Ada pertanyaan sederhana yang jarang sekali dijawab dengan jujur:
"Bagaimana kabarmu?"
Dan ada jawaban yang hampir selalu diberikan tanpa berpikir:
"Baik-baik saja."
Kita melakukannya setiap hari. Di kantin, di ruang rapat, di lorong kampus, di percakapan singkat. Kata-kata itu keluar begitu otomatis, begitu terlatih, sehingga kita sendiri terkadang tidak lagi sadar bahwa itu adalah sebuah kebohongan atau setidaknya, sebuah penyederhanaan yang brutal terhadap kenyataan batin kita.
Sebab kenyataannya, manusia hampir tidak pernah benar-benar "baik-baik saja." Bukan dalam pengertian yang dalam. Ada kecemasan yang mengendap di balik senyuman. Ada rasa malu yang disimpan rapat-rapat. Ada kerinduan terhadap sesuatu yang bahkan sulit diberi nama. Ada luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh, hanya terbiasa ditanggung.
Kita tidak hanya sedih, kita merasa malu karena sedih. Sebab dunia di sekeliling kita seolah terus berdenyut dengan kegembiraan, dan kesendirian kita terasa seperti kegagalan pribadi yang memalukan.
Inilah yang oleh para filsuf disebut sebagai tekanan normatif kebahagiaan sebuah ekspektasi sosial yang tidak tertulis namun sangat kuat, bahwa keadaan normal adalah gembira, dan segala bentuk kesedihan adalah penyimpangan yang harus segera diatasi, ditutupi, atau minimal tidak ditampakkan di muka umum.
Kita hidup di bawah "tekanan luar biasa untuk terus tersenyum," tulis seorang pemikir kontemporer, "agar tidak mengejutkan orang lain, tidak memberi amunisi kepada musuh, dan tidak menguras energi mereka yang rentan."
Akibatnya, kita menanggung beban ganda yang sangat melelahkan, sedih, dan kemudian sedih karena sedih. Kita tidak hanya merasakan duka kita menghakimi diri sendiri atas duka itu.
Dan dalam kesendirian penghakiman itu, kita semakin yakin bahwa hanya kitalah yang merasakan hal ini. Bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri kita secara khusus. Bahwa orang lain, entah bagaimana caranya, telah berhasil menyelesaikan masalah eksistensial yang masih menghantui kita.
Ini adalah salah satu ilusi paling merusak yang pernah kita percayai.
Jika kita mau jujur dan melihat dengan teliti kepada seluruh seni yang pernah dibuat oleh manusia sepanjang sejarah dari lukisan gua Lascaux yang berumur tujuh belas ribu tahun hingga puisi yang ditulis tadi malam oleh seorang remaja di kamar tidurnya kita akan menemukan satu benang merah yang membentang di sepanjang itu semua: duka.
Bukan kegembiraan. Bukan kemenangan. Bukan kemakmuran.
Duka.
Cinta yang tak terbalas. Kemiskinan yang membelit. Penghinaan yang membekas. Kecemasan yang tak kunjung reda. Kehilangan orang-orang yang kita cintai. Rasa malu yang mengiringi hasrat. Persaingan yang membutakan. Penyesalan atas jalan yang tidak kita tempuh. Perasaan terasing di tengah keramaian. Kerinduan terhadap sesuatu yang tidak pernah kita miliki, atau pernah kita miliki namun telah pergi.
Inilah bahan baku utama seni sepanjang zaman. Homer menulis tentang amarah Akhilles dan air mata Priamos. Dante menurunkan ke neraka orang-orang yang duka dan dosanya ia pahami. Shakespeare mengisi panggung dengan orang-orang yang hancur oleh cemburu, ambisi, dan kehilangan. Para sufi dan penyair Persia Rumi, Hafiz, Omar Khayyam menulis tentang kerinduan dan kefanaan. Para pelukis Belanda abad ketujuh belas melukis ruang-ruang sunyi yang penuh kesepian yang terkendali. Beethoven menggubah simfoni dari keheningan dan ketuliannya yang makin dalam.
Seni bukan cermin yang memantulkan keindahan. Seni adalah tempat penyimpanan rasa sakit yang telah diubah menjadi sesuatu yang bisa ditanggung bersama-sama.
Franz Kafka, dalam salah satu suratnya yang paling terkenal, menuliskan sesuatu yang layak direnungkan berulang-ulang:
"Sebuah buku haruslah kapak untuk memecah lautan beku di dalam diri kita."
