![]() |
| A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 2017 |
Tahu sopan santun (la pudeur), itulah anjuran yang diperintahkan Nietzsche kepada para filsuf:
“Nasihat untuk para filsuf! Kita seharusnya lebih menghormati lagi sopan santun yang dengannya alam menyamarkan dirinya di balik enigma dan ketidakpastian yang tak bisa dikenal. Barangkali, kebenaran adalah seorang wanita yang terbentuk untuk tidak memperlihatkan dasarnya (bisa juga, pantatnya).”
Alam adalah enigma, X tak terdefinisikan. Ia diumpamakan seorang wanita baik-baik dan normal yang sering kesulitan mengatakan apa alasan atau dasar pemikiran dari tindak-tanduknya (bisa juga ditafsirkan, wanita baik-baik yang tentu tidak akan bersedia memperlihatkan bagian tubuh belakangnya).
Herakleitos terdengar lagi gaungnya: “alam suka menyembunyikan dirinya (la nature aime a se cacher)”.
Tetapi, memang menjadi kecenderungan manusia untuk mencari dan menangkap yang terdalam, yang senyatanya dari realitas atau alam yang terbentang di hadapannya. Manusia ingin kebenaran! Misteri, atau apa pun yang terselubung dan tersembunyikan, justru membuat hal tersebut menarik untuk diterangi dan disingkap. Manusia senang mengetahui “ada apa di balik sesuatu yang terselubung”. Kita sering kali mirip dengan anak muda dari Mesir yang rasa ingin tahunya besar, sehingga ingin membuka selubung patung-patung dan ingin melihatnya di bawah terang hari bolong. "Kehendak akan kebenaran", keinginan mati-matian untuk mengetahui yang sebenarnya, di mata Nietzsche adalah keinginan normal manusiawi yang bisa menjadi keinginan yang mematikan. Mengapa? Karena tidak semua kebenaran enak atau baik untuk diketahui. Benarkah tidak semua kebenaran itu baik? Atau, lebih tajam lagi, bagi Nietzsche, masih adakah yang namanya kebenaran? Dalam poin inilah persilangan pendapat mengenai pemikiran Nietzsche menjadi menarik untuk ditelisik. Dalam menyelidiki adanya kebenaran, sekali lagi, teks-teks Nietzsche sendirilah yang lebih pantas untuk membela dirinya.
Berbicara tentang kebenaran dalam corpus nietzschean, teks berikut ini sering dikutip dan dijadikan landasan untuk mengatakan bahwa bagi Nietzsche kebenaran adalah ilusi, jadi, kebenaran tidak ada.
“Jadi, apa itu kebenaran (la verite)? Kumpulan-bergerak dari metafor dan metonimi, Antropomorfisme, singkatnya, sejumlah relasi-relasi manusiawi yang telah ditinggikan, ditransposisikan, dan dihiasi dengan puisi dan retorika, yang setelah lama digunakan lalu tampak mapan, kanonik, dan bersifat mengikat bagi sekelompok orang (un peuple): kebenaran-kebenaran (es verites) adalah ilusi-ilusi yang telah dilupakan bahwa mereka itu ilusi, metafor-metafor usang yang telah kehilangan kekuatannya, keping uang yang telah terhapus gambarnya yang tidak lagi dianggap sebagai uang melainkan logam belaka”.
Teks dari Kebenaran dan Kebohongan dalam makna Ekstra-Moral ini hanya mengatakan sekali lagi apa yang sebelumnya diuraikan Nietzsche dalam dua paragraf di atasnya mengenai konsep sebagai identifikasi atas apa yang tidak identik. Telah diuraikan sebelumnya bahwa aktivitas penyeragaman mengandung bahaya penghilangan keberagaman yang partikular, artinya, pemiskinan atas realitas itu sendiri. Realitas dari dirinya sendiri adalah plural, tidak bisa diidentifikasi dalam sebuah ide, konsep, atau kata. Mengenai kata, teks Nietzsche yang sama (disampaikan sebelum paragraf yang membicarakan soal konsep) memberi definisi kata sebagai berikut: "Apa itu sebuah kata? Transposisi sonor sebuah rangsangan syaraf (la transposition sonore d'une excitation nerveuse)”. Begitu definisi diberikan, Nietzsche langsung memperingatkan bahwa bukan maksudnya untuk mengatakan bahwa kata muncul dari sebuah sebab (rangsangan syarat sebagai causa). Ia hanya hendak menyatakan bahwa peng-kata-an sesuatu hanyalah bersifat subjektif (rangsangan syaraf yang campur aduk secara subjektif ditentukan sebagai rasa tertentu oleh seorang subjek). Rangsangan ini, dalam prosesnya yang pertama ditransposisikan ke sebuah gambaran. Gambaran inilah yang pada gilirannya diubah menjadi suara. Dalam proses terjadinya kata, menurut Nietzsche, semua transposisi dan pembentukannya dilakukan secara sewenang-wenang, tanpa kaitan adekuasi apa pun dengan kenyataan yang mau di-kata-kan.
