alt/text gambar

Jumat, 30 Oktober 2026

, ,

Penulisan Sejarah sama dengan Karya Sastra?

Bagi para pemikir dekonstruksionis, status penulisan sejarah disamakan dengan status karya sastra. Apa maksudnya? 

Bagi para pemikir dekonstruksionis (terutama dipengaruhi oleh pemikiran post-strukturalis seperti Jacques Derrida dan teori historiografi kritis seperti yang dikembangkan oleh Hayden White), menyamakan status penulisan sejarah dengan karya sastra berarti menyatakan bahwa sejarah bukanlah rekaman objektif yang murni mencerminkan "apa yang benar-benar terjadi," melainkan sebuah bentuk narasi fiksional/kreatif yang dikonstruksi menggunakan bahasa.

Berikut adalah poin-poin inti dari maksud pandangan tersebut:

1. Sejarah Dibangun Lewat Bahasa yang Tidak Stabil

Menurut perspektif dekonstruksi, bahasa tidak pernah secara transparan mewakili realitas yang objektif.

Kata-kata dalam teks sejarah mengalami pergeseran makna, bersifat tidak stabil (différance), dan selalu mengandung tafsir.

Karena sejarah hanya bisa diakses melalui teks atau tulisan, maka kebenaran sejarah tidak pernah lepas dari sifat bahasa itu sendiri—sama seperti sastra.

2. Peran "Plot" dan Imajinasi Sejarawan

Hayden White dalam karyanya menunjukkan bahwa ketika seorang sejarawan menulis sejarah, ia tidak sekadar menyusun fakta secara kronologis, tetapi memilih fakta, membuang sebagian lainnya, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita dengan plot (misalnya tragedi, komedi, romansa, atau satir).

Proses pembentukan plot, penggunaan kiasan (tropes), dan sudut pandang ini adalah keterampilan artistik/sastra, bukan semata-mata kalkulasi ilmiah yang kaku.

3. Runtuhnya Klaim "Objektivitas Mutlak"

Sejarah konvensional sering mengklaim memiliki objektivitas ilmiah yang terpisah dari karya fiksi.

Namun, bagi dekonstruksionis, klaim objektivitas itu adalah ilusi (metafisika kehadiran). Sejarah ditulis oleh subjek (sejarawan) yang memiliki latar belakang, bias politik, kelas sosial, dan kepentingan zamannya.

4. Sejarah sebagai Artefak Budaya/Narasi Kuasa

Karena statusnya disamakan dengan karya sastra, teks sejarah dibaca bukan sebagai "cermin masa lalu", melainkan sebagai artefak retoris.

Teks sejarah bekerja seperti narasi sastra: ia membangun ilusi kenyataan, mengatur tokoh-tokoh (pahlawan dan penjahat), serta seringkali dipakai untuk melegitimasi struktur kekuasaan tertentu yang sedang berkuasa.

***

Pemikir Dekonstruksionis: Status Penulisan Sejarah sama dengan Karya Sastra ?

Penyamaan ini mengandung beberapa arti mendasar:

1. Sejarah adalah sebuah bentuk "Teks" dan Narasi

• Tidak ada fakta mentah tanpa tafsir: Kaum dekonstruksionis memandang bahwa masa lalu yang mati tidak bisa "berbicara" sendiri. Agar menjadi sejarah, masa lalu harus disusun ke dalam bentuk bahasa, alur, plot, dan struktur narasi.

• Penggunaan Tropes dan Gaya Bahasa: Sejarawan—sama seperti novelis atau penyair—harus memilih sudut pandang, memilah data yang dimasukkan atau dibuang, serta merangkainya ke dalam bentuk plot (misalnya tragedi, komedi, romansa, atau satir). Sebagaimana dikemukakan teoretikus seperti Hayden White dalam Tropics of Discourse, penulisan sejarah tidak luput dari penggunaan kiasan (tropes) dan imajinasi sastrawi.

2. Bahasa yang Tidak Stabil dan Konsep Différance

• Berdasarkan pemikiran Jacques Derrida, bahasa tidak pernah secara transparan dan stabil mencerminkan realitas objektif.

• Makna dalam teks sejarah selalu bergeser, bersifat sementara, dan dipengaruhi oleh sistem tanda serta struktur retoris. Akibatnya, sejarah tidak pernah benar-benar menyajikan "kebenaran tunggal yang mutlak", melainkan salah satu bentuk konstruksi bahasa yang terbuka terhadap berbagai tafsir.

