alt/text gambar

Sabtu, 08 Agustus 2026

KORAN

Ariel Heryanto


Oleh: Ariel Heryanto

(Kompas, 7 Agustus 2026)


Teknologi digital menjadi ujung tombak perubahan sejarah terbesar abad ini. Perubahan itu membawa berkah bagi sebagian pihak. Sebagian pihak lain jadi korbannya, termasuk media cetak. Banyak yang bangkrut. Yang bertahan tinggal segelintir dan hidup megap-megap.

Berakhirnya masa jaya media cetak berdampak meluas pada kehidupan berbangsa. Hingga akhir abad ke-20- kehidupan publik punya sosok kebangsaan yang bisa dibayangkan, antara lain berkat hadirnya media cetak. Wujud materialnya: selama satu abad, perhatian publik setiap hari terfokus sejenak pada koran edisi hari itu.

Jumlah koran dan majalah terbatas. Segelintir media besar sangat dominan sehingga perhatian warga bangsa lebih terpusat dan dipersatukan. Terlepas dari konten dan kualitasnya, terhimpunnya perhatian rutin di media cetak itu membentuk ikatan kesadaran bersama dan wacana publik tanpa harus ada kesepakatan tentang topik yang dibahas.

Menurut teori Ben Anderson, ritual kolektif membaca koran yang dijalani turun-temurun itu memungkinkan terbentuknya angan-angan sebuah komunitas yang setara, berdaulat, dan menghuni sebuah teritori terbatas. Itulah nasion modern. Yang tidak dibahas Anderson, kini, sebagai angan-angan pun, sosok nasion itu berantakan karena memudarnya eksistensi media cetak dan maraknya teknologi digital.

Segelintir koran besar masih terbit, tetapi kehadiran mereka tidak lagi sama karena pembacanya sudah jauh berkurang. Yang tersisa jauh berubah. Perhatian publik tidak lagi terpusat pada satu atau dua media cetak. Perhatian mereka bukan beralih ke satu atau dua media daring, melainkan tercerai-berai ke berbagai platform digital. Nasib koran ibarat ikan dalam kolam yang gelagapan karena menyusutnya volume air kolam itu ke level kritis.

Hingga akhir abad ke-20 beberapa koran besar di Tanah Air membuka ruang diskusi dan polemik mencerahkan di kalangan sarjana dan mahasiswa. Di negara lain, peran itu dijalankan oleh jurnal akademik. Di negeri ini, pada abad lalu, ruang Opini sesekali mirip simposium besar ketika koran menyajikan polemik berminggu-minggu tentang topik berat, termasuk teori klasik dalam ilmu sosial.


Lewat koran, banyak intelektual muda di masa Orde Baru berkenalan dengan teori strukturalisme dan marxisme. Bukan dari ruang kuliah, atau jurnal akademik. Perdebatan paling seru semasa Orde Baru tentang feminisme, Pancasila, atau sastra juga berlangsung di koran. Pemerintah Orde Baru berusaha membanjiri media massa dengan sampah propaganda. Namun, mereka tidak pernah berhasil menguasai sepenuhnya ruang publik.


Satu edisi koran biasa dibaca habis dalam hitungan menit. Edisi berikut baru hadir 24 jam kemudian. Berbeda dari pesan serba singkat dan instan di media sosial, koran memberi ruang cukup bagi ulasan panjang. Ia juga memberi kesempatan pembacanya mencerna teks yang kompleks bernuansa, kalimat demi kalimat, secara perlahan. Tanggapan dari pembaca butuh berhari-hari untuk ditulis, dikirim lewat pos ke penerbit, diperiksa redaksi, sebelum antre terbit.


Koran tidak hanya untuk kaum elite. Pembaca awam bersuara lewat rubrik Surat Pembaca. Sulit dipastikan seberapa banyak suara mereka diperhatikan publik. Terlepas dari soal itu, pesan mereka mendapat privilese tercetak dalam koran yang sama, menjangkau ratusan ribu pembaca koran yang sama bersama aneka pesan elitis. Privilese seperti itu sulit diharapkan di media sosial masa kini.


Dalam jagat media digital, warganet tercerabut dan tercerai dari komunitas nasional. Mereka terbelah dalam kubu-kubu lintas negara oleh polarisasi algoritma yang dikendalikan segelintir miliarder terkaya di dunia. Suara warganet tenggelam dalam samudra pesan dari mesin bot, disinformasi dan misinformasi dari aneka platform. Semua hanya selintas tampil di layar gawai yang terus-menerus berubah dan cepat kedaluwarsa. Semua orang berpeluang bersuara berkali-kali tanpa henti, tanpa jaminan ada yang membaca, mendengar, atau menonton.


Di masa jayanya, koran dicetak untuk dibaca pada hari yang sama, lalu biasanya dibuang. Ada yang menggunakan koran bekas untuk alas duduk di lantai atau kursi bioskop yang penuh kutu. Ada yang memanfaatkan kertas koran bekas untuk pembungkus. Ada pula yang mengumpulkan lalu menjual koran bekas ke pedagang loakan.


Ada sebagian kecil pembaca yang memilih konten koran karena dianggap bernilai istimewa. Konten itu digunting lalu dilem pada selembar kertas sebagai klipingan. Setelah beberapa tahun, koleksi klipingan bisa sangat besar.


Sejak tahun pertama bermahasiswa, saya berkenalan dengan kliping koran di perpustakaan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dua perpustakaan di sana mengerjakan klipingan koran dengan tekun. Hasilnya menjadi sebagian koleksi penting. Jumlahnya sangat besar dan tersusun di beberapa rak. Setiap bulan perpustakaan di sana menerbitkan buku katalog berisi daftar klipingan yang terbaru, dikoleksi dan dipilah sesuai tema. Empat dekade kemudian, salinan buku-buku katalog klipingan koran dari UKSW saya temukan tersimpan rapi di perpustakaan Universitas Monash, Australia.


Koleksi kliping koran di perpustakaan kampus mengilhami saya membuat koleksi klipingan sendiri. Kliping koran tidak sekadar bernilai eksotik atau antik. Bagi saya, klipingan koran melengkapi bacaan akademik yang berat, teoretis, dan abstrak. Setelah berpuluh tahun, koleksi klipingan itu banyak memperkaya data empirik penelitian saya, khususnya tentang kehidupan sehari-hari kaum non-elite di masa lalu.


