keberhasilan tidak didapatkan Susi hanya dengan duduk berpangku tangan. Setidaknya selama delapan tahun (1983-1991) ia telah pontang-panting kerja serabutan dan menghabiskan hidupnya di jalan. Ia pernah berkejar-kejaran dengan petugas keamanan, bergulat dengan ombak dan karang, ikut mencari harta karun di Nusakambangan. Ganti usaha, ia keliling menembus belantara hutan Sumatera mencari sarang burung. Kadang dalam pencarian itu ia menyetir sendiri mobil truknya.

"Perkenalannya" dengan ikan sebenarnya sudah dimulai tahun 1983 itu juga. Dengan modal Rp 100.000, Susi membeli ikan di Pangandaran dan menjualnya sendiri ke mana-mana. Keuntungan dari modal awal itu ditambah untung dari kerja serabutan lainnya terus diputar dan berkembang hingga bisa membeli ikan dalam jumlah banyak.

Waktu itu praktis setiap subuh ia menunggui nelayan-nelayan yang pulang melaut, membeli ikan dan membawanya ke Jakarta dengan menyetir sendiri mobil truknya. Bahkan itu dilakukan saat dia hamil sampai kandungannya usia tujuh bulan. Kerja kerasnya tidak sia-sia karena masuk tahun 1997, ekspornya sudah solid. Sekadar gambaran terhitung sejak tahun 1996 nilai ekspornya terus meningkat mencapai 2,7 juta dollar AS per tahun. Di Jepang khusus lobster 46 persen impornya disuplai PT ASI.

Sadar akan kekuatan dan posisinya itu, Susi pun tidak mau diatur seenaknya dan bahkan berani membuat aturan main sendiri yang harus diikuti pemesannya. Sekadar contoh yang juga gebrakannya adalah produk non chemical treatment. Ini juga telah ditulis tuntas tiga halaman di majalah perikanan terbesar di Australia, Austasia Aquaculture terbitan 96/97, dan beberapa majalah asing lainnya. 

Semua produk yang diekspor berupa ikan, udang, lobster dan lainnya hanya diolah dengan cara tradisional yakni dicuci dengan air garam, disterilkan, dan dibekukan. Untuk alat, hanya dicuci air panas. Jepang yang terkenal sangat ketat dalam soal makanan semula menolak cara itu. "Saya mati-matian meyakinkan hingga mereka datang sendiri ke pabrik kami dan melihat bagaimana kami mengolah makanan," ujar perempuan kelahiran 15 Januari 1965 ini.

Alhasil, berpuluh-puluh kontainer produknya telah masuk ke Jepang dan tak satu pun yang ditolak.

Dengan cara seperti itu, Susi memang punya alasan sendiri. Selain karena cinta lingkungan, ia juga bertekad menciptakan industri hijau sekaligus ingin membuktikan bahwa industri tidak selamanya merusak lingkungan.

Setidaknya itu terlihat di lingkungan PT ASI yang sekelilingnya pepohonan dan kolam ikan. Pabriknya sendiri beratap rumbia dan sebagian lantai dari kayu. Limbah ikan praktis tidak ditemui karena setiap hari kepala dan tulang sisa ikan telah ditampung tukang kerupuk dan bakso. Di setiap ruangan terdapat tiga tempat sampah masing-masing sampah kering, basah dan plastik. Setiap sore sampah-sampah yang bisa dibakar, akan dibakar, sedangkan sisanya dibuat kompos. Di samping itu sepertiga dari tanah-tanah kosong di sekitar rumah dan pabriknya akan dijadikan hutan bakau.

Untuk menciptakan industri yang benar-benar hijau, Susi kini sedang membuat pembangkit listrik tenaga matahari. "Agar ozon tidak semakin rusak," tambahnya.

                                          ***

Sederhana, itulah kesan yang terlihat pada perempuan tomboy ini. Melihat penampilannya sehari-hari yang lebih banyak bercelana jeans atau celana pendek, kaos oblong, kemeja, jam tangan plastik murahan, topi pandan atau rajut dengan wajah yang nyaris polos tanpa polesan serta atribut lainnya berupa perhiasan emas atau berlian dan sejenisnya. Siapapun mungkin tidak percaya bahwa dia pengusaha sukses.

Apalagi setelah tahu bahwa dia hanyalah drop out kelas dua dari SMAN I Yogyakarta tahun 1982. Tentang drop outnya ini ada cerita sendiri. Pada waktu itu menjelang Pemilu ia membuat dan berjalan-jalan memakai baju putih berhias garis segi lima berisi tanda tanya besar. Petugas Laksusda (Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah) kemudian menyekapnya dalam kamar gelap selama berhari-hari. Sesudah penyekapan, ia tidak bisa begitu saja masuk ke sekolah kembali. Ia mendapat "hukuman" lain ketika berusaha mencari surat kelakuan baik. Surat itu tak berhasil didapat sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti mengurusnya dan berhenti sekolah.

Meski boleh dibilang sudah kaya, Susi masih lebih suka menggunakan motor balap kesayangannya. Bila bertemu atau bercakap-cakap dengan karyawannya, hampir tidak ada kesan bahwa ia bos dan yang lainnya anak buah. Semua disapa dengan ramah. Susi juga dikenal sebagai orang yang punya kepedulian sosial tinggi.

"Setiap lebaran, puluhan masyarakat dari kampung atau dari gunung yang ingin menikmati pantai Pangandaran sambil makan-makan, tertahan di pintu masuk karena tidak punya uang. Kalau sudah begitu, Ibu biasanya menyetir sendiri mobil truknya dan bolak-balik mengangkuti mereka hingga semuanya bisa masuk," kisah seorang karyawannya.

"Mereka itu tidak punya uang tapi mau menikmati lebaran sekaligus pantai sekali setahun. Terlalu sekali rasanya hanya karena alasan itu lalu mereka tidak bisa bergembira. Perasaan saya tidak tenang dan hati saya sakit melihat pemandangan seperti itu," ujarnya ketika dikonfirmasi cerita karyawannya.

Kini Susi terus membenahi dan membesarkan usahanya. "Rencana saya selambatnya pada usia 40 tahun sudah bisa go public. Mungkin 30 persen saham saya jual ke Jepang, 30 persen untuk saya, 2,5 persen saya hibahkan ke karyawan dan sisanya untuk publik," ujarnya.

(Reny Sri Ayu Arman)


Sumber: Kompas, 16 Agustus 1998



Kamis, 30 Juli 2026

, , ,

PENAMPILAN ABDURRAHMAN WAHID

Kompas, 30 Juli 2001


Oleh: Abd A'la


Saat-saat terakhir Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan dilengserkan oleh MPR dari jabatannya sebagai Presiden RI keempat, kritik atau lebih tepat lagi cercaan, makian dan hujatan terhadap dirinya masih terus berlanjut. Puncaknya adalah ketika Gus Dur mengeluarkan maklumat‒yang tidak lain adalah sebuah dekrit‒pada Senin dini hari tanggal 23 Juli 2001; maka ia dianggap sebagai seorang diktator dan tirani. Misalnya saja, pagi harinya seorang pengamat politik tampil di sebuah televisi swasta dengan baju hitam sebagai tanda berduka cita menyatakan bahwa Gus Dur telah berubah dari seorang demokrat menjadi seorang diktator. Siang harinya, fraksi-fraksi di MPR menyatakan hal yang serupa.

Belum reda kritik tentang hal itu, penampilan diri Gus Dur di sore hari itu (sesaat setelah di- cabut mandatnya sebagai Presiden RI oleh SI MPR) juga mendapat kecaman dari sebagian masyarakat. Saat itu ia keluar ke teras Istana untuk memberikan lambaian tangan kepada para pendukungnya dengan berpakaian kaus dan celana pendek. Sebagian orang meng- anggap bahwa penampilan dirinya yang seadanya tersebut tidak pantas dilakukan oleh (mantan) orang nomor satu di Indonesia. Maka lengkap sudah "kehinaan" Gus Dur dalam pandangan sebagian orang yang tidak senang atau tidak paham terhadap dirinya.

Berkaitan dengan itu, hal yang perlu dilakukan adalah menguak realitas yang sebenarnya dari adanya maklumat tersebut. Demikian pula kita perlu membaca secara bijaksana tentang sikap Gus Dur yang tampil seadanya di depan publik. Tulisan ini mencoba untuk membaca persoalan itu melalui pendekatan yang agak menyeluruh, sehingga kita diharapkan mampu melihat semua itu dari sisi yang lebih utuh dan positif; bukan dari dimensi negatifnya belaka.

                                          ***

Untuk menangkap secara lebih arif dan tanpa apriori terhadap apa yang dilakukan Gus Dur, tidak ada salahnya jika kita menjadikan dunia tasawuf sebagai pintu masuk untuk memahaminya. Dalam kehidupan yang sering dianggap bersifat esoteris tersebut, banyak tokoh sufi terkenal yang melakukan sesuatu yang secara mata telanjang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan pandangan yang dianut masyarakat umum.

Padahal dalam niatan mereka, mereka melakukan itu sebagai pengabdian kepada Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan yang perenial. Misalnya, hal seperti itu dapat ditelusuri dari sikap yang ditunjukkan oleh Al-Hallaj, tokoh sufi paling terkenal di abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Suatu ketika ia berjalan- jalan di Kota Baghdad sambil berteriak, "Wahai manusia, Tuhan telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku. Kalian semua akan beroleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk dirinya sendiri) dibunuh". Kemudian dia berdoa kepada Tuhan, "Ampunilah mereka, tetapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka" (lihat Bayat dan Jannia, 1997: 13). Karena sikapnya yang semacam itu, ia dianggap oleh sebagian orang sebagai Yesus-Muslim; penderitaannya diperuntukkan untuk kebahagiaan umat manusia secara keseluruhan.

