alt/text gambar

Kamis, 17 September 2026

Topik Pilihan: , ,

Filsafat Eksistensialisme Sartre


Oleh: A. Setyo Wibowo


Bagi Jean Paul-Sartre manusia adalah ”hasrat menjadi Tuhan”. Sayang, hasrat penyatuan en soi dan pour soi itu hanyalah hasrat sia-sia belaka (passion inutile), dengan kata lain derita. Pada dirinya sendiri, manusia bukanlah en soi mampat dan pejal. Ia manusia bukan karena ia memiliki esensi "kemanusiaan" yang diberikan oleh Esensi Tertinggi. 

Sebaliknya, manusia adalah dia yang menderita, selalu menidak, selalu pour soi: sebuah rasa kurang atau lubang dalam Ada (trou dans l'Etre) yang masuk dalam gerak menjadikan kemanusiaannya sendiri. Ia terlempar begitu saja dan harus hidup dengan keterlemparan tersebut. 

Tentang Tuhan (hasrat sia-sia), eksistensialisme Sartre membuangnya tanpa banyak argumentasi. Kematian Tuhan adalah fakta yang tidak perlu dipertanyakan, tinggal dilanjutkan saja. "Dengan demikian, yang namanya kodrat manusia tidak ada karena tidak ada Tuhan untuk mengadakannya”. Selama Tuhan (Esensi segala hal) dianggap ada, manusia berpikir dengan skema kodrat manusia (esensi manusia). Tetapi dengan eksistensialisme—yang diasalkan oleh Sartre pada Heidegger—sudah jelas bahwa eksistensi mendahului esensi! Apa yang ada seadanya mendahului segala pengonsepan atasnya. 

Manusia adalah ada yang menemukan kehadiran dirinya begitu saja, absurd. Ia tidak diciptakan dari ide-ide atau esensi-esensi yang seolah-olah ada sebelumnya (pra-eksisten). Justru penemuan dirinya sendirilah yang memulai manusia untuk mulai menciptakan dirinya. 

Hilangnya Tuhan yang adalah kesia-siaan tidak diratapi Sartre. Dengan terbebaskan dari doktrin opresif esensialisme, justru terbuka ruang seluas-luasnya bagi manusia untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Nilai atau moral objektif tidak ada. Manusialah yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri dari ruang luas kebebasan yang terbuka di depannya: ”Memilih menjadi ini atau itu serentak berarti mengafirmasi nilai yang dipilih”. 

Meski pada dasarnya hendak melampaui pemikiran moral konservatif, truisme Sartre toh masih mengatakan "kita tidak pernah bisa memilih kejahatan, apa yang kita pilih selalu merupakan kebaikan, dan tidak ada sesuatu yang baik bagi kita tanpa penerimaan semua orang lain”. Sartre masih percaya bahwa, manusia bebas tidak akan ngawur. Ia yang bebas akan dengan sendirinya bertanggung jawab dan terlibat. 

Eksistensialisme sartrian bertitik tolak dari deskripsi tentang eksistensi manusia, dan akhirnya berujung pada "bagaimana seharusnya manusi hidup”, artinya ada moral normatif baru. Kalau dulu tanggung jawab manusia pada Tuhan, sekarang harus dipikul sendiri. Manusia bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya di depan seluruh umat manusia secara total.

Penjulangan tinggi harkat manusia bukan tanpa konsekuensi: ia kini harus mengambil alih semua peran dan tanggung jawab Tuhan. Akibatnya, ia mengalami vertigo (rasa awang-awangen karena ketinggian) dan dihinggapi kegelisahan eksistensial (angoisse). Manusia yang harus memilih pilihan-pilihan sulit secara sendirian di hadapan pengadilan umat manusia diumpamakan Sartre dengan ”seorang komandan militer yang harus menafsir instruksi atasannya, dan dari situ lalu mesti mengirim pasukan maju menyerang”. 

Komandan itu akan disergap kegelisahan tanggung jawab karena pada perintahnya tergantung hidup sepuluh, empat belas, atau dua puluh nyawa sesamanya. ”Semua pemimpin mengenal kegelisahan (angoisse) seperti itu. Toh itu tidak menghambat mereka untuk bertindak. Sebaliknya, keadaan itu justru menjadi syarat bagi tindakan mereka”. Kegelisahan, derita, lubang dalam Ada, adalah hasrat menidak yang menjadi struktur dasar pour soi, manusia itu sendiri.

