alt/text gambar

Minggu, 25 Januari 2026

DRUPADI


Catatan Pinggir

(TEMPO, No. 48, Tahun XVI, 24 Januari 1987)


Siapakah yang mendengar suara Drupadi, ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.


Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira salah, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. "Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?"


Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang – dalam gelap matanya yang buta – toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik- adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu....


Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. "Budak!" seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi, "hayo, layani aku, budak!" Suara tertawa – kasar dan aneh karena gugup – terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.


Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya gementar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. "Apa boleh buat, Bima," kata kesatria tengah Pandawa ini, "merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu – perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya."


"Baiklah, baiklah," sahut Bima. "Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku," (dan ia tiba-tiba ia berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). "Hai, kalian dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku." (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), "lalu akan kuminum darahnya, kuminum!"


Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kura- wa mendeham mengejek – bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak – tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.


Tapi siapakah yang akan menolong Drupadi?


Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas... Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut, oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.


Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama itu menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.


"Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?" 


Kali ini Resi Bhisma yang termasyhur arif dan ikhlas itu menjawab, "Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri."


Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara ajak menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.


Goenawan Mohamad■


Sumber: TEMPO, No. 48, Tahun XVI, 24 Januari 1987

Sabtu, 24 Januari 2026

,

Khutbah Jumat: Puasa Sia-sia


Alhamdulillah, kita telah menjalani dua per tiga dari sebulan puasa Ramadhan. Kita akan menginjak sepuluh hari terakhir bulan suci ini. Dalam ajaran agama, kita tahu bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah hari-hari sangat penting. 

Beberapa hadis Nabi menyebutkan, pada hari-hari ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir ini ada momen sangat penting yang dikenal dengan laylatulqadr. Maka dalam kesempatan khutbah singkat ini, ada baiknya bila kita merenung dan menyegarkan ingatan kita, mengenai tujuan dan makna ibadah puasa yang sedang kita jalani. 

Tujuan ibadah puasa, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, adalah supaya kita bertakwa. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. 

Dengan mudah bisa dikatakan, kalau kita tidak menjadi bertakwa, maka seluruh ibadah puasa kita telah sia-sia. 

Apa yang dimaksud dengan takwa, sudah sering kita singgung. Sekadar mengingatkan, inti takwa adalah ingat kepada Allah Swt., sehingga terbentuk kesadaran mendalam pada diri kita bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Allah Mahahadir. Dia beserta kita, di mana pun kita berada. 

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hadid [57]: 4) 

Karena kita selalu sadar bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan perkenan atau ridha Allah. Oleh karena itu, takwa mempunyai korelasi positif dan langsung dengan budi pekerti luhur (akhlaqul-karimah). 

Takwa harus melahirkan akhlak karimah. Apabila tidak ada tanda-tanda akhlak karimah pada diri kita, maka patut dipertanyakan, seberapa jauh kita menjadi bertakwa. 

Nabi pernah bersabda bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. Bagaimana puasa bisa mengantarkan kita kepada takwa? Karena puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Paling personal. 

Jika ibadah-ibadah lain mudah tampak oleh mata, maka tidak demikian dengan puasa. Seseorang mengerjakan shalat atau tidak, bisa kita ketahui. Kita juga bisa tahu, apakah seseorang membayar zakat atau tidak. Orang yang beribadah haji lebih mudah lagi kita ketahui. 

Karena haji adalah ibadah yang sangat demonstratif. Tetapi, tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak, kecuali diri kita sendiri dan Allah Swt. Mengapa begitu? Karena cukuplah puasa kita batal hanya dengan meminum seteguk air pada waktu kita tak tahan haus dan kita sendirian. Dengan seteguk air yang semula kita harapkan untuk meringankan derita haus maka seluruh puasa kita telah hilang.

Apakah betul kita tidak mencuri untuk minum barang seteguk, pada waktu kita tidak tahan dahaga dan kita sendirian, itu semua hanya kita sendiri dan Allah Swt. yang tahu. 

Itulah sebabnya, dalam sebuah Hadis Qudsi (firman Allah, tetapi kalimatnya dari Nabi), Allah berfirman: 

Dari Abu Shalih Az-Zayyat, dia mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang menanggung pahalanya.” (HR Bukhari) 

Dari sanalah benih-benih ketakwaan dilatih. Apabila kita telah berniat puasa, kemudian menderita lapar dan haus, namun kita tidak mencuri untuk makan atau minum, meskipun kita sendirian, maka di situ kita mulai melihat adanya permulaan takwa. Yaitu, kita tidak mencuri makan dan minum karena kita tahu Allah melihat kita. 

Karena itu, puasa mempunyai efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri, dan diharapkan jujur kepada sesama manusia. Puasa, dengan demikian, adalah ibadah yang sangat ruhani. Sangat spiritual.
 
Ini berbeda dengan sedekah yang bersifat sangat sosial. Begitu sosialnya, sehingga ada indikasi dalam Alquran, seolah-olah Allah tidak peduli apakah sedekah kita ikhlas atau tidak. Yang penting kita keluarkan saja sedekah kita. Allah berfirman: 

"Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Baqarah (2): 271) 

Seolah-olah Allah mengatakan, Aku tidak peduli kamu ikhlas atau tidak. Yang penting kamu melakukan sedekah. Sebab dengan sedekah orang miskin tertolong. Kalau kamu tidak ikhlas, rugimu sendiri. Kalau kamu ikhlas, untungmu sendiri. Maka ada dua hal yang bisa kamu peroleh dengan sedekah.

Pertama, bila kamu ikhlas, ridha Allah akan kamu dapatkan. 
Kedua, sedekahmu menolong orang miskin yang nantinya akan berefek perbaikan kepada masyarakat. 

Jadi, sedekah adalah ibadah yang sangat sosial. Dalam bahasa yang sering kita dengar, dimensinya sangat horizontal. Sangat hablum-minannas
Tetapi puasa, disebabkan kerahasiaannya itu, sangatlah personal. Sangat vertikal. Karena itu juga, sangat ruhani.

Maka, efek puasa tidak selamanya bisa dilihat secara langsung. Efeknya adalah efek ruhani. Justru karena efeknya di bidang ruhani, maka kebaikan yang diakibatkannya akan melimpah ruah. 

Itulah sebabnya dalam Al-Quran disebutkan, seseorang yang sakit atau dalam perjalanan boleh tidak berpuasa dengan kompensasi menebus pada hari yang lain. 

Maka siapa saja di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. (QS Al Baqarah (2): 184) 

Mengapa begitu? Karena Allah tidak menghendaki kesulitan. Allah menghendaki kemudahan. Allah tidak ingin memberatkan manusia, tetapi ingin meringankannya. Namun kalau seseorang tetap berpuasa, sekalipun dalam perjalanan atau dalam keadaan sakit, itu lebih baik kalau saja dia mengetahui. 

Di situ ada isyarat bahwa ada hikmah puasa yang mungkin tidak terjangkau oleh kita secara lahiriah. 

