alt/text gambar

Sabtu, 18 Juli 2026

, ,

Pelajaran Universal dari Kitab Hakim-Hakim

Oleh Peter F Gontha


Kitab Hakim-Hakim merupakan sebuah kisah yang sarat dengan pelajaran tentang kehidupan manusia, kepemimpinan, moralitas, dan tanggung jawab. Walaupun ditulis ribuan tahun yang lalu, pesan-pesannya tetap relevan bagi masyarakat modern, apa pun agama, budaya, maupun latar belakangnya.

Kitab ini menggambarkan sebuah siklus yang terus berulang dalam kehidupan manusia. Ketika keadaan aman, makmur, dan nyaman, banyak orang mulai melupakan nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan hidup. Integritas mulai luntur, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama semakin berkurang. Akibatnya, muncul berbagai persoalan sosial, ketidakadilan, konflik, dan penderitaan.

Namun, ketika menghadapi kesulitan, manusia biasanya mulai melakukan introspeksi, memperbaiki diri, mencari jalan keluar, dan kembali menghargai nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kasih sayang, serta keadilan. Setelah keadaan membaik, tidak jarang siklus yang sama kembali terulang.

Salah satu pesan terpenting dari Kitab Hakim-Hakim adalah bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, atau politik, tetapi terutama oleh kualitas moral, karakter, dan integritas orang-orang yang memimpinnya maupun warganya.

Kitab ini juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang mengejar kekuasaan, melainkan mereka yang berani mengambil tanggung jawab, membela kebenaran, melindungi yang lemah, serta mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Pelajaran lainnya adalah pentingnya pendidikan karakter. Ketika sebuah generasi tidak lagi mengenal nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh generasi sebelumnya, masyarakat menjadi lebih mudah kehilangan arah. Oleh karena itu, keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan kejujuran, disiplin, empati, rasa hormat, dan tanggung jawab kepada generasi muda.

Beberapa pelajaran yang dapat diterapkan oleh siapa pun adalah:

* Jangan melupakan nilai-nilai moral ketika hidup sedang berhasil.

* Pendidikan karakter adalah investasi terbesar bagi masa depan.

* Kepemimpinan harus dibangun di atas integritas, keberanian, dan keadilan.

* Setiap keputusan memiliki konsekuensi yang akan dirasakan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

* Kesulitan sering kali menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang lebih baik.

* Sebuah masyarakat akan menjadi kuat apabila kejujuran, kepedulian, dan keadilan menjadi budaya bersama.

Pada akhirnya, Kitab Hakim-Hakim mengingatkan bahwa kehancuran sebuah masyarakat hampir selalu diawali oleh kemerosotan moral, sedangkan kebangkitan selalu dimulai dari perubahan karakter manusia. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, pengorbanan, dan keadilan adalah prinsip-prinsip universal yang akan tetap relevan sepanjang zaman, terlepas dari agama atau keyakinan yang dianut seseorang.

Sumber:

Fb Peter F Gontha

, ,

Filsuf Derrida dan Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Derrida


Oleh: Rudy C. Tarumingkeng


Jacques Derrida sering terdengar “berat”, identik dengan istilah asing seperti deconstruction, différance, logocentrisme, dan sebagainya. Namun sebenarnya, banyak gagasan Derrida justru sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari: cara kita mengirim pesan WhatsApp, cara kita memberi label pada orang lain, cara kita memahami hukum, agama, bahkan cinta dan persahabatan.

Berikut narasi tentang Derrida: siapa dia, apa inti pemikirannya, dan bagaimana itu semua “turun” ke kehidupan sehari-hari.

I. Sekilas tentang Derrida: Filsuf yang Suka “Membongkar”

Jacques Derrida (1930–2004) adalah seorang filsuf kelahiran Aljazair yang berkiprah di Prancis. Ia sering ditempatkan dalam aliran poststructuralism dan postmodernism, meskipun ia sendiri tidak selalu nyaman dengan label-label itu. Ia dikenal luas lewat karya-karya seperti Of Grammatology, Writing and Difference, dan Dissemination.

Derrida muncul dalam konteks ketika filsafat Barat sedang mengkritik klaim-klaim besar tentang kebenaran yang universal dan stabil. Sebelum Derrida, tokoh-tokoh seperti Saussure, Heidegger, dan Nietzsche sudah mulai meragukan “kepastian” makna dan kebenaran. Derrida melanjutkan sekaligus mengradikalkan keraguan itu, terutama terhadap:

1. Kepercayaan bahwa makna itu stabil dan jelas.

2. Kepercayaan bahwa ada “pusat” yang memberi fondasi tunggal atas semua makna (misalnya: rasio, Tuhan, subjek, kesadaran, negara, dan sebagainya).

3. Kecenderungan Barat untuk memihak salah satu sisi dari pasangan oposisi biner, seperti:

o jiwa / raga 

o pria / wanita

o rasional / emosional

o pusat / pinggiran

o ujaran lisan / tulisan

Bagi Derrida, pola-pola ini tidak netral; mereka membentuk struktur kekuasaan dalam cara kita berpikir dan hidup.

Ia lalu memperkenalkan cara membaca dan berpikir yang ia sebut “dekonstruksi” (deconstruction): bukan penghancuran membabi buta, tetapi pembongkaran halus terhadap struktur pemikiran yang tampak kokoh, untuk menunjukkan bagaimana ia sebenarnya rapuh, penuh ketegangan, dan menyembunyikan banyak hal.