Sartre mengatakan bahwa titik tolak eksistensialisme atheisnya adalah kata-kata Dostoievsky: "Kalau Tuhan tidak ada, segalanya diperbolehkan”. Dengan tiadanya Tuhan, tiada pula alibi yang bisa dipegangi manusia. Ia harus menanggung kebebasannya sendirian di depan pilihan-pilihan sulit. Manusia memang ditinggalkan sendirian (delaisse) dan "manusia dikutuk untuk bebas (l'homme est condamne a etre libre)”. Ya, ia terkutuk karena ia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Ia hanya menemukan dirinya terlempar di dunia ini tanpa alasan.

Eksistensi berasal dari kata Latin ex-sistere: berada di luar, keluar dari. Di mata Heidegger eksistensi adalah "keterbukaan Dasein manusia kepada Sein” (keterbukaan being-there/ manusia kepada Be). Doktrin gelap nan rumit itu diterjemahkan Sartre: eksistensi adalah keterlemparan manusia di dunia tanpa alasan seperti pohon maronnier di Jardin Luxembourg yang ada-di-sana begitu saja dan menimbulkan Nausee (rasa muak). Bagi manusia, sekali terlempar ia harus bertanggung jawab atas apa pun yang ia buat di hadapan segala umat manusia. 

Tak heran jika tiadanya ”atas dasar apa” (motif awal) akhirnya membuat manusia sibuk bertindak dan bertanggung jawab tanpa mencari "untuk apa"! Dan situasi putus asa (desespoir) tidak diartikan Sartre sebagai sesuatu yang negatif. Saat saya menunggu kedatangan seorang teman di terminal bus, bisa saja ia datang, bisa juga tidak. Jika busnya tidak terjungkal di jurang, jika tidak ada macet di jalanan, saya bisa berharap bahwa ia akan datang sesuai janjinya. Kedatangannya tidak bersangkutan dengan kemungkinan-kemungkinan yang melibatkan tanggung jawab saya. Apakah ia datang atau tidak, itu bukan tanggung jawab saya dan saya tidak perlu putus asa karenanya. Ia tidak berada dalam lingkup harapan (espoir) saya. 

Sebaliknya, keputusasaan (desespoir) adalah ketika saya bertindak memilih kemungkinan-kemungkinan yang melibati tanggung jawab saya. Di situ, ada upaya penyesuaian antara pilihan tindakan dan hasil yang diharapkan. Dan persis, sejauh tidak ada Tuhan atau Takdir yang mengharuskan ini itu, manusia tidak perlu mencengkeram harapan tersebut. Oleh karenanya, dalam bertindak manusia haruslah bertindak sans espoir (tanpa berharap). Desespoir artinya mengambil-jarak dan tidak mau dilibati oleh espoir karena memang tidak ada nilai transenden yang bisa dijadikan jangkar. 

Manusia yang sendirian harus bertindak mengisi kesendiriannya dengan kesadaran bahwa tidak ada makna apa pun untuk pilihan tindakan bertanggung jawab yang dibuatnya. Ia ada dalam kondisi desespoir (keputusasaan, tetapi juga berarti pelepasan-harapan secara sengaja). 

Ia yang terlempar secara absurd akhirnya mengisi kebebasannya yang tak terbatas tanpa berharap apa pun. Lalu di mana humanisme doktrin eksistensialisme sartrian ini? Masih adakan humanisme? Sartre mengatakan bahwa humanisme bukan berarti menempatkan manusia sebagai tujuan dan nilai lebih tinggi. Pandangan terakhir dianggap aneh oleh Sartre. Bagaimana mungkin manusia bernilai ”lebih tinggi” dari mahkluk lainnya? Bukankah hanya anjing dan kuda saja yang bisa memberi nilai kepada keseluruhan manusia sebagai ”lebih tinggi” dari pada makhluk lainnya? Bagi eksistensialisme, manusia adalah toujours a faire (selalu harus dijadikan). Teman hidupnya, Simone de Beauvoir, akan mengatakan ”on ne nait pas femme, mais on le devient” (kita tidak lahir sebagai wanita, tetapi kita menjadi-wanita). Kalau masih ada humanisme, itu karena eksistensialisme mempromosikan pemahaman manusia sebagai proyek (dari kata Perancis projet, pro-jeter, melemparkan ke depan). Manusia adalah ia yang terlemparkan ke depan dan selalu keluar dari dirinya sendiri dalam gerak menidak pour soi yang tak pernah berjumbuh dengan en soi. Eksistensialisme adalah humanis karena ia memperlihatkan manusia sebagai yang selalu menjadi, yang selalu melampaui dirinya. Eksistensialisme adalah humanis karena memperlihatkan adanya transendensi konstitutif dalam diri manusia. Kali ini transendensi bukan dalam makna transendental, melainkan dalam arti gerak pelampauan yang adalah jati manusia sebagai ek-sisten atau pro-jet. 