Sidang Jumat yang terhormat. 

Puasa itu sendiri artinya menahan diri. Kata “puasa” yang kita pinjam dari bahasa Sansekerta, sebagai terjemahan dari kata shawm atau shiyam, mempunyai makna yang sama dengan shawum atau shiyam itu sendiri, yaitu menahan diri.

Ibadah puasa adalah ibadah untuk melatih menahan diri. Karena kelemahan manusia yang terbesar ialah ketidaksanggupan menahan diri. 

Ini dilambangkan dalam kisah kakek kita yang pertama, yaitu Adam. Ketika dia bersama istrinya, Hawa, dipersilakan oleh Allah Swt. untuk tinggal di surga dan diberikan kebebasan menikmati apa saja yang tersedia di surga.

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Baqarah (2): 35) 

Semuanya boleh, hanya satu pohon itu yang tidak boleh. Allah sudah membuat perjanjian, namun Adam rupanya lupa dan kurang teguh kemauannya. Digambarkan dalam Al-quran: 

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Qs. Tha Ha (20): 115) 

Akibatnya, dia tergoda setan. Kemudian melanggar larangan Allah, mendekati pohon terlarang tadi. Dia pun diusir dari surga secara tidak terhormat. 

Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.” (QS Tha Ha (20): 123) 

Ini adalah drama kosmis yang melambangkan karakter manusia. Bahwa kelemahan manusia terletak pada ketidakmampuannya menahan diri dari dorongan keserakahan. Mengapa Adam masih melanggar larangan Tuhan terhadap satu batang pohon, padahal seluruh yang ada di surga tersedia untuk dinikmatinya? Karena Adam serakah. 

Dia tidak puas dengan apa yang ada. Dan kita adalah anak cucu Adam. Kita mempunyai potensi menjadi seperti kakek kita: jatuh tidak terhormat, kalau kita tidak bisa menahan diri. 

Maka, puasa bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa kita harus menahan diri. Maka ukuran pahala puasa bukanlah lapar dahaga. Seolah olah makin lapar, pahalanya makin besar. Makin dahaga pahalanya makin banyak. Tidak demikian. 

Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad Saw. mengatakan, kalau kita sedang puasa, tetapi kita lupa bahwa kita sedang puasa, lalu makan sampai kenyang dan minum sampai puas, maka puasa kita tidak batal. Malah Nabi menganjurkan supaya kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi makan dan memberi minum kepada kita. 

Ini menunjukkan bahwa pahala puasa tidak bergantung pada kadar kelaparan dan kehausan. Pahala puasa tergantung pada sikap jiwa. Dalam hadis disebutkan sebagai sikap jiwa imanan wahtisaban. Yaitu, penuh percaya kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (muhasabah; introspeksi). 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah, Nabi Saw. bersabda, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi (muhasabah), maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni oleh Allah.” (HR Bukhari) 

Ampunan dosa itu tidak tergantung pada rasa lapar dan haus, melainkan kepada imanan wahtisaban. Maka dari itu, marilah kita jalani ibadah puasa ini dengan penuh percaya kepada Allah bahwa Dia menghendaki kebaikan bagi kita. 

Kemudian kita teruskan dengan anjuran satu napas dalam hadis itu yaitu ihtisaban, introspeksi, muhasabah. 

Oleh karena itu, selama berpuasa kita dianjurkan banyak tafakkur iktikaf (duduk termenung di masjid), serta menjalankan shalat malam (qiyamul-layl) yang sekarang populer menjadi tarawih. 

Ide pertama tarawih sebetulnya adalah qiyamul-layl. Maka pelaksanaan shalat sunnah tarawih, makin malam makin baik. 

Nabi sendiri melaksanakan sembahyang tarawih selalu jauh malam dan sendiri di rumah beliau. Karena di situ hendak diciptakan suatu momen ketika kita secara bening, jernih, dan jujur sempat bertanya pada diri sendiri, sebetulnya siapa saya ini? Apakah betul saya ini orang baik? Apa betul semua kebaikan yang saya lakukan adalah benar-benar kebaikan? 

Ada perumpamaan karikatural. Ketika rumah kita diketok orang yang meminta uang, lalu kita memberinya uang, ikhlaskah pemberian kita itu? Ataukah untuk mengusir orang itu supaya lekas pergi? Ada satu batas yang kadang tidak tampak. Kelihatannya sedekah, tetapi sebetulnya perlakuan kasar. Karena kita menghendaki orang itu lekas pergi. Kadang kita katakan kepada anak kita atau pembantu kita, “Kasih orang itu uang biar lekas pergi.” Kelihatannya sedekah, tapi sebetulnya mengusir. 

Dalam hal ini, banyak sekali tindakan kita seperti itu. Rasulullah Muhammad Saw. pernah ditanya oleh Aisyah dengan penuh keheranan atas suatu ayat Al-Quran yang menggambarkan orang beriman, yaitu: 

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَۙ

"Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya." (Q.s., Al-Mu'minan (23): 60) 

Ayat ini menimbulkan keheranan pada Aisyah. Lalu dia bertanya kepada Nabi, “Wahai Nabi, ayat ini bagi saya aneh, orang itu sudah bersedekah tetapi dia malu kepada Tuhan. Maksudnya apa?” 

Nabi mengatakan, “Memang orang bersedekah yang ikhlas itu ialah orang yang sedekah, tapi tidak bisa memastikan bahwa dia dapat pahala dari Tuhan karena dia belum tahu apa sedekahnya itu ikhlas atau tidak. Dia malu kepada Tuhan jangan-jangan sedekahnya tidak diterima Tuhan. Jangan-jangan terbaca oleh Tuhan niat di lubuk hatinya bahwa dia ingin disebut sebagai orang yang murah hati.” 

Karena itu, puasa menjadi kesempatan untuk introspeksi total, sebetulnya siapa diri kita ini. Diri kita, yang ketika berpakaian ihram, pakaian putih-putih tanpa jahitan, melambangkan ketelanjangan di depan Tuhan. Perlambang bahwa kita tidak punya pretensi apa-apa. Kita tidak mengklaim apa-apa. Tidak punya perasaan sebagai orang baik dan sebagainya. Terserah Tuhan untuk menilai kita. 

Hanya dengan instrospeksi seperti itu, tobat kita akan diterima oleh Allah Swt. Hanya dengan begitu, permohonan kita untuk mendapat petunjuk Allah, ihdinash-shirathalmustaqim, akan diterima oleh Allah Swt. 

Kalau kita memohon petunjuk tetapi sekaligus merasa bahwa kita sudah tahu apa yang benar, maka kira-kira jawaban Tuhan, “Kalau kamu sudah tahu yang benar mengapa kamu meminta petunjuk kepada-Ku." 

Oleh karena itu, asumsinya kita tidak tahu. Itu berarti melepaskan semua klaim dalam semangat introspeksi. Nah, kalau kita bisa melakukan itu, maka Nabi mengatakan, "Segala dosanya yang lalu akan dihapuskan oleh Allah Swt.” 
Sehingga kondisi kita suci bagai “terlahir kembali” dari rahim ibu. 

