alt/text gambar

Selasa, 18 Agustus 2026

, ,

BAHASA DAN KEBANGSAAN INDONESIA

Kompas, 19 Agustus 2020


Oleh: Fachry Ali, Salah Satu Pendiri Lembaga dan Pengembangan Etika Usaha (LSPEU) Jakarta


Mungkin agak melebih-lebihkan jika saya menyatakan “terkejut” ketika terbentur fakta sejaah tentang posisi “bahasa kita”. 

Dalam “Writing from the Colonial Margin: The Letters of Aboe Bakar Djajadininrat to Christian Snouck Hurgronyw” (Journal Indonesia and the Malay World, November 2003), Michael F Laffan mengungkapkan sebuah fakta sejarah hubungan surat-menyurat antara Abpe Bakar Djajadiningrat (yang tinggal di Hijaz, Arab Saudi) dan intelektual-kolonialis Snouck Hurgronye akhir abad ke-19. 

Kecuali untuk maksud tertentu, surat-surat Aboe Bakar (yang berisi informasi tentang politik dan masyarakat Hijaz serta gerak-gerik jemaah haji asal Hindia Belanda) itu lebih sering ditulis dalam bahasa Arab daripada bahasa Melayu. Untuk sebagian, Laffan menyebutnya karena bahasa Melayu di Hijaz saat itu “was an inferior language for scholarship” (bahasa rendahan dalam kesajarnaan). Sebagai orang terpelajar, Aboe Bakar lebih bangga menulis laporan-laporan kepada Hurgronye dalam bahasa Arab. Keterpelajarannya inilah yang diproyeksikan kepada anaknya di Banten. Dalam salah satu surat kepada Hurgronye pada 1885, ia ungkap niat mengirimkan anaknya belajar bahasa Belanda di Batavia paa 1887. 

Lebih condong menggunakan bahasa Arab dan rencana Aboe Bakar mengirimkan anaknya belajar bahasa Belanda merefleksikan l’histoire des mentalite (struktur kesadaran) elite pribumi di masa itu. Ini bukan saja impian mengintegrasikan diri ke birokrasi kekuasaan kolonial Belanda, melainkan merefleksi hasrat memperoleh prestise dan status sosial tinggi di hadapan rakyat jelata. Dalam realitasnya, kemampuan elite pribumi berbahasa Belanda menimbulkan “insiden” lucu. Akhir abad ke-19, seperti dikisahkan Ajip Rosidi dalam Sjaruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah (1986), kontrolir Belanda di Banten, PWJ Bischoff, bertanya kepada seorang camat, Arsjad, dalam bahasa Sunda. 

Bischoff, selama di Belanda sudah belajar bahasa Sunda dan sangat percaya diri berkomunikasi dengan “bawahan” pribuminya dalam bahasa itu. Lulusan OSVIA (didirikan pada 1879) di Bandung, Arsjad dengan sendirinya mampu berbahasa Belanda. Karena bahasa Sunda Bischoff “belepotan”, Arsjad menjawab pertanyaannya dalam bahasa Belanda. Dan, Ajip melanjutkan ceritanya, “Mata sang kontrolir mendelik memandang kepada sang camat. Dia tidak bisa lagi menahan dirinya, hingga dikatakan bahwa camat telah berbat kurang ajar dan tidak sopan kepadanya.” Akibatnya, jabatan Arsjad dicopot dan pangkatnya diturunkan menjadi mantri. 

Pergumulan kekuasaan

Raden Arsjad di atas adalah ayah tokoh nasional Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989). Namun, bukan cerita ini yang ingin saya lanjutkan. “Insiden” itu memperlihatkan dua hal pokok. Pertama, peristiwa itu menunjukkan terbentuknya apa yang disebut mokolo oleh Hendri Alers dalam On en rode of groene Merdeka (1956). Melalui Benedict R’O G Anderson yang mengutip karya Alers itu dalam “Language of Indonesian Politics” (1990), kita tahu mokolo adalah sebuah golongan aristokrasi Sulawesi selatan zaman kolonial. Mereka bukan saja hidup terpisah dari masyarakat, juga melihat diri dalam sinar Nietzschean consciouness of superiority (kesadaran ras lebih tinggi ala Nietzsche). 

Alers, sebagaimana dikurip Anderson, menyatakan birokrasi kolonial Belanda mengalami mokolisasi dengan menetapkan ras Belanda sebagai pengganti aristocratic esprit de corps. “Mental dasar borjuasi pemerintahan kolonial Belanda,” lanjut Anderson, “dengan demikian mengambil karakter ‘luar’ aristokrasi mokolo berhadapan dengan penduduk berkulit sawo matang.” Insiden Arsjad-Bischoff antara lain adalah efek dari mokoloisasi wujud birokrasi kolonial Belanda. Dalam hal ini, sesuai watak Nietzschean consciouness superiority, bahasa Belanda terlalu “agung” untuk digunakan kaum pribumi kendatipun oleh seorang terpelajar lulusan OSVIA. 

Kedua, akan tetapi, posisi “agung” bahasa Belanda kala itu merupakan gejala baru. Kendati Belanda berhasil melakukan pukulan terakhir atas Portugis dengan, seperti dikatakan CR Boxer dalam bukunya, The Portuguese Seaborne Empire, 1415-1825 (1971 {1969}), menyerang Makassar (yang melindungi Portugis) pada 1660 dan 1667, bahasa Belanda masih dianggap “kelas dua” di kawasan Asia. Di situ Boxer menyatakan Sailon Raja Sinha II (162-16870 bersekutu dengan Belanda melawan Portugis, ia menolak surat resmi dalam bahasa Belanda. Ia lebih bisa menerima dokumen resmi dalam bahasa Portugis walau, kata Boxer, dalam creole forms (bahasa Portugus yang teah bercampur dengan budaya India {Barat}). 

Dalam konteks Nusantara, Boxer mengatakan bahwa bukan saja penguasa Makassar fasih berbahasa Spanyol, bahkan “salah satu di antaranya telah membaca semua karya asli penulis Portugis, Fray Luis de Granada.” Ironisnya, pembawa bahasa Portugis dalam bentuk creole ke Batavia, pusat kekuasaan Belanda, justru para budak dan kalangan kelas rendah lain. Sebagai akibatnya, tulis Boxer, “it was spken by the Dutch and half-caste women born and bred at Batavia (menjadi bahasa sehari-hari orang Belanda dan para perempuan peranakan yang lahir dan besar di Batavia). Lebih ironis lagi, lanjut Boxer, bahasa Portugis yang digunakan orang-orang Belanda itu kadang-kadang “to the exclusion of their tounge”.

Dengan demikian “keagungan” bahasa Belanda terdemonstrasikan pada singkap congkak Kontrolir Bischoff pada akhir abad ke-19 di atas adaah hasil “pergumulan kekuasaan” dua kekuatan golbal abad ke-16 hingga ke-18 di Nusantara dengan kekalahan Portugis. Dalam spekulasi saya, meskipun hubungan elite-pribumi-Belanda (diwakili VOC) telah lebih erat sejak abad ke-18, melalui investasi politiknya memadamkan pemberontakan Trunojoyo melawan Mataram (1674-1680) dan pada 1740-1770-an, seluruh wilayah pantai utara Jawa Tengah dan timur jatuh ke tangan Belanda, termasuk Jawa Barat, “pengagungan” bahasa Belanda baru menemukan pijakan material dan kekuasaannya pada 1830. 

Kita tahu, pada periode inilah dilancarkan sistem tanam paksa. Kesuksesan program raksasa tak berpreseden ini mendorong lahirnya modern colonial state (negara kolonial modern). Sebuah sistem birokrasi modern yang hampir sepenuhnya tegak pada eksploitasi kekayaan pertanian ekspor. Keuntungan material yang diperoleh dan dilanjutkan dengan kebijakan “pintu terbuka” dengan mengundang modal besar Eropa berinvestasi di Nusantara setelah sistem tanam paksa dicabut pada 1870, secara struktural mendorong pemekaran kehadiran negara. Gabungan antara model material yang terakumulasi dan jaringan birokrasi negara modern yang menyangganya membuat kekuasaan Belanda di mata pribumi menjadi tak termaknai. 

Inilah situasi struktural yang, seperti diungkapkan Abo Bakar kepada Hurgronye di atas, menimbulkan fantasi “keagungan” behasa Belanda di kalangan elite pribumi. Sebuah bahasa yang hadir dengan dukungan kekuasaan politik, kekayaan, ilmu pengetahuan, teknologi. 