Akhirnya, sejarah mencatat bahwa al-Hallaj dihukum bunuh oleh penguasa saat itu dengan alasan ajarannya dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Padahal, ada sisi lain yang menyebabkan penguasa berang terhadap tokoh sufi itu. Sebagaimana dijelaskan Bayat dan Jannia (1997),  pernyataannya itu telah mengilhami masyarakat untuk menuntut perbaikan dalam kehidupan mereka terhadap penguasa. Mereka menuntut khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Mereka menuntut suatu pembaruan dan perubahan karena kondisi sosial dan politik waktu itu tidak memuaskan masyarakat luas. 

Untuk itu, al-Hallaj rela mengorbankan dirinya demi kesejahteraan, dan kedamaian umat manusia. Dia rela dicaci maki dan bahkan rela untuk dipancung demi terjadinya reformasi dalam kehidupan. Agama yang selama itu telah direduksi sebagai alat pencapaian kepentingan oleh penguasa diupayakan bisa kembali kepada peran sentralnya sebagai pembebas manusia dari segala ketertindasan. 

Bagi al-Hallaj, tuduhan bahwa ajarannya menyimpang, dan bahwa dia dituduh zindik bukanlah persoalan yang terlalu penting untuk dipikirkan. Hal yang lebih penting bagi dia adalah pencapaian keberagamaan yang mampu mengentaskan umat manusia dari segala macam bentuk penindasan. Melalui keberagamaan seperti itu, dia menerima untuk ditindas, asal manusia yang lain tidak tertindas lagi. Mereka diharapkan tidak dijadikan lagi sebagai alat kepentingan oleh segelintir manusia.

                                             ***

Tentunya kita tidak ingin menyamakan Gus Dur dengan al-Hallaj atau si Bahlul. Paparan di atas hanya sebagai upaya memahami suatu fenomena berdasarkan hermeneutik. Melalui pembacaan seperti itu, realitas yang dapat ditangkap akan lebih utuh dan jauh dari sifat menghakimi. Dalam konteks itu, sebagai suatu fenomena, apa yang dilakukan Gus Dur pada saat-saa tterakhir menjabat Presiden (dan juga seluruh perilakunya) tidak ada salahnya bila dibaca berdasarkan perspektif tafsir semacam itu.

Kita semua sudah tahu, Gus Dur merupakan seorang tokoh yang sudah lama memperjuangkan tegaknya demokrasi di Indonesia, dan bahkan di dunia internasional. Selama Orde Baru ia dengan tegar, kritis selalu membela kepentingan bangsa secara keseluruhan di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Hal itu terlihat dengan jelas, di antaranya melalui pembelaannya yang tidak kenal kompromi terhadap kelompok-kelompok minoritas dan orang-orang yang tertindas meskipun untuk itu dia harus menerima hujatan dari kelompok mayoritas, atau bahkan dari kelompoknya sendiri.

Berdasarkan kenyataan itu, tuduhan bahwa jati diri Gus Dur telah berubah hanya karena dia mengeluarkan dekrit sangat kecil kemungkinan kebenarannya. Interpretasi yang lebih bijaksana dan aman dalam membaca dekrit Gus Dur adalah melalui pembacaan menyeluruh terhadap kehidupan dan pemikiran Gus Dur; pendekatan hermeneutik. Melalui tafsir ini, kita akan mengetahui bahwa keluarnya dekrit itu kemungkinan besar lebih merujuk kepada kepolosan Gus Dur dan husnuzzan-nya kepada orang-orang di sekelilingnya. Lebih dari itu, melalui tindakan tersebut dia sebenarnya tidak ingin mendapat pujian dalam menegakkan demokrasi di Tanah Air ini. Justru yang dia inginkan adalah menjadi martir demokrasi dalam arti yang senyatanya, tanpa seorang pun yang mengetahui dan mengenangnya. Maka, dia lalu mengeluarkan dekrit.

Untuk kian memperkukuh hal tersebut, ia pun sesudah itu tampil seadanya di depan publik dengan tanpa beban sedikit pun. Dengan demikian, ketika ia meninggalkan hiruk pikuk panggung politik, ia berharap tidak ada seorang pun yang mengenangnya. Bila itu telah terjadi, berarti semua yang ia lakukan dengan tujuan semata-mata untuk dipersembahkan kepada Tuhan dan kemanusiaan universal benar-benar telah dicapainya.

Namun Gus Dur adalah seorang manusia seperti kita semua, bukan Nabi, apalagi seperti Tuhan. Ia pasti tidak lepas dari segala kekurangan dan kelemahan. Pada sisi itu kita harus melihat kegagalan Gus Dur dalam menggapai cita-citanya mengembangkan demokrasi secara utuh dan tuntas di negeri ini sebagai sesuatu yang lumrah. Demikian pula, kita hendaknya menerima kelemahan-kelemahannya yang lain, semisal ketidakmampuannya dalam merangkul elite-elite politik yang sangat beragam dalam kepentingan dan pemikiran. Semua itu muncul dari keberadaannya sebagai manusia biasa yang tidak akan menghilangkan sisi-sisi kekuatan yang dimilikinya.

Atas dasar itu, pendekatan hermeneutik terhadap perilaku Gus Dur menjadi sesuatu yang cukup signifikan untuk dilakukan. Melalui tafsir tersebut kita diharapkan tidak akan terperosok ke dalam sikap antipati atau apriori, sehingga kita menganggap Gus Dur tidak bernilai apa pun bagi negara, bangsa, maupun agama. Demikian pula, kita tidak akan terperangkap untuk memuji dan mengangkat Gus Dur setinggi langit, sehingga menganggapnya hampir setara dengan para Nabi.

Di atas semua itu, terlepas dari segala kelemahan yang dimiliki, Gus Dur telah hadir di tengah-tengah bangsa ini dan bangsa di dunia internasional sebagai seorang muslim yang menyebarkan dengan gigih Islam substansif yang pluralis dan humanitarianistik, serta tetap otentik untuk diabdikan kepada umat manusia. Karena itu, dia‒dan pemikirannya‒bukan hanya diperlukan oleh kelompok NU atau mayoritas umat Islam semata, tapi oleh seluruh (mayoritas) umat beragama di saat ini dan di masa depan.


* Abd A'la, pengasuh Pondok Pesantran Annuqayah Latee, Sumenep.


Sumber: Kompas, 30 Juli 2001



Sabtu, 25 Oktober 2025

, ,

Masa Kecil dan Remaja

Budiman Sudjatmiko (memakai kemeja putih) bersama Pramoedya Ananta Toer


Si Kecil “Tukang Nguping” 


Oleh: Budiman Sudjatmiko


Saya dilahirkan pada bulan Maret tahun 1970, tanggal 10 di sebuah desa bernama Pahonjean di Kecamatan Majenang, Cilacap. Desa tempat saya dilahirkan adalah desa pertanian, di mana sebagian besar mata pencaharian penduduknya tergantung dari tanaman padi. Sebagian lagi bekerja sebagai buruh perkebunan karet, yaitu sebagai tenaga penyadap. 

Desa Pahonjean terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saya dilahirkan di rumah kakek saya dari pihak ibu. Saat itu, kedua orang tua saya sudah tinggal di Bogor, tapi atas permintaan nenek saya yang ingin menyaksikan kelahiran cucu pertamanya maka ibu sengaja melahirkan saya di rumah nenek. 

Atas permintaan kakek dan nenek saya juga—baik dari pihak ayah yang tinggal di Majenang maupun dari pihak ibu yang di Pahonjean—saya kemudian ditinggal di desa. Otomatis saya melewatkan masa kecil tanpa mengenal kedua orang tua kandung saya secara langsung, dan ini berlangsung sampai saya berumur 7 tahun. 

Lingkungan sosial saya di masa itu adalah lingkungan yang sangat sederhana. Kemiskinan dan kesederhanaan alam pedesaan adalah atmosfer yang kental melingkupi masa kecil saya, tapi karena kebetulan kakek dari ibu adalah seorang kepala desa, saya memperoleh perhatian yang cukup besar dari tetangga-tetangga saya yang rata-rata petani itu. Kalaupun bukan petani, mereka tetap keluarga sederhana yang profesinya tukang cukur, pedagang kecil di pasar, atau pegawai rendahan dan semacamnya. 

Dengan kalangan anak-anak desa yang sederhana itu saya melewatkan hari-hari bahagia di masa kecil saya. 

Sebagai anak desa, saya dan teman-teman tak mengenal mainan anak-anak kota buatan pabrik yang mahal dan canggih. Mainan kami adalah bermain dan berenang di sungai di suatu sore yang cerah atau ramai-ramai bersepeda menyusuri jalan tanah yang membelah areal persawahan. 

Permainan kami yang lain adalah main petak umpet, layangan, atau adu jangkrik. Sesekali saya dan teman-teman ramai-ramai nonton bioskop juga, tapi itu paling hanya kalau bioskop memutar film-film silat Cina yang menjadi favorit kami. Biasanya, seingat saya, waktu itu jagoan-jagoan kami adalah Chen Kuan Tai, Ti Lung, Fu Shen, dan tak ketinggalan juga Bruce Lee tentunya. 

Tapi di luar semua itu, hiburan yang paling mengesankan buat saya adalah jika saya bisa mencari kesempatan untuk mendapat dongengan dari kakek saya. Adalah sangat menyenangkan jika kakek menceritakan pengalaman masa mudanya selama masa perjuangan kemerdekaan. Sangat menghanyutkan mendengar cerita-cerita itu. Rasanya tiada bosan-bosannya saya meminta kakek untuk mengulang cerita-ceritanya. 