Gagasan Kunci Derrida 

1. Logocentrisme: Kultus “Makna Murni”

Derrida mengkritik apa yang ia sebut sebagai logocentrisme
kecenderungan filsafat Barat untuk percaya bahwa di balik bahasa yang beragam, ada “makna murni” yang hadir secara penuh, jelas, dan bisa 
ditangkap begitu saja oleh rasio.
Dalam tradisi Barat, sering ada keyakinan bahwa:
• Ucapan lisan (ketika seseorang hadir dan berbicara) dianggap 
lebih “asli” daripada tulisan, karena dianggap lebih dekat dengan “kesadaran” dan “niat” pembicara.
• Ada pusat makna yang stabil, entah itu rasio, subjek, atau logos (kata/firman) yang menjadi dasar segala sesuatu.
Derrida menunjukkan bahwa:
• Ucapan lisan pun harus melewati bahasa, dan karenanya juga bisa salah pahamTidak ada momen ketika makna hadir “secara penuh” tanpa selip, tanpa kemungkinan salah tafsir.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat logocentrisme, misalnya, ketika seseorang berkata:
“Pokoknya saya sudah bilang langsung ke dia. Kalau dia salah paham, itu urusan dia.”
Seolah-olah ucapan langsung itu pasti jelas, murni, dan tidak mungkin ambigu. Padahal, bahkan dalam komunikasi tatap muka, intonasi, ekspresi, konteks sosial, dan pengalaman masing-masing orang membuat makna selalu bisa bergerak.
2. Différance: Makna yang Selalu Menyimpang dan Menunda
Istilah khas Derrida: différance (dengan huruf a, bukan e). Kata ini permainan dari bahasa Prancis différer yang berarti:
1. Berbeda (to differ)
2. Menunda (to defer)
Bagi Derrida, makna sebuah kata tidak pernah selesai atau tertutup, karena:
• Makna sebuah kata muncul dari perbedaannya dengan kata-kata lain. “Kucing” berarti “kucing” karena berbeda dari “anjing”, 
“harimau”, “kursi”, dan seterusnya.
• Untuk memahami satu kata, kita selalu harus merujuk pada katakata lain, lalu kata-kata lain lagi, dan seterusnya. Jadi, makna selalu ditunda; ia tidak pernah hadir seluruhnya sekarang, melainkan terus bergeser seiring konteks dan relasi baru.
Dalam kehidupan sehari-hari: 
• Kata “setia” berarti apa?

o Di satu budaya, mungkin berarti tinggal bersama pasangan 
apa pun kondisinya.
o Di budaya lain, bisa berarti selama tidak berkhianat secara 
fisik, walau secara emosional dingin tetap dianggap “setia”.
o Di dunia digital, ada perdebatan baru: apakah stalking
mantan di media sosial itu masih “setia”? Apakah chat intens dengan teman lawan jenis, tetapi tanpa kontak fisik, 
termasuk “selingkuh”?
Makna “setia” bergantung pada jaringan kata lain: cinta, komitmen, privasi, batasan, nilai agama, dan sebagainya. Tidak ada definisi tuntas yang bisa mengunci semua kemungkinan.
Inilah différance: makna berbeda dan ditunda terus-menerus.
3. Dekonstruksi: Membongkar, Bukan Menghancurkan
Dekonstruksi sering disalahpahami sebagai “merusak” atau “menghancurkan” segala sesuatu. Bagi Derrida, ini keliru. Dekonstruksi adalah:
• Sebuah cara membaca teks (baik teks tertulis maupun “teks 
sosial”: kebiasaan, aturan, institusi).
• Upaya untuk mengungkap tensi, kontradiksi, dan hal-hal yang disembunyikan dalam sebuah struktur makna.
• Proses membalik dan menggoyahkan oposisi biner yang tampak rapi, misalnya: pusat/pinggiran, normal/abnormal, 
rasional/irasional.
Dekonstruksi bekerja, misalnya, dengan:
1. Menunjukkan bahwa apa yang dianggap “pendukung” atau “tambahan” justru sering menjadi pusat.
2. Menunjukkan bahwa kategori yang dianggap “lebih rendah” sering kali justru memungkinkan yang “lebih tinggi” itu eksis.
Contoh sederhana:
• Dalam banyak budaya, laki-laki dianggap pusat, perempuan
dianggap pelengkap. Dekonstruksi akan bertanya:
o Apakah mungkin “laki-laki” didefinisikan tanpa “perempuan”?
o Bukankah peran perempuan dalam reproduksi, perawatan, 
dan pendidikan sering menjadi dasar keberlangsungan 
masyarakat—meski tidak diakui secara formal?
Dekonstruksi tidak berhenti pada “membalik biner” (mengagungkan 
yang sebelumnya direndahkan), tetapi menunjukkan bahwa keseluruhan 
struktur biner itu sendiri rapuh.

4. “Tidak Ada yang di Luar Teks” (Il n'y a pas de hors-texte)
Salah satu kalimat Derrida yang paling terkenal (dan sering 
disalahpahami) adalah:
Il n'y a pas de hors-texte
“Tidak ada [yang] di luar teks.”
Ini bukan berarti “tidak ada dunia nyata, hanya teks semata”. Yang dimaksud adalah:
• Apa pun yang kita pahami tentang dunia selalu melalui “teks”, yaitu bahasa, simbol, narasi, kerangka interpretasi.
• Ketika kita bicara tentang “fakta”, “realitas”, “pengalaman 
langsung”, semuanya tetap harus diceritakan, ditafsirkan, diberi bentuk dalam bahasa atau simbol tertentu.
Jadi, dunia nyata ada, tetapi akses kita ke dunia selalu lewat jaringan makna, bahasa, dan interpretasi. Itulah yang disebut Derrida sebagai “tidak ada di luar teks”. 
Dalam kehidupan sehari-hari, ini tampak misalnya ketika:
Dua orang menyaksikan peristiwa yang sama—misalnya 
kecelakaan lalu lintas—tetapi laporan mereka berbeda karena latar belakang, kepentingan, dan cara bercerita berbeda.
• Media yang berbeda melaporkan peristiwa politik yang sama, tetapi narasi dan penekanannya sangat berbeda—sehingga “realitas” politik itu sebagian besar dialami publik lewat “teks” yang sudah di-frame.

III. Dari Konsep ke Praktik: Derrida di Kehidupan Sehari-hari

Sekarang mari kita turunkan gagasan-gagasan di atas ke contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari: di keluarga, media sosial, kantor, 
pendidikan, dan ruang publik.
1. WhatsApp, Emoji, dan Kesalahpahaman: Différance di Ruang Chat

Bayangkan situasi berikut:
• Seorang teman mengirim pesan:
“Oke.”
• Anda mulai gelisah:
o “Ini ‘oke’ yang ikhlas atau kesal?”
o “Kenapa cuma ‘oke’, tidak pakai emoticon?”
o “Kenapa titiknya satu? Biasanya dia pakai ‘okeeee’ atau ‘ok’ saja.”
Di sini, teks kecil “Oke.” menjadi medan tafsir yang luas. Nada suara tidak terdengar; hanya ada huruf dan tanda baca. Anda lalu menafsirkan berdasarkan:
• Riwayat percakapan sebelumnya,
• Hubungan emosional,
Harapan dan ketakutan Anda sendiri.
Derrida akan mengatakan: inilah contoh bagaimana makna tidak pernah hadir secara penuh, bahkan dalam pesan sesingkat “Oke.” 
Makna selalu:
• Berbeda (tergantung konteks, hubungan, situasi),
• Ditunda (Anda mungkin baru memahami maksudnya setelah 
diskusi panjang atau setelah melihat tindakan dia kemudian). 
Bahkan emoji pun tidak menyelesaikan masalah. Emoji bisa berarti: 
• Betul-betul lucu, 
• Sarkasme,
• Menertawakan, bukan bersama.
Kita hidup dalam dunia di mana différance sangat terasa: makna selalu 
bergerak, dan kita terus-menerus bernegosiasi dalam menafsirkan pesan.

