Immanuel Kant adalah filsuf dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat. Ia tumbuh dalam keluarga menengah yang sederhana dan saleh. Ia sempat belajar di sekolah, di mana ia dididik oleh seorang pendeta Protestan, Pastors Franz Albert Schultz yang amat pietis. Pendidikan agama sedemikian membekas dalam dirinya, juga ketika ia mulai mengembangkan ilmunya. Amat mengherankan, dengan latar belakang keagamaan sedemikian, ia toh bisa sangat kritis terhadap agama. Ini tidak berarti ia meninggalkan agama. Ia justru sangat beragama, tapi dengan sungguh-sungguh hendak tetap menggunakan akalnya.
Maka kendati taat beragama, ia berusaha untuk membebaskan pikirannya dari ajaran agama apa pun, bahkan dari kuasa Tuhan sekali pun. Sampai kemudian ia berkeyakinan, tanpa Tuhan dan pewahyuannya pun, orang bisa bermoral, dan tetap harus mempertahankan moral, sesuai dengan tuntutan akal.
Dari Kant kita belajar: akal manusia tidak bisa dibatasi oleh apa pun, termasuk agama dan norma-normanya. Kant mengajak kita kritis terhadap agama, demi murni dan benarnya penghayatan keagamaan kita.
Dalam Islam ada yang dikenal dengan perjanjian primordial, yakni semacam syahadat ketika manusia masih berada di alam rahim (lih. Q.s. Al A'raf: 172). Syahadat itu adalah pengakuan asali manusia akan Allah sebagai Tuhan. Dari perjanjian primordial itulah yang menjadikan manusia secara fitrah cenderung pada kebaikan, kebenaran, keadilan, kesucian, dan sebagainya. Artinya, tanpa wahyu dari Allah, manusia secara fitrah (nurani) sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang benar dan yang salah. Fungsi agama atau wahyu, sama seperti fungsi al Quran, yakni sebagai petunjuk agar manusia selalu berada di jalan kebenaran yang didasari oleh nuraninya sendiri yang suci dan cenderung pada kebaikan atau 'hanif'.
________
Referensi:
1 Sindhunata, "Immanuel Kant dan Aufklarung: Bangunlah dari Kemalasan Akalmu", dalam Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun ke-75, 2026, h. 48.
2 Al Quran

0 komentar:
Posting Komentar