![]() |
| Jacques Derrida |
Ada beberapa gagasan-gagasan kunci dekonstruksi Jacques Derrida, di antaranya: (1) differance, (2) tilas (trace), (3) suplemen, (4) teks, (5) iterabilitas, (6) ketiadaan putusan, dan (7) diseminasi.
Berikut penjelasannya:
Differance
Differance merupakan istilah yang dikemukakan Derrida (1976:23) dalam pembahasan tentang Saussure. Kata differance merupakan perpaduan kata “differing” yang berarti ‘berbeda’ dan kata ‘deferring’ yang berarti ‘menangguhkan’. Kata differance dikembangkan oleh Derrida dari kata Prancis diffĂ©rence. Kedua kata itu merupakan homofon yang tidak bisa dibedakan dalam pengucapan, tetapi hanya terlihat dalam tulisan, yaitu vokal “e” dan “a” (Wortham, 2010:36; Bradley, 2008:148). Hal tersebut dilakukan Derrida untuk menunjukkan keunggulan tulisan yang tidak terdapat dalam tuturan.
Differance merupakan gagasan kunci Derrida untuk menjelaskan instabilitas bahasa. Bahasa, dalam wawasan differance Derrida, disusun dari “perbedaan-perbedaan yang menunda makna atau koherensi mencapai suatu status stabil atau permanen. Struktur bahasa menurut Derrida adalah sesuatu yang dinamis atau senantiasa “bergerak” melalui proses perbedaan dan penundaan. Arti suatu tanda bergantung pada perbedaan dan penundaannya dengan relasi tanda lain dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain, suatu tanda tidak akan pernah mencapai makna secara penuh karena proses perbedaan dan penangguhan yang senantiasa berlangsung.
Dalam aktivitas pembacaan, suatu teks dapat dibaca dalam berbagai konteks dan menghasilkan kemungkinan pembacaan yang tidak berhingga karena makna pasti dari teks selalu tertangguhkan. Dengan kata lain, makna teks, yang tidak kunjung hadir secara penuh, menunjukkan dirinya sebagai tilas (Hardiman, 2007:165; Green & Lebihan, 1996:215).
Differance memiliki aspek spasial dan temporal. Mikics (2009:33) menjelaskan aspek spasial differance adalah pada jarak (gap) antara satu kata dengan kata lain, baik itu jarak dalam kamus atau dalam kompetensi seseorang. Kata “bulan” bagi orang umumnya akan jauh secara asosiatif dengan kata “kerupuk”, tetapi bagi seorang penyair kata “bulan” bisa dekat karena secara asosiatif bentuk dan warna bulan dekat dengan “kerupuk”.
Aspek temporal differance adalah deret pemakaian kata dari waktu ke waktu yang membentuk makna linguistik. Tiap peristiwa khusus pemakaian bahasa akan memiliki hubungan, tetapi tiap peristiwa itu berbeda antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain, aspek diakronis berpengaruh pada arti suatu kata. Pada bagian ini, menurut Mikics, dapat dilihat bahwa Derrida meninggalkan Saussure yang mengutamakan aspek sinkronis dari bahasa.
Tilas (Trace)
Istilah “trace” atau “tilas” Derrida memiliki kaitan dengan konsep tanda Saussure. Menurut Derrida relasi tanda, baik melalui perbedaan maupun penangguhan, membuat setiap tanda selalu mengandung “tilas” tanda lain. Suatu tanda tidak pernah benar-benar memiliki arti pada dirinya sendiri, kecuali dalam hubungan dengan tanda-tanda “yang lain”.
Derrida (1976:65) mengatakan “The trace is in fact the absolute origin of sense in general. Which amounts to saying once again that there is no absolute origin of sense in general. The trace is the difference… “ (‘Tilas, pada kenyataannya, adalah asal absolut dari arti secara umum. Sama dengan mengatakan, sekali lagi, bahwa tidak ada asal absolut bagi arti secara umum. Tilas adalah perbedaan…’). Tidak ada tanda yang memiliki arti secara otonom sebab tilas dari tanda lain selalu menjadi bagian yang menyatu di dalam identitas-diri dari suatu tanda.
Dalam konteks bahasa, arti dari suatu konstruksi kalimat juga ditentukan oleh medan asosiatif atau sumbu paradigmatik dari kata-kata yang tidak hadir.
Dengan kata lain, yang hadir ditentukan yang tidak hadir. “Tilas” dari tanda-tanda lain akan selalu membayangi suatu tanda.
