Bahaya Mindset Teknologis Sang Mistikus Martin Heidegger
Oleh: Yovendi Mali Koli
Transisi energi membuat ekosistem di Morovali, Sulawesi Tengah, dan beberapa daerah telah hancur. Raja Ampat, Papua, kini menjadi sasaran baru tambang ekstraktif tersebut. Meskipun demikian, beberapa orang tetap berdalih utilitarian.
Bahwa tambang adalah sebuah keharusan karena demi kemaslahatan banyak orang. Adalah menarik untuk menyimak kembali perdebatan antara Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), dan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, di acara Rosi, Kompas TV pada 12/06/2025. Iqbal mengkritik pedas perusahan tambang ekstraktif karena mereduksi alam sebatas sumber daya yang siap pakai. Dengan demikian melupakan aspek lain, seperti kelestarian dan nasib masyarakat setempat.
Gus Ulil kemudian menuduh Iqbal sebagai orang konservatif. Dengan analoginya, Ulil menyamakan Iqbal dengan kaum wahabi dalam Islam yang cenderung menjaga kemurnian teks. Seolah teks adalah sesuatu yang tidak dapat disentuh. Demikian juga dengan alam, seolah tidak dapat disentuh dan suci. Pernyataan Ulil makin jelas ketika ia berdalih, “Alam adalah anugerah, dan tambang adalah anugerah yang keduanya harus digunakan untuk kemaslahatan banyak orang.” Maka mari kita lihat mana yang memberi kemaslahatan yang lebih besar. Dengan pernyataan tersebut, Ulil seakan memosisikan diri sebagai seorang progresif. Namun, pernyataan Gus Ulil tersebut, di dalam terang gagasan mistik keseharian Martin Heidegger justru menguak sisi sebaliknya, yakni sisi konservatif.
Teknologi dalam keseharian manusia
Manusia dan teknologi merupakan dua hal berbeda yang sebenarnya sulit untuk dipisahkan. Manusia setiap hari berelasi dengan teknologi. Kita menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke kampus, menggunakan laptop dan proyektor untuk efektivitas perkuliahan, menggunakan ponsel pintar untuk berkomunikasi dan mengakses konten dunia maya, memasak dengan gas, dan masih banyak lagi. Singkatnya, hampir seluruh keseharian manusia dipadati dengan teknologi.
Akan tetapi teknologi bagai pedang bermata dua. Teknologi pada satu sisi sangat menguntungkan. Misalnya, menggunakan ponsel untuk menghubungi keluarga yang jauh di kampung. Namun, di lain sisi teknologi juga bersifat destruktif. Salah satu contoh adalah gim daring yang membuat anak-anak kecanduan dan menghabiskan waktu di depan ponsel pintar hingga lupa belajar dan mengalami kebutaan. Banyak sekali gamer yang kemudian mengalami gangguan saraf dan bahkan kematian akibat efek kecanduan gim daring. Apabila dibuat perbandingan antara efek baik dan efek buruk, para ahli seperti Yuval Noah Harari dan Nick Bostrom telah memprediksi bahwa teknologi suatu saat akan mendominasi kehidupan manusia dan melahirkan efek-efek buruk yang tidak bisa lagi dielakkan. Beberapa kasus serius yang dapat menjadi bukti pendukung tesis Harari dan Bostrom adalah kasus ekologi yang semakin serius, algoritma yang justru lebih mengetahui diri kita ketimbang kita sendiri, dan totalitarian-dictatorship big data yang dapat mendikte perilaku masyarakat sipil. Efek ganda, baik dan buruk, dari teknologi ini membuat Martin Heidegger seorang filsuf kelahiran Jerman menelusuri akar persoalan dari teknologi. Heidegger kemudian dalam beberapa hal sepakat dengan para peramal efek destruktif teknologi. Menurut Heidegger, teknologi akan membawa pada nihilisme. Akan tetapi, sebelum sampai pada tesis kunci Heidegger tersebut, akan dipaparkan terlebih dahulu cara berpikir dan proses diagnosis Heidegger atas daya destruktif teknologi.