Ia tidak sedang berbicara tentang hiburan. Ia tidak sedang berbicara tentang estetika atau keindahan formal. Ia berbicara tentang fungsi terdalam dari seni, untuk memecahkan lapisan es emosional yang telah tumbuh di atas kita karena terlalu lama kita paksa diri untuk bersikap berani secara salah arah, berani menutup diri, berani menolak rasa sakit, berani berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Kapak itu tidak menghancurkan kita. Ia membebaskan kita.
Kemudian ada sebuah ruangan galeri yang luas, tergantung sebuah kanvas raksasa yang lebarnya hampir empat meter. Warnanya abu-abu, dingin, suram. Permukaannya seperti lapisan es tua yang retak, atau hamparan batu kapur yang terkikis berabad-abad. Tidak ada manusia dalam lukisan ini. Tidak ada narasi yang jelas. Tidak ada cerita yang bisa diikuti.
Yang ada hanya, kehancuran yang megah dan sunyi.
Ini adalah Alkahest, karya pelukis Jerman Anselm Kiefer. Dan dalam catatan yang menyertai lukisan ini, Kiefer menulis sesuatu yang terdengar sangat pesimistis namun entah mengapa terasa seperti pelepasan, bahkan batu karang yang tampak akan bertahan selamanya pun akhirnya larut, hancur menjadi pasir dan lumpur. Tidak ada yang kekal. Tidak ada yang bertahan.
Alkahest dalam tradisi alkimia adalah pelarut universal zat hipotetis yang mampu melarutkan segala sesuatu. Kiefer meminjam nama ini untuk melukiskan hakikat waktu itu sendiri, pelarut agung yang tidak meninggalkan satu pun benda keras yang tetap keras, satu pun hal yang diyakini permanen tetap utuh.
Yang dilakukan Kiefer dengan lukisan sebesar ini bukan sekadar membuat pernyataan artistik. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih radikal secara emosional, ia memberikan kehormatan kepada kehancuran.
Ia mengatakan kepada kita bahwa keputusasaan, kesedihan, dan kekecewaan adalah bagian-bagian besar dari pengalaman manusia bukan pengecualian, bukan kegagalan, bukan penyimpangan. Dan dengan skala kanvasnya yang luar biasa, ia menegaskan, ini serius. Ini penting. Ini layak direnungkan dengan sungguh-sungguh.
Ada sesuatu yang terjadi ketika kita berdiri di depan karya seperti ini. Perasaan yang tadinya tampak memalukan dan privat kesedihan atas hubungan yang gagal, atas karir yang tidak berjalan seperti direncanakan, atas jarak yang tumbuh antara kita dan orang-orang yang kita sayangi tiba-tiba mengalami transformasi. Ia bukan lagi soal kegagalan personal kita. Ia menjadi bagian dari tema tragis eksistensi, yang berlaku di mana-mana dan tidak bisa dielakkan.
Dalam karya Kiefer, kesedihan kita tidak direndahkan ia diangkat. Ia tidak dihibur dengan omong kosong bahwa "semua akan baik-baik saja," melainkan diakui sebagai sesuatu yang nyata, berat, dan berharga untuk ditanggung dengan bermartabat.
Ini seperti cara kerja sebuah lagu kebangsaan tetapi bukan untuk kegembiraan nasional. Ini adalah lagu kebangsaan duka. Dengan menatap karya ini, kita secara tidak sadar bergabung ke dalam sebuah komunitas yang sangat luas, komunitas semua orang yang pernah merasa kehilangan, semua orang yang pernah merasakan dunia ini lebih keras dari yang mereka bayangkan. Dan komunitas itu mencakup, pada kenyataannya, setiap orang yang pernah hidup.
Dan Corot melukis The Leaning Tree Trunk ketika ia berada di usianya yang keenam puluhan usia ketika seorang manusia sudah cukup banyak kehilangan untuk mengerti dengan tubuh dan jiwanya bahwa waktu memang tidak bisa dinegosiasikan.
Lukisan itu sederhana. Dua pohon, satu masih berdiri meskipun bengkok oleh waktu dan cuaca, satu lagi sudah mengering dan sekarat di latar depan. Cahaya matahari menerpa langit dengan lembut, tetapi ada sesuatu dalam warna dan komposisinya yang mengatakan, cahaya ini akan segera padam. Malam akan datang. Musim akan berganti. Dan pada akhirnya, pohon-pohon ini pun tidak akan ada lagi.