Hukum dan Keadilan: Hukum Bisa Ditulis, Keadilan Tak Pernah Selesai

Derrida juga menulis tentang hukum (law) dan keadilan (justice). Bagi dia:
• Hukum adalah aturan tertulis, sistem formal: undang-undang, 
peraturan, prosedur.
Keadilan adalah sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya 
tertangkap oleh hukum; ia selalu melampaui, selalu mengundang penafsiran baru.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat:
• Aturan sekolah atau kampus yang sama, tetapi diterapkan berbeda 
pada kasus yang berbeda.
• Ada peristiwa di mana, secara hukum “benar” (memenuhi 
prosedur), tetapi banyak orang merasa “tidak adil”.
Contoh:
Seorang mahasiswa terlambat mengumpulkan tugas 5 menit. Aturan berkata: “Tugas yang terlambat tidak diterima.” Dosen A menolak 
mentah-mentah; dosen B memberi toleransi karena ada alasan yang kuat 
(misalnya, jaringan internet mati atau ada keadaan darurat keluarga).
Derrida akan melihat:
• Hukum tertulisnya sama, tetapi penerapan dan penafsirannya 
membuka ruang bagi keadilan yang “melampaui teks”.
• Keadilan tidak bisa diringkas menjadi satu aturan umum yang final; ia selalu perlu ditafsirkan ulang dalam konteks konkret.
Sikap dekonstruktif di sini berarti:
• Tidak menolak hukum, tetapi menyadari keterbatasannya.
• Selalu waspada bahwa “mematuhi aturan” tidak otomatis berarti “sudah adil”.
4. Pendidikan: Buku Teks, Kurikulum, dan “Satu Jawaban Benar”

Derrida juga relevan dalam dunia pendidikan. Banyak sistem pendidikan yang:
Menganggap buku teks sebagai “kebenaran resmi”.
• Menguji siswa dengan soal yang hanya mengakui satu jawaban benar.
• Menjadikan guru sebagai sumber makna yang “paling otoritatif”.
Pendekatan dekonstruktif tidak berarti membuang buku atau menolak 
guru. Tetapi:
1. Mengajak mengkritisi teks:
o Mengapa sejarah ditulis dengan cara tertentu?
o Suara siapa yang ditampilkan, dan suara siapa yang hilang?
2. Membuka ruang tafsir:
o Dalam pelajaran sastra, misalnya, mengakui bahwa satu puisi bisa ditafsirkan dari berbagai sudut (gender, kelas, ekologi, teologi, psikologi).
Contoh konkret:
Dalam pelajaran sejarah, narasi resmi mungkin menonjolkan peran tokoh-tokoh besar nasional. Dekonstruksi akan bertanya:
• Bagaimana dengan peran kelompok-kelompok kecil, perempuan, masyarakat adat?
• Mengapa mereka jarang muncul di buku teks?
Sikap dekonstruktif dalam pendidikan sehari-hari mungkin tampak ketika:
• Seorang guru mengajak siswa tidak hanya menghafal definisi, 
tetapi juga bertanya: “Siapa yang menyusun definisi ini? Untuk kepentingan siapa?” 
Dalam kelas manajemen, studi kasus tidak dibaca sebagai “resep tunggal”, tetapi sebagai teks yang bisa dibongkar: apa asumsi 
nilainya? apa konteks budayanya? adakah perspektif lain?
5. Relasi Pribadi: Cinta, Persahabatan, dan Janji
Di level pengalaman personal, gagasan Derrida juga tampak, misalnya, dalam soal janji dan komitmen.
Ketika dua orang berkata:
“Kita saling mencintai, dan kita janji akan setia.”
Kalimat ini tampak jelas, tetapi:
• Apa makna “cinta” bagi masing-masing?
• Apa batas “setia”? Apakah itu hanya soal fisik? Emosional? Digital?
• Bagaimana janji itu dibaca ulang ketika situasi hidup berubah (krisis ekonomi, sakit, perubahan karakter)?
Makna janji itu:
• berbeda di mata masing-masing (dimensi différance),
• ditunda karena baru “terbukti” seiring waktu dan situasi.
Dekonstruksi tidak menyuruh kita berhenti berjanji. Namun, ia mengingatkan:
• Tidak ada janji yang maknanya sepenuhnya stabil, tetapi janji 
tetap penting sebagai komitmen yang selalu perlu dirawat dan 
diinterpretasi ulang bersama.
• Mengklaim “saya sudah setia sesuai definisi saya sendiri” bisa menjadi bentuk kekuasaan yang menutup dialog.
Sikap dekonstruktif dalam relasi berarti:

Berani mengakui bahwa kita menyimpan asumsi-asumsi 
tersembunyi tentang cinta dan setia.
• Bersedia membuka dan menegosiasikan ulang makna itu secara jujur dalam dialog.
6. Media Sosial dan “Jejak Teks”: Tidak Ada yang Benar-Benar 
Hilang