Secara tidak sadar, kakek telah menanamkan nilai-nilai heroisme dalam diri saya melalui cerita pengalaman perjuangannya sendiri di masa mudanya. Tokoh yang sering disebut-sebut oleh kakek dalam cerita-ceritanya adalah Bung Karno. Bahkan, karena seringnya nama itu disebut, saya sampai memanggil salah seorang saudara saya dengan sebutan "Pak Kano”, begitu lidah kecil saya melafalkan nama Bung Karno. 

Rakyat Pahonjean kebetulan memang sangat menghormati Bung Karno sebagai proklamator sekaligus sebagai "Bapak” mereka. Maklumlah, desa tempat kelahiran saya itu kenyataannya memang merupakan basis kuat Partai Nasional Indonesia (PNI), selain juga merupakan basis kuat Nahdhatul Ulama (NU) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Karena desa itu sangat terpolitisasi pada masa tahun 60-an, pengaruh-pengaruhnya pun masih terasa pada masa kecil saya itu. Kebetulan, sejak kecil saya sudah suka “nguping” jika kakek, nenek maupun saudara dan tetangga saya bercerita satu sama lain tentang sejarah tempat tinggal kami. 

Salah satu cerita yang pernah saya curi dengar adalah tentang pembunuhan besar-besaran yang katanya pernah terjadi di desa kami. Pada saat itu, saya membayangkan betapa mengerikannya peristiwa itu sehingga walaupun merasa penasaran tapi saya tak berani menanyakannya pada kakek atau nenek saya. Untuk urusan-urusan seperti itu, kakek dan nenek biasanya bersikap agak keras. 

Jadi jangankan bertanya, ketahuan menguping pun biasanya nenek sudah menghardik saya, "Anak kecil jangan suka mendengarkan obrolan orang tua!” Tentu saja saya takut dihardik seperti itu oleh nenek, tapi saya hanya bisa protes dalam hati saja kalau sudah begitu. Tapi saya tidak kapok, tetap saja berusaha "nguping” setiap ada kesempatan. 

Begitulah semuanya berlangsung seiring berjalannya waktu di Pahonjean. Saya melewati hari-hari itu tanpa beban sebagaimana umumnya anak-anak. Tapi menginjak usia enam tahun, terjadilah suatu peristiwa yang agak luar biasa dalam hidup saya. Saya “diperkenalkan” oleh kakek-nenek saya pada orang-orang yang katanya adalah "orang tua” saya dan karena mereka tinggal di Bogor maka saya harus ikut mereka tinggal di Bogor. 

Semuanya terjadi begitu cepat, tapi sebagai anak kecil yang polos, saya—meskipun tak tahu apa sebenarnya yang tengah saya alami—tetap merasa gembira. Saya pikir, setidaknya saya akan menemukan situasi atau lingkungan baru yang menyenangkan. 

Kepindahan saya ke Bogor terjadi saat saya naik ke kelas 2 SD. Berarti saya akan pindah dari SD II Majenang, sebuah SD yang sangat sederhana, namun untuk ukuran kecamatan, SD II merupakan yang terbaik. Saya juga baru sadar kalau saya harus mengucapkan selamat tinggal juga pada Pak De, Bu Lik, kakek, nenek dan handai taulan saya semuanya. 

Lebih jauh lagi, ternyata saya juga harus mengucapkan selamat tinggal pada kesederhanaan, dan kesetiakawanan teman-teman saya. Saya tidak tahu apakah hal-hal itu masih bisa saya temukan di Bogor atau tidak. Yang pasti, di Bogor saya harus mulai membiasakan diri menjadi seorang kakak bagi tiga orang adik saya yang masih kecil. 

Berbeda dengan teman-teman saya di desa, di Bogor saya bergaul dengan anak-anak yang rata-rata berasal dari kelas sosial menengah ke atas. Mereka kebanyakan adalah anak-anak pegawai swasta, anak-anak pengusaha menengah, dan semacamnya. Di lingkungan baru ini, terus terang saya tidak merasa sreg. 

Mungkin karena saya anak desa, sehingga saya tidak suka dengan gaya hidup mereka yang serba urban. Atau bisa jadi mereka juga tidak suka melihat seorang anak desa berada di antara mereka. Ketidaksregan ini bahkan kurasakan saat berinteraksi dengan ketiga adik dan orang tua saya sendiri. Butuh waktu lama untuk merasa “in group” dengan mereka. 

Di sekolah saya yang baru, SD Pengadilan II, saya juga butuh waktu lama untuk beradaptasi. Yang membuatku agak jengah adalah kebiasaan teman-teman sekolahku untuk merayakan hari ulang tahun mereka dengan acara pesta-pesta. Dan walaupun masih SD, mereka sudah mengkonsumsi musik-musik disko untuk memeriahkan acara pesta-pesta itu. 

Sebagai anak desa, saya akhirnya menjadi terasing di tengah keluarga dan teman-teman baru saking sulitnya saya mencoba melarutkan diri di antara mereka. 

Sebagai jalan keluar untuk mengatasi “keterasingan” itu, baik di rumah maupun di sekolah, saya mulai menenggelamkan diri di dunia buku. Sejak itu, mulailah kuisi hari-hariku dengan membaca dan membaca. Koran, majalah, buku-buku koleksi ayah, semuanya saya baca habis. Di antara buku-buku cerita ayah, karya-karya Dr. Karl May adalah salah satu yang paling saya gemari. 

Di luar buku cerita, buku politik—entah mengapa menjadi pilihan saya. Meski saya belum mampu memahami isinya dengan baik, saya selalu berusaha keras untuk mempelajarinya. Seingat saya, koleksi buku-buku tulisan Bung Karno adalah buku politik yang sudah saya baca waktu itu. 

Saking dalamnya saya menenggelamkan diri, sampai-sampai buku berbahasa Inggris pun saya coba baca juga meski saya belum mengerti. Salah satunya adalah tulisan John F. Kennedy yang berjudul Profiles in Courages, yaitu tentang sejarah para senator AS yang terkenal karena keberanian dan konsistensinya dalam membela kebenaran. 

Tapi, keasyikan ini mengakibatkan saya jarang sekali bergaul dengan teman-teman di sekolah maupun di rumah. Dunia buku terasa lebih menarik dan memperkaya saya dibandingkan bergaul dengan anak-anak “kota” tersebut. 

Tapi ternyata, justru dengan “kekayaan” itu teman-teman saya mulai bisa menerima saya, walaupun tetap saja saya merasa jengah kalau harus ke acara-acara pesta mereka. Saat paling menyenangkan adalah masa libur panjang karena saat itulah saya bisa “pulang” ke kampung halaman saya desa Pahonjean. Sebuah tempat yang makin saya cintai semenjak saya tinggal di Bogor. Rasa haru, empati, dan solidaritas pada kemiskinan spontan muncul dalam diri saya begitu membandingkan mereka dengan lingkungan saya di Bogor. Yang satu sederhana yang lain bermewah-mewah. Yang satu bekerja keras membantu orang tuanya yang lain bermanja-manja dengan fasilitas yang diberikan orang tua mereka. Begitulah kesadaran masa kecil saya, terbentuk karena distimulasi oleh naluri keadilan saya yang terusik melihat kontradiksi dan kesenjangan dua lingkungan tersebut. 

Setangkai Bunga Anggrek untuk Lusia 

Satu peristiwa penting dalam karier saya sebagai “kutu buku” adalah ketika saya menemukan "harta karun" di rumah kakek. Ketika iseng-iseng saya membongkar gudangnya, saya menemukan banyak sekali koleksi buku-buku lama milik kakek. Secara sembunyi-sembunyi, bukubuku itu saya curi untuk dibawa ke Bogor kalau masa liburan sudah habis. Hal itu terus saya lakukan hampir setiap liburan. Dari buku-buku itu, saya mengenal banyak tokoh sejarah seperti Bung Karno, Nasser, Mao Tze Tung, Nehru dan banyak lagi tokoh-tokoh dunia lainnya. 

Lucunya—ini mungkin karena gede rasa atau entah apa membaca terus buku-buku itu mengakibatkan saya mulai membayangkan kalau jalan hidup yang ditempuh oleh pahlawan-pahlawan itu, seolah-olah suatu saat juga bakal saya jalani. Karena perasaan inilah maka saat itu, setiap kali ditanya tentang cita-cita—oleh orang tua ataupun guru saya selalu menjawab bahwa saya ingin menjadi politikus. Sebuah jawaban yang kadang mengundang tawa orang tua, guru, ataupun sanak-famili saya. 

Selepas SD, saya masuk ke SMP Negeri I Bogor. Tapi karena saya tetap merasa tidak sreg tinggal di Bogor, saya mendesak orang tua agar mengembalikan saya ke Majenang untuk bersekolah di sana. Akhirnya, orang tua saya mengizinkan juga. Di Majenang, saya masuk SMP 1 Majenang dan tinggal kembali bersama kakek. Kembali ke lingkungan sederhana yang saya cintai dan kembali berkumpul dengan teman-teman lama saya. 

Saya kemudian mencoba untuk menghidupkan suasana pertemanan yang kritis dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Tentu saja tidak semua teman mempunyai animo terhadap gagasan itu. Tapi, setidaknya saya berhasil mengumpulkan beberapa teman untuk membuat kelompok diskusi pelajaran sejarah. Kebetulan di antara teman-teman ada yang berasal dari keluarga cukup aktif di kegiatan organisasi NU atau aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). 