Corot menyebut lukisan ini sebagai souvenir kenangan. Ini adalah perpisahan. Bukan perpisahan yang pahit, bukan yang penuh amarah dan penyangkalan. Ini adalah perpisahan yang dilakukan dengan bermartabat, dengan kepala tegak, dengan kesadaran penuh bahwa inilah sifat segala sesuatu yang hidup.
Kita adalah bagian dari alam, kata lukisan itu. Pohon tumbuh, dibengkokkan oleh nasib, dan akhirnya mengering. Matahari menerangi langit sebentar, lalu tersembunyi di balik awan dan malam pun turun. Corot tidak bersukacita atas kepergian hari, atas berlalunya tahun-tahun, atas pohon yang sekarat tetapi ia mencari suasana hati dari penerimaan yang sedih namun tenang atas bagian kita dalam nasib semua makhluk hidup.
Ada sesuatu yang sangat penting dalam distingsi ini: antara menerima dengan bermartabat dan menyerah dengan kepahitan. Stoikisme yang dipraktikkan Corot dalam lukisan ini bukan stoikisme yang keras dan dingin yang membekukan perasaan dan melarang air mata. Ini adalah stoikisme yang hangat, yang memperbolehkan kita untuk merasakan sepenuhnya berat kepergian, sambil pada saat yang sama menempatkan kepergian itu dalam konteks yang lebih luas, yang melampaui kisah individual kita.
Banyak dari kita, di beberapa titik dalam hidup, merasakan apa yang terasa seperti "terlambat." Terlambat untuk memperbaiki sebuah hubungan. Terlambat untuk mengambil jalan yang berbeda. Terlambat untuk mengatakan hal-hal yang seharusnya dikatakan. Rasa terlambat itu bisa menjadi sangat menyakitkan, sangat mengisolasi. Kita membawanya sendirian, karena siapa yang mau diajak bicara tentang penyesalan yang besar-besar?
Corot, dalam diam lukisannya, menjawab: Kamu tidak sendirian. Ini juga bagian dari kondisi manusia. Pohon-pohon pun bengkok.
Bayangkan dirimu sebagai serangkaian lingkaran konsentris. Di lingkaran terluar terletak semua hal yang paling mudah diketahui orang tentangmu: pekerjaanmu, usiamu, pendidikanmu, selera makanmu, latar belakang sosialmu yang luas. Di level ini, menemukan orang yang mengenalimu relatif mudah. Kamu bisa mengobrol tentang film, tentang berita, tentang harga barang-barang.
Tetapi semakin ke dalam kamu bergerak, semakin sedikit orang yang ikut serta bersamamu.
Di lingkaran yang lebih dalam ada perasaan-perasaan tentang orang tuamu, rasa cinta yang tercampur dengan kekecewaan yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan.
Ada ketakutan-ketakutan rahasia yang kamu bahkan malu mengakuinya kepada dirimu sendiri. Ada mimpi-mimpi di siang hari yang mungkin tidak akan pernah terwujud. Ada ambisi yang tersimpan di sudut yang gelap karena kamu takut mengucapkannya keras-keras.
Ada sudut-sudut imajinasi yang lebih aneh dan lebih kompleks dari yang pernah kamu tunjukkan kepada siapa pun.
Ada hal-hal yang kamu temukan indah dan mengharukan hal-hal yang ketika kamu mencoba menceritakannya kepada teman-temanmu, matamu melihat blank stare yang sopan namun tidak paham.
Kita sering pulang dari pertemuan sosial dengan bagian-bagian paling tulus dari diri kita masih merana karena ingin diakui dengan lingkaran-lingkaran terdalam itu masih belum disentuh oleh siapa pun.
Ini adalah kesepian yang paling dalam dan paling sulit dibicarakan, bukan kesepian karena tidak ada orang di sekitarmu, tetapi kesepian karena bagian terpenting dari dirimu tidak pernah benar-benar bertemu dengan bagian terpenting dari orang lain.
Kamu bisa dikelilingi oleh teman-teman, keluarga, rekan kerja dan masih merasa sangat, sangat sendirian di tingkat yang paling dalam itu.