Misalnya soal vulgarnya semipornografi film nasional pada 1980-1990-an atau ilustrasi berbagai kasus ekstrem penindasan budaya Tionghoa di tingkat lokal. Ada masanya jilbab diharamkan, tetapi homoseksualitas dan transjender diberi toleransi. Ketika Orde Baru menyebarkan kampanye antikiri di Ibu Kota, di tingkat lokal operasinya bisa jadi serba binal dan sebagian kocak.


Setiap perubahan sosial membuka cakrawala hidup baru. Juga berangsur menghapus ingatan publik atas perubahan yang dialami bangsa. Masa jaya koran sudah berakhir, tetapi koleksi kliping koran membantu kita melawan lupa.


Sumber: 7 Agustus 2026

Jumat, 07 Agustus 2026

YANG DARI BAWAH...

Goenawan Mohamad

Belum pernah sebanyak ini tersiar -- dari mana-mana -- video pendek yang diproduksi masyarakat sendiri.  Isinya lucu, mencemooh, kesal, terutama kepada apa yang dipidatokan Prasiden Prabowo . 

Masyarakat kita sedang naik pitam, tapi dengan kreatif menunjukkannya dengan  humor. Humor yang kadang-kadang pahit dan  kasar. Dan informatif.  MIsalnya bisa diikuti dari sana, bahwa ada kemarahan yang menjalar -- khususnya terhadap penarikan pajak yang makin melebar dan meninggi -- justru ditengah  penganggutan yang mengingkat dan penghasilan yang menciut...

Saya tak bisa meramal, apakah dari keadaan itu  akan ada semacam pembangkangan rakyat dari bawah yang keras dan meluas.  

Mungkin tidak...

Yang bisa saya tangkap:  di kampus dan di forum debat para "cendekiawan", masalah-masalah yang mereka perbinncangkan masih soal yang itu-itu juga.

Mungkin saya salah. Tapi tak bisa saya elakkan pertanyaaan: bisakah kiranya suara galak para aktivis mahasiswa dan para komentator politik menemukan titik pertemuan yang pas dengan kekesalan yang kini sedang melanda dari bawah?  Tidakkah soal-soal yang jadi perhatian  para cdnewkiawan di kota itu mulai membosankan?  Adakah   strategi dan benih-bentih garakan perbaikan? 


Sumber: Fb


,

Agar Otak Cerdas dan Kritis


Otak adalah anugerah yang berkembang melalui latihan. Semakin sering digunakan untuk belajar, berpikir, dan memecahkan persoalan, semakin baik kemampuannya dalam memahami dunia di sekitarnya.

Secara filosofis, kecerdasan bukan sekadar kemampuan mengingat banyak informasi, tetapi kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang bijaksana.


1. Biasakan membaca buku setiap hari

Membaca buku memperluas pengetahuan, memperkaya kosakata, dan melatih kemampuan memahami gagasan yang kompleks. Pilihlah bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan tujuan belajar agar wawasan terus berkembang.

Secara filosofis, buku adalah jembatan menuju pengetahuan. Orang yang gemar membaca tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga belajar melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang.


2. Latih diri untuk bertanya dan mencari alasan

Jangan hanya menerima informasi apa adanya. Biasakan bertanya, "Mengapa hal ini terjadi?", "Apa buktinya?", dan "Apakah ada penjelasan lain yang lebih tepat?" Kebiasaan ini membantu memperkuat kemampuan berpikir kritis.

Secara filosofis, pertanyaan yang baik membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Pikiran yang kritis tidak mudah menerima sesuatu tanpa pertimbangan yang masuk akal.


3. Bedakan fakta, pendapat, dan dugaan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menerima banyak informasi. Belajarlah membedakan mana yang didukung oleh bukti, mana yang merupakan pendapat, dan mana yang masih berupa dugaan.

Orang yang mampu membedakan ketiganya akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kemampuan ini membuat pikiran lebih objektif dan tidak mudah dipengaruhi oleh informasi yang belum teruji.


4. Renungkan pengalaman dan belajar dari kesalahan

Setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, dapat menjadi sumber pembelajaran. Luangkan waktu untuk mengevaluasi apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

Secara filosofis, pengalaman yang direnungkan akan menjadi kebijaksanaan. Kesalahan bukan akhir dari perjalanan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki cara berpikir dan bertindak.


5. Berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda

Diskusi yang dilakukan dengan saling menghormati dapat memperluas cara berpikir. Mendengarkan pendapat yang berbeda membantu melihat persoalan dari sudut pandang yang mungkin belum pernah dipertimbangkan.

Secara filosofis, pencarian kebenaran berkembang melalui dialog yang terbuka. Orang yang cerdas tidak takut belajar dari orang lain, tetapi mampu menilai setiap gagasan dengan bijaksana.


6. Jaga kesehatan tubuh dan otak

Otak bekerja lebih baik ketika tubuh memperoleh istirahat yang cukup, makanan bergizi, aktivitas fisik yang teratur, dan waktu untuk memulihkan diri. Kesehatan fisik mendukung kemampuan belajar dan berkonsentrasi.

Secara filosofis, tubuh dan pikiran saling berkaitan. Menjaga kesehatan adalah bentuk tanggung jawab terhadap kemampuan yang telah dimiliki agar dapat digunakan secara optimal.


7. Gunakan ilmu untuk melakukan kebaikan

Kecerdasan akan mencapai makna yang lebih tinggi ketika digunakan untuk membantu orang lain, menyelesaikan masalah, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Pengetahuan yang tidak diterapkan akan kehilangan sebagian manfaatnya.

Secara filosofis, tujuan akhir dari kecerdasan bukan hanya mengetahui lebih banyak, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Ilmu yang dipadukan dengan karakter yang baik akan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.

Mengasah otak agar semakin cerdas dan berpikir kritis memerlukan latihan yang dilakukan secara konsisten. Membaca buku, bertanya dengan kritis, membedakan fakta dari pendapat, belajar dari pengalaman, berdiskusi secara terbuka, menjaga kesehatan, dan menggunakan ilmu untuk kebaikan merupakan langkah-langkah yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir.