Itulah yang kita peringati dengan 'Idul-fitr, kembalinya fitrah. Kembalinya kesucian primordial. Kesucian asal kita, sebagaimana Allah telah menciptakan kita dahulu. 

Kita renungkan semua itu, agar sisa puasa kita ini betul-betul menjadi lebih baik. Jangan sampai panas setahun hilang oleh hujan sehari. Jangan sampai nilai puasa kita sepanjang dua puluh hari yang lewat terhapus begitu saja oleh kesalahan kita dalam sepuluh hari yang akan kita jalani ini.

Nabi memperingatkan kita: 
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan) perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari) 

Allah tidak peduli. Artinya, puasa kita menjadi sia-sia.

***

Sumber: 

Nurcholish Madjid, 32 Khutbah Jumat Cak Nur: Menghayati Akhlak Allah dan Khutbah-Khutbah Pilihan Lainnya, Jakarta: Penerbit Noura Books, 2016, h. 185-196.



,

Jalaluddin Rakhmat: Kafir Itu Label Moral, Bukan Akidah


Dalam buku Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, yang disunting oleh Abd. Moqsith Ghazali, (halaman 205-209), ada dialog Ulil Abshar Abdalla dan Jalaluddin Rakhmat tentang pengertian "kafir". 

"Bagaimana dengan konsepsi tentang orang kafir yang sering diteriakkan juga oleh mereka yang merasa berjuang di jalan Allah itu; apakah konsep ini sudah tepat penggunaannya?" tanya Ulil Abshar Abdalla pada Kang Jalal. 

Kang Jalal menjawab, "Konsep tentang kafir masih tetap relevan, karena sebagai istilah, dia ada di dalam Alquran dan Sunnah. Hanya saja, mungkin kita harus merekonstruksi maknanya lagi—bukan mendekonstruksi. Saya berpendapat, kata kafir dan derivasinya di dalam Alquran selalu didefinisikan berdasarkan kriteria akhlak yang buruk. Dalam Alquran, kata kafir tidak pernah didefinisikan sebagai kalangan non-muslim. Definisi kafir sebagai orang nonmuslim hanya terjadi di Indonesia. Saya ingin mencontohkan makna kafir dalam redaksi Alquran. Misalnya disebutkan bahwa orang yang kafir adalah lawan dari orang yang berterima kasih. Dalam Alquran disebutkan, “imma syakuran waimma kafura (bersukur ataupun tidak bersukur); lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna 'azabi lasyadid (kalau engkau bersukur, Aku akan tambahkan nikmatku, kalau engkau ingkar [nikmat] sesungguhnya azabku amat pedih). Di sini kata kafir selalu dikaitkan dengan persoalan etika, sikap seseorang terhadap Tuhan atau terhadap manusia lainnya. Jadi, kata kafir adalah sebuah label moral, bukan label akidah atau keyakinan, seperti yang kita ketahui. 

"Jadi," kata Ulil lebih lanjut, "orang yang perangai sosialnya buruk meskipun seorang muslim bisa juga disebut orang kafir?" 

Kang Jalal menjawab: "Betul. Saya sudah mengumpulkan ayat-ayat Alquran tentang konsep kafir. Dari situ ditemukan, kata kafir juga dihubungkan dengan kata pengkhianat, dihubungkan dengan tindak kemaksiatan yang berulang-ulang, atsiman aw kafura. Kafir juga bermakna orang yang kerjanya hanya berbuat dosa, maksiat. 

Selain itu, orang Islam pun bisa disebut kafir, kalau dia tidak bersyukur pada anugerah Tuhan. Dalam surat Al-Baqarah misalnya disebutkan, “Innaladzina kafaru sawa'un 'alaihim aandzartahum am lam tundzirbum Ia yu'minun." Artinya, bagi orang kafir, kamu ajari atau tidak kamu ajari, sama saja. Dia tidak akan percaya. Walaupun agamanya Islam, kalau ndableg nggak bisa diingetin menurut Alquran disebut kafir. Nabi sendiri mendefinisikan kafir (sebagai lawan kata beriman) dengan orang yang berakhlak buruk. Misalnya, dalam hadis disebutkan, "Tidak beriman orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya lelap dalam kelaparan.""

Sumber: 

Abd. Moqsith Ghazali (peny.), Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, Jakarta: Penerbit Jaringan IsIam, 2005, hlm. 208-209.


GLOBALISASI ADALAH NEOKOLONIALISME EKONOMI DAN BUDAYA

Kompas, 24 Januari 1998


*Menyambut Tahun Budaya dan Seni 1998

Oleh: YB Mangunwijaya


Sepanjang penglihatan penulis yang awam dalam teori ekonomi, keprihatinan tentang sakitnya harimau-harimau Asia rupa-rupanya belum masuk dalam jantung persoalan paling mendalam. Hanya Mahathir yang berani menyentuh inti perkara, meski masih dalam bahasa diplomasi. Baru gejalanya yang dibahas. Belum benih atau akar-akar gejala. 


Untunglah Iskandar Alisjahbana jeli menangkap persoalan dasar perdebatan Soros dan Mahathir (dan tak langsung sekian komentar para pakar kita) dalam artikelnya yang sangat informatif Pembaruan Kapitalisme Menuju “Cybernomics Age” dan Globalisasi (Kompas, 20-11-970


Masalah kapitalisme selalu merisaukan.... khususnya para pecinta .... sejak kecil....Gereja bahwa .... itu jahat, tetapi sebaliknya liberalisme dan kapitalisme pun sama buruknya (Surat Gembala Pau Leo XIII Rerum Novarum”, Paus Pius XI Quadragesimo Anno 1931, Paus Paulus IV “Popularum Progressio” 1967). 


Itu sejajar dan diperteguh olah sikap dan cita-cita dari seluruh jajaran dan kategori pejuang kemerdekaan Indonesia Generasi 20/28 yang mengendap dalam Pancasila dan UUD. Yang amat jelasbertolak belakang dengan segala yang dibuahkan oleh liberalisme free enterprise, free fight, free market, serta kapitalisme dengan postulat yang lahir dari Darwinisme bugil the survival of the fittest, yang konon diberi garansi sukses oleh yang disebut amat misterius the Invisible Hand. Jelasnya the Invisible Hand of a Greedy and Egoistic Darwinistic Mentality of an Imperial and Colonial Exploitative World System. Yang masih berjaya terus sampai hari kini. 


Benar, kapitalisme klasik yang diperolok-olok dalam film-film Charlie Chaplin (teristimewa Modern Times) dan yang menyeret jutaan buruh Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, dan sebagainya ke dalam perbudakan dan kemiskinan oleh para pemilik kapital (sering lebih kejam daripada yang diderita oleh buruh-buruh indonesia), sudah tidak ada. Historis sudah dipaksa “melunakkan” diri dan memperbaiki diri sesudah dikontra oleh gerakan-gerakan sosialis kaum buruh di sana. 