Teknologi dalam pemahaman klasik
Heidegger adalah filsuf yang acapkali bermain-main dengan asal-usul kata atau konsep. Dari sinilah ia memulai petualangan filsafat ke jenjang berikutnya. Demikian halnya dengan teknologi. Istilah teknologi secara etimologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu techne dan logos. Pertama, techne yaitu seni, keterampilan, dan kerajinan praktis untuk memproduksi (poesis) sesuatu. Misalnya keterampilan membuat roda, rumah, atau senjata. Kata techne tidak terlepas juga dari konstelasi kata technikon yang berarti milik techne. Heidegger memberi penjelasan lebih lanjut bahwa dalam terminologi Yunani, techne tidak hanya untuk kegiatan dan keterampilan teknis, tetapi juga untuk seni pikiran dan seni rupa. Artinya, techne merujuk pada semua tindakan yang menghasilkan atau memproduksi sesuatu (poiesis, to bringing-forth) (Heidegger,1997: 13). Kedua, logos yang artinya kata, wacana atau makna, atau ilmu. Dengan demikian, teknologi artinya ilmu, wacana, atau diskursus tentang cara bagaimana kita mendapatkan atau menghasilkan sesuatu (Wibowo, 2021: 226).
Dalam The Question Concerning Technology (1997), Heidegger merujuk pada cara menghasilkan atau memproduksi sesuatu. Heidegger merujuk kembali ke pemikiran Aristoteles. Menurut Filsuf Yunani klasik itu, cara manusia menghasilkan sesuatu terdiri dari empat kausa atau penyebab, yaitu kausa materials, kausa formalis, kausa finalis, dan kausa efisiens. Aristoteles menjelaskan keempat kausa itu sebagai berikut: (1) kausa materials adalah bahan dasar berupa materi yang nantinya akan dibuat menjadi sesuatu yang lain. Misalnya batu, emas, besi, dan perak. Materi-materi ini tersedia dalam alam bebas. (2) Kausa formalis merupakan bentuk baru (forma) dari materi (materials) sebelumnya yang telah diubah menjadi sesuatu. Misalnya patung yang dihasilkan dari batu dan mahkota yang terbuat dari emas. (3) Kausa finalis, yaitu tujuan terakhir dari sesuatu dihasilkan dari keterampilan memproduksi. Misalnya patung dibuat dengan tujuan diletakkan di alun-alun kota untuk mempercantik pemandangan dan ingatan kolektif akan sejarah. (4) Kausa efisien adalah agen (orang atau pengrajin atau seniman) yang memproduksi barang tersebut. Di dalam pikiran dan imajinasi kausa efisien inilah terdapat tujuan diciptakan sesuatu. Gambaran dalam imajinasi tersebut dinyatakan dalam kerajinan tangan atau keterampilan seni. Artinya, ketika seorang seniman atau perajin sedang mengerjakan sesuatu, ia telah mempunyai tujuan di dalam pikirannya tentang hasil karya itu (Heidegger, 1997: 7). Dengan demikian, mau menjadi seperti apa sesuatu itu tergantung dari imajinasi atau pikiran dari kausa efisiens itu.
Setelah melihat cara memproduksi sesuatu dalam pandangan Aristoteles ini, Heidegger menarik kesimpulan bahwa bagi Aristoteles yang membuat produksi itu mungkin adalah kausalitas yang bersumber dari kausa efisiens. Sesuatu ada karena disebabkan oleh sesuatu yang lain. Menurut Heidegger, inilah mode teknologi di zaman klasik. Teknologi modern, meskipun masih setia pada unsur kausalitas tersebut, telah dipengaruhi unsur-unsur lain yang sebenarnya lebih hakiki.
Tafsiran Heidegger atas empat kausa Aristoteles
Heidegger kemudian menafsirkan ulang mode produksi klasik Aristoteles di atas. Menurut Heidegger, yang menjadi kausa efisiens sebenarnya bukan manusia sebagai kausa efisiens, melainkan telos atau tujuan. Alasan Heidegger adalah karena yang memberi batasan pada sebuah materi untuk menjadi seperti apa setelah diproduksi adalah telos (Heidegger, 1997: 8). Misalnya, yang menentukan sebuah batu menjadi patung adalah telos atau tujuan yang ada di kepala pembuat patung (kausa efisiens), bukan sekadar manusia (agen/kausa efisiens). Dari interpretasi ini, Heidegger kemudian menukik lebih dalam lagi untuk menemukan struktur terjadinya telos atau tujuan di dalam isi kepala manusia (kausa efisiens).
Heidegger menemukan bahwa tujuan atau telos tidak ada secara spontan dalam pikiran atau imajinasi manusia (kausa efisiens). Telos bersumber dari logos.