Kecerdasan sejati bukan hanya terlihat dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menggunakan akal dengan jernih, hati dengan bijaksana, dan tindakan dengan penuh tanggung jawab. Ketika seseorang terus belajar, terus mencari kebenaran, dan terus berbuat baik, ia sedang membangun kehidupan yang lebih bermakna serta membawa manfaat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Sumber: Fb Ilmu Filsafat



Kamis, 06 Agustus 2026

,

Badiou: Filsuf yang Menolak Menyerah

Badiou


Ada satu jenis kesunyian yang kita kenal betul: kesunyian seseorang yang duduk di tengah sebuah seminar, atau sebuah acara bincang-bincang di layar kaca, mendengarkan orang-orang pintar bergiliran mengucapkan kata "kompleksitas" semacam deklarasi relativisme terhadap segala sesuatu dan  diam-diam ada orang ingin berdiri, menyela, mengatakan sesuatu yang di zaman ini terdengar hampir memalukan, bahwa ada yang benar, dan ada yang keliru.

Tentu saja ia tidak berdiri. Ia tahu, seperti kita semua tahu, bahwa kalimat semacam itu diucapkan begitu saja, tanpa tanda kutip, tanpa kualifikasi akan membuatnya terdengar seperti orang yang belum selesai membaca. Seperti orang yang lupa bahwa kebenaran, kata orang-orang pintar itu, selalu tergantung pada siapa yang bicara, dari mana ia bicara, dan bahasa apa yang ia pakai untuk bicara.

Filusuf Alain Badiou adalah orang yang berdiri.

Sejak Prancis tahun 1960-an, ketika ia masih muda dan dunia sedang gaduh oleh mahasiswa yang melempar batu ke arah masa lalu, sampai ke usianya yang hampir sembilan puluh sekarang, filsuf ini melakukan satu hal yang di kalangan sejawatnya nyaris dianggap tabu: ia terus bicara tentang kebenaran seolah-olah kata itu masih punya arti. Bukan kebenaranmu atau kebenaranku. Bukan kebenaran sebagai fungsi dari kekuasaan, atau efek dari wacana, atau sekadar nama lain untuk apa yang kebetulan disepakati orang banyak pada suatu masa. 

Melainkan kebenaran yang, dalam bahasa Badiou sendiri, datang menerobos yang memaksa dunia mengubah cara ia memandang dirinya.

Ia membayar harga untuk kekeraskepalaan ini. Sementara nama-nama seperti filusuf Derrida atau Foucault menjadi semacam mata uang yang beredar bebas di seminar-seminar sastra dan program studi budaya di seluruh dunia, nama Badiou lebih sering tinggal di pinggir dikutip oleh segelintir orang yang cukup sabar untuk mengikuti argumennya sampai ke ujung, yang sering kali panjang, berat, dan menolak untuk diringkas.

Peter Hallward, yang menulis buku paling tebal tentang dia dalam bahasa Inggris, memulai dengan sebuah pernyataan yang berani, karya utama Badiou, L'Être et l'événement, terbit 1988, adalah karya filsafat paling ambisius yang ditulis di Prancis sejak Sartre menulis Critique de la raison dialectique pada 1960. Di antara dua tanggal itu, hampir tiga puluh tahun, penuh dengan nama-nama besar tapi menurut Hallward tak satu pun yang berani mencoba apa yang dicoba Badiou: membangun sebuah sistem yang utuh, di zaman ketika kata "sistem" sendiri sudah dianggap sebagai dosa filsafat.

Kenapa orang seperti Badiou tak juga populer, padahal kata orang yang membacanya dengan serius ia mungkin filsuf hidup paling penting yang ditulis dalam bahasa Prancis?

Kita kira jawabannya sederhana, dan sedikit menggelikan, Badiou terlalu jujur untuk jadi populer.

Derrida bisa dipetik separuh-separuh. Kita bisa mengambil satu-dua istilahnya différance, dekonstruksi lalu memakainya untuk membongkar apa saja, dari iklan sampai undang-undang, tanpa harus membaca seluruh korpusnya. Foucault bisa jadi alat, sebuah cara membicarakan kekuasaan yang lentur, yang bisa ditempelkan ke topik apa pun. Tapi Badiou membangun sebuah bangunan. Dan bangunan tidak bisa dinikmati sepotong-sepotong; ambil satu ruangnya, dan yang tersisa hanya reruntuhan yang tak jelas maksudnya.

Ia sendiri tahu ini, dan tampaknya tidak keberatan. "Konsep-konsep filsafat harus dipahami secara perlahan," katanya suatu ketika. "Filsafat membutuhkan kesabaran." Ia bahkan, dengan agak jahil, sengaja membuat tulisannya berat bukan untuk mengusir pembaca, melainkan untuk mengusir pembaca yang tergesa-gesa. Ada perbedaan di situ, dan perbedaan itu, kita kira, adalah salah satu bentuk kesetiaannya yang paling konsisten.

Ia juga menolak masuk kubu mana pun yang tersedia. Bukan analis, bukan Heideggerian, bukan dekonstruksionis, bukan pula Marxis dalam pengertian lama yang gampang dikenali. Ia mengkritik Nietzsche dan Wittgenstein dengan tenaga yang sama besarnya dengan kritiknya terhadap Heidegger dan Derrida. 

Di dunia akademik yang, seperti dunia mana pun, suka pada label karena label memudahkan kita untuk berhenti berpikir, seseorang yang menampik semua label adalah seseorang yang sulit ditaruh di rak mana pun dan yang sulit ditaruh di rak, biasanya, dibiarkan berdiri sendiri di lorong.

Tapi ia bukan cuma filsuf kering yang menulis untuk filsuf lain. Ia menulis drama. Ia menulis novel. Ia turun ke jalan bersama gerakan Maois di Prancis pada usia muda, dan sampai sekarang masih ikut kampanye untuk hak-hak buruh migran. Ia mengagumi Mallarmé, mengagumi Beckett. Ia menguasai teori himpunan matematis bukan sebagai perhiasan intelektual, melainkan sebagai fondasi betul-betul fondasi dari cara ia memikirkan apa itu "ada". Filsafat, sastra, matematika, politik, bagi kebanyakan orang, empat dunia yang berbeda. Bagi Badiou, empat jalan menuju satu tujuan yang sama.