3. Kaburnya Batas antara Fakta (Sejarah) dan Fiksi (Sastra)

• Menyamakan sejarah dengan karya sastra bukan berarti menyatakan bahwa peristiwa Perang Dunia II atau Proklamasi itu khayalan belaka seperti novel fiksi. Namun, yang dimaksud adalah cara penyusunan dan pengemasannya menggunakan perangkat retorika yang serupa dengan fiksi.

• Sejarah diproduksi melalui pilihan subjektif pengarang, bias-bias ideologis, serta struktur kekuasaan zamannya, sama persis seperti bagaimana seorang sastrawan merancang sebuah cerita.


***


Sebagai tambahan, di bawah ini dilampirkan sebuah tulisan tentang pemikiran Hayden White tentang teks sejarah. Berikut tulisannya: 

Hayden White: Teks Sejarah sebagai Artefak Sastra

Dalam “Teks Sejarah sebagai Artefak Sastra”, Hayden White—seorang sejarawan yang bergerak di bidang kritik sastra—menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud dengan “meta-sejarah”. Upaya ini ditujukan untuk membantu pembaca memahami status epistemologis dari penjelasan sejarah, bentuk representasi sejarah, serta peran sejarah dalam pembentukan pengetahuan. 

White berpendapat bahwa narasi sejarah lebih erat kaitannya dengan sastra daripada dengan sains; bukan karena narasi sejarah bersifat fiktif, melainkan karena narasi sejarah menggunakan tropa (metafora, metonimia, sinekdoke, dan ironi) untuk menyusun peristiwa-peristiwa sejarah sedemikian rupa agar dapat dipahami oleh audiens. 

Menurut White, sejarawan melakukan “penyusunan ulang alur” (*re-emplotment*), pendeskripsian ulang, atau pengodean ulang atas peristiwa masa lalu, sehingga budaya kontemporer dapat memaknai masa lalunya. Dengan demikian, sejarah memiliki kemiripan dengan fiksi karena kedua genre tersebut menggunakan bahasa figuratif untuk membantu kita memahami realitas—dengan cara mempertentangkan atau mengumpamakannya dengan sesuatu yang dapat dibayangkan. Jadi, baik narasi sejarah maupun fiksi menggunakan strategi serupa dalam memaknai peristiwa masa lalu, terlepas dari apakah peristiwa tersebut nyata atau sekadar imajinasi. 

Argumen White memberikan kontribusi penting bagi historiografi karena argumen tersebut menyediakan sarana bagi sejarawan untuk mengembangkan kesadaran historis, dengan membantu mereka mengenali unsur-unsur fiktif dalam narasi sejarah yang mereka susun. 

Jauh sebelum James Berlin—yang berpendapat bahwa kita harus sadar akan landasan ideologis dalam setiap sejarah yang kita ciptakan—White menulis bahwa “pengenalan ini akan menjadi penawar yang ampuh terhadap kecenderungan sejarawan untuk terperangkap dalam prasangka ideologis; prasangka yang tidak mereka sadari sebagai ideologi, melainkan mereka anggap sebagai persepsi yang ‘benar’ mengenai ‘bagaimana segala sesuatu sebenarnya terjadi’. 

Sebagaimana dijelaskan oleh White, unsur ideologis merupakan unsur fiktif dalam wacana kita sendiri; oleh karena itu, dengan menyadari bagaimana mereka menggunakan trope (kiasan), sejarawan menjadi paham kapan mereka sedang melakukan langkah-langkah yang bersifat ideologis. Meskipun White tidak secara eksplisit menyebutkan retorika, saya ingin menambahkan bahwa dalam proses tersebut, sejarawan juga akan menyadari unsur-unsur retoris dalam karya sejarah mereka. Bagaimanapun, ketika kita sadar akan langkah-langkah ideologis yang kita ambil dalam wacana kita, kita sekaligus menjadi lebih piawai secara retoris. Dengan demikian, meskipun sejarah mungkin sangat erat kaitannya dengan sastra, sejarah juga sangat erat kaitannya dengan retorika. 

Walaupun poin ini mungkin tampak jelas bagi kita yang mendalami retorika, apakah semua sejarawan menganggap karya mereka sebagai sesuatu yang bersifat retoris? Bagaimana jadinya karya sejarah jika mereka menganggapnya demikian?

