TUHAN BELUM MATI
(TEMPO, No. 05/XXIX/3 - 9 April 2000, “Selingan”)
Yahudi, Islam, dan Kristen berasal dari mata air yang sama. Apa yang membuat mereka berperang?
“Tuhan sudah mati." Awal tahun ini, majalah terkemuka Inggris The Economist menurunkan edisi mileniumnya yang sangat provokatif. Para redakturnya memilih "God" (Tuhan) sebagai obyek dalam rubrik obituari mereka.
Para penganut agama mana pun akan menganggapnya sebagai kemusyrikan. Namun, The Economist punya argumen. Tuhan, atau lebih tepatnya "Tuhan seperti yang dipersepsikan oleh agama-agama", telah menjadi konsep yang membingungkan. Jika Tuhan adalah "Yang Tertinggi". yang menciptakan semua manusia, dan karenanya tunggal, kenapa Dia justru menjadi sumber pertengkaran di antara umat manusia? Kenapa Tuhan "Yang Mahakuasa" bisa tercabik-cabik sedemikian rupa?
Tuhan tidak pernah mati. Di Timur Tengah khususnya, Tuhan menunjukkan vitalitasnya yang tinggi justru karena Dia menjadi sumber konflik yang tiada ujung di antara penganut agama-agama. Seribu tahun lalu, kawasan ini mengilhami Perang Salib antara Islam dan Kristen yang panjang dan berdarah. Dalam setengah abad terakhir, dia menjadi ladang pertempuran Arab (Islam maupun Kristen) versus Yahudi.
Dan itu ironis, mengingat Islam, Kristen, dan Yahudi sebenarnya memiliki akar yang sama. Mereka sama-sama mengakui Ibrahim (Abraham) sebagai pembawa ajaran monoteistik, yakni kepercayaan kepada Tuhan yang tunggal. Ketiganya juga dikenal sebagai agama samawi, yang percaya bahwa Tuhan menurunkan firman kepada manusia lewat utusan-utusan-Nya, yakni nabi dan rasul.
Persamaan antara ketiga agama itu mungkin paling mudah ditelusuri melalui Islam—agama yang terakhir muncul daripada dua lainnya. Orang Islam memang hanya mengakui Alquran sebagai himpunan firman Tuhan paling komprehensif dan paling akurat tercatat sekarang ini. Na- mun, bahkan Alquran mewajibkan pembacanya untuk percaya kepada Zabur, Taurat (Perjanjian Lama), maupun Injil (Perjanjian Baru).
Sementara Yahudi dan Kristen tidak mengakui kenabian Muhammad, setiap muslim mengakui nama-nama dalam kitab-kitab suci sebelumnya, meski dengan lafal berbeda. Mereka mengenal Daud (David) yang membawa Zabur, Musa (Moses) yang mengantarkan Taurat, dan Isa (Jesus) yang mewartakan Injil. Ketiga agama juga sama-sama mengenal cerita tentang Nuh (Noah), Yusuf (Joseph), serta Ishak (Isaaq).
Dari berbagai nama itu, Yesus mungkin adalah tokoh yang paling panas diperdebatkan di antara ketiganya. Seperti Kristen menafikan kenabian Muhammad, begitu pula Yahudi manafikan Yesus. Dua ribu tahun lalu, ketika Palestina berada di bawah kekuasaan Romawi, Yesus dianggap sebagai pembawa ajaran sesat oleh agama mapan Yahudi kala itu. Yesus kemudian diadili dan disalib.
Seperti Yahudi, Islam menolak konsep Kristen tentang Yesus sebagai putra Tuhan. Menurut Islam, para nabi seperti Isa dan Muhammad adalah contoh manusia sempurna. Tapi, tetap manusia. Meski begitu, Islam memberi penghormatan lebih baik terhadap Isa daripada Yahudi. Yesus versi Islam, yaitu Isa bin Maryam (Maria), memiliki prerogatif spiritual yang bahkan tak dipunyai oleh Muhammad.
Menurut Alquran, hanya Isa dan Maryam yang terlahir tanpa setan pernah bisa menyentuhnya. Bahkan Muhammad harus mengalami penyucian jiwa sebelum menerima wahyu. Muhammad juga tidak memiliki kekuatan supernatural seperti halnya Isa, yang bisa membuat orang buta menjadi melek, bahkan menghidupkan orang mati.
