Oleh: Jakob Sumardjo
(Kompas,16 Juni 2000)
Di Indonesia ini, konflik terbuka, tidak pernah terjadi antara kepentingan etnik yang satu terhadap etnik yang lain, atau lapisan sosial tertentu terhadap lapisan sosial yang lain. Konflik selalu terjadi di dalam etnis dan di dalam lapisan sosial itu sendiri, kalaupun kemudian melibatkan etnis atau lapisan lain, pokok persoalan tetap bukan di situ. Pokok persoalan selalu pada sikap budaya dan dasar cara berpikir dalam menghadapi hidup di Indonesia ini.
Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasanya sendiri yang membawa ciri-ciri budaya atau cara hidup daerah tersebut. Cara hidup dan cara berpikir daerah-bahasa tersebut telah berlangsung ratusan dan ribuan tahun dengan segala perubahan nilai-nilai budayanya. Inilah cara berpikir otentik mereka sebagai dasar kebenaran dalam semua cabang kehidupan sosial, politik, pengetahuan, kesenian, teknologi, ekonomi dan lain- lain. Inilah cara berpikir asli yang otohton, konkret, imanen, historik, unik, dan absolut, yang masih kental didapatkan di lingkungan lapisan bawah masyarakat tiap daerah. Inilah kebudayaan rakyat daerah itu.
Selama sejarah kepulauan Nusantara ini, masuklah cara berpikir asing secara silih berganti. Sejarah budaya Indonesia adalah sejarah penerimaan. Sejarah cara berpikir Indonesia adalah sejarah impor cara berpikir dari luar. Kita semua lantas menjadi murid-murid dari mahaguru-mahaguru berpikir dunia. Perpustakaan berpikir kita dapat dilacak sampai ke pemikiran India, Cina, Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan Jepang. Meskipun demikian, inilah ajaibnya, segala yang asing, yang alohton, yang alien tersebut telah berubah dari bentuk asli konteksnya. Semua yang asing tadi telah diubah, ditransformasi, ditaklukkan, disesuaikan dengan cara berpikir otohton daerah. Dan kita namailah itu sebagai perkembangan cara berpikir Indonesia sepanjang sejarahnya. Itulah yang kita banggakan sampai sekarang ini sebagai candi Indonesia, masjid Indonesia, sastra Melayu, sastra Jawa Kuno, dan banyak lagi.
Masalahnya, di manakah proses transformasi nilai asing itu terjadi? Apakah di semua daerah? Apakah di lapisan sosial tertentu? Apakah seluruh lapisan sosial terlibat? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab.
***
Pada dasarnya hanya ada dua cara berpikir, yakni yang otohton pada tiap daerah dengan segala aspek budayanya, dan yang alohton berasal dari luar. Bedanya, yang otohton itu bersifat imanen dan transenden sekaligus, sedangkan yang alohton lebih yang transenden saja. Kita berpikir cara Amerika bukan karena ada koloni orang Amerika di sini, tetapi karena ide-ide Amerika itu yang masuk ke sini. Bukan orang-orang India bergaul dengan masyarakat daerah Indonesia, tetapi pikiran-pikiran India itulah yang masuk. Inilah sebabnya kita dapat menjadi Melayu-India, Jawa-India, Bali-India karena badan kita tetap Indonesia sedangkan jiwa dan rohani kita kawin dengan pikiran India. Jadi, yang alohton itu cara berpikir itu sendiri, roh kebudayaan asalnya.
Baik cara berpikir otohton maupun yang alohton bersikap absolut. Penerus tradisi otohton di lingkungan rakyat bawah amat yakin akan kebenaran cara berpikir tradisinya. Apa yang disebut kekuasaan, keadilan, kebenaran, keindahan, kesenangan, kebahagiaan, kepercayaan itu adalah apa yang telah diwarisi dari nenek moyangnya di daerah itu. Mereka hidup tenang dengan cara berpikir demikian, yang otentik dan konkret itu. Cara berpikir ini membuat mereka mencapai harmoni dalam hidup. Kebenaran mereka adalah absolut. Begitu pula sebagian kecil rakyat daerah yang memperoleh masukan cara berpikir baru dari luar, meyakini cara berpikir baru itu sebagai absolut pula. Inilah pencerahan besar-besaran. Inilah pertobatan besar. Inilah manusia baru yang meninggalkan manusia lamanya yang otohton itu. Mereka menjelma sebagai alien benar-benar di lingkungan rekan-rekan daerahnya yang masih teguh pada kebenaran otohton tradisional. Mereka ini pejuang-pejuang fanatik cara berpikir alohton yang dengan semangat tinggi penuh keyakinan menyalahkan dan ingin mempertobatkan pula yang masih "kampungan" cara berpikirnya itu. Karuan saja, sikap-sikap absolut ini mendatangkan konflik. Yang satu ingin mempertahankan kebenaran warisan, yang lain ingin mengubah total seluruh perwajahan lama.