Suplemen
Suplemen berasal dari bahasa Prancis “supplement” yang berarti ‘suatu tambahan’ dan ‘suatu subtitusi’ (Johnson, 1981: xiii). Rousseau menggunakan kata “suplemen” ini untuk menjelaskan tentang “tulisan”. “Tulisan” adalah suatu tambahan karena yang utama adalah “tuturan” sekaligus sebagai suatu “subtitusi” karena karena ketidakhadiran sang penutur atau pengarang digantikan oleh aksara atau tulisan.
Derrida menegaskan bahwa semua bahasa pada dasarnya adalah “tulisan”. Hal berarti bahwa segala aktivitas bahasa kita, termasuk tuturan, tidak pernah bersifat langsung karena diperantarai oleh medium, yaitu tanda-tanda. Suplemen, dengan demikian, tidak hanya berlaku untuk “tulisan”, tetapi juga untuk “tuturan”.
Menurut Derrida proses suplementasi ini akan terus berlangsung dalam bahasa karena sejak awal suatu tanda tidak cukup-diri (incomplete). Selalu ada proses penambahan dan penggantian pada tanda-tanda bahasa. Proses penambahan atau penggantian tersebut tidak berarti bahwa ada “yang asli”, tetapi karena “The supplemental difference within language oscillates between nostalgia for lost unities and a joyful embrace of their loss” (Castle, 2007:80).
Teks
Pernyataan Derrida (1976:158) yang penting tentang teks adalah “there is no outside-text” (‘tidak ada yang di luar dari teks’ atau ‘semuanya ada dalam teks’). Pernyataan tersebut, menurut Bradley (2008:112), seringkali sering kali disalahpahami sebagai penjara bahasa. Dengan kata lain, pernyataan Derrida tersebut diartikan seolah-olah hanya bahasa satu-satunya realitas yang eksis.
Hal yang dimaksud Derrida dalam pernyataan “there is no outside-text” adalah petanda transendental (baca: pengarang) teks. Suatu pembacaan menurut Derrida (1976:158) “it cannot legitimately transgress the text toward something other than it, toward a referent (a reality that is metaphysical, historical, psychobiographical, etc.) or toward a signified outside the text whose content could take place, could have taken place outside of language, that is to say, in the sense that we give here to that word, outside of writing in general.”
Diseminasi dan Ketiadaan Putusan
Derrida melangkah lebih jauh dari konsep polisemi dalam teks sastra dengan memaparkan gagasan diseminasi atau persebaran makna. Makna bagi Derrida tidak terpaut pada satu petanda seperti pada konsep Saussure. Makna bersifat temporer karena relasi antartanda yang menyusun bahasa tidak statis. Gagasan diseminasi Derrida dapat dipahami dengan memperhatikan langkah-langkah yang ditunjukkan Tyson (2006:259) berikut ini. (1) Tulislah berbagai jenis interpretasi-baik istilah kunci, asumsi-asumsi, logika, dan lain-lain yang ditawarkan teks. (2) Tunjukkan bagaimana interpretasi-interpretasi tersebut berkonflik antara satu dengan yang lain. (3) Tunjukkan bagaimana konflik tersebut terus menghasilkan interpretasi-interpretasi lain, yang juga menghasilkan konflik, yang kembali menghasilkan intepretasi-interpretasi. (4) Gunakan langkah 1, 2, dan 3 untuk menyatakan bahwa teks tersebut tidak bisa dirumuskan dalam satu pengertian (undecidability).
Lebih lanjut Tyson mengungkapkan bahwa istilah “undecidability” (‘ketiadaan putusan’) disini tidak berarti bahwa pembaca tidak bisa menetapkan makna yang dipilihnya. Akan tetapi, ketiadaan putusan memiliki arti bahwa teks dan pembaca tidak terpisahkan dari ikatan diseminasi (persebaran) makna bahasa. Makna tertentu adalah hanya “momen” dari makna yang memberikan jalan, yang tidak terhindarkan, kepada makna lainnya. Dalam praktik pembacaan Derrida ketidaanputusan juga disebabkan oleh differance, yaitu penangguhan dalam memutuskan “yang ini” atau “yang itu”. Berbagai pilihan yang telah tersedia ditangguhkan untuk membuka peluang bagi kemunculan “yang lain”.
***
Sumber:
(Marcelus Ungkang, dalam artikel berjudul "Dekonstruksi Jaques Derrida sebagai Strategi Pembacaan Teks Sastra", 2013, h. 31)


0 komentar:
Posting Komentar