alt/text gambar

Kamis, 03 September 2026

PENDIDIKAN TINGGI, KAPAN MEMIHAK YANG MISKIN?

Kompas, 3 September 2001

Pemihakan kepada yang Miskin Mengarah pada Penerimaan Pluralitas


Oleh: Haryatmoko


BIAYA masuk ke jurusan favorit di suatu perguruan tinggi minimal Rp 8.000.000 (delapan juta rupiah). Menyadari tingginya biaya itu, seorang rekan dosen menjadi ragu apakah ia bisa menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Kalau seorang dosen saja mengeluh, apalagi mereka yang berpenghasilan lebih rendah. Apakah pendidikan tinggi peduli kepada yang miskin? Biaya tinggi itu apakah akan menghasilkan orang-orang yang peduli kepada yang miskin? Bukankah pertama-tama investasi itu harus kembali?


Salah satu tujuan pendidikan tinggi adalah untuk mempunyai kepedulian kepada yang miskin. Memihak orang miskin berarti mau memusatkan diri pada masalah utama di Indonesia: sebagian besar masyarakatnya adalah miskin. Maka pemihakan ini bukan bentuk ketidakadilan. Memang salah satu prinsip keadilan adalah semua mempunyai hak sama. Tetapi filsuf politik seperti John Rawls dalam Theory of Justice memberi catatan. Salah satu catatannya ialah, ketidaksamaan sosial-ekonomi bisa dibenarkan asal dimanfaatkan untuk kepentingan mereka yang paling tidak beruntung. Prinsip ini bisa menjadi dasar pemihakan kepada yang miskin, karena yang miskin secara struktural sudah dalam posisi lemah.


Kekuatan sosial yang peduli orang miskin 


Tuntutan pemihakan kepada yang miskin sebagai orientasi pendidikan tinggi dimaksudkan, menurut Jon Sobrino (teolog El Salvador), agar pendidikan tinggi menjadi kekuatan sosial bagi kepedulian dan perbaikan kehidupan orang miskin. Orientasi ini berarti; Pertama, dunia orang miskin masuk dunia universitas; kenyataan sosial dan kepentingan sah orang miskin diperjuangkan; masalah-masalah orang miskin dijadikan bahan analisa dan dicarikan pemecahannya.


Kedua, universitas menjadi tempat orang miskin dan para pemimpin mereka menyuarakan keprihatinan dan kebutuhan mereka. Ketiga, alokasi sumber daya manusia, material, dan keuangan memperhitungkan tanggung jawab universitas menghadapi kemiskinan masyarakat. Keempat, pendidikan tinggi sebagai kekuatan intelektual ditempatkan menjadi sumber ekonomi di antara kekuatan-kekuatan ekonomi, sosial dan politik yang lain.


Pemihakan kepada yang miskin menjadi batu uji intelektualitas pendidikan tinggi. Pemihakan itu memungkinkan untuk memandang realitas tidak hanya dari perspektif kemanusiaan yang sudah menemukan martabatnya. Suara dari lapisan bawah, sejarah orang kalah, perspektif yang tidak dimanusiakan ikut menentukan.


Perspektif ini amat diwarnai oleh penindasan, ketidakadilan, protes, dan penderitaan. Ini menuntut agar pengetahuan yang dikembangkan bersifat membebaskan, tidak sekadar, deskriptif atau normatif. Pemihakan kepada orang miskin ini ingin mengingatkan bila pendidikan tinggi tidak memperhitungkan orang miskin akan cenderung menjadi steril dan terasing.


Pemihakan kepada orang miskin ini sekaligus menjadi tempat pijakan bersama bagi penerimaan pluralitas. Keadilan sosial merupakan pengikat paling kuat integrasi nasional. Pemihakan kepada orang miskin tidak bisa membeda-bedakan dari kelompok mana orang miskin itu berasal. Semangat ini menyatukan kaum intelektual dari kelompok mana pun untuk memerangi sebab-sebab kemiskinan itu. Pencarian kebenaran melalui pengkajian pengetahuan harus didukung suasana kebebasan akademik, juga hanya mungkin bila keragaman dihargai. Dengan demikian pemihakan ini menyatukan bidang-bidang akademik dan pendirian-pendirian keagamaan yang bermacam-macam.


Tantangan sosial, ekonomi, dan keadilan


Ada empat tujuan yang menjadi idealisme pendidikan tinggi. Pertama, tujuan menekankan kemampuan untuk memperebutkan kesempatan kerja. Pendidikan akan difokuskan pada memperoleh keterampilan dan pengetahuan khusus supaya unggul dalam bidangnya. Tolok ukur keberhasilannya adalah menemukan lapangan kerja dengan pendapatan yang sesuai pendidikannya. Memperoleh keterampilan dan pengetahuan ini biasanya menjadi tujuan paling dominan pendidikan tinggi.


Kedua, tujuan menekankan orientasi humanistik. Pendidikan membantu mengembangkan kemampuan penalaran agar bisa mempertanggungjawabkan pernyataan, keyakinan, dan tindakannya. Pendidikan mau meningkatkan kemampuan mengorganisir pengalaman dalam konsep-konsep yang sistematis. Jadi, penekanannya pada proses pembentukan disposisi dasariah pembelajar, kemampuan intelektual serta emosional dalam hubungan dengan sesama dan alam.


Tolok ukur keberhasilan tujuan ini, pertama, minat membaca dan kemampuan untuk mengerti apa yang dibaca. Kemampuan ini akan kelihatan dari keterampilan untuk mengungkapkan diri secara lisan dan tertulis dengan teratur dan logis. Kedua, kesanggupan menangkap pikiran orang lain dengan tepat dan menanggapinya secara terbuka dan kritis. Ketiga, kebiasaan mempelajari secara sistematis apa yang dilakukan dan mulai mengadakan studi terbatas sebagai pendasaran pembentukan pendapat sendiri. 