Tradisi agama, pada titik terbaiknya, menawarkan jawaban untuk kesendirian jenis ini. Tuhan, kata kepercayaan, mengenal kita sampai ke kedalaman yang paling dalam ke sudut-sudut yang bahkan tidak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata. Kita tidak pernah sungguh-sungguh sendirian karena ada Dia yang hadir sepenuhnya, yang melihat segalanya, yang tidak memerlukan kata-kata untuk mengerti.
Namun ada juga di luar dimensi keimanan satu sumber lain yang bisa menyentuh lingkaran-lingkaran terdalam itu. Dan itu adalah seni. Maka tak heran tradisi mistik pasti dekat dengan kesenian.
Ada seorang pelukis Denmark bernama Christen Købke. Ia lahir di Kopenhagen pada tahun 1810, meninggal karena pneumonia pada usia 37 tahun, dan tidak pernah meninggalkan negaranya kecuali untuk satu perjalanan singkat ke Italia. Secara biologis, ia sudah meninggal hampir dua abad yang lalu. Secara sosial, ia adalah orang asing total bagimu berbeda bahasa, berbeda budaya, berbeda zaman.
Dan namun, ada kemungkinan nyata bahwa ia lebih memahami sesuatu yang ada di dalam dirimu dari hampir semua orang yang kamu kenal secara langsung.
Købke melukis hal-hal yang sangat biasa, pemandangan pinggiran Kopenhagen, siang hari yang tenang, cahaya musim panas yang lembut menerpa atap dan dinding dan permukaan air yang diam. Tidak ada drama. Tidak ada pahlawan. Tidak ada gagasan besar yang diumumkan dengan keras. Hanya kepekaan yang sangat halus terhadap keindahan sehari-hari yang jarang sekali mendapat pengakuan keindahan yang ada di sana, sangat nyata, namun begitu mudah terlewatkan karena kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang dianggap lebih penting.
Dari jarak yang jauh melintasi waktu, Købke bekerja seperti sahabat ideal yang dengan lembut masuk ke bagian-bagian diri kita yang sunyi dan tersembunyi, membantu mereka tumbuh dalam kekuatan dan kesadaran diri. Ia tidak mengklaim seni yang megah ia hanya melihat dengan sangat teliti apa yang ada di depannya.
Jika kamu adalah seseorang yang juga merasakan keindahan dalam hal-hal kecil itu dalam cahaya sore hari yang menyentuh sudut jalan tertentu, dalam ketenangan yang ada di momen ketika dunia sejenak berhenti berisik maka Købke adalah sahabatmu. Ia tidak akan pernah bisa duduk bersamamu, minum teh, dan mendengarkan ceritamu. Tetapi ia telah merekam, dengan cat dan kuas, bukti bahwa sensibilitas seperti milikmu adalah nyata, adalah valid, adalah layak untuk dihormati.
Psikoanalis Inggris Donald Winnicott punya teori yang menarik tentang fenomena ini. Ia mengamati bagaimana anak-anak kecil mengatasi ketidakhadiran orang tua mereka dengan menggunakan apa yang ia sebut transitional objects, objek-objek perantara. Boneka beruang. Selimut kesayangan. Benda-benda ini bukan sekadar mainan, mereka adalah mekanisme untuk mengaktifkan kembali memori akan rasa dicintai dan dijaga, meskipun orang yang mencintai dan menjaga itu sedang tidak hadir secara fisik.
Winnicott kemudian mengusulkan bahwa karya-karya seni, bagi orang dewasa, berfungsi sebagai versi yang lebih canggih dari transitional objects ini.
Yang kita cari dalam persahabatan, pada tingkat yang paling dalam, bukan sekadar seseorang yang bisa kita sentuh dan lihat di depan kita melainkan seseorang yang berbagi, dan bisa membantu kita mengembangkan, sensibilitas dan nilai-nilai kita. Seseorang yang kepadanya kita bisa berpaling dan menemukan tanda bahwa mereka juga merasakan apa yang kita rasakan, bahwa mereka tertarik, terhibur, dan terganggu oleh hal-hal yang serupa.
Dan ternyata, beberapa "teman" imajiner yang kita temukan dalam seni bisa terasa lebih nyata dan dalam pengertian itu lebih hadir dari kenalan-kenalan kita dalam kehidupan nyata, meskipun mereka sudah meninggal beberapa abad yang lalu dan hidup di benua yang berbeda.
Dan ada gambaran yang sangat indah dari seorang pelukis Italia abad kelima belas bernama Andrea del Verrocchio salah satu gurunya adalah Leonardo da Vinci. Verrocchio sangat tertarik pada sebuah kisah dari Alkitab: kisah Tobias dan malaikat.