Di era digital, apa yang dikatakan Derrida tentang teks dan jejak (trace) menjadi sangat nyata.
• Setiap status yang kita posting, setiap komentar, foto, story, 
bahkan yang sudah “dihapus”, sering meninggalkan jejak: di 
server, di tangkapan layar orang lain, di ingatan kolektif.
• Komentar yang ditulis dalam emosi sesaat bisa muncul lagi di 
kemudian hari, di luar konteks awalnya.
Bagi Derrida, teks selalu membawa jejak konteks sebelumnya dan 
potensi konteks baru.
Contoh sehari-hari:
• Seorang publik figur pernah menulis tweet kontroversial sepuluh tahun lalu. Saat itu konteks sosial berbeda, belum ada kesadaran 
tertentu tentang isu sensitif. Namun, sepuluh tahun kemudian, tweet itu diangkat lagi, dinilai dengan standar moral baru, dan 
menjadi kontroversi besar.
Ini menunjukkan:
• Teks (tweet) itu terlepas dari niat awal penulisnya.
• Ia beredar dalam jaringan makna yang terus berubah, dan 
karenanya selalu bisa ditafsir ulang. 
Sikap dekonstruktif di media sosial bisa berarti:
Sadar bahwa setiap teks kita akan hidup di luar kuasa kita; karena itu, kita perlu bertanggung jawab atas kemungkinan tafsir yang 
beragam.
• Sadar bahwa ketika membaca teks orang lain, kita pun membawa 
konteks, luka, atau harapan kita sendiri—sehingga kita tidak terlalu cepat mengklaim “ini pasti maksudnya jahat/baik”.
7. Dunia Kerja dan Manajemen: “Profesional”, “Objektif”, dan 
“Kinerja”
Dalam organisasi dan manajemen, banyak istilah terlihat “teknis” padahal 
sarat nilai:
• “Profesional”
• “Objektif”
• “Berorientasi kinerja”
• “High potential talent”
Dekonstruksi mengajak kita melihat:
1. Apa yang disembunyikan oleh istilah ‘profesional’?
o Sering kali, “profesional” berarti berperilaku sesuai standar kelas menengah tertentu: cara berpakaian, cara bicara, jam 
kerja, gaya komunikasi.
o Seseorang yang kompeten tetapi gaya berbicaranya lebih 
informal atau berasal dari latar budaya berbeda bisa dicap 
“kurang profesional”, padahal kinerjanya sangat baik.
2. Apa yang dianggap ‘objektif’ dalam penilaian kinerja?
o Lembar penilaian tampak netral, memakai angka dan  
indikator.
Namun, pemilihan indikator itu sendiri—apa yang diukur, 
apa yang tidak diukur—merupakan keputusan nilai. Misalnya, kerja emosional (mendukung rekan, meredakan konflik) 
sering tidak masuk indikator, padahal sangat menentukan 
kesehatan organisasi.
Sikap dekonstruktif di dunia kerja bisa berupa:
• Manajer bertanya: “Ketika kita mengatakan ‘karyawan ideal’, siapa yang sebenarnya kita bayangkan? Apakah kita tanpa sadar 
memihak jenis kepribadian tertentu dan meminggirkan yang lain 
(misalnya, introvert, perempuan, atau kelompok minoritas)?”
• HR mulai meninjau kembali istilah “budaya perusahaan” dan melihat apakah ada nilai tertentu yang didorong sementara nilai 
lain (misalnya keseimbangan hidup-kerja, kesehatan mental) 
dikorbankan.
Derrida membantu kita menyadari bahwa bahkan dunia manajemen yang tampak “rasional” juga dibangun atas teks, narasi, dan oposisi 
biner—yang dapat dan perlu dibongkar secara kritis.

IV. Dekonstruksi sebagai Sikap Hidup: Antara Skeptis dan Tanggung Jawab
Sering ada dua kesalahpahaman tentang Derrida:
1. “Dekonstruksi berarti semua relatif dan tidak ada yang benar.”
2. “Dekonstruksi hanya permainan kata, tidak berguna untuk hidup nyata.”
Keduanya tidak tepat.
1. Bukan Relativisme Kosong
Derrida tidak mengatakan “semua sama saja” atau “tidak ada kebenaran”. Ia justru: 
Menunjukkan bahwa kebenaran selalu dimediasi oleh bahasa 
dan konteks, sehingga kita harus rendah hati dan waspada pada 
klaim “kebenaran mutlak” yang menutup dialog.
• Membuka ruang untuk mendengar yang tak terdengar, yaitu suara-suara yang dikeluarkan oleh narasi dominan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa berarti:
• Tidak terlalu cepat menghakimi orang lain karena menyadari bahwa cara kita sendiri melihat dunia juga terbentuk oleh teks, 
tradisi, dan bias.
• Namun, tetap berani bersikap terhadap ketidakadilan, dengan 
sadar bahwa sikap kita pun adalah tafsir yang bisa diuji dan 
diperbarui.
2. Bukan Sekadar Permainan Kata

Dekonstruksi bukan sekadar “mencari-cari salah kata orang lain”. Di tangan Derrida, dekonstruksi adalah:
• Etika membaca dan mendengar: tidak puas dengan penjelasan 
permukaan, tetapi mau menggali ketegangan dan luka yang tersembunyi.
• Sikap tanggung jawab: karena kita tahu bahasa dan makna rapuh, 
kita justru harus lebih lembut, hati-hati, dan terbuka dalam 
berkomunikasi.
Dalam praktik sehari-hari, sikap ini bisa tampak sebagai:
• Kebiasaan bertanya: “Mengapa narasi ini dominan? Siapa yang 
mendapat suara, siapa yang tidak?” ketika kita membaca berita, kebijakan, atau khutbah.
• Kepekaan untuk menyadari bahwa di balik slogan-slogan indah 
(“demi rakyat”, “demi efisiensi”, “demi moralitas”), bisa ada struktur kekuasaan yang perlu di-cek ulang. 