Sebenarnya Fukuyama dengan The End of History-nya, Huntington dan hegemoni Bank Dunia serta IMF bersorak-sorai tentang kemenangan sistem liberal kaptalis sudah harus membuat kita , kaum Pancasilais, curiga. Paling sedikit dari segi moral dan kerokhanian, belum bicara dari segi sosio-ekonomi makro. Sebab, bila suatu tata-ekonomi dunia tanpa henti memperkaya mereka yang sudah teramat kaya (Utara dan komprador-kompradoe mereka di Selatan) dengan semakin mempermiskin sekian milyar manusia dunia Selatan yang sudah teramat miskin, pastilah seorang yang berakal sehat dan tidak perlu ia ahli ekonomi, dapat meduga bahwa jelas ada sesuatu yang tidak beres di dalam tat ekonomi semacam itu. Biarpun para harimau Asia dielu-elukan selalu succes stories sistem kapitalis dan Asian Miracles sekali pun. 


Sakit terkulai

Kini, sesudah para macan Asia terkulai sakit kanker, blessing in disguisse, kita terpaksa terugugah lagi untuk memperdalam soal-soal yang benar-benar fundamental, bukan hanya kulit gejala krisis moneternya saja, sebab apa guna kita mempelajari gejala, bila benih dan akar persoalan dasar tidak kita sentuh? Maka, kini mudah-mudahan kita mulai mampu lagi mendengarkan dan menginsyafkan diri dari buah kearifan para pendiri RI kita yang dari awal mula dan menyeluruh lintas agama atau keyakinan tidak pernah percaya kepada kapitalisme (apalagi yang semu) selaku sistem untuk mengangkat bangsa menuju ke tingkat kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat. 


Kapitalisme, entah yang klasik maupun yang sudah diperbaharui, praktis bersendi Darwinisme. Memang bagus dan hebat untuk yang kuat dan pandai, yang kuasa dan tega, akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Darwinisme berakar pada prinsip pengganyangan yang lemah oleh yang kuat, the survival of the fittest. Dari dekat kita melihat bahwa sampai sekarang pun sesudah zaman kolonialisme politik lenyap , masih tak kunjung henti malapetaka kapitalisme tetap hidup dan merajalela dalam bentuk globalisasi ekonomi dan kultural. Teranglah tidak enak didengar dalam telinga yang beruntung oleh tata ekonomi sekarang, bahwa globalisasi (dalam bentuk sekarang ini) adalah nama lain dari neokolonialisme, namun kolonialisme ekonomi dan budaya. Bila hal itu kita katakan di waktu para harimau Asia masih jaya, tentulah cemooh yang kita dapat. 


Akan tetapi sekarang, dengan kenyataan bugil yang sulit ditutup-tutupi, semoga kita sadar kembali, bahwa para pendiri RI kita memang betul ketika mereka gigih menentang kapitalisme sebagai sistem ekonomi Indonesia. Itu dilihat dari segi rakyat kebanyakan, tidak dari yang kuat, pandai dan kuasa.


Tahun 1998 diresmikan sebagai Tahun Budaya dan Seni (aneh sebetulnya, sebab kesenian adalah bagian dari kebudayaan). Yang dihadapi generasi sekarang bukanlah kolonialisme model kuno, akan tetapi jauh lebih canggih dan lebih “maut”, yakni kebudayaan tata dunia yang kapitalistis dan esensial darwinistik (istilah Barat sengaja saya hindari agar tidak terperosok dalam pertentangan Barat-Timur yang menuju ke jalan buntu), dalam sikap dan pikiran, dalam ide dan cita rasa, dan akhirnya (tragisnya) dalam agama dan religiusitas juga. 


Tak pernah tanpa tumbal

Kita harus membedakan kapitalisme. Satu: yang teoritik di atas kertas, yang mengklaim bersumber pada rasionalitas, realisme dan nilai-nilai universal. Dan dua: kapitalisme dalam praktis konkret, yang diskriminatif baik dalam soal gender maupun ras, yang sudah mengejawantah dan melembagakan diri secara internasional lewat korporasi-korporasi multinasional dengan seluruh perangkat industri informasi dan kekuatan milternya; dan yang sudah mengintegrasikan serta memperalat kekuatan-kekuatan elite pribumi/lokal ke dalam sistem eksploitatifnya. Dikemas cantik berbentuk apa pun, seperti misalnya dalam mitos “membuat kue besar dulu agar dapat dibagi-bagi’, tetaplah itu teori (nina bobo).


Praktisnya tidak demikian. Tentulah dari satu dua aspek kemajuan, yang datang dari dunia liberal kapitalis, ilmu pengetahuan, teknologi, industri, perbankan, transportasi, komunikasi, informatik elektronika kibernetik dan sebagainya, dan seterusnya, sistem produksi massal dengan segala komfort buah pasaran bebas berupa produk-produk penikmat kehidupan, membawa berkat. 


Jelasnya, untuk yang menimati berkat. Tetapi tidak pernah ia tanpa tumbal dan korban, penipuan dan represi kekuasaan ekonomik, politik dan milter. Maka sudah lama masalah kapitalisme liberal lebih menjadi masalah moral dan iman daripada hanya soal teknis sosio-ekonomik saja, walaupun seluk-beluk mekanismenya mesti saja harus kita analisis kita diagnosis dan kita terapi secara ilmiah dan politik profesional. 


Free enterprise, free fight, the invisible Hand hanya pas dan menguntungkan bagi yang kuat kuasa pandai dan berkedudukan dengan hak-hak istimewa. Bagus bagi tipe-tipe manusia kuat yang oleh Michael Maccoby dilukis selaku the Gamesman, The Jungle fighter, the Craftsman dan the Companyman, prototipe orang Amerika Utara. Semua jenis manusia kuat, cerdas, terampil, berani, pendek kata the winner type, para juara, itulah yang beruntung (dengan tumbal) dan menjadi the happy few dalam sistem kapitalisme. 


Bagi yang tidak termasuk kategori itu (dan ini mayoritas manusia Selatan atau orang lemah di Utara) sungguh malapetaka. Semakin hari semakin tertinggal, tergusur, terpuruk, terbantai. Persis seperti di rimba-raya tropika, dalam sistem ganyang-mengganyang dunia Darwin. 


Maka ketika di tahun 80-90-an muncul macan-macan Asia, dan Indonesia ikut dipuja-puji sebagai economic miracle, apalagi setelah komunisme bangkrut, bergeloralah gegap-gempita gloria victoria kapitalisme (di Indonesia salah kaprah berbentuk Ersatz-Kapitalismus). 


Sampai di tahun 1997 kita diguyur air dingin oleh suatu Invisible Hand dari arah lain untuk bangun. Mana mungkin Pancasilais yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan bercita-cita Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat percaya kepada Darwinisme sosial, politik, dan ekonomi apalagi budaya? 