Transmisi kedarana intelektual

Maka, bahasa Melayu, cikal bakal bahasa kebangsaan kita dalam struktur kepongahan kekuasaan kolonial itu “ternista”. Dalam tulisannya yang lain. “Sembah-Sumpah: The Politics of Language and Javanese Culture (1990), Benedict Anderson mengutip hinaan Belanda dengan ungkapan brabel-Maleisch (repetan Melayu). Ini tak bisa diterima bahkan cerita kanak-kanak berbahasa Jawa, Serat Kancil Amongsastra karya Kyai Rangga Amongsastra dan terbit pada 1878, seperti dinyatakan Liaw Yock Fang dalam Sejarah Kesustraan Melayu Klasik (2011) telah berkaitan dengan sastra Mesir. 

Di sini, elemen-elemen bahasa di Nusantara telah mempunyai jaringan global. Maka, sebagaimana ekspresinya akan kita lihat di bawah, “penistaan” tersebut menjadi, mengutip Clifford Geertz dalam The Integrative Revolution: Primordian Sentiments and Civil Politics in the New States (1993 {1973}), “humiliating sense of exclusion from the important centers of power in world society” (perasaan terhina karena tekecualikan dari pusat-pusat kekuasaan dalam dunia masyarakat). Inilah dasar mental-struktural yang secara unik mendorong lahirnya bahasa Indonesia. 

Akan tetapi, dasar material keberadaan bahasa Melayu abad ke-19 itu memang merupakan sisa-sisa kekuatan para aktor perdagangan kawasan Asia Tenggara, dalam apa yang disebut sejarawan Anthony Reid, The Age of Commerce (1988), yang berlangsug sepanjang 1450-1680 itu. Mengalami kemunduran material hebat akibat gempuan aktor-aktor Eropa dalam bidang yang sama, bahasa Melayu kehilangan basis material pengembangan diri. Terseok ke belakang “panggung”, tak berkesempatan bersentuhan dengan dinamika zaman baru yang kian mengandalkan gagasan modern dan dalam keseharian bergulat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa ini mengalami proses pedesaanisasi, hanya hidup di kalangan coastal petit boourgeoise (pedagang-pedagang kecil di wilayah panatai) di mana pengalaman kolektif mereka secara struktural absen dari benturan dimanika modernisasi dan industrialisasi Barat. 

Maka, sejarah memperlihatkan “ironi menguntungkan” persuaan kaum intelegensia Indonesia awal dengan bahasa Belanda melalui Kebijakan Etis, dicanangkan Ratu Wilhelmina pada 1901. Dalam The Languages of Indonesian Politics, Benedict Anderson menyatakan posisi lumpen (rendah tak bergairah) bahasa Melayu menemukan darah semangat baru dengan kemunculan kaum intelektual pribumi dalam bilingual (dwibahasa) Belanda dan Melayu. Melalui penguasaan bahasa Belanda, kaum intelektual yang tak punya tempat dalam struktur kolonial itu bersua dengan sistem gagasan modern yang tak diperoleh di bahasa Melayu dan lokal lainya. 

Maka, HOS Tjkroaminoto, Mohammad Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Ali Sastroamidjojo atau Iwa Sumantri, Mohammad Yamin, dan lainnya, kalangan terdidik awal kaum pribumi secara Barat, berbenturan dengan sistem gagasan sosialisme, Marxisme, serta keadilan sosial dan demokrasi lewat materi bacaan berbahasa Belanda itu. Semua materi bacaan berbahasa Belanda yang dibaca kaun intelektual awal itu adalah sistem gagasan yang secara kritikal mempertanyakan keabsahan kolonialisme di mana pun, termasuk Indonesia. 

Proses sejarah inilah yang melahirkan apa yang disebut Benedict Anderson revolutionary Malay (bahasa Melayu revolusioner). Sebab penguasaan kaum intelegensia atas bahan-bahan bacaan Belanda yang revolusioner itu dituangkan ke bahasa Melayu. Karena itu, dari status lumpen language, bahasa Melayu menjadi bahasa yang bukan saja bergairah, melainkan juga menemukan landasan pijakan baru: semangat revolusioner anak negeri memerdekakan diri. Dalam situasi inilah, Sumpah Pemuda 1928 meneguhkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa “persatuan” bangsa. 

Titik tumpu dan darah bangsa

Pada 1948, ibu kandung saya, Asiah Ilyas, menulis lagu romantik perjuangan di Susoh, Aceh Selatan (kini Aceh Barat Daya), memberi semangat pemuda-pemuda Aceh mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Medan Area, Sumatera Timur, dalam bahasa Indonesia yang elok. 

Dunia keliling sepi, kutinggalkan nyanyi gembala/di bawah langit jaya, berjabat tangan kita/berpisah untuk Nusa

Kini antarkan ku berjuang, berpisahannya di mata/bersatu dalam hati, bertemu kita nanti/di syurga yang abadi

Karya ibu saya ini mungkin lebih telat dua atau tiga tahun dari lagu Cornel Simadjuntak, “Maju Tak Gentar” atau “Halo-halo Bandung” ciptaan Ismail Marzuki (?). Kendati kedua lagu terakir ini lahir di Jawa, seperti juga lagu-lagu perjuangan lainnya, semuanya bukan saja bertemu dalam satu semangat, melainkan, meminjam Benedict Anderson, mengungkapkan emotive words (kata-kata mengandung luapan rasa).

Inilah ciri pokok revolutionary Malay atau kemudian “bahasa Indoensia revolusioner”. Sebuah bahasa yang lahir (kembali) untuk menemani masyarakat yang sedang bergolak dan berjuang. Akan tetapi, di atas itu, kita melihat ungkapan rasa di Susoh yang terpencil di ujung Sumatera iru bersatu dengan apa yang terungkap di Jawa. Melalui lagu-lagu itu, kita menandai lahirnya apa yang disebut Edward Shils dalam Primordial, Perxonal, Sacred and Civil Ties (1957), civil politics di dalam masyarakat kita dengan relatif tanggalnya kesetiaan sempit primordialisme menuju kepada kesetiaan besar. Kelahiran bahasa Indonesia, dengan demikian, adalah terciptanya “titik temu” aneka etnis untuk membentuk kesatuan sebuah bangsa berhasrat merdeka. 

Dan, walau terdengar “klise”, ini adalah sebuah anugerah besar bagi bangsa Indonesia. Geerz, dalam Integrative Ravolution, juga menyinggung kemasygulan pemimpin India, Jawaharlal Nehru, yang diungkapkan pada 1948: “How thin way rhe ice upon which we were skatting” (Betapa tiisnya lapisan es di atas mana kita berselancar). Ini berkaitan dengan tugas dia, bersama Patel dan Sitaramayya, di dalam Panitia Bahasa (Lingustic Commitee Partai Kongres India. “Tetapi,” tulis Geertz, “mengerikan atau tidak, Nehru, Patel dan Sitaramayya pada akhirnya terpaksa menyerah pada tuntutan menjadikan Andara sebagai bahasa Negara BagianTelugu.” Sebagai akibatnya, the thin ice was broken. 

Selama satu dasawarsa, karena beragamnya, Inda direpotkan oleh reorganisasi politik berdasarkan garis bahasa. Dan sebagai akibatnya, situasi ini jadi problematik karena, Geertz melihatnya sebagai “pandemi” terhadap negara-negara baru. Dan kekacauan semantik pun terjadi. Masyarakat-masyarakat baru merdeka itu “meluncur” ke arah yang tak definitif: masyarakat “ganda” atau “majemuk” atau “aneka agam” dan berujung pada yang tak konklusif: ... “states that are not nations or nation that are not states” (negara yang bukan bangsa atau bangsa yang bukan negara), tulis Geertz. 

Dalam konteks kebangsaan, melalui bahasa Melayu yang kemudian jadi bahasa kebangsaan, Indonesia tak dihadapkan dengan dilema tak terperikan itu. Sekitar 20 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan 1945, melalui bahasa Melayu, Mohammad Yamin telah memperkenalkan konsep-konsep dasar  dalam puisinya tentang kebangsaan. Seperti dinyatakan Maman S. Mahayana dalam “Mohammad Yamin: Indonesia dalam Imajinasi” (Jamal D Rahman, ed, 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh {2014}), Yamin menyosialisasikan konsep “Tanah Air” dan “merdeka” yang hingga kini terpatri dalam kenangan kolektif kita. Dua hari jelang Sumpah Pemuda II 28 Oktober 1928, Yamin menulis puisi berjudul “Indonesia Tumpah Darahlu. Di dalamnya ia ungkapkan emotive phrase (frasa yang mencentus emosi): Karena kita sedarah-sebangsa/bertanah air di Indonesia. 