V. Penutup: Mengapa Derrida Relevan bagi Kehidupan Sehari-Hari?
Walaupun gaya tulisannya rumit, Derrida menawarkan beberapa pelajaran penting bagi kehidupan sehari-hari:
1. Mengajarkan kerendahan hati epistemik
o Kita tidak pernah menguasai makna secara penuh; selalu ada 
sisi lain yang luput.
o Ini mencegah fanatisme atas satu tafsir, entah dalam bidang 
politik, agama, atau ilmu.
2. Membuka mata terhadap kekuasaan dalam bahasa
o Kata-kata seperti “normal”, “wajar”, “profesional”, “modern” bukan sekadar deskripsi; mereka mengatur siapa yang 
dihargai dan siapa yang dikecilkan.
o Kesadaran ini membantu kita lebih sensitif terhadap 
kelompok yang terpinggirkan.
3. Mengajak kita bertanggung jawab dalam berbahasa dan 
bertindak
o Karena teks dan tindakan kita akan hidup di luar niat awal, 
kita mesti berhati-hati dan bertanggung jawab atas efeknya.
o Ini mencakup cara kita menulis di media sosial, mengajar di 
kelas, memimpin di organisasi, atau berkomunikasi dalam 
keluarga.
4. Mendorong dialog yang terus-menerus
o Tidak ada kata terakhir, tidak ada definisi final.
o Relasi yang sehat—dalam keluarga, organisasi, masyarakat—
dibangun lewat kesediaan untuk menafsir ulang
mengklarifikasi, dan memperbarui janji-janji dan pengertian bersama.
Pada akhirnya, Derrida mengingatkan bahwa kita hidup di dunia yang 
sepenuhnya “ditenun” oleh teks: bahasa, simbol, narasi, regulasi, dan kebiasaan. Kita tidak bisa keluar dari jaringan makna ini, tetapi kita bisa 
menjalani hidup dengan lebih sadar:
• Sadar bahwa makna selalu terbuka,
• Sadar bahwa setiap teks membawa jejak kekuasaan dan luka,
• Sadar bahwa membaca dan menafsir itu bukan sekadar urusan akademik, tetapi tanggung jawab etis di tengah kehidupan 
bersama.
Dengan cara ini, Derrida bukan hanya milik ruang kuliah filsafat, tetapi 
juga milik obrolan keluarga, ruang rapat, grup WhatsApp, dan semua tempat di mana manusia berbagi kata-kata, harapan, dan perbedaan.
Berikut Glosarium dan Referensi yang dapat melengkapi narasi tentang Derrida dan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari tadi.
A. Glosarium 
1. Jacques Derrida
Filsuf Prancis kelahiran Aljazair (1930–2004), dikenal sebagai tokoh 
sentral post-structuralism dan deconstruction. Ia menantang cara berpikir 
filsafat Barat yang mengandaikan makna stabil, pusat tunggal kebenaran, 
dan hierarki dalam oposisi biner (misalnya, ujaran/tulisan, 
rasional/irasional). (Wikipedia)
2. Dekonstruksi (deconstruction)
Metode membaca dan berpikir yang bertujuan membongkar (bukan 
merusak) struktur konsep, teks, dan institusi yang tampak kokoh. 
Dekonstruksi menunjukkan bahwa di dalam teks selalu ada ketegangan, 
kontradiksi, dan hal-hal yang ditekan atau disembunyikan, serta bahwa 
oposisi biner (pusat/pinggiran, normal/abnormal, modern/tradisional) 
rapuh dan dapat dibalik. Ia bukan relativisme, tetapi sikap kritis terhadap 
klaim makna yang terlalu pasti.
3. Logocentrism (Logosentrisme)
Istilah Derrida untuk menyebut kecenderungan filsafat Barat yang 
memandang ada “pusat makna” yang hadir secara penuh dan stabil—
sering dikaitkan dengan rasio, kesadaran, atau logos (kata/firman). Dalam 
logocentrisme, ujaran lisan dianggap lebih asli, lebih dekat dengan 
“kehadiran” makna, sedangkan tulisan dipandang sekadar turunan. 
Derrida mengkritik pandangan ini dalam Of Grammatology. (Wikipedia)
4. Différance
Istilah khas Derrida (dengan huruf a) yang bermain pada dua makna kata 
différer dalam bahasa Prancis: berbeda (to differ) dan menunda (to 
defer). Makna sebuah kata selalu:
• muncul melalui perbedaan dengan kata lain, dan
• tertunda, karena untuk memahami satu kata kita selalu harus 
merujuk pada kata-kata lain lagi.
Dengan demikian, makna tidak pernah hadir secara penuh dan 
final; ia selalu bergerak karena konteks dan jaringan teks yang 
berubah.
5. Trace (jejak)
Konsep bahwa setiap tanda atau makna selalu membawa “jejak” dari 
tanda-tanda lain yang mengitarinya. Tidak ada makna yang murni; setiap 
kata memikul residual makna dari konteks yang lampau dan membuka 

kemungkinan tafsir di masa depan. Dalam dunia digital, “jejak” sangat 
tampak dalam bentuk arsip, screenshot, rekaman, dan sebagainya.
6. “Tidak ada yang di luar teks” (il n’y a pas de hors-texte)
Ungkapan Derrida yang sering disalahpahami. Bukan berarti “dunia nyata 
tidak ada”, tetapi bahwa akses kita ke dunia selalu dimediasi oleh 
teks: bahasa, narasi, simbol, kerangka interpretasi. “Fakta” dan “realitas” 
selalu hadir kepada kita dalam bentuk yang sudah ditafsirkan dan 
dinarasikan.
7. Oposisi Biner
Pasangan konsep berlawanan yang diatur secara hierarkis, misalnya:
• jiwa / raga
• rasional / emosional
• pusat / pinggiran
• pria / wanita
• ujaran / tulisan
Dalam banyak tradisi, satu sisi dianggap lebih tinggi atau lebih asli. 
Dekonstruksi menunjukkan bahwa yang dianggap “lebih rendah” 
sering justru menjadi syarat kemungkinan bagi yang “lebih tinggi”.
8. Pusat (center) dan Pinggiran (margin)
Dalam teks dan sistem pemikiran, “pusat” adalah unsur yang dianggap 
memberi kepastian dan stabilitas bagi keseluruhan: misalnya Tuhan, 
rasio, subjek, negara, atau “kebenaran objektif”. “Pinggiran” adalah halhal yang dianggap sekunder atau tidak penting. Derrida menunjukkan 
bahwa pusat itu sendiri bergantung pada margin; yang dipinggirkan ustru sering mengungkap keterbatasan pusat.
9. Of Grammatology (De la grammatologie)
Buku Derrida tahun 1967 yang menjadi karya kunci. Di sini ia mengkritik tradisi filsafat yang mengutamakan ujaran atas tulisan, dan mengembangkan konsep dekonstruksi serta kritik terhadap logocentrisme. Versi Inggris penting diterbitkan oleh Johns Hopkins 
University Press (1976), diterjemahkan Gayatri Chakravorty Spivak. 
(Wikipedia)
10. Writing and Difference (L’écriture et la différence)
Koleksi esai Derrida (ditulis 1959–1966, terbit 1967) yang 
memperlihatkan perkembangan awal metode dekonstruksi, termasuk esai penting tentang Descartes, Foucault, Levinas, dan “Structure, Sign and Play in the Discourse of the Human Sciences”. (Wikipedia)
11. Dissemination (La dissémination)
Karya 1972 yang berisi esai-esai penting seperti “Plato’s Pharmacy”, “The Double Session”, dan “Dissemination”. Derrida mengeksplorasi bagaimana makna tersebar (“tersemai”) dan tidak bisa dikunci dalam 
satu tafsir tunggal, serta hubungan antara bahasa, sastra, dan filsafat. 
(Bloomsbury Publishing)
12. Hukum (law) dan Keadilan (justice) dalam Derrida
Derrida membedakan antara hukum sebagai sistem aturan tertulis (yang selalu historis dan dapat direvisi) dan keadilan sebagai sesuatu yang tak pernah sepenuhnya tertangkap oleh teks hukum. Keadilan menuntut penafsiran terus-menerus dan kepekaan terhadap singularitas kasus; 
karena itu, “keadilan” lebih merupakan panggilan etis daripada rumus final.
13. Relativisme
Pandangan bahwa tidak ada kebenaran objektif; semua kebenaran relatif 
terhadap sudut pandang. Derrida sering disalahpahami sebagai relativis. 
Padahal, ia tidak mengatakan bahwa “semua sama saja”, tetapi bahwa 
klaim kebenaran selalu dimediasi oleh bahasa dan konteks, sehingga 
perlu kerendahan hati epistemik dan keterbukaan dialog, bukan 
penolakan total terhadap kebenaran.
14. Post-strukturalisme
Gerakan intelektual yang muncul setelah strukturalisme, menekankan 
bahwa struktur bahasa dan makna tidak stabil, melainkan terbuka, 
kontradiktif, dan selalu dapat diubah. Derrida, bersama tokoh lain (Foucault, Deleuze, dsb.), sering ditempatkan dalam kategori ini karena kritiknya terhadap struktur makna yang dianggap tetap.
15. Tekstualitas
Gagasan bahwa dunia sosial, institusi, tradisi, bahkan identitas diri dapat 
dipahami sebagai “teks” yang dapat dibaca, ditafsirkan, dan 
didekonstruksi—bukan hanya teks tertulis dalam arti sempit. Ini menjadi dasar untuk membawa dekonstruksi ke ranah hukum, pendidikan, media,  
dan kehidupan sehari-hari.