Menghubungkan sejarah dengan sastra bermanfaat bagi para sarjana retorika. Sebagaimana sejarawan harus mengembangkan kesadaran historis, demikian pula para sarjana di bidang kita. White menjelaskan bahwa “seperti sastra, sejarah berkembang melalui penciptaan karya-karya klasik—yang sifatnya tidak dapat disanggah atau dinegasikan—dan justru ketidaksanggahan inilah yang membuktikan sifat sastrawi dari karya-karya klasik dalam sejarah”. 

Seperti yang kita ketahui, kanon retorika kuno bersifat kuat namun terbatas. Dengan terbitnya karya-karya seperti *Reclaiming Rhetorica*, *Rhetoric Retold*, serta teks lain semisal *Rhetoric Before and Beyond the Greeks*, kanon retorika kuno perlahan mulai diperluas; namun secara umum, kita memahami sejarah bidang kita melalui teks-teks kanonik tersebut. Jika kita menganggap kanon sebagai narasi besar tentang sejarah retorika, tropa (kiasan) apa saja yang berperan dalam membentuk cara kita memandang masa lalu disiplin ilmu ini? *Mythos* (mitos) apa yang telah diciptakan? Apa yang dibayangkan? Apa yang nyata? Ideologi apa yang terlibat saat teks-teks kanonik ini diproduksi ulang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk diajukan dan ditelusuri karena, sebagaimana diingatkan oleh Kellnar, “kita tidak bisa benar-benar menggenggam realitas, tetapi kita bisa mengklaimnya—dan kita memang mengklaimnya—melalui retorika”. 

Oleh karena itu, kita sebenarnya tidak mengetahui realitas sejarah retorika yang sesungguhnya, meskipun kanon retorika seolah mengklaim bahwa kita mengetahuinya. 

“Rasa realitas yang dikonstruksi” inilah yang mengharuskan kita untuk mengembangkan kesadaran historis terhadap bidang kita sendiri. Dalam istilah White, kita perlu mengembangkan sebuah metasejarah retorika agar kita mulai mengakui, mengenali, dan memahami bagaimana serta mengapa sejarah disiplin ilmu kita dibentuk sedemikian rupa, siapa yang diuntungkan oleh narasi sejarah ini, dan siapa yang justru dirugikan olehnya.

Mengembangkan metasejarah dalam bidang kita merupakan hal yang penting, karena kita harus benar-benar sadar bahwa saat kita menulis ulang sejarah, kita juga menulis ulang masa kini. Atwill menjelaskan bahwa kanon—beserta teori dan metodologi—"menyertakan" nilai-nilai suatu komunitas disipliner, memperkuat status referensial komunitas tersebut dengan cara mereproduksi nilai-nilainya dan menegaskan praktik-praktiknya. Oleh karena itu, ketika kita menulis ulang sejarah, kita memasukkan nilai-nilai kontemporer, yang kemudian mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru dan mengembangkan wawasan baru. Nilai, keyakinan, pertanyaan, dan wawasan ini memandu penelitian kita serta cara kita menyajikan sejarah tersebut; dengan demikian, terciptalah sejarah baru, yang pada gilirannya melahirkan pemahaman baru tentang masa kini. 

Sebagaimana diingatkan oleh Berlin, saat kita menulis sejarah, kita juga menciptakan harapan dan visi untuk masa depan; dengan menulis ulang sejarah, kita pun menulis ulang masa depan kita. Dalam perspektif ini, sebagai sarjana retorika, kesadaran sejarah yang perlu kita kembangkan haruslah berfokus pada seperti apa masa kini dan masa depan yang ingin kita ciptakan bagi disiplin ilmu kita. Kita perlu membayangkan bagaimana disiplin ilmu kita akan berubah seiring dengan dimasukannya sejarah-sejarah alternatif ke dalam kanon. Bagaimana disiplin ini telah berubah sejauh ini? Bagaimana kita ingin disiplin ini berubah di masa depan? Kita juga harus mempertanyakan ideologi apa yang bekerja dalam bidang kita—serta dalam cara kita memandang diri sebagai sarjana—yang membuat kita berkeinginan (atau justru enggan) untuk menyertakan sejarah-sejarah alternatif ke dalam kanon yang sudah mapan, atau memberikan prioritas pada sejarah-sejarah tersebut saat kita mengajarkan retorika. Langkah-langkah ini pada akhirnya akan mengubah masa kini sekaligus masa depan kita. Argumen White sangat penting bagi studi retorika karena ia mengingatkan—bahkan menginspirasi—kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial tersebut; argumen ini membantu kita mengembangkan kesadaran sejarah, baik sebagai sebuah disiplin ilmu maupun sebagai sarjana secara individual.