Baik judul maupun isi puisi Yamin ini bukan hanya termaktub dalam Sumpah Pemuda yang historik itu, atau mengelakkan kita dari pengalaman menjengkelkan bangsa India, melainkan menciptakan “darah kehidupan” ke dalam tubuh bangsa Indonesia. Di tangan kaum terpelajar generasi awal, bahasa Melayu atau Indonesia bukan saja tak lagi sekadar “repetan”, melainkan sesuatu yang revolusioner, yang mengawal keutuhan bangsa hingga kini. 


Sumber: Kompas, 19 Agustus 2020


Senin, 17 Agustus 2026

,

ITU ANALISIS PRABOWO



"Pada BKO, perintah untuk melakukan bantuan biasanya dikeluarkan oleh komandan setingkat lebih tinggi. Jika BKO diberikan kepada Kopassus sebagaimana yang dimaksud Jenderal Subagyo di atas maka terdapat beberapa kemungkinan. Pertama, perintah BKO di- keluarkan Panglima ABRI (pada waktu itu). Kedua, BKO dikeluarkan oleh KSAD (pada waktu itu), dan kemungkinan lainnya, BKO dikeluarkan oleh Panglima Tertinggi ABRI. Hal ini yang tidak dijelaskan Jenderal Subagyo."


Langkah Penculikan Aktivis

ITU ANALISIS PRABOWO


(Kompas, 11 Agustus 1998)


Keterangan foto:

PENUHI PANGGILAN - Letjen TNI Prabowo Subianto, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus), Senin (10/8), memenuhi panggilan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) di Markas Besar TNI AD, Jakarta.


Jakarta, Kompas 


Ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP) Jenderal TNI Subagyo Hadisiswoyo mengutarakan, tidak pernah ada perintah yang dikeluarkan oleh pimpinan ABRI untuk melakukan penculikan dan penyekapan terhadap sejumlah aktivis. Apa yang dilakukan oleh mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) Letjen TNI Prabowo Subianto sehubungan dengan Kasus Orang Hilang (KOH), merupakan hasil analisisnya terhadap perintah Bawah Kendali Operasi (BKO) yang diterimanya.

Hal itu dikatakan Jenderal Subagyo menjawab wartawan, Senin (10/8), di Markas Besar TNI AD Jakarta, usai pemerik- saan DKP terhadap Letjen TNI Prabowo Subianto. Dalam acara jumpa pers yang berlangsung di halaman depan Mabes AD tersebut, Subagyo didampingi Wakil Ketua DKP Letjen TNI Fachrul Razi dan anggota DKP Letjen TNI Djamari Chaniago dan Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI I Dewa Putu Rai.

Walaupun tidak menjelaskan siapa yang mengeluarkan perintah BKO yang kemudian dianalisa oleh Letjen Prabowo‒Jenderal Subagyo mengatakan, tidak benar jika Prabowo menerima perintah dari Panglima ABRI dan Kepala Staf TNI AD (KSAD), yang waktu itu dijabat oleh Jenderal TNI Feisal Tanjung dan Jenderal TNI Wiranto, untuk melakukan operasi penculikan. "Yang benar adalah perintahnya itu adalah untuk mem-BKO-kan. Perintah BKO inilah yang dianalisis oleh Letjen Prabowo," tutur Subagyo, yang juga KSAD ini.

Menurut catatan Kompas, di lingkungan ABRI dikenal berbagai bentuk status bantuan terhadap suatu kekuatan/instansi tertentu, yakni apa yang disebut Bantuan Langsung (BL), Bawah Perintah (BP) serta BKO. Seluruh jenis bantuan itu berstatus sama, kecuali pada urusan administrasinya. 

Pada BL dan BP misalnya, perintah untuk memberikan bantuan dapat dikeluarkan oleh komandan satuan yang akan diperbantukan tersebut. Sedangkan untuk urusan administrasi/logistiknya seluruhnya akan dibebankan kepada instansi yang dibantu.

Pada BKO, perintah untuk melakukan bantuan biasanya dikeluarkan oleh komandan setingkat lebih tinggi. Jika BKO diberikan kepada Kopassus sebagaimana yang dimaksud Jenderal Subagyo di atas maka terdapat beberapa kemungkinan. Pertama, perintah BKO di- keluarkan Panglima ABRI (pada waktu itu). Kedua, BKO dikeluarkan oleh KSAD (pada waktu itu), dan kemungkinan lainnya, BKO dikeluarkan oleh Panglima Tertinggi ABRI. Hal ini yang tidak dijelaskan Jenderal Subagyo.

Berlangsung terbuka

Secara terpisah, Wakil Ketua DKP Letjen TNI Fachrul Razi kepada Kompas mengatakan, suasana selama berlangsungnya pemeriksaan terhadap Letjen Prabowo berlangsung terbuka. "Suasana terbuka. Si terperiksa (Letjen Prabowo-Red) juga memberikan keterangan apa adanya. Semuanya berlangsung baik," tutur Kasum ABRI ini.

Pemeriksaan DKP terhadap Letjen Prabowo Subianto dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Lebih dari seratus wartawan dalam dan luar negeri yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam kompleks Mabes AD terpaksa menunggu di luar pagar. Kehadiran sejumlah wartawan ini kemudian menarik perhatian dari para pengguna jalan dan ratusan warga masyarakat lainnya yang kemudian ikut bergabung dengan kerumunan wartawan tersebut.

Mantan Danjen Kopassus Letjen Prabowo Subianto tiba di Mabes AD pada pukul 08.20 WIB, mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) militer. Menantu mantan Presiden Soeharto ini datang dengan menumpang kendaraan Land Rover warna hijau metalik dengan pelat nomor Mabes ABRI 3303-01 yang di atasnya bertengger bintang tiga. 

Putra dari begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini kelihatan sedikit gemuk. Pangkat bintang tiga dibahunya yang biasanya di kelilingi lingkaran merah, nampak sudah tidak ada. Hal itu menunjukkan bahwa lulusan AKABRI 1974 ini sudah tidak memegang jabatan terakhirnya sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) ABRI. 

Sebelum Prabowo tiba, sejak pukul 06.30 WIB, Ketua DKP Jenderal TNI Subagyo HS (KSAD), Letjen TNI Djamari Chaniago (Panglima Kostrad) dan Letjen Yusuf Kertanegara (Irjen Dephankam) telah hadir lebih dulu. Menyusul kemudian berturut-turut Letjen TNI Agum Gumelar (Gubernur Lemhannas), Letjen TNI Bambang S Yudhoyono (Kassospol ABRI). Sedangkan Laksdya TNI Achmad Sutjipto (Danjen Akabri) dan Letjen TNI Fachrul Razi (Kasum ABRI) nampak hadir 15 menit setelah kedatangan Prabowo. 

Pemeriksaan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut baru berakhir pukul 15.00 WIB. Para wartawan kemudian diperbolehkan masuk ke halaman depan Mabes AD. Namun puluhan fotografer yang berusaha menemui Prabowo terpaksa kecewa karena Prabowo meninggalkan lokasi lewat jalan belakang dengan sebuah kendaraan sedan yang dikawal tiga kendaraan lainnya.

Menganalisis BKO

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah Letjen Prabowo melaksanakan perin-tah sendiri atau menerima perintah dari orang lain, Subagyo mengatakan, "Kasus orang hilang itu 'kan dilihat mengapa Letjen Prabowo melakukan kegiatan ini. Pada prinsipnya seperti itu. Dengan demikian, berkaitan dengan prosedur, disiplin serta tabiat inilah yang akan dijadikan pertimbangan nanti untuk disampaikan kepada Pangab," tuturnya. 

Adanya perintah BKO iní, menurut Jenderal Subagyo, kemudian dianalisis oleh Prabowo. "Perintah itu dianalisa. Namun apakah analisa itu tepat atau tidak, atau bahkan dalam pelaksanaannya ada penyimpangan atau tidak, itu nanti akan dibuktikan dengan dukungan atau keterangan para saksi dan perwira lainnya," katanya. (ama)

Sumber: Kompas, 11 Agustus 1998




,

SUSI PUDJIASTUTI: TAK TAMAT SEKOLAH, PANTANG MENYERAH

Kompas, 16 Agustus 1998


Letter of Credit (LC) Indonesia boleh tidak diterima di luar negeri. Investor asing boleh berpikir dua kali menanam modalnya di Indonesia. Tapi diam-diam pada bulan April 1998 lalu seorang pengusaha perempuan dengan mudahnya memperoleh 200.000 dollar AS dari pemesannya di Jepang dalam bentuk red close LC. Bulan Oktober sebelumnya dia bahkan memperoleh pinjaman tanpa syarat sebesar 30 juta yen.

