alt/text gambar

Sabtu, 29 November 2025

TEROBOSAN BUDAYA SRI SULTAN

Ahmad Syafii Maarif, kolom Tempo

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

(TEMPO, Nomor 39, Tahun XVIII, 26 November 1988)


SUDAH lebih dari empat puluh hari Sri Sultan Hamengku Buwono IX meninggalkan kita dengan nuansa-nuansa kenangan yang tak habis-habisnya. Sebagai pemimpin bangsa, beliau sering dibandingkan dengan Hatta, salah seorang sahabat karibnya. Keduanya hampir-hampir tanpa cacat. Keduanya teguh dalam pendirian, lurus dalam berpikir dan bertindak. Keduanya adalah nurani bangsa yang mempesona. Mempesona lantaran integritas kepribadiannya yang utuh dan kukuh. Beliau berdua adalah pohon pelindung yang rindang dan menyejukkan.


Sri Sultan adalah puncak kearifan Jawa Islam. Pandangannya yang jernih dan menembus jauh ke depan telah menempatkan Sri Sultan sebagai tokoh bangsa yang berakar kuat. Sekalipun beliau raja Jawa, anak seberang mencintainya sebagai salah seorang bapak bangsa. Dan cinta mereka itu sangat tulus dan bening.


Sri Sultan tampaknya menyadari kenyataan ini dengan pengertian yang dalam. Pergaulan beliau yang luas dan akrab, khususnya sesudah proklamasi kemerdekaan, dengan tokoh-tokoh bangsa yang berasal dari seberang (luar Jawa) telah semakin meyakinkan kita tentang betapa Raja demokrat ini bukan hanya milik wong Yogya, tapi juga milik tiyang sabrang.


Kenyataan ini menjelaskan kepada kita betapa strategisnya posisi kepemimpinan yang dimiliki Sri Sultan. Kalaulah seorang pemimpin tipe ini dapat muncul lagi pada masa-masa mendatang dan diberi posisi puncak, rasanya bangsa kita akan menunjukkan kepatuhan yang tulus dan rasional, tidak peduli dari suku mana ia berasal.


Sri Sultan, dengan latar belakang pendidikannya yang cukup tinggi, mungkin merupakan salah satu modal baginya untuk tampil sebagai pemimpin yang berwawasan luas, arif, dan sabar. Tidak setiap orang yang berpendidikan tinggi punya wawasan dan kearifan seperti Sri Sultan. Dalam sejarah kontemporer Indonesia, tidak sedikit orang yang berpendidikan tinggi, dan sebagian pernah dimunculkan sebagai pemimpin bangsa, tapi kemudian pamornya redup, bahkan kemudian tidak jarang menjadi bulan-bulanan. 


Di samping itu, ada pula tipe pemimpin yang cukup berakar di hati bangsa, tapi iklim politik mungkin tidak kondusif baginya untuk   tampil. Tipe pemimpin ini akan tetap dihormati orang, sekalipun mungkin tidak secara terang-terangan, karena ada risiko politiknya yang tidak seronok.


Sri Sultan, dalam menghadapi masa-masa tertentu yang kritis dalam sejarah Indonesia modern, bisa saja termasuk tipe pemimpin yang terakhir ini, sekiranya beliau vokal dalam menyampaikan pandangan-pandangan politiknya. Tapi beliau memilih untuk diam. Kemampuan beliau untuk meredam rasa tidak setujunya, setidak- tidaknya di depan publik, terhadap suatu kebijaksanaan pemerintah memang luar biasa. Mungkin di sinilah terletak salah satu kekuatan beliau, sekalipun tentu tidak memuaskan banyak orang, khususnya mereka yang kurang sabar.


Segi-segi kehidupan bangsa yang mendapat perhatian Sri Sultan begitu banyak dan luas. Olahraga dan kepramukaan termasuk dunia yang telah lama digelutinya. Beliau bukan sekadar simbol di kedua lapangan itu. Beliau benar-benar terjun secara aktif ke dalamnya. 


Segi lain yang mendapat perhatian Sri Sultan ialah budaya dan kesenian. Belum banyak yang diungkapkan orang tentang ini. Beliau pencipta tari. Tapi ada satu hal yang menarik untuk direnungkan dalam hal tari ini, yaitu gagasan Sultan yang revolusioner. 


Koreografer Bagong Kussudiardjo, dalam diskusi mengenai buku Sri Sultan di Yogyakarta pekan lalu, mengungkapkan, Sri Sultan pernah mengusulkan agar tari Jawa yang lemah gemulai itu  dipadukan dengan unsur budaya sabrang dan Sunda. Dari sabrang, Sri Sultan menyebut pencak kembang Minang yang memikat itu untuk dimasukkan ke dalam tari Jawa. Sedangkan dari Bumi Siliwangi, beliau terkesan dengan kendang Sunda yang terkenal tangkas itu. Pendek kata, Sri Sultan ingin pembaruan dan penyegaran. Beliau tidak suka kepada yang mandek dan statis.


Menurut saya, terobosan budaya Sri Sultan adalah terobosan simbolik yang tidak hanya terbatas pada pentas tari dalam artinya yang murni. Terobosan itu juga menyeruak ke pentas tari yang lain, yaitu "tari" politik. Budaya Jawa yang lamban, tapi penuh kearifan, perlu dipadukan dengan budaya sabrang yang dinamis, tapi terkesan tergopoh-gopoh.


Bila asumsi ini benar, dapat kita katakan bahwa beliau adalah seorang budayawan antisipatif dalam rangka menyiapkan kebudayaan nasional yang segar dan anggun buat masa depan bangsa secara keseluruhan.


Akhirnya, perkawinan Sri Sultan dengan Ny. Norma, wanita Shwarna Bhumi yang lincah, yang tidak mempercayai adanya benda keramat di Keraton, juga merupakan terobosan budaya beliau dalam mengubah tradisi lama yang penuh seremoni dan tak jarang membosankan itu. Dampaknya akan dirasakan pada masa-masa mendatang. Keraton Yogya kini sedang dihadapkan kepada perubahan-perubahan yang mendasar.


Sumber: Sumber: TEMPO, Nomor 39, Tahun XVIII, 26 November 1988

Jumat, 28 November 2025

Dale Carnegie: Seputar Teknik dan Seni Berpidato

Buku karya Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt. 


Rahasia Pidato yang Sukses:

CARA MENGUCAPKAN PIDATO 


Apa yang Anda ingin ucapkan di hadapan umum, hendaknya Anda ucapkan secara biasa saja seolah-olah Anda mengatakannya kepada salah seorang pendengar secara pribadi. 