Konflik-konflik itu terjadi lantaran tata nilai yang mereka anut itu saling berbeda dan bahkan ada yang saling bertentangan. Yang alohton terlalu transenden, sedang yang otohton amat imanen. Yang alohton memaksakan kehendak kebenarannya, yang otohton tak rela hidupnya diganggu oleh yang asing itu. Yang alohton bersikap ekstrem sebagai murid baru, lebih India dari India, lebih Arab dari Arab, lebih Amerika dari Amerika. Konflik budaya terjadi.
***
Dalam kemelut demikian muncullah pemikir-pemikir asli Indonesia yang mencoba men- stransformasikan nilai-nilai alohton dengan yang otohton. Sikap golongan ini moderat, tidak absolut. Dan karenanya kaum moderat ini menjadi sasaran kemarahan kaum alohton itu pula. Pada pikiran mereka, kaum moderat ini adalah pembela kaum otohton pula. Kaum absolut otohton dan kaum moderat sama-sama harus dibasmi oleh kaum alohton. Kalau Indonesia ini mau maju, mau baru, semuanya harus diindiakan, diarabkan, diamerikakan. Habis perkara. Kalau ini dilakukan, maka tak akan ada lagi kebudayaan dan cara berpikir kampungan yang membawa kemiskinan dan kekalahan itu. Prek dengan semua yang mengingatkan dan berbau pribumi otohton. Apa salahnya menjadikan Indonesia sebagai Amerika?
Keganasan konflik budaya di Indonesia selalu terjadi antara pembawa pencerahan transenden dari luar ini dengan golongan-golongan otohton dan moderat. Jelas, bahwa golongan moderat membela akar, membela yang otohton karena itu kenyataan imanen yang tak dapat dilenyapkan dengan kekerasan begitu saja. Meskipun kaum moderat menyadari perlunya pencerahan, pembaharuan, tetapi tidak dapat dilakukan secara paksa dengan dimusuhi, dicurigai, disalahkan. Mereka perlu dimengerti sebagai kenyataan imanen yang berdarah daging, yang di Indonesia ini menduduki jumlah paling besar.
Kaum moderat, kaum tengah, kaum otohton-alohton, kaum badan-roh, kaum imanen-transenden, dituntut berpikir baru yang kreatif. Dan inilah hasil kerja mereka yang menghasilkan masjid Indonesia, wayang, sastra Jawa Kuno, sastra Melayu. Transformasi nilai-nilai budaya asing ke nilai-nilai budaya lokal yang ribuan tahun perkembangannya. Tugasnya adalah menemukan Indonesia baru. Menemukan format asing bukan asing lagi, sementara yang asli dan lama bukan yang lama lagi. Dengan cara demikian, barulah kita menjadi murid yang kreatif dan guru-guru dunia sekaligus. Murid yang setia tetaplah murid. Dia tak akan muncul sebagai guru baru terhadap guru-guru lamanya. Dia hanyalah warga berpikir dunia yang sama kedudukannya dengan warga lain di Dunia Ketiga. Adalah mudah menerjemahkan seluruh pemikiran dunia sekarang ini untuk dimiliki. Tinggal rajin membaca. Tetapi bacalah juga kenyataan sendiri yang otohton karena di situlah Anda merupakan bagian daripadanya. Rambut Anda boleh dicat pirang, tapi hidung Anda tetap saja pesek. Masalahnya, bagaimana hidung pesek ini bisa tampil secara mutakhir.
Untuk itu jadilah kaum moderat, kaum kreatif; kaum produktif dan bukan kaum konsumtif. Berpijaklah pada bumi sendiri yang imanen, yang historis. Cara berpikir kita yang ahistoris harus ditransformasi ke dalam cara berpikir historis, dan untuk itu perlu menggali akar, mengenal kenyataan diri yang sangat beragama di Indonesia ini.
***
Untuk itu diperlukan strategi kebudayaan. Tujuannya adalah membentuk Indonesia baru yang mondial. Menanamkan yang transenden dari luar menjadi bagian imanen kita. Bekalnya adalah pemahaman yang imanen, dan pemahaman yang transenden. Hasil yang hendak dicapai adalah Indonesia baru yang transenden-imanen, yang otohton-alohton, yang historis. Hindari konflik-konflik absolutisme transenden. Jadilah moderat. Jadilah moderat. Jadilah kaum gelisah yang kreatif, bukan kaum konsumtif-pasif dari pemikiran alohton. Memang mudah menjadi murid, dan lebih mudah lagi kalau tak sekolah. Yang sulit adalah menjadi murid kreatif, mengolah ajaran guru menjadi milik diri sendiri.
* Jakob Sumardjo, budayawan, tinggal di Bandung.
Sumber: Kompas, 16 Juni 2000

0 komentar:
Posting Komentar