Adalah Susi Pudjiastuti (33), Presiden Direktur PT Andhika Samudera Internasional (ASI) pengusaha beruntung tersebut. Bagi pembelinya di Jepang, pinjaman tersebut tidak seberapa ketimbang harapan mereka agar PT ASI terus mengirim ikan, udang, lobster, dan produk-produk laut lainnya. Singapura dan Hongkong juga tercatat sebagai negara tujuan ekspor PT ASI dengan merek dagang Susi Brand.

Tak heran ketika pengusaha lain sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), merumahkan karyawan tanpa kepastian atau mengurangi jam kerja, sampai akhir Juli ini dia masih menambah tenaga kerja. Kegiatan pabriknya di Pangandaran, Kabupaten Ciamis (Jabar) yang tidak pernah berhenti selama 24 jam sehari, 30 hari sebulan atau total 365 hari setahun.

Tak hanya karyawan dan nelayan di sepanjang Pantai Pangandaran, Cipatujah, Sukabumi, Batang, Pamengpeuk, Sadeng, dan Pacitan yang ikut menikmati rezeki ini, para janda dan yatim piatu di sekitar PT ASI juga kebagian rezeki. Setiap tahun pada hari Lebaran, PT ASI sedikitnya memberi 25 kg beras plus uang Rp 25.000 per keluarga tergantung banyak sedikitnya anggota keluarga.

                                                 ***

Keberhasilan tidak didapatkan Susi hanya dengan duduk berpangku tangan. Setidaknya selama delapan tahun (1983-1991) ia telah pontang-panting kerja serabutan dan menghabiskan hidupnya di jalan. Ia pernah berkejar-kejaran dengan petugas keamanan, bergulat dengan ombak dan karang, ikut mencari harta karun di Nusakambangan. Ganti usaha, ia keliling menembus belantara hutan Sumatera mencari sarang burung. Kadang dalam pencarian itu ia menyetir sendiri mobil truknya.

"Perkenalannya" dengan ikan sebenarnya sudah dimulai tahun 1983 itu juga. Dengan modal Rp 100.000, Susi membeli ikan di Pangandaran dan menjualnya sendiri ke mana-mana. Keuntungan dari modal awal itu ditambah untung dari kerja serabutan lainnya terus diputar dan berkembang hingga bisa membeli ikan dalam jumlah banyak.

Waktu itu praktis setiap subuh ia menunggui nelayan-nelayan yang pulang melaut, membeli ikan dan membawanya ke Jakarta dengan menyetir sendiri mobil truknya. Bahkan itu dilakukan saat dia hamil sampai kandungannya usia tujuh bulan. Kerja kerasnya tidak sia-sia karena masuk tahun 1997, ekspornya sudah solid. Sekadar gambaran terhitung sejak tahun 1996 nilai ekspornya terus meningkat mencapai 2,7 juta dollar AS per tahun. Di Jepang khusus lobster 46 persen impornya disuplai PT ASI.

Sadar akan kekuatan dan posisinya itu, Susi pun tidak mau diatur seenaknya dan bahkan berani membuat aturan main sendiri yang harus diikuti pemesannya. Sekadar contoh yang juga gebrakannya adalah produk non chemical treatment. Ini juga telah ditulis tuntas tiga halaman di majalah perikanan terbesar di Australia, Austasia Aquaculture terbitan 96/97, dan beberapa majalah asing lainnya. 

Semua produk yang diekspor berupa ikan, udang, lobster dan lainnya hanya diolah dengan cara tradisional yakni dicuci dengan air garam, disterilkan, dan dibekukan. Untuk alat, hanya dicuci air panas. Jepang yang terkenal sangat ketat dalam soal makanan semula menolak cara itu. "Saya mati-matian meyakinkan hingga mereka datang sendiri ke pabrik kami dan melihat bagaimana kami mengolah makanan," ujar perempuan kelahiran 15 Januari 1965 ini.

Alhasil, berpuluh-puluh kontainer produknya telah masuk ke Jepang dan tak satu pun yang ditolak.

Dengan cara seperti itu, Susi memang punya alasan sendiri. Selain karena cinta lingkungan, ia juga bertekad menciptakan industri hijau sekaligus ingin membuktikan bahwa industri tidak selamanya merusak lingkungan.

Setidaknya itu terlihat di lingkungan PT ASI yang sekelilingnya pepohonan dan kolam ikan. Pabriknya sendiri beratap rumbia dan sebagian lantai dari kayu. Limbah ikan praktis tidak ditemui karena setiap hari kepala dan tulang sisa ikan telah ditampung tukang kerupuk dan bakso. Di setiap ruangan terdapat tiga tempat sampah masing-masing sampah kering, basah dan plastik. Setiap sore sampah-sampah yang bisa dibakar, akan dibakar, sedangkan sisanya dibuat kompos. Di samping itu sepertiga dari tanah-tanah kosong di sekitar rumah dan pabriknya akan dijadikan hutan bakau.

Untuk menciptakan industri yang benar-benar hijau, Susi kini sedang membuat pembangkit listrik tenaga matahari. "Agar ozon tidak semakin rusak," tambahnya.

                                          ***

Sederhana, itulah kesan yang terlihat pada perempuan tomboy ini. Melihat penampilannya sehari-hari yang lebih banyak bercelana jeans atau celana pendek, kaos oblong, kemeja, jam tangan plastik murahan, topi pandan atau rajut dengan wajah yang nyaris polos tanpa polesan serta atribut lainnya berupa perhiasan emas atau berlian dan sejenisnya. Siapapun mungkin tidak percaya bahwa dia pengusaha sukses.

Apalagi setelah tahu bahwa dia hanyalah drop out kelas dua dari SMAN I Yogyakarta tahun 1982. Tentang drop outnya ini ada cerita sendiri. Pada waktu itu menjelang Pemilu ia membuat dan berjalan-jalan memakai baju putih berhias garis segi lima berisi tanda tanya besar. Petugas Laksusda (Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah) kemudian menyekapnya dalam kamar gelap selama berhari-hari. Sesudah penyekapan, ia tidak bisa begitu saja masuk ke sekolah kembali. Ia mendapat "hukuman" lain ketika berusaha mencari surat kelakuan baik. Surat itu tak berhasil didapat sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti mengurusnya dan berhenti sekolah.

Meski boleh dibilang sudah kaya, Susi masih lebih suka menggunakan motor balap kesayangannya. Bila bertemu atau bercakap-cakap dengan karyawannya, hampir tidak ada kesan bahwa ia bos dan yang lainnya anak buah. Semua disapa dengan ramah. Susi juga dikenal sebagai orang yang punya kepedulian sosial tinggi.

"Setiap lebaran, puluhan masyarakat dari kampung atau dari gunung yang ingin menikmati pantai Pangandaran sambil makan-makan, tertahan di pintu masuk karena tidak punya uang. Kalau sudah begitu, Ibu biasanya menyetir sendiri mobil truknya dan bolak-balik mengangkuti mereka hingga semuanya bisa masuk," kisah seorang karyawannya.

"Mereka itu tidak punya uang tapi mau menikmati lebaran sekaligus pantai sekali setahun. Terlalu sekali rasanya hanya karena alasan itu lalu mereka tidak bisa bergembira. Perasaan saya tidak tenang dan hati saya sakit melihat pemandangan seperti itu," ujarnya ketika dikonfirmasi cerita karyawannya.

Kini Susi terus membenahi dan membesarkan usahanya. "Rencana saya selambatnya pada usia 40 tahun sudah bisa go public. Mungkin 30 persen saham saya jual ke Jepang, 30 persen untuk saya, 2,5 persen saya hibahkan ke karyawan dan sisanya untuk publik," ujarnya.

(Reny Sri Ayu Arman)


Sumber: Kompas, 16 Agustus 1998



Minggu, 16 Agustus 2026

Caping Agustus 1979

 17 AGUSTUS


© Goenawan Mohamad


17 Agustus. Benarkah kita butuhkan cerita pahlawan: tokoh-tokoh yang termasyhur, para pemimpin rakyat dan komandan pasukan? Jika masa lampau macam itu yang akan kita kenang, barangkali sejarah kita cukup selesai dengan serangkaian riwayat hidup orang-orang besar.


Atau ia menjadi seperti cerita wayang. Di layar yang nampak hanya para raja dan kerabatnya. Unsur lain hanya diwakili oleh para dewa dan punakawan. Kita pun lupa bahwa perang sebesar Bharatayudha pastilah suatu perang yang melibatkan ratusan ribu manusia: pegawai kecil, petani miskin dan anak-anak tak bersalah. Tidak cuma keluarga Bharata.