Marilah kita ambil suatu contoh dari kebanyakan orang yang berpidato di depan umum. Pada suatu hari saya berlibur di Swiss, sambil berkunjung dan menginap di sebuah hotel, yang diusahakan oleh suatu perusahaan dari London. Setiap minggu diadakan ceramah oleh beberapa orang pembicara untuk menghibur para tamu. Salah seorang di antaranya adalah penulis roman wanita Inggris sangat terkenal. Judul pidatonya ialah: "Hari Depan Roma." 

la mulai dengan mengatakan, bahwa acara itu bukan ia sendiri yang memilikinya. Jika kita bahas pidatonya, maka ternyata ia sangat bersungguh-sungguh ingin bercerita kepada para pendengarnya.

la membuat beberapa catatan-catatan dengan tergesa-gesa. Maka ia berdiri di depan para hadirin, seolah-olah tanpa menghiraukan mereka. Ya, bahkan ia tidak mengarahkan pandangannya kepada mereka, melainkan ke atas, sambil kadang-kadang melihat catatan-catatannya, dan sekali-kali juga memandang ke lantai. la mengucapkan pidato seolah-olah ingin mengisi ruang yang kosong, sambil memandang ke satu arah yang jauh sekali. Suaranya pun sayup-sayup jauh pula. 

Sudah barang tentu, itu bukan cara pidato yang jitu. Pidatonya itu sebenarnya merupakan suatu percakapan sendiri (monolog) dan sama sekali tak dapat mempengaruhi pendengar, tanpa kehangatan sedikitpun.

Padahal, salah satu syarat berpidato yang bagus adalah: adanya sesuatu yang memancar dari dalam, ada kehangatan yang hidup. Para pendengar harus merasakan adanya amanat di dalamnya yang secara langsung keluar dari hati menuju ke dalam jiwa para pendengar. Pidato yang diucapkan semacam penulis wanita Inggris itu lebih baik diucapkan di gurun pasir Gobi. Ya, pidatonya lebih mirip dengan pidato di daerah demikian itu dari pada di depan sekelompok orang-orang hidup. 

Masalah cara mengucapkan pidato adalah sederhana dan musykil sekaligus. Dan merupakan soal yang sering tidak dipahami atau sering menjadikan salah paham.


RAHASIA CARA MENGUCAPKAN PIDATO YANG BAIK 

Dalam menyelenggarakan pidato, banyak sekali hal omong kosong ditulis. Terlalu banyak yang ditulis tentang ini sehingga masalah yang sesungguhnya sederhana, menjadi suatu soal yang sulit dan penuh rahasia dan kegaiban. 

Cara pidato zaman dulu terlalu banyak aksi, sehingga sering ditertawakan. Segala sesuatu harus sesuai dengan tuntutan zaman. 

Sekarang Ini kita bersikap lebih langsung, dari hati ke hati. Kita berbicara tanpa banyak ulah dan variasi. Kita bisa banyak belajar dari majalah-majalah modern. Kita harus lebih banyak menggunakan gaya telegram dari pada menggunakan gaya buku yang bertele-tele. Kita hidup dalam zaman jet, tak lagi di zaman gerobag atau pedati. 

Kembang api berisi kata-kata, yang dulu sangat digemari, tak bisa diterima lagi oleh para pendengar modern sekarang ini yang menginginkan pembicaraan langsung menuju kepada jiwa dan pikiran mereka, seperti percakapan biasa. 
Pendengar sekarang menginginkan suatu pidato yang tidak melebihi percakapan biasa. Hanya bedanya, dalam pidato harus diperlukan lebih banyak tenaga, supaya dapat didengar dengan baik dan jelas.
Jika Anda ingin secara wajar menghadapi empat puluh orang, hendaknya Anda mencurahkan lebih banyak energi ke dalamnya dari pada jika Anda berpidato di depan beberapa orang saja. 
Ketika Mark Twain berpidato di Nevana, di depan beberapa orang pekerja tambang, datang seorang tua bertanya kepadanya: ''Itukah nada wajar Anda kalau berbicara?'' Pada hal justru inilah yang diinginkan oleh pendengar-pendengar Anda. Mereka ingin mendengarkan bahasa dan cara berbicara Anda biasa dan wajar, meskipun agak dikeraskan sedikit. Berbicaralah kepada sekelompok orang-orang seperti Anda berbicara kepada Bung A, sebab sesungguhnya sekelompok orang-orang itu tak lain tak bukan adalah kumpulan Bung A tadi. Apakah cara Anda dalam menghadapi orang-orang itu satu persatu, tidak perlu berhasil dalam menghadapi mereka bersama?
Kalau tadi saya telah melukiskan pidato seorang penulis tertentu, sekarang ada contoh lain. Di ruangan khusus suatu hotel di Swiss saya mendengarkan pidato Sir Oliver Lodge dengan thema: ''Atom-atom dan Dunia". la telah memikirkan soal itu lebih dari setengah abad. la telah mengadakan percobaan-percobaan dan penyelidikan yang mendalam. la menceritakan sesuatu yang keluar dari lubuk hatinya, bahkan keluar dari seluruh wujud hakekatnya lahir bathin. Ia lupa bahwa ia mengucapkan suatu pidato, dan justru inilah yang membuat pidatonya betul-betul bagus. 
la sama sekali tidak menghiraukan apakah pidatonya sukses atau tidak. Yang paling penting bahwa orang-orang memahami apa yang ia bicarakan yaitu : Apakah Atom-atom itu, dan ia mau menceriterakan segala sesuatu tentang atom-atom itu kepada para pendengarnya, dan ia melakukannya dengan perasaan dan semangat yang sedemikian hidup, sehingga kami pun seolah-olah melihat atom-atom itu sebagaimana ia melihatnya, dan kami merasa bersama-sama dia apa dan bagaimanakah atom-atom itu. 