Ada satu pertanyaan yang, kalau kita boleh menebak, menghantuinya sepanjang hidup, dan yang ia kembalikan lagi dan lagi dalam berbagai buku dengan berbagai kosakata: bagaimana sesuatu yang benar-benar baru bisa masuk ke dalam dunia?

Bukan yang baru dalam pengertian mode baju baru, gawai baru, jargon baru yang menggantikan jargon lama tahun depan. Melainkan yang baru dalam pengertian yang lebih keras, sesuatu yang tak bisa diramalkan dari apa pun yang sudah ada sebelumnya, yang datang tanpa izin dari logika yang berlaku, dan yang, begitu datang, memaksa kita mengubah seluruh peta.

Bayangkan Prancis menjelang 1789. Berabad-abad, tatanan dunia disusun berdasarkan hierarki yang dianggap sealami hukum alam: raja di atas, rakyat di bawah, dan di antara keduanya sebuah tangga panjang hak yang diwariskan lewat darah. Tak ada dalam logika feodal itu tak satu inci pun yang bisa menyimpulkan bahwa petani dan raja, pada dasarnya, setara. Namun tiba-tiba gagasan itu ada. Liberté, égalité, fraternité. Ia tidak lahir dari perhitungan yang masuk akal dalam sistem lama; ia menerobos sistem lama, seperti kilat yang tak pernah bisa diramalkan cuaca sebelumnya.

Inilah yang oleh Badiou disebut l'événement atau peristiwa.

Dan pertanyaan berikutnya, yang menurut kita jauh lebih menarik daripada pertanyaan pertama: mengapa ada orang yang, setelah sebuah peristiwa terjadi, memilih untuk tetap setia padanya padahal peristiwa itu tidak menjamin apa-apa, tidak memberi bukti apa-apa, tidak menawarkan kepastian apa pun selain dirinya sendiri?

Mengapa Paulus, sesudah pengalamannya di jalan menuju Damaskus, tidak kembali saja ke kehidupan lamanya sebagai penyidik pengikut Kristus, melainkan menghabiskan sisa umurnya mengelilingi Mediterania untuk menyebarkan sesuatu yang belum tentu dipercaya siapa pun? Mengapa ada orang bersedia mati untuk sebuah gagasan yang, pada saat kematiannya, belum juga terbukti benar? Mengapa seorang ilmuwan mau mempertaruhkan seluruh kariernya pada sebuah hipotesis yang ditertawakan koleganya?

Jawaban Badiou, kalau kita tak salah tangkap, karena pada saat-saat itulah, dan hanya pada saat-saat itulah, manusia sungguh-sungguh menjadi subjek bukan sekadar individu yang menjalani hidupnya, mengikuti kebiasaan, menghitung untung-rugi, melainkan sesuatu yang bergerak dari kekuatannya sendiri, digerakkan bukan oleh kalkulasi, melainkan oleh apa yang ia sebut kebenaran.

Untuk mengerti kenapa ini penting, kita perlu mengerti apa yang sedang dilawannya.

Filsafat abad kedua puluh dalam tiga aliran besarnya yang tampak berbeda tapi diam-diam serupa, filsafat analitik yang lahir dari positivisme logis, hermeneutika yang berutang pada Heidegger, dan pascastrukturalisme ala Derrida serta Lyotard punya satu kesamaan yang jarang disebut orang, ketiganya, dengan cara masing-masing, menjadi sangat curiga pada kata "kebenaran". 

Ketiganya, dengan berbagai kosakata yang berbeda-beda kecanggihannya, sampai pada kesimpulan yang serupa: apa yang kita sebut kebenaran hanyalah konstruksi, konstruksi bahasa, konstruksi kekuasaan, konstruksi sudut pandang tertentu yang kebetulan sedang berkuasa.

Badiou menyebut ini sofisme dalam pengertian Platonis yang lama, filsafat yang melepaskan diri dari kebenaran dan menggantinya dengan opini, dengan retorika, dengan "apa yang berhasil" untuk sementara waktu, di tempat tertentu, bagi orang tertentu. Dan menurutnya, itulah yang sesungguhnya terjadi pada sebagian besar filsafat kontemporer, meski dibungkus kosakata yang jauh lebih rumit daripada sofisme Yunani kuno.

Ini bukan cuma soal akademik. Begitu "kebenaran" diturunkan derajatnya menjadi sekadar "perspektif", yang menang bukan lagi yang benar, melainkan yang paling pandai bicara. Yang menang adalah pasar opini dan pasar, seperti kita semua tahu dari pengalaman sehari-hari, tidak selalu memilih yang terbaik, melainkan yang paling ramai disukai.

Ada satu kisah kecil, yang dikutip Žižek, tentang dua seniman Soviet, Komar dan Melamid, yang pada awal 1990-an membuat survei besar-besaran: lukisan macam apa yang paling disukai orang Amerika? Jawabannya: pemandangan biru-hijau yang damai, dengan George Washington berjalan santai dan seekor rusa mengintip dari balik pohon persis seperti kalender murah yang tergantung di dapur. Dan lukisan yang paling tidak disukai? Sebuah komposisi abstrak yang tajam, mirip Kandinsky. Kalau selera mayoritas dijadikan ukuran keindahan, begitulah hasilnya: seni terbaik adalah seni yang paling tidak mengganggu siapa pun.

Badiou dalam filsafat, politik, seni, cinta menolak logika semacam ini sampai ke akar-akarnya. Baginya, justru hal-hal paling penting, paling nyata, paling benar, adalah hal-hal yang tak bisa diterima begitu saja oleh logika situasi yang sedang berlaku. Kebenaran, dalam pengertiannya, selalu muncul sebagai gangguan terhadap konsensus bukan hasil darinya.

Ini membawa kita pada gagasannya tentang subjek, yang barangkali paling orisinal di antara semua sumbangannya.

Dalam hidup sehari-hari, kita adalah individu: punya nama, kebiasaan, kepentingan, afiliasi produk dari keluarga, kelas, sejarah, kebetulan lahir di satu tempat dan bukan di tempat lain. Tak ada yang salah dengan ini. Tapi bagi Badiou, eksistensi semacam ini, betapapun sibuk dan penuhnya, belum menghasilkan apa yang ia sebut kebenaran.