Tapi kita agaknya terlampau banyak terkenang dongeng para sultan dan raja, hingga kita lupa bahwa Nusantara kita juga terdiri dari rakyat. Tak mengherankan apabila pada suatu ketika ada orang yang percaya bahwa perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan kaum intelektual dan kaum elite lain dan bahwa rakyat hanya ikut-ikut.


Tak heran bila mereka pun berbisik-bisik, "Rakyat masih bodoh, bung." Maka jika ada sejumlah petani ber-gejolak dan memprotes, dengan cepat itu dianggap "di-gerakkan". Dan ketika ada sejumlah rakyat marah punya ide untuk memutuskan kabel telepon, yang dipertanyakan jalah: "Bagaimana mungkin mereka pinter?"


Bagaimana mungkin? Rakyat bukan segumpal batu. Salah satu jasa penelitian sejarah yang dilakukan Prof. Sartono Kartodirdjo dengan Protest Movements in Rural Java ialah karena ia menunjukkan bahwa perjuangan masa silam kita bukan cuma perlawanan para raja dan pangeran yang termasyhur. Para raja dan pangeran itu kiranya sudah cukup dicatat. Bukankah sejarawan R. Moh. Ali seperempat abad yang lalu menerbitkan bukunya dengan judul Perdjoangan Feodal Indonesia?


Perjuangan para pemimpin "feodal" ini, kata Moh. Ali, "sebenarnya merupakan sebagian kecil dari perjuangan rakyat jelata yang dahsyat. Tetapi berkat kedudukan sang pemimpin feodal, maka rakyat feodal dapat ditipu, dikhia-nati dan diperkuda


Kalimat Moh. Ali terlampau berapi-api (buku ini disusun di tahun 1948), dan ketepatan data-datanya mungkin masih bisa dipersoalkan. Tapi paling tidak menjelang akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, memang terbukti: gejolak rakyat di daerah pertanian pegang peranan peting dalam menyalakan api revolusi - dan kita pun punya  17 Agustus 1945 dengan semangat yang menjalar ke sana

ke mari. 


Rakyat memang bukan sesuatu yang netral.

Rakyat juga bukan sesuatu yang tanpa bekas. Seorang cerdik cendikia pernah berkata: Sebuah sejarah umatnya manusia yang konkret kalau ada yang menuliskannya, tentu akan merupakan sejarah semua orang. la akan merupakan sejarah harapan, pergulatan dan penderitaan manusia."


Dengan kata lain, ia bukan cuma sejarah kekuasaan. la bukan cuma sejarah tentang sukses. Barangkali riwayar umat manusia tak punya arti apa-apa. Tapi jika kita harus memberikan arti kepadanya, maka yang penting jelaslah bukan hanya kekuasaan dan sukses, tapi keluhuran manusia hingga ia bisa memberi dirinya makna walaupun tanpa semua itu.


Sebab apakah artinya kekuasaan kini untuk nanti tahun 2000? Apakah artinya sukses untuk tahun 2000? Apakah yang akan kita tumbuhkan hingga kita bisa hidup bahagia dengan penduduk yang bertambah banyak, dengan mi-nyak dan gas yang habis, dan pendapatan per kapita yang tak akan mencapai US$ 500?


Di tanggal 17 Agustus ini, biarlah kita kian dekat dengan kenyataan itu. Tutupkan buku sejarah dan lihatlah cermin di sana kepada rakyat yang mengerti ketenteraman hati meski di bawah $ 500. Marilah kita lihat sejarah sebagai sejarah mereka: harapan, pergulatan, penderitaan, dan juga ketahanan.


• Catatan Pinggir Tempo, 18 Agustus 1979.

, ,

Tragedi, Akademia, dan Susanah

Made Supriatma


Tragedi, Akademia, dan Susanah: Kita mulai dari Jason Arday, seorang profesor Sosiologi dari Universitas Cambridge. Dia adalah profesor termuda yang pernah diangkat oleh Cambridge. Tidak itu saja. Dia berkulit hitam. 

Kalau Anda paham dalam sistem rasial di negara seperti Inggris atau Amerika Serikat, Anda pasti tahu bahwa cerita jalan hidup Jason Arday itu seperti kisah keajaiban. Bocah dari daerah kumuh di bagian selatan London bisa menjadi profesor di Universitas Cambridge! 

Cerita ini bisa jadi inspiratif. Ia bisa menjadi cerita motivator: Anda bisa menjadi apapun di dunia ini asal kerja keras. Asal punya semangat, ya semangat untuk jadi pemenang! 

Ia juga bisa menjadi proyek percontohan di universitas semacam Cambridge, institusi elit yang mahasiswanya sebagaian besar dari lapisan elit juga. Jason Arday menjadi semacam 'examplar' untuk Cambridge. Juga dijadikan proyek emansipasi: bahwa Cambridge terbuka untuk siapa saja yang pintar dan pekerja keras. 

Hanya saja, cerita bocah ajaib ini kemudian berbalik. Orang mulai menyelidiki tulisan-tulisan Jason Arday. Mereka mendapati bahwa dia melakukan plagiarisme di beberapa bagian disertasinya. Dia juga mengarang sejumlah data risetnya. Dan, anak ajaib kesayangan Cambridge ini jatuh. 

Minggu lalu dia mengundurkan diri. Kemarin saya baca dia ditemukan sudah meninggal. 

Tragis. Dan, media-media Inggris, yang membantu mengamplifikasi kasus Jason Ardy kemudian rame-rame memberitakan tragedi ini. Para politisi, mulai dari PM Inggris hingga ke Walikota London semuanya mengecam. Mereka menyalahkan Cambridge yang tidak memeriksa terlebih dahulu latar belakang Jason Ardy dan tidak teliti menelisik disertasinya. 

Di luar sana, dunia akademik itu keras. Ini adalah dunia yang memang secara penghasilan tidak akan membuat Anda kaya raya. Anda tidak akan bisa mendapat 0,1 persen kekayaan Elon Musk atau Bill Gates dengan menjadi akademik (dosen). 

Namun persaingan sangat tinggi. Jalan untuk ke sana sangat terjal. Orang dilatih bertahun-tahun. Pada tahun-tahun awal, orang hidup dengan upah minimum dan kerja keras melebihi batas jam kerja. 

Ketika sudah mendapat posisi tetap, hidup memang menjadi lebih nyaman. Namun itu tidak berkelebihan juga. Beberapa kawan saya yang menjadi profesor masih harus menghitung ketat pengeluarannya.

Dan, disana ada hirarki. Ketika Anda menulis buku dan buku itu menarik perhatian banyak orang serta dipakai sebagai rujukan di kelas-kelas, disanalah Anda bisa naik ke kasta Brahmana. Ini akan sangat terlihat di konferensi-konferensi. Ruang ceramah Anda akan penuh sesak. Sementara, ilmuwan junior -- atau yang selamanya junior -- hanya akan diisi satu dua orang. Itu pun biasanya adalah kolega-kolega terdekat. 

Sebenarnya, ada cerita lain yang serupa tapi tak sama dengan Jason Arday. Itu adalah tentang Alice Goofman, yang menulis buku sangat bagus berjudul "On the Run: Fugitive Life in an American City." Ini adalah buku tentang polisi, penguntitan, dan kriminalitas di kota Philadelphia, Amerika Serikat. 

Goofman perlu waktu enam tahun hidup di perkampungan kumuh Phily. Dia mengikuti kelompok pengedar narkoba. Dia juga menceritakan secara detail kekerasan yang terjadi baik oleh polisi maupun di dalam kelompok ini. 

Seperti Jason Arday, Goofman adalah 'the rising star' dalam bidang sosiologi. Metode ethnografinya dalam memahami sistem keadilan saat itu dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa. Hanya saja, kemudian orang menelisik karyanya. Dia tidak memperlihatkan konsistensi antara waktu kejadian yang ditulis di bukunya dan catatan kepolisian. 

Alice juga menghancurkan catatan-catatan etnografis yang dia miliki. Ini bisa dipahami karena catatan-catatan itu bisa dipakai  untuk menjeratnya secra legal. 

Orang mulai curiga. 

Dia juga menghadapi problem etik. Dia melihat terjadinya kekerasan dan bahkan pemb4n4h@an namun tidak melaporkannya ke polisi. Dia juga mendapat tuduhan melakukan 'racial profiling' karena medan penelitiannya di daerah kumuh yang dihuni komunitas kulit hitam. 

Kritik bertubi-tubi membuat univesitas yang mempekerjakannya tidak memberinya posisi tetap (tenure). Alice Goofman akhirnya mengundurkan diri dari dunia akademik. 

Tragis. Karena Alice adalah putri dari seorang sosiolog yang amat terkenal, Erving Goofman. 

