alt/text gambar

Sabtu, 19 September 2026

Topik Pilihan: , ,

Tuhan dalam Filsafat Nietzsche dan Heidegger

Ada

Esensi filsafat Barat, menurut Heidegger, terletak pada karakter Platonisnya. Filsafat Barat berkembang di atas fondasi filsafat Plato yang, menurutnya, bersifat metafisik, dan karena metafisik maka nihilis. Esensi metafisika itu sendiri, baginya, adalah nihilisme. Heidegger mendefinisikan metafisika sebagai pemikiran mengenai kebenaran "ada" (das Seiende) dalam keseluruhannya serta pemberian identitas terhadap "Ada" (dus Sein) yang menjadi sumber dan dasar segala yang ada. 

Pertanyaan mengenai "Ada" merupakan pertanyaan pertama dan utama dalam filsafat Barat. Apa itu "Ada"? Para filsuf memberi jawaban yang berbeda-beda atas pertanyaan ini. Menurut Plato, Ada itu adalah "Ide", menurut Aristoteles "Energeia", menurut Descartes "Kesadaran", menurut Kant "Hukum Moral", menurut Hegel "Akal Budi Absolut" dan menurut Kristen "Tuhan". Walaupun para filsuf tersebut memberikan aneka identitas "Ada", namun di mata Heidegger, semua itu sebenarnya hanya merupakan varian dari filsafat Plato yang metafisis. Menurut Heidegger, "kekeliruan” para filsuf ini, dan yang kemudian mewarnai keseluruhan sejarah filsafat Barat, adalah bahwa mereka dengan sewenang-wenang menentukan esensi "Ada" dan kemudian menganggapnya sebagai sumber (produser) ada. Jadi, "ada" ("ada" dengan huruf kecil, NE) dipahami sebagai yang diproduksi oleh "Ada", atau "ada" sebagai yang telah diproduksi (what has been produced), atau Vorhandenes, sama seperti benda-benda yang kita temui dalam kenyataan. 

Karena itu, menurut Heidegger, walaupun metafisika Barat membedakan "Ada" dan "ada", mereka (para filsuf) tak pernah melihat perbedaan itu sebagai perbedaan: mereka senantiasa melihatnya sebagai hubungan kausal-produktif (tekhne), dan hubungan ini an sich telah mengandung karakter kekerasan. 

Mereka tak pernah memikirkan Ada qua Ada, mereka lupa akan Ada (Seinsvergessenheit). Dan inilah metafisika. Karena itu, menurut Heidegger, hubungan antara metafisika, teknologi, dan kekerasan (serta kehendak untuk berkuasa dan nihilisme) sangat terkait erat. 

Tipologi "Ada" semacam inilah yang berlangsung sepanjang sejarah filsafat Barat. "Ada", yang notabene diuturunkan dari ”dunia lain” yang supra-indrawi itu, dipahami sebagai ada yang sesungguhnya (true being), yang Ideal dan menjadi satu-satunya sumber nilai tertinggi (uppermost value). Ia menjadi fixed idea, dan menjadi paradigma untuk segala ada. Nietzsche, walaupun ia dengan tegas mengaku filsafatnya sebagai anti-Platonisme, masih mewarisi cara berpikir metafisis ini. 

**

Heidegger sendiri bukan lagi metafisikus. Ia tidak memberi identitas atas Ada. Menurutnya, Ada itu ungedacht dan ungesagt (tidak terpikirkan dan tidak terkatakan). Karena itu, ia kemudian mencoret Ada: Ada. 