Sumber: penelusuran Google,  dengan kata kunci: 

"apa yang dimaksud dengan bagi para pemikir dekonstruksionis, status penulisan sejarah disamakan dengan status karya sastra"?


, ,

BAHASA DAN MAKNA DALAM PERSPEKTIF JACQUES DERRIDA

Konsep Derrida berkisar pada gagasan bahwa bahasa pada dasarnya tidak teratur dan maknanya selalu berubah-ubah, sehingga mustahil bagi kita untuk memastikannya secara pasti. Dengan kata lain, makna bersifat tidak stabil, tidak menentu, bersifat sementara, dan terus-menerus tertunda. Dekonstruksi merupakan pendekatan intelektual yang muncul dari pemikiran postmodernis. Dekonstruksi menggunakan teori sosial untuk memahami sejarah. Bagi para pemikir dekonstruksionis, status penulisan sejarah disamakan dengan status karya sastra. 

Menilik gagasan Derrida mengenai bahasa, beliau memperkenalkan terminologi "diffĂ©rance" yang merupakan atribut bahasa yang terdiri dari "difference" atau perbedaan dan "defferal" yang berarti penundaan.  

Kedua hal tersebut ini mengacu pada karakteristik bahasa di mana makna dihasilkan melalui pembedaan suatu kata dari kata lain dalam suatu sistem tanda. Pada saat yang sama, makna terus-menerus dan tanpa batas waktu ditunda, terus-menerus mengalami penghapusan, dan hanya dapat dirasakan sebagian melalui kebuntuan atau kebuntuan dalam pemahaman. 

Derrida menekankan bahwa makna sebuah kata tidak terletak pada kata itu sendiri, tetapi pada bagaimana kata tersebut berbeda dari kata lain dalam bahasa. Menurut Derrida, diffĂ©rance merupakan konsep anarkis yang memungkinkan bahasa sebagai permainan penanda dan merupakan alternatif dan pelarian dari logika penanda transendental. 

Penekanan Derrida terdapat pada makna kata tidak terdapat pada kata itu sendiri tetapi pada hubungannya dengan kata lain. Sedangkan dalam deferral, tersirat bahwa makna selalu tertunda atau dipindahkan ke tanda selanjutnya dalam proses pemahaman makna sehingga makna tersebut bergerak kepada konsep selanjutnya pada jaringan tanpa batas. Sehingga terminologi diffĂ©rance menunjukkan bahwa makna yang terdapat pada sebuah bahasa dan teks selalu mengalami perubahan, penundaan dan pergerakan dalam proses pemahaman sehingga memunculkan konsep pemahaman yang tanpa akhir. 

Sumber: 

Natasha Constantin dan Fitzerald Kennedy Sitorus, "Dekonstruksi, Makna dan Bahasa dalam Perspektif Jacques Derrida", dalam Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media Sosial, Vol. 3, No. 3, Edisi September-Desember 2023.


Rabu, 28 Oktober 2026

, , ,

Dekonstruksi Jacques Derrida sebagai Strategi Pembacaan Teks Sastra

Jacques Derrida


Oleh: Marcelus Ungkang 

(Pendidikan Bahasa Indonesia-Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang. Email: ce.saja01@gmail.com) 


Abstrak: Artikel ini membahas dua masalah utama, yaitu (1) gagasan-gagasan kunci dekonstruksi Derrida dan (2) dekonstruksi sebagai strategi pembacaan teks sastra. Gagasan-gagasan kunci dekonstruksi adalah (1) differance, (2) tilas, (3) suplemen, (4) teks, (5) iterabilitas, (6) ketiadaan putusan, dan (7) diseminasi. Sebagai strategi pembacaan, dekontruksi berpijak pada asumsi dasar bahwa bahasa ditandai instabilitas, tidak ada metode yang bisa menafsirkan teks secara tuntas, dan ketakterbatasan kemungkinan pembacaan teks. Pola minimal tahapan pembacaan dekonstruksi adalah (1) rekonstruksi, (2) dekonstruksi, dan (3) reinskripsi. Kemungkinan hasil pembacaan dekonstruksi dapat berupa (1) invensi, (2) “yang lain”, atau (3) teks mendekonstruksi dirinya sendiri. 