Sekali-sekali, dalam hidup seseorang, terjadi sesuatu yang tak bisa diantisipasi, sebuah pertemuan, sebuah penemuan, sebuah momen ketika dunia lama tiba-tiba retak, sebuah karya seni yang memukul seperti petir di siang bolong. Sesuatu yang menolak dijelaskan dengan kosakata lama, yang tak mau dimasukkan ke laci mana pun yang sudah tersedia.

Di depan peristiwa semacam itu, kata Badiou, kita punya dua pilihan. 

Yang satu: menekannya, berpura-pura tak terjadi apa-apa, kembali ke rutinitas, pilihan yang, jujur saja, diambil oleh hampir semua orang, hampir sepanjang waktu. 

Yang lain: mengafirmasinya, menanggung konsekuensinya, mulai hidup berdasarkan peristiwa itu walau belum ada jaminan, walau dunia sekitar tak paham, walau kemungkinan gagal jauh lebih besar daripada kemungkinan berhasil.

Mereka yang memilih yang kedua itulah, bagi Badiou, subjek dalam pengertian penuh. Bukan karena mereka lebih pintar atau lebih baik dari yang lain, melainkan karena mereka setia pada sesuatu yang melampaui kepentingan mereka sendiri.

Paulus adalah salah satu contohnya. Sepasang kekasih yang memilih setia pada pertemuan yang rapuh dan tak terjamin, dan dari situ membangun kata Badiou sebuah "kebenaran berdua", sebuah cara memandang dunia yang tak mungkin ada seandainya hanya salah satu dari mereka yang ada. 

Ilmuwan yang keras kepala menggali hipotesis yang belum diterima siapa pun. Seniman yang setia pada satu jalur penemuan estetis meski pasar tak menghendakinya. Orang-orang yang turun ke jalan meski kemenangan masih jauh dari pandangan.

Semua ini, kata Badiou, adalah wajah-wajah berbeda dari satu struktur yang sama: subjek yang lahir dari kesetiaan.

Ia menyebut empat wilayah tempat kebenaran dalam pengertiannya yang keras ini bisa muncul: politik, cinta, sains, seni.

Dalam politik, contohnya bukan cuma revolusi-revolusi besar Prancis, Rusia, Tiongkok melainkan juga peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dan sering terlupakan: Intifada di Palestina, gerakan mahasiswa Burma 1988, perjuangan petani tak bertanah di Brasil. Semua saat ketika orang-orang yang sebelumnya tak terlihat dalam tatanan yang ada tiba-tiba menjadi aktor yang tak bisa diabaikan lagi.

Dalam cinta, peristiwanya adalah pertemuan itu sendiri yang tak bisa direncanakan, tak bisa dihitung sebelumnya, dan kebenarannya adalah proses panjang membangun sebuah dunia berdua dari sesuatu yang, pada mulanya, hanya kebetulan.

Dalam sains, peristiwanya adalah penemuan yang memaksa kerangka lama dibongkar bukan sekadar tambahan pada apa yang sudah diketahui, melainkan cara memandang yang harus dibangun dari nol. Einstein tidak menambal fisika Newton; ia memaksa kita membangun ulang gagasan tentang ruang dan waktu.

Dalam seni, peristiwanya adalah karya yang membuka kemungkinan baru dalam bentuk dan persepsi yang tidak sekadar indah menurut ukuran lama, melainkan yang memaksa kita mendefinisikan ulang apa itu keindahan.

Dan filsafat sendiri, kata Badiou dengan rendah hati yang jarang kita duga dari seorang pembangun sistem, tidak menghasilkan kebenaran apa pun. Filsafat hanya merenungkan apa yang terjadi ketika kebenaran-kebenaran itu muncul di keempat wilayah tersebut, dan mencoba merumuskan bagaimana caranya kita bisa setia padanya. Filsafat, katanya, selalu berdiri di bawah bayang-bayang peristiwa yang datang dari luar dirinya sendiri.

Dan sampailah kita pada satu titik yang, kita kira, paling menggigit untuk zaman kita.

Dunia hari ini terutama dunia yang menyebut dirinya progresif sangat percaya pada satu jargon: hak untuk berbeda. Setiap kelompok mengklaim haknya berdasarkan identitas partikularnya: jenis kelamin, ras, agama, orientasi. Dan cara paling ampuh memenangkan perdebatan adalah dengan membuktikan diri sebagai korban yang paling menderita.

Badiou tidak menyangkal adanya penindasan yang nyata. Tapi ia menolak kerangka ini, dan penolakannya tajam.

Pertama, karena politik identitas, betapapun ia terdengar radikal, sebenarnya bermain di dalam logika yang sama dengan tatanan yang ingin dilawannya. Ia tak mempertanyakan prinsip dasar sistem; ia hanya meminta sistem itu mengakui kelompoknya sebagai sah. Ia tak menuntut dunia baru; ia menuntut pengakuan dari dunia lama. Dan pengakuan semacam itu, kata Badiou, pada akhirnya hanya bisa diberikan oleh pasar pasar budaya, pasar representasi, pasar simpati.

Kedua, dan ini lebih dalam, politik identitas beroperasi di ranah perbedaan, bukan kebenaran. Ia menyusun manusia berdasarkan apa yang memisahkan mereka, bukan apa yang bisa menyatukan mereka. Dan karena itu ia tak pernah bisa menjadi dasar bagi sebuah politik yang benar-benar universal.

Yang kita butuhkan, kata Badiou, bukan hak untuk berbeda, melainkan hak untuk sama kesetaraan yang tak bergantung pada dari komunitas mana kita berasal, atau seberapa besar penderitaan yang bisa kita tunjukkan. Sebuah kebenaran politik sejati harus bisa bicara kepada semua orang, bukan hanya kepada "kita" yang sudah sekubu.

Kritik ini menggigit ke kanan dan ke kiri sekaligus. Dan siapa pun yang hidup di negeri ini, di mana afiliasi etnis, agama, dan daerah semakin menentukan siapa memilih siapa, tahu betul betapa relevannya kegelisahan itu. 