Yang Ideal; 'Tuhan' dalam Nihilisme 

Sejarah memang kemudian membuktikan bahwa Yang Ideal itu selalu gagal menangkap seluruh kenyataan. Dunia ini toh tidak sepenuhnya baik sebagaimana dimaksudkan Ide Platonis, juga tidak sepenuhnya rasional sekalipun Rasio diidealkan, tidak sepenuhnya damai dan penuh kasih, sekalipun kekristenan mengunggulkannya, dan seterusnya. Ketidakmampuan mewujudkan nilai tunggal Ideal itu (atau menghadirkan 'surga' di "dunia”) pada akhirnya mengakibatkan pesimisme. Karena itu, menurut Heidegger, pesimisme adalah bentuk awal dari nihilisme karena pesimisme menggasi dunia nyata. 
Pada Nietzsche, menurut Heidegger, nihilisme mengandung dua arti, yakni sebagai proses sejarah dan keputusan sejarah. Sebagai proses sejarah, nihilisme berarti proses devaluasi semua nilai tertinggi yang ada. Dan, proses itu telah dimulai sejak Plato, jadi filsafat sebagai Sein zum Nihilismus. Di sini, nihilisme berarti sejarah Ada itu sendiri. Sebagai peristiwa sejarah, nihilisme adalah keputusan historis yang dimaklumatkan Nietzsche dalam filsafatnya, yakni kehendak untuk menihilkan segala bentuk kemapanan (nilai tunggal Ideal), atau ide-ide Platonis yang oleh Nietzsche sendiri disebut "kebenaran dalam sebuah bentuk kekeliruan”.
Dengan nihilisme, semua kebenaran absolut atau kemapanan yang sebelumnya berlaku dan membentuk sejarah, dinyatakan bangkrut. Segala yang ada menjadi kehilangan makna, kehilangan nilai. Tapi bagi Heidegger, nihilisme bukanlah berarti menghancurkan segala sesuatu dan kemudian membiarkannya begitu saja dalam ketiadaan dan kehancuran total. Nietzsche sendiri, menurutnya, memahami filsafatnya sebagai permulaan bagi sebuah era baru, yakni pembebasan”. 
Dalam sejarah pemikiran Barat yang sangat kuat dipengaruhi oleh kekristenan, bentuk lain dari nilai Ideal itu adalah Tuhan. Tuhan adalah kebenaran absolut, Ide metafisis tertinggi, uppermost value. Tuhan menjadi paradigma bagi segala sesuatu. Segala sesuatu itu bermakna dalam hubungannya dengan Tuhan. Tuhan itu muncul dalam berbagai variasi makna: "yang ideal”, “norma-norma”, ”prinsip-prinsip”, "tujuan-tujuan, "pemberi arah dan keteraturan bagi semua yang ada” — singkatnya "makna" atau ”nilai”. Di luar Tuhan, sesuatu itu menjadi tidak bermakna, tidak bernilai. 
Karena itu dalam proses nihilisasi, Tuhanlah yang pertama sekali harus ditiadakan. Di sinilah Nietzsche berkata bahwa "Tuhan telah mati”. Jika Tuhan sebagai uppermost value telah mati, ia kehilangan kapasitas untuk membentuk sejarah. Kematian ini sekaligus membawa dunia pada keadaan nir-nilai (valueless). Kini tak ada lagi "surga”, Tuhan, atau yang Ideal yang senantiasa merepresi kehidupan: yang tinggal hanya dunia dengan segala kebaikan dan keburukannya. Ciri hakiki nihilisme, bagi Heidegger, adalah pada proses pembalikan semua nilai yang ada sebelumnya dan sekaligus menjangkau jauh ke depan, dalam upaya menegakkan nilai yang sama sekali berbeda dari nilai sebelumnya. Nihilisme dengan demikian tidak semata-mata negatif; dalam konsep ini juga terkandung positivitas: kehendak untuk membangun sebuah nilai baru. 
Proses nihilisasi, dengan demikian, mirip dengan pengembalian segala sesuatu ke posisi awali, di mana tidak ada nilai yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setelah dunia sama sekali tanpa nilai, proses revaluasi semua nilai dimungkinkan. Dalam proses tersebut tentu dibutuhkan sebuah prinsip baru, yakni prinsip yang menjadi basis pendefinisian semua nilai dalam cara yang baru dan berbeda dari yang sebelumnya. Dan karena pendefinisian tersebut tidak mungkin lagi muncul dari sesuatu yang bersifat supraduniawi, yang sebelumnya telah mendeterminasi segala yang ada, nilai dan prinsip baru itu hanya bisa muncul dari apa yang ada, yakni manusia itu sendiri. Nilai dan prinsip baru itu oleh Nietzsche disebut kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). 
”Kehendak untuk Berkuasa” ini kemudian kembali berfungsi sebagai paradigma nilai tunggal, yang menentukan dan memvalidasi semua nilai lainnya. "Kehendak untuk Berkuasa adalah 'prinsip penilaian baru', dan sebaliknya: prinsip penilaian baru yang menjadi dasar itu adalah kehendak untuk berkuasa,” kata Heidegger. 
Nah, jika semua yang ada adalah "Kehendak untuk Berkuasa”, sesuatu menjadi bernilai hanya jika yang ada itu mendukung, memperkaya dan melestarikan "Kehendak untuk Berkuasa”. Oleh sebab iru, secara logis, kekuasaan tidak mengakui ada yang lain di luar dirinya, yang tidak mendukung kekuasaan itu karena sesuatu itu baru ”ada” jika ia memberi sumbangan positif bagi ”Kehendak untuk Berkuasa”. 
Implisit di sini adalah pengertian bahwa ”Kehendak untuk Berkuasa" merupakan proses menjadi yang kontinu (a continual becoming). Proses tersebut menjadi tidak dapat dan tidak mungkin bergerak ke luar dirinya, melainkan terperangkap dalam kekuasaan yang semakin membesar, maka ada sebagai ”Kehendak untuk Berkuasa” itu harus selalu kembali, dan kembali pada dirinya secara terus-menerus. 
Dengan nihilisme, dengan revaluasi semua nilai dan dalam kondisi terulangnya hal yang sama secara terus-menerus, menjadi pentinglah menentukan esensi ada (manusia) yang baru. Dan, karena Tuhan telah mati atau karena segala sesuatu yang supra-indrawi telah ditolak, terbukalah peluang bagi manusia untuk menentukan ukuran bagi dirinya sendiri, menentukan tipe manusia ideal, yang bertugas merevaluasi semua nilai. Tipe manusia jenis ini disebut Nietzsche Ubermensch. 