Tujuan ketiga adalah kemajuan ilmu-ilmu itu sendiri. Tolok ukur keberhasilan penelitian- penelitian yang dilakukan yaitu menemukan teori-teori baru. Pendidikan tinggi ditantang menjawab masalah etika, menghadapi dan mencegah penyalah gunaan ilmu dan teknologi.


Tujuan keempat, menjawab tantangan sosial, ekonomi dan keadilan. Pendidikan tinggi berfungsi sebagai dewan penjajak yang mencoba mengenali dan menjelaskan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan berusaha menghasilkan jawaban-jawaban yang mendasarkan pada etika. Dengan demikian, pembelajar berkembang menjadi warga negara yang memiliki keterampilan dalam mengolah proses-proses sosial, memiliki komitmen pada nilai-nilai demokrasi. Perolehan pengetahuan dan keterampilan bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan bukan hanya demi ilmu itu sendiri, tetapi untuk pelayanan dan perkembangan kesejahteraan masyarakat.


Tolok ukur keberhasilannya ialah tumbuhnya dalam diri pembelajar, minat memahami secara kritis perubahan-perubahan yang sedang berlangsung dalam masyarakat. Pendidikan tinggi tidak mengakibatkan mahasiswa mengasingkan diri dari cara hidup orang-orang senegara yang berpendapatan lebih rendah. Peduli terhadap ketidakadilan, peka terhadap penderitaan dan kebutuhan masyarakat. Dan secara konkret ada perbaikan nasib masyarakat yang miskin. Pemihakan kepada orang miskin lebih menekankan tujuan pendidikan yang keempat ini, tanpa mengabaikan tiga tujuan lain.


Ilmu sebagai kegiatan sosial 


Pemihakan kepada orang miskin mempengaruhi cara memandang ilmu, metode, dan hubungan dosen-mahasiswa. Bertitik tolak dari pemikiran D Edge, seperti dikutip Sastrapratedja (Sastrapratedja, 2001), salah satu model pendidikan ilmu adalah ilmu sebagai kegiatan sosial. Dalam pemahaman ini, pendidikan ilmu bertujuan memperoleh pengetahuan demi pembebasan kolektif dan perkembangan pribadi. Metodenya lebih pada problem-solving karena merespons kebutuhan masyarakat. Sedangkan hubungan dosen-mahasiswa dalam ilmu sebagai kegiatan sosial tidak lagi hierarkis (transmisi dari dosen-mahasiswa), tetapi hubungannya diterjemahkan dalam penelitian kolaboratif mengenal hal-hal yang telah disepakati bersama.


Pendekatan itu memungkinkan mahasiswa atas persetujuan dosen tidak mengikuti mata kuliah tertentu. Sebagai gantinya ia terlibat langsung dalam proses pemilu di suatu daerah. Atau mahasiswa dibebaskan dari mata kuliah tertentu karena ikut serta mendampingi memperjuangkan hak-hak buruh. Harus selalu ada pertanggungjawaban akademis di hadapan dosen. Pendekatan ini tidak hanya kuliah mimbar dan studi mandiri, melainkan orthopraxis yang mengedepankan tindakan dan perubahan.


Orientasi orthopraxis ini menjadi jembatan dunia universitas dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tinggi menemukan peran kritisnya: mengembangkan pemikiran agar pembelajar mengangkat permasalahan tentang posisi, sejarah dan tatanan sosial demi pembebasan, keadilan, HAM dan persamaan. Kritis mengandaikan suatu idealisme: mampu memberi alternatif terhadap pemikiran yang mandek atau tatanan yang ada. Tuntutan komitmen moral bagi kaum intelektual menjadi relevan. Julien Benda pernah mengatakan tugas intelektual ialah tetap setia kepada suatu cita-cita yang perlu dipertahankan (keadilan, kebenaran, dan rasio) demi moralitas umat manusia.

Para penyelenggara pendidikan tinggi, yang memahami betapa besar biayanya, tentu meragukan idealisme semacam itu. Pertanyaannya: Apakah pendidikan tinggi juga harus tunduk kepada hukum pasar? Pemihakan kepada yang miskin mengandaikan adanya political-will dari penyelenggara pendidikan tinggi. Jangan biarkan pendidikan tinggi sepenuhnya diatur oleh hukum pasar!


● Haryatmoko, Pengajar pada Program Pascasarjana Filsafat UI, Jakarta, dan Universtras Sanata Dharma, Yogyakarta


Sumber: Kompas, 3 September 2001


Rabu, 02 September 2026

, , ,

Heidegger dan Posmodernisme


Perkembangan filsafat dewasa ini diwarnai dengan mode filsafat yang dikenal dengan sebutan posmodernisme. Sebagai mode filsafat, posmodernisme memang sering dianggap genit. Para filosof “konservatif” menganggap para posmodernis tak lebih dari sekadar selebritis intelektual. Kerja mereka sekadar mengadopsi konsep-konsep dari pelbagai disiplin untuk memoles dan menambah “gaya” filsafatnya. Posmodernisme bagi sebagian orang adalah rajutan konseptual yang kesannya canggih namun kosong secara argumentatif. Ini membuat pentingnya sebuah penelusuran akar-akar filosofis posmodernisme. Akar-akar filosofis yang apabila dirunut akan sampai pada sebuah nama yang menggetarkan dunia perfilsafatan: Martin Heidegger. 

Kontribusi pemikiran Heidepger pada laju perkembangan filsafat Barat kontemporer sungguh besar. Jacques Derrida, salah satu empu posmodernisme, sampai meragukan dirinya mampu menciptakan apa pun tanpa bayang-bayang Heidepger. Pertanyaan lainnya adalah seputar filsafat politik Heidegger. Namun, apakah Heidegger memiliki filsafat politik. Banyak yang meragukannya. Heidegger tidak bicara soal politik melainkan sesuatu yang metafisis: “Ada”. Filsafatnya lebih fenomenologis ketimbang politis. Selepas rezim Nazi, Heidegger mengasingkan diri dan lebih banyak berbincang tentang teknologi, seni, dan bahasa. Meski demikian, banyak tafsir politik terhadap konsep-konsep dalam pemikiran Heidegeer. Baik tafsiran yang bernada positif ataupun negatif. Heidegger memang tidak merumuskan sebuah filsafat politik. Kita, para komentatornya, merupakan filosof-filosof politik sesungguhnya. 