Kebetulan juga, guru sejarah kami, Pak Mugiyanto, tertarik dengan kegiatan diskusi kami. Dia juga mengetahui bahwa saya menyukai pemikiran-pemikiran Bung Karno. Dengan bantuan Pak Mugiyanto, kelompok-kelompok diskusi pun menjadi lebih berkembang, terutama untuk pelajaran sejarah. Hal ini sangat dimungkinkan karena waktu itu baru diintrodusir Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). 

Perdebatan menjadi seru karena biasanya kebanyakan kelompok mengambil referensi dari buku pelajaran sejarah versi pemerintah. Sementara kelompok saya selalu mencari referensi dari literatur alternatif, baik itu dari koleksi saya maupun koleksi teman-teman lain. 

Kegandrungan saya untuk mencari referensi kritis akhirnya membawa saya berkenalan dengan Pak Soebardjo, salah seorang tokoh masyarakat di Majenang. Dulu, Pak Soebardjo adalah seorang tokoh PNI yang terkenal di Cilacap. Perkenalan saya dengannya karena putri bungsunya adalah teman sekolah saya.

Dengan beberapa teman, saya sering berkunjung ke rumahnya sehingga akhirnya kami menjadi kenal dan sering berdiskusi soal sejarah politik dengan Pak Soebardjo. Pak Soebardjo juga cukup antusias terhadap kami. Ia kemudian juga sering meminjami kami buku-buku yang dimilikinya. Salah satu yang masih saya ingat betul adalah buku pidato pembelaan Bung Karno di pengadilan kolonial yang berjudul “Indonesia Menggugat”. 

Tentu saja tidak setiap hari saya membenamkan diri dengan persoalan-persoalan itu melulu. Bagaimanapun toh saya tetap seorang remaja biasa sehingga ada kalanya saya juga menjadi remaja pada umumnya. Dalam urusan cinta remaja misalnya, saya juga sempat mengalaminya ketika itu. Saya akui saya sangat lugu dan tidak ahli dalam urusan yang satu ini. Tapi hal ini tidak bisa mencegah saya untuk menaksir seorang gadis. Dan gadis itu adalah Lusia, seorang gadis keturunan Cina yang sangat pandai di sekolah kami. 

Awalnya, mungkin kepandaiannyalah yang memicu perasaan saya terhadap Lusia. Selain saya, banyak juga teman lain yang tertarik dan mengidolakan Lusia. Saya tidak tahu bagaimana teman-teman saya yang lain itu berupaya menarik hati Lusia. Tapi yang jelas saya sendiri berusaha menarik perhatiannya melalui kegiatan belajar bersama. Untunglah Lusia adalah seorang gadis yang ramah dan terbuka sehingga saya bisa cepat menjadi akrab dengannya. 

Salah satu kenangan saya dengan Lusia terjadi ketika suatu ketika saya mengisi liburan di Bogor. Waktu itu, tak berapa lama sebelum saya pulang ke Majenang, saya menyempatkan diri membeli setangkai bunga anggrek untuk Lusia. Sesampainya saya di Majenang pada pagi hari sebenarnya saya berniat untuk segera memberikan bunga itu pada Lusia sore atau malam harinya. Tapi karena ternyata saya merasa kikuk, sungkan, malu atau mungkin tidak berani memberikan bunga itu di rumahnya, akhirnya saya meminta bantuan seorang teman yang rumahnya berhadapan dengan rumah Lusia. Saya minta teman itu memanggil Lusia ke rumahnya sementara saya sudah berada di situ. Dan di rumah teman itulah kemudian saya memberikan bunga anggrek itu pada Lusia. 

Lusia ternyata sangat menyukai pemberian saya itu. Setangkai bunga anggrek itu. Hal ini sungguh sangat membahagiakan saya saat itu. Sedemikian jauh, itulah bentuk tertinggi ekspresi kekaguman dan rasa suka saya padanya. Hanya itu saja, karena dia tak pernah benar-benar menjadi kekasih saya. Alasan yang dikemukakannya adalah bahwa dia masih terlalu muda untuk menjalin hubungan asmara dengan lelaki mana pun. Dan sejak saya lulus dari SMP I Majenang, saya tak pernah bertemu lagi dengan Lusia. 

Budiman Sudjatmiko, aktivis dan mantan Ketua PRD


Sumber:

FX Rudy Gunawan, Budiman Sudjatmiko: Menolak Tunduk (Catatan Anak Muda Menentang Tirani), Jakarta: PT Gramedia, 1999, h. 25-33.


Rabu, 22 Oktober 2025

, ,

NUCHOLISH MADJID: ICMI MEMANG SEPERTI MASYUMI

GATRA, 21 Oktober 1995, Nomor 49, Tahun I


Nurcholish Madjid memandang, jika dulu eks tokoh Masyumi menerima Parmusi, mereka akan memperoleh posisi terhormat.

Ketika tokoh-tokoh Masyumi mengupayakan rehabilitasi partainya, Dr. Nurcholish Madjid adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang dianggap anak Masyumi. Sebagai pimpinan HMI, Nurcholish termasuk pendukung rehabilitasi.


Dosen Pasca-Sarjana IAIN Jakarta, pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, Kamis pekan lalu diundang GATRA untuk sebuah diskusi di seputar pemberian penghargaan kepada Prawoto Mangkusasmito dan Kasman Singodimedjo. Juga mengenai Masyumi, partai Islam terbesar yang dibubarkan Soekarno pada 1960 itu. Petikannya:


Tokoh Partai Masyumi, seperti Prawoto Mangkusasmito dan Kasman Singodimedjo, memperoleh bintang penghargaan dari Pemerintah. Apakah itu bisa disebut sebagai pergeseran sikap Pemerintah terhadap eks tokoh Masyumi?


Bila Pak Prawoto dan Pak Kasman sekarang mendapat giliran diakui jasanya, menurut saya, wajar saja. Selama ini ada anggapan dalam jajaran orang-orang yang diakui jasanya dalam republik ini, Masyumi paling tak terepresentasikan. Banyak sekali nama jalan di negeri ini yang menggunakan nama tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah pun sudah terwakili. Misalnya ada nama jalan KH Mas Mansyur dan KH A. Dahlan. Tapi orang Masyumi belum ada yang menjadi nama jalan. Saya iri mengapa begitu T.B. Simatupang meninggal – memang harus diakui jasanya –langsung menjadi nama jalan. Sedangkan Moh. Roem belum dikutak-katik.


Menurut Anda, mengapa Prawoto dan Kasman diberi bintang penghargaan, sementara Roem belum? Padahal jasa Roem tak kalah dengan T.B. Simatupang atau Prawoto.


Bahwa Pak Kasman sangat berjasa, itu jelas sekali. Kita tahu riwayatnya. Ia, misalnya, bekas Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Prawoto adalah seorang yang pernah menjadi wakil perdana menteri dan memainkan peran penting dalam Konstituante. Di samping itu, Prawoto adalah tokoh Masyumi yang relatif dekat dengan Bung Karno. Ia menjadi jembatan antara M. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara (tokoh Masyumi yang masuk hutan bersama pemberontak PRRI/Permesta-Red.) yang ada di Sumatera waktu itu dengan Bung Karno.


Prawoto adalah tokoh Masyumi yang bersama Kasman dan Moh. Roem sempat membuat pernyataan bahwa PRRI itu tidak konstitusional. Memang yang dituntut Bung Karno lebih dari itu, Yakni mengutuk. Dalam bahasa Arab artinya sama dengan melaknat. Tapi itu tak mereka lakukan, karena dalam Islam, apalagi sesama muslim, tak boleh orang melaknat sesama manusia.


Roem?


Saya sendiri heran, mengapa Moh. Roem tak didahulukan. Roem itu jasanya luar biasa. Dia adalah orang ketiga yang paling berjasa setelah Bung Karno dan Bung Hatta. Ia amat berperan dalam finalisasi fase revolusi fisik lewat perundingan Roem-Royen, yang kemu- dian menghasilkan Konferensi Meja Bundar (KMB) – saat Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Pemerintah Indonesia.


Keputusan Pemerintah memberikan bintang itu, apakah bisa ditafsirkan sebagai kelanjutan sikap Pemerintah Orde Baru merangkul kekuatan Islam?


Segala interpretasi bisa kita buat, termasuk interpretasi semacam itu. Tapi Pak Harto sendiri selama ini tak penah melakukan sesuatu tanpa pre-meditation, perenungan yang lama. Artinya, bukan keputusan mendadak. Tentu sudah beliau perhitungkan matang-matang. Dan saya kira, keputusan itu tak semata-mata karena adanya desakan jangka pendek, misalnya pemilu. Melainkan dalam rangka menuju keseimbangan baru Indonesia. Secara mental, setiap kelompok merasa terepresentasikan dengan baik. Kalau sekian besar jumlah orang Indonesia merasa terus-menerus mengalami penyingkiran, itu bisa menjadi sumber gangguan.


Di satu pihak, adanya pengakuan jasa- jasa itu menunjukkan makin memudarnya trauma-trauma yang terjadi. Dan itu saya kira baik sekali. Di lain pihak, sebenarnya itu sudah terlambat. Tapi itu lebih baik daripa- da tidak sama sekali.


Bagi Anda, apa yang menarik dari Masyumi?