Sumber

Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 146-148

***

MENYIAPKAN PIDATO

Menyiapkan pidato itu apakah sama dengan menghimpun beberapa kalimat yang bagus-bagus, di mana sebelumnya telah Anda tulis dan kemudian secara luar kepala? Tidak, sama sekali tidak demikian.
Menyiapkan pidato adalah merupakan pengumpulan gagasan-gagasan serta pikiran-pikiran Anda sendiri. Ini adalah suatu ajakan-ajakan serta keyakinan-keyakinan dari Anda sendiri. Dan ini terjadi di semua saat asal Anda sedang dalam keadaan tidak tidur atapun sedang terbang dalam impian.
Seluruh jiwa raga Anda dipenuhi serta terisi dan diliputi akan perasaan-perasaan yang demikian. Kesemuanya itu masuk di dalam bawah sadar Anda, terkumpul ataupun berserakan di situ.
Yang diartikan persiapan: Berpikir, merenungkan, mengingat-ingat. Dan ini adalah berarti memilih serta mencari mutiara-mutiara yang bertebaran di mana ini tadinya telah hilang—terlupakan, dan kemudian Anda sendiri yang menggosoknya hingga mengkilap serta Anda susun sedemikian rupa, di mana pada akhirnya merupakan suatu mozaik yang bisa sesuai dengan selera Anda. 
Pada abad lalu ada seorang pendeta Amerika terkenal, yaitu Dwight L. Moody. Pendeta ini sangat terkenal dengan pidato-pidatonya yang bagus. Sewaktu orang menanyakan kepadanya dengan cara bagaimana ia bisa berpidato demikian bagus serta sangat menarik, maka jawaban yang diberikan adalah:
"Inilah rahasia saya. Seandainya saya menjatuhkan pilihan pada suatu pokok yang harus saya bicarakan, maka saya menulisnya di atas amplop. Dan amplop yang demikian itu selalu saya bawa kemana-mana. Seandainya saya sedang asyik membaca serta menemukan sesuatu di mana ini cocok dengan suatu soal yang akan saya pidatokan, maka saya tulis di atas sepotong kertas kemudian saya masukkan kedalam amplop yang tertentu. Buku catatan saya selalu saya bawa, dan kalau saya mendengar sesuatu, yang ada hubungannya dengan salah satu soal saya, maka hal yang demikian itu saya catat, dan kemudian halaman itu saya sobek serta saya masukkan dalam amplop yang khusus untuk itu. Beberapa amplop itu kerap sekali dalam waktu satu tahun ataupun lebih tidak saya buka-buka. Kalau saya akan membuat sebuah pidato yang baru, maka saya memeriksa apa saja yang telah saya kumpulkan mengenai masalah tersebut. Dan segala apa yang telah saya temukan di sana, kemudian saya gabungkan dengan studi (penelaahan) saya sendiri, sehingga ini akan merupakan sesuatu yang lebih ataupun cukup. Ada yang saya tambah di sini, akan tetapi juga ada yang saya kurangi. Ini selalu berubah-rubah, berserak-serak serta selalu segar dan tidak kering-kering”.
Sumber:
Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 37-38
**
Cara Mengucapkan Pidato
"Apa yang Anda ingin ucapkan di hadapan umum, hendaknya Anda ucapkan secara biasa saja seolah-olah Anda mengatakannya kepada salah seorang pendengar secara pribadi." --Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 146
**
"Salah satu syarat berpidato yang bagus adalah: adanya sesuatu yang memancar dari dalam, ada kehangatan yang hidup. Para pendengar harus merasakan adanya amanat di dalamnya yang secara langsung keluar dari hati menuju ke dalam jiwa para pendengar." --Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 147

