![]() |
| Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun ke-75, 2026 |
Aufklarung telah membawa demikian banyak kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi kemajuan teknik dan sains itu tidaklah dibarengi dengan terwujudnya cita-cita moral seperti dicita-citakan Immanuel Kant. Malah kemajuan teknik itu bertentangan dengan konsep moralitas. Kant berpikir, ajaran Kristen diletakkan dalam dasar nalar. Ia ingin menunjukkan bahwa pandangan Kristen tentang manusia sebagai citra Allah dengan kehendak bebasnya itu dapat dimengerti secara rasional, tanpa pewahyuan pun. Pandangan ini menghasilkan implikasi politik dan tatanan sosial bahwa manusia itu adalah tujuan yang tidak bisa dimanfaatkan sebagai alat, dan semua manusia mempunyai hak terhadap martabat kemanusiaannya.
***
Masyarakat Barat memang maju dengan akalnya, tapi itu lebih demi kemajuan tekniknya, dan bukan demi kebebasan dan emansipasi menuju kemanusiaan dunia, seperti dicita-citakan Kant. Malah menurut Fukuyama, masyarakat barat sendiri sudah menyimpang jauh dari cita-cita tersebut. Mereka belum sungguh bangun dari “kemalasan akalnya”. Mereka sudah merasa mapan di dunia yang telah menjadi sekuler ini. Dan sekularisasi itu sudah dianggap cukup sebagai cita-cita seperti diinginkan Aufklarung.
***
Perdamaian universal adalah bagian dari cita-cita Aufklarung. Dan cita-cita itu belum tentu atau belum sepenuhnya tercapai. Maka peringatan Kant akan bahaya yang mengancam perdamaian di atas kiranya benar. Dan kiranya peringatan itu juga berlaku bagi cita-citanya akan Aufklarung secara keseluruhan. Setelah 300 tahun sejak merekahnya, Aufklarung ternyata juga belum meraih cita-citanya. Malah banyak pula yang beranggapan, Aufklarung adalah program gagal. Tentu anggapan ini terlalu menyederhanakan. Aufklarung adalah buah kedewasaan berpikir manusia, yang layak dihargai. Tapi sesuai dengan klaim kedewasaannya, penghargaan itu sekaligus justru terbuka untuk terus dikritisi.
Menurut Francis Fukuyama, di zaman Kant, Aufklarung telah memberanikan orang untuk mempersoalkan kekuasaan agama, dalam hal ini gereja. Kepatuhan pada agama bisa membuat orang tinggal dalam Unmundigkeit, ketidakdewasaan. Ketidakdewasaan ini adalah ongkos yang harus dibayar, karena manusia malas dan takut menggunakan pikirannya. Maka untuk menjadi dewasa, orang harus berani membebaskan diri cengkeraman kebiasaan berpikir lama, yang biasanya dan kebanyakan ditentukan oleh insitusi agama. Buah dari keberanian berpikir itu adalah kehendak untuk memisahkan otoritas agama dari otoritas politik.
Sejak Aufklarung sampai ke zaman modern ini, negara-negara di Barat sudah ditandai dengan pemisahan agama dan politik itu. Malah itu sudah menjadi perihal yang begitu saja diandaikan dan terjadi. Paus tetap bisa menyerukan suara dan otoritasnya. Tapi otoritas itu dianggap saja sebagai satu dari sekian otoritas-otoritas lainnya. Meski demikian sungguhkah masyarakat Barat orang sudah sungguh-sungguh mundig, terbangun dari kemalasannya untuk benar-benar menggunakan akal budinya?
***
Ilmu pengetahuan modern yakin, komputer yang merekam apa saja secara teknis dan mekanis sampai ke tingkatnya yang paling kompleks. Tingkat tersebut suatu saat bisa dicapai. Pada titik pencapaiannya itu, mesin ciptaan manusia bahkan bisa mempunyai kemampuan yang “melebihi manusianya sendiri”, baik dalam aspek kesadaran akalnya maupun dalam aspek emosional perasaannya. Pengandaian semacam ini ternyata tidak mustahil, ketika manusia mengalami dan merasakan benar kemampuan teknologi Artificial Intelegence.