Sumber:  

Rudy C Tarumingkeng: Siapa Derrida, Dan Pemikirannya -Dalam Kehidupan Sehari-Hari 


,

ANDI ARIEF: PELAKUNYA LEBIH DARI TUJUH ORANG

Kompas, 18 Juli 1998


Bandarlampung, Kompas. Aktivis korban penculikan Andi Arief (27) meragukan kalau penculikan aktivis hanya dilakukan oleh oknum-oknum anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. ABRI telah bekerja bagus, namun ia tetap menilai masih ada fakta yang disembunyikan. Ia juga mengatakan, jumlah pelaku penculikan lebih dari tujuh orang.

"Saya rasa masih belum final karena ada fakta yang disembunyikan," ujar Andi Arief kepada pers di rumahnya di Bandarlampung, Jumat (17/7). Saat ditemui pers, Andi baru saja usai sholat Jumat, ditemani ayahnya Arief Makhya. Ia sholat di mesjid Al-Furqon, di kompleks Polresta Bandarlampung.

Sementara Pius Lustrilanang, aktivis korban penculikan yang pertama kali memberikan kesaksian soal penculikannya di Komnas HAM, akan tiba kembali di Jakarta, hari Minggu pukul 13.55 WIB. "Ia memang akan pulang ke Jakarta setelah berkampanye di negara Eropa, Amerika, dan Asia," ujar Hendardi, kuasa hukum Pius.

Ditanya apakah Pius akan memberikan keterangan di Pusat Polisi Militer ABRI, Hendardi mengatakan, kalau diperlukan itu bisa saja. "Tapi sebenarnya keterangan 'kan sudah cukup, tinggal bagaimana mengungkap motivasi politik di balik penculikan itu. Motivasi politik ini harus betul-betul diungkapkan secara tuntas, gamblang, dan transparan," ujar Hendardi.

Menanggapi penegasan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto bahwa ada perintah pimpinan Kopassus untuk mengungkap gerakan radikal di masyarakat, namun pelaksanaannya di luar batas kepatutan, Hendardi mengatakan, perintah itu merupakan kesalahan.

"Aneh dan tidak dapat diterima Kopassus memiliki kewenangan, untuk mengungkap aktivitas masyarakat yang diduga memiliki indikasi tindak pidana. Itu tugas kepolisian, bukan tugas Kopassus. Jadi, perintah pimpinan Kopassus merupakan kesalahan esensial yang bukan merupakan wewenangnya," kata Hendardi.

Gabungan

Andi Arief ragu kalau penculikan aktivis hanya dilakukan oleh satu institusi yakni Kopassus. Ia menduga kuat, para pelaku penculikan merupakan tim gabungan dari beberapa institusi yang terkoordinir rapi. Walau didesak wartawan, ia tak bersedia menyebut indikasi-indikasinya. "Saya akan berikan kesaksian tentang itu kepada tim penyidik Puspom ABRI," papar alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM).

Andi direncanakan akan memberikan keterangan di Puspom ABRI hari Senin atau Selasa mendatang, Puspom sedianya memanggil Andi untuk diperiksa Jumat, namun karena panggilan terlalu mendadak, terpaksa ditunda.

Ia juga memastikan, pelaku penculikan lebih dari tujuh orang, seperti yang disangkakan saat ini. Andi mengenali baik wajah-wajah lima orang penculiknya, terutama saat dia dijemput di Bandarlampung dan saat dalam penyeberangan di Bakauheni-Merak.

"Bila kemudian saya tidak menemukan wajah lima orang itu di dalam tujuh orang yang disangkakan itu, maka tim pencari fakta (TPF) ABRI harus bekerja keras lagi," tambah Andi yang telah menerima surat jaminan keamanan dari Puspom ABRI No Sket/03/VII/1998 tanggal 15 Juli 1998.

Andi dilepas dari tahanan Polda Metro Jaya, Selasa lalu pukul 19.30 dan tiba di Bandarlampung Rabu dini hari antara pukul 02.00 - 03.00. Dia menyatakan, masih merasa lelah dan ingin melepas kangen dengan keluarga.

Pemuda kelahiran 20 Novem- ber 1971 ini belum bersedia merinci penculikan dirinya. Dia berjanji akan menjelaskannya secara rinci kepada penyidik Puspom ABRI. "Sekarang saya mulai percaya, Puspom ABRI mulai serius menuntaskan kasus ini, karena secara transparan sudah menyinggung pelaku dan institusinya yakni oknum Kopassus," katanya.

Bebaskan

Penculikan aktivis, menurut Andi, bukan akibat "salah prosedur", tetapi mungkin sesuai "prosedur standar". Dia meminta, agar 12 orang rekannya yang masih dalam penyekapan dibebaskan. "Mengapa ditahan lama-lama, sementara yang lain sudah dibebaskan?" tanyanya.

Andi juga menegaskan, kasus penculikan aktivis hendaknya tidak terulang lagi. Berkaitan dengan itu, ABRI harus membuat pengakuan tertulis dan diumumkan terbuka kepada masyarakat bahwa kasus orang hilang tidak akan terjadi lagi pada masa mendatang.

Contoh yang menarik, kata Andi, seperti kasus orang hilang di Argentina. Kalangan angkatan bersenjata di sana, dalam sejarahnya pernah membuat pengakuan terbuka dalam bentuk tertulis dan disebarluarkan kepada masyarakat. Intinya kasus orang hilang tidak boleh terulang kembali.

"Untuk konteks Indonesia, ABRI harus membuat dokumen serupa. Kasus orang hilang harus diakui sebagai tragedi kemanusiaan. Kalau hanya diselesaikan di pengadilan, saya yakin kasus itu akan terjadi lagi di masa depan," kata Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). (cal/bdm)

Sumber: Kompas, 18 Juli 1998



,

Khutbah Jumat: Untuk Apa Kita Menjadi Orang Baik?