Nietzsche memberi contoh:
“Saat berbicara tentang pepohonan, warna-warna, tentang salju dan bunga, kita percaya memiliki pengetahuan tentang hal-hal dalam dirinya sendiri. Padahal, yang kita miliki hanyalah metafor-metafor dari hal-hal tersebut, dan metafor-metafor tersebut sama sekali tidak berkorespondensi dengan entitas-entitas asali. [...] hal dalam dirinya sendiri (chose en soi) ditangkap pertama-tama sebagai rangsangan saraf, lalu menjadi imaji (gambar, representasi), dan akhirnya menjadi suara yang diartikulasikan.”
Pembicaraan mengenai kebenaran (dalam arti tunggal) yang ditangkap sebagai chose en soi (thing in itself, sebuah entitas pejal sejajar dengan ide, konsep, atau Hinterwelt) mesti diletakkan dalam konteks lebih luas, yaitu, pemikiran Nietzsche tentang kontradiksi. Pada tingkat pertama, kebenaran tunggal dalam arti Idea, causa metafisis tidak ada. Idea atau causa hanyalah peng-kata-an atau peng-konsep-an yang dibuat karena kebutuhan manusia pengujar. Melihat bagaimana proses kata terjadi, bagi Nietzsche peng-kata-an atau penciptaan kebenaran mau tidak mau bersifat arbitrer dan subjektif. Dengan demikian, pun kalau kebenaran dipaksa harus ada, maka yang ada adalah kebenaran-kebenaran (jamak, plural). Dan itu pun diberi catatan oleh Nietzsche: kebenaran-kebenaran tersebut hanyalah metafor untuk sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya! Dengan demikian, di tingkat ini Nietzsche mengumumkan bahwa “kebenaran-kebenaran adalah ilusi-ilusi yang telah dilupakan bahwa mereka itu ilusi”. Di tingkat ini, kebenaran hanyalah kumpulan metafor dan Antropomorfisme yang tidak mengatakan apa pun tentang realitas yang hendak dikatakan, tetapi lebih mengatakan kebutuhan subjektif manusia pengujar. Realitas, dalam dirinya sendiri, selalu sebuah X enigmatik. Ia tidak bisa dikodifikasi atau dikanonisasi. Ia menolak identifikasi, selalu lolos dari cengkeraman konsep atau kata. Namun, sudah kodrat manusia untuk selalu memberikan bentuk dirinya meletakkan kemanusiaannya pada apa pun yang ia sentuh. Itulah antropomorfisme. Manusia, dengan menamai dan memberi kata tertentu pada realitas hanyalah memproyeksikan kemanusiaannya. Dengan kata lain, proses munculnya kebenaran, di samping merupakan aktivitas metaforis, juga merupakan ekspresi proyeksi manusia sendiri pada apa pun yang ia jumpai.
Persis di tingkat ini, kehati-hatian dituntut dalam memahami doktrin Nietzsche tentang kebenaran. Apakah dengan mengatakan bahwa kebenaran (dan dalam konteks di atas artinya juga kata, konsep, Idea, Hinterwelt) adalah ilusi dan fiksi, lalu bisa disimpulkan bahwa bagi Nietzsche kebenaran tidak ada? Dan dengan demikian, Nietzsche adalah filsuf penghancur kebenaran? Benarkah?
Goenawan Mohamad menulis bahwa Nietzsche bukan hanya seorang filsuf yang menolak aktivitas berfilsafat dan Metafisika, tetapi juga “seorang pemikir yang menampik adanya kebenaran." 'Kebenaran', begitu ia pernah katakan, “adalah sejenis kesalahan yang bila tanpa itu sejenis makhluk tak dapat hidup”.