Ubermensch

Ubermensch adalah konfigurasi tertinggi dan perwujudan kehendak untuk berkuasa. Kualitas Ubermensch ini melampaui segala kualitas yang dimiliki manusia hingga sekarang ini. "Bukan 'kemanusiaan', melainkan Ubermensch-lah yang menjadi tujuan,” kata Nietzsche”. Ubermensch adalah manusia yang tidak mencari pelarian pada segala yang supra-indrawi, yang tidak nyata, melainkan yang berani hidup di dunia, menerima dan menghadapi dunia dengan segala kebaikan dan keburukannya. 
Sosok Ubermensch, bagi Heidegger, bukanlah jenis manusia yang dihasilkan dari fantasi kosong. Tipe manusia ini muncul lewat refleksi Nieczsche atas peradaban modern. Heidegger mengakui bahwa tentu saja kita tak pernah menemukan jenis manusia ini dalam kenyataan. Tapi jika kita berpikir secara mendasar atas kondisi peradaban sekarang, ide tentang Ubermensch itu tak bisa disangkal. 
Tapi siapakah Ubermensch itu? Menurut Heidegger, sosok Ubermensch itu bisa dikenali dari ajaran Zarathustra. Zarathustra sendiri adalah "pembela kehidupan, pembela penderitaan, dan pembela pengulangan hal yang sama secara terus-menerus”. Zarathustra adalah das Genesende yang dalam perjalanan pulang menuju dirinya sendiri. Dengan kembali pada dirinya sendiri, ia menyatakan siapa dirinya. ”Zarathustra adalah guru bagi pengulangan abadi”, dan "Saya (yakni Zarathustra) mengajarkan Ubermensch kepada umat manusia”.
Zarathustra, pembela kehidupan, pembela penderitaan, dan pembela pengulangan hal yang sama secara terus-menerus itu, bagi Heidegger, bukanlah Ubermensch itu sendiri, melainkan sosok yang mengajarkan Ubermensch. Dan, Nietzsche bukanlah Zarathustra, juga bukan Ubermensch, tapi seorang pemikir yang mencoba merefleksikan Zarathustra.

