alt/text gambar

Jumat, 16 Januari 2026

Topik Pilihan: , ,

MANUSIA TAK BISA HIDUP TANPA MAKNA

Oleh: F Budi Hardiman


Banyak hal dalam dunia makna tidak kita ketahui, dan ketidaktahuan kita tentangnya kiranya jauh lebih besar lagi daripada hal-hal yang masih belum kita ketahui tentang dunia alamiah. 

Dunia makna yang digumuli manusia merupakan suatu teritorium yang penuh kontroversi, penuh paradoks, penuh labirin interpretasi, dan memiliki kedalaman yang tidak pernah tuntas untuk dijelaskan. 

Fakta tidaklah cukup bagi manusia; manusia menjadi manusia lewat makna hidupnya, termasuk makna dari fakta yang ditemukannya, dan hal itu tidak hanya menyangkut penelitian, melainkan melibatkan pengalamannya, entah itu perjuangan, harapan, penderitaan, atau kebahagiaan. 

Pencarian makna sudah terjadi jauh di masa silam peradaban manusia sebelum pencarian fakta dalam modernitas. Memahami makna atau—dengan istilah Heidegger—Verstehen lebih primordial daripada mengetahui fakta; ia mendahului pengetahuan akan fakta karena melekat pada eksistensi kita sebagai makhluk yang terbuka terhadap dunia. 

Kita memahami dengan memaknai, termasuk memaknai hal-hal yang tidak kita ketahui (Menurut Heidegger, memahami makna mendahului dikotomi subjek dan Objek yang menandai pengetahuan faktual). Kita tidak tahu fakta tentang asal kesadaran atau tentang alasan atau tujuan eksistensi kita, tetapi kita memahami makna kehidupan kita. 

Teori evolusi memberikan fakta biologis, tetapi fakta itu bukan apa-apa, bila manusia tidak lebih dahulu memaknainya. Makna dapat dikaitkan dengan fakta dan bisa juga mendahului ataupun melampaui fakta. 

Sebelum ditemukan evolusi sebagai fakta biologis, manusia telah memaknai asal-usul hidupnya, entah sebagai penciptaan atau reinkarnasi, dan sampai hari ini makna-makna pra-ilmiah itu tetap ada. Sains tidak dapat mengusir mereka dari dunia. Dunia itu sendiri terdiri dari jejaring makna yang rumit, dan di mana pun ada jejaring makna, di situ juga ada suatu dunia. Kemajemukan makna menghasilkan kemajemukan dunia. 

Dunia makna yang digumuli oleh para sastrawan, teolog, atau filsuf tidak kalah rumitnya dengan dunia fakta yang diteliti para ilmuwan. 

Alam yang diteliti para ilmuwan alam itu juga tidak netral dari makna. Dari perspektif dunia makna, objektivitas dan netralitas yang dikejar oleh para ilmuwan alam itu pun makna.

"Manusia dikutuk untuk makna”, demikian tulis fenomenolog Prancis, Maurice Merleau-Ponty. Manusia tidak dapat hidup tanpa makna, maka segalanya dimaknai agar menjadi bagian dirinya dan menjadi familiar baginya. Keberuntungan dan kemalangan, keberhasilan dan kegagalan, perjuangan dan penarikan diri—semua ini dimaknai dan dikaitkan dengan kebenaran dalam dunia makna. Namun, fakta tidak boleh dikacaukan dengan makna karena keduanya menghadapi kompleksitas pada ranah mereka masing-masing. 

Foto: Patung raksasa di Munich

Bahaya lain yang tak kalah besarnya berasal dari sikap sebaliknya, yakni bila orang memutlakkan kebenaran faktual dan menyingkirkan kebenaran-kebenaran subjektif dan intersubjektif. Secara historis, Pencerahan Eropa dan pendidikan modern telah mengemansipasi masyarakat dari hiperbolisme makna yang bisa timbul dari agama dan kebudayaan dan menempatkan fakta sebagai kebenaran akhir, tetapi persis di sini terjadi ironi yang dilukiskan dengan cara lain oleh Horkheimer dan Adorno dalam Dialektik der Aufklarung ('Dialektika Pencerahan', 1944): kebenaran faktual itu pada gilirannya meraih supremasi dan menjadi Kebenaran (dalam huruf besar K). 