Belum lama ini Uskup Agung Breda (Nederland). Mgr M.P.M Muskens mendapat reaksi ribut di kalangan media massa bahkan pemerintah dan parlemen Belanda, ketika di TV menyinggung masih adanya kemiskinan menyedihkan dalam negeri Belanda yang terkenal kaya dan makmur itu, sampai beliau berkata” “Bagi kaum yang amat miskin terjepit mencuri roti tidaklah dosa.” Heboh! Dari percakapan pribadi dengan beliau ternyata bahwa di kalangan luas sana pun sistem kapitalisme sudah disangsikan kemampuannya untuk memberi kemakmuran yang adil dan tanpa tumbal, termasuk tumbal orang Belanda (baca: Barat), apalagi non-Barat. 


Masih luas

Demikianlah lapangan teori ekonomi global universal yang belum terolah masih tersedia amat luas dan menantang generasi ilmuwan muda abad ke-21. Namun itu memerlukan kecerdasan inovatif para teoritisi kita yang independent, tua maupun muda. Bukan yang sudah mandek menyerah kepada status-quo karena telah dicuci otak oleh dunia liberal kapitalis yang memang menguasai seluruh dimensi kehidupan sains dan informasi. 


Tetapi diperlukan juga kejujuran yang bening dan yang tepo seliro (compassionate) menempatkan diri tidak pada posisi pihak yang kuat saja, akan tetapi terutama pada posisi mayoritas bangsa yang masih lemah dan dijadikan tumbal. Tata ekonomi yang manusiawi, adil, dan beradab. Realis tidak naif. 


Prof Mubyarto pernah berkata kepada saya, bahwa ekonomi pasar tidak sama dengan ekonomi kapitalis. Sebelum kapitalisme datang, ekonomi pasar sudah berabad-abad menghidupi Nusantara. Saya kira ini suatu batu pijak loncatan awal yang bagus. Tetapi lalu bagaimana penggelaran teori selanjutnya? Yang tidak sempit chauvinistik berslogan Asia Values dan sebagainya. Karena bingung ingin menutup-nutupi peran komprador mereka? 


Tetapi yang teliti belajar dari teori-teori Barat, namun independen menggagas dari posisi praksis di Bumi kita di sini, sehingga (cita-cita jauh) akhirnya mampu memberi alternatif yang ilmiah sehat, lebih meyakinkan bersifat universal dan karenanya mampu memperoleh teori-teori para keturunan Adam Smith dan Ricardo? Mungkin kita masih harus menunggu tumbuhnya generasi baru ilmuwan dan praktisi abad ke-21. Tak mengapa, asal saja kita sudah mulai sadar, bahwa ekonomi kapitalis liberal yang esensial darwinistik tetapi kita puja-puji itu hanya dapat berjalan dengan tumbal.


Dan karena itu tidak dapat mendorong dan bukan solusi final yang memberi alasan untuk di pihak satu dungu menjaga mayat komunisme karena takut hidup lagi, dan di pihak lain, seperti yang dikira oleh arogansi Fukuyama, bahwa seluruh dunia akan memeluk liberalisme kapitalisme, yang berarti the end of history. 

*

YB Mangunwijaya, budayawan, tinggal di Yogyakarta


Sumber: Kompas, 24 Januari 1998

,

“BUMI MANUSIA” DALAM PERSPEKTIF BOURDIEU

Kompas, 24 Januari 2016


Oleh: Maman S Mahayana


Bumi Manusia (BM) karya Pramoedya Ananta Toer adalah novel sulung tetralogi Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Tetralogi ini dapat dianggap sebagai-meminjam istilah Pram-karyatama (masterpiece) dalam karier kepengarangannya. Tahun 2008, BM memasuki cetakan ke-13, dan kini tentu sudah melewati angka itu. Selain begitu banyak mendapat pujian, bahkan konon mengantarkan Pram dicalonkan penerima Nobel Sastra, BM sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Dalam sejarah sastra Indonesia, BM dapat ditempatkan sebagai salah satu novel terbaik Indonesia.

Meski demikian, sebagai pembaca kritis, seyogianya kita terus coba mengkaji ulang dan melakukan tafsir lain terhadapnya. Setidaknya, lewat perspektif baru, kita akan menemukan banyak hal yang mungkin sebelumnya tak terungkapkan. Catatan kritis Pierre-Felix Bourdieu (1930-2002) terhadap novel Sentimental Education karya Gustave Flaubert membuka cakrawala baru bagi analisis teks sastra. Dengan begitu, gagasan filsuf yang karya-karyanya kini paling banyak mendapat sorotan ilmuwan di dunia ini, menawarkan pandangan lain dalam kritik sastra, terutama dalam kerangka pendekatan sosiologis model Bourdieu.

Jika BM ditelisik lewat gagasan Bourdieu, kekayaan makna apa lagi yang terungkapkan? Bagaimana Pram menyusupkan ideologinya dan memainkan tokoh Nyai Ontosoroh, Minke, Annelies, Robert Mellema, dan Herman Mellema dalam ruang sosial? Bagaimana pula arena produksi kultural berkaitan dengan modal simbolis dan modal kultural jadi pertempuran kepentingan Belanda, Indo, dan pribumi? Mengapa kisahan BM sejak awal menegaskan problem kekerasan simbolik (symbolic violence) ditimpakan kepada Nyai Ontosoroh dan Minke?

Modal kultural

Nyai Ontosoroh alias Sanikem, perempuan Jawa, putri juru tulis Sastrotomo, berhasil menjadi pengusaha perkasa dalam ruang sosial kolonialisme. Dalam usia 14 tahun, ia dijual ayahnya, dijadikan gundik Herman Mellema. Berkat didikan Tuannya, Nyai—sudah punya modal kultural—pengetahuan dan penguasaan bahasa Belanda. Setahun berikutnya, mereka pindah ke Wonokromo, mendirikan Boerderij Buitenzorg. Sejak itu, superioritas Herman surut ke belakang digantikan Nyai. Bagaimana mungkin dalam usia kurang dari 20 tahun, Nyai memasuki arena permainan-pribumi, Indo, dan Belanda—sebagai pemain yang legitim?

Nyai Ontosoroh mengubur masa lalu untuk meraih sukses di masa depan. Tetapi, tak cukup alasan proses penguasaan modal simbolik dilekatkan pada habitus Sanikem yang dipingit sejak usia 13 tahun, dibenturkan Belanda totok. Pram tampaknya sengaja mengangkat Sanikem secara hiperbolis. Pertama, untuk memasukkan ideologi: Belanda totok versus perempuan Jawa. Kedua, untuk melegitimasi pembalikan kekerasan simbolik dan perlawanannya.