Jika demikian, apakah bisa disimpulkan bahwa kebenaran tidak ada? Jawabannya tidak sederhana. Pertama-tama, dengan menelisik pemikiran Heidegger, Goenawan Mohamad memperlihatkan bahwa “bila Nietzsche menganggap kebenaran sebagai ilusi—dan itu artinya ada yang 'benar' dan ada yang 'ilusi'—maka sang subjeklah yang dihadirkan sebagai suatu "kekuasaan mutlak untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang palsu.” Sayang, di situ Heidegger telah salah baca Nietzsche! Kemudian, dengan mengikuti analisis Derrida, Goenawan Mohamad melihat bahwa pemikiran Heidegger “mengukuhkan kembali kedudukan logos dan kebenaran sebagai primum signatum; sebagai tanda (signifie) yang dalam arti tertentu bersifat transendental".
Perspektif derridean diuraikan Goenawan Mohamad sebagai berikut:
“Karena Nietzsche percaya bahwa kebenaran adalah ilusi, karena ia tidak mengasumsikan bahwa akan mungkin penandaan yang cocok dengan petanda yang ditandainya, karena realitas adalah dumadi, yang terus dalam proses menjadi, berubah, mengalir, dan tiap titik dari alir itu tak pernah kembali, bahkan yang ada adalah suatu kaos, Derrida tampaknya ingin menampilkan Nietzsche sebagai isbat, suatu afirmasi, kepada gerak penanda yang tak terputus-putusnya menandai, suatu signifiant yang menari-nari terus tanpa tempat menambatkan diri, tanpa satu signifie, tanpa rumah asal, tanpa tujuan akhir, tanpa nostalgia yang ada hanya sebuah tanah air pikiran yang telah hilang”.
Rupanya di sini Derrida memainkan Nietzsche secara hipernietzschean (ia mempermainkan konsep permainan dan tarian Nietzsche secara berlebihan, sampai melebihi yang dimaksud oleh Nietzsche sendiri). Goenawan Mohamad melihat hiper-nietzscheisme itu lewat kritik Michel Haar kepada Derrida. Pendapat Michael Haar disimpulkan Goenawan Mohamad seperti berikut ini:
“Bagi Nietzsche, dunia bukanlah sebuah “papan catur tanpa dasar. Bagi Nietzsche, bahasa bukanlah cakrawala tanpa batas yang terus-menerus tertunda garis batasnya. Menulis adalah suatu imitasi dari bicara. Memang menulis bisa menyembuhkan bahasa dari cakap yang tanpa intensitas. Tetapi, pada dasarnya menulis hanya sebuah salinan pucat, dan sebab itu Nietzsche mengatakan: “Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah."
Akhirnya, setelah mengarungi perahu ekstasis pemikiran-pemikiran yang telah mencoba mengarungi lautnya Nietzsche, Goenawan Mohamad mengajukan kembali pertanyaan yang diajukan pada awal paragraf ini: “Tetapi, bisakah sebenarnya kita berkata bahwa kebenaran adalah ilusi?” Menyimpulkan uraian St. Sunardi yang ia beri catatan pendamping, Goenawan Mohamad cenderung mengiyai pendapat St. Sunardi yang menjawab positif pertanyaan berikut ini “bukankah dengan mengutarakan kalimat itu, Nietzsche sebenarnya mengutarakan kebenaran?”
Dengan demikian, baik Goenawan Mohamad maupun St. Sunardi sepakat untuk melihat bahwa dalam pemikiran Nietzsche kebenaran ada!" Hanya kriterium atas kebenaran saja yang berbeda: “kriterium kebenaran berbeda dari yang dirumuskan Descartes. Kriterium kebenaran: “adalah semakin tingginya kesadaran orang akan adanya kekuatan”.