Sementara yang dimaksud dengan logos adalah cara manusia membahasakan atau mewacanakan sesuatu (legein). Menurut Heidegger, proses menyatakan sesuatu (legein) terjadi ketika manusia menarik sesuatu keluar dari ketersembunyiannya (aletheia). Misalnya, seseorang pelancong mengatakan, “Gunung itu indah!” Dengan mengatakan demikian, pelancong tersebut “menarik keluar” aspek keindahan yang tersembunyi di balik gunung yang ia lihat. Sebelum ia (pelancong) berbicara demikian, aspek keindahan tersebut masih tersembunyi atau sekurang-kurangnya belum terkatakan.
Heidegger kemudian menjelaskan aspek ketersembunyian tersebut dengan meminjam gagasan Herakleitos “physis kryptesthai philei” (Inggris: nature loves to hide: Indonesia: kodrat atau phusis suka bersembunyi) (Heidegger, 1995: $8 [46-48]). Dalam tafsiran Heidegger, kalimat Herakleitos tersebut menguak phusis (kodrat) segala sesuatu yang selalu tersembunyi. Misalnya, ketika orang bertanya, apa itu phusis dari batu? Bagi Heidegger, tidak bisa dibahasakan (legein) dengan pasti karena phusis-nya selalu menyembunyikan diri. Oleh karena itu manusia hanya menangkap sebagian dari phusis yang menyatakan diri atau yang keluar dari ketersembunyiannya (a-letheia). Sementara sebagian besar dari phusis yang masih menyembunyikan diri tidak dapat diakses oleh manusia melalui legein. Misalnya, ketika orang bertanya tentang apa itu gunung? Seorang petugas tambang akan mengatakan gunung adalah lumbung nikel. Seorang pendaki gunung akan mengatakan, gunung adalah titik pertama untuk melihat matahari terbit dan matahari terbenam. Seorang penganut kebatinan akan mengatakan gunung adalah tempat bermukim roh-roh halus. Sementara ibu-ibu di desa akan mengatakan bahwa gunung adalah tempat kami mengambil kayu bakar. Demikian deretan panjang wacana (legein) tentang gunung.
Aneka pemaknaan akan gunung tersebut menjadi sampel riil bahwa manusia hanya menangkap phusis (misalnya, gunung) berdasarkan yang menampakkan diri pada mereka. Ibu-ibu di desa menyatakan gunung sebagai tempat mengambil kayu bakar karena begitulah gunung menampakkan dirinya pada mereka. Artinya, dengan mengatakan sesuatu, manusia telah mengambil sebagian phusi dari yang tersembunyi itu (Heidegger, 1997: 19). Karena itu, bagi Heidegger, manusia menjadi subjek yang mengambil (apropriasi) phusis yang tidak tersembunyi lalu mewacanakan (legein). Dengan demikian, wacana manusia selalu tentang yang tidak tersembunyi atau yang tersingkapkan (a-letheia). Dan bagi Heidegger, cara berwacana (legein) tersebutlah yang menjadi cara manusia berelasi dengan phusis (segala sesuatu).
Menurut Heidegger, cara berelasi tersebut menjadi masalah ketika phusis yang menyatakan diri tersebut kemudian dibakukan sebagai dasar fundamental dari segala realitas. Di dalam sejarah Filsafat Barat, phusis yang menampakan diri itu kemudian dibakukan menjadi idea, Tuhan, cogito, dan kehendak untuk berkuasa. Phusis yang dikatakan dan dirasionalkan ini kemudian menjadi kebenaran fundamental untuk memahami realitas. Akibatnya, sebagian besar phusis yang masih menyembunyikan diri tadi dilupakan. Heidegger menengarai bahwa sejarah Filsafat Barat telah melupakan phusis yang bersembunyi itu, yakni kelupaan akan Beyng (huruf “i” diganti dengan “yang merujuk pada istilah dasar keberadaan yang autentik, yakni Not-thing-ness”) (Heidegger, 2007).
Konsekuensi logis dari kelupaan tersebut adalah absolutisme pengetahuan manusia. Seolah manusia mengetahui kodrat atau Ada (Being Beyng) segala sesuatu, padahal ia hanya mengetahui sebagian dari Beyng. Karena itu, pengetahuan manusia sebenarnya terbatas.
Kemudian kaitannya dengan telos dalam kegiatan produksi (poesis) adalah manusia sebagai kausa efisiens menakar sebuah telos atau tujuan sebuah materi dengan pertimbangan yang sangat terbatas tersebut. Dari titik inilah, Heidegger menukik ke dalam kritiknya terhadap teknologi modern.
