alt/text gambar

Rabu, 02 September 2026

Topik Pilihan: , , ,

Heidegger dan Posmodernisme


Perkembangan filsafat dewasa ini diwarnai dengan mode filsafat yang dikenal dengan sebutan posmodernisme. Sebagai mode filsafat, posmodernisme memang sering dianggap genit. Para filosof “konservatif” menganggap para posmodernis tak lebih dari sekadar selebritis intelektual. Kerja mereka sekadar mengadopsi konsep-konsep dari pelbagai disiplin untuk memoles dan menambah “gaya” filsafatnya. Posmodernisme bagi sebagian orang adalah rajutan konseptual yang kesannya canggih namun kosong secara argumentatif. Ini membuat pentingnya sebuah penelusuran akar-akar filosofis posmodernisme. Akar-akar filosofis yang apabila dirunut akan sampai pada sebuah nama yang menggetarkan dunia perfilsafatan: Martin Heidegger. 

Kontribusi pemikiran Heidepger pada laju perkembangan filsafat Barat kontemporer sungguh besar. Jacques Derrida, salah satu empu posmodernisme, sampai meragukan dirinya mampu menciptakan apa pun tanpa bayang-bayang Heidepger. Pertanyaan lainnya adalah seputar filsafat politik Heidegger. Namun, apakah Heidegger memiliki filsafat politik. Banyak yang meragukannya. Heidegger tidak bicara soal politik melainkan sesuatu yang metafisis: “Ada”. Filsafatnya lebih fenomenologis ketimbang politis. Selepas rezim Nazi, Heidegger mengasingkan diri dan lebih banyak berbincang tentang teknologi, seni, dan bahasa. Meski demikian, banyak tafsir politik terhadap konsep-konsep dalam pemikiran Heidegeer. Baik tafsiran yang bernada positif ataupun negatif. Heidegger memang tidak merumuskan sebuah filsafat politik. Kita, para komentatornya, merupakan filosof-filosof politik sesungguhnya. 

Posmodernisme 

Filsafat modern adalah momen pencapaian filosofis yang patut diakui, sungguh mengagumkan. Rumusan-rumusan filosofis baru tentang manusia, pengetahuan dan sejarah berlontaran. Manusia bukan lagi bagian dari semesta raya. Ia unik. Keunikan yang bukan disebabkan oleh statusnya sebagai ciptaan tertinggi Tuhan. Melainkan posisinya sebagai satu-satunya makhluk yang sadar diri dan berpikir. 

Nalar adalah dasar kepastian pengetahuan manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa diterima nalar mesti ditinggalkan. Artinya, segala legitimasi epistemologis yang mendasarkan pada tradisi gugur. Nalar tidak menerima pendasaran pada tradisi. Sesuatu harus disimpulkan entah dari fakta-fakta empiris atau premis universal. Filsafat harus bertolak dari titik nol. Manusia rasional adalah manusia a-sejarah yang lewat akalnya mampu menepis debu-debu sejarah demi pengetahuan yang terang dan bening. 

Meski mengibas sejarah, filsafat modern tetap mempersoalkan sejarah secara filosofis. Sejarah bukan lagi didasarkan pada kitab suci. Bukan lagi cetak biru yang Ilahi. Ia memiliki hukum geraknya sendiri, Hegel menyebutnya dialektika. Tumbukan dua gagasan berlawanan yang melahirkan rangkuman yang lebih baik dan mengatasi dualisme. Marx kemudian membumikannya dengan memberinya sentuhan materialistik. Adalah kekuatan produksi dan bukan gagasan yang menggerakan sejarah. Gerak gagasan dalam sejarah adalah cermin laju kekuatan-kekuatan produksi manusia. Di samping perbedaan yang ada, Hegel dan Marx adalah tonggak-tonggak teoretisasi modern tentang sejarah. Keduanya percaya bahwa sejarah digerakkan oleh kekuatan di dalam sejarah itu sendiri. Hegel menyebutnya ide, sedang Marx, materi (kekuatan produksi). 

Heidegger sangat kritis pada semua gagasan dasar filsafat Modern. Sasaran pertamanya adalah rumusan filsafat modern tentang manusia. Manusia bukanlah segumpal substansi berpikir yang sadar diri. Makhluk a-lingkungan yang kerjanya memikirkan dan merumuskan hal-ihwal. Manusia adalah dasein, ia “ada-dalam-dunia”. Sudah nasibnya terlempar ke dunia dan berlumuran sejarah. 