Posmodernisme 

Filsafat modern adalah momen pencapaian filosofis yang patut diakui, sungguh mengagumkan. Rumusan-rumusan filosofis baru tentang manusia, pengetahuan dan sejarah berlontaran. Manusia bukan lagi bagian dari semesta raya. Ia unik. Keunikan yang bukan disebabkan oleh statusnya sebagai ciptaan tertinggi Tuhan. Melainkan posisinya sebagai satu-satunya makhluk yang sadar diri dan berpikir. 

Nalar adalah dasar kepastian pengetahuan manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa diterima nalar mesti ditinggalkan. Artinya, segala legitimasi epistemologis yang mendasarkan pada tradisi gugur. Nalar tidak menerima pendasaran pada tradisi. Sesuatu harus disimpulkan entah dari fakta-fakta empiris atau premis universal. Filsafat harus bertolak dari titik nol. Manusia rasional adalah manusia a-sejarah yang lewat akalnya mampu menepis debu-debu sejarah demi pengetahuan yang terang dan bening. 

Meski mengibas sejarah, filsafat modern tetap mempersoalkan sejarah secara filosofis. Sejarah bukan lagi didasarkan pada kitab suci. Bukan lagi cetak biru yang Ilahi. Ia memiliki hukum geraknya sendiri, Hegel menyebutnya dialektika. Tumbukan dua gagasan berlawanan yang melahirkan rangkuman yang lebih baik dan mengatasi dualisme. Marx kemudian membumikannya dengan memberinya sentuhan materialistik. Adalah kekuatan produksi dan bukan gagasan yang menggerakan sejarah. Gerak gagasan dalam sejarah adalah cermin laju kekuatan-kekuatan produksi manusia. Di samping perbedaan yang ada, Hegel dan Marx adalah tonggak-tonggak teoretisasi modern tentang sejarah. Keduanya percaya bahwa sejarah digerakkan oleh kekuatan di dalam sejarah itu sendiri. Hegel menyebutnya ide, sedang Marx, materi (kekuatan produksi). 

Heidegger sangat kritis pada semua gagasan dasar filsafat Modern. Sasaran pertamanya adalah rumusan filsafat modern tentang manusia. Manusia bukanlah segumpal substansi berpikir yang sadar diri. Makhluk a-lingkungan yang kerjanya memikirkan dan merumuskan hal-ihwal. Manusia adalah dasein, ia “ada-dalam-dunia”. Sudah nasibnya terlempar ke dunia dan berlumuran sejarah. 

Manusia selalu menemukan dirinya terkurung dalam tradisi yang membatasi kemungkinan-kemungkinannya. Posisi trans-sejarah adalah sesuatu yang mustahil. Keterperangkapan manusia dalam sejarah membuatnya tak mungkin menyentuh kepastian pengetahuan. Pengetahuan manusia berlumuran sejarah. Ia bersifar pra-pemahaman. Sebelum kita memahami apa itu martil secara teoretis, kita sudah terwarisi pengetahuan tentangnya sebagai benda untuk menancapkan paku. Bukan untuk menggosok gigi atau menyisir rambut. 

Klaim manusia sebagai sosok sadar diri pun goyah. Sebagian besar waktu manusia dihabiskan dengan bergaul secara praktis dengan benda-benda. Dan ini merupakan ketertenggelaman manusia dalam dunia eksistensial tempatnya bersibuk. Kesiapaan manusia sangat bergantung pada ketersingkapan benda-benda. Kita tak bisa merumuskan manusia di atas awan.

Hubungan manusia dengan kenyataan tidak semata-mata hubungan intelektual. Subjek memahami objek. Hubungan primordial manusia dan kenyataan adalah hubungan praktis. Dan dalam keterhubungan ini “ada” sang manusia tersingkap bersama benda-benda. Mengisolasikan manusia dari kenyataan adalah suatu yang mustahil. Representasionalisme menjadi dipertanyakan. Subjek tidak menangkap objek untuk, dipresentasikan ulang secara akurat dan jernih. Subjek selalu sudah terlibat dengan benda-benda. Dilingkari oleh seperangkat pra-pemahaman tentang benda-benda. 

Kenyataan bukanlah sesuatu yang terlentang untuk dipahami. Kenyataan tidaklah sepasrah yang dikira para filosof. Kenyataan justru menyingkapkan diri pada dasein. Kenyataan tidak sekedar berada, ia menjelma. Sejarah, karenanya, tidak selogis yang dikira Hegel atau Marx. Ia sarat patahan dan kejutan. Kita tidak pernah tahu kapan sebentuk kenyataan baru menjelma. Kita hanya bisa menunggu dengan penuh perhatian. Filsafat sejarah Heidegger membongkar asurnnsi-asumsi sejarah filsafat modern. 

Kritik-kritik Heidegger ini mengantisipasi apa yang menjadi karakter pokok posmodernisme: pudarnya kepercayaan pada metanarasi (narasi besar). Narasi-narasi raksasa yang lupa diri. Narasi yang lupa akan status naratifnya lalu mengklaim kepastian dan universalisme. 

Lyotard, salah satu suhu posmo, menunjuk hidung beberapa narasi raksasa yang berseliweran dalam epos modern. Mereka adalah dialektika, epistemologi objektivis, dan hermeneutika. 

Dialektika mengklaim sebuah sejarah yang universal. Sejarah dengan hukum-hukum yang sama di semua lokal. Epistemologi menggariskan asumsi-asurmnsi ontologis, metodologis, dan aksiologis yang harus diterima sebagai satu-satunya syarat kepastian pengetahuan. Sedangkan hermeneutika mengaku mampu menggapai maksud sang pengarang. Artinya, semua aktivitas hermeneutis harus setia pada teks dan mendapatkan makna yang sama. 