Ceritanya begini: seorang pemuda bernama Tobias harus melakukan perjalanan panjang dan berbahaya. Tetapi ia tidak pergi sendirian. Di sisinya ada dua pendamping, seekor anjing kecil, dan seorang malaikat yang datang untuk berjalan bersamanya, menasihatinya, memberikan semangat, dan menjaganya.
Gagasan agamawi di balik kisah ini adalah bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian; selalu ada makhluk-makhluk istimewa di sekitar kita yang bantuannya bisa kita panggil. Verrocchio melukis gambar ini bukan karena ia yakin bahwa malaikat secara harfiah berjalan di jalan-jalan Florence melainkan karena gambar itu menunjukkan jenis persahabatan yang paling kita inginkan dan paling jarang kita temukan.
Tetapi ada versi yang tersedia dari persahabatan seperti ini. Bukan dalam wujud makhluk bersayap dengan lingkaran cahaya di kepala. Melainkan dalam wujud teman-teman imajiner yang kita kumpulkan dari dunia seni dan budaya.
Kita mungkin merasa terisolasi secara fisik, di dalam mobil, menunggu di bandara, masuk ke rapat yang sulit, makan malam sendirian untuk kesekian kalinya, atau melewati fase sulit dalam sebuah hubungan. Tetapi kita tidak sendirian secara psikologis. Tokoh-tokoh kunci dari suku kita yang imajiner ada bersama kita, perspektif mereka, kebiasaan mereka, cara mereka melihat segala sesuatu ada dalam pikiranmu, seolah mereka benar-benar berdiri di sisimu dan berbisik di telingamu.
Kita bisa membayangkan diri kita sebagai seseorang yang sedang membangun sebuah suku, mengambil anggotanya dari rentang waktu dan ruang yang paling luas: memadukan beberapa teman hidup dengan beberapa penulis, arsitek, musisi, komposer, pelukis, dan penyair yang sudah lama meninggal. Suku yang anggotanya tidak dibatasi oleh geografi, atau usia, atau bahkan kematian.
Dan sungguh, persahabatan ini mungkin bahkan lebih dalam dari yang bisa kita nikmati secara langsung karena ia terbebas dari semua kompromi biasa yang menyertai interaksi sosial. Sahabat-sahabat kulturalmu tidak bisa sepenuhnya bercakap-cakap denganmu, tentu saja, dan kamu tidak bisa menjawab mereka (kecuali dalam imajinasimu). Namun mereka memasuki ruang psikologis yang sama denganmu, setidaknya dalam aspek-aspek kunci tertentu, di momen-momen paling rentan dan paling intimmu.
Mereka mungkin tidak tahu tentang teknologi terkini. Mereka tidak tahu tentang keluargamu atau pekerjaanmu. Tetapi dalam hal-hal yang benar-benar penting bagimu, mereka memahami kamu sampai pada tingkat yang sekaligus sedikit mengejutkan dan sangat membahagiakan.
Ada kesalahpahaman yang sangat umum tentang apa yang dilakukan seni kepada kita ketika kita paling membutuhkannya. Banyak orang berpikir bahwa seni berfungsi sebagai pelarian dari kesedihan bahwa kita lari ke film, ke anime, ke musik, ke puisi untuk sementara waktu melupakan masalah-masalah kita. Dan memang, ada dimensi dari seni yang bekerja seperti itu.
Tetapi fungsi yang lebih dalam dan lebih penting dari seni bukanlah pelarian. Ia adalah sebaliknya: penerimaan yang diperdalam.
Ketika kita menemukan dalam sebuah misalnya karakter anime yang merasakan persis apa yang kita rasakan rasa terperangkap yang mencekik, ambisi yang tercampur dengan rasa bersalah, cinta yang tidak bisa diungkapkan karena terlalu besar atau terlalu aneh atau terlalu terlambat yang terjadi bukan bahwa kita lupa. Yang terjadi adalah bahwa kita diakui. Dan pengakuan itu mengubah semuanya.
Kesedihan yang tersembunyi, yang ditanggung sendirian, dalam kegelapan, dapat menjadi racun. Ia berubah menjadi rasa malu. Ia menciptakan ilusi keunikan yang menyiksa perasaan bahwa hanya kitalah yang merasakan hal ini, bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan kita secara khusus, bahwa kita tidak layak mendapat belas kasihan bahkan dari diri kita sendiri.