Nietzsche adalah seorang pragmatis. Kalau ada sebuah nilai positif dari teori kebenaran menurut Nietzsche, selain Pragmatisme, itu tampak dalam pengingatan Nietzsche di depan “bahaya dogmatisme kebenaran" (sebagaimana sudah diingatkan oleh Karl Popper). Menutup uraiannya, dengan menafsir tarian Zarathustra kepada kehidupan, Goenawan Mohamad menyimpulkan pendapatnya tentang kebenaran sebagai berikut:
“Kebenaran ialah sesuatu yang didapat dalam proses kreatif, tanpa dibebani pamrih, atau tujuan samping apa pun, suatu proses kreatif yang menguntit hidup: itu juga sejenis “arah', dan bisa jadi semacam 'kepatuhan', dan jangan-jangan 'tanggung jawab'—setidaknya kepada sang Hidup.”
Dengan memahami Nietzsche seperti itu, menurut Goenawan Mohamad, kehadiran Nietzsche “tidak untuk mengejutkan, tidak usah mengejutkan”. Meski mungkin tidak terkejut, toh St. Sunardi sendiri kagum kepada Nietzsche: “Pandangan dan sikap Nietzsche tentang kebenaran ini sangat mengagumkan, terutama kalau kita sejenak membandingkannya dengan perkembangan Filsafat ilmu pengetahuan dewasa ini”. Ia mengutip tesis Karl Popper tentang “kesementaran teori atau ucapan ilmiah” yang dikenal dengan the thesis of refutability dan the principle of falsification. Sumbangan rasionalisme kritis Nietzsche yang lalu dilanjutkan Popper ini disimpulkan St. Sunardi seperti berikut ini:
“Nietzsche memperingatkan bahaya dogmatisme kebenaran, termasuk kebenaran yang dicapai ilmu pengetahuan, dengan menyebut kebenaran sebagai kekeliruan yang tak terbantah dan yang diperlukan bagi hidup manusia. Dengan kata lain, kebenaran adalah kekeliruan yang untuk sementara waktu dianggap benar, meskipun itu sebenarnya tetap merupakan kekeliruan. Sikap ini harus dilihat sebagai suatu ajakan untuk mengakui bahwa status kebenaran itu harus selalu terbuka untuk dikelirukan”.
Apa yang diungkapkan St. Sunardi tentang “kebenaran adalah kekeliruan" memang bisa dikonfirmasikan ke tulisan Nietzsche: “Skeptisme terakhir: Apa itu kebenaran-kebenaran (milik) manusia? Kebenaran-kebenaran itu adalah kekeliruan-kekeliruan tak terbantahkan (dari) manusia.”
Teks lain yang ditunjukkan St. Sunardi untuk memperlihatkan bahwa sejarah penemuan kebenaran tidak lain dan tidak bukan merupakan sejarah penemuan kekeliruan adalah karya Nietzsche, GS “Buku Ketiga". Teks ini menurut St. Sunardi mempertunjukkan bahwa:
“Apa yang telah dicapai para pemikir dalam sepanjang sejarah tidak lebih daripada kekeliruan-kekeliruan. Kekeliruan ini diterima sebagai kebenaran, karena telah terbukti berguna dan membantu untuk mempertahankan hidup dan menguasai kenyataan”.
Jadi, dengan demikian bagi Nietzsche tujuan pengetahuan bukanlah pencarian kebenaran mutlak, melainkan penguasaan kenyataan. “Nietzsche sendiri tidak mengakui adanya kebenaran mutlak.” Hasrat penguasaan yang tampak dalam gejala pengetahuan, di mata St. Sunardi, juga bisa dilihat dalam upaya transformasi alam ke dalam konsep-konsep untuk menguasai alam tersebut. “Alam yang dipahami sebagai 'arus menjadi' dan bersifat kaos dan tak bernilai, supaya berguna bagi hidup, maka alam harus dikuasai, yaitu melalui interpretasi”.
Masalahnya, benarkah bagi Nietzsche bahwa untuk dia sendiri adanya kebenaran disebabkan oleh motif praktis dan utilitaris belaka, untuk mempertahankan/menanggung hidup? Uraian St. Sunardi dan catatan pendamping dari Goenawan Mohamad tampaknya berhenti di situ. Pertama, benar bahwa Nietzsche dengan analisis tajamnya mampu membuka kedok omongan orang-orang yang berpretensi menemukan kebenaran. Pencarian kebenaran sebenarnya tidak ada hubungan apa pun dengan sebuah kebenaran mutlak (verite en soi, truth in itself). Pencarian itu hanya menyingkapkan sebuah kenyataan yang sama sekali lain: "kebutuhan", kebutuhan manusia untuk menggapai-gapai tali agar tidak jatuh melayang di jurang tanpa dasar.