Metanarasi bekerja dengan dua modus operandi. Modus pertama adalah spekulasi. Narasi yang bermoduskan spekulasi menggariskan bahwa pengetahuan mesti dihasilkan demi pengetahuan itu sendiri. Nilai, kepentingan dan ideologi adalah debu-debu epistemik yang harus dibersihkan. Modus kedua adalah emansipasi. Narasi yang bermoduskan emansipasi menuntut bahwa pengetahuan haruslah membebaskan manusia dari belenggu irasionalitas. Dari masyarakat yang dikelabui mekanisme pasar ke masyarakat yang sadar dan egaliter.

Sains, misalnya, melegitimasi dirinya dengan merujuk pada narasi spekulatif. Narasi yang mengatakan bahwa pengetahuan hanya absah apabila dihasilkan demi pengetahuan itu sendiri. Di luar itu adalah sejenis voodoo yang tidak ilmiah. Semata-mata pengetahuan pra-sains yang berada pada tingkat paling rendah. Berkat metanarasi, sains menjadi kebenaran tunggal di antara pelbagai pengetahuan yang mungkin. Pengetahuan objektif adalah sebuah fiksi bagi Heidegger. Bagaimana mencapai objektivitas apabila subjek selalu berlumuran sejarah. Universalisme juga tak bisa dipertahankan. Manusia terlempar ke dunianya

masing-masing dengan lingkar tafsirnya sendiri-sendiri tentang kenyataan. Mengajukan satu patokan universal terhadap pengetahuan manusia adalah sebuah kesalahan. 

Lyotard melanjutkan kritik Heidegger dengan menunjuk masyarakat pasca-industri. Dalam masyarakat seperti itu sains bergabung dengan industri. Sains bukan lagi dilakukan demi-sains itu sendiri. Sains menghamba pada orientasi keuntungan industri-industri raksasa. Sebuah gejala teknosains. Penelitian berjam-jam di laboratorium bukan lagi demi pengetahuan sendiri. Orientasi kapitalistik telah menembus dinding-dinding laboratorium. Ideologi yang tadinya disingkirkan sekarang kembali menyusup dengan halus.

Kritik-kritik posmodern menuntut agar narasi-narasi universal memberi jalan pada lokalitas. Setiap klaim memiliki ruang kompetensinya sendiri. Heidegger menyebutnya faktisitas. Batasan normatif tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin pada ruang-waktu tertentu. Heidegger sendiri saya bayangkan akan berkata: “Dunia sains hanya satu dunia di antara pelbagai dunia dengan faktisitasnya masing-masing”. 

Kontribusi pokok pemikiran Heidegger bagi posmodernisme adalah langkah awalnya membongkar tradisi filsafat Barat yang pada dasarnya berpuncak pada filsafat modern. Universalisme, representasionalisme, dualisme, dan dialektika adalah pilar-pilar filsafat modern yang dirobohkan Heidegger. Robohnya pilar-pilar itu membuka pintu bagi sebuah perayaan. Perayaan posmoik yang mengelu-elukan pluralisme. Pengetahuan, moral, sejarah, politik tidak lagi tunggal. Lokalitas mendapatkan penghargaan tersendiri. Kalaupun ingin mendapat patokan universal, jalan yang dilalui harus 'melalui konsensus. Pengetahuan bukan lagi soal pendasaran melainkan percakapan. 

Sanggahan keras Heidegger terhadap filsafat Barat merupakan akar semangat penyudahan segala upaya pendasaran kepastian pengetahuan. Richard Rorty, filosof neopragmatisme, mengatakan bahwa berakhirnya filsafat Barat oleh Heidegger membuat satu-satunya yang bisa dipastikan adalah kehendak. Tesis ini Rorty simpulkan dari konsep Heidepger tentang gambaran-dunia (world-frame). 

Gambaran-dunia adalah kecenderungan manusia untuk memandang dunia bak sebuah gambar. Dunia yang dibatasi dan ditata sedemikian rupa sekehendak kita. Dunia bukan suatu yang direpresentasikan melainkan diciptakan. 

Dunia yang plural karena disusupi kehendak tidak lantas mengasingkan satu sama lain. Heidegger sendiri dalam perbincangan soal seni mengatakan bahwa seni bukan pengalaman privat melainkan komunal. Komunalitas-solidaritas berpangku pada intersubjektivitas. Manusia bukan subjek kesepian berhadapan dengan dunia. Dunia manusia adalah dunia kebersamaan. “Ada” dasein selalulah “ada-bersama yang lain”.

Rorty melanjutkan perbincangan Heidegger tentang solidaritas. Solidaritas bagi Rorty adalah jalan keluar dari jebakan relativisme. Solidaritas berhadap-hadapan dengan objektivitas. Objektivitas menuntut pengambilan jarak dari dunia sehari-hari untuk menemukan kebenaran hakiki. Dedengkotnya adalah Plato. Plato menuntut seorang untuk keluar dari komunalitas guna menemukan sendiri cahaya kebenaran. Solidaritas, sebaliknya, menolak kebenaran yang didapatkan lewat pembebasan diri dari kebersamaan dalam masyarakat. Kebenaran diupayakan lewat kesepakatan intersubjektif antar-pelbagai gagasan yang berkembang dalam masyarakat. 

Posmodernisme sebagai corak berfilsafat kontemporer terbukti lebih dari sekadar kegenitan. Dasar filosofis yang mendasari perkembangannya sangar kuat. Kalau kita teliti dasar kritik posmodern, ia bukan saja kritis terhadap filsafat modern melainkan seluruh tradisi filsafat Barat. Memang, terkadang orang lupa bahwa filsafat bukanlah sekadar tesis atau gagasan. Melainkan argumentasi-argumentasi yang mendasarinya. Dan Heidegger memberi argumentasi kuat bagi filsafat posmodern. 

Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 88-97


Selasa, 01 September 2026

, ,

Heidegger dan Seni


Puncak keterlepasan Heidegger dari belenggu filsafat Barat adalah saat ia banyak berbincang soal seni. Seni yang oleh Plato dipinggirkan, dianggap tak lebih dari tiruan atas tiruan, direhabilitasi Heidegger. Bagi Heidegger, peminggiran seni oleh kebenaran adalah produk sejarah. Heidegger menunjuk modus berfilsafat para filsuf pra-Sokrates. Mereka berfilsafat dalam bahasa-bahasa puitis. Dalam traktat mereka seni dan kebenaran merajut dan menjalin. 

Seni, bagi Heidegger, bukan sekadar seputar keindahan dan kenikmatan inderawi. Bukan pula benda yang disuntikan nilai-nilai estetik. Seni lebih sublim dari keduanya. Seni menyodorkan kita sebuah kebenaran tentang “Ada”. Kebenaran yang tidak bersifat teoretis maupun praktis. Sebuah kebenaran tentang konflik antara alam (earth) dan dunia (world). 

Konsep Heidegger tentang dunia dan alam sungguh sentral dalam bangunan pemikirannya tentang seni. Dunia ala Heidegger bisa ditafsirkan sebagai budaya. Sistem makna yang memungkinkan orang memahami dirinya dan lingkungan. Sedangkan alam adalah kenyataan pra-budaya. Kenyataan asali yang darinya kita membangun budaya. Sesuatu yang misterius dan cenderung menyembunyikan diri.

Konsepsi Heidegger tentang alam adalah sesuatu yang baru. Dalam Being and Time, alam dipahami entah sebagai objek siap pakai atau objek deskripsi. Keduanya tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi kemisteriusan dan resistensi.. Alam terserap habis dalam budaya: baik secara praktis ataupun teoretis. Dunia melahap habis sang alam. Sedangkan, bagi Heidegger lanjut, alam adalah sesuatu yang mendahului segala bentuk manipulasi, teoretisasi ataupun interpretasi manusia. Sebelum kita memakai atau menteoretisasi alam, alam sudah berdiri dalam keasingannya.

Mari kita tengok sebuah karya seni besar hasil karya maestro lukis asal Belanda, Vincent Van Gogh. Karyanya tersebut melukiskan sepasang sepatu lusuh dan bertanah milik seorang buruh miskin. Sepatu dalam lukisan tersebut memperoleh pemaknaan baru berbeda dari pemaknaan sehari-hari. Bukan sepatu yang biasa kita pakai sebagai alas kaki. Melindungi kaki dari kerikil, paku atau pecahan kaca. Semata-mata alat untuk berjalan kaki. Sepatu dalam lukisan Van Gogh membuka sebuah dunia. Dunia eksistensial sang buruh miskin. Keringat, debu, kerja, alat-alat, keterasingan, dan asap pabrik. Sebuah dunia yang lenyap dari pandangan praktis. Penyingkapan dunia yang tidak lantas melenyapkan sang alam. Alam adalah tanah dan debu yang melekat pada sang sepatu. Sebagai sesuatu yang resisten terhadap penyingkapan sang sepatu. Kemisteriusan yang melatari kemunculan dunia eksistensial sang buruh.

Van Gogh tidak menemukan sepatu di jalanan. Membuat konsep tentangnya. Lalu mulai melukis. Dunia menyingkapkan diri dengan sendirinya. Kebenaran bukan sesuatu yang ditangkap di luar sana lalu disuntikkan dalam karya seni. Berbeda dengan semboyan film X-Files, bagi Heidegger the truth is not out there, Kebenaran terjadi dalam karya itu sendiri. Saat karya itu menyingkapkan sebuah dunia yang berbeda dari keseharian. Menciptakan makna-makna baru. “Membawa kita ke dunia yang orang belum pernah menjejakkan kaki sebelumnya,” menyitir perkataan kapten Picard dalam prelude film seri Star Trek

Seni lebih dari sekadar imitasi. Tidak sekadar menyingkap dunia. Seni juga menciptakan dan mengatur dunia. Kuil pemujaan di masa Yunani kuno, misalnya. Karya seni tersebut menciptakan sebuah dunia peribadatan dengan pengaturan ruang-waktu berkenaan dengan pola tindakan manusia. Kapan, di mana dan bagaimana orang beribadah menjadi ajek. Pemisahan ruang-waktu profan dan sakral dimulai. Semuanya itu membuktikan bahwa seni juga menjadi bagian dari dunia, bukan sekadar menyingkapkannya. 

Kuil bukan saja menyingkap atau mengatur dunia. Ia juga menampilkan sang pesaing dunia alam. Bukan alam yang dihabisi dunia seperti pada objek-objek praktis. Melainkan alam misterius tempat sang karya berdiri dan menjelma. Sang kuil dihujani badai, kilat, dan angin puting beliung. Berdiri di atas bebatuan. Sekaligus terbuat darinya. 

Seni tidak melenyapkan alam layaknya teknologi. Teknologi memoles alam sampai tak bisa dikenali lagi. Sedangkan seni menampilkan alam sebagai sesuatu yang menyembunyikan diri. Inilah salah satu perbedaan antara seni dan sains. Sains merumuskan bagaimana alam menampilkan diri, sedang seni: bagaimana alam menyembunyikan diri. 

Karya seni adalah ranah pertarungan. Dunia yang menyingkap dan alam yang resisten. Ketegangan itu bekerja dalam sebuah karya seni. Namun, kebenaran pasti menang. Kebenaran menjelma dalam karya seni. Karya seni menyingkap, mengatur dunia sekaligus menampilkan alam sebagai sang misterius. 