Kata kunci: dekonstruksi, teks, derrida 

Sejak tahun 1960-an paradigma pembacaan teks sastra mengalami pergeseran. Salah satu tokoh kunci dari fenomena di atas adalah Jacques Derrida. Dalam The Cambridge Introduction to Jacques Derrida (Hill, 2007:1) dikatakan bahwa hanya sedikit filsuf seperti Derrida pada abad ke-20 yang secara radikal mentransformasikan pemahaman kita tentang tulisan, pembacaan, dan teks. Teks-teks Derrida, meski sangat brilian, tidak mudah dipahami karena kompleksitasnya. Bradley (2008:3), misalnya, menyebutkan sejumlah hambatan yang mungkin dialami pembaca ketika berhadapan dengan buku Derrida berjudul Of Grammatology. Pertama, teks tersebut menampilkan sejumlah pemikiran yang bagi pembaca era modern pun masih terasa sulit dipahami. Di satu sisi tulisan-tulisan Derrida mengandaikan pembaca memiliki pengetahuan dari sejumlah tradisi filsafat, seperti Hegel, Nietzche, Husserl, dan Heidegger. Di sisi lain tulisan-tulisan tersebut juga berkaitan dengan ranah keilmuan yang di Prancis disebut sebagai ‘human science’ (linguistik, psikoanalisis, dan antropologi) dan suatu aliran pemikiran yang disebut strukturalisme. 

Kedua, Derrida membicarakan gagasan-gagasan besar yang abstrak, tetapi cara Derrida membaca teks justru sebaliknya karena dilakukan sangat detail hingga ke hal-hal kecil. Hal tersebut tentu sangat melelahkan bagi pembaca ketika gagasan-gagasan abstrak dibicarakan terlalu spesifik. 

Selain dua faktor yang dikemukakan Bradley di atas, hal lain yang bisa menyulitkan pembaca memahami pemikiran Derrida adalah karena dekonstruksi itu sendiri dirancang Derrida sebagai sesuatu yang ada di dalam teks yang dibaca. Dekonstruksi tidak bekerja seperti teori atau metode yang diterapkan “dari luar” teks, tetapi bekerja seperti parasit yang hidup dari material dan sumber ekonomi teks yang dibaca”. Dekonstruksi, seperti yang ditegaskan Derrida (1976:24), selalu dilakukan dari dalam teks. 

“The movements of deconstruction do not destroy structures from the outside. They are not possible and effective, nor can they take accurate aim, except by inhabiting those structures . Inhabiting them in a certain way, because one always inhabits, and all the more when one does not suspect it. 

Operating necessarily from the inside, borrowing all the strategic and economic resources of subversion from the old structure, borrowing them structurally, that is to say without being able to isolate their elements and atoms, the enterprise of deconstruction always in a certain way falls prey to its own work”. 

“Gerakan dekonstruksi tidak menghancurkan struktur dari luar. Hal itu tidak mungkin dan tidak efektif, juga tidak bisa tepat sasaran, kecuali dengan mengambil tempat dalam struktur itu. 

Menempatinya seperti parasit: meminjam semua strategi dan sumber-sumber subversi ekonomi dari struktur lama secara struktural kemudian mendekonstruksinya”. 

Dekonstruksi sering dipahami secara keliru, misalnya, hanya sebagai bentuk penghancuran segala yang mapan. Kekeliruan tersebut disebabkan karena para pembaca tidak atau belum memahami dimensi etis dari dekonstruksi yang berusaha membuka diri kepada “yang lain”. Pembalikkan Derrida kepada etika secara tidak langsung mematahkan label nihilistik yang diberikan kepada dekonstruksi Derrida. 

Mengkaji strategi dekonstruksi dapat memberikan sumbangan berharga bagi dunia pendidikan, terutama tentang filsafat pendidikan bahasa Indonesia dan membaca kritis. Melalui gagasan tilas Derrida, misalnya, dapat dipelajari dimensi etis tentang “yang lain” dalam bahasa. Setiap kata, menurut Derrida, selalu mengandung tilas kata yang lain. Membaca kritis, dalam wawasan dekonstruksi Derrida, dengan demikian, adalah juga peristiwa etis, yaitu konstruksi identitas diri yang terus dibentuk melalui pertemuan dengan “yang lain” dalam bahasa. Oleh sebab itu, dengan memperhatikan berbagai uraian di atas, kajian ini berusaha membahas gagasan-gagasan kunci dekonstruksi Derrida dan dekonstruksi sebagai strategi pembacaan teks sastra. 