Heidegger tentang teknologi modern
Teknologi modern sebenarnya merupakan konsekuensi dari kelupaan akan phusis yang tersembunyi (Beyng). Menurut Heidegger, cara manusia berelasi dengan phusis, yaitu selalu menarik phusis dari ketersembunyian mirip dengan cara manusia berelasi dengan teknologi. Pada era teknologi, manusia memandang segala sesuatu sebatas aspek yang keluar dari persembunyiannya. Atau sebatas yang tampak. Segala sesuatu yang menampakkan diri tersebut kemudian ditangkap manusia dengan frame (Jerman: gestell; Indonesia: bingkai) tertentu.
Akan tetapi, menurut Heidegger, frame kita sendiri sudah selalu ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai (Heidegger, 1997: 25). Misalnya, seorang ahli teknik akan melihat sungai yang menampakkan dirinya hanya sebatas sebagai potensi untuk membangun waduk pembangkit listrik. Hal ini karena frame yang dimilikinya adalah logika teknis dan ekonomis. Sungai dilihat sekadar sebagai komoditas ekonomi. Padahal, sungai lebih dari itu. Sungai memiliki makna yang sangat luas yang sebenarnya tidak dapat dirangkum dalam pikiran representatif atau logika instrumental manusia. Misalnya, sungai sebagai tempat wisata, sebagai tempat hidup ikan-ikan, atau tempat ritual. Framing membuat manusia mengeliminasi segala kemungkinan lain yang tidak sesuai dengan tujuan atau frame-nya. Misalnya, seorang pemburu nikel di Raja Ampat, Papua, tidak menghiraukan bahaya kerusakan ekosistem. Dengan demikian, framing justru semakin memiskinkan phusis atau Being dari segala sesuatu karena bersifat instrumental sesuai dengan tujuan dari manusia. Ironisnya, frame justru menjadi cara kerja teknologi modern.
Nasib manusia dalam iklim teknologi
Frame membuat segala sesuatu menjadi objek belaka: persedian atau sumber daya yang siap dipakai. Segala sesuatu yang siap dipakai ini kemudian dimanipulasi sesuai dengan tujuan tertentu dari penggunanya. Namun, selain benda yang siap dipakai dan dimanipulasi, di hadapan teknologi, manusia juga akan diperlakukan sebagai benda-benda lainnya. Manusia akan menjadi objek bagi teknologi. Karena itu, bagi Heidegger, tujuan teknologi sebenarnya bukan untuk memanusiakan manusia, melainkan mempunyai tujuan pada dirinya sendiri.
Tujuan teknologi ini semakin destruktif ketika framing dikokohkan dengan kalkulasi matematis dan logika instrumentalis. Ketika dunia yang penuh misteri hanya direduksi menjadi hukum-hukum yang dapat dikalkulasi secara matematis, manipulasi atas segala sesuatu semakin mudah.
Bahaya ini sebenarnya sudah disadari oleh guru Heidegger, Edmund Husserl. Fenomenolog Jerman tersebut menolak pandangan Galileo Galilei yang menggambarkan kenyataan-dunia sehari-hari sebagai bentangan geometri yang eksak-matematis (Wibowo, 2021: 231).
Efek terakhir dari framing ini adalah nihilisme. Segala sesuatu yang ditundukkan di bawa teknologi akhirnya akan berujung kehancuran total. Segala sesuatu kehilangan misterinya, hingga yang tersisa hanyalah nilai kegunaan. Manusia pun tidak ada artinya di hadapan teknologi, sehingga eksploitasi atas manusia adalah niscaya. Situasi semacam ini akan sangat destruktif. Manusia yang melahirkan dan mengembangan peradaban teknologi akhirnya harus membayar dengan masa depannya sendiri yang nihil. Beberapa contoh yang sangat dekat adalah bom nuklir yang menunggu waktu untuk diluncurkan, krisis iklim yang semakin parah, dan lautan sampah yang siap mencemari perairan. Ramalan Heidegger ini menjadi medan perjuangan bagi aktivis lingkungan, seperti Iqbal Damanik.