Masyumi ini menarik karena merupakan pemunculan ke atas di bidang politik dari orang-orang yang latar belakangnya sebetulnya priayi tapi kelak mempunyai komitmen kuat kepada Islam. Saya sebut priayi karena kenyataannya begitu, buktinya Anda bisa lihat sendiri dari namanya, Jawa, bahasa Sanskerta. Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo, Jusuf Wibisono, Sjafruddin Prawiranegara, dan sebagainya. Di zaman Belanda, mereka termasuk kelas istimewa di kalangan penduduk pribumi karena dapat menikmati pendidikan tinggi. Mereka dididik secara sekuler tapi memiliki komitmen terhadap Islam. Waktu itu, para priayi biasanya masuk PNI atau PSI.


Apa pengaruh latar belakang pendidikan itu bagi perkembangan Masyumi di kemudian hari?


Karena berasal dari lingkungan priayi, sebenarnya dari segi simbol-simbol keislaman mereka tak memenuhi syarat. Mereka kebanyakan tak fasih mengucapkan salam atau mengutip ayat. Meski begitu, berkat pendidikan dan pengetahuan modernnya, mereka lebih mampu mengangkat esensi ajaran agama daripada yang tak punya latar belakang pendidikan modern. Karena itu, dalam artikulasi tentang ajaran agama, terutama menyangkut masalah politik setelah kemerdekaan, Masyumi tampak dominan. Dalam Konstituante, misalnya, artikulasi cita-cita Islam di bidang politik sebagian besar diungkapkan oleh orang Masyumi. Mereka menjadi juru bicara dari mereka yang mempunyai aspirasi Islam sehingga timbul kesan seolah-olah Masyumi-lah yang punya obsesi negara Islam. Padahal mereka hanya artikulator para wakil organisasi Islam di Konstituante, yang hampir semuanya memiliki ide negara Islam.


Selain menjadi artikulator ide Islam, orang Masyumi juga artikulator ide-ide politik modern, termasuk demokrasi, HAM, konstitusi, tertib hukum, dan sebagainya. Karena itu, orang-orang Cornell University, pimpinannya George McTurne Kahin, menganggap Masyumi golongan liberal.


Ada yang mengatakan bahwa secara anatomis ICMI mirip Masyumi. Di antara pengurusnya, misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi dan priayi. Menurut Anda?


Kalau istilah Masyumi ditujukan untuk orang yang memiliki latar belakang sekuler tapi memiliki komitmen terhadap Islam, ICMI memang seperti itu. Namun secara politis kan berbeda.


Dari hasil Pemilu 1955, Masyumi menjadi salah satu partai terbesar.


Kalau mau jujur – jujur menurut saya – merekalah yang paling representatif untuk pemikiran Indonesia. Maksudnya begini, tahun 1955 ketika diadakan pemilu, terbukti Masyumi adalah partai yang paling tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Masyumi-lah yangpaling Indonesia. Sedangkan NU, PKI, dan PNI cenderung partai Jawa. Itulah, antara lain yang membuat Masyumi waktu itu sangat berperan. Setelah penyerahan kedaulatan lewat Konferensi Meja Bundar tanggal 27 Desember 1949, di Den Haag, M. Natsir adalah orang pertama yang menjadi perdana menteri. 


Tapi sejumlah tokohnya terlibat PRRI/Permesta.


Begini. Umumnya tokoh Masyumi berpikir legal-formal. Mereka yang sangat legal-formal itu terutama Pak Prawoto dan Pak Roem. Sjafruddin Prawiranegara yang ikut ke hutan bersama PRRI, masih menunjukkan sikap seperti itu. Beliau berontak karena melihat Bung Karno itu melanggar hukum. Misalnya, dengan membubarkan Konstituante. Itu yang dianggap sebagai perbuatan melanggar hukum. Menurut anggapan Masyumi waktu itu, kalau saja Soekarno tak tergesa-gesa membubarkan Konstituante,yang menurut Masyumi dilakukan karena dorongan PKI, semua anggota Konstituante akan menerima Pancasila.


Di awal Orde Baru, tokoh-tokoh Masyumi mengupayakan rehabilitasi Masyumi. Namun Pemerintah menolaknya dan mengajukan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dengan syarat eks tokoh Masyumi tak boleh jadi pimpinan. Tarik-menarik terjadi. Pemerintah tetap pada sikapnya.


Waktu itu, saya sebagai Ketua Umum PB-HMI, juga berada di pihak yang menginginkan rehabilitasi. Namun akhirnya saya mendukung berdirinya Parmusi. Saya mengerti mengapa Pemerintah tak bersedia merehabilitasi Masyumi. Ini masalah psikologi politik waktu itu. Alamsjah Ratu Perwiranegara (Sekretaris Negara RI waktu itu – Red.), dengan tepat melukiskan begini: "Bagaimana mungkin kita merehabilitasi Masyumi? Tentara-tentara itu masih berlumuran darah, janda-jandanya belum kawin lagi (janda tentara yang tewas dalam menumpas PRRI/Permesta-Red.), anak-anaknya masih yatim dan belum ketahuan nasibnya." Waktu itu, tumpasnya PRRI memang baru berlalu delapan tahun. Jadi wajar masih segar dalam ingatan.


Menurut sejarah, faktor trauma pada negara Islam merupakan hambatan terbesar untuk rehabilitasi. Komentar Anda?


Saya kira ada benarnya, yaitu adanya faktor Islam phobia, atau trauma dengan ide negara Islam. Seperti yang saya katakan tadi, di Konstituante wakil-wakil Masyumi-lah yang mengartikulasikan keinginan organisasi Islam untuk mendirikan negara Islam. Mungkin itu yang menyebabkan adanya trauma pada Masyumi. Tapi kalau kita menempatkan diri sebagai orang Masyumi, tentu kita akan mengeluarkan argumen begini: Ide negara Islam itu diajukan karena Konstituante memang memberi kesempatan untuk perdebatan berbagai ide tentang dasar negara. Bukankah sejak semula – tahun 1945 – semua orang termasuk Bung Karno menyadari, UUD 45 itu darurat, dibuat secara tergesa-gesa dengan harapan suatu saat akan disempurnakan. Konstituante adalah lembaga yang dibentuk untuk itu. Jadi dengan adanya Konstituante, semuanya dimulai lagi dari nol.


Orang-orang PSI seperti Sumitro Djojohadikusumo dan Soedjatmoko memperoleh peranan di pemerintahan. Padahal PSI juga dibubarkan dan tak pernah direhabilitasi. Sebaliknya, orang-orang Masyumi tampak tersudut.


Soalnya, Sumitro mewakili siapa? Hanya partai kecil, dalam arti jumlah anggota. Roem itu mewakili suatu kelompok yang amat besar. Ini suatu psikologi politik yang amat terasa sekali sewaktu saya masih ikut-ikut dulu.


Andaikan waktu itu eks tokoh Masyumi langsung menerima Parmusi, tanpa harus tarik-menarik, mungkinkah ceritanya akan lain?


Itu yang tak diperhitungkan eks tokoh Masyumi waktu itu. Pihak lain dengan cepat membaca situasi, termasuk PNI. Mereka yang bukan Masyumi dengan cepat berdiri di pihak Orde Baru, sehingga ruang kosong yang disediakan buat Masyumi telah terisi, terutama oleh mereka yang punya trauma kepada Masyumi. Tarik-menarik Masyumi dengan Pemerintah terlalu lama sehingga memberikan kesempatan kepada orang lain masuk. Kalau dulu mereka langsung menerima Parmusi, saya kira lain lagi jadinya. □


Sumber: GATRA, 21 Oktober 1995, Nomor 49, Tahun I

Selasa, 21 Oktober 2025

, ,

Soedjatmoko: Intelektual dan Guru

Arief Budiman

Oleh: Arief Budiman


Ketika saudara Budi Putra meminta saya menuliskan pengantar untuk bukunya tentang Soedjatmoko, meskipun saya sedang sangat sibuk dan saya belum membaca naskah lengkap yang dituliskannya, saya memutuskan menerimanya juga. Alasannya adalah karena saya merasa senang bahwa ada orang dari generasi lebih muda yang mau meneliti dan memahami buah pemikiran Soedjatmoko. 

Budi Putra adalah seorang muda yang lahir pada tahun 1972 di Sumatera Barat. Dia berbeda generasi dengan saya (pada tahun 1972 saya sudah mengalami masuk penjara karena berdemonstrasi menentang Proyek Taman Mini), apalagi dengan Soedjatmoko yang sudah jadi orang besar ketika saya masih mahasiswa. Hal ini membuktikan bahwa pikiran-pikiran Soedjatmoko tampaknya masih terus berarti bagi generasi-generasi berikutnya.

Saya beruntung diberi kesempatan mengenal Soedjatmoko dari dekat. Berbeda dengan tokoh-tokoh intelektual senior lain yang ternama, Soedjatmoko selalu mau merendah untuk bergaul dan mendengarkan orang-orang yang lebih muda. Di rumahnya di Jalan Tanjung, Jakarta, sering diadakan diskusi bersama dengan para mahasiswa dan dosen muda. Ini terjadi pada permulaan tahun 1960-an. 

Saya berkenalan dengan Soedjatmoko dalam konteks ini. Saya adalah salah seorang peserta diskusi. Saya sangat bangga bahwa saya bisa berkenalan dengan Soedjatmoko, seorang tokoh intelektual senior yang sudah aktif terlibat dalam perjuangan diplomasi di PBB untuk kemerdekaan Indonesia pada tahun 1940-an. 

Pada suatu hari, saya memberanikan diri (lebih tepat lagi: nekat) untuk minta ketemu dengan dia berdua saja. Saya tidak banyak berharap. Kalau pada saat itu dia mengatakan “maaf, saya sibuk," saya tidak akan marah, meski mungkin akan sedikit kecewa. Tapi ternyata tidak, dia memandang saya, melihat ke buku agenda hariannya, dan kemudian menyebut sebuah hari beserta jamnya untuk saya datang. 