GAGASAN KUNCI DEKONSTRUKSI DERRIDA 

Gagasan-gagasan kunci dekonstruksi adalah (1) differance, (2) tilas, (3) suplemen, (4) teks, (5) iterabilitas, (6) ketiadaan putusan dan (7) diseminasi. Dalam dekonstruksi Derrida, hubungan antara gagasan kunci tersebut tidak bersifat hierarkis, melainkan sebagai jaringan subtitutif. Masing-masing gagasan kunci dijelaskan berikut ini. 

Differance 

Differance merupakan istilah yang dikemukakan Derrida (1976:23) dalam pembahasan tentang Saussure. Kata differance merupakan perpaduan kata “differing” yang berarti ‘berbeda’ dan kata ‘deferring’ yang berarti ‘menangguhkan’. Kata differance dikembangkan oleh Derrida dari kata Prancis diffĂ©rence. Kedua kata itu merupakan homofon yang tidak bisa dibedakan dalam pengucapan, tetapi hanya terlihat dalam tulisan, yaitu vokal “e” dan “a” (Wortham, 2010:36; Bradley, 2008:148). Hal tersebut dilakukan Derrida untuk menunjukkan keunggulan tulisan yang tidak terdapat dalam tuturan.

Differance merupakan gagasan kunci Derrida untuk menjelaskan instabilitas bahasa. Bahasa, dalam wawasan differance Derrida, disusun dari “perbedaan-perbedaan yang menunda makna atau koherensi mencapai suatu status stabil atau permanen. Struktur bahasa menurut Derrida adalah sesuatu yang dinamis atau senantiasa “bergerak” melalui proses perbedaan dan penundaan. Arti suatu tanda bergantung pada perbedaan dan penundaannya dengan relasi tanda lain dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain, suatu tanda tidak akan pernah mencapai makna secara penuh karena proses perbedaan dan penangguhan yang senantiasa berlangsung. 

Dalam aktivitas pembacaan, suatu teks dapat dibaca dalam berbagai konteks dan menghasilkan kemungkinan pembacaan yang tidak berhingga karena makna pasti dari teks selalu tertangguhkan. Dengan kata lain, makna teks, yang tidak kunjung hadir secara penuh, menunjukkan dirinya sebagai tilas (Hardiman, 2007:165; Green & Lebihan, 1996:215). 

Differance memiliki aspek spasial dan temporal. Mikics (2009:33) menjelaskan aspek spasial differance adalah pada jarak (gap) antara satu kata dengan kata lain, baik itu jarak dalam kamus atau dalam kompetensi seseorang. Kata “bulan” bagi orang umumnya akan jauh secara asosiatif dengan kata “kerupuk”, tetapi bagi seorang penyair kata “bulan” bisa dekat karena secara asosiatif bentuk dan warna bulan dekat dengan “kerupuk”. 

Aspek temporal differance adalah deret pemakaian kata dari waktu ke waktu yang membentuk makna linguistik. Tiap peristiwa khusus pemakaian bahasa akan memiliki hubungan, tetapi tiap peristiwa itu berbeda antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain, aspek diakronis berpengaruh pada arti suatu kata. Pada bagian ini, menurut Mikics, dapat dilihat bahwa Derrida meninggalkan Saussure yang mengutamakan aspek sinkronis dari bahasa. 

Tilas (Trace) 

Istilah “trace” atau “tilas” Derrida memiliki kaitan dengan konsep tanda Saussure. Menurut Derrida relasi tanda, baik melalui perbedaan maupun penangguhan, membuat setiap tanda selalu mengandung “tilas” tanda lain. Suatu tanda tidak pernah benar-benar memiliki arti pada dirinya sendiri, kecuali dalam hubungan dengan tanda-tanda “yang lain”. 

Derrida (1976:65) mengatakan “The trace is in fact the absolute origin of sense in general. Which amounts to saying once again that there is no absolute origin of sense in general. The trace is the difference… “ (‘Tilas, pada kenyataannya, adalah asal absolut dari arti secara umum. Sama dengan mengatakan, sekali lagi, bahwa tidak ada asal absolut bagi arti secara umum. Tilas adalah perbedaan…’). Tidak ada tanda yang memiliki arti secara otonom sebab tilas dari tanda lain selalu menjadi bagian yang menyatu di dalam identitas-diri dari suatu tanda. 