##
Pesan ekologis Heidegger
Analisis Heidegger di atas menyerang jantung metafisika Filsafat Barat yang selama ini berdiri di atas bahu representasi kenyataan oleh pikiran manusia (logos dan legein). Kritik Heidegger ini membongkar arogansi manusia yang seolah menjadi tuan atas alam semesta karena segala sesuatu dapat didefinisikan berkat pemikirannya. Artinya, nilai sesuatu tidak lagi inheren pada benda tersebut, melainkan dari pemberian manusia. Dalam era teknologi modern dengan jargon kapitalisme, framing membuat sesuatu bernilai hanya kalau sesuai dengan tujuan manusia. Nilai intrinsik dan misteri dari benda tersebut ditendang jauh oleh teknologi. Padahal, sebagaimana menurut Heidegger, framing hanya menangkap sebagian realitas (bhusis) yang tersingkap. Di balik yang tersingkap itu masih ada phusis yang tersembunyi dan itulah Beyng - “Nothingness”.
Dengan menverang metafisika Barat, Heidegger sebenarnya melengser kekuasaan rasionalitas manusia yang sepanjang sejarah Filsafat Barat mengklaim kebenaran dengan model representasi. Para pemikir deep ecology seperti Arne Nass yang mengusung biosentrisme kemudian melihat kritik Heidegger ini sebagai sokongan yang kuat untuk visi mereka (Zimmerman, 2019: 217). Deep ecology pada dasarnya mengkritik juga arogansi . manusia sebagai anak sulung ciptaan. Arogansi Ni manusia atas ciptaan lain ini terlegitimasi lewat ontis
“metafisika seperti animal rationale dari Aristoteles dan cogito dari Descartes. Ide-ide metafisik tersebut membuat manusia seakan lebih tinggi posisinya dari makhluk yang lain. Manusia mengategorikan hierarki ciptaan berdasarkan kemampuannya sendiri. Yang
“ dapat berpikir ditempatkan pada posisi paling atas, sementara yang tidak dapat berpikir diletakkan paling bawah. Hasilnya, manusia yang adalah makhluk berakal budi menempati posisi teratas. Hierarki semacam ini kemudian membuat manusia seolah merasa mempunyai hak untuk melakukan apa saja terhadap makhluk lain, tidak terkecuali mengeksploitasi dan menggunakan mereka bukan pada tujuannya sendiri, melainkan untuk tujuan manusia. Atau yang lebih bengis lagi, menggunakan ciptaan lain untuk suatu tujuan yang sangat destruktif terhadap lingkungan hidup, yakni tujuan teknologi ekstraktif.
Arne Ness melawan arogansi manusia yang dilegalkan Filsafat Barat dengan pemahaman biosentrisme. Inti dari biosentrisme adalah manusia dan makhluk hidup lainnya adalah sama (Zimmerman,
2019: 217). Manusia hanyalah satu titik kecil di tengah keluasan alam semesta. Karena itu, arogansi manusia atas dasar dominasi pikiran representatifnya tidak serta merta mendudukkannya di puncak hierarki semesta. Dengan konsep seperti ini, Naess dan rekanrekannya membongkar arogansi manusia melalui jalan kesadaran atau membongkar struktur dasar yang melanggengkan destruksi alam secara membabi buta. Namun, proyek Arne Nass tentang deep ecology masih tetap menggunakan logika dan bahasa representatif.
Alur pemikiran Naess yang menelanjangi arogansi manusia dan menempatkan manusia sebagai makhluk yang setara dengan ciptaan lain, kiranya tidak dapat diterima begitu saja. Heidegger mencurigai pemikiran manusia yang suka menarik keluar phusis dari persembunyiannya kemudian membakukannya dalam diskursus filosofis-rasional. Akan tetapi, Heidegger tidak serta merta memandang manusia sama dengan makhluk hidup lainnya. Yang ditolak Heidegger hanya satu dimensi, yaitu cara berelasinya dengan phusis — yakni pemikirannya (Zimmerman, 2019: 219). Heidegger di sisi lain tetap memandang positif kemampuan dan keunikan manusia. Menurut Heidegger, selain cara mendekati phusis yang representatif, manusia masih mempunyai cara lain untuk berelasi dengan phusis yang : menurutnya lebih baik.