Dan di sini, manusia adalah legislator dan eksekutor bagi proyek bagi dirinya sendiri. Betul, pemahaman seperti itu mengakibatkan kesendirian dan keputusasaan, namun justru inilah kondisi manusia yang secara absurd terlempar begitu saja dan terkutuk untuk bebas mengisi proyek hidupnya tanpa harapan apa pun. 

Membaca uraian-uraian sartrian, hawa pesimisme terasa begitu kuat. Sebuah pesimisme yang dirasionalkan sedemikian rupa. Namun, kita bisa bertanya, sampai di manakah kekuatan manusia tanpa Tuhan mengeraskan otot dan otaknya untuk menjustifikasi absurditas keterlemparannya di dunia? 

Sartre yang sama, puluhan tahun kemudian (awal tahun 80-an), saat ia terbaring di Rumah Sakit Broussais, dalam wawancaranya dengan Benny Levi berbicara mengenai harapan (espoir). Beberapa hari kemudian setelah wawancara tersebut ia meninggal. Sartre berbicara tentang harapan sebagai sebuah cara menangkap tujuan akhir: 

”Harapan bukanlah ilusi liris. Secara kodratiah ada harapan dalam setiap tindakan”, dan "ada semacam ketakterelakkan dalam harapan tersebut”.

"Setiap manusia hidup dengan harapan [...] Menurutku harapan adalah bagian dari manusia; tindakan manusia bersifat transenden, ia mengarah ke masa depan berdasarkan masa sekarang untuk mengujudkan atau mencoba mengujudkan sesuatu”.

Apa artinya harapan di situ? Sartre menguraikan: 

”Tujuan akhir orang Yahudi adalah awal eksistensi manusia satu bagi lainnya. Artinya, ada tujuan moral [...] orang Yahudi berpikir bahwa akhir dunia merupakan awal munculnya dunia baru, munculnya eksistensi etis manusia bagi sesamanya. [...] demikian juga kita, kaum non Yahudi, kita juga mencari-cari etika. Kita mencari tujuan akhir, maksudnya, saat di mana moral sungguh-sungguh menjadi cara hidup manusia yang satu dalam relasinya dengan yang lain”.


Setiap tindakan dengan demikian mengandungi harapan, dan harapan itu bersifat etis. Apa landasan akhir bagi doktrin keterlibatan eksistensialis yang selalu didengungkan Sartre? Eskatologi: harapan akhir bahwa suatu saat manusia hidup dalam relasi satu dengan lainnya. Mungkin atas dasar afirmasi terakhir inilah, dalam wawancara yang sama Sartre mengakui bahwa sebenarnya ia tidak pernah mengalami apa yang ia sebut dulu kegelisahan eksistensial (angoisse): 

”Saya tidak pernah mengalami angoisse. Itu adalah salah satu kata kunci filsafat tahun 30 dan 40-an. Istilah itu juga muncul dari Heidegger. Memang istilah itu selalu dipakai, tetapi bagi saya istilah itu tidak berkaitan dengan apa pun. Tentu saja saya mengalami kekecewaan, bosan, kemalangan, ...”. 


Jean-Paul Sartre adalah contoh ultim manusia resah yang harus berhadapan dengan era pasca-Kematian Tuhan. Tuhan tidak ada, segalanya diperbolehkan. Meski begitu toh manusia harus memilih terlibat pada kebaikan meski ia tahu bahwa ia tidak boleh berharap banyak bahwa kebaikan akan terujudkan. Kalau masih ada sesuatu yang bisa dipegang, ia ada di sebuah tujuan akhir di masa nanti yang meski entah bagaimana berkaitan dengan masa kini tetapi secara radikal ada di masa nanti. 

Sartre kontradiktif, tidak konsisten, takut sendiri? Penilaian tersebut mungkin terlalu kasar. Sartre sendiri berusaha mengisi hidupnya dengan tindakan penuh keterlibatan. Memang membingungkan menyandingkan antara pernyataan-pernyataan atheistiknya yang keras dengan omongannya tentang harapan transenden. Barangkali itulah ujud keresahan manusia yang mau membabat habis segala bentuk pegangan, tetapi masih belum radikal menemukan solusi lain sehingga masih harus menggapai harapan sebagai pegangan baru. Pandangan sartrian mencerminkan dengan bagus kondisi eksistensial manusia yang sering tidak mengira luas dan ngerinya lautan penidakan terus-menerus.


Sumber:

A. Setyo Wibowo, dkk., Para Pembunuh Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2009, h. 11-16.




0 komentar:

Posting Komentar