Dalam konteks bahasa, arti dari suatu konstruksi kalimat juga ditentukan oleh medan asosiatif atau sumbu paradigmatik dari kata-kata yang tidak hadir. 

Dengan kata lain, yang hadir ditentukan yang tidak hadir. “Tilas” dari tanda-tanda lain akan selalu membayangi suatu tanda. 

Suplemen

Suplemen berasal dari bahasa Prancis “supplement” yang berarti ‘suatu tambahan’ dan ‘suatu subtitusi’ (Johnson, 1981: xiii). Rousseau menggunakan kata “suplemen” ini untuk menjelaskan tentang “tulisan”. “Tulisan” adalah suatu tambahan karena yang utama adalah “tuturan” sekaligus sebagai suatu “subtitusi” karena karena ketidakhadiran sang penutur atau pengarang digantikan oleh aksara atau tulisan. 

Derrida menegaskan bahwa semua bahasa pada dasarnya adalah “tulisan”. Hal berarti bahwa segala aktivitas bahasa kita, termasuk tuturan, tidak pernah bersifat langsung karena diperantarai oleh medium, yaitu tanda-tanda. Suplemen, dengan demikian, tidak hanya berlaku untuk “tulisan”, tetapi juga untuk “tuturan”. 

Menurut Derrida proses suplementasi ini akan terus berlangsung dalam bahasa karena sejak awal suatu tanda tidak cukup-diri (incomplete). Selalu ada proses penambahan dan penggantian pada tanda-tanda bahasa. Proses penambahan atau penggantian tersebut tidak berarti bahwa ada “yang asli”, tetapi karena “The supplemental difference within language oscillates between nostalgia for lost unities and a joyful embrace of their loss” (Castle, 2007:80).

Teks 

Pernyataan Derrida (1976:158) yang penting tentang teks adalah “there is no outside-text” (‘tidak ada yang di luar dari teks’ atau ‘semuanya ada dalam teks’). Pernyataan tersebut, menurut Bradley (2008:112), seringkali sering kali disalahpahami sebagai penjara bahasa. Dengan kata lain, pernyataan Derrida tersebut diartikan seolah-olah hanya bahasa satu-satunya realitas yang eksis. 

Hal yang dimaksud Derrida dalam pernyataan “there is no outside-text” adalah petanda transendental (baca: pengarang) teks. Suatu pembacaan menurut Derrida (1976:158) “it cannot legitimately transgress the text toward something other than it, toward a referent (a reality that is metaphysical, historical, psychobiographical, etc.) or toward a signified outside the text whose content could take place, could have taken place outside of language, that is to say, in the sense that we give here to that word, outside of writing in general.”

Diseminasi dan Ketiadaan Putusan 

Derrida melangkah lebih jauh dari konsep polisemi dalam teks sastra dengan memaparkan gagasan diseminasi atau persebaran makna. Makna bagi Derrida tidak terpaut pada satu petanda seperti pada konsep Saussure. Makna bersifat temporer karena relasi antartanda yang menyusun bahasa tidak statis. Gagasan diseminasi Derrida dapat dipahami dengan memperhatikan langkah-langkah yang ditunjukkan Tyson (2006: 259) berikut ini. (1) Tulislah berbagai jenis interpretasi-baik istilah kunci, asumsi-asumsi, logika, dan lain-lain yang ditawarkan teks. (2) Tunjukkan bagaimana interpretasi-interpretasi tersebut berkonflik antara satu dengan yang lain. (3) Tunjukkan bagaimana konflik tersebut terus menghasilkan interpretasi-interpretasi lain, yang juga menghasilkan konflik, yang kembali menghasilkan intepretasi-interpretasi. (4) Gunakan langkah 1, 2, dan 3 untuk menyatakan bahwa teks tersebut tidak bisa dirumuskan dalam satu pengertian (undecidability). 

Lebih lanjut Tyson mengungkapkan bahwa istilah “undecidability” (‘ketiadaan putusan’) disini tidak berarti bahwa pembaca tidak bisa menetapkan makna yang dipilihnya. Akan tetapi, ketiadaan putusan memiliki arti bahwa teks dan pembaca tidak terpisahkan dari ikatan diseminasi (persebaran) makna bahasa. Makna tertentu adalah hanya “momen” dari makna yang memberikan jalan, yang tidak terhindarkan, kepada makna lainnya. Dalam praktik pembacaan Derrida ketidaanputusan juga disebabkan oleh differance, yaitu penangguhan dalam memutuskan “yang ini” atau “yang itu”. Berbagai pilihan yang telah tersedia ditangguhkan untuk membuka peluang bagi kemunculan “yang lain”.