***

Pidatolah seperti Bicara Biasa antar Individu: PIDATO DARI HENRY FORD

"Semua mobil-mobil Ford adalah sama, tiada bedanya.'' Kata Raja Mobil Ford, "Akan tetapi, tak ada dua orang yang sama. Setiap orang berbeda. Hendaknya kaum muda menyadari ini. Ia harus ingat, akan pribadinya, yang membikin dia berbeda dari siapapun. Hendaknya Anda banyak mengambil manfaat dari kepribadian itu."
Pergaulan masyarakat yang terlalu intens (mesra) sekarang ini, menyebabkan segala sesuatu cenderung menjadi seragam, sehingga sesuatunya menjadi dangkal. Kita semua mendapat pendidikan sama, berdiam di dalam rumah-rumah yang mirip satu sama lain, memakai baju yang sama, membeli barang-barang yang sama merknya, menelan makanan yang sama, dan bersama-sama menikmati rekreasi-rekreasi dan kita sendiri pun disiapkan untuk keperluan massa. 
Kita hanya mengikuti mode belaka, tidak saja dalam memilih kata-kata, olah raga dan permainan, bacaan, dan lain-lainnya. Oleh karena itulah kita harus betul-betul tahu, bahwa kita hendaknya jangan membunuh kepribadian (individualitet ) kita. 
Prinsip ini berlaku juga dalam hal berbicara di depan umum. Di dunia ini tak ada apa pun yang sama dengan Anda. Beratus-ratus juta manusia mempunyai dua mata, satu hidung dan satu Mulut. Akan tetapi, tak ada seorang pun yang sama bakatnya, sama gagasannya, dan sama cara hidupnya. Hanya beberapa gelintir orang saja menyatakan diri dan mengucapkan suara dengan cara yang sama seperti Anda, apabila berbicara sewajarnya. 
Dengan kata lain, Anda mempunyai individualitet. Bagi Anda selaku pembicara, ini sangat penting. Di dunia ini tak ada seorang pun yang sama dengan Anda. Camkanlah ini baik-baik. Justru bersyukurlah karenanya, peliharalah kenyataan ini. Inilah tenaga, bunga api yang sesungguhnya yang mendorong kata-kata Anda. Inilah satu-satunya jalan bagi kecemerlangan Anda dalam berpidato. 
Cara berpidato Sir Oliver Lodge lain daripada yang lain. Cara berpidato adalah ciri individualitet orang yang berpidato, tak ubahnya dengan janggut dan rambut kepalanya. 
Jika Sir Oliver Lodge berusaha meniru cara Lloyd George, sudah tentu peniruan itu akan gagal. Mudah saja mengatakan kepada orang lain, bahwa ia harus bersikap wajar. Akan tetapi mudahkah menuruti nasehat ini? Tidak.
Marskal Foch berceritera tentang seni peperangan sebagai berikut: "Dasarnya sangat mudah, akan tetapi pelaksanaannyalah yang sangat sukar.'' Demikian pula halnya dengan berbicara dan berpidato. Anda harus berlatih sebelum pendengar-pendengar Anda menganggap Anda sudah berbicara dengan wajar. Aktor-aktris mengetahui hal ini. Ketika Anda masih kanak-kanak umur empat tahun, Anda mudah mengucapkan sajak. Akan tetapi setelah umur dua puluh tahun atau empat puluh tahun, Anda merasa canggung berdiri di atas podium di depan para pendengar. Lenyaplah kewajaran Anda yang Anda miliki tatkala berumur empat tahun. Ada kalanya Anda masih bisa seperti dulu, tetapi ini jarang sekali. Biasanya Anda akan merasa canggung dan kaku. Anda ingin bersembunyi seperti keong di dalam "rumahnya". Jika Anda mengajarkan teknik berbicara pada orang lain, tidak usah Anda menimbulkan sifat-sifat perangai-baru. Yang perlu ialah bagaimana cara mengatasi kecanggungan tersebut. Seorang pembicara harus membebaskan diri dari ikatan-ikatan yang menekan, bicaralah serta merta, seperti kalau kuping Anda baru dijewer orang. 
Beratus-ratus -kali saya menyuruh siswa-siswa menghentikan pidatonya, dan minta supaya mereka berbicara secara wajar seperti manusia biasa. 
Beratus-ratus kali saya lelah letih sesampainya di rumah karena tak henti-hentinya menganjurkan supaya mereka berbicara dengan cara wajar. 
Oleh karena itu, percayalah bahwa berbicara dengan wajar itu tidak mudah. Methode satu-satunya di duni:  di mana Anda bisa berdiri secara wajar di depan orang banyak dan menyusun pikiran-pikiran Anda sehingga menjelma menjadi kata-kata yang urut, hanya terjadi dengan latihan dan praktek.
Jika Anda berlatih sendiri, dan pada suatu saat mengetahui bahwa cara bicara Anda agak terpaksa dan kaku, berhentilah dahulu, dan berilah peringatan kepada diri sendiri: ''Ho. Salah, Bung! Bangunlah, dan jadilah manusia biasa!”
Jika Anda mengalami kekakuan dan sikap tidak wajar ketika Anda berbicara di depan umum, beristirahatlah satu sekon, sambil mencari obyek seseorang di barisan belakang dan tujukanlah pembicaraan Anda padanya. Lupakaniah bahwa masih ada orang lain dalam ruangan, dan bercakap-cakaplah dengan dia. 
Dalam angan-angan, ajukanlah pertanyaan kepadanya, jawablah pertanyaan itu. Khayalkanlah bahwa seolah-olah orang itu berdiri dan mengatakan sesuatu pertanyaan pada Anda, sehingga Anda terpaksa menjawabnya. Dengan demikian, Anda akan terlibat dalam suatu percakapan yang wajar, dan Anda akan menjadi sadar bahwa kata-kata Anda lebih langsung tertuju kepada jiwa pendengar-pendengarnya. 
Maka dari itu, bila setelah Anda berbicara secara tidak wajar, dan dirasakan sangat kaku, Anda harus mengkhayalkan seolah-olah ada orang yang bertanya pada Anda, dan Anda betul-betul menjawabnya. Misalnya di tengah-tengah sambil menunjuk ke belakang ruangan, Anda berkata: "Apakah saudara menginginkan bukti-bukti pernyataan saya itu? Saya cukup bukti-bukti yang akan saya kemukakan setelah ini,'' dan Anda berbicara terus sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan khayal itu. Ini dapat Anda lakukan untuk memberi kesegaran dalam pidato Anda. Pidato Anda akan lebih menyenangkan, tak lagi membosankan. Pertanyaan-pertanyaan khayal demikian akan membuat Anda lebih wajar dan lancar. Kesungguh-sungguhan dan semangat akan menolong Anda. Jika orang dihanyutkan oleh perasaan-perasaannya, kepribadiannya akan timbul. Tidak ada orang yang bisa menentangnya. Semua halangan akan lenyap dimusnahkan oleh nyala semangatnya. Gerak-gerik tangannya akan muncul sendiri dengan baik. Jadi kesimpulannya: suatu pidato akan berhasil bila Anda dapat bersikap wajar sesuai dengan kepribadian Anda. 
Suatu contoh lagi pengalaman Ds. Brown yang menceriterakan demikian: ''Saya tak akan pernah bisa melupakan uraian pidato seorang kawan, tentang khotbah yang ia saksikan di London, pada suatu kuliah-kuliah berpidato di depan Fakultas Theologi Yale University. Pendeta yang berkhotbah adalah G. Mac Donald. Ia mula-mula membacakan suatu syair dari Bab XI surat kepada kaum Ibrani, kemudian dalam khotbahnya, ia berkata: ''Anda telah mengetahui banyak perihal mukmin-mukmin ini. Saya tak akan menguraikan, apakah iman dari mereka. Banyak profesor-profesor theologi (ilmu agama) yang jauh lebih pandai daripada saya dalam menguraikan kepercayaan mereka. Tetapi saya di sini semata-mata ingin membantu Anda dalam usaha membangkitkan iman." Kemudian keluarlah penjelmaan, ucapan dari keyakinan (iman) Pendeta Mac Donald sendiri, mengenai kebenaran-kebenaran abadi, yang membuat pendengar-pendengarnya menjadi yakin, baik dalam hati maupun dalam jiwanya. 
Ini terjadi karena Ds. Mac Donald mencurahkan seluruh pribadinya ke dalam pidato yang ia ucapkan, dan kesan pidato ialah sangat mendalam, karena yang ia ucapkan bersumber kepada keyakinan sendiri.
Anda harus mengucapkan pidato Anda dengan segala keyakinan, semangat, dan roh yang ada dalam diri Anda. Itulah rahasia bicara dan pidato.
Akan tetapi, nasehat dan peringatan ini sering tidak dihiraukan. Dianggapnya terlalu kabur dan samar-samar. Pada umumnya, siswa-siswa yang berbicara di depan umum menginginkan aturan-aturan tetap, yang menjamin hasil-hasil yang memuaskan.
Mereka ingin tahu dengan saksama apa yang harus diucapkan, dilakukan, kalau bisa dengan menghafalkan peraturan-peratauran yang sederhana dan jelas. Mereka ingin dalam berbicara itu menerima semacam instruksi-instruksi, seperti dalam teknik memakai mobil. 
Saya tahu bahwa Anda memang suka menerima resep-resep yang demikian itu, dan saya pun bisa pula memberikan resep tersebut, akan tetapi Anda tidak akan mendapat menfaat sedikitpun darinya.
Percayalah, resep-resep demikian itu baik sekali untuk memahami sebuah pesawat, akan tetapi untuk membahas hal-hal mengenai pidato, adalah tidak berguna. Karena dengan demikian hilanglah segala kewajaran dan keserta-mertaan dalam pidato, yang justru menjadi roh dan jiwanya. Makin teliti mengikuti peraturan-peraturan yang pasti, makin kaku dan tidak wajarlah pidato tersebut. 
Saya di sini berbicara menuruti pengalaman sendiri. Ketika saya masih muda, saya telah memboroskan banyak waktu dan tenaga mencari rumus-rumus mengenai kerja pikiran dan jiwa. Saya tahu sekarang bahwa rumus-rumus itu tak dapat dilaksanakan. Rumus-rumus merupakan mata pelajaran mudah, sama dengan pembahasan sejarah. Mudah khususnya bagi guru yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan praktis tentang soal yang dibahasnya. Akan tetapi tak membawa siswa kepada tujuannya. Oleh karena itu Anda tidak akan menjumpai rumus-rumus dalam buku ini. Apa perlunya mengetahui banyak tentang hal-hal yang tidak bisa dipraktekkan? (h. 149-153).

Kamis, 27 November 2025

KETAT TAPI LONGGAR

Kolom Tempo

Oleh: Abdurrahman Wahid

(TEMPO, No. 31, Thn. X, 27 September 1980)


Kiai pantai utara Jawa memang terkenal keras sikapnya, kaku pendiriannya, dan ketat dalam perumusan pendirian keagamaannya. Entah di sebelah barat, seperti di daerah Cirebon, entah pula di timur.

Keyakinan agama para kiai pesisir itu kokoh, sekokoh batu karang yang sesekali menghiasi lepas pantai mereka yang dangkal. Hukum agama yang mereka rumuskan berwatak tegar, sedikit sekali mempertimbangkan keadaan manusiawi masyarakat di mana mereka hidup.

Tidak heranlah jika Kiai Wahab Sulang dari Rembang sempat membuat heboh di kalangan yang sedemikian teguh keyakinan dan ketat perumusan hukum agamanya.

Bagaimana tidak heboh, kalau istrinya yang anggota DRPD itu termasuk yang paling asyik dan getol mengikuti acara budaya non-santri di pendopo kabupaten. Sudah fraksi- nya F-PP, masih campur baur lagi dengan nyonya-nyonya Golkar dan Korpri dalam acara 'maksiyat' yang berupa tari-tarian Jawa dan gendingan. Bagaimana tidak geger, kalau istrinya kian kemari tanpa 'mahram' yang mengawal, sering dalam rombongan yang berisi para pria saja.