Ketika saya menyatakan setuju, dia berkata: “Baik, saya tunggu Bung pada waktu itu.” Wah, saya juga jadi tambah bangga disebut Bung, begitu dia biasanya memanggil orang. Rasanya saya sudah “setara” dengan Soedjatmoko. Pada hari dan jam tersebut, yang tidak saya bisa lupakan, Soedjatmoko sudah menunggu saya di sofa ruang depan di rumahnya di Jalan Tanjung. 

Ketika saya duduk, pembantunya datang membawakan teh. Saya mula-mula gugup, tapi karena sikap Soedjatmoko yang sama sekali memperlakukan saya sebagai sesamanya, saya jadi tambah tenang. Saya mulai bisa bicara dan bisa menyatakan pendapat-pendapat saya. 

Ketika pulang dari kunjungan tersebut, ada sebuah pelajaran yang tidak dapat saya lupakan, dan saya terapkan dalam hidup saya sekarang, yakni: Hargailah orang-orang muda! Berilah waktu kepada mereka! Merekalah yang akan meneruskan ide-ide kita! 

Saya juga mendapat kesan bahwa Soedjatmoko tampaknya senang dengan saya, meskipun pendapat-pendapat saya tidak banyak artinya. Ini kemudian terbukti, ketika ada tawaran dari International Association for Cultural Freedom yang berpusat di Paris untuk mengirim seorang muda dari Indonesia untuk belajar selama satu tahun di Belgia, Soedjatmoko dan P. K. Ojong mengusulkan nama saya. Maka, pada tahun 1964, saya dikirim ke sana. 

Kemudian, pada tahun 1970-an ketika saya sedang belajar di Universitas Harvard di Amerika Serikat, tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari Ford Foundation di New York. Mereka menanyakan apakah saya bersedia ikut dalam sebuah seminar di Guernavaca, Meksiko, untuk menggantikan Soedjatmoko yang tidak bisa datang. Beliau mengusulkan nama saya. 

Seminar itu diselenggarakan oleh Ivan Illich, sehubungan dengan terbit bukunya yang baru: Medical Nemesis. Tentu saja, ini merupakan kehormatan bagi saya dan saya segera mengiyakannya. 

Mungkin semua pengalaman inilah yang membuat saya tidak bisa menolak ketika saudara Budi Putra, seorang yang mewakili generasi muda yang sekarang, meminta saya menulis kata pengantar ini. Dengan begini saya merasa utang saya kepada Soedjatmoko saya bayar, meski secara kecil-kecilan. 

Ini juga yang menjelaskan mengapa saya biasanya tidak menolak dan senang sekali kalau bisa memenuhi undangan para mahasiswa untuk berdiskusi dengan duduk di tikar dalam salah satu kamar kontrakan salah seorang dari mereka. Ya, saya sedang membayar utang. 

Dengan cerita di atas, saya ingin menyatakan bahwa Soedjatmoko bukan sekadar intelektual salon yang berpikir di ruang perpustakaannya tentang ide-ide besar dan tentang cara-cara bagaimana menyelamatkan umat manusia di dunia ini. Dia juga “reach out” kata orang Amerika, keluar dari menara gadingnya dan menyentuh realitas. 

Semakin saya menjadi dewasa dan terlibat dengan berbagai pemikiran tokoh-tokoh dunia selama studi saya di Amerika Serikat, saya merasa ada yang belum dicapai oleh Soedjatmoko sebagai pemikir. Ini barangkali harus diteruskan oleh yang muda-muda. 

Saya semakin melihat bahwa apa yang dilakukan Soedjatmoko ternyata belum tuntas. Dia seorang yang sangat cerdas, dan pandai merumuskan persoalan dengan sangat baik. Begitu baiknya sehingga kalau dia menguraikan duduk sebuah persoalan, kita tanpa sadar sudah dibawa ke arah jawabannya. Di sini saya merasakan benarnya pepatah yang mengatakan bahwa “Kalau kita bisa merumuskan sebuah persoalan dengan baik, maka itu sudah sama dengan mendapatkan setengah dari jawabannya.” 

Tapi, saya melihat bahwa Soedjatmoko tidak pernah memberikan jawaban. Dia hanya sampai pada tahap merumuskan dengan baik. Ini saya nyatakan dalam diskusi-diskusi yang juga dihadiri Soedjatmoko, yakni “kekecewaan” saya bahwa beliau tidak pernah menuntaskan pemikirannya. Dalam sebuah kritik terhadap bukunya yang saya tulis untuk majalah Tempo, saya nyatakan hal ini. 

Saya jadi “bentrok” dengan Ignas Kleden yang melihat Soedjatmoko sebagai pemikir besar yang ide-idenya orisinal dan brilian. (Pandangan ini ditulis Ignas dalam kata pengantar yang dia tuliskan untuk salah satu buku Soedjatmoko.) Saya katakan kepada Ignas, kalau dalam dunia intelektual mondial kita kenal teori-teori Samir Amin (dari Afrka) atau Fernando H. Cardoso (dari Amerika Latin), kita tidak mengenal adanya teori Soedjatmoko. 

Saya memang menjadi kritis terhadap karya-karya Soedjatmoko. Tapi ini tidak berarti bahwa saya tidak menghargai dia sebagai seorang cendekiawan, seperti yang saya katakan di atas, yang mau turun ke bawah dan bekerja bersama anak-anak muda. Utang budi saya terhadap Soedjatmoko dalam proses pembentukan diri saya sebagai intelektual tidak bisa terukur nilainya. 

Dan saya beranggapan bahwa saya akan memenuhi cita-cita Soedjatmoko dengan bersikap kritis terhadap segala hal, sebuah sikap yang paling mendasar bagi seorang intelektual, termasuk terhadap pemikiran-pemikiran Soedjatmoko sendiri. Kata orang, guru yang berhasil adalah guru yang bisa menciptakan murid yang bisa menentang dia. Tentu saja asal tidak ngawur. 

Kembali kepada buku ini. Seperti saya katakan di atas, saya senang sekali bahwa ada seorang dari generasi yang lebih muda yang meneliti pemikiran-pemikiran Soedjatmoko. Ini menunjukkan bahwa ide-ide Soedjatmoko masih terus hidup, masih terus bergulir, dan masih terus ditemukan dan ditemukan kembali. 

Dalam proses inilah buku ini menjadi penting. Terutama karena dia ditulis oleh seorang muda yang tidak hidup dalam zaman Soedjatmoko, yang tantangan-tantangannya lain, dan karena itu harus mencari jawaban-jawaban lain. 

Dalam buku ini mungkin bisa kita lihat pikiran-pikiran Soedjatmoko mana yang masih relevan bagi generasi muda, dan bagaimana pemikiran-pemikiran ini bisa dipakai untuk merumuskan persoalan zaman sekarang dan mendapatkan arah penyelesaiannya. 

Buku ini merupakan salah satu dari usaha untuk memahami dan mengembangkan pikiran-pikiran Soedjatmoko, seorang intelektual senior yang sekaligus seorang guru bagi banyak orang yang sekarang berperan dalam masyarakat. Apa yang belum dicapai Soedjatmoko sepantasnya diperjuangkan generasi selanjutnya, bagai sebuah estafet yang terus berkelanjutan. 
Dengan cara inilah kita belajar dan kemudian mengembangkan sejarah bangsa ini. 

Arief Budiman, intelektual publik

Tulisan ini merupakan Pengantar buku Budi Putra. Sejarah Masa Depan: Percikan Pemikiran Soedjatmoko. Padang: Pustaka Mimbar Minang, 2000 

Sumber

Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006, h. 346-349


Minggu, 12 November 2023

, ,

Tokoh yang Belajar Filsafat

Filsafat menjadikan seseorang berpikir kritis. Berikut ini beberapa contoh orang-orang (tokoh) yang kritis karena mereka mempelajari filsafat. Berikut ini hanyalah sedikit contoh saja. Mereka itu antara lain:

Bung Hatta, 

Tan Malaka, 

D.N. Aidit, 

Daoed Joesoef (https://amp.kompas.com/ekonomi/read/2018/01/24/103352926/mengenang-daoed-joesoef-profesor-yang-pilih-kuliah-ke-perancis-ketimbang-as), 

Franz Magnis-Suseno, 

K. Bertens, 

Goenawan Mohamad, 

Yusril Ihza Mahendra (S1 Hukum, UI, berbarengan dg S1 Filsafat; S2 Filsafat, Pakistan; S3 Ilmu Politik, Malaysia; S3 Filsafat, UI https://vt.tiktok.com/ZSNjC9t97/), 

Ignas Kleden, 

A.M. Hendropriyono, 

Rocky Gerung, 

Nurcholish Madjid, 

Fazlur Rahman (profesor filsafat di Chicago, gurunya Cak Nur), 

Gus Dur (https://jabar.nu.or.id/ngalogat/persinggungan-gus-dur-dengan-filsafat-gFVY5), 

Luthfi Assyaukanie, 

Komaruddin Hidayat, 

F. Budi Hardiman, 

A. Setyo Wibowo, 

Fuad Hassan, 

Dian Sastrowardoyo, 

Sujiwo Tejo, 

A. Sonny Keraf, 

Manuel Kaisiepo, 

Ayu Utami, 

Budhy Munawar-Rachman (STF Driyarkara),

F.X. Mudji Sutrisno (S-1-nya di STF Driyarkara),

Simon Petrus Lili Tjahjadi (S1 di STF Driyarkara)

Sindhunata (S1 di STF Driyarkara), 

Alois A. Nugroho (S1 di STF Driyarkara), 

A. Sudiarja  (alumni STF Driyarkara), 

J. Sudarminta (S1 di STF Driyarkara), 

Rieke Diah Pitaloka (S1 Filsafat STF Driyarkara, S2 Filsafat UI), 

Ulil Abshar Abdalla (STF-Driyarkara),

Martin Suryajaya (STF Driyarkara) 

Robertus Robert, 

Zuhairi Misrawi, 

Karlina Supeli, 

Fahruddin Faiz, 

Yahya Waloni, 

Gadis Arivia, 

Donny Gahral Adian, 

Lucius Karus, 

Ahmad Syafi'i Maarif, 

Nezar Patria, 

Ali Syariati, 

Arief Budiman, 

Romo Benny Susetyo (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi [STFT] Widya Sasana Malang), dan banyak tokoh hebat lainnya. Di Kerinci ada Emil Peria sebagai contoh.