Pada akhirnya, ketersingkapan dunia dalam karya seni membuktikan dua hal. Pertama, kemenangan seni atas resistensi alam. Keberhasilan seni menguak makna dari alam yang pemalu. Kedua, ketersembunyian alam. Ketersingkapan dunia tidak bersifat total. Alam tetap tampil sebagai sumber misterius penyingkapan dunia. Penyingkapan pada saat yang sama berarti penyembunyian. Saat memutar radio, misalnya. Ketersingkapan satu frekuensi berarti ketersembunyian kemungkinan-kemungkinan penyingkapan frekuensi lainnya. Kita tidak bisa mendengarkan dua stasiun radio sekaligus. 

Seni adalah pendobrak sejarah. Sains dan filsafat sekadar bermain di lapangan yang sudah dibuka oleh seni. Renaisans, misalnya. Periode yang mengawali bergeraknya peradaban dari abad pertengahan yang serba-Tuhan menuju abad modern yang serba-manusia. Dobrakan awal yang menandai lahirnya Renaisans datang dari karya seni. Lukisan Monalisa dari Leonardo Da Vinci. Da Vinci melepaskan diri dari pola lukisan abad pertengahan yang serba langit. Monalisa adalah simbol kemanusiaan. Bak Prometheus, Da Vinci mencuri sesuatu dari langit untuk dipersembahkan pada manusia. Dan sesuatu itu adalah tolok ukur. Segala sesuatu yang tadinya diukur berdasarkan patokan-patokan: langit, sekarang diserahkan pada manusia. Teosentris memberi jalan pada antroposentris. 

Pada perkembangan akhir pemikiran Heidegger tentang seni, ia banyak berbincang soal puisi. Penyair menciptakan selarik puisi dari bahasa yang ada. Mempermainkannya dalam puspa-ragam konteks dan melahirkan makna-makna baru.

Penyair adalah pembuat undang-undang yang tidak dikenal. Melihat jauh ke masa depan meninggalkan orang kebanyakan. Penyair tidak bisa bekerja layaknya manusia biasa. Manusia biasa bekerja dalam dunia yang sudah diandaikan. Sedangkan penyair bekerja di bawah kendali kekuatan impersonal: seni, kebenaran atau “Ada” itu sendiri. Kekuatan impersonal yang akan membawanya pada sebuah dunia baru. 

Rangkuman

Kekhilafan Heidegger dalam traktat awalnya mendapat koreksi dalam perjalanan pemikirannya kemudian. Upaya menawarkan konsepsi alternatif tentang “Ada” adalah kekhilafan itu. Kekhilafan yang menempatkan Heidegger dalam tradisi representasionalisme filsafat Barat. Karenanya, Heidegger lanjut memikirkan ulang relasi antara “Ada”, waktu, dan dasein. “Ada” bukanlah sesuatu yang tetap bersemayam dalam waktu yang mengalir. “Ada” bukan kekekalan, ia adalah kesementaraan. Kebenarannya bersifat aleitheis. Menyingkap, bertahan, dan kembali ke kekosongan. “Ada” timbul tenggelam dalam sejarah: Kebenaran sebagai aleithea menuntut pelucutan sifat aktif kegiatan berpikir manusia. Berpikir bukan lagi menangkap kenyataan dan mengurungnya dalam kategori-kategori. Berpikir adalah undangan bagi sang “Ada" untuk menyingkapkan dirinya.

Sebuah penantian yang hangat dari ucapan syukur saat sang “Ada” menjelma. Manusia bukanlah penguasa “Ada”. Ia sekadar penggembala “Ada”. Penggembala yang tunduk pada titah sejarah “Ada”. Sebuah kekuatan impersonal yang bekerja dalam sejarah.

Saat berpikir kehilangan sifat aktifnya dan pengetahuan teoretis bukan lagi prioritas utama dalam menangkap “Ada”. Maka, Heidegger pun berpaling ke seni. Seni bukanlah sekadar imitasi dari imitasi. Sesuatu yang inferior terhadap kebenaran teoretis. Kebenaran menjelma dalam seni. Seni menyingkap, mengatur, dan menampilkan alam dalam kemisteriusannya. Seni adalah garda depan pendobrak sejarah. 

**

Beberapa Istilah Penting 

Representasionalisme: Sebuah klaim bahwasannya kenyataan hadir terlepas dari subjek dan merupakan objek pengetahuannya. Subjek mampu menyajikan ulang secara akurat kenyataan tersebut. 

Aleitheia: Kebenaran yang menyingkap. Bukan sesuatu yang kekal melainkan sementara. Kebenaran muncul dari kekosongan, bertahan lalu menghilang kembali. 

Kebebasan: Kemampuan manusia menyingkap pelbagai manifestasi “Ada”. 

Penggembala Ada”: Dasein bukanlah pencipta “Ada”, ia sekadar mengikuti otoritas tertinggi yang mengatur kemunculan sang “Ada”. 

Alam: Kenyataan pra-budaya. Sesuatu yang mendahului pemahaman, manipulasi atau penafsiran manusia, Sesuatu yang cenderung menyembunyikan diri dan resisten terhadap setiap usaha perumusan. 

Dunia: Kenyataan kultural berupa sistem makna yang memungkinkan manusia memahami diri dan lingkungannya. 

Sumber:

Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 76-85.


, ,

Nietzsche dan Seni


Memandang hidup dengan sudut pandang seni adalah inti selanjutnya. Jelas sekali, peran seni sangat penting buat para seniman. Perjuangan hidup itu juga sebuah seni. Dan di “Kepulauan Bahagia" menurut istilah Nietzsche dalam Demikianlah Sabda Zarathustra : 

“Dunia harus dibentuk dalam citra kalian, oleh kehendak kalian, dan oleh cinta kalian.” 

Kesenangan yang dapat diperoleh dari kehidupan bahkan dari nafsu dan kekuasaan juga adalah seni menurut pandangannya. Misalnya, ia pernah mengatakan bahwa lukisan tentang seks juga seni, bukan pornografi. 