Pola tingkah laku 'non-santri' seperti itu tidak heran sebenarya kalau datang dari orang seperti Kiai Wahab Sulang. Karena ia memang tidak pernah konvensional. Tindakannya seringkali timbul dari spontanitas dirinya saja.

Sewaktu istrinya baru mendapat pembagian sepeda motor (dengan pembayaran kembali secara diangsur, tentunya), kiai kita ini segera menggunakannya. Sebagai akibat, ia menabrak sebuah rumah. Sepeda motor rusak dan ia sendiri luka-luka. Penjelasan sang kiai: "Habis saya pakai rem kaki."

"Lho, rem kaki 'kan memang harus dipakai dalam hal ini, kiai,"

"Ya, tetapi maksud saya bukan begitu; saya mengerem hanya pakai kaki saja. Karena belum tahu bagaimana dan di mana remnya.

Menarik untuk dikaji, bagaimana kiai tidak konvensional seperti ini masih diikuti orang. Mengapa ia masih diterima di lingkungan sesama kiai? Mengapa ia tidak diserang dan 'disensur' oleh kiai-kiai lain? Mengapa dibiarkan saja ia memberikan pengajian umum, memberikan fatwa hukum agama kepada yang datang memintanya, dan melakukan fungsi ke-kiai-an secara penuh?

Apakah hanya karena ketenarannya sebagai orang 'jaduk' yang kebal senjata tajam dan tidak mempan peluru? Kemampuannya mengobati orang dengan doanya yang mustajab?

Ternyata tidak demikian persoalannya. Ada sebuah jawaban yang menunjukkan lenturnya hubungan antara sesama kiai di pedesaan Jawa. Sebabnya terletak pada kesanggupan Kiai Wahab yang eksentrik ini untuk secara minimal mengikuti garis bersama, sedangkan pada saat yang sama mengikuti pola berpikir tidak konvensional itu.  

***

Dalam forum yang merumuskan hukum agama, Kiai Wahab terkenal sama keras pendiriannya dengan para kiai lainnya. Sama ketat perumusan hukumnya.

Sikap begini terutama dalam kasus-kasus yang menyang- kut dogma keagamaan: ia mengikuti konsensus dalam hal yang sudah ditetapkan, dan dengan demikian ia mengikuti pola umum sikap para kiai secara nominal.

Tetapi sikap di atas tidak dapat membatasi Kiai Wahab Sulang hanya pada pendekatan legal-formalistis belaka, tanpa mampu mengembangkan sikap adaptif terhadap kebutuhan masa. Dan kehebatan kiai yang satu ini justru terletak dalam kemampuannya mencarikan landasan keagamaan bagi sikap yang longgar terhadap kebutuhan manusiawi.

Anda butuh transfusi darah, tetapi takut hukum agamanya haram menerima donasi darah orang lain? Sikap yang salah, menurut Kiai Wahab. Orang Islam harus bertolong-tolongan, bukan? Allah 'kan telah berfirman 'bertolong-tolong- anlah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan'!

"Ya, kiai, memang demikian, tetapi bukankah masalah donor darah menyangkut soal hubungan kekeluargaan dan sebagainya?"

"Sampeyan ini apa tidak ingat firman 'permudahlah oleh kalian, jangan persulit' (yassiru wa la tu'assiru)! Asal tujuannya baik, dan untuk menolong manusia lain, apa salahnya?"

Untuk manusia kosmopolitan, sikap seperti ini bukanlah barang baru. Tapi pentingnya sikap ini baru dapat dirasakan dalam situasi di mana gagasan Keluarga Berencana masih sulit diterima karena keyakinan agama, di mana pendidikan non-agama masih dilihat dengan penuh kecurigaan; dan di mana segala sesuatu justru ditinjau dari rumusan legal-formalistik hukum agama.

Dan justru di sinilah terletak nilai penting dari sikap Kiai Wahab tersebut: sikap untuk merumuskan kembali hukum agama dengan mempertimbangkan kebutuhan manusiawi masyarakat. Jadi, sikap untuk meninjau kembali keseluruhan wawasan legal-formalistik itu sendiri.

Bukankah ini titik tolak pandangan hidup serba humanistis yang kini begitu dipuja orang?

Tetapi Kiai Wahab memiliki kelebihan atas semua orang humanistis dan kosmopolitan, yaitu bahwa benih-benih humanismenya secara kongkrit dilandaskannya pada keyakinan agama dan kebenaran firman Allah; sedangkan kita justru sering mempertentangkan antara keduanya.

Kelebihan ini harus diakui, lebih-lebih karena ia dimiliki oleh kiai desa yang tidak dapat menggunakan rem sepeda motor.


Sumber: TEMPO, No. 31, Thn. X, 27 September 1980

, ,

“MADILOG”-NYA TAN MALAKA

Artikel Kompas


Oleh: Frans Magnis Suseno


Di antara para Pahlawan Kemerdekaan Nasional (SK Presiden RI No 53/ 1963) Tan Malaka tetap diliputi suasana angker. Hanya sedikit orang yang betul-betul mengenalnya. Selama 20 tahun ia terpaksa merantau di luar negeri dan selama hampir tiga tahun menghuni pelbagai rumah tahanan. Ia banyak didesas-desuskan. Hanya sekali-sekali ia muncul ke depan, seperti di kongres Purwokerto Januari 1946 di mana dibentuk Persatuan Perjuangan. Partai Murba yang didirikan oleh kawan-kawan mudanya yang paling akrab tidak dimasukinya. Namun, ada yang menganggapnya sebagai satu-satunya sosok sepadan bobotnya dengan Soekarno.

Tan Malaka lahir 1897 di Suliki, Sumatera Barat, sekolah selama enam tahun di Belanda, 1921 di Semarang masuk dalam pimpinan Partai Komunis Indonesia, dan hanya setahun kemudian diusir Belanda. Semula ia menjadi wakil Komintern (Asosiasi Komunis Internasional) di Asia Timur Tahun 1926. Tan Malaka ke luar dari PKI karena mereka mempersalahkannya atas kegagalan revolusi 1926 yang memang ditentangnya sebagai avonturisme. Dengan Komintern pun hubungannya putus, dan sejak itu ia betul-betul berjalan sendiri.

Tahun 1942 teman-temannya menyelundupkannya kembali ke Tanah Air. Semula ia tinggal, selalu dengan nama samaran dan tidak diketahui oleh siapa pun, di Cililitan, tempat ia menulis buku klasiknya Madilog. Tahun 1943, ia menjadi buruh di Banten. Sesudah Proklamasi Subarjo memperkenalkannya kembali ke Jakarta. Pada bulan September 1945 terjadi pertemuan misterius Tan Malaka dengan Soekarno di mana Soekarno dilaporkan mengatakan bahwa "apabila terjadi sesuatu denganku, kamu yang mengambil alih pimpinan revolusi."