Di negeri kita ini, posisi sebagai insan akademis juga berat. Tidak saja berat secara ilmiah namun juga menghadapi tekanan politik. Ada hal-hal yang tidak boleh dibicarakan oleh insan akademis. Itu satu. Yang kedua adalah tekanan politik. 

Saya seringkali mendengar kawan-kawan yang memilih waras sebagai akademik bahwa mereka menghindar menjadi pembimbing atau penguji akademis politisi atau pejabat. 

Seperti yang kita ketahui, kasta pejabat dan politisi di negeri ini sangat rakus. Mereka tidak akan puas kalau nama depannya tidak ada doktor dan profesor. Seolah-olah gelar itu sama dengan gelar keningratan. 

Tapi sudahlah. Kita tahu betapa bangsatnya kelakuan mereka. Dan kita pun tidak berharap dunia akademik akan menjadi baik karena begitu banyaknya kuman yang menggerogotinya baik dari luar mau pun dari dalam. 

Hanya saja, seperti badan, ada juga akademisi-akademisi yang memilih untuk tidak menjadi sakit dan busuk. Tentu kita berharap banyak dari mereka dan mendukung perjuangannya. 

Itulah yang pagi ini membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya nasib akademisi kita tidak berbeda dengan nasib Susanah, pengupas bawang, yang oleh Presiden Prabowo di dalam pidato kenegaraannya disebut menerima upah Rp 700 ribu per kilogram. 

Susanah segera menjadi sensasi dunia maya. Dia menjadi bahan ejekan, candaan, makian, dan segala macamnya. Jutaan meme diciptakan. Gambar mukanya yang membeku ketika disebut oleh Prabowo tersebar dimana-mana. 

Dia hanyalah orang kecil. Pekerjaan sehari-harinya menjahit. Kalau sore dia menjadi pencuci ompreng di dapur MBG. Dia juga menjadi pengupas bawang dengan upah hanya Rp700/kg. 

Saya bisa bayangkan bagaimana orang kecil yang hendak dipakai sebagai 'poster child' oleh presiden Indonesia kemudian nasibnya berubah menjadi petaka. Dia menjadi bahan tertawaan dan makian seluruh bangsa. 

Persis seperti Cambridge memperlakukan Jason Arday. 

Dan, yang lebih menyesakkan untuk saya adalah istana tidak segera mengklarifikasi isu ini. Hingga sekarang, saya tidak mendapati istana buka suara untuk soal ini. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, hanya mengatakan akan mengecek.

Menurut saya, Prabowo Subianto sebagai pribadi dan Presiden RI harus meminta maaf kepada Susanah atas pidato yang ngawur ini. Dia harus memberikan kompensasi atas tekanan mental yang luar biasa yang pasti dialami Susanah dan keluarganya. 

Kompensasi tentu bukan sesuatu yang amat berat untuk Prabowo secara pribadi. Jika satu kudanya kabarnya bisa berharga beberapa milyar, tentu tidak berat baginya memberikan kompensasi untuk Susanah dan keluarga. 

Namun, yang terpenting adalah Presiden Republik Indonesia berhutang maaf yang tak terhingga pada Susanah, orang kecil yang mencari makan dengan menjahit, mencuci ompreng, dan mengupas bawang. 

Dia harus menjalani beberapa pekerjaan sekaligus setiap hari untuk bisa menghidupi keluarganya. Susanah adalah cerminan pekerja keras, yang sering digambarkan Prabowo sebagai orang miskin namun tetap tersenyum. 

Dia adalah kaum yang selalu dipidatokan oleh Prabowo akan diangkat dari kemiskinan. Namun justru orang seperti Susanah yang sering digambarkan secara peyoratif entah sengaja atau tidak. 

Saya percaya bahwa Susanah tidak akan seperti Jason Arday. Dia lebih memiliki daya tahan. Semoga!

Sumber: Fb Made Supriatma


Jumat, 14 Agustus 2026

, ,

Nietzsche, Moralitas, dan Idea Plato

Nietzsche


Kini kita akan membahas kebenaran dalam tataran yang lebih kasat mata, yaitu moralitas. Nietzsche melihat moralitas sebagai tanda dekadensi, suatu sikap ketidakpercayaan-atas-hidup. Dalam bab Origin of Moral Valuations pada buku The Will to Power, Nietzsche menggambarkan moralitas senada dengan penjelasannya atas kebenaran: “Yang saya maksud dengan 'moralitas' adalah suatu sistem evaluasi yang sebagian sejalan dengan kondisi kehidupan suatu makhluk.” Moralitas adalah bentuk nyata dari klaim kebenaran di dalam masyarakat. Bagi Nietzsche, fenomena moral tak pernah ada, yang ada hanyalah interpretasi moral atas fenomena itu. Perbuatan seperti membantu orang tua, hidup sederhana, rendah hati, bukanlah perbuatan moral. Perbuatan semacam itu hanya kita tafsirkan secara moral. Sedangkan interpretasi itu berasal dari sesuatu yang bersifat extra-moral. Apa itu ekstra-moral? Untuk memahami ini, terdapat sebuah aforisme Nietzsche yang menarik:

Dahulu ada yang mengatakan tentang setiap moralitas: “Dari buahnya kamu akan mengetahuinya.” Saya katakan tentang setiap moralitas: “Ini adalah buah yang dengannya saya mengenali tanah dari mana ia tumbuh.” 

Dalam aforisme itu, Nietzsche sebenarnya berbicara tentang fenomena extra-moral. Orang pada umumnya melihat moralitas dari buah yang dihasilkan moralitas itu (misalnya perbuatan etis). Namun Nietzsche melihat sebaliknya: moralitas merupakan buah yang kita bisa menyadari dari tanah macam manakah buah itu muncul. Bisa kita duga, “tanah” (soil) yang dimaksud oleh Nietzsche adalah masyarakat. Di sinilah kita dapat melihat analisis—dan juga kritik tajam—Nietzsche atas masyarakat Kristiani-Eropa.

Masyarakat Eropa yang Kristiani, bagi Nietzsche, telah menjadi masyarakat yang dekaden. “Apa yang ditolak oleh Kristus? Semua yang kini disebut Kristiani.” Dekadensi yang meresapi peradaban Eropa disebabkan oleh “paradigma berpikir Platonis”. Paradigma ini membuat manusia Eropa menghasrati pembebasan setelah kematian, semacam ranah Idea Plato, dan dengan itu menampik kehidupan itu sendiri. Maka itu, Nietzsche menyebut agama Kristiani sebagai “la religion de la souffrance humaine” (agama penderitaan manusia).” Agama Kristiani mengajarkan manusia untuk menegasi dirinya sendiri, menyangkal eksistensinya di dunia, meredam gejolak manusiawinya. Semua itu dilakukan demi imbalan surga yang abadi dan final. Kritik Nietzsche atas Kristianitas cukup keras:

"Sejak awal, iman Kristiani adalah sebuah pengorbanan: sebuah pengorbanan dari seluruh kebebasan, semua kesombongan, semua kepercayaan diri dari roh: pada saat yang sama, perbudakan dan ejekan terhadap diri sendiri, mutilasi diri."

Bagi Nietzsche, moralitas Kristiani adalah “moralitas budak”. Moralitas ini adalah moralitas milik para budak: kesetiakawanan, saling mengasihi, menyangkal diri demi komunitas, semua itu merupakan ciri khas moralitas budak. Moralitas ini disebut pula “moralitas kawanan”. Moralitas semacam ini membuat orang-orang hanya berani hidup dalam kerumunan, dalam kebersamaan yang dangkal, dalam anonimitas yang aman. Nietzsche sendiri menulis, “Masuk ke kehidupan nyata—seseorang menyelamatkan kehidupan pribadinya dari kematian dengan menjalani kehidupan biasa.” Bagi Nietzsche, tak ada jalan lain, moralitas semacam itu harus dihancur-leburkan. Moralitas itu bertanggung jawab atas dekadensi masyarakat Eropa yang semakin takut untuk berpikir, yang hanya berani hidup dalam kerumunan. “Seluruh moralitas penyangkalan diri harus dipertanyakan tanpa ampun dan dibawa ke pengadilan [...] Ada terlalu banyak pesona dan gula dalam perasaan 'untuk orang lain', 'bukan untuk diri saya sendiri'.” Oleh karena itu, dalam suatu adegan singkat di tepi sungai, Zarathustra bersabda: 

Wahai saudara-saudaraku, bukankah segala sesuatunya sedang berubah-ubah saat ini? Bukankah semua pagar dan gang terjatuh ke air? Siapa yang masih berpegang pada "kebaikan" dan "jahat"? 

