alt/text gambar

Selasa, 01 September 2026

Topik Pilihan: , ,

Heidegger dan Seni


Puncak keterlepasan Heidegger dari belenggu filsafat Barat adalah saat ia banyak berbincang soal seni. Seni yang oleh Plato dipinggirkan, dianggap tak lebih dari tiruan atas tiruan, direhabilitasi Heidegger. Bagi Heidegger, peminggiran seni oleh kebenaran adalah produk sejarah. Heidegger menunjuk modus berfilsafat para filsuf pra-Sokrates. Mereka berfilsafat dalam bahasa-bahasa puitis. Dalam traktat mereka seni dan kebenaran merajut dan menjalin. 

Seni, bagi Heidegger, bukan sekadar seputar keindahan dan kenikmatan inderawi. Bukan pula benda yang disuntikan nilai-nilai estetik. Seni lebih sublim dari keduanya. Seni menyodorkan kita sebuah kebenaran tentang “Ada”. Kebenaran yang tidak bersifat teoretis maupun praktis. Sebuah kebenaran tentang konflik antara alam (earth) dan dunia (world). 

Konsep Heidegger tentang dunia dan alam sungguh sentral dalam bangunan pemikirannya tentang seni. Dunia ala Heidegger bisa ditafsirkan sebagai budaya. Sistem makna yang memungkinkan orang memahami dirinya dan lingkungan. Sedangkan alam adalah kenyataan pra-budaya. Kenyataan asali yang darinya kita membangun budaya. Sesuatu yang misterius dan cenderung menyembunyikan diri.

Konsepsi Heidegger tentang alam adalah sesuatu yang baru. Dalam Being and Time, alam dipahami entah sebagai objek siap pakai atau objek deskripsi. Keduanya tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi kemisteriusan dan resistensi.. Alam terserap habis dalam budaya: baik secara praktis ataupun teoretis. Dunia melahap habis sang alam. Sedangkan, bagi Heidegger lanjut, alam adalah sesuatu yang mendahului segala bentuk manipulasi, teoretisasi ataupun interpretasi manusia. Sebelum kita memakai atau menteoretisasi alam, alam sudah berdiri dalam keasingannya.

Mari kita tengok sebuah karya seni besar hasil karya maestro lukis asal Belanda, Vincent Van Gogh. Karyanya tersebut melukiskan sepasang sepatu lusuh dan bertanah milik seorang buruh miskin. Sepatu dalam lukisan tersebut memperoleh pemaknaan baru berbeda dari pemaknaan sehari-hari. Bukan sepatu yang biasa kita pakai sebagai alas kaki. Melindungi kaki dari kerikil, paku atau pecahan kaca. Semata-mata alat untuk berjalan kaki. Sepatu dalam lukisan Van Gogh membuka sebuah dunia. Dunia eksistensial sang buruh miskin. Keringat, debu, kerja, alat-alat, keterasingan, dan asap pabrik. Sebuah dunia yang lenyap dari pandangan praktis. Penyingkapan dunia yang tidak lantas melenyapkan sang alam. Alam adalah tanah dan debu yang melekat pada sang sepatu. Sebagai sesuatu yang resisten terhadap penyingkapan sang sepatu. Kemisteriusan yang melatari kemunculan dunia eksistensial sang buruh.

Van Gogh tidak menemukan sepatu di jalanan. Membuat konsep tentangnya. Lalu mulai melukis. Dunia menyingkapkan diri dengan sendirinya. Kebenaran bukan sesuatu yang ditangkap di luar sana lalu disuntikkan dalam karya seni. Berbeda dengan semboyan film X-Files, bagi Heidegger the truth is not out there, Kebenaran terjadi dalam karya itu sendiri. Saat karya itu menyingkapkan sebuah dunia yang berbeda dari keseharian. Menciptakan makna-makna baru. “Membawa kita ke dunia yang orang belum pernah menjejakkan kaki sebelumnya,” menyitir perkataan kapten Picard dalam prelude film seri Star Trek

Seni lebih dari sekadar imitasi. Tidak sekadar menyingkap dunia. Seni juga menciptakan dan mengatur dunia. Kuil pemujaan di masa Yunani kuno, misalnya. Karya seni tersebut menciptakan sebuah dunia peribadatan dengan pengaturan ruang-waktu berkenaan dengan pola tindakan manusia. Kapan, di mana dan bagaimana orang beribadah menjadi ajek. Pemisahan ruang-waktu profan dan sakral dimulai. Semuanya itu membuktikan bahwa seni juga menjadi bagian dari dunia, bukan sekadar menyingkapkannya. 

Kuil bukan saja menyingkap atau mengatur dunia. Ia juga menampilkan sang pesaing dunia alam. Bukan alam yang dihabisi dunia seperti pada objek-objek praktis. Melainkan alam misterius tempat sang karya berdiri dan menjelma. Sang kuil dihujani badai, kilat, dan angin puting beliung. Berdiri di atas bebatuan. Sekaligus terbuat darinya. 

Seni tidak melenyapkan alam layaknya teknologi. Teknologi memoles alam sampai tak bisa dikenali lagi. Sedangkan seni menampilkan alam sebagai sesuatu yang menyembunyikan diri. Inilah salah satu perbedaan antara seni dan sains. Sains merumuskan bagaimana alam menampilkan diri, sedang seni: bagaimana alam menyembunyikan diri. 