Tetapi ketika seni menerangi kesedihan itu ketika sebuah film, sebuah lukisan, sebuah novel, sebuah simfoni, sebuah puisi menunjukkan bahwa apa yang kita rasakan adalah bagian dari pengalaman manusia yang universal dan kuno sesuatu yang sangat penting terjadi. Kesedihan itu tidak hilang. Masalahnya tidak lenyap. Tetapi ia ditransformasi: dari aib pribadi menjadi partisipasi dalam kondisi manusia yang lebih luas.
Kita tidak dirampas martabatnya; kita sedang menemukan kebenaran-kebenaran paling dalam tentang apa artinya menjadi manusia dan karena itu kita tidak hanya tidak direndahkan oleh duka, tetapi juga, anehnya, diangkat olehnya.
Ini adalah paradoks yang indah di jantung pengalaman estetik, bahwa seni yang paling mengharukan bukanlah seni yang membuat kita merasa gembira. Ia adalah seni yang membuat kita merasa dimengerti dalam kesedihan kita. Dan dalam perasaan dimengerti itu, ada suatu ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh kegembiraan artificial mana pun.
Kita hidup di zaman yang sangat bising. Lebih banyak konten yang diproduksi dalam satu hari sekarang dari yang pernah ada dalam satu abad sebelumnya. Setiap saat, ribuan artikel, video, podcast, dan utas meneriakkan klaim perhatian kita. Di antara semua kebisingan itu, ada godaan yang sangat kuat untuk menjadi lebih dangkal untuk berselancar di permukaan, untuk mengonsumsi tanpa merasakan, untuk mengisi setiap jeda keheningan dengan stimulasi baru agar tidak harus duduk bersama pikiran-pikiran yang sulit.
Seni, seni yang sungguh-sungguh, seni yang dibuat dari kejujuran tentang kondisi manusia menuntut kebalikan dari itu. Ia menuntut kita untuk berhenti sejenak. Untuk duduk. Untuk mengizinkan diri kita disentuh. Untuk tidak segera berlari ke stimulus berikutnya ketika sesuatu mulai terasa tidak nyaman. Untuk tinggal bersama perasaan yang dimunculkan oleh sebuah lukisan atau sebuah halaman fiksi atau sebuah melodi yang terus terngiang sampai malam.
Ini adalah latihan spiritual dalam pengertian yang sangat nyata meskipun bukan selalu dalam pengertian yang religius. Ini adalah praktik meluaskan kapasitas kita untuk hadir bersama kebenaran-kebenaran yang tidak nyaman, dan menemukan di dalam ketidaknyamanan itu bukan kehancuran, melainkan sesuatu yang bernilai, pengakuan, solidaritas, kebijaksanaan.
Lautan beku di dalam diri kita ketidakmampuan kita untuk merasakan sepenuhnya, untuk mengakui kerugian kita, untuk menangis atas hal-hal yang layak ditangisi adalah harga yang kita bayar untuk mengikuti tuntutan sosial yang memerintahkan kita untuk selalu tampil kuat, selalu tampil bahagia, selalu tampil "baik-baik saja."
Seni, pada saat terbaiknya, adalah kapak yang Kafka bicarakan. Bukan kapak perang yang menghancurkan. Melainkan kapak yang memecah es itu dengan penuh kasih, yang membiarkan sesuatu yang sudah lama beku akhirnya mengalir kembali.
Dan dalam aliran itu, dalam saat-saat ketika kita mengizinkan sebuah karya masuk jauh ke dalam lingkaran-lingkaran terdalam kita, kita menemukan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kegembiraan mana pun, perasaan bahwa kita tidak sendirian. Bahwa kita tidak aneh. Bahwa duka kita, betapa pun beratnya, adalah bukti bahwa kita manusia dan bukan bukti sebaliknya.
Inilah fungsi terdalam seni. Bukan untuk membuat kita bahagia. Bukan untuk menghibur kita dengan keindahan yang menyenangkan. Melainkan untuk menemani kita dalam kegelapan dengan jujur, dengan bermartabat, tanpa menawarkan janji-janji palsu dan menunjukkan bahwa di kegelapan itu pun, kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.
-Alain De Botton
Sumber: https://www.facebook.com/share/1BjaYSW8eJ/

0 komentar:
Posting Komentar