alt/text gambar

Jumat, 30 Oktober 2026

Topik Pilihan: , ,

Penulisan Sejarah sama dengan Karya Sastra?

Bagi para pemikir dekonstruksionis, status penulisan sejarah disamakan dengan status karya sastra. Apa maksudnya? 

Bagi para pemikir dekonstruksionis (terutama dipengaruhi oleh pemikiran post-strukturalis seperti Jacques Derrida dan teori historiografi kritis seperti yang dikembangkan oleh Hayden White), menyamakan status penulisan sejarah dengan karya sastra berarti menyatakan bahwa sejarah bukanlah rekaman objektif yang murni mencerminkan "apa yang benar-benar terjadi," melainkan sebuah bentuk narasi fiksional/kreatif yang dikonstruksi menggunakan bahasa.

Berikut adalah poin-poin inti dari maksud pandangan tersebut:

1. Sejarah Dibangun Lewat Bahasa yang Tidak Stabil

Menurut perspektif dekonstruksi, bahasa tidak pernah secara transparan mewakili realitas yang objektif.

Kata-kata dalam teks sejarah mengalami pergeseran makna, bersifat tidak stabil (différance), dan selalu mengandung tafsir.

Karena sejarah hanya bisa diakses melalui teks atau tulisan, maka kebenaran sejarah tidak pernah lepas dari sifat bahasa itu sendiri—sama seperti sastra.

2. Peran "Plot" dan Imajinasi Sejarawan

Hayden White dalam karyanya menunjukkan bahwa ketika seorang sejarawan menulis sejarah, ia tidak sekadar menyusun fakta secara kronologis, tetapi memilih fakta, membuang sebagian lainnya, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita dengan plot (misalnya tragedi, komedi, romansa, atau satir).

Proses pembentukan plot, penggunaan kiasan (tropes), dan sudut pandang ini adalah keterampilan artistik/sastra, bukan semata-mata kalkulasi ilmiah yang kaku.

3. Runtuhnya Klaim "Objektivitas Mutlak"

Sejarah konvensional sering mengklaim memiliki objektivitas ilmiah yang terpisah dari karya fiksi.

Namun, bagi dekonstruksionis, klaim objektivitas itu adalah ilusi (metafisika kehadiran). Sejarah ditulis oleh subjek (sejarawan) yang memiliki latar belakang, bias politik, kelas sosial, dan kepentingan zamannya.

4. Sejarah sebagai Artefak Budaya/Narasi Kuasa

Karena statusnya disamakan dengan karya sastra, teks sejarah dibaca bukan sebagai "cermin masa lalu", melainkan sebagai artefak retoris.

Teks sejarah bekerja seperti narasi sastra: ia membangun ilusi kenyataan, mengatur tokoh-tokoh (pahlawan dan penjahat), serta seringkali dipakai untuk melegitimasi struktur kekuasaan tertentu yang sedang berkuasa.

***

Pemikir Dekonstruksionis: Status Penulisan Sejarah sama dengan Karya Sastra ?

Penyamaan ini mengandung beberapa arti mendasar:

1. Sejarah adalah sebuah bentuk "Teks" dan Narasi

• Tidak ada fakta mentah tanpa tafsir: Kaum dekonstruksionis memandang bahwa masa lalu yang mati tidak bisa "berbicara" sendiri. Agar menjadi sejarah, masa lalu harus disusun ke dalam bentuk bahasa, alur, plot, dan struktur narasi.

• Penggunaan Tropes dan Gaya Bahasa: Sejarawan—sama seperti novelis atau penyair—harus memilih sudut pandang, memilah data yang dimasukkan atau dibuang, serta merangkainya ke dalam bentuk plot (misalnya tragedi, komedi, romansa, atau satir). Sebagaimana dikemukakan teoretikus seperti Hayden White dalam Tropics of Discourse, penulisan sejarah tidak luput dari penggunaan kiasan (tropes) dan imajinasi sastrawi.

2. Bahasa yang Tidak Stabil dan Konsep Différance

• Berdasarkan pemikiran Jacques Derrida, bahasa tidak pernah secara transparan dan stabil mencerminkan realitas objektif.

• Makna dalam teks sejarah selalu bergeser, bersifat sementara, dan dipengaruhi oleh sistem tanda serta struktur retoris. Akibatnya, sejarah tidak pernah benar-benar menyajikan "kebenaran tunggal yang mutlak", melainkan salah satu bentuk konstruksi bahasa yang terbuka terhadap berbagai tafsir.