Manusia selalu menemukan dirinya terkurung dalam tradisi yang membatasi kemungkinan-kemungkinannya. Posisi trans-sejarah adalah sesuatu yang mustahil. Keterperangkapan manusia dalam sejarah membuatnya tak mungkin menyentuh kepastian pengetahuan. Pengetahuan manusia berlumuran sejarah. Ia bersifar pra-pemahaman. Sebelum kita memahami apa itu martil secara teoretis, kita sudah terwarisi pengetahuan tentangnya sebagai benda untuk menancapkan paku. Bukan untuk menggosok gigi atau menyisir rambut. 

Klaim manusia sebagai sosok sadar diri pun goyah. Sebagian besar waktu manusia dihabiskan dengan bergaul secara praktis dengan benda-benda. Dan ini merupakan ketertenggelaman manusia dalam dunia eksistensial tempatnya bersibuk. Kesiapaan manusia sangat bergantung pada ketersingkapan benda-benda. Kita tak bisa merumuskan manusia di atas awan.

Hubungan manusia dengan kenyataan tidak semata-mata hubungan intelektual. Subjek memahami objek. Hubungan primordial manusia dan kenyataan adalah hubungan praktis. Dan dalam keterhubungan ini “ada” sang manusia tersingkap bersama benda-benda. Mengisolasikan manusia dari kenyataan adalah suatu yang mustahil. Representasionalisme menjadi dipertanyakan. Subjek tidak menangkap objek untuk, dipresentasikan ulang secara akurat dan jernih. Subjek selalu sudah terlibat dengan benda-benda. Dilingkari oleh seperangkat pra-pemahaman tentang benda-benda. 

Kenyataan bukanlah sesuatu yang terlentang untuk dipahami. Kenyataan tidaklah sepasrah yang dikira para filosof. Kenyataan justru menyingkapkan diri pada dasein. Kenyataan tidak sekedar berada, ia menjelma. Sejarah, karenanya, tidak selogis yang dikira Hegel atau Marx. Ia sarat patahan dan kejutan. Kita tidak pernah tahu kapan sebentuk kenyataan baru menjelma. Kita hanya bisa menunggu dengan penuh perhatian. Filsafat sejarah Heidegger membongkar asurnnsi-asumsi sejarah filsafat modern. 

Kritik-kritik Heidegger ini mengantisipasi apa yang menjadi karakter pokok posmodernisme: pudarnya kepercayaan pada metanarasi (narasi besar). Narasi-narasi raksasa yang lupa diri. Narasi yang lupa akan status naratifnya lalu mengklaim kepastian dan universalisme. 

Lyotard, salah satu suhu posmo, menunjuk hidung beberapa narasi raksasa yang berseliweran dalam epos modern. Mereka adalah dialektika, epistemologi objektivis, dan hermeneutika. 

Dialektika mengklaim sebuah sejarah yang universal. Sejarah dengan hukum-hukum yang sama di semua lokal. Epistemologi menggariskan asumsi-asurmnsi ontologis, metodologis, dan aksiologis yang harus diterima sebagai satu-satunya syarat kepastian pengetahuan. Sedangkan hermeneutika mengaku mampu menggapai maksud sang pengarang. Artinya, semua aktivitas hermeneutis harus setia pada teks dan mendapatkan makna yang sama. 

Metanarasi bekerja dengan dua modus operandi. Modus pertama adalah spekulasi. Narasi yang bermoduskan spekulasi menggariskan bahwa pengetahuan mesti dihasilkan demi pengetahuan itu sendiri. Nilai, kepentingan dan ideologi adalah debu-debu epistemik yang harus dibersihkan. Modus kedua adalah emansipasi. Narasi yang bermoduskan emansipasi menuntut bahwa pengetahuan haruslah membebaskan manusia dari belenggu irasionalitas. Dari masyarakat yang dikelabui mekanisme pasar ke masyarakat yang sadar dan egaliter.

Sains, misalnya, melegitimasi dirinya dengan merujuk pada narasi spekulatif. Narasi yang mengatakan bahwa pengetahuan hanya absah apabila dihasilkan demi pengetahuan itu sendiri. Di luar itu adalah sejenis voodoo yang tidak ilmiah. Semata-mata pengetahuan pra-sains yang berada pada tingkat paling rendah. Berkat metanarasi, sains menjadi kebenaran tunggal di antara pelbagai pengetahuan yang mungkin. Pengetahuan objektif adalah sebuah fiksi bagi Heidegger. Bagaimana mencapai objektivitas apabila subjek selalu berlumuran sejarah. Universalisme juga tak bisa dipertahankan. Manusia terlempar ke dunianya

masing-masing dengan lingkar tafsirnya sendiri-sendiri tentang kenyataan. Mengajukan satu patokan universal terhadap pengetahuan manusia adalah sebuah kesalahan. 