 

Pada periode awal Islam, seperti dituliskan oleh seorang penulis sejarah terkenal di awal Islam, yaitu Ibnu Ishaq, dalam kitab sejarah yang berjudul Sirah An-Nabawiyah atau kisah tentang Nabi, pada tahun-tahun pertama Rasulullah berdakwah di kota Makkah, hanya sedikit orang yang dapat menerima agama baru, agama Islam ini. Hanya berkisar 3-4 ratus orang. Empat tahun pertama Rasulullah berdakwah di antara 45 ribu penduduk Makkah pada waktu itu. Yang sedikit ini pun mengalami perlakuan yang kurang manusiawi: penghinaan, penindasan, bahkan penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang Quraish Makkah pada waktu itu.

Menghadapi situasi yang sangat keras itu, Rasulullah akhirnya memutuskan agar sebagian para pemeluk Islam yang awal itu bertahan dalam imannya dan terpaksa harus mencari perlindungan di negara lain. Yang dalam bahasa sekarang barangkali meminta suaka politik kepada negara lain karena mengalami tekanan, penindasan, di luar batas kemanusiaan.

Negara yang dituju adalah, yang dalam sejarah Islam disebut, negara Habsyi, yang sekarang disebut Republik Ethiopia. Pada waktu itu Ethiopia dipimpin oleh seorang kaisar, yang oleh Ibnu Ishaq disebut Kaisar Najasi, yang dalam sejarah Barat disebut Emperor atau Kaisar Negus, yang beragama Kristen Ortodoks. Hanya sekitar 90 orang yang diperintahkan untuk mencari suaka politik itu, yang dipimpin oleh saudara sepupu Nabi, yakni Ja'far bin Abi Thalib.

Apa yang terjadi? Setelah mereka mendapatkan suaka politik di Habsyi, dengan menempuh perjalanan yang jauh, jalan kaki dari Makkah ke Jeddah, kemudian menyeberangi Laut Merah, untuk sampai di daratan Afrika, maka penguasa Kota Makkah pada waktu Abu Sufyan mengutus anaknya bernama Muawiyah bin Abi Sufyan, untuk menghadap Kaisar Najasi. Dan meminta agar 90 orang kaum muslimin yang telah mendapat suaka politik itu dikembalikan—kalau bahasa sekarang itu "diekstradisi"—ke Kota Makkah.

Maka Kaisar Najasi memanggil Muawiyah dan bertanya: "Atas dasar apa Anda meminta agar 90 orang ini diekstradisi atau dikembalikan ke Kota Makkah?”

Maka menjawablah Abu Sufyan: "Mereka ini menimbulkan kegaduhan, huru-hara, dan kegoncangan dalam masyarakat Makkah. Karena mereka mengaku menganut agama baru yang disebarkan oleh orang yang bernama Muhammad. Karena mereka ini menimbulkan kekacauan, instabilitas, gangguan dll, maka kami mengambil langkah-langkah keras terhadap mereka."

Tapi Kaisar Negus tidak mau percaya begitu saja. Maka dipanggillah orang-orang yang mendapatkan suaka itu. Juru bicaranya Ja'far bin Abi Thalib maju ke depan.

Kaisar Najasi bertanya: "Apa yang diajarkan Muhammad kepada kalian, sehingga penguasa Kota Makkah Abu Sufyan meminta kalian diekstradisi (dikembalikan) ke Kota Makkah?"

Maka menjawablah Ja'far bin Abi Thalib: "Muhammad telah mengajarkan kepada kami agar kami hanya menyembah Allah yang transenden (mengatasi alam semesta), dan menyuruh kami meninggalkan penyembahan terhadap berhala yang merendahkan harkat dan martabat kami sebagai manusia. Muhammad mengajarkan kepada kami untuk berkata benar, jujur, dan adil. Dan beliau mengajarkan kepada kami kalau kami berbicara, kami tidak boleh berdusta. Dan kalau kami berjanji kami tidak boleh mengingkari janji yang telah kami ucapkan. Muhammad mengajarkan kepada kami supaya kami menjaga hubungan baik dengan saudara dan tetangga, menjauhi segala tindakan kejam, zalim, dan aniaya. Muhammad menyuruh kami untuk menjauhi pertumpahan darah dan menyelesaikan setiap persoalan dengan dialog, musyawarah, dan mufakat. Muhammad menyuruh kami tidak berbuat zalim kepada anak yatim. Kami tidak boleh menimbulkan fitnah yang menyebabkan kesengsaraan, keburukan, dan penderitaan pada orang lain."

Lalu Kaisar Najasi bertanya: "Saya beragama Kristen Ortodoks. Apa yang diajarkan Muhammad kepada kalian tentang Yesus Kristus?"

Maka Ja'far membaca surah Maryam yang mengisahkan tentang kelahiran Nabi Isa as yang sedikit berbeda dengan apa yang disebutkan dalam Injil Kanonik (Injil Matius, Lukas, Yohanes) yang ada sekarang ini. Dikisahkan tentang Malaikat Jibril yang datang kepada Siti Maryam dan kemudian Siti Maryam hamil dan lahirlah seorang putra yang disebutkan dalam Al Qur'an "'Isa kalamullah". Isa itu tercipta karena kalam Allah. Karena Siti Maryam itu tidak ada suaminya.

Sesudah itu, Kaisar Negus berkata, "Kalau itu yang diajarkan Muhammad kepada kalian, maka saya tidak punya alasan untuk mengabulkan permintaan ekstradisi oleh Abu Sufyan.

Dia berkata kepada Muawiyah, "Kalian pulang ke Makkah. Orang-orang ini tetap berada dalam perlindungan saya di negeri Habsyi atau Etiopia sekarang ini.

Peristiwa itu sudah lama sekali terjadi, bahkan sebelum hijrah Rasulullah ke kota Madinah.

Kalau teks yang ditulis oleh Ibnu Ishaq itu kita baca sekarang, lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan kita dihadapkan dengan dunia masa kini, maka apa yang dapat kita pahami dari teks sejarah itu?

Dari jawaban Ja'far bin Abi Thalib, kita dapat menarik suatu kesimpulan sederhana: yang pertama diajarkan Rasulullah kepada orang-orang Makkah pada waktu itu adalah seperti jawaban Ja'far bin Abi Thalib: yaitu menyembah Allah yang transenden dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Yang diajarkan Rasulullah pertama-tama adalah tauhid dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.