Dengan semboyan "merdeka 100 persen" dan "massa aksi" Tan Malaka semakin keras menentang usaha diplomasi pemerintah Sjahrir. Aksi itu memuncak dalam pembentukan Persatuan Perjuangan yang dimasuki oleh 141 organisasi politik dan sosial. Namun ternyata dukungan terhadap Tan Malaka tidak tangguh. Sejak akhir Maret 1946 ia ditahan. Ia kemudian dituduh mendalangi penculikan PM Sjahrir tanggal 3 Juli di Solo.

Namun pemerintah tak pernah berani menghadapkannya ke pengadilan. Baru pada pun cak peristiwa Madiun, bulan September 1948, pemerintah Hatta melepaskannya. Sesudah Pemerintahan RI ditangkap Be- landa (9 Desember 1948), Tan Malaka mempermaklumkan perlawanan total terhadap Belanda. Hal mana tidak berkenan di pimpinan TNI. Akhir Maret 1949 ia ditangkap dan tanggal 16 April ia begitu saja dieksekusi.

"Madilog”

Di antara sekian banyak buku Tan Malaka, Madilog pantas mendapat perhatian khusus. Dalam Madilog ia memaparkan cita-citanya bagi Indonesia. Meskipun isi Madilog sebagian besar mengikuti materialisme dialektik Friedrich Engels (sahabat karib Karl Marx yang memperlengkap filsafat sosial Marx dengan filsafat alam dan ontologi materialis yang kemudian akan menjadi dasar filosofis Marxisme-Leninisme). Madilog bukan semacam "ajaran partai" atau "ideologi proletariat", melainkan cita-cita dan keyakinan Tan Malaka sendiri.

Malahan sangat mencolok bahwa Madilog bebas sama sekali dari nada tidak sedap buku-buku Marxisme-Leninisme yang senantiasa menuntut ketaatan mutlak pembaca terhadap Partai Komunis, alias pimpinannya. Madilog bebas dari segala bau ideologis, bebas dari jargon ortodoksi partai yang tahu segala-galanya. Madilog adalah imbauan seorang nasionalis sejati pada bangsanya untuk ke luar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Tan Malaka melihat bangsa Indonesia terbelenggu dalam keterbelakangan oleh "logika mistika". "Logika mistika" adalah logika gaib, di mana orang percaya bahwa apa yang terjadi di dunia adalah kerjaan kekuatan-kekuatan keramat di alam gaib. Logika gaib melumpuhkan orang karena, daripada menangani sendiri tantangan yang dihadapinya, ia mengharapkannya dari kekuatan-kekuatan gaib itu. Daripada berbuat dan berusaha, ia mengadakan mantra, sesajen dan doa-doa.

Selama bangsa Indonesia masih terkungkung oleh logika gaib itu, tak mungkin ia menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Jalan ke luar dari logika gaib adalah "madilog", materialisme, dialektik dan logika. Mirip dengan August Comte, sang bapak positivisme seratus tahun sebelumnya, Tan Malaka melihat kemajuan umat manusia melalui tiga tahap: Dari "logika mistika" lewat "filsafat" ke "ilmu pengetahuan" atau "sains". 

Materialisme

Hal materialisme dan dialektika bukan pemikiran asli Tan Malaka, melainkan diambil alih dari Engels, Lenin dan tokoh-tokoh lain Marxisme-Leninisme. Tan Malaka amat meyakini mereka. Hanya tekanan pada logika adalah khas Tan Malaka.

Namun kita jangan salah paham terhadap Tan Malaka. Yang dimaksud dengan materialisme, bukan pertama-tama pandangan filosofis bahwa segala yang ada itu materi atau berasal dari materia (meskipun ini juga pandangan materialisme dialektik), melainkan keterarahan perhatian manusia pada kenyataan, daripada pada khayalan dan takhayul. Daripada mencari penyebab segala kejadian di alam gaib, carilah di kenyataan bendawi sendiri. Selidikilah realitas material dan itu berarti: pakailah ilmu pengetahuan! Materialisme berarti: mempelajari realitas bendawi dengan mempergunakan pendekatan ilmiah. 

Namun, materialisme maupun ilmu pengetahuan baru dapat menghasilkan pengertian sebesar-besarnya apabila disertai oleh dialektika. Dialektika—yang sepenuhnya diambil alih dari Engels dan kawan-kawan berarti bahwa realitas tidak dilihat sebagai sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak pernah berubah. Dialektika mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju melalui langkah-langkah yang saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua "hukum" dialektika: "hukum penyangkalan dari penyangkalan" dan "hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif ke perubahan  kualitatif" (mengapa Tan Malaka mendiamkan hukum yang ketiga, "kesatuan antara yang bertentangan", tidak jelas).

Secara khusus Tan Malaka menegaskan bahwa logika tidak dibatalkan oleh dialektika, melainkan tetap berlaku dalam dimensi mikro. Tan Malaka justru menunjukkan bahwa pemikiran logis, dengan paham dasar dialektis, membebaskan ilmu pengetahuan untuk mencapai potensialitas yang sebenarnya. Logika gaib dilawan dengan logika yang sebenarnya.

Selama lebih dari 100 halaman Tan Malaka menunjukkan betapa lebih mampu Madilog daripada logika gaib dalam menjelaskan segala kenyataan penting yang kita hadapi: perkembangan alam raya, evolusi organisme, sejarah manusia. Orisinalitas Tan Malaka kelihatan dengan penerapan kreatif Madilog yang sebenarnya ajaran Marxisme-Leninisme dalam segala macam bidang.

Dan pada akhir bukunya TanMalaka mengajak kita mengelilingi sebuah "taman raya" utopis di mana semua tokoh nasional dan internasional mendapat patungnya. Semua tokoh besar, apakah dari Majapahit atau pergerakan nasional, dari Plato sampai "guru Kung" dan Lenin, ditempatkan tinggi rendahnya menurut sumbangan mereka terhadap cara berpikir Madilog.

Guru bangsa  

Ada yang mengejutkan dalam Madilog, tanpa reserve Tan Malaka mendukung pemikiran Barat. Madilog adalah "pusaka yang saya terima dari Barat". Dengan penegasannya bahwa pemikiran "Timur" harus ditinggalkan Tan Malaka sangat mirip dengan seorang putra Sumatera Barat lain, Sutan Takdir Alisyahbana. 

Ada yang mengherankan, kedekatan konsepsi Tan Malaka dengan hukum tiga tahap August Comte tadi. Menurut Comte manusia menjadi dewasa melalui tiga tahap: dari tahap mitos dan agama (kejadian di dunia dijelaskan dengan kekuatan-kekuatan gaib), melalui tahap metafisika (realitas dijelaskan secara filosofis), ke tahap positif di mana manusia langsung mempelajari kenyataan inderawi dengan memakai ilmu pengetahuan. Pandangan Comte itu sendiri sekarang dianggap mitos abad ke-19. Orang sudah lama tidak lagi percaya bahwa ilmu pengetahuan dapat menyelamatkan umat manusia. Dalam hal ini pemikiran Tan Malaka masih khas optimisme abad ke-19 dulu.