Lyotard melanjutkan kritik Heidegger dengan menunjuk masyarakat pasca-industri. Dalam masyarakat seperti itu sains bergabung dengan industri. Sains bukan lagi dilakukan demi-sains itu sendiri. Sains menghamba pada orientasi keuntungan industri-industri raksasa. Sebuah gejala teknosains. Penelitian berjam-jam di laboratorium bukan lagi demi pengetahuan sendiri. Orientasi kapitalistik telah menembus dinding-dinding laboratorium. Ideologi yang tadinya disingkirkan sekarang kembali menyusup dengan halus.

Kritik-kritik posmodern menuntut agar narasi-narasi universal memberi jalan pada lokalitas. Setiap klaim memiliki ruang kompetensinya sendiri. Heidegger menyebutnya faktisitas. Batasan normatif tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin pada ruang-waktu tertentu. Heidegger sendiri saya bayangkan akan berkata: “Dunia sains hanya satu dunia di antara pelbagai dunia dengan faktisitasnya masing-masing”. 

Kontribusi pokok pemikiran Heidegger bagi posmodernisme adalah langkah awalnya membongkar tradisi filsafat Barat yang pada dasarnya berpuncak pada filsafat modern. Universalisme, representasionalisme, dualisme, dan dialektika adalah pilar-pilar filsafat modern yang dirobohkan Heidegger. Robohnya pilar-pilar itu membuka pintu bagi sebuah perayaan. Perayaan posmoik yang mengelu-elukan pluralisme. Pengetahuan, moral, sejarah, politik tidak lagi tunggal. Lokalitas mendapatkan penghargaan tersendiri. Kalaupun ingin mendapat patokan universal, jalan yang dilalui harus 'melalui konsensus. Pengetahuan bukan lagi soal pendasaran melainkan percakapan. 

Sanggahan keras Heidegger terhadap filsafat Barat merupakan akar semangat penyudahan segala upaya pendasaran kepastian pengetahuan. Richard Rorty, filosof neopragmatisme, mengatakan bahwa berakhirnya filsafat Barat oleh Heidegger membuat satu-satunya yang bisa dipastikan adalah kehendak. Tesis ini Rorty simpulkan dari konsep Heidepger tentang gambaran-dunia (world-frame). 

Gambaran-dunia adalah kecenderungan manusia untuk memandang dunia bak sebuah gambar. Dunia yang dibatasi dan ditata sedemikian rupa sekehendak kita. Dunia bukan suatu yang direpresentasikan melainkan diciptakan. 

Dunia yang plural karena disusupi kehendak tidak lantas mengasingkan satu sama lain. Heidegger sendiri dalam perbincangan soal seni mengatakan bahwa seni bukan pengalaman privat melainkan komunal. Komunalitas-solidaritas berpangku pada intersubjektivitas. Manusia bukan subjek kesepian berhadapan dengan dunia. Dunia manusia adalah dunia kebersamaan. “Ada” dasein selalulah “ada-bersama yang lain”.

Rorty melanjutkan perbincangan Heidegger tentang solidaritas. Solidaritas bagi Rorty adalah jalan keluar dari jebakan relativisme. Solidaritas berhadap-hadapan dengan objektivitas. Objektivitas menuntut pengambilan jarak dari dunia sehari-hari untuk menemukan kebenaran hakiki. Dedengkotnya adalah Plato. Plato menuntut seorang untuk keluar dari komunalitas guna menemukan sendiri cahaya kebenaran. Solidaritas, sebaliknya, menolak kebenaran yang didapatkan lewat pembebasan diri dari kebersamaan dalam masyarakat. Kebenaran diupayakan lewat kesepakatan intersubjektif antar-pelbagai gagasan yang berkembang dalam masyarakat. 

Posmodernisme sebagai corak berfilsafat kontemporer terbukti lebih dari sekadar kegenitan. Dasar filosofis yang mendasari perkembangannya sangar kuat. Kalau kita teliti dasar kritik posmodern, ia bukan saja kritis terhadap filsafat modern melainkan seluruh tradisi filsafat Barat. Memang, terkadang orang lupa bahwa filsafat bukanlah sekadar tesis atau gagasan. Melainkan argumentasi-argumentasi yang mendasarinya. Dan Heidegger memberi argumentasi kuat bagi filsafat posmodern. 

Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 88-97


0 komentar:

Posting Komentar