Realitas tidak seluruhnya dapat dijelaskan sebagai fakta. Para kritikus kebenaran yang telah kita bahas mewaspadai bahaya itu yang dapat timbul baik pada ranah epistemologis maupun aksiologis, jika kebenaran faktual dianggap sudah memadai untuk menjelaskan segalanya. Bahaya itu disebut dengan istilah reduksionisme. 

Istilah ini mengacu pada suatu bentukbpenjelasan yang terlalu menyederhanakan realitas yang kompleks, entah secara ontologis atau epistemologis. Jika bicara tentang kurang atau lebih, kita boleh mengatakan bahwa hiperbolisme itu berlebihan, sedangkan reduksionisme itu berkekurangan. Keduanya menyiratkan pengabaian: Sementara hiperbolisme mengabaikan fakta demi makna, reduksionisme mengabaikan makna demi fakta.

Kita mengenali suatu pandangan sebagai reduksionisme, jika dalam pandangan itu suatu model teoretis tertentu, entah dari ilmu-ilmu alam atau dari ilmu-ilmu sosial, dianggap memadai untuk menjelaskan dunia real yang sebenarnya jauh lebih kaya akan makna daripada model itu. 

Fisika, misalnya, memahami dunia real dengan abstraksi-abstraksi matematis, maka pemahaman itu tidak identik dengan dunia real itu sendiri. Fakta, bahkan dalam fisika, tidak lepas dari abstraksi dan konstruksi pikiran. Menyamakan hasil abstraksi dan konstruksi pikiran dengan dunia real adalah sebuah kekeliruan epistemis yang seharusnya dihindari (Bdk. Susanne K. Langer, Philosophy in a New Key. A Study in the Symbolism of Reason, Rite, and Art, (New York: A Mentor Book, 1954), hlm. 74).

Konsep Kritik yang muncul dari Pencerahan Eropa dibidikkan kepada hiperbolisme makna, sebagaimana terkandung dalam mitos, superstisi, dan bahkan agama; namun, sebuah kritik kebenaran seharusnya tidak hanya terarah ke sana, melainkan juga ke arah reduksionisme makna yang bisa muncul dari realisme ilmiah. 

Tujuannya adalah menempatkan sesuatu fakta dan makna pada tempatnya. Betul bahwa debunking, demitologisasi, dan deilusionasi diperlukan untuk menyingkap kebenaran faktual suatu keyakinan. Perdukunan, faithhealing, kultus relikui, atau hal-hal yang semacam itu dapat dikonfrontasikan dengan fakta agar orang tidak terlalu dibebani atau bahkan ditipu lewat hiperbolisme makna. Namun, kita juga perlu hati-hati karena membersihkan masyarakat dari makna-makna dan simbol-simbol religius dan kultural demi kebenaran faktual juga akan memiskinkan kehidupan yang dapat secara dialektis beralih menjadi irrasionalisme baru. Simbol-simbol bermakna menempatkan manusia di dalam suatu kediaman, suatu home, suatu kampung halaman yang memberinya rasa kerasan memukimi dunia ini. 

Reduksionisme tidak hanya menyempitkan pemahaman kita tentang kebenaran sehingga menyangkal kemungkinan adanya kebenaran-kebenaran lain, melainkan juga mencaplok kekayaan dan kedalaman kenyataan ke dalam satu-satunya sudut pandang kebenaran faktual. Akibatnya, wilayah-wilayah kenyataan yang lain, seperti penghayatan atau ungkapan subjektif (kenyataan spiritual, psikologis, estetis, dst) dan hubungan intersubjektif (kenyataan kultural, sosiologis, politis, ekonomis, dst.) dilihat secara karikatural melulu sebagai 'mekanisme-mekanisme' dunia objektif yang ahistoris. Padahal bahasa yang kita pakai, termasuk bahasa 'objektif' sains, tidak lepas dari pemaknaan subjektif dan intersubjektif juga yang berciri historis. Dunia ini selalu bercakap-cakap, bercerita, dan memaknai, termasuk memaknai dunia objektif, maka dunia objektif juga tidak lepas dari pemaknaan manusia. Dunia objektif, sejauh disentuh oleh manusia, masuk ke dalam struktur-struktur naratif manusia.  