Bukankah kita juga menyaksikan, hampir setiap hari, bagaimana cara termudah memenangkan sebuah argumen adalah dengan mengklaim kelompok kita yang paling terzalimi? Bukankah "perbedaan" di negeri ini juga lebih sering jadi senjata pembelah daripada jembatan penyatu?

Sarjana Hallward menulis dengan sebuah kalimat yaitu tak ada filsuf yang lebih mendesak dibutuhkan zaman ini daripada Badiou. Kita hidup di masa yang sangat reaksioner, katanya masa ketika politik yang berani berimajinasi telah digantikan oleh manajemen ekonomi, ketika pasar global muncul sebagai satu-satunya cara yang tersisa untuk mengoordinasikan kehidupan bersama.

Dan alternatif yang tersedia bagi keterasingan itu? Hampir semuanya adalah variasi dari identitas: ultranasionalisme, fundamentalisme, tribalisme etnis semua menawarkan "komunitas" sebagai pelarian dari kesepian pasar, tapi komunitas yang dibangun di atas pengecualian, bukan pelukan.

Badiou menolak keduanya. Ia menolak pasar sebagai satu-satunya logika yang tersisa. Ia menolak identitas sebagai jawabannya. Yang ia tawarkan jauh lebih sulit, dan jauh lebih menuntut: filsafat sebagai latihan kesetiaan pada kebenaran pada momen-momen langka ketika sesuatu yang benar-benar baru menjadi mungkin, dan seseorang memilih untuk tidak berpaling darinya.

Ini bukan optimisme yang naif. Ia tak pernah bilang dunia sedang membaik, atau revolusi sudah di ambang pintu. Yang ia katakan lebih sederhana, peristiwa bisa terjadi kapan saja, di mana saja dalam politik, sains, seni, cinta. Dan begitu ia terjadi, kita selalu punya pilihan: mengabaikannya dan kembali ke rutinitas yang aman, atau mengafirmasinya dan menanggung seluruh akibatnya, betapapun beratnya itu.

Ada satu ironi kecil, yang menurut kita cukup indah, dalam cara Badiou memilih berkomunikasi.

Di zaman yang menuntut kecepatan ringkasan tiga menit, kesimpulan tanpa proses, kebenaran yang bisa dibaca sambil menunggu bus ia justru menulis lambat, berat, berputar-putar, dengan kosakata yang harus dipelajari pelan-pelan, seperti belajar bahasa asing di usia tua.

Ini bukan keangkuhan seorang intelektual yang ingin dianggap sulit. Ini adalah pernyataan filosofis itu sendiri, bahwa ada hal-hal yang tak bisa diringkas tanpa kehilangan intinya, sebagaimana sebuah lagu tak bisa dinyanyikan dengan setengah nada dan tetap disebut lagu yang sama. 

Bahwa kebenaran jenis kebenaran yang dibicarakan Badiou hanya bisa diraih lewat proses yang panjang dan sering melelahkan. Bahwa kesabaran, bukan kelincahan, bukan kepandaian merangkum, adalah syarat pertama bagi pikiran yang sungguh-sungguh berpikir.

Di dunia yang dipenuhi orang-orang yang merasa sudah paham sesudah membaca satu alinea pertama, mungkin gestur paling radikal yang tersisa bagi kita adalah sesuatu yang sederhana sekali, duduk, membuka buku yang berat, membacanya perlahan-lahan dengan keyakinan bahwa di suatu halaman, kelak, ada sesuatu yang akan menghantam kita, memaksa kita berpikir ulang, dan mengundang kita untuk setia pada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kita sendiri.

Itu, pada akhirnya, yang ditawarkan Badiou. Bukan jawaban yang gampang. Bukan peta jalan menuju kemenangan yang terjamin. Melainkan sesuatu yang mungkin lebih berharga daripada semua itu, keyakinan bahwa kebenaran masih mungkin, bahwa sesuatu yang benar-benar baru masih bisa terjadi kapan saja, dan bahwa kita siapa pun kita, betapapun kecilnya kita dalam sejarah bisa memilih untuk menjadi bagian dari peristiwa itu, alih-alih hanya menontonnya dari pinggir dan kemudian pulang.

Barangkali itu, dan bukan yang lain, satu-satunya alasan yang cukup untuk mulai membacanya.


Sumber: Fb


,

Camus tentang Topeng Manusia

Albert Camus


Di sebuah bar di Amsterdam, seorang pria bernama Jean-Baptiste Clamence bicara panjang lebar kepada orang asing. Dulunya, ia pengacara terhormat di Paris. Ia merasa dirinya nyaris sempurna. Suatu malam, saat berdiri di atas jembatan Seine, ia mendengar suara tawa di belakangnya. Tak ada siapa pun. Sejak itu, ia tak lagi percaya pada gambaran dirinya sendiri.

Kisah ini berasal dari novel pendek La Chute (The Fall) karya filusuf Albert Camus. Buku ini adalah pengakuan seorang lelaki yang sudah tidak peduli batas antara jujur dan bohong pada dirinya sendiri. Di tengah pengakuannya yang berliku, ada satu gagasan tajam: kadang lebih mudah memahami isi hati seorang pembohong, daripada memahami isi hati orang yang selalu berkata benar.

Ini bukan ajakan untuk berbohong. Camus ingin membongkar sesuatu yang lebih dalam: bahwa kejujuran sering hanya soal fakta. Dan fakta, seakurat apa pun, bisa menjadi topeng yang sangat rapi.

Bayangkan seseorang menceritakan harinya dengan lengkap dan akurat, jam berapa ia bangun, ke mana ia pergi, siapa yang ditemui, apa yang dibicarakan. Semua itu benar. Namun, bisa jadi Anda tetap tidak tahu apa yang sebenarnya ia takutkan, ia inginkan, atau ia benci. Fakta adalah permukaan yang tenang. Justru karena akurat, fakta tidak menimbulkan curiga. Di sinilah masalahnya, kebenaran faktual bisa menjadi tempat paling aman untuk bersembunyi.

Kebohongan bekerja dengan cara yang berbeda. Bohong selalu merupakan pilihan. Orang tidak memilih kebohongan secara acak. Dari banyak kemungkinan, ia memilih satu kebohongan tertentu. Pilihan itulah yang mengungkapkan sesuatu tentang dirinya.