Itulah masalah Madilog. Kerangka pikiran adalah kepercayaan polos abad ke-19 pada  ilmu pengetahuan. Dan konsepsi Madilog sendiri diambil alih dari materialisme dialektis Engels, Lenin dan kawan-kawan, yang dalam filsafat kontemporer dianggap tidak mutu (lain daripada materialisme historis Marx!). Terasa sekali bahwa Tan Malaka seorang otodidak yang rupa-rupanya tak pernah sempat untuk mendiskusikan pandangan-pandangannya dengan seorang pengkritik.  

Namun sebaiknya kita tidak terlalu terpikat pada yang tersurat itu. Nilai Madilog yang tersirat di dalamnya, yaitu dalam keprihatinan mendalam Tan Malaka atas keadaan bangsanya yang belum berpikir rasional. Seluruh Madilog merupakan imbauan agar bangsa Indonesia mau ke luar dari cara berpikir tidak rasional supaya ia dapat mengambil tempatnya di antara bangsa-bangsa besar. Sampai Tan Malaka dalam Madilog dengan panjang lebar menguraikan metode-metode pendekatan ilmiah dan dalil- dalil logika seakan-akan ia mau sekaligus menulis buku teks "pengantar logika" atau "ilmu alamiah dasar". 

Sulit untuk melihat apa yang sekarang, di permulaan abad ke-21, masih dapat dipelajari dari Madilog. Sebagai penunjuk  jalan Madilog waktu ditulis pun sudah jauh ketinggalan. Bukan sebagai buku pelajaran, melainkan sebagai saksi semangat berkobar-kobar pembebasan dari keterbelakangan Madilog tetap masih membesarkan hati.

Tetapi barangkali arti paling  penting buku itu terletak dalam kenyataan bahwa kita ditantang olehnya untuk memikirkan kembali apa itu rasionalitas, dan rasionalitas macam apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Dan kalau betul bahwa mitos harus dibuang (dan memang betul!), lalu apa tempat agama dalam kerohanian bangsa yang mau membangun kehidupan bersama yang maju, berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab?


Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan, guru besar filsafat sosial di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta.


Sumber: 

Kompas, 27 November 2000


Selasa, 25 November 2025

PAHLAWAN DALAM SEJARAH


Oleh: Abdurrachman Surjomihardjo, Ahli Peneliti Utama LIPI dan Pakar Sejarah

(FORUM KEADILAN, Nomor 16, Tahun II, 25 November 1993, “Catatan Sosial“)


Pergerakan nasional Indonesia, perang dan revolusi Indonesia, mencuatkan nama besar dan peristiwa besar, seperti kebangkitan nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, dan lain-lain. Pertempuran Surabaya yang diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan merupakan persepsi yang hidup bagi mereka yang mengalami peristiwa itu. Sebaliknya, bagi yang berada di luar peristiwa tersebut, itu merupakan upaya untuk mencari makna kejiwaan dan keteladanan.


Sejarah setiap bangsa disampaikan dengan cara memperkenalkan "orang besar", baik sebagai mitos maupun dalam kenyataan. Suku-suku bangsa di Indonesia mengenal tokoh-tokoh pendiri sukunya secara turun-temurun, yang semakin lama menjadi kisah yang berbau mitos. Setelah Indo- nesia merdeka dikenal pula para bapak pendiri republik ini, yang kemudian diperkaya dengan pengangkatan pahlawan-pahlawan resmi, jika tidak salah sudah mendekati jumlah 100 orang pahlawan. Banyaknya buku biografi para "orang besar" dalam sejarah Indonesia menjadikan persepsi dan pencarian makna kepahlawanan semakin marak. Tetapi, itu juga menumbuhkan pertanyaan kritis, apa sebenarnya pahlawan itu?


Sisi lain dari mencuatnya "orang besar" dalam sejarah bukan hanya merupakan masalah praktis, tapi juga menumbuhkan permasalahan teoritis dan analisis sejarah. Banyak yang menyatakan, tanpa "orang besar" pun gerakan-gerakan menuju masyarakat baru dari generasi ke generasi akan berjalan terus walaupun tidak dapat dihindari. Dalam sejarah politik, lapisan yang berkuasa lalu menganggap dirinya punya nilai lebih daripada yang digantikannya. Dalam masa sejarah seperti itu, apalagi yang timbul karena krisis yang tajam, harapan-harapan baru tumbuh dan kata demokrasi menjadi tumpuan untuk perbaikan moral, sosial, dan ekonomi. Tetapi, seperti kata seorang pemikir sejarah, "Bila suatu demokrasi bijaksana dan arif, kepercayaan untuk bekerja sama dengan para pemimpin pada waktu yang sama harus sejalan dengan keraguan mengenai kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka." Contoh yang gamblang, yaitu kekerasan yang terjadi dan meminta korban jiwa dari sekelompok rakyat atau perorangan, misalnya Marsinah, yang menuntut hak-haknya sebagai warga negara.


Bagaimanapun minat terhadap "orang besar" juga ditimbulkan oleh alasan-alasan psikologis. Kenyataan bahwa banyak pemimpin menganggap dirinya sebagai bapak negara atau sebagai penyambung lidah rakyat, atau para pengikutnya menganggap pemimpin sebagai bapak. Itu tampaknya sesuai dengan pendirian Freud mengenai pencarian manusia kepada "kompleks" bapak atau ibu, yang memberikan rasa aman dan kestabilan perasaan di masa kanak-kanak mereka. Orangtua, guru, pemimpin, dan lain-lain memberi banyak orang untuk melengkapi kebutuhannya, menenangkan perasaannya, dan menjawab pertanyaan yang tersimpan dalam hati atau dalam pikiran yang semakin tumbuh. Untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri dan berpikir merdeka memerlukan pengalaman dan suasana kemasyarakatan tersendiri, yang dalam perpindahan dari generasi ke generasi akan sangat berpengaruh. 


Beberapa hari lalu, kita memperingati Hari Pahlawan, 10 November 1945. Pada tanggal itu, sekarang, telah menjadi sejarah dan tinggal merupakan ungkapan ingatan bersama pada perjuangan rakyat dan pemimpinnya terhadap prinsip pengabdian, keberanian, dan rasa setia kawan untuk melaksanakan semboyan "merdeka atau mati". Sekarang, semboyan itu semestinya "merdeka atau hidup", berdasarkan kesadaran atas hak-hak serta kewajiban konstitusional, dan menjaga agar cita-cita perjuangan membangun masyarakat adil dan makmur tetap menjadi pedoman hidup dan perjuangan. Makna emosional Pertempuran Surabaya kini menjadi semangat agar tetap hidup dan berjuang di bidang-bidang yang sampai kini belum sempurna dalam hidup kenegaraan kita selama 48 tahun.