Karya seni adalah ranah pertarungan. Dunia yang menyingkap dan alam yang resisten. Ketegangan itu bekerja dalam sebuah karya seni. Namun, kebenaran pasti menang. Kebenaran menjelma dalam karya seni. Karya seni menyingkap, mengatur dunia sekaligus menampilkan alam sebagai sang misterius. 

Pada akhirnya, ketersingkapan dunia dalam karya seni membuktikan dua hal. Pertama, kemenangan seni atas resistensi alam. Keberhasilan seni menguak makna dari alam yang pemalu. Kedua, ketersembunyian alam. Ketersingkapan dunia tidak bersifat total. Alam tetap tampil sebagai sumber misterius penyingkapan dunia. Penyingkapan pada saat yang sama berarti penyembunyian. Saat memutar radio, misalnya. Ketersingkapan satu frekuensi berarti ketersembunyian kemungkinan-kemungkinan penyingkapan frekuensi lainnya. Kita tidak bisa mendengarkan dua stasiun radio sekaligus. 

Seni adalah pendobrak sejarah. Sains dan filsafat sekadar bermain di lapangan yang sudah dibuka oleh seni. Renaisans, misalnya. Periode yang mengawali bergeraknya peradaban dari abad pertengahan yang serba-Tuhan menuju abad modern yang serba-manusia. Dobrakan awal yang menandai lahirnya Renaisans datang dari karya seni. Lukisan Monalisa dari Leonardo Da Vinci. Da Vinci melepaskan diri dari pola lukisan abad pertengahan yang serba langit. Monalisa adalah simbol kemanusiaan. Bak Prometheus, Da Vinci mencuri sesuatu dari langit untuk dipersembahkan pada manusia. Dan sesuatu itu adalah tolok ukur. Segala sesuatu yang tadinya diukur berdasarkan patokan-patokan: langit, sekarang diserahkan pada manusia. Teosentris memberi jalan pada antroposentris. 

Pada perkembangan akhir pemikiran Heidegger tentang seni, ia banyak berbincang soal puisi. Penyair menciptakan selarik puisi dari bahasa yang ada. Mempermainkannya dalam puspa-ragam konteks dan melahirkan makna-makna baru.

Penyair adalah pembuat undang-undang yang tidak dikenal. Melihat jauh ke masa depan meninggalkan orang kebanyakan. Penyair tidak bisa bekerja layaknya manusia biasa. Manusia biasa bekerja dalam dunia yang sudah diandaikan. Sedangkan penyair bekerja di bawah kendali kekuatan impersonal: seni, kebenaran atau “Ada” itu sendiri. Kekuatan impersonal yang akan membawanya pada sebuah dunia baru. 

Rangkuman

Kekhilafan Heidegger dalam traktat awalnya mendapat koreksi dalam perjalanan pemikirannya kemudian. Upaya menawarkan konsepsi alternatif tentang “Ada” adalah kekhilafan itu. Kekhilafan yang menempatkan Heidegger dalam tradisi representasionalisme filsafat Barat. Karenanya, Heidegger lanjut memikirkan ulang relasi antara “Ada”, waktu, dan dasein. “Ada” bukanlah sesuatu yang tetap bersemayam dalam waktu yang mengalir. “Ada” bukan kekekalan, ia adalah kesementaraan. Kebenarannya bersifat aleitheis. Menyingkap, bertahan, dan kembali ke kekosongan. “Ada” timbul tenggelam dalam sejarah: Kebenaran sebagai aleithea menuntut pelucutan sifat aktif kegiatan berpikir manusia. Berpikir bukan lagi menangkap kenyataan dan mengurungnya dalam kategori-kategori. Berpikir adalah undangan bagi sang “Ada" untuk menyingkapkan dirinya.

Sebuah penantian yang hangat dari ucapan syukur saat sang “Ada” menjelma. Manusia bukanlah penguasa “Ada”. Ia sekadar penggembala “Ada”. Penggembala yang tunduk pada titah sejarah “Ada”. Sebuah kekuatan impersonal yang bekerja dalam sejarah.

Saat berpikir kehilangan sifat aktifnya dan pengetahuan teoretis bukan lagi prioritas utama dalam menangkap “Ada”. Maka, Heidegger pun berpaling ke seni. Seni bukanlah sekadar imitasi dari imitasi. Sesuatu yang inferior terhadap kebenaran teoretis. Kebenaran menjelma dalam seni. Seni menyingkap, mengatur, dan menampilkan alam dalam kemisteriusannya. Seni adalah garda depan pendobrak sejarah. 

**

Beberapa Istilah Penting 

Representasionalisme: Sebuah klaim bahwasannya kenyataan hadir terlepas dari subjek dan merupakan objek pengetahuannya. Subjek mampu menyajikan ulang secara akurat kenyataan tersebut. 

Aleitheia: Kebenaran yang menyingkap. Bukan sesuatu yang kekal melainkan sementara. Kebenaran muncul dari kekosongan, bertahan lalu menghilang kembali. 

Kebebasan: Kemampuan manusia menyingkap pelbagai manifestasi “Ada”. 

Penggembala Ada”: Dasein bukanlah pencipta “Ada”, ia sekadar mengikuti otoritas tertinggi yang mengatur kemunculan sang “Ada”. 

Alam: Kenyataan pra-budaya. Sesuatu yang mendahului pemahaman, manipulasi atau penafsiran manusia, Sesuatu yang cenderung menyembunyikan diri dan resisten terhadap setiap usaha perumusan. 

Dunia: Kenyataan kultural berupa sistem makna yang memungkinkan manusia memahami diri dan lingkungannya. 

Sumber:

Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 76-85.


0 komentar:

Posting Komentar