3. Kaburnya Batas antara Fakta (Sejarah) dan Fiksi (Sastra)

• Menyamakan sejarah dengan karya sastra bukan berarti menyatakan bahwa peristiwa Perang Dunia II atau Proklamasi itu khayalan belaka seperti novel fiksi. Namun, yang dimaksud adalah cara penyusunan dan pengemasannya menggunakan perangkat retorika yang serupa dengan fiksi.

• Sejarah diproduksi melalui pilihan subjektif pengarang, bias-bias ideologis, serta struktur kekuasaan zamannya, sama persis seperti bagaimana seorang sastrawan merancang sebuah cerita.


***


Sebagai tambahan, di bawah ini dilampirkan sebuah tulisan tentang pemikiran Hayden White tentang teks sejarah. Berikut tulisannya: 

Hayden White: Teks Sejarah sebagai Artefak Sastra

Dalam “Teks Sejarah sebagai Artefak Sastra”, Hayden White—seorang sejarawan yang bergerak di bidang kritik sastra—menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud dengan “meta-sejarah”. Upaya ini ditujukan untuk membantu pembaca memahami status epistemologis dari penjelasan sejarah, bentuk representasi sejarah, serta peran sejarah dalam pembentukan pengetahuan. 

White berpendapat bahwa narasi sejarah lebih erat kaitannya dengan sastra daripada dengan sains; bukan karena narasi sejarah bersifat fiktif, melainkan karena narasi sejarah menggunakan tropa (metafora, metonimia, sinekdoke, dan ironi) untuk menyusun peristiwa-peristiwa sejarah sedemikian rupa agar dapat dipahami oleh audiens. 

Menurut White, sejarawan melakukan “penyusunan ulang alur” (*re-emplotment*), pendeskripsian ulang, atau pengodean ulang atas peristiwa masa lalu, sehingga budaya kontemporer dapat memaknai masa lalunya. Dengan demikian, sejarah memiliki kemiripan dengan fiksi karena kedua genre tersebut menggunakan bahasa figuratif untuk membantu kita memahami realitas—dengan cara mempertentangkan atau mengumpamakannya dengan sesuatu yang dapat dibayangkan. Jadi, baik narasi sejarah maupun fiksi menggunakan strategi serupa dalam memaknai peristiwa masa lalu, terlepas dari apakah peristiwa tersebut nyata atau sekadar imajinasi. 

Argumen White memberikan kontribusi penting bagi historiografi karena argumen tersebut menyediakan sarana bagi sejarawan untuk mengembangkan kesadaran historis, dengan membantu mereka mengenali unsur-unsur fiktif dalam narasi sejarah yang mereka susun. 

Jauh sebelum James Berlin—yang berpendapat bahwa kita harus sadar akan landasan ideologis dalam setiap sejarah yang kita ciptakan—White menulis bahwa “pengenalan ini akan menjadi penawar yang ampuh terhadap kecenderungan sejarawan untuk terperangkap dalam prasangka ideologis; prasangka yang tidak mereka sadari sebagai ideologi, melainkan mereka anggap sebagai persepsi yang ‘benar’ mengenai ‘bagaimana segala sesuatu sebenarnya terjadi’. 

Sebagaimana dijelaskan oleh White, unsur ideologis merupakan unsur fiktif dalam wacana kita sendiri; oleh karena itu, dengan menyadari bagaimana mereka menggunakan trope (kiasan), sejarawan menjadi paham kapan mereka sedang melakukan langkah-langkah yang bersifat ideologis. Meskipun White tidak secara eksplisit menyebutkan retorika, saya ingin menambahkan bahwa dalam proses tersebut, sejarawan juga akan menyadari unsur-unsur retoris dalam karya sejarah mereka. Bagaimanapun, ketika kita sadar akan langkah-langkah ideologis yang kita ambil dalam wacana kita, kita sekaligus menjadi lebih piawai secara retoris. Dengan demikian, meskipun sejarah mungkin sangat erat kaitannya dengan sastra, sejarah juga sangat erat kaitannya dengan retorika. 

Walaupun poin ini mungkin tampak jelas bagi kita yang mendalami retorika, apakah semua sejarawan menganggap karya mereka sebagai sesuatu yang bersifat retoris? Bagaimana jadinya karya sejarah jika mereka menganggapnya demikian?

Menghubungkan sejarah dengan sastra bermanfaat bagi para sarjana retorika. Sebagaimana sejarawan harus mengembangkan kesadaran historis, demikian pula para sarjana di bidang kita. White menjelaskan bahwa “seperti sastra, sejarah berkembang melalui penciptaan karya-karya klasik—yang sifatnya tidak dapat disanggah atau dinegasikan—dan justru ketidaksanggahan inilah yang membuktikan sifat sastrawi dari karya-karya klasik dalam sejarah”. 