Sebaliknya, Herman Mellema, representasi Eropa, tergusur jadi pecundang. Ia mati di rumah bordil. Hiperbolisme Pram menjerumuskan logika novel jadi sangat ideologis. Penguburan kultur Jawa yang mengekang dan pembalikan status kapital, Tuan-Nyai menjadi pekerja-manajer, menempatkan Nyai dapat mengatur dan menjalankan permainannya dalam berhadapan dengan feodalisme Jawa (ayah) dan kuasa kolonial Belanda (Herman). Pernikahan Annelies-Minke yang menyedot perhatian masyarakat Jawa, Belanda, dan Eropa adalah puncak prestasi Nyai Ontosoroh. Kembali tokoh hiperbolis Ontosoroh hadir mengartikulasikan ideologi Pram.

Sejak awal Pram begitu banyak mengungkapkan terjadinya kekerasan simbolik yang dilakukan Belanda kepada pribumi. Nama Minke, misalnya, mengasosiasikan monyet, disematkan gurunya: Meneer Rooseboom. Minke, pribumi satu-satunya di HBS, berada dalam kepungan kekerasan simbolik (pelecehan dan diskriminasi). Meski begitu, ia tetap tampil sebagai hero, pemenang dalam segala hal, berhasil dalam arena intelektual dan sosio-kultural. Minke yang sempat dipecat dari HBS pada akhirnya terpilih sebagai lulusan terbaik kedua se-Hindia Belanda dan pertama se-Surabaya. Apa artinya itu? Minke berhasil mengalahkan feodalisme Jawa (ayah), Indo (Suurhof dan Robert), dan Belanda-Eropa (teman dan beberapa gurunya di HBS).

Kini mari kita lihat tokoh Herman Mellema dan anaknya, Robert. Dikisahkan, sosok Herman berbeda dengan Belanda totok lain. Bujangan, tidak suka tayub, rajin ke gereja, dan marah ketika ia ditawari perempuan. Ia juga meminta agar kedua anaknya, Annelies dan Robert, dibaptis secara Kristen- Protestan. Tetapi apa yang terjadi? Kembali, hadir kekerasan simbolik. Pendeta menolak pembaptisan Annelies dan Robert hanya lantaran ibunya pribumi. Herman Mellema sendiri ternyata sudah beranak-istri di Belanda. Ia kabur dan menelantarkan Maurits, anaknya. Tokoh inilah yang kelak menggugat harta kekayaan ayahnya, termasuk hak asuh Annelies dan Robert. Pengadilan Belanda memenangkan gugatan Insinyur Maurits. Pram tampak hendak menegaskan bahwa apa pun yang berkaitan dengan Belanda pada dasarnya busuk. Bagi pribumi, kekerasan simbolik itu masuk ke semua aspek kehidupan, termasuk agama.

Hiperbolisme terjadi lagi ketika Pram hendak menjerumuskan Herman Mellema sebagai pecundang. Ketika Insinyur Maurits datang melabrak ayahnya, Nyai balik mengusirnya. Dalam pandangan Nyai kini, budaya Eropa yang diajarkan dan diagungkan Tuannya tak lebih dari penghinaan dan pemerasan. "Begitu macamnya peradaban Eropa yang kau ajarkan padaku berbelas tahun?" (BM, hlm. 146-147). Hanya untuk menghina dan memeras! Sejak itu, Herman macam orang linglung. Ia berada dalam genggaman Nyai. Belakangan, ia jadi penghuni rumah bordil Babah Ah Tjong sampai tewas di sana. Robert juga terperosok masuk rumah bordil itu.

Hiperbolisme positif dilekatkan pada ketokohan Minke dan Nyai, dan gambaran sebaliknya ditimpakan kepada Herman Mellema dan Robert. Bahkan sebelum itu, Robert menunjukkan kebiadabannya dengan memerkosa adiknya sendiri, Annelies.

Begitulah arena perebutan kuasa: pribumi (Nyai-Minke) versus Belanda- Eropa (Herman dan Robert) yang sampai tahap tertentu dimenangkan pribumi. Tetapi, ruang sosial waktu itu berada dalam genggaman kolonial Belanda. Maka, kartu truf arena permainan itu berada pada hukum kolonial. Lewat gugatan Maurits, pribumi berhadapan dengan tembok besi. Mereka kalah. "Kita kalah Ma," bisikku. "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." (BM, 534-5). Sebuah akhir yang dramatis.

Sesungguhnya, koalisi habitus Nyai yang otodidak dan Minke yang HBS telah membangun kesadaran tentang makna perlawanan bersama. Pram tak sekadar merepresentasikan arena perlawanan, tetapi mengartikulasikannya sebagai perjuangan sebuah bangsa. Jadi, hiperbolisme Pram terkait dengan ideologi kebangsaan. Stendhal mengatakan, "Politik(: ideologi) dalam novel, ibarat letusan pistol di tengah konser. Suara keras dan norak itu bisa mengganggu jalannya konser, tetapi bisa juga menjadi bagian dari komposisi konser jika ia lesap dan menyatu dengan irama segala macam bunyi musik itu." Hiperbolisme Pram ibarat letusan pistol itu.

Uraian BM lewat perspektif Bourdieu ini tentu masih sangat dangkal. Tetapi, penting artinya gagasan Bourdieu digunakan sebagai model analisis terhadap khazanah kesusastraan kita yang selama ini dikuasai strukturalisme. Randal Johnson (PierreBourdieu, Arena Produksi Kultural, Terj. Yudi Santosa, Bantul: Kreasi Wacana, 2015, hlm. vii) mengatakan, "Metode analitis Bourdieu menjadi alternatif yang sangat bermanfaat bagi cara-cara analisis imanen—dari Kritisisme Baru dan berbagai cabang formalisme hingga strukturalisme dan dekonstruksi—yan mendominasi studi-studi sastra..." ●

MAMAN S MAHAYANA. Pengajar FIB-Universitas Indonesia. 


Sumber: Kompas, 24 Januari 2016

Jumat, 23 Januari 2026

,

INTELIGENSIA INDONESIA


Oleh: Ignas Kleden

(Kompas, 19 Februari 2016)


Dalam pengertian yang disederhanakan, inteligensia adalah kaum terpelajar dan terdidik yang berperan sebagai ujung tombak perubahan dan pembaruan masyarakatnya.

Di pihak lain, kita mendapati kaum literati yang berperan sebagai benteng pertahanan nilai, norma, dan perilaku budaya. Mereka ini terpanggil merawat dan melestarikan nilai-nilai dan bentuk kebudayaan, khususnya dalam seni dan sastra, menurut pakem-pakem yang berlaku dalam tradisi. Sebaliknya, kaum inteligensia merasa terpanggil untuk menerobos batas-batas tradisi sebagai prasyarat bagi pembentukan masyarakat baru. 


Ketika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berpolemik dengan guru-guru bahasa Melayu yang merasa harus setia kepada paramasastra Melayu, sementara STA membuka kemungkinan baru dalam pemakaian bahasa Indonesia, maka di sana terjadi polemik antara inteligensia dan literati. Sama halnya dalam debat dengan lawan-lawannya dalam Polemik Kebudayaan, dia bertindak sebagai inteligensia yang menganjurkan pembentukan kebudayaan Indonesia baru berdasarkan etos kebudayaan Barat, sambil mendesak agar kebudayaan lama dalam tradisi ditinggalkan saja sebagai kebudayaan pre-Indonesia. Sikap ini jelas memancing reaksi para literati yang melihat pentingnya tradisi dalam kebudayaan Indonesia, baik karena tradisi itu sudah berfungsi selama ratusan tahun maupun karena kebudayaan Barat memperlihatkan berbabagai ekses yang dapat merugikan kebudayaan Indonesia. 