***
... soalnya di situ bukan "bagaimana keputusan sintetis a priori itu mungkin" melainkan “mengapa kepercayaan akan keputusan seperti itu perlu". Kepercayaan, keyakinan akan kebenaran menjadi drive utama dalam seluruh wacana tentang pencarian kebenaran. Soalnya bukan pada “kebenaran itu sendiri”, tetapi kebutuhan orang untuk percaya, supaya dengan demikian hidup bisa ditanggung, dijalani (bisa melangsungkan hidupnya). Di sinilah St. Sunardi lalu menghubungkan dorongan untuk percaya dengan kehendak, salah satu doktrin pokok Nietzsche: Kehendak Kuasa (drive untuk menguasai kenyataan kaos yang dihadapinya). Meskipun kebenaran yang dipercayai itu salah, keliru, hal itu tidak menghambat bahwa kepercayaan kepadanya telah membantu manusia untuk bertahan hidup! Jadi benar, di tingkat ini, kebenaran adalah kekeliruan, tetapi kekeliruan yang toh berguna bagi hidup manusia. Karena manusia hidup memang sebenarnya tidak terlalu peduli dan tidak ditentukan oleh “benar tidaknya sesuatu” melainkan lebih oleh “rasa percayanya”. Hilangkan rasa percaya, jangkar hidupnya akan terlepas dan masuklah ia dalam samudera tanpa batas.
Pada tingkat pertama di atas, Nietzsche sebenarnya mengkritik para filsuf, para pemikir, atau manusia-manusia sezamannya. Tetapi, itu adalah kritikan Nietzsche! Apakah Nietzsche sendiri menganggap dirinya butuh percaya akan sebuah kebenaran untuk bertahan hidup? Ini pertanyaan besar. Goenawan Mohamad telah mengutip dengan bagus, bahwa ada "sejenis makhluk" yang butuh kebenaran tertentu supaya bisa bertahan hidup. Rasa-rasanya Nietzsche tidak akan melevelkan dirinya dalam tingkat “sejenis makhluk tersebut". Bila membaca teks Nietzsche sendiri, yang berjudul “Asal-Usul Pengetahuan”, akan tampak jelas bahwa Nietzsche menguraikan analisis genealogi-tipologis kepada para pemikir yang sok berpretensi bisa menemukan kebenaran. Dalam sejarah pengetahuan, ternyata Nietzsche menemukan bahwa "aspirasi kepada kebenaran ternyata menyingkapkan dirinya sebagai kekuatan untuk memelihara kehidupan (puissance conservatrice de la vie)”. Kata-kata ini dinyatakan Nietzsche tentang upaya pencarian kebenaran sebagai usaha bertahan hidup. Di balik omongan tentang kebenaran, ternyata hanyalah insting memelihara kelangsungan hidup. Nietzsche memahami seriusnya upaya-upaya di atas, menghargai bahwa pencarian kebenaran (yang ternyata adalah kekeliruan) toh ternyata berguna untuk membuat orang hidup. Meskipun begitu, ia mengajak orang untuk maju berpikir lagi. Ia meneruskan kalimat di atas sebagai berikut:
“Sehubungan dengan seriusnya (beratnya) pertempuran tersebut, toh yang tersisa ini masih bersifat indifferen: pertanyaan terakhir menyangkut kondisi kehidupan telah diajukan di sini, dan percobaan pertama untuk menjawab pertanyaan tersebut lewat pengalaman telah diajukan pula. Dalam arti apa kebenaran bisa menanggung asimilasi?Inilah pertanyaannya, inilah pengalaman yang masih harus dibuat.”
Tampak bahwa Nietzsche tidak berhenti dalam temuan adanya kebenaran sejauh menjawab kebutuhan kelangsungan kehidupan. Kebenaran yang ia ajukan tidak berhenti di Pragmatisme utilitaris. Nietzsche masih menyisakan pertanyaan yang indifferen, yang tidak tersangkut secara niscaya dengan kondisi kehidupan. Ada pengalaman lain yang masih harus dijalani untuk mengetahui apakah kebenaran bisa diasimilasi, dikangkangi, ditangkap, diantropomorfisir. Ada tingkat pembicaraan tentang kebenaran yang lain, yang masih harus dicari.