Sudah dikatakan bahwa phusis selalu menampakkan diri kepada manusia, bukan yang nonmanusia. Dengan demikian, manusia tetap memiliki keunggulan dari makhluk hidup lain (Zimmerman, 2010: 221). Kalau selain manusia, phusis tidak menunjukkan diri. Artinya manusia lebih maju satu tahap di atas ciptaan lain. Persis pada titik ini biosentrisme Naess tidak sesuai dengan cara pandang Heidegger tentang manusia. Berbeda dengan biosentrisme Nzaess, Heidegger justru menawarkan cara baru di hadapan arogansi sekaligus bahaya representasi pikiran manusia ketika berhadapan dengan phusis. Menurut Heidegger, manusia atau yang disebutnya Dasein (Inggris: being-there: Indonesia: yang ada di sana) adalah sebuah keterlemparan. Manusia menemukan dirinya sudah ada di dunia. Ia tidak tahu dari mana asalnya, dan ke mana tujuannya. Yang diketahuinya adalah bahwa ia ada di sana. Realitas keterlemparan ini membuat manusia sebenarnya tidak mengetahui apa-apa. Walaupun ia mengatakan tentang sesuatu, itu hanya dominasi pikirannya saja.
Berhadapan dengan itu, apa yang seharusnya dibuat oleh manusia? Heidegger kemudian menawarkan sikap letting be (Jerman: gelassenheit). Yang dimaksud dengan letting be bukan dalam artian manusia membiarkan diri pasif, melainkan membuka diri kepada phusis yang menyingkapkan dirinya. Sikap letting be ditawarkan Heidegger karena menurutnya manusia (dasein) adalah the open space, sebuah medan yang membuka diri kepada phusis untuk menyingkapkan dirinya (Heidegger, 1997: 25: Zimmerman, 2019: 210). Penyingkapan diri ini pun hanya terjadi dalam waktu temporal, kondisi, dan keadaan sosial tertentu karena penyingkapan bhusis hanya sebagian (a-letheia atau unconcealment). Di hadapan sikap Jetting be ini, bahasa manusia harus diubah. Karena bahasa manusia pun sangat representatif.
Bahasa representatif inilah yang melahirkan kekuatan destruktif yang membawa kepada nihilisme, yaitu teknologi. Heidegger, dengan demikian, menyerang sampai ke kedalaman. Baginya, pemikiran dan bahasa representatif harus ditinggalkan. Manusia harus beralih ke sikap letting be, yakni membuka diri dan membiarkan yang lain menyingkapkan dirinya. Sikap ini adalah sikap seorang mistikus di dalam relasinya dengan segala sesuatu. Hening di depan realitas, tanpa terburu-buru mengadili. Hanya dengan demikian, manusia menemukan keterbatasan pemikirannya dan bahasanya sendiri.
Kembali lagi ke pernyataan Gus Ulil di acara Rosi bahwa “alam (tambang) adalah anugerah Tuhan yang mesti digunakan untuk kemaslahatan bersama” persis mengulang kembali kesalahan metafisika Barat praHeidegger. Ulil, mengonversi segala sesuatu ke dalam mindset teknologis yang instrumentalis. Framing tersebut membuat ia mengeliminasi pertimbangan-pertimbangan lain. Akibatnya, ia menutup diri untuk melihat yang tersembunyi, seperti pencemaran lingkungan, penyakit, kemiskinan struktural, eksploitasi, hingga nilai-nilai inheren alam ciptaan. Raibnya aspek-aspek tersebut membuatnya tidak terlalu sensitif dengan jeritan dan tangisan perempuan dan anak-anak Papua, kegelisahan masyarakat adat, suhu yang terus meningkat, dan polarisasi politik yang makin masif. Namun, Gus Ulil bukan seorang diri, masih banyak rekannya.
Yovendi Mali Koli, CMF
Mahasiswa Teologi, Universitas Sanata Dharma
Rujukan
Heidegger, Martin. Being and Time. Translated by John Macquarie and Edward Robinson. Malden (Mass.): Blackwell Publ, 2007.
__________ The fundamental concepts of metaphysics: World, finitude, solitude. Indiana University Press, 1995.
__________ The Question Concerning Technology, New York & London.” (1973). Wibowo, A. Setyo. “Heidegger dan Bahaya Teknologi.” Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam 6.2 (2021): 221-242
Zimmerman, Michael E. “How Pertinent is Heidegger's Thinking for Deep Ecology?." Heidegger on technology. Routledge, 2018. 209-225.
“[FULL] Debat PBNU dan Aktivis soal Tambang Nikel Raja Ampat, Ini Dampaknya ROSI - YouTube.” Accessed June 19, 2025. https://www.youtube.com/.
Sumber:
Yovendi Mali Koli, "Bahaya Mindset Teknologis Sang Mistikus Martin Heidegger", dalam Majalah Basis, Nomor 11-12, Tahun ke-74, 2025, h. 60-65.

0 komentar:
Posting Komentar