Kuhn, Feyerabend, dan Rorty membuka mata kita untuk melihat bahwa metode ilmiah bukan hanya berciri historis dan sosial, melainkan juga bahwa pengetahuan yang dihasilkannya tidak dapat ditotalisasi sebagai seluruh kenyataan. Begitu juga Dilthey, Heidegger, Gadamer, dan Habermas telah menempatkan kebenaran faktual sebagai salah satu aspek kebenaran. Lebih radikal, Foucault menelanjanginya secara arkeologis sebagai kekuasaan. Mereka menghadapi reduksionisme menurut cara mereka masing-masing. Bukan hanya ilmu-ilmu alam, melainkan juga ilmu-ilmu kemanusiaan bisa jatuh ke reduksionisme, sebagaimana terjadi pada Marxisme yang menganggap segalanya hanyalah proses ekonomi yang material atau terjadi pada Freudianisme yang memandang kebudayaan dan agama hanya sebagai realisasi seksual manusia. 

Dewasa ini momok ini masih membayangi pengetahuan kita. Reduksionisme, misalnya, tampak dalam klaim objektivistis neurosains bahwa yang berpikir bukan “diriku”, melainkan “otak”, atau yang mencintai bukan “hatiku”, melainkan “hormon”. Bahasa ilmiah yang mengobjektifkan itu tidak cocok dengan pemahaman diri kita sehari-hari tentang diri kita karena 'diriku' tidak sama dengan 'otakku'. Seperti dikatakan Lombrozo, “memahami pikiran tidak sama dengan memahami otak”. Ada sesuatu yang “lebih” daripada otak dan hormon yang mewujudkan pikiran dan hati. 

Paham reduksionistis tentang dunia dan manusia disebut dengan beberapa nama untuk menjelaskan aspek-aspek berbeda yang direduksi, yakni saintisme, naturalisme, positivisme, dan materialisme. 

Reduksionisme menganggap penemuan kebenaran di dunia objektif cukup untuk menjelaskan dunia-dunia lain sehingga sensibilitas terhadap dunia makna yang bersifat subjektif dan intersubjektif menjadi tumpul atau bahkan hilang. Kita tentu akan berhati-hati di sini: reduksionisme bukanlah sains, melainkan sebuah pandangan sempit tentang sains, ia juga bukan filsafat sejati, melainkan sebuah pseudo-filsafat atau ideologi sains. Sementara filsafat dan sains masih mencari kebenaran, sebuah pseudo-filsafat seperti reduksionisme juga menghentikan pencarian dengan klaim bahwa pandangannya sudah benar secara final dan definitif sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi. Padahal realitas itu bersegi-segi dan dapat diakses dengan berbagai cara. Proses pembuahan dan perkembangan janin, misalnya, dapat dimaknai secara berbeda-beda. Proses itu tidak harus membeberkan fakta bahwa kita adalah organisme alamiah yang tunduk pada hukum-hukum biologis, melainkan juga membuat kita takjub entah akan keagungan penciptaan ataupun menyingkap misteri Ada. Namun, reduksionisme merasa cukup diri dengan fakta proses biologis itu, dan kerap kali dengan implikasi menyempitkan gambaran diri kita hanya sebagai organisme alamiah. 

Salah satu jenis reduksionisme adalah naturalisme yang bisa muncul dari pandangan yang berbasis sains ataupun filsafat. Pandangan ini mereduksi kehidupan yang berkesadaran pada kesintasan (survival). Memang tidak ada yang bisa membantah kebenaran faktual bahwa kesintasan merupakan hukum keras organisme alamiah, termasuk manusia: namun, mereduksi berbagai dimensi yang timbul dari kesadaran manusia menjadi persoalan kesintasan membuat kebenaran biologis itu tidak benar bagi kehidupan yang berkesadaran. 

Betul bahwa mekanisme kesintasan merupakan suatu keniscayaan bagi makhluk alamiah, termasuk manusia. Diri manusia memang bagian dari alam, tetapi dirinya bukan hanya alam, dan di dalam ambivalensi kedudukan manusia ini kebenaran yang dicari dan ditemukan manusia tidak dapat direduksi ke dalam kebenaran faktual belaka. 

Sumber: 

(F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya, hlm. 207-214).



0 komentar:

Posting Komentar