STA hanya salah satu contoh. Kebangkitan gerakan kebangsaan di Hindia Belanda sejak dasawarsa pertama abad ke-20 telah digerakkan para inteligensia. Para Ibu dan Bapak Bangsa, seperti Kartini, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Cokroaminoto, Haji Agus Salim, ataupun Sam Ratulangi adalah kaum inteligensia yang lahir dari pendidikan Barat hasil Politik Etis pemerintah kolonial, yang kemudian mengambil jarak dari tradisi politik kolonial yang intinya menciptakan rust en orde, yaitu ketenangan dan ketertiban di seluruh koloni. Dengan segala cara, kaum inteligensia berusaha membuka mata bangsanya bahwa ideal masyarakat yang tenang dan tertib hanya opium yang membuat orang tak sadar lagi tentang demikian banyak penderitaan, ketidakadilan, pemerasan, dan kehinaan yang diterima begitu saja oleh penduduk pribumi, yang merasa harus ikut bertanggung jawab atas terciptanya ketenangan dan ketertiban. 


Diperlihatkan diskriminasi dan ketidakadilan yang terwujud dalam berbagai sektor. Di bidang sosial diciptakan diskriminasi rasial dalam pembagian kerja antara penduduk Eropa, penduduk Timur Asing, dan penduduk pribumi, sementara orang banyak dibius dalam diskriminasi ini melalui penamaan ilmiah yang keren, seperti ethnically stratified division of labor atau pembagian kerja berdasarkan stratifikasi etnik. Dalam ekonomi diperkenalkan dualisme ekonomi, dengan penjelasan bahwa ekonomi kolonial yang berorientasi ekspor harus dipisahkan dari ekonomi penduduk yang subsisten, yang menjamin ketenangan penduduk di pedesaan, karena ekonomi pasar tidak boleh mengganggu kerukunan hidup pnduduk. 


Dalam bidang bahasa diciptakan diskriminasi linguistik. Pribumi, khususnya anak-anak bangsawan lokal diberi kesempatan belajar bahasa Belanda, tetapi dalam pergaulan sehari-hari penduduk setempat dilarang bicara Belanda dengan tuan-tuan Belanda, dan hanya boleh mempergunakan bahasa Melayu, seakan bahasa Belanda terlalu mulia dipergunakan oleh para inlander. Dalam bidang politik dilancarkan secara gencar politk pecah-belah atau divide et impera melalaui konflik dan persaingan yang direkayasa dan didorong antara para raja di berbagai kerajaan Nusantara, dan antara para bangsawan dan rakyat jelata. Pendidikan dibatasi hanya untuk anak-anak bangsawan atau para pejabat pribumi yang bergaji cukup, sementara patriarki dalam tradisi kebudayaan lokal diperkuat dengan membatasi pendidikan kaum perempuan. 


Kesadaran kebangsaan 

Kesimpulan para inteligensia: semua ketidakadilan, diskriminasi, penderitaan, dan kehinaan itu telah lahir dari satu kenyataan yag sama, yaitu hilangnya hak-hak suatu bangsa untuk menentukan dan mengatur dirinya sendiri, dan menggantungkan nasibnya pada kekuasaan bangsa lain. Perlahan lahir kesadaran kebangsaan. Ahli politik Ben Anderson menjadi masyhur di antara ahli ilmu sosial di seluruh dunia dengan definisinya tentang bangsa sebagai komunitas politik yang hanya terbayangkan karena sebagian besar anggotanya tak pernah bertemu dan tak saling mengenal, tetapi sama-sama merasa anggota suatu komunitas politik yang sama. Namun, jauh sebelumnya, Soekarno bertolak dari paham lain dan berpegang pada definisi Otto Bauer: eine Nation ist eine aus Schicksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinshaft.


Soekarno menegaskan, bangsa lahir dari persatuan yang membawa persatuan perangai. Betapa pun menariknya argumen akademis dan teoritis yang diajukan Ben Anderson, suatu bangsa yang sedang bergolak tak dapat dikobarkan semangatnya jika kepada mereka dimaklumkan bangsa adalah an imagined politcal community. Dalam pengertian Soekarno, suatu bangsa tak lahir dari bayangan tentang suatu komunitas politik, tetapi dari pengalaman tentang penderitaan yang sama, nasib sama, yang akhirnya menghasilkan perangai sama disertai tekad sama.


Lahir kemudian berbagai inisiatif untuk pembebasan sekaligus dibangun kesadaran nasionalis tentang hak suatu bangsa untuk mengatur dirinya sendiri, dan dengan cara itu menciotakan martabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia sebagai bangsa dan negara merdeka. Hatta dan Sjahrir memberikan kursus-kursus untuk mendidik kader agar menguasai kepandaian teknis dan administratif sehingga para kader ini kelak sanggup mengambil alih administrasi pemerintahaan dari tangan administrator kolonial. Soekarno, lewat pidato-piato yang gempar, menekankan perlunya persatuan semua golongan sebagai sarana melumpuhkan tipu muslihat adu domba yang memcah-belah, dan sekaligus mengerahkan massa rakyat untuk bersatu padu dalam machtsvorming (pembentukan kekuatan politik). 


Kartini, lewat surat-suratnya, membuka pintu emansipasi bagi kaum perempuan dan mendorong pendidikan politik untuk mereka. Tan Malaka mendirikan sekolah untuk anak-anak buruh perkebunan dan mengajarkan bahwa tenaga kerja adalah faktor produksi yang sama penting dengan modal tuan-tuan besar pemilik perkebunan sehingga mereka harus berani dan sanggup membela tenaga kerja mereka berdasar asas keadilan menurut hukum berlaku. Cokroaminoto dan Agus Salim mendidik umat bahwa Islam memuliakan persamaan dan keadilan dan dapat jadi tempat perlindungan bagi mereka yang terdiskriminasi dan tertindas, sementara agama adalah ruang suci yang tak bisa diterobos oleh kekuatan asing. 


Tentu saja tak dapat dikatakan, kaum inteligensia Indonesia 1930-1940-an adalah satu-satunya pihak yang membawa Indonesia kepada kemerdekaan. Ada begitu banyak golongan yang terlibat dalam perjuangan itu: para pemuda revolusioner, pemimpin agama, para saudagar, khususnya saudagar Islam yang terorganisasi dalam Serikat Dagang Islam, para pejuang gerilya, serta para buruh dan tani. Namun, kaum inteligensia telah memberikan inspirasi pertama tentang kebangsaan dan kemerdekaan, dan memimpin perjuangan sepanjang jalan. Merekalah yang membuka mata rakyatnya terhadap perlunya kemerdekaan politik, kemerdekaan budaya, kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan linguistis, serta kemerdekaan dalam pertahanan dan keamanan. Jenderal Sudirman adalah seorang guru, seorang inteligensia, yang kemudian bersinar sebagai idola bagi perjuangan bersenjata. 