Makna sejarah Pertempuran Surabaya kini telah terekam dalam banyak historiografi atau penulisan sejarah. Peringatan menjadi berbobot bila dikaitkan dengan pemahaman nilai-nilai perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peringatan harus menjadi semacam refleksi diri, peneguhan tekad kepahlawanan dalam arti yang luas bagi generasi baru. Kini, generasi baru harus lebih baik, lebih ulet, dan lebih cerdas, menghadapi apa yang harus dipertahankan serta apa yang perlu di-  ubah. Dilema itu juga dialami para pahlawan 10 November 1945, yang kini telah tiada… □


Sumber: FORUM KEADILAN, Nomor 16, Tahun II, 25 November 1993

Senin, 24 November 2025

LOTRE

Forum Keadilan

Oleh: Karni Ilyas


Pernahkah Anda menjadi orang miskin? Mudah-mudahan belum pernah, dan jangan pernah. Tapi, kalau Anda belum pernah miskin, tak perlulah Anda terlalu menggebu-gebu menuntut kupon berhadiah SDSB dihapuskan. Anda memang tak membutuhkan barang itu. Sehingga, Anda bisa dengan enak mengatakan bahwa SDSB itu mimpi kosong, bikin orang frustrasi, memiskinkan, dan karena itu perlu dikuburkan.

Beda dengan mereka yang miskin. Kupon SDSB itu adalah satu-satunya kenikmatan yang masih tersisa bagi mereka. SDSB pula yang sampai saat ini mereka harapkan sebagai satu- satunya jalan bagi mereka untuk lepas dari kemiskinan. SDSB pula yang mereka harapkan sebagai dewa penolong dari kesulitan yang melilit tubuh dan kehidupan mereka.

Mungkin Anda akan menganggap semua itu sebagai mimpi. Anda tak salah. Tapi, justru mimpi itulah satu-satunya kenikmatan bagi "si miskin". Bagi seorang tukang becak, buruh tani, tukang gali tanah, atau tukang ojek, yang berpenghasilan Rp 1.000 sampai Rp 3.000 sehari, memiliki uang Rp 450 ribu sungguh sulit dibayangkan, bahkan mimpi pun mereka tidak. Jumlah yang tak mungkin mereka capai walaupun mereka bekerja sampai tua. Jangankan mobil, rumah, atau tanah, yang bagi Anda barang biasa, barang-barang seperti televisi dan sepeda motor pun bagi mereka merupakan khayalan.

Di sinilah peran SDSB, khususnya "kupon putih", buat mereka. Dengan kupon yang diundi setiap pekan itu, sekurang-kurangnya mereka bisa berkhayal dan bermimpi. Kalau saja tiga angka pasangan mereka di kupon bernilai Rp 1.500 tembus, maka mereka akan mendapat Rp 450 ribu.

Itu jumlah yang sangat luar biasa bagi mereka. Apalagi kalau bisa menang Rp 1 juta, atau malah Rp 1 miliar. Semua impian mereka—rumah, tanah, pesawat televisi, sepeda motor, mungkin juga kawin lagi—seketika bisa diwujudkan. Amboi.

Kalaupun yang tembus hanya dua angka dari belakang (buntut), dan mereka memenangkan hadiah Rp 90 ribu, toh, sudah cukup lumayan. Minimal, dengan hadiah itu, mereka bisa pulang kampung, membeli pakaian untuk anak-anak, dan sedikit foya-foya—memotong ayam, misalnya. Apa tidak asyik.

Itulah khayalan "si miskin" yang sangat sederhana. Mungkin saja, khayalan itu tak menjadi kenyataan. Tebakan mereka meleset. Tapi, tak apa. Masih ada hari esok, pekan depan. Yang jelas, khayalan mereka masih hidup. Dan, mohon dipahami, hidup dengan harapan hari esok yang lebih baik sungguh lebih menggairahkan ketimbang tanpa harapan sama sekali.

Saya tentu tak ingin mengatakan bahwa SDSB itu halal dan perlu dianjurkan, walaupun sebenarnya undian seperti itu sudah ada sejak dulu, bahkan sejak zaman Belanda, yang dikenal dengan nama lotre. Sebab, dengan cara membiarkan SDSB berlanjut terus, katanya, sama saja dengan membiarkan "si miskin" tadi hidup dalam dunia mimpi. Malah, sebagian besar dari mereka, bisa dipastikan, akan lebih miskin lagi akibat setiap pekan membayar SDSB. Malah, mungkin pula mereka terjerat utang akibat mimpi-mimpi kosong itu.

Sebagian kecil yang memenangkan hadiah juga belum tentu bisa mengangkat taraf hidup mereka. Ayah saya pernah bertutur tentang seorang penjual telur asin yang memenangkan hadiah utama lotre pada zaman Belanda. Si tukang telur tak tanggung-tanggung mewujudkan impiannya: membeli toko di jalan utama di Kota Padang. Ia berdagang tekstil—dagangan yang paling bergengsi di Kota Padang ketika itu. Tapi, celakanya, tukang telur asin tadi tak tahu cara mengelola toko tekstil dan memimpin beberapa orang pegawai. Akibatnya, dua tahun kemudian, tokonya bangkrut, sehingga akhirnya ia kembali ke profesinya semula: menjual telur asin. 

Cerita yang sama, seperti dialami Mak Awi Epen dari Karawang pemenang SDSB Rp 1 miliar (FORUM No. 15, 11 November 1993), terulang kembali. Artinya, impian "si miskin" kebanyakan tetap menjadi mimpi. Mungkin sudah suratan, kata orang bijak.

Karena itu, yang diperlukan kini, menurut saya, adalah mengubah "suratan" tadi. Maksudnya, kalau ingin memberantas SDSB, satu-satunya cara adalah mengangkat "si miskin" itu ke taraf hidup yang lebih baik. Kalau saja si tukang batu, tukang becak, atau sopir bajaj, terangkat hidupnya seperti Anda, niscaya mereka juga akan anti-SDSB dan menganggap undian itu haram. Kalaupun mereka membeli SDSB, itu tak lebih dari sekadar kesenangan, bukan untuk membayar utang. Bukankah kemiskinan (kefakiran) sangat dekat dengan kekafiran.

Bagi saya, mungkin juga orang lain, yang selama ini mengganjal hanyalah cara pemerintah melanggengkan SDSB. Apa gunanya menyebut kupon itu dengan istilah "sumbangan dana sosial berhadiah", padahal itu jelas undian. Apa pula perlunya menteri sosial mengatakan, "Yang miskin jangan beli SDSB," padahal semua orang tahu bahwa yang butuh kupon itu hanyalah orang miskin. Apalagi pernyataan pejabat bahwa SDSB itu diperlukan untuk mendidik masyarakat beramal. Rakyat tak sebodoh itu. Silakan teruskan SDSB. Biarlah "si miskin" bermimpi. Sebab, hanya itu yang masih mereka miliki. □


Sumber: 

FORUM KEADILAN, Nomor 16, Tahun II, 25 November 1993, “Catatan Sosial“


TERBARU

MAKALAH