Episode penyaliban Yesus membawa konsekuensi jauh. Orang-orang Kristen mengecam Yahudi sebagai "pembunuh Yesus". Dan pandangan itulah yang antara lain mengilhami penindasan Yahudi di Eropa—progrom, kamp konsentrasi, dan kamar gas—khususnya dalam dua abad terakhir. Dalam hal itu, orang Kristen lupa bahwa Yesus adalah Yahudi pula.
Kecaman terhadap orang Yahudi memang juga menjadi tema populer dalam khotbah-khotbah Jumat sekarang ini. Namun, Islam dan Yahudi sebenarnya lebih dekat secara teologis. Mereka juga sama-sama tidak makan daging babi—Yahudi mengenal makanan kosher seperti Islam mengenal makanan halal. Lelaki Yahudi dan Islam disunat, konsep yang tidak dikenal dalam arus besar Kristen. Dan dalam sejarah, seperti pada era Andalusia Islam di Spanyol, banyak catatan yang menunjukkan hubungan harmonis Islam dengan Yahudi ketika hubungan mereka dengan Kristen justru sangat buruk.
Konflik Islam dan Yahudi terutama muncul setelah berdirinya negara Israel di tanah Palestina pada 1948.
Penindasan Yahudi di Eropa mengilhami munculnya Zionisme—gagasan mendirikan negara eksklusif untuk bangsa Yahudi. Gagasan itu membawa konsekuensi yang mungkin tidak dibayangkan orang-orang Yahudi sendiri: mereka mempraktekkan rasialisme dan diskriminasi yang mereka kecam. Sebagian orang Yahudi sendiri menolak Zionisme dan negara Israel karena mereka pandang sebagai konsep yang sekularistis. Lebih dari itu, Zionisme juga menyusutkan Yahudi—agama yang sama universalnya dengan Islam maupun Kristen—menjadi sekadar agama suku.
Yahudi hanya bisa mendirikan negara Israel dengan menafikan keberadaan serta hak-hak Palestina. Dan di sinilah Islam serta Kristen dipersatukan oleh keresahan yang sama. Arab Palestina, yang terusir ke luar atau tertindas setelah Israel berdiri, terdiri atas penganut Islam dan Kristen. Kedua agama juga sama-sama memiliki tempat suci di Yerusalem yang kini dikuasai Israel. Yahudi, Islam, dan Kristen kini memperebutkan tempat yang sama.
Dan Tuhan memang belum mati, kendati memiliki banyak wajah. Pertengkaran memperebutkan Tuhan dan simbol-simbolnya tidak hanya berlangsung di antara ketiganya. Bahkan dalam tiap agama itu, orang kadang masih berbunuhan untuk berlomba menyenangkan-Nya. Seperti Sunni dan Syiah dalam Islam, atau Katolik dan Protestan dalam Kristen, serta Yahudi Ortodoks dan Reformis.
Namun, "Tuhan yang berbeda-beda" sesungguhnya tidak selalu mengilhami pertempuran berdarah. Misalnya dalam kisah tentang Umar bin Khattab—salah satu khalifah dalam sejarah Islam pasca-Muhammad.
Alkisah, jauh sebelum Perang Salib, Umar berhasil menguasai Yerusalem. Dia tidak membantai atau mengusir orang-orang Kristen maupun Yahudi. Sikap yang simpatik itu membuat orang-orang Kristen bahkan mempersilakan Umar melakukan salat di gereja mereka yang paling suci, yakni Gereja Holy Sepulchre. Umar menolak. Alasannya, dia tidak ingin gereja itu kelak dianggap sebagai tempat suci oleh orang Islam. Dia mendirikan sebuah masjid kecil di sebelah gereja.
Bahwa Tuhan memiliki banyak wajah, dan Umar membiarkannya seperti itu, mungkin justru menunjukkan kemaha-kuasaan-Nya. Bukan kematian-Nya.
Farid Gaban
Sumber: TEMPO, No. 05/XXIX/3 - 9 April 2000


0 komentar:
Posting Komentar