Orang yang terus membual tentang kekayaannya, mungkin sedang mengaku bahwa ia haus pengakuan. Orang yang selalu menegaskan keberaniannya, mungkin sedang menyembunyikan rasa takut dianggap lemah. Orang yang bersikeras bahwa dirinya suci, bisa jadi paling sadar akan dosanya sendiri. Dengan kata lain, kebohongan adalah bentuk pengakuan yang tersamar. Ia tidak berbicara melalui klaimnya, tetapi justru melalui pilihannya. Dan karena itulah, ia membocorkan lebih banyak hal.

Clamence adalah bukti dari gagasan ini. Sepanjang novel, ia mencampur pengakuan dan dusta. Ia sendiri tampak bingung mana yang sungguh terjadi dan mana yang ia karang. Tetapi justru dari benang kusut antara fakta dan bohong itulah satu gambaran justru muncul dengan jelas, ia adalah lelaki narsistik, haus pujian, dihantui rasa bersalah, dan putus asa ingin dibenarkan oleh dunia yang ia rasa terus menghakiminya.

Fakta dalam ceritanya bisa saja meleset. Tapi watak aslinya tidak pernah benar-benar tersembunyi. Ini yang disebut Camus sebagai sandiwara yang kita mainkan untuk diri sendiri: kita menjadi hakim, terdakwa, sekaligus pembela yang paling lihai memelintir fakta demi menyelamatkan harga diri.

Ada satu perumpamaan lain dari novel ini: "Kebenaran itu seperti cahaya yang bisa membutakan, sedangkan kebohongan adalah cahaya senja yang indah." Ini gambaran yang tepat. Cahaya terlalu terang justru membuat kita tidak bisa melihat detail, karena silau. Sebaliknya, cahaya senja yang redup memaksa mata bekerja lebih keras untuk mengenali bentuk di balik bayangan.

Begitu pula dengan kebenaran. Pernyataan jujur yang terlalu gamblang sering membuat kita cepat puas. "Ia bilang begitu, berarti begitulah," pikir kita, lalu berhenti bertanya. Sebaliknya, sebuah kebohongan memancing rasa curiga. Dari rasa curiga itu, kita terdorong bertanya: "Mengapa ia berbohong tentang hal ini, dan bukan tentang hal lain?" Pertanyaan inilah yang justru membawa kita masuk lebih dalam ke dalam watak seseorang, melebihi ribuan fakta yang benar.

Gagasan ini selaras dengan pemikiran Freud. Bagi Freud, hal-hal yang "salah" seperti mimpi, salah ucap, atau candaan yang tidak sengaja, adalah celah di mana hasrat terpendam bocor. Yang salah secara logika sering kali paling benar secara psikologis. Seseorang yang tanpa sadar menyebut nama mantannya di depan pasangannya sekarang tidak sedang sengaja berbohong. Tapi "kesalahan" itu membongkar lebih banyak hal daripada permintaan maaf yang paling tulus sekalipun.

Camus memang bukan psikoanalis. Namun intuisinya lewat Clamence serupa: yang tidak akurat secara fakta, bisa jadi paling akurat dalam menggambarkan jiwa. Kebohongan Clamence bukan alat untuk menipu. Itu adalah caranya, tanpa sadar, memperlihatkan luka yang tak pernah sembuh: kesombongan yang rapuh, rasa bersalah yang tak selesai, dan dahaga tak berujung untuk dibenarkan.

Barangkali inilah sebabnya kita, hari ini, sangat piawai bercerita jujur secara fakta, namun sangat buruk dalam kejujuran yang sesungguhnya. Media sosial adalah panggung fakta-fakta akurat: foto ini benar di sini, makanan ini benar dipesan, perjalanan ini benar terjadi. Tak ada yang bohong secara data. Namun justru di situlah tirai paling tebal tergantung. Sebab kebenaran faktual, jika disusun dengan cermat, dapat menjadi kebohongan paling meyakinkan tentang siapa diri kita sebenarnya.

Seandainya Clamence hidup hari ini, ia mungkin akan menjadi pencerita paling fasih di media sosial. Jujur dalam setiap detail, dan justru karena itu, jati dirinya sepenuhnya tersembunyi.

Camus tidak memberikan jalan keluar yang rapi. Novel ini berakhir tanpa pertobatan. Clamence hanya terus bicara, malam demi malam, kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Barangkali itulah pesannya: menyadari kepalsuan diri sendiri bukanlah obat, melainkan hanya permulaan dari kejujuran yang sejati. Kejujuran yang jauh lebih sulit daripada sekadar tidak berbohong.

Yang tersisa bagi kita hanyalah sebuah kecurigaan yang berguna, orang yang paling meyakinkan kejujurannya, belum tentu paling terbuka jiwanya. Kadang, untuk benar-benar mengenal seseorang, kita perlu berhenti fokus pada "apakah yang ia katakan benar", dan mulai bertanya: "mengapa ia memilih kebohongan yang ini, dan bukan yang lain?"

Di sanalah, dalam cahaya senja yang tidak sepenuhnya terang, wajah asli seseorang sering kali baru benar-benar mulai terlihat.

Sumber: Fb

Rabu, 05 Agustus 2026

,

Žižek tentang Kebodohan Manusia di Zaman AI

Mengapa Kita Menjadi Semakin Bodoh?

Selamat Datang di Era Pasca-Manusia ala Slavoj Žižek


Dunia sedang tidak baik-baik saja tetapi bukan karena perang, inflasi, atau krisis energi yang biasa kita perbincangkan di televisi. Menurut filsuf paling unik hari ini, Slavoj Žižek, krisis yang kita hadapi jauh lebih dalam, krisis kemampuan manusia untuk berpikir sebagai manusia.

Di tengah euforia kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan jargon “kebebasan memilih”, Žižek justru mengajukan tesis yang terdengar seperti penghinaan kolektif, di interview terakhir dia, bahwa kita sedang menjadi semakin bodoh. Bukan karena kurang pendidikan, tetapi justru karena terlalu banyak teknologi yang berpikir menggantikan kita.