Perbincangan tingkat pertama atas kebenaran—yang ternyata adalah kekeliruan—memperlihatkan bahwa kebenaran seperti itu toh berguna membantu manusia menanggung kehidupan. Kebenaran semacam ini bisa dipersamakan dengan “keping uang yang telah kehilangan gambarnya” sehingga meski nilai tukarnya sebagai uang sudah hilang toh sebagai logam ia masih punya arti. Kebenaran pada tingkat pertama ini adalah “selubung luar” yang dengannya seorang wanita menampakkan dirinya. Indahnya selubung, daya pikat garis lekuk tubuh wanita yang terpampang berkat selubung adalah kebenaran pada tingkat selubung. Sekaligus, itu adalah kekeliruan sejauh ia tidak mengatakan apa pun tentang si wanita yang tersembunyi di balik selubung tersebut.
Pada tingkat kedua, Nietzsche berbicara tentang kebenaran yang diumpamakan sebagai wanita itu sendiri. Tulis Nietzsche, “Barangkali, kebenaran itu adalah seorang wanita yang terbentuk untuk tidak memperlihatkan dasarnya”. Seandainya kebenaran itu adalah wanita, kebenaran dalam tingkat ini adalah “kebenaran yang tidak mau memperlihatkan dirinya”.
***
Lalu, apa sebenarnya kebenaran bagi Nietzsche? Bahwa kebenaran itu ada, itu tidak bisa disangkal. Yang jelas, pada level pertama ada kebenaran selubung, yang adalah kekeliruan. Kebenaran naif yang menjangkarkan diri pada yang permukaan belaka seperti itu tidak ditolak Nietzsche karena toh berguna untuk membantu manusia hidup. Dengan insting konservasi dirinya, manusia membutuhkan kebenaran sejenis itu. Pada level kedua, ada tingkat kebenaran di mana ketidakpuasan pada selubung membuat hasrat muda mencari adanya kebenaran dalam adanya wanita di balik selubung. Dengan menggabungkan kedua level ini bersamaan, maka bisa dikatakan bahwa pengakuan akan selubung (kebenaran sebagai kekeliruan, “kebenaran sebagai ilusi) tidak otomatis meniadakan apa yang diselubungi tersebut. Lepas dari perdebatan mati atau hidupnya Metafisika, menurut penulis, adanya sesuatu yang dari mana selubung itu menampakkan dirinya dan mendapatkan bentuk garisnya (allure) disiratkan dalam kebenaran level kedua ini. Jadi, ia berbicara tentang kebenaran yang lebih dasariah dan mendasar.
Kebenaran tingkat terakhir, menurut penulis, berada pada tingkat pemikiran akan kontradiksi. Di sini, kebenaran dasar sebenar-benarnya diperlihatkan sebagai selalu lolos dari tangkapan. Justru ketika sebuah kebenaran tersingkap, ia tidak lagi menjadi kebenaran. Yang tidak lagi menjadi kebenaran adalah apa yang tersingkap. Atau dengan kata lain, apa yang tersingkap tidak pernah mampu mengungkapkan sepenuh-penuhnya apa yang hendak disingkap. Kebenaran sebagai gerakan-penyingkapan mengandaikan adanya yang hendak disingkap, dan yang tersingkapkan. Ketersingkapan hanyalah salah satu manifestasi dari apa yang hendak disingkapkan, dan sejauh ketersingkapan tidak pernah identik dengannya, maka ketersingkapan selalu bersifat sementara, dan kalau di-fixed-kan lalu menjadi kekeliruan. Yang diperlihatkan di sini adalah fungsi meta kebenaran itu sendiri yang selalu mentransendenkan diri, menolak dikodifikasi, menolak dikurung dalam sebuah konteks sesaat. Penyingkapan kebenaran adalah sekaligus penyingkapan dan penyembunyian baru. Kebenaran berada dalam gerakan seperti itu.