Seperti yang kita ketahui, kanon retorika kuno bersifat kuat namun terbatas. Dengan terbitnya karya-karya seperti *Reclaiming Rhetorica*, *Rhetoric Retold*, serta teks lain semisal *Rhetoric Before and Beyond the Greeks*, kanon retorika kuno perlahan mulai diperluas; namun secara umum, kita memahami sejarah bidang kita melalui teks-teks kanonik tersebut. Jika kita menganggap kanon sebagai narasi besar tentang sejarah retorika, tropa (kiasan) apa saja yang berperan dalam membentuk cara kita memandang masa lalu disiplin ilmu ini? *Mythos* (mitos) apa yang telah diciptakan? Apa yang dibayangkan? Apa yang nyata? Ideologi apa yang terlibat saat teks-teks kanonik ini diproduksi ulang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk diajukan dan ditelusuri karena, sebagaimana diingatkan oleh Kellnar, “kita tidak bisa benar-benar menggenggam realitas, tetapi kita bisa mengklaimnya—dan kita memang mengklaimnya—melalui retorika”. 

Oleh karena itu, kita sebenarnya tidak mengetahui realitas sejarah retorika yang sesungguhnya, meskipun kanon retorika seolah mengklaim bahwa kita mengetahuinya. 

“Rasa realitas yang dikonstruksi” inilah yang mengharuskan kita untuk mengembangkan kesadaran historis terhadap bidang kita sendiri. Dalam istilah White, kita perlu mengembangkan sebuah metasejarah retorika agar kita mulai mengakui, mengenali, dan memahami bagaimana serta mengapa sejarah disiplin ilmu kita dibentuk sedemikian rupa, siapa yang diuntungkan oleh narasi sejarah ini, dan siapa yang justru dirugikan olehnya.

Mengembangkan metasejarah dalam bidang kita merupakan hal yang penting, karena kita harus benar-benar sadar bahwa saat kita menulis ulang sejarah, kita juga menulis ulang masa kini. Atwill menjelaskan bahwa kanon—beserta teori dan metodologi—"menyertakan" nilai-nilai suatu komunitas disipliner, memperkuat status referensial komunitas tersebut dengan cara mereproduksi nilai-nilainya dan menegaskan praktik-praktiknya. Oleh karena itu, ketika kita menulis ulang sejarah, kita memasukkan nilai-nilai kontemporer, yang kemudian mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru dan mengembangkan wawasan baru. Nilai, keyakinan, pertanyaan, dan wawasan ini memandu penelitian kita serta cara kita menyajikan sejarah tersebut; dengan demikian, terciptalah sejarah baru, yang pada gilirannya melahirkan pemahaman baru tentang masa kini. 

Sebagaimana diingatkan oleh Berlin, saat kita menulis sejarah, kita juga menciptakan harapan dan visi untuk masa depan; dengan menulis ulang sejarah, kita pun menulis ulang masa depan kita. Dalam perspektif ini, sebagai sarjana retorika, kesadaran sejarah yang perlu kita kembangkan haruslah berfokus pada seperti apa masa kini dan masa depan yang ingin kita ciptakan bagi disiplin ilmu kita. Kita perlu membayangkan bagaimana disiplin ilmu kita akan berubah seiring dengan dimasukannya sejarah-sejarah alternatif ke dalam kanon. Bagaimana disiplin ini telah berubah sejauh ini? Bagaimana kita ingin disiplin ini berubah di masa depan? Kita juga harus mempertanyakan ideologi apa yang bekerja dalam bidang kita—serta dalam cara kita memandang diri sebagai sarjana—yang membuat kita berkeinginan (atau justru enggan) untuk menyertakan sejarah-sejarah alternatif ke dalam kanon yang sudah mapan, atau memberikan prioritas pada sejarah-sejarah tersebut saat kita mengajarkan retorika. Langkah-langkah ini pada akhirnya akan mengubah masa kini sekaligus masa depan kita. Argumen White sangat penting bagi studi retorika karena ia mengingatkan—bahkan menginspirasi—kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut; argumen ini membantu kita mengembangkan kesadaran sejarah, baik sebagai sebuah disiplin ilmu maupun sebagai sarjana secara individual.

Sumber: penelusuran Google,  dengan kata kunci: 

"apa yang dimaksud dengan bagi para pemikir dekonstruksionis, status penulisan sejarah disamakan dengan status karya sastra"?


0 komentar:

Posting Komentar