Ja'far mengatakan menyembah Allah yang mengatasi alam semesta, yang dalam bahasa filsafat disebut "Tuhan yang transenden". Tempat manusia bergantung, memohon segala pertolongan, dan mengembalikan segala persoalan yang mereka hadapi kepada Tuhan yang transenden itu.

Jadi, tauhid itulah esensi dari Islam: Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta; hidup ini terbatas; dunia ini akan kiamat; manusia semua akan mati. Dan kematian tidak mengakhiri segala-galanya. Karena kematian adalah awal dari keabadian dan pertanggungjawaban moral manusia.

 فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗࣖ

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Q.s. Az Zalzalah)

Lalu, sisi kedua jawaban Ja'far itu adalah jawaban moral: Muhammad menyuruh kami berbuat baik dengan sanak saudara dan tetangga; menyuruh kami berbicara jujur; menjauhi segala kedustaan; menyuruh kami memenuhi janji apabila kami berjanji; menyuruh kami berbuat baik kepada semua; tidak menimbulkan fitnah dan adu domba.

Jadi, moralitas itu suatu norma, "apa yang boleh, apa yang tidak boleh". Sebenarnya itu sudah ada dalam kesadaran batin manusia sendiri. Manusia secara instingtif punya kemampuan membedakan yang benar dan yang salah. Dalam al Quran dikatakan:

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

fa al-hamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ

“lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,” (Q.s. Asy Syams ayat 8).

"fujuraha wa taqwa" (hati manusia punya dua potensi: kefasikan dan ketaqwaan).

Secara instingtif, manusia sudah memiliki kemampuan membedakan hal baik dan buruk, yang adil dan tidak adil, yang benar dan salah. Fungsi ajaran agama adalah sebagaimana fungsi al Quran itu sendiri, yakni

هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

"hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân

“Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Q.s. Al-Baqarah, ayat 185).

Ia mengingatkan hati manusia yang sebenarnya sudah tahu apa yang salah apa yang benar tapi bisa lupa. Yang instingtif itu bisa lupa karena berada di bawah sadar: kadang ia muncul dalam kesadaran, kadang tidak. Maka agama fungsinya mengingatkan.

Persoalan besar yang kita hadapi sekarang ini adalah persoalan moralitas ini. Tiap hari kita mengkaji fiqh: ini halal itu haram. Tapi persoalan fundamental yang dihadapi adalah—dan ini persoalan abadi, dan yang pertama-tama diajarkan oleh Rasulullah—justru iman kepada Allah dan teguhkan moralitas.

Dan kalau kita mencari moralitas itu, kita tidak akan menemukannya kecuali moralitas itu dikaitkan dengan agama. Walaupun seseorang itu tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, tapi pengetahuan seseorang tentang yang baik dan buruk itu tidak berbanding lurus dengan kepatuhan dan ketaatan.

Contohnya, dokter tahu merokok itu merusak kesehatan, tapi banyak juga dokter yang tetap merokok. Artinya, pengetahuan seseorang tidak berbanding lurus dengan kesadaran dan kepatuhan. Itu dua hal yang bisa berbeda. Karena itu, agama menandaskan moralitas kepada iman kepada Allah. Dengan iman kepada Allah, timbullah kesadaran di dalam batin atau hati manusia.

Dan karena itulah kita disuruh untuk terus-menerus ingat dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi perbuatan kita.

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. Al Hadid ayat 4)

Dengan selalu ingat kepada Allah, selalu dekat kepada Allah, maka akan semakin peka-lah hati nurani manusia. Semakin halus perasaannya, makin baik dia pada orang lain, begitu pula sebaliknya. Semakin jauh manusia dari Allah, semakin tumpullah nuraninya, semakin kasar perasaannya, semakin kejam dia pada orang lain. Karena itulah dikatakan bahwa shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena esensi shalat adalah ingat kepada Allah.

Dan ingat kepada Allah atau iman kepada Allah itu disusul dengan iman kepada hari akhir. Iman kepada hari akhir artinya kita percaya bahwa semua orang akan dibangkitkan dan mintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Pada waktu itu Allah menjadi hakim yang Maha Adil. Yang salah akan mendapat balasan; dan yang baik juga akan mendapatkan balasan. Meskipun Allah juga Maha Pengampun kepada makhluk-makhluknya. Tapi bahasa sederhananya: yang baik akan masuk surga, yang jahat masuk neraka.

Persoalannya begini: kalau orang tidak percaya pada hari akhirat. Tidak percaya adanya balasan di akhirat, maka konsekuensinya untuk apa kita jadi orang baik? Karena secara faktual, orang baik tidak selalu bernasib baik di dunia. Dan orang jahat tidak selalu bernasib buruk di dunia. Faktanya, banyak orang baik menjadi susah dan sengsara karena kebaikan yang dia lakukan. Contohnya, ada orang yang secara tulus menolong orang yang terkena rampok, misalnya, tiba-tiba datang segerombolan masyarakat malah menuduh orang baik yang memberikan pertolongan itulah pelakunya. Ia digebuki sampai babak belur. Padahal dia orang baik. Artinya, ada orang baik yang menjadi susah karena kebaikannya. Sebaliknya, ada orang jahat, tidak mengalami nasib buruk di dunia: dia makin hebat saja, makin kaya raya, makin berkuasa, sehat wal afiat, dan seterusnya. Kalaulah seperti itu kehidupan di dunia ini, pertanyaan kita: untuk apa kita menjadi orang baik?

Tentu persoalannya tidaklah sesederhana itu. Di situlah fungsi iman pada hari akhir. Yakin adanya hari akhir di mana manusia akan menerima balasan dari segala perbuatannya. Maka iman kepada Allah dan kepada hari akhir itulah jawabannya. Perbuatan baik akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan, kejahatan pun akan mendapatkan balasannya juga. Jadi, iman kepada Allah dan hari akhir itulah yang mendorong orang untuk patuh pada kaedah-kaedah moralitas.

"Hukum bisa tegak karena dilandasi oleh moral, dan moral bisa tegak kalau dilandasi oleh iman kepada hari akhir." Karena itulah seorang filsuf Jerman yang sangat terkenal, namanya Immanuel Kant mengatakan: "Kalau kita mencari sebuah sistem moral yang terbaik, kita tidak akan menemukannya, kecuali di dalam agama."

***

Pesan taqwa: marilah kita tingkatkan iman dan ketaqwaan kita kepada Allah dengan selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi kita. Apa yang kita perbuat di dunia akan dimintai pertanggungjawaban secara individu-individu di hadapan Allah di akhirat kelak.

Sumber: 

Khutbah Jumat Yusril Ihza Mahendra (Untuk Apa Kita Jadi Orang Baik?) di YouTube

 

TERBARU

MAKALAH