Pada tingkat ketiga pembicaraan tentang kebenaran ini, yang perlu diingat adalah konteks pemikiran Nietzsche tentang kontradiksi yang ia ungkapkan lewat analisisnya tentang kata, konsep, Idea. Konsep adalah upaya identifikasi dari apa yang tidak identik. Karena realitas pada dirinya sendiri kaos, plural, tidak identik, maka seluruh upaya konseptualisasi harus menyadari batas ini. Ketika sebuah konsep berpretensi bisa menyingkapkan realitas yang hendak dikonsepkan, persis di situ konsep menjadi kekeliruan dan ilusi. Begitu pula dengan kebenaran: ketika sebuah ungkapan kebenaran tentang realitas (yang tersingkap) berpretensi bisa mengatakan seluruh realitas yang hendak ia ungkapkan, di situ kebenaran menjadi kekeliruan.
***
Dan persis, pengalaman akan kedalaman inilah yang membuat dia sadar bahwa kedalaman tidak selalu indah. Kedalaman bisa jadi sangat mengerikan, mengancam menelan eksistensi manusia sendiri. Pengalaman akan kedalaman inilah yang barangkali bisa ditafsir sebagai kebenaran ultima yang kontradiktif. Sama halnya realitas itu sendiri bersifat kontradiktif (indah sekaligus mengerikan), kebenaran pun seperti itu. Apa yang ada senyatanya di depan kita adalah sesuatu yang kontradiktif, dan itulah kebenaran yang sejatinya. Tidak ada kata lain untuknya. Kebenaran adalah jurang, kawah tanpa dasar, sesuatu yang tidak bisa disingkap secara menyeluruh. Ia selalu lolos dari usaha antropomorfisme dan proyeksi manusia. Antropomorfisme (pemberian selubung-selubung manusiawi pada realitas) hanya mampu mengungkapkan satu segi yang tersingkap dari kebenaran, tetapi tidak pernah bisa menjarah pluralitas kontradiktif di dalamnya. Dan secara paradoksal, di depan kebenaran jurang tersebut, orang berpengalaman yang pernah berada di dalamnya justru menganjurkan supaya lebih baik tinggal saja di permukaan. Anjuran ini sama sekali bukan ideologisasi permukaan, mengingat nasihat ini keluar dari orang yang tahu apa itu kedalaman. Nietzsche lalu memberi contoh orang Yunani: mereka itu hidup gembira di atas permukaan (mentransformasi pengalaman tragis kehidupan dalam karya seni tragedi) justru karena mereka tahu apa itu kedalaman yang kontradiktif, yaitu hidup yang tragis.
***
Transformasi dalam bentuk seni, kepercayaan pada bentuk-bentuk yang dilakukan oleh orang Yunani prasokratik bukanlah pelarian pengecut kaum pesimis dan dekaden. Justru sebaliknya, itu adalah ekspresi keberlimpahan dan kekuatan tenaga kaum yang tahu apa itu realitas jurang. Tragedi: adalah ekspresi artistik Ja-sagen (mengatakan iya) dari mereka yang berani menghadapi realitas jurang, kebenaran jurang. “Mengatakan iya kepada hidup/kehidupan termasuk pada problem-problem kehidupan yang paling asing dan paling mengerikan inilah yang "kusebut sebagai dionysiak, inilah yang kupahami sebagai jalan menuju psikologi seorang penyair tragis”. Mengiyai realitas apa adanya yang kontradiktif dan enigmatis disamakan Nietzsche dengan apa yang sering kita dengar bila berbicara tentang pemikirannya: dionysiak. Apa itu daya dionysiak?
Keberlimpahan energi vital yang digambarkan dewa kemabukan Yunani ini sering ditafsir sebagai Amoralisme aktivitas orgiastik dan tripping dengan alkohol anggur.
Sumber:
A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 2017, h. 172-211
***
Dari pencarian Google, semangat Dionysian (Dionysiak) dijelaskan sebagai berikut:
Semangat Dionysian (Dionysiak) dalam filsafat Friedrich Nietzsche adalah konsep yang mewakili kekacauan, emosi mentah, gairah, ekstasi, dan peleburan batas-batas individualitas. Diambil dari nama Dewa Dionysus (dewa anggur, kesuburan, dan pesta pora dalam mitologi Yunani), semangat ini menggambarkan dorongan manusia untuk kembali menyatu dengan alam dan merasakan kehidupan secara intens, tanpa sekat aturan rasional.
Nietzsche pertama kali memperkenalkan gagasan ini dalam buku pertamanya, The Birth of Tragedy (1872).