Sebaliknya, untuk menghadapi penderitaan yang juga merupakan buah dari kehidupan, kita juga memerlukan seni. Seseorang hanya harus membiarkan perubahan berlangsung, dan menghadapi penderitaan itu dengan selayaknya. Bukan dengan diam dan mengorbankan diri sendiri dalam penderitaan. Namun, seperti Nietzsche misalnya, ia menghadapi kegelapan dalam hidupnya dengan menulis puisi dan komposisi musik yang bagus. Mengenai seni dan penderitaan, dalam buku The Gay Science (terbit 1882, direvisi 1887), Nietzsche menuliskan bahwa Seni boleh dipandang sebagai suatu pertolongan atau obat untuk membela kehidupan. “Hidup memang penuh Derita...,” katanya. 

Sastra juga merupakan implementasi dari perjuangan hidup Nietzsche, ia membuat gaya sastra yang luar biasa dengan model tulisan berbentuk potongan-potongan tentang perumpamaan, kutipan ayat Kitab Suci, dan paragraf yang dinomori secara terpisah. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dapat dilihat dalam buku Demikianlah Sabda Zarathustra, ini terbilang unik, mengingat sentimen keras Nietzsche akan Kristianitas. Bukan Nietzsche namanya, jika pandangan tentang seni yang dilahirkannya berhenti pada dirinya sendiri. Sebagaimana Nietzsche sebagai seorang seniman-filsuf membuahkan pengaruh bagi para seniman setelahnya. 

Tercatat nama-nama seperti penulis drama, August Stinberg dari Swedia, Luigi Pirandello dari Italia, dan Bernand Shaw dari Irlandia, terpengaruh oleh Nietzsche. 

Demikian juga pelukis Gustav Klimt dari Austria. Deretan penyair Jerman terkenal seperti Rainer Maria Rilke dan Herman Hesse juga mendapat pengaruh kental dari Nietzsche. 

Beberapa novelis Perancis terkenal seperti Stendhal, Albert Camus, Andre Gide, dan Andre Malraux juga menuliskan karya sastra yang khas berbau pengaruh Nietzsche. 

Sumber:

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 102-104

**

Kritik terhadap Adat-Istiadat dalam Perspektif Nietzsche

Nietzsche ingin mengatakan bahwa hidup manusia adalah kehendak untuk berkuasa itu sendiri. Sehingga manusia sepantasnya dapat bertindak bebas tanpa terikat oleh aturan moral atau norma-norma yang ada selama ini.

Dalam bukunya yang berjudul Human, All too Human (A Book for Free Spirit), ia menekankan bahwa menjadi bermoral (mematuhi norma-norma yang ada), menganut agama, dan berlaku sopan dan etis tidaklah ada gunanya. 

Nietzsche seolah-olah menggugah manusia dengan kritik, 'Mengapa manusia harus lebih memilih bersikap etis ketimbang estetis?' Ia geram karena manusia hanya mematuhi adat-istiadat yang telah ada semenjak dahulu, dengan sikap dan perbuatannya yang demikian itu, manusia hanya berusaha menjadi manusiawi sesuai dengan kebiasaan yang telah diturunkan para pendahulunya. Tetapi sama sekali tidak bebas. 

Berikut adalah kutipan langsungnya: 

“Menjadi bermoral, bertindak sesuai dengan adat istiadat, menjadi etis berarti membiasakan kepatuhan kepada hukum atau tradisi dari tempo dulu... Seseorang dibilang baik karena dia melakukan apa yang biasanya dilakukan." (Human All Too Human)


Referensi: 

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 76


Senin, 31 Agustus 2026

, ,

Nietzsche tentang Kekuatan Musik


Oleh Maria Popova


“Musik, secara unik di antara semua seni, bersifat sepenuhnya abstrak sekaligus sangat emosional,” tulis Oliver Sacks ketika merenungkan kekuatan musik yang luar biasa atas jiwa manusia—sebuah kekuatan yang telah merendahkan beberapa pikiran paling brilian umat manusia ke dalam keadaan kekaguman yang melampaui akal.

Di antara mereka adalah filsuf besar Jerman, Friedrich Nietzsche (15 Oktober 1844–25 Agustus 1900). Ia yang menyatakan bahwa “Tuhan telah mati” dan percaya bahwa tidak ada hal berharga yang mudah didapatkan, menemukan dalam musik satu-satunya anugerah tak ternilai dalam hidup.

Dalam sebuah fragmen otobiografi yang dikutip dalam buku Julian Young yang benar-benar fantastis, Friedrich Nietzsche: A Philosophical Biography, Nietzsche—raksasa intelektual Jerman itu—menulis:

Tuhan telah memberi kita musik agar, di atas segalanya, musik dapat menuntun kita ke atas. Musik menyatukan semua kualitas: ia dapat mengangkat kita, menghibur kita, menyemangati kita, atau meluluhkan hati yang paling keras sekalipun dengan nada melankolisnya yang paling lembut. Tapi tugas utamanya adalah menuntun pikiran kita kepada hal-hal yang lebih tinggi, untuk mengangkat, bahkan membuat kita gemetar… Seni musik sering berbicara dalam suara yang lebih menusuk daripada kata-kata puisi, dan menjangkau celah-celah hati yang paling tersembunyi… Nyanyian mengangkat keberadaan kita dan menuntun kita kepada kebaikan dan kebenaran. Namun, jika musik hanya berfungsi sebagai hiburan atau sebagai semacam pameran yang sia-sia, maka itu berdosa dan berbahaya.

Nietzsche menulis baris-baris ini dua bulan sebelum ulang tahunnya yang keempat belas — sebuah detail yang terasa dua kali lebih menyentuh jika dibandingkan dengan "pameran sia-sia" yang dipasarkan kepada remaja saat ini. Namun, rasa hormatnya yang mendalam terhadap musik tidak pernah meninggalkannya. Menjelang akhir hayatnya, Nietzsche mengabadikannya dalam sebuah aforisme yang termasuk dalam bukunya tahun 1889, Senja Para Berhala, atau, Bagaimana Berfilsafat dengan Palu :

"Betapa hal-hal sepele yang membentuk kebahagiaan! Suara seruling Skotlandia. Tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kesalahan (Without music, life would be a mistake). Orang Jerman bahkan membayangkan Tuhan sebagai seorang penyanyi."

