alt/text gambar

Minggu, 31 Mei 2026

Topik Pilihan: , ,

KATEKISMUS HEIDELBERG

(TEMPO, No. 14 Th. X, 31 MEI 1980)


Oleh: Th. Sumartana


John Calvin ternyata tidak hanya berpengaruh di Jenewa. Ide-ide pembaharuannya menyusup juga ke tanah Jerman. Reformator yang kurus bongkok, nampak kurang tidur dan berwatak keras ini bahkan sempat menarik Raja Jerman Frederick III menjadi pengikut ajarannya. Selanjut- nya raja ini meminta kesediaan Caspar Olevianus, pemimpin gereja reformed di Kota Heidelberg (bersama dengan Zacharias Ursinus) untuk menulis sebuah katekismus. Dan jadilah Katekismus Heidelberg yang terkenal itu pada tahun 1562.


Di Indonesia sejak tahun 50-an katekismus ini lebih dikenal dengan nama ‘Pengajaran Agama Kristen', atau versi lain ‘Penghibur Sejati'. Buku kecil ini amat populer di kalangan umat Protestan, khususnya di kalangan kaum calvinis. Sebagaimana Calvin, golongan terakhir ini memang suka pada disiplin, aturan keras serta ajaran ortodoksi.


Dikarang dalam bentuk tanya-jawab. Terdiri atas 129 pertanyaan, dan setiap jawaban diamini dengan kutipan alkitab. Bagi mereka yang ingin 'naik sidi' atau ingin menjadi anggota jemaat dewasa (yang punya hak suara dalam rapat jemaat), maka selama 52 minggu penuh harus mempelajari katekismus tersebut. Menghafal mati isi buku tersebut biasanya akan menyenangkan guru agama. Bila lulus mereka boleh turut makan roti dan minum anggur perjamuan. Tapi bila salah menjawab, lebih-lebih bila jawaban dikarang-karang sendiri, bisa-bisa upacara inisiasi tertunda.


Katekismus Heidelberg ini amat bersesuaian dengan katekismus Calvin (Calvin sendiri menulis versi Pengajaran Agama Kristen-nya sendiri), yang bersandar pada ke tiga dalil reformatoris dengan ke tiga 'sola'nya. Yaitu sola gracia, sola fide dan sola scriptura (hanya anugerah, hanya iman dan hanya alkitab).


la merupakan ciri dari iman protestantisme dan sekaligus menjadi bingkai dari ortodoksi dari kalangan itu. Pertanyaan pertama dan kedua misalnya, berbunyi sebagai berikut: Apakah satu-satunya penghiburan saudara baik pada masa hidup maupun pada waktu mati? Berapa bagian yang harus saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini saudara boleh hidup atau mati dengan selamat?


Dan konon kabarnya di masa hidup Calvin, semua orang bahkan anak-anak sekalipun bisa menghafal rumus-rumus dogma dengan amat lancarnya.


Sukarno


Sekira 400 tahun kemudian, di kota yang sama, Heidelberg, muncul Katekismus Heidelberg yang lain. Kali ini lebih menyangkut soal campuran daripada khusus soal agama. la lahir dari suatu pidato, bukan karena dipesan raja.


Saat itu Sukarno berdiri di podium Universitas Heidelberg. Berpidato di hadapan civitas academica serta para pejabat negara. Pertengahan tahun 50-an Sukarno memang banyak jalan. Baik ke luar Jawa maupun ke luar negeri. Di bawah tekanan kampanye Pemilu tahun 1955, serta di tengah-tengah simpang-siurnya pilihan ideologis sesudahnya; Sukarno seperti semakin didesak untuk merumuskan alternatif ideologinya sendiri. Dan sambil jalan-jalan itulah Sukarno berusaha menjelaskan posisinya dengan secermat-cermatnya.


Menurut sejarahwan katolik Belanda, Muskens, pidato Sukarno di Heidelberg tersebut merupakan salah satu kunci yang paling eksplisit untuk memahami alam pikiran Sukarno. Tak ayal Muskens pun menamai pidato Sukarno itu 'Katekismus Heidelberg'. Di situ inti ajaran sukarnoisme diungkapkan, yang pada gilirannya akan menjadi penyangga utama dari kedudukan Sukarno di masa Demokrasi Terpimpin.


Arkian, maka ketika Sukarno berdiri di mimbar Universitas Heidelberg, ia pun mengucapkan kuliah umum berjudul: ‘Gerakan spiritual di Asia sebagai kekuatan moral dunia'. Akhirnya tiba pula pada Pancasila sebagai dasar filsafat negara. 'Nasionalisme kami mengalir dari sumber yang benar-benar asli pribumi . . . suatu kebangkitan kembali prinsip-prinsip dasar yang telah berabad-abad terkandung dalam kehidupan bangsa Indonesia . . . .’ Seterusnya sebagaimana biasa dalam urutan nomor isi kitab dogmatika, Sukarno pun lalu bicara soal 'persatuan dunia', 'kekuatan ide' dan soal 'kebenaran absolut'. Tak lupa ia pun mencaci pula masyarakat Barat yang materialistis.


Membaca ini maka Muskens segera menudingkan telunjuknya: Jawanisme! Paling tidak (kalau Muskens tidak hanya berolok-olok menyebut pidato Sukarno sebagai 'Katekismus Heidelberg') atau sekurang-kurangnya ia adalah 'Katekismus Jawa' yang diucapkan di Heidelberg.


Tapi, bagaimana nasib 'Katekismus Heidelberg' asli yang diucapkan di tanah Jawa? Bisakah orang Jawa benar-benar menjadi seorang 'protestan', lebih-lebih calvinis? Muskens mungkin menjawab tidak'. Nah, mungkin orang Jawa punya caranya sendiri untuk menjawab.


Sumber: TEMPO, No. 14 Th. X, 31 MEI 1980

0 komentar:

Posting Komentar