Sifat-Sifat Utama Semangat Dionysian
Peleburan Diri (Kesatuan Primordial): Jika logika membuat manusia merasa terpisah satu sama lain (individual), semangat Dionysian menghancurkan batas tersebut. Melalui perayaan, musik, atau kegilaan estetik, manusia merasakan kesatuan kosmis dengan sesama dan alam semesta.
Intensitas Emosi dan Ekstasi: Semangat ini merayakan dorongan naluriah, mabuk kreativitas, menari, dan kepuasan indrawi tanpa pengekangan moralitas yang kaku.
Penerimaan Terhadap Penderitaan (Ja-Sagen): Alih-alih lari dari realitas, semangat Dionysian adalah sikap berkata "ya" (Ja-Sagen) pada kehidupan beserta seluruh penderitaan, tragedi, dan kekacauan di dalamnya.
Lawannya: Semangat Apollonian
Untuk memahami Dionysian, Nietzsche membandingkannya dengan Semangat Apollonian (dari Dewa Apollo):
Mengapa Konsep Ini Penting bagi Nietzsche?Menurut analisis Nietzsche, puncak kebudayaan Yunani Kuno tercapai karena mereka berhasil menyimbangkan kedua dorongan ini dalam karya Tragedi Yunani. Unsur Apollonian memberikan struktur narasi dan dialog, sedangkan unsur Dionysian memberikan kedalaman emosional dan musik lewat paduan suara (chorus). Nietzsche mengkritik dunia modern (yang dipengaruhi oleh Sokrates dan pemikiran rasional berlebih) karena dianggap terlalu Apollonian. Akibatnya, manusia menjadi terlalu kaku, takut pada penderitaan, dan kehilangan vitalitas hidup yang mentah. Baginya, mengadopsi kembali semangat Dionysian adalah cara manusia modern untuk mengatasi kejenuhan hidup (nihilisme).
Konsep Dionysian ini melahirkan gagasan besar Nietzsche yang lain, seperti Übermensch (Adimanusia) atau Kehendak untuk Berkuasa.
Ctt kaki:
Yves Battistini, dalam Heraclite d'Ephese, dalam catatan kaki pada hlm. 97, mendekatkan fragmen 137 dengan fragmen 121: “Mata dan telinga adalah saksi-saksi yang buruk bagi manusia-manusia, karena mereka itu memiliki jiwa barbar” Maksudnya, sensasi-sensasi yang ditangkap indera manusia (lewat mata dan telinga), bagi jiwa barbar (jiwa yang tidak setajam filsuf pemikir kontradiksi) adalah saksi yang buruk. Mata dan telinga justru cenderung memfixedkan, menyederhanakan realitas/alam yang sebenarnya kompleks dan misterius. Untuk itulah, alam disebut suka menyembunyikan diri dari mata dan telinga manusia barbar. Di depan sebuah sungai, mata kita yang pernah melihatnya, akan memberitahu bahwa “sungai itu adalah sungai-yang sama yang dilihat kemarin". Dan persis di situlah kecenderungan fiksatris dari indera mata: ia mengekalkan sebuah imaji yang dia terima sekali, padahal alam senantiasa bergerak, berubah. Manusia yang tidak barbar akan mampu merelativisir kecenderungan fiksatris indera dan mampu melihat bahwa “dalam yang sama ada perbedaan", mampu mengintuisikan bahwa semua penampakan yang diberikan oleh alam kepada indera kita masih menyembunyikan rahasia-rahasia mengejutkan.
87 “Arung Ekstasi”, catatan pendamping Goenawan Mohamad untuk buku St. Sunardi, Nietzsche, dibuat pada bulan Februari 1996, hlm. 177 (artikel yang gama “Nietzsche, Arung dan Ekstasi" ditemukan dalam bukunya Goenawan Mohamad Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, him. 118-128).
88 Goenawan Mohamad, “Arung Ekstasi", dalam buku St. Sunardi, Nietzsche, m.181.
99 St. Sunardi, Nietzsche, hlm. 6s. Pada halaman 67-68 St. Sunardi lebih eksplisit .. lagi menghubungkan antara Kehendak Kuasa dengan hasrat penguasaan terhadap epa yang kaotis (yang salah satunya termanifestasi dalam gejala pengetahuan: “alam yang kaos, supaya berguna bagi hidup, harus dikuasai, melalui interpretasi”).