Minggu, 08 Oktober 2023

, , , , , , , , ,

PENGANGKATAN PJ BUPATI: HARUSKAH MEMPERHATIKAN ASPIRASI MASYARAKAT?

Oleh: NANI EFENDI


Pilkada serentak di seluruh Indonesia masih relatif lama: 27 November 2024. Oleh karena itu, bagi daerah yang masa jabatan bupatinya telah berakhir sebelum pilkada, akan ditunjuk Pj Bupati sampai terpilihnya bupati definitif. Di beberapa daerah, persoalan penentuan Pj Bupati sudah menjadi isu politik yang krusial. Bahkan, di daerah tertentu, terjadi penolakan oleh sekelompok masyarakat terhadap nama-nama calon Pj Bupati yang diusulkan oleh DPRD Kabupaten. 

Sekelompok masyarakat menolak beberapa nama calon Pj Bupati karena dianggap tak mencerminkan aspirasi masyarakat. Pertanyaannya, apakah pengangkatan Pj Bupati suatu daerah mesti memperhatikan aspirasi masyarakat? Bukankah Pj itu hanyalah sebatas jabatan administratif ASN, yang bersifat penugasan, bukan jabatan politik yang dipilih melalui mekanisme pemilihan umum?

Apa itu Pj Bupati?

Pj adalah singkatan dari "Penjabat", bukan "Pejabat". Harus dibedakan istilah "penjabat" dan "pejabat". “Penjabat” artinya orang yang menjabat untuk sementara, menunggu terpilihnya pejabat definitif. Pj Bupati bukanlah jabatan politik yang dipilih oleh masyarakat secara langsung melalui mekanisme demokrasi, yakni pilbup. Ia hanyalah “jabatan administratif” pemerintahan yang berasal dari ASN. Karena itu, untuk menjadi Pj, syaratnya haruslah seorang ASN aktif.

Karena bukan jabatan politik, maka Pj tak memiliki wewenang seluas wewenang bupati definitif. Salah satu contoh, dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Pj Bupati dilarang melakukan mutasi ASN. Ia juga dilarang membatalkan perijinan yang telah dikeluarkan oleh pejabat sebelumnya dan/atau mengeluarkan perijinan yang bertentangan dengan yang dikeluarkan bupati sebelumnya.

Pj Bupati dilarang membuat kebijakan tentang pemekaran daerah yang bertentangan dengan kebijakan bupati sebelumnya. Juga Pj Bupati tak boleh membuat kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan dan program pembangunan bupati sebelumnya. Ini artinya apa? Artinya, Pj tak lebih sebagai "pelaksana tugas (plt)" administratif pemerintahan daerah menunggu dipilihnya bupati melalui pilbup.

Tapi, dan ini yang harus dipahami, meskipun wewenangnya terbatas, dalam praktiknya, Pj Bupati saat ini sudah bisa disebut "setengah bupati". Bahkan, di daerah tertentu, Pj sudah "rasa bupati", bergaya bupati, dan dipanggil sebagai "Pak Bupati". Saya terkadang merasa lucu juga mendengar orang memanggil seorang Pj dengan sebutan "Pak Bupati". “Sejak kapan ia dipilih oleh masyarakat,” pikirku. Bukankah ia hanya seorang pegawai ASN, tak ubahnya seorang sekda, kepala dinas, kepala instansi, dan semacamnya? Mestinya Pj dipanggil "Pj" saja, bukan "bupati". Karena ia memang bukan bupati. Pj itu hanyalah seorang ASN, bukan pejabat politik yang dipilih berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat dalam demokrasi.

Namun demikian, dalam praktik, Pj juga punya peran besar yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. Bahkan, sebagaimana saya sebutkan di atas, ia seolah-olah menjadi "setengah bupati". Artinya, saat ini, Pj tak bisa juga dipandang sebagai ASN belaka. Pj memiliki tugas, kewenangan, kewajiban, dan larangan yang sama dengan tugas, wewenang, kewajiban, dan larangan bupati sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemerintahan daerah. Walaupun dalam hal-hal tertentu wewenangnya terbatas dan tak bisa bertindak layaknya bupati definitif sebagaimana yang saya jelaskan di atas.

Dalam melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban, Pj Bupati juga memiliki hak keuangan dan hak protokoler yang setara dengan kepala daerah definitif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, dalam perspektif negara hukum demokratis, ada benarnya juga Pj itu diangkat dengan memperhatikan aspirasi masyarakat.

Masyarakat, dalam perspektif politik, menurut saya, idealnya memang harus didengarkan aspirasinya dalam pengangkatan Pj. Karena Pj tak bisa dipandang sebagai pegawai administratif ASN biasa. Pj punya akses luas dan pengaruh besar dalam memimpin administrasi pemerintahan daerah. Karena itulah mekanisme pengusulannya ke presiden tak murni dari menteri, maupun gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Pj juga diusulkan melalui mekanisme politik oleh DPRD Kabupaten. Nah, kalau sudah melibatkan DPRD, berarti Pj tak murni lagi jabatan ASN. Ia sudah bermuatan politik.

Kalau sudah bermuatan politis, maka masyarakat berhak ikut terlibat dalam penentuan Pj Bupati. Protes masyarakat dalam pengusulan Pj Bupati, menurut saya, tidaklah keliru. Oleh karena itu, dalam pengusulan nama-nama Pj Bupati, DPRD—yang merupakan wakil rakyat—mesti mendengarkan pertimbangan, masukan, dan aspirasi masyarakat. DPRD Kabupaten semestinya membuka ruang-ruang diskusi publik terkait nama-nama yang dinilai layak untuk menjabat Pj Bupati. Mesti ada transparansi dan penjelasan rasional: mengapa si A, mengapa tidak si B, si C, dan seterusnya.

Mekanisme pengangkatan Pj Bupati

Ada yang mengatakan wewenang itu ada pada gubernur. Ada juga yang mengatakan wewenang itu dimiliki oleh DPRD Kabupaten. Padahal, DPRD Kabupaten hanya sebatas punya kewenangan mengusulkan, bukan menetapkan. Yang punya kewenangan mengangkat dan menetapkan Pj Bupati adalah Presiden. Bagaimana mekanismenya? Mekanisme pengangkatan Pj Bupati diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penjabat Gubernur, Penjabat Bupati, dan Penjabat Wali Kota.

Pengusulan Pj Bupati dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan DPRD melalui ketua DPRD kabupaten. Menteri mengusulkan 3 (tiga) orang calon. Gubernur juga dapat mengusulkan 3 (tiga) orang calon. Dan DPRD melalui ketua DPRD kabupaten dapat juga mengusulkan 3 (tiga) orang calon Pj Bupati yang memenuhi persyaratan kepada Menteri. Nama yang diusulkan bisa berjumlah 9 (sembilan) orang. Kemudian dilakukan pembahasan oleh Mendagri dan mengerucut menjadi 3 (tiga) nama. Mendagri menyampaikan 3 (tiga) nama usulan calon Pj Bupati kepada Presiden melalui Mensesneg untuk dipilih satu di antara tiga nama. Pengangkatan Pj Bupati ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

Jadi, kalau dilihat dari dasar hukumnya, yakni Permendagri Nomor 4 Tahun 2023, wewenang pengusulan itu ada pada Mendagri. Gubernur dan DPRD hanya sebatas “dapat” mengusulkan. Keputusan ada di tangan Presiden. Tapi, sebagaimana yang saya jelaskan di atas, karena Pj bisa menjadi “setengah bupati”, maka idealnya, pertimbangan dan aspirasi masyarakat kabupaten yang bersangkutan—yang diusulkan melalui DPRD Kabupaten—menjadi bahan pertimbangan yang harus diperhatikan. Bagaimanapun, Indonesia adalah negara demokrasi, yang kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.