Ilmu pengetahuan modern sudah bersiap menyempurnakan landasan-landasan teknis dan mekanis bagi programnya yang amat kompleks. Dengan program itu diperhitungkan perkembangan manusia bisa disetir lewat pengendalian molekul-molekul DNA-nya. Begitulah, evolusi manusia yang dilihat oleh ilmu pengetahuan manusia yang berkerja dengan prinsip-prinsip reduksionisme dan teknis belaka. Secara tidak sadar, manusia seakan hanya diderajatkan pada level biologis keanimalannya saja.
Menurut Fukuyama, pandangan ini jelas berlawanan dengan cita-cita pencerahan Immanuel Kant. Dalam memandang manusia, Kant selalu bergulat untuk mendamaikan dualisme antara alam dan manusia. Menyelesaikan dualisme itu memang tidak mudah. Namun, Kant tidak pernah sedikit pun menyerah dan mengorbankan manusia hanya pada derajat kealamannya, apalagi keanimalannya. Ia tetap melihat, dalam dualisme itu, moral dan kebebasan manusia haruslah diutamakan.
Untuk itu Kant memikirkan tentang tatanan moral, yang menjamin agar kebebasan manusia tidak begitu saja dikebawahkan di bawah perundang-undangan, dan jangan sampai kebebasan manusia direduksikan karena perundang-undangan itu. Pendeknya, dalam perundang-undangan haruslah dimaktubkan bahwa kebebasanlah satu-satunya jaminan bagi manusia untuk bisa menjadi tujuan pada dirinya, karena itu ia tidak dapat dianggap sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan apa pun. Kebebasan yang dijamin oleh undang-undang inilah dasar dari hak asasi.
Filsafat Kant adalah upaya untuk benar-benar bisa memberikan pertanggungjawaban tentang kebebasan sebagai dasar hak asasi itu. Tanpa dasar filosofis demikian, martabat manusia itu disepelekan, dan kita akan terjerumus ke dalam pandangan relavitisme atau utilitarisme moral, yang bisa mereduksikan manusia di bawah hukum dan aturan formal demi tujuan yang bisa saja bertentangan dengan kemanusiaan.
Dan itulah yang terjadi pada ilmu pengetahuan sekarang. Sekarang kuasa ilmu pengetahuan seakan tiada batasnya lagi, sampai bisa mendikte manusia dan perilakunya, demi kepentingan-kepentingan di baliknya. Kecenderungan ini tidak bisa dilawan dengan alasan yang kurang rasional, misalnya dengan menyandarkan diri pada anjuran dan ajaran institusi-instusi ilahi seperti agama. Alasan untuk membantahnya juga harus didasarkan pada pemikiran yang rasional dan sekular.
Menurut Fukuyama, dalam arti ini filsafat Kant yang amat rasional dan sekular itu dapat kita andalkan sebagai pegangan untuk berwacana secara rasional pula dengan arus ilmu pengetahuan itu. Dengan bahasa rasional dan sekular, bukan dengan bahasa keilahian atau mitologis, kita seharusnya bisa mengatakan, bahwa arah ilmu pengetahuan yang kelewat batas dalam mendikte manusia itu sungguh berlawanan dengan cita-cita Aufklarung tentang manusia dan kemanusiaan. Itulah relevansi Kant: mengkritik kesewenangan rasionalitas yang melulu bersifat instrumental dengan argumen rasionalitas yang menginginkan pencerahan demi kemanusiaan dan perdamaian.
____
Sumber:
Sindhunata, "Immanuel Kant dan Aufklarung: Bangunlah dari Kemalasan Akalmu", dalam Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun ke-75, 2026, h. 24-49.


0 komentar:
Posting Komentar