Apa dan siap kaum inteligensia

Tak semua intelektual dan akademisi berperan sebagai inteligensia. Kelompok Mandarin dalam kekaisaran Tiongkok adalah intelektual yang terdidik dan terpelajar secara literer dan humanistis. Mereka punya pengetahuan mendalam tentang sastra dan kebudayaan, tetapi pengetahuan ini menjadi prasyarat agar mereka diterima dalam salah satu dari sembilan tingkat kepegawaian dalam birokrasi Tiongkok klasik. Mereka berperan sebagai literati, tetapi bukan inteligensia. 


Dalam sejarah intelektual di Barat, di bawah pengaruh zaman Romantik, dengan Rousseau di Perancis sebagai eksponen utama, muncul kelompok yang bukan saja melepaskan diri dari rasionalisme masa Pencerahan, tetapi juga dari basis sosial borjuasi baru, dan menjadi apa yang oleh sosiolog Karl Mannheim dinamakan sozial freischwebende Intellektuelle yang diterjemahkannya sendiri ke bahasa Inggis sebagai socially unattached intellectuals atau yang boleh kita namakan free-floating intellectuals. Mereka bukanlah intelektual organik dalam pengertian Gramsci, yaitu mereka yang merumuskan aspirasi kelasnya dan menjadi juru bicara kelas. 


Inteligensia yang hidup di masa Romantik hidup dengan pandangan yang romantis dalam kondisi ekonomis labil. Secara intelektual, mereka tak utamakan pengetahuan sistematis yang tersusun rapi tentang keadaan masyarakatnya, tetapi mengimpikan dan mendorong orang ke suatu susunan masyarakat lain yang baru. Untuk mereka, sikap romantis suatu kekuatan. Mannheim mengutip Novalis penyair Jerman yang hidup akhir abad ke-18 dan mewujudkan semangat romantik dalam sajak-sajaknya. Kata Novalis, “Bersikap dan berlaku romantis tak lain dari meningkatkan potensi seseorang secara kualitatif. Diri yang rendah diidentifikasikan sebagai diri yang lebih baik dalam sikap ini.... Karena tatkala melihat nilai yang tinggi dalam sesuatu yang banal, memberi wibawa yang penuh rahasia kepada pada yang remeh temeh, menemukan martabat dari sesuatu yang tak dikenal dalam apa yang dikenal, dan memandang yang fana seolah-olah suatu yang abadi, maka saya bertindak romantis.” 


Intelektual yang berperan sebagai inteligensia tak menjadi tawanan masa sekarang, tetapi jadi perintis masa depan. Mengutip filosof Ernst Bloch, mereka bukanlah orang yang menikmati dan mempertahankan apa yang ada, tetapi mengambil risiko mewujudkan yang belum ada. Ini bukan ideal khayali. Soekarno tak membangun kantor konraktor bangunan, tetapi menceburkan diri dalam usaha pembangunan lain yang bernama nation building. Agus Salim sebagai polyglot yang mendekati genius, tak mendirikan sekolah bahasa asing atau jadi juru bahasa tingkat tinggi, tetapi bergiat sebagai pejuang yang mencerdaskan rakyat melalui berbagai tulisan. Hatta tak menyewakan tenaganya sebagai konsultan ekonomi atau bankir, tetapi memberi pendidikan untuk koperasi bagi rakyat, dan bersama Sjahrir mendidik para kader politik. Sam Ratulangi tak melamar jadi guru besar matematika, tetapi memimpin perjuangan politik di daerah. 


Semua ini dikatakan tak untuk menafikan pentingnya profesionalisme, kepandaian teknis, atau keahlian para spesials bagi kemajuan bangsa. Namun, perlu diingat kembali, Indonesia tak akan bangkit berdiri sebagai bangsa dan negara kalau kaum yang paling terpelajar dan terdidik pada suatu masa yang genting tak mengutamakan kemajuan diri mereka dan dan mantapnya basis ekonomi dan sosial yang dimungkinkan untuk mereka berkat keahlian yang dikuasai, tetapi memilih menjadi jadi freischwebende Intellektuelle seperti kata sosiolog Mannheim, dan mencoba jadi inteligensia yang berenang dan mengambang di antara beberapa kemungkinan yang sempit, memperkenalkan ide baru tentang kebangsaan dan kemerdekaan, yang untuk bangsanya sendiri pada saat itu, barangkali merupakan gagasan asing yang dianggap hanya menggantang asap. 


Dalam lintasan sejarah modern Indonesia, para inteligensia pada awal abd ke-20 adalah mereka yang terlibat dalam perjuangan politik dengan menjadi penggagas nasionalisme dan kemungkinan untuk merdeka. Pada tahun-tahun pertama setelah kemerdekaan, mereka merelakan diri menjadi statesmen, yaitu negarawan yang memimpin bangsa dan negaranya, hidup dalam keadaan ekonomi serba compang-camping bersama rakyatnya dan membangun kepercayaan diri bangsanya untuk tegak berdiri. Pada zaman Demokrasi Terpimpin dan sesudahnya, mereka jadi kelompok yang berjuang dalam partai-partai politik yang yakin bahwa ideologi masing-masing adalah jalan terbaik membawa Indonesia menuju kemajuan. 


Pada zaman Orde Baru, kaum terpelajar amat dibutuhkan oleh administrasi pemerintahan Soeharto dan diserap dalam administrasi pemerintahan Orde Baru. Ideologi dianggap momok yang menghalangi pembangunan ekonomi. Pembangunan diterjemahkan jadi teknokrasi, ibarat mesin yang tiap bagiannya harus dijalankan oleh masing-masing insinyur berijazah khusus. Pada masa reformasi, kaum terpelajar memilih di antara tiga kemungkinan tersedia, jadi bagian dari administrasi pemerintahan, bergabung dengan kekuatan politik dalam parpol, atau mencari basis sosial dalam dunia industri dan bisnis sebagai tenaga ahli atau konsultan yang dibayar mahal. Inteligensia adalah bagian sejarah lahirnya suatu bangsa dan negara merdeka. Peran ini tak boleh hilang karena orang enggan hidup dengan mengambil risiko labilnya basis sosial-ekonomi yang jadi zona nyaman untuk hidupnya sendiri. Peran ini layak dipertahankan agar kita tak mengulang teriakan dan ratapan bangsa Jerman setelah kalah Perang Dunia II dengan menyanyikan elegi baru bagi negeri ini, noch ist Indonesien nicht verloren, Indonesia belum kalah dan belum hilang lenyap. 


IGNAS KLEDEN, Sosiolog


Sumber: Kompas, 19 Februari 2016

TERBARU

MAKALAH