Sekarang kita akan beralih menuju pandangan Nietzsche mengenai ateisme. Baginya, seperti ia tulis dalam The Antichrist (Der Antichrist), kepercayaan akan Tuhan tak hanya merupakan suatu kesalahan namun juga suatu “pengkhianatan atas hidup”. Kita menganggap Tuhan memang sungguh ada, namun kita tak sadar bahwa kita, nun dahulu kala, telah menciptakan-“Nya” dari ketidaktahuan kita. Begitulah kira-kira yang dimaksud oleh Nietzsche ketika ia menulis dalam Beyond Good and Evil: “circulus vitiosus deus”. “Lingkaran setanlah yang menciptakan Tuhan”. Tampaknya term “lingkaran setan” (vicious circle) di sini dapat diartikan sebagai “lingkaran setan logika”, yaitu hubungan antarkonsep yang jalin-jemalin sehingga membentuk lingkaran penuh yang tanpa jalan keluar, circulus in definiendo. Contoh yang jelas adalah pertanyaan ini: “Manakah yang lebih dulu ada, telur atau ayam?” Pertanyaan semacam itu hanya akan bergerak melingkar-lingkar saja tanpa jalan keluar, kecuali jika kita menghadirkan semacam deus ex machina sebagai entitas ketiga yang melampaui keduanya. Dan persis di sinilah, Tuhan dihadirkan. Maka Tuhan tercipta justru dari lingkaran setan, dari ketidaktahuan kita. Selain itu, Tuhan membuat manusia menyangkal dirinya, sebagaimana Nietzsche menulis dalam Ecce Homo: “Apa yang menjadi penolakan terbesar terhadap keberadaan sejauh ini? Tuhan.“ Penerimaan akan adanya Tuhan dan moralitas Kristiani sebetulnya hanya merupakan kedok ketakutan manusia. Hal-hal itu membuat manusia merasa memiliki legitimasi yang sah di atas bumi (sebagai homo imago Dei), yang dalam kenyataannya merupakan makhluk kecil yang tak berarti, sebuah aksiden selintas di tengah gelombang kemenjadian dan arus buas dari jagat raya yang chaotic ini. 

In summa: kebenaran adalah nilai yang berguna untuk melestarikan kehidupan manusia. Moralitas, sebagai manifestasi kebenaran dalam tataran sosial, adalah ciptaan manusia, atau lebih persisnya dalam konteks Eropa, adalah ciptaan orang-orang lemah (budak) yang hanya berani hidup dalam kerumunan. Masyarakat Eropa yang diresapi moralitas budak atau kawanan mau tak mau akan segera terjatuh dalam dekadensi. Tuhan, sebagai manifestasi kebenaran dalam tataran spiritual, adalah konsep kosong hasil ciptaan manusia yang lemah, yang lari dari kenyataan hidupnya, yang tak bisa lagi berpikir. Semua ini adalah gejala, tanda-tanda lahirnya suatu zaman yang muram: era nihilisme.

***

Kedatangan nihilisme adalah sesuatu yang niscaya. Nihilisme terlahir dari kesalahan manusia sendiri. Kepercayaan manusia terhadap nilai moral yang mutlak, kepercayaan manusia pada Tuhan dan surga, kepercayaan manusia pada kebenaran yang baku, itu semua membuat manusia tak lagi berefleksi, tak berani berefleksi (no longer reflects, afraid to reflects). Kepercayaan kita pada nilai-nilai seperti itu telah mengantarkan kita pada konsekuensi finalnya: kedatangan nihilisme. Oleh karena itu, Nietzsche menulis pada bab European Nihilism: “Apa yang dimaksud dengan nihilisme? Bahwa nilai-nilai tertinggi mendevaluasi dirinya sendiri. Tujuannya tidak ada, 'Mengapa?' tidak menemukan jawaban.” Kepercayaan manusia pada kebenaran sebagai kebenaran, pada adanya kebenaran absolut, kebenaran pada-dirinya-sendiri, membuat kepercayaan itu sendiri runtuh. Nilai-nilai yang dulunya diyakini benar, kini mendevaluasi dirinya sendiri, hancur dengan sendirinya. Semuanya karena manusia hanya berani hidup dalam kawanan, tanpa bertanya, dan akhirnya, merasa tanpa tujuan, tanpa makna.

***

Nietzsche menjelaskan tentang nihilisme sebagai kondisi ini dalam tiga tahap: “[1] ketika kita telah mencari 'makna' dalam segala peristiwa yang tidak ada [... ] merasa malu di hadapan diri sendiri, seolah-olah telah lama menipu diri sendiri. [2] manusia telah kehilangan kepercayaan pada nilai dirinya ketika tidak ada keseluruhan yang sangat berharga yang bekerja melalui dirinya, yaitu dia menyusun keseluruhan agar dapat percaya pada nilai dirinya sendiri. [3] ketika manusia mengetahui bagaimana dunia itu dibuat semata-mata dari kebutuhan psikologis, dan bagaimana ia sama sekali tidak mempunyai hak atas hal itu, bentuk nihilisme yang terakhir muncul: ia mencakup ketidakpercayaan terhadap dunia metafisik mana pun dan melarang dirinya sendiri untuk memercayai apa pun yang benar.” Nihilisme menyelimuti masyarakat kerumunan seperti awan gelap. Orang tak bisa menemukan makna yang sungguh menyentuh dalam kerumunan, ketika tersadar, ia merasa ditipu oleh dirinya sendiri. Orang menyadari bahwa nilai yang absolut itu tak ada, selama ini ia hanya berusaha percaya pada nilai yang ia pegang sendiri. Pada akhirnya, orang sadar bahwa semua yang kita anggap realitas, yang kita anggap benar, sebenarnya tak lain dari manifestasi kebutuhan praktis kita: ia kini merasa sakit hati karena telah dibohongi oleh keyakinannya sendiri ketika dulu percaya akan adanya kebenaran, moralitas dan Tuhan. Oleh karena itu, Nietzche menggembar-gemborkan perlunya suatu upaya “revaluasi semua nilai” (Umwertung aller Werte), sebagaimana merupakan subjudul buku The Will to Power. Nilai-nilai lama seperti Tuhan, moralitas, kebenaran mutlak, harus dirombak total. 

Pada titik inilah kita bisa mengerti maksud aforisme The Madman yang kita kutip tadi. “Tuhan telah mati!! Kebenaran telah mati!!!” Lalu bagaimana jika bumi ini terlepas dari orbitnya? Apakah kita bergerak? Menjauh dari matahari? Menjauh dari segala patron? Apakah kita hanya berputar-putar saja? Mana barat, mana timur? Apakah kita tak menghirup udara kosong? Tidakkah kini terasa dingin? Kenapa hanya ada malam dan malam senantiasa? Tidakkah kita dengar suara bising penggali kubur yang sedang menguburkan Tuhan dengan ocehan gosip yang tolol, dengan sikap letoy, sebuah psikopatisme dalam kehidupan sehari-hari—seakan-akan kehidupan ini berjalan baik-baik saja? Mau kemana kita? Nietzsche bersorak: “Semuanya salah! Semuanya diperbolehkan!”

Nihilisme membuat kita hilang tak tentu arah, seperti orang yang hilang di padang tandus. Kita tak lagi punya telos (tujuan), kita bahkan tak bisa tahu dari mana kita, kita terdampar. Maka: dimulailah tragedi, Incipit Tragodia

Kini kita akan melihat arti kedua dari term “nihilisme,” yaitu sebagai laku. Sebagai laku, Nietzsche memaksudkan “nihilisme” sebagai suatu sikap dalam menghadapi kondisi nihilistis yang niscaya datang. Nietzsche membagi laku nihilis ini ke dalam dua bentuk: nihilisme pasif dan nihilisme aktif."' Jika dalam menghadapi kondisi nihilitas manusia menyerah ke dalam sikap keputus-asaan, ketakutan, ingin lari dari hidup yang tanpa tujuan ini, maka manusia itu menjalankan laku nihilisme pasif. Laku ini sangat dibenci oleh Nietzsche, nihilisme pasif adalah sebentuk penyangkalan atas hidup. Satu-satunya cara untuk “melampaui nihilisme” (Uberwindung der Nihilismus) adalah dengan menjalankan laku nihilisme aktif. Laku ini mengatakan “Ya” pada hidup, dengan kata lain, mengafirmasi seluruh “kekacauan” (khaos) hidup ini. Dengan menjalankan laku ini, kita menjadi “manusia tragis”. Tapi perlu dibedakan antara pesimisme dan tragisme. Pesimisme adalah sikap menolak hidup, ketakutan atas ketidakbertujuan hidup ini. Pesimisme adalah muara sikap nihilisme pasif. Tragedi adalah sesuatu yang agung di mata Nietzsche. Dalam The Birth of Tragedy, ia menulis, “pengetahuan membunuh tindakan: tindakan memerlukan tabir ilusi: itulah doktrin Hamlet.” Sikap tragis hanya muncul karena ada unsur ketidaktahuan dalam diri kita. Hamlet tak tahu persis apakah yang ia ketahui itu benar atau salah, dan dia tetap berani mengafirmasi kehidupan, melancarkan konfrontasi atas pamannya, walaupun sungguh tahu bahwa hal itu dapat mengakibatkan kematian dirinya, ia mengamini itu semua dan berjuang hingga akhir. 