NANI EFENDI, Alumnus HMI


Sabtu, 16 September 2023

,

Tokoh-tokoh Nasional yang Menguasai Bahasa Inggris dan Asing Lainnya

Bung Karno (Inggris, Belanda), Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Ir. Djuanda (https://youtu.be/wi4wX-hZ8b0?si=oXfTRNFrx2RhqGJq), Mr. Sjafruddin Prawiranegara (Belanda: https://youtu.be/NbGsrvto7Fo?si=y-E8LLWTkwYQBWnk), Ali Sastroamidjojo, Amir Sjarifuddin (Belanda, Inggris, Prancis), Dr. Subandrio (https://youtu.be/Nt9QyH1b2H4?si=OdKtyVelg-vURPDm ; https://youtu.be/8fXaVuGm87o?si=0MM75-4aoSJH0aqY), A.H. Nasution (Inggris, Belanda), Jend. TB. Simatupang (Belanda), Ahmad Yani, Sultan HB IX (https://youtu.be/UUJc8BtkFac?si=fJGJgwaTxfxVwx5g), Adam Malik (https://youtu.be/48rI388Gsjs?si=y5RlJMp1Yj9F45nq/  https://youtu.be/zrQpWfjwSlw?si=dn-a64DS3fl7V_5X ; https://youtu.be/0cUpWxTf_bE?si=B7Fu00Se-Qmtu99w), Habibie (Inggris, Jerman), Gus Dur (Inggris, Arab), Megawati (https://youtu.be/vSMQavBZjr4  menit ke 17), SBY, Cak Nur (Inggris, Arab), Amien Rais, Kwik Kian Gie (Inggris, Belanda) https://youtu.be/ZqgP_GyrVao), Gubernur Ali Sadikin (menempuh pendidikan militer di US Marine Corps School, Amerika Serikat, https://youtu.be/W8SiYSUKzSM?si=M4roXkYWFye4-hbY), Marzuki Usman, Susi Pudjiastuti, Khofifah Indar Parawansa, Akbar Tandjung (https://youtu.be/xtISlVTD40o), Jusuf Kalla, Jokowi, Prabowo, Hatta Rajasa, Anies Baswedan, Pramono Anung, Luna Maya, Cinta Laura, Rhoma Irama, Aburizal Bakrie, Ariel Heryanto, Arief Budiman, Budiman Sudjatmiko, Puan Maharani, Ani Yudhoyono, Jimly Asshiddiqie, Adnan Buyung Nasution, Andy Hamzah, Mochtar Pakpahan, Yusril Ihza Mahendra, Wiranto (https://youtu.be/nI5qYIZtM9c?si=iO-zM58BGzwcZQ8v; https://youtu.be/hWjkQ7V6huw?si=7heBnLEObjkGx_ys), Djoko Suyanto, Safii Maarif, Din Syamsuddin (https://youtu.be/o21KJ9i2DME?si=epU6UDkf5Nl5b-L4), Jalaluddin Rakhmat, Agung Laksono (https://youtu.be/vSMQavBZjr4), Fachry Ali, Yahya Cholil Staquf (mantan Jubir Presiden Gus Dur/Ketum PBNU), Hotman Paris, Jend. M. Jusuf, Benny Moerdani, Feisal Tandjung, Jend. R. Hartono, A.M. Hendropriyono, Endriartono Sutarto, Kivlan Zen, Luhut Pandjaitan, AHY, Ahok (BTP), Ridwan Kamil (https://youtu.be/ob0VlrPctMs?si=Z0_9sgpNyIQ6BuMN), Rizal Ramli, Faisal Basri, Goenawan Mohamad, Fadli Zon, Sri Mulyani, Chairul Tanjung (https://youtu.be/hD0HJnqR90o), Dr (Hc) Ir. Ciputra (https://youtu.be/sMWRHvjurIA?si=7y9jZvSdsP9U_HGX), Tanri Abeng, Dahlan Iskan (Mandarin), Sandiaga Uno, Erick Tohir, Todung Mulya Lubis, Tantowi Yahya (https://youtu.be/EP-G46dQmK8?si=GvNeMyNGSNJ-Y3gl) , Hamid Awaludin, Letjen Bambang Darmono (https://youtu.be/kxQfONEaM-I) , Alwi Shihab (https://youtu.be/IicdjY6PYtA), Najwa Shihab, Dewi Fortuna Anwar, Desi Anwar, Mayjen Sudrajat (https://youtu.be/1ZMyosaGTxM) ,  Nono Anwar Makarim, Juwono Sudarsono, Joop Ave, Ryaas Rasyid, Emil Salim, Yudi Latif, Buya Hamka (Arab), Said Aqil Siradj (Arab), Abdul Shomad (Arab), Adi Hidayat (Arab), Nagita Slavina, Nikita Mirzani, Ayu Ting-ting, Agnes Monica, Dian Sastrowardoyo, Chris John (petinju)

Tokoh-tokoh GAM:
Hasan Tiro, Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bachtiar Abdullah (Jubir GAM), Irwandi Yusuf (https://youtu.be/kxQfONEaM-I)

Lain-lain:
Dr. Sihar Sitorus

Caca Annisa, Uni Lubis

Catatan: rata-rata jurnalis nasional dan selebriti nasional bisa bahasa Inggris

Amien Rais bahasa Inggris :
https://youtu.be/J4vBMoin4Yc
https://youtu.be/Rdvsn_FWPh4
https://youtu.be/4WP0I-UXxXM
https://youtu.be/vj1XQ-j7oro
https://youtu.be/xxtvgVlZOH8
https://youtu.be/opgX6T-IH-8
https://youtu.be/HtdwuGfSC5U
https://youtu.be/61WHpVtrJGc (not)
https://youtu.be/92Xgev4ou2I
https://youtu.be/yTQUxsOA7XY (ada Cak Nur, ada Adnan Buyung Nasution bahasa Inggris, Muchtar Pakpahan bhs Inggris)
https://youtu.be/agHQGo1Ksy4
https://youtu.be/6ScVI_XRAfw (dialog)

Ginanjar Kartasasmita, (https://youtu.be/IV4LngckDWQ?si=UDmdTnT3NuzFYtRf) 


Senin, 11 September 2023

, , , , , ,

BERANILAH KELUAR DARI GRUP-GRUP WA: RELEVANSI PEMIKIRAN NIETZSCHE TENTANG MORALITAS KAWANAN


Oleh: Nani Efendi


Saat ini, terlalu banyak grup-grup WhatsApp yang dibuat dengan berbagai tujuan. Bahkan banyak yang tak jelas juntrungannya. Kesalnya, dalam aplikasi WA tak ada menu pengaturan untuk bisa memblokir pesan masuk. Juga tak ada pengaturan agar kita keluar tapi tak diketahui oleh para anggota grup. Kalau ada yang keluar, pasti aplikasi Whatsapp akan memberi keterangan: "si X keluar", "si Badu keluar". Karena itu, orang jadi segan keluar grup—karena merasa tak enak dengan kawan yang lain, terutama terhadap admin pembuat grup. Oleh karena itu, ketika mau keluar grup, orang terpaksa harus pamitan baik-baik agar kawan tak tersinggung. Sebaliknya, ada juga peserta yang dongkol, namun memilih tetap bertahan karena alasan menghormati admin grup. Padahal, ia ingin sekali keluar grup seandainya ada cara yang lebih baik.

Nietzsche tentang moral kawanan

Bagi yang belajar filsafat atau pemikiran Nietzsche, pasti tahu istilah "moral kawanan". Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf dan kritikus budaya yang lahir di Jerman pada 1844. Ungkapan Nietzsche yang terkenal ialah " tuhan telah mati".
Bramanti Kusuma, dalam salah satu tulisan di Kompasiana yang berjudul "Teori Nietzsche Mengenai Etika", menjelaskan, bahwa Nietzsche membagi moralitas menjadi dua: moralitas budak dan moralitas tuan. Moralitas budak disebut juga moralitas kawanan. Moralitas kawanan adalah moralitas orang kecil, masal, lemah, moralitas yang tidak mampu untuk bangkit dan menentukan hidupnya sendiri dan selalu iri terhadap mereka yang kuat. 
Moralitas budak ini, lanjut Bramanti Kusuma, selalu mengikuti kelompok dan tidak berani untuk bertindak sesuai keinginannya sendiri.
Nietzsche sangat membenci moralitas. Karena moralitas itu membuat orang tidak berani menjadi diri sendiri: karena moralitas kawanan menjadikan orang hidup sesuai dengan orang-orang lain. Nietzsche ingin orang tidak perlu ikut-ikutan orang lain.

Keluar dari grup WA, jangan berkerumun, jadilah otentik! 

Dalam kondisi sosial media hari ini, menurut F. Kennedy Sitorus, mungkin Nietzsche akan menganggap kita ini mengikuti moralitas budak atau moralitas kawanan semua. Terutama dengan banyak orang-orang yang menjadi anggota grup-grup WA. Orang jadi ketergantungan pada sosial media. Tak berani keluar untuk menjadi diri sendiri.
Senada dengan Kennedy Sitorus, F. Budi Hardiman, alumnus Hochschule für Philosophie München, Jerman, yang sekarang menjadi guru besar filsafat di Universitas Pelita Harapan Jakarta, dalam suatu diskusi, mengatakan, bahwa kerumunan sangat berbahaya untuk kebebasan eksistensial. Karena kerumunan mengasingkan individu dari perasaan-perasaannya, dari pemikirannya, bahkan juga dari keinginannya. Orang yang terbiasa didikte oleh kelompok, tidak sadar siapa dirinya. Tidak sadar keinginannya sendiri. Jadi, kerumunan adalah entitas yang berbahaya: memperbodoh, membuat orang takut ambil keputusan, membuat orang tidak dewasa dan tidak matang. Karena itu, kata F. Budi Hardiman, jauhi kerumunan. Jadilah otentik.
Hidup berkerumun itu analoginya adalah kawanan bebek, atau kawanan domba. Seekor bebek tak berani ambil keputusan sendiri: tetap selalu "membebek" mengikuti kawanannya, bergantung pada kawanannya.
Grup-grup WA, FB, kata Fitzerald Kennedy Sitorus, juga bisa digolongkan sebagai kerumunan. Jadi, orang harus berani keluar dari grup-grup WA yang tak jelas. Pesan Friedrich Nietzsche: jadilah orang penting (Ubermensch), jangan jadi sekedar bagian dari kerumunan atau the last man (orang rata-rata) saja.

Nani Efendi, Alumnus HMI