Nietzsche: Tuhan telah Mati dan Kehendak untuk Berkuasa

Nietzsche (1844-1900) adalah orang yang sangat sinis terhadap zamannya. Di mata Nietzsche, Eropa pada akhir abad ke-19 bersifat dekaden. Dekadensi ini, untuk mengatakannya secara ringkas, bersumber dari kehendak untuk menentukan kebenaran yang tunggal dan pasti (der Wille zur Wahrheit)—ini juga manifestasi dari kehendak untuk berkuasa. ”Kebenaran” itu kemudian dijadikan semacam panduan dalam bertindak, dipedomani, dibakukan (sekaligus dibekukan). ”Kebenaran” atau Yang Ideal yang telah mengalami pembakuan/pembekuan itu bisa berupa moralitas, ilmu pengetahuan, tradisi, aliran-aliran (filsafat), kepercayaan, atau agama. Pada gilirannya, kebenaran itu menjadi semacam bumerang yang berbalik menindas manusia. Manusia ngotot untuk mencapainya, menggantungkan diri padanya, dan bahkan rela mengebiri potensi-potensi yang dimilikinya demi mewujudkan Yang Ideal itu. Rasio, misalnya, menyingkirkan segala sesuatu yang tidak bisa dinalar berdasarkan prinsip-prinsip rasionalitas atau kasih dalam kekristenan yang merepresi segala bentuk keinginan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kasih. Demikianlah, der Wille zur Wahrheit itu menyebabkan kehidupan menjadi statis, pesimis, pucat, dan totaliter. Inilah yang hendak dinihilkan Nietzsche. Puncak nihilisme Nietzsche terkandung dalam frase "Tuhan telah mati”. Tuhan di sini adalah simbol metafisik bagi nilai Ideal atau Kebenaran tertinggi. 
Nihilisme merupakan langkah pertama untuk penegakan ”kerajaan manusia di dunia”—karena itu, bagi Heidegger, nihilisme adalah langkah pertama untuk memahami Nietzsche. Pascanihilisme, manusia tak perlu lagi menyiksa diri dengan mengarahkan pandangannya ke "kerajaan Ide di atas sana”, melainkan demikian Nietzsche memaklumatkan: Task: to see things as they are!” (XII, 13). "My philosophy — to draw men away from semblance, no matter what the danger! And no fear that the life will perish!” (XII, 18). 
Nah, dalam dunia di mana tak ada lagi nilai yang lebih ideal atau lebih tinggi, ketika semua nilai telah sama, prinsip tertinggi yang berlaku adalah kehendak untuk berkuasa. Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa—tak lain tak bukan. Dan kau sendiri adalah kehendak untuk berkuasa itu—tak lain tak bukan, kata Nietzsche. Power adalah "the innermost essence of Being”. Dalam dunia seperti ini, kriterium kebenaran adalah pembesaran kekuasaan, sedangkan Ubermensch merupakan tipe manusia ideal. 

Sumber:

Fitzerald Kennedy Sitorus, " Nietzsche, Heidegger, dan Kritik atas Metafisika Barat ", dalam A. Setyo Wibowo, dkk, Para Pembunuh Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2009, h. 42-43, 44-45, 47-51

0 komentar:

Posting Komentar