Žižek mengawali dengan data yang jarang dibicarakan secara serius, setelah puluhan tahun meningkat, rata-rata IQ global mulai menurun sejak sekitar tahun 2010. Fenomena ini dikenal sebagai reverse Flynn effect. Bagi Žižek, ini bukan kebetulan statistik, melainkan gejala kultural.

Masalahnya bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan otak, tetapi karena kita berhenti menggunakannya secara aktif. Kita menyerahkan kerja berpikir menulis, menilai, menyimpulkan kepada algoritma.

Dengan gaya khasnya yang menjijikkan sekaligus jenius, Žižek memberi analogi ekstrem, bayangkan sepasang manusia berkencan. 

Sang pria membawa vagina plastik, sang perempuan membawa dildo elektrik. Kedua alat itu disambungkan, dibiarkan “berhubungan”, sementara mereka duduk minum teh dan berbincang santai. 

Mesin yang berhubungan seks, manusia menonton.

“Itulah dunia intelektual kita hari ini,” kata Žižek.

ChatGPT menulis teks.

ChatGPT mengulas teks.

ChatGPT meringkas hasil ulasan.

Ini sudah terlihat mahasiswa memakai Ai untuk mengerjakan tugas, dosen memakai Ai untuk mengoreksi paper, dan pembaca merangkum hasil karya jurnal pakai Ai, bahwa segala hal kehidupan kita sudah terkonversi entah ke mesin atau algoritma.

Bahkan kita berhubung sex dengan mesin, misalnya melihat porno di alat elektronik ketimbang dengan sesama manusia.

Manusia tidak lagi menjadi subjek berpikir kita hanya menjadi penonton dari proses yang meniru kita. Di sinilah kebodohan baru lahir, bukan kebodohan karena tidak tahu, melainkan kebodohan karena tidak lagi perlu tahu.

Žižek lalu membongkar mitos paling sukses kapitalisme kontemporer, kebebasan kerja. Ekonomi digital tidak lagi menjual eksploitasi secara kasar, melainkan menjual perasaan menjadi bos bagi diri sendiri.

Pengemudi ojek online, kurir, freelancer, content creator semua diyakinkan bahwa mereka adalah “mitra”, bukan buruh. Mereka disebut wirausaha kecil yang memiliki “alat produksi” sendiri: motor, laptop, ponsel.

Padahal, menurut Žižek, inilah bentuk eksploitasi paling canggih. Ketika Anda percaya diri sebagai kapitalis kecil, Anda tidak lagi melihat perusahaan sebagai penindas. Anda justru melihat sesama pekerja sebagai pesaing. Solidaritas kelas runtuh sebelum sempat lahir.

Anda “bebas” memilih jam kerja tetapi secara ekonomi dipaksa bekerja 14–16 jam sehari. Anda “bebas” keluar dari sistem tetapi tidak punya tabungan untuk benar-benar keluar. Inilah kebebasan yang berubah menjadi penjara tanpa penjaga.

Sebagai pemikir kiri, Žižek tidak menolak feminisme atau perjuangan kesetaraan. Yang ia kritik adalah versi woke culture yang kehilangan sasaran materialnya.

Menurut Žižek, banyak perdebatan publik hari ini terjebak pada simbol, bahasa, gestur, representasi. Kita sibuk memperdebatkan kata ganti, etika humor, atau perilaku di pesta elite sementara horor struktural sehari-hari dibiarkan utuh.

Gerakan seperti #MeToo, misalnya, sering kali berputar di sekitar dunia selebritas, aktor, sutradara, produser. Padahal kekerasan dan penindasan paling brutal justru dialami oleh perempuan kelas pekerja: petugas kebersihan, buruh pabrik, sekretaris, pekerja rumah tangga mereka yang tidak punya pilihan ekonomi untuk melawan atau pergi.

Bagi Žižek, ideologi sejati bukan soal apa yang kita katakan di media sosial, melainkan siapa yang mencuci piring, siapa yang mengasuh anak, dan siapa yang tidak punya uang untuk meninggalkan pasangan yang abusif. Jika kritik tidak menyentuh praktik material ini, ia hanya menjadi moralitas kosong.

Di titik ini, Žižek menyerang dogma modern yang hampir tak tersentuh, pengejaran kebahagiaan. Baginya, tidak ada ide yang lebih merusak manusia daripada keyakinan bahwa hidup harus diarahkan untuk “bahagia”.

Manusia, kata Žižek, adalah makhluk yang secara struktural menyabotase kebahagiaannya sendiri. Kita tidak dirancang untuk puas. Maka, ketika kebahagiaan dijadikan tujuan langsung, hasilnya justru frustrasi, kecemasan, dan rasa gagal permanen.

Kebahagiaan, jika pun datang, seharusnya hanya menjadi produk sampingan dari keterlibatan mendalam pada sesuatu: kerja intelektual, perjuangan politik, cinta, atau panggilan hidup. Žižek mengaku hanya merasa mendekati kebahagiaan ketika menyelesaikan sebuah buku bukan ketika mencarinya secara sadar.

Dalam masyarakat yang memerintahkan kita untuk bahagia, ketidakbahagiaan dianggap sebagai kegagalan moral. Dan di situlah manusia benar-benar hancur.

Jika semua ini terdengar suram, Žižek belum selesai. Ia memandang teknologi seperti Neuralink yang dikembangkan Elon Musk bukan sebagai kemajuan netral, tetapi sebagai ancaman ontologis.

Ketika otak terhubung langsung dengan mesin, pertanyaannya bukan lagi soal privasi data, melainkan, siapa yang mengontrol pikiran itu sendiri? Jika sinyal digital bisa memengaruhi impuls neural, maka kebebasan berpikir fondasi etika modern bisa menjadi artefak sejarah.

Di titik ini, manusia bukan hanya dibantu oleh mesin, tetapi diperluas dan dikolonisasi olehnya. Kita memasuki era pasca-manusia, makhluk yang masih hidup secara biologis, tetapi kehilangan otonomi simbolik.

Bagi Žižek, filsafat tidak hadir untuk memberi solusi instan atau panduan hidup bahagia. Filsafat justru berfungsi sebagai gangguan, mengacaukan cara kita merumuskan masalah.

Sumber: Fb

TERBARU

MAKALAH