Dalam Twilight of the Idols (Gotzen-Dcimmerung), Nietzsche menuliskan bahwa orang sebijak Sokrates pun, pada akhirnya hidupnya, mengakui bahwa hidup itu sia-sia, hal itu terlihat lewat kata-kata terakhirnya: “Hidup—itu berarti sakit dalam waktu yang lama: Aku berutang budi kepada penyelamat Asclepius.”

Nietzsche melihat dalam kata-kata Sokrates: hidup adalah sesuatu yang sia-sia. Bahkan kalimatnya yang terakhir, bahwa Sokrates berhutang seekor ayam pada Asklepius, menunjukkan betapa remehnya kehidupan itu, sebuah aksiden selintas yang tanpa arti. 

Jadi, sejak awal, hidup itu sendiri adalah tragedi. Manusia tragis adalah ia yang berkata “Ya,” mengafirmasi, menerima sepenuhnya absurditas kehidupan ini tanpa harapan akan surga dan segala tujuan final yang lain, tanpa menambatkan diri pada kepercayaan akan kebenaran absolut, tanpa takut tersingkir dari kawanan. Manusia tragis adalah manusia yang berani dipeluk oleh kesepian. 

Berkata “Ya” pada hidup, mengafirmasi hidup, menerima sepenuhnya seluruh gejolak alam yang kacau, maka kita akan sampai pada ajaran Nietzsche yang terkenal: kehendak untuk berkuasa. 

Kehendak untuk Berkuasa 

Kita akan membahas, setidaknya, dua aspek dari kehendak untuk berkuasa yang paling terkenal, yaitu sebagai kekuatan alamiah dan sebagai pengetahuan. Kita mulai dari yang pertama. Dalam bab Principles of a New Evaluation, Nietzsche menggambarkan kehendak untuk berkuasa sebagai: “bentuk pengaruh yang primitif, yang semua pengaruh lainnya hanyalah pengembangan dari pengaruh itu [...] ada perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan, untuk peningkatan kekuasaan.” 

Kehendak untuk berkuasa adalah daya dorong asali. Banyak hal yag dihasilkan oleh kehendak untuk berkuasa ini, tetapi semua itu hanyalah residu atau ekses sampingan, kehendak untuk berkuasa sendiri hanya bergolak untuk kekuasaan, untuk pencapaian lebih dari kekuasaan itu sendiri. Bahkan bagi Nietzsche, hidup itu sendiri juga hanyalah suatu kasus khusus dari kehendak untuk berkuasa. Ia menyebut kehendak untuk berkuasa ini sebagai “esensi terdalam dari keberadaan”; “Dunia ini penuh dengan keinginan untuk berkuasa—dan tidak ada yang lain selain itu! Dan Anda sendiri juga memiliki keinginan untuk berkuasa—dan tidak lebih dari itu!” 

Untuk lebih memahami kehendak untuk berkuasa, kita akan masuk ke dalam aspek yang kedua: sebagai pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnya merupakan manifestasi kehendak untuk berkuasa. “Pengetahuan bekerja sebagai alat dari kekuasaan,” tulis Nietzsche. 

Esensi keputusan (the believe that something is thus and thus), skematisasi dan seluruh klaim kebenaran sebenarnya adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa. Kita ingin menguasai alam ini, oleh karena itu kita ciptakan ilmu ukur, konsep baik-buruk dan sebagainya. “Kehendak untuk kebenaran,” bagi Nietzsche, merupakan salah satu bentuk dari kehendak untuk berkuasa. Maka ia berkata bahwa kriteria kebenaran adalah seberapa besar ia meningkatkan perasaan kekuasaan.

Hanya saja kata “kuasa” di sini jangan melulu dimengerti dalam arti yang politis, ia lebih luas ketimbang itu. Konsepsinya mengenai kehendak untuk berkuasa sebenarnya terkait dengan upaya Nietzsche untuk melakukan revaluasi atas seluruh nilai. Mereka yang mengafirmasi kehendak untuk berkuasa berarti mengafirmasi pula seluruh gejolak alam-semesta ini, hal ini juga berarti bahwa mereka berkata “Ya” terhadap hidup. Oleh karena itu, kita bisa mengerti revaluasi Nietzsche atas “baik” dan “buruk” seperti yang ia tulis dalam The Antichrist

"Apa yang baik?—Semua itu meningkatkan perasaan berkuasa, keinginan untuk berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam diri manusia. 
Apa yang buruk? Semua itu timbul dari kelemahan. 
Apa yang dimaksud dengan kebahagiaan?—Perasaan bahwa kekuatan meningkat—bahwa perlawanan telah diatasi.” 

Mengafirmasi kehendak untuk berkuasa berarti terus-menerus mengalami pelampauan kehendak, menjadi liar, mabuk-total seperti sehabis pulang dari “simposium” (pesta minum minuman keras) Dionysius. Itulah kehendak untuk berkuasa, “keinginan hidup yang tidak habis-habisnya dan berkembang biak.” 

Afirmasi atas kehendak untuk berkuasa menunjukkan penghormatan manusia atas hidup, bukan penyangkalan atas hidup seperti yang dilakukan oleh para penganut agama.

Dengan begitu manusia menerima seluruhnya absurditas kehidupan, seluruh gejolak chaotic alam raya, tanpa mengharapkan surga. Itulah figur seorang Ubermensch (Overman)' seperti yang diwartakan oleh Zarathustra: “Aku mengajarimu Ubermensch. Manusia adalah sesuatu yang harus dilampaui. [...] Superman adalah arti dari bumi.” Itulah Ubermensch, ia yang berani berkata “Ya” pada gejolak kehendak untuk berkuasa, pada absurditas hidup. 

Lalu, jika hidup ini absurd dan surga, apa pun itu, tak ada, akan ke manakah kita? Dengan pertanyaan ini, kita masuk ke ajaran Nietzsche yang lain: eternal return of the same.

Kembalinya Segala Sesuatu yang Sama Secara Abadi 

Ajaran ini terkait dengan pandangan Nietzsche bahwa alam raya ini adalah “aliran kemenjadian"' (flux of becoming) yang bergerak tak tentu arah berdasarkan gejolak kehendak untuk berkuasa. Dengan pandangan tentang kembalinya segala sesuatu ini, Nietzsche ingin melakukan konfrontasi dengan pandangan teleologis Plato dan agama-agama secara umum. Nietzsche menulis: 

Mari kita renungkan pemikiran ini dalam bentuknya yang paling mengerikan: keberadaan sebagaimana adanya, tanpa makna atau tujuan, namun berulang secara tak terelakkan tanpa akhir dari ketiadaan: “pengulangan yang kekal”. Ini adalah bentuk nihilisme yang paling ekstrim: yang tidak ada (“yang tidak berarti”), selamanya!” 

Sayangnya, konsep ini belum selesai dikembangkan oleh Nietzsche hingga hari kematiannya. Yang tersisa untuk kita hanyalah sketsa awal dari konsep ini. Tampaknya Nietzsche memang mengartikan eternal reccurence ini secara harfiah. Bahkan ia pun tampak ingin memberikan pembuktian ilmiah atas konsep ini.” Dengan konsep ini, Nietzsche memaksudkan bahwa tak ada yang namanya “tujuan terakhir” (end goal) dari eksistensi. Semuanya hanya akan berulang-ulang saja tanpa tujuan akhir yang definitif. 

Ini jelas merupakan kritik atas konsep waktu agama-agama Samawi. Konsep waktu agama-agama Samawi bersifat linear, mengandaikan adanya akhir sejarah, konsep waktu Nietzsche bersifat siklis, semuanya berulang secara abadi. Namun, konsep eternal reccurence ini juga merupakan upaya Nietzsche untuk membuat manusia berkata “Ya” pada hidup yang absurd ini dan mengafirmasi kehendak untuk berkuasa tanpa mengharapkan apa pun, tanpa bersandar pada apa pun. Terus-menerus timbul tenggelam dalam kekacauan. 

***

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 40-51



TERBARU

MAKALAH