Sumber:

https://www.themarginalian.org/2015/09/18/nietzsche-on-music/


Catatan tambahan:

Plato berkata, “Musik adalah hukum moral. Musik memberikan jiwa bagi alam semesta, sayap bagi pikiran, daya terbang bagi imajinasi, serta pesona dan keceriaan bagi kehidupan dan segala sesuatu; Music is a moral law. It gives soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and charm and gaiety to life and to everything.”

 

, ,

Nietzsche: "Tuhan Telah Mati"

Moralitas Budak dan Tuan 


Dalam filsafatnya, Nietzsche merumuskan tentang Moralitas Budak (herdenmoral/slave morality) dan Moralitas Tuan (herrenmoral/ master morality). Rumusan ini digunakannya untuk menjelaskan peran Kristen dalam "Kehendak untuk berkuasa”, sekaligus untuk mengkritik Kristen. 

Keberatan Nietzsche untuk moralitas Kristen Ini adalah karena ajaran Kristiani yang menyebabkan diterimanya apa yang disebut moralitas budak. 

Akibat dari penjungkirbalikan nilai-nilai yang dilakukan Nietzsche, menyebabkan perbedaan pengertian dan ukuran nilai antara umum (lampau atau filsuf-filsuf sebelumnya) dengan ukuran yang dibuat Nietzsche. Di mana yang baik bagi Nietzsche bisa berarti sebaliknya bagi khalayak publik, dan yang buruk bagi Nietzsche bisa berarti sebaliknya pula bagkhalayak publik. 

Pengertian baik bagi majikan (tuan) adalah perasaan jiwa yang tinggi, yang bangga, dan megah. Di sisi sebaliknya, baik bagi budak adalah segala sesuatu yang menyebabkan kedamaian, rendah hati, tidak merugikan, serta yang menaruh belas kasihan. 

Moralitas Tuan pada awalnya baik, berisi kaum yang kuat, upper, megah. Pemilik moralitas ini diwakili oleh kaum aristokrat atau bangsawan. Sementara Moralitas Budak berisi kaum lemah, rendah, yang diwakili oleh rakyat kecil. 

Di titik ketika moralitas tuan dianggap baik, namun oleh sebab mereka lama-kelamaan menerima pula moralitas kaum budak/lemah sehingga kaum kuat menjadi berkurang jumlahnya dan kaum budak/lemah bertambah besar dan membalikkan keadaan. Sehingga moralitas tuan menjadi dianggap buruk, dan demikian pula sebaliknya. 

Nietzsche berkali-kali menyatakan keberpihakan kepada kaum aristokrat dan kaum berada sebagai kaum yang lebih leluasa mewujudkan keinginan dan visi atau tujuannya. 

Sementara itu ia menemukan bahwa moralitas Kristen membenci kaum aristokrat yang mana kaum Kristen itu sendiri hidup dengan disertai ciri-ciri lain yang mengikutinya, yang lebih merupakan jelmaan sikap dari moralitas budak menurut Nietzsche. 

Ini tidak adil menurut patokan Nietzsche. Memang tak benar sepenuhnya kata-kata Nietzsche ini. Tetapi banyak dari golongan mayor Kristen ini tidak menyanggahnya, meskipun mengetahui bahwa belas kasihan Kristen tidak begitu saja menghapus jurangjurang antara si kaya dan si miskin, meski semua sama di hadapan Tuhan, namun kenyataannya di dunia, jurang pembeda (distingsi) masih tetaplah ada. Tetapi bagi Nietzsche yang murka pun tidaklah keliru sebab distingsi tersebut antara patokan moral umum dan yang dibuat Nietzsche sendiri. 

Sesungguhnya, memang benar bahwa di Eropa dan sebagian besar negara Barat telah terasuki moralitas Kristen kala itu. Nietzsche menganggap bahwa yang berkuasalah yang boleh menguasai dunia dan manakala moralitas Kristen yang baginya ” budak" merajai seluruh barat ia marah dan berusaha menjungkirbalikkan nilai-nilai. Ia meminta perhatian seluruh dunia untuk mengingatkan bahwa “Tuhan telah mati” dan dengan demikian tidak ada lagi landasan atau dasar yang kokoh untuk manusia bergantung pada Tuhan. 

Dan, meskipun Tuhan yang disebut di Kitab Suci maupun rumah ibadah tidak lagi relevan bagi hidup, menurut interpretasi Goenawan Mohamad atas kutipan karya Nietzsche Frohliche Wissenschaft atau The Gay Science, tak ada orang yang tampak kaget, kehilangan, dan cemas. Tetapi justru Nietzsche yang dianggap sinting dan gila itu peduli. Ia memberitahukan kepada umat manusia bahwa -menurut interpretasi Goenawan Mohamad lagi -, jika Tuhan mati, hilang pegangan tentang yang benar dan dusta.

Meskipun begitu, untuk sekali ini Goenawan Mohamad “menyalahkan” Nietzsche dengan membandingkannya dengan pandangan Dostoyevsky melalui novel Karamazov Bersaudara, yang dipujinya. Begini katanya: 

“Si Sinting dalam parabel? Nietzsche salah. Tuhan memang sudah mati dibunuh, tapi itu Tuhan yang sudah dijadikan obyek, berhala yang dikonstruksikan kekuasaan manusia, Tuhan yang tak berbicara lagi sebab ada orang-orang yang mengangkat diri jadi juru bicara-Nya dan mengambil alih kata-kata-Nya. Sementara itu, Tuhan yang tak jadi berhala tetap membuat keajaiban-keajaiban dalam keindahan yang bersahaja.... (dan) Si Sinting (dan Nietzsche) jauh dari Dimitri." 

Sumber:

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 79-84

TERBARU

MAKALAH