STRATEGI DEKONSTRUKSI

Asumsi Pembacaan Dekonstruksi 

Sebagaimana umumnya teori-teori membaca, dekonstruksi Derrida juga berangkat dari sejumlah asumsi tertentu. Simm (1999:30-32) mengungkapkan bahwa pembacaan dekonstruksi Derrida berpijak pada tiga asumsi sebagai berikut. Pertama, bahasa secara tidak terpisahkan ditandai oleh ketidakstabilan dan ketakberhinggaan makna. Bahasa bagi Derrida bukanlah struktur yang statis, melainkan struktur yang senantiasa dalam proses. Bahasa bagi Derrida bukanlah sesuatu yang “terstruktur”, melainkan “menstruktur”. “Terstruktur” memiliki arti bahwa bahasa memiliki pola-pola tertentu yang ajeg atau memiliki kemantapan. Derrida menolak hal tersebut dengan menunjukkan bahwa bahasa disusun dari relasi perbedaan dan penundaan yang berlangsung secara terus-menerus. Suatu penanda, bagi Derrida, hanya menunjuk kepada penanda-penanda lain. Ketika suatu penanda tidak memiliki logos (petanda, makna) yang mantap peluang ke arah permainan teks menjadi lebih terbuka. 

Kedua, instabilitas dan ketakberhinggaan yang demikian membuat tidak ada metode analisis (seperti filsafat atau kritisisme) bisa memiliki klaim istimewa untuk menguasai segala hal yang berhubungan dengan interpretasi tekstual. Instabilitas bahasa juga merupakan satu alasan mengapa suatu teks berpotensi untuk menghasilkan pembacaan yang beragam. Instabilitas bahasa dan makna bukan hanya milik sastra, tetapi juga dalam teks-teks filsafat yang sering disebut sangat rigour (ketat). Contoh teks yang sangat rigour misalnya teks-teks fenomenologi Husserl. Dalam teks Husserl, Derrida menunjukkan bagaimana teks tersebut membawa sesuatu yang sebenarnya justru ingin ditolak oleh Husserl. Dengan kata lain, teks tersebut berbalik melawan logika yang dibangunnya sendiri. 

Ketiga, konsekuensi dari tidak adanya klaim istimewa yang bisa menguasai pembacaan makna maka interpretasi tekstual kemudian adalah suatu aktivitas tanpa batas (freeranging) yang lebih dekat kepada permainan daripada analisis sebagaimana umumnya istilah interpretasi dipahami. 

Sasaran Pembacaan Dekonstruksi dalam Teks Sastra 

Secara umum sasaran pembacaan dekonstruksi dapat dipetakan atas tiga hal, yaitu oposisi biner, “blind spot”, dan kontradiksi internal teks. Adapun tiga hal tersebut dijelaskan berikut ini. 

Oposisi biner 

Dalam oposisi biner salah satu unsur diistimewakan, sedangkan unsur lain dimarginalkan. Dua unsur dalam tersebut juga disusun berdasarkan batas-batas tertentu yang membuat dua unsur tersebut terpisah. 

Oposisi biner yang digugat Derrida dalam bahasa, misalnya, antara “tuturan” dan “tulisan”. “Tuturan” lebih diutamakan karena dinilai lebih asli daripada “tulisan” yang merupakan representasi dari tuturan. 

Oposisi biner berperan penting dalam metafisika untuk menciptakan kestabilan struktur. Salah satu unsur harus menjadi pusat, sedangkan unsur lain berstatus sebagai pelengkap yang menegaskan pusat tersebut. Dalam karya sastra, misalnya novel atau cerpen, oposisi biner sering menjadi kerangka yang menopang struktur cerita. Ada tokoh antagonis-protagonis, kebaikan-kejahatan, tuan rumah-tamu, dan sebagainya. Berbagai oposisi biner dalam teks yang dibaca dapat menjadi fokus pembacaan dekonstruksi. 

Wilayah Terselubung 

Setiap pengarang memiliki “blind spot” atau “wilayah terselubung” dalam teks yang dibuatnya. Hal tersebut tidak disebabkan oleh alasan, misalnya, karena pengarang kurang cerdas atau tidak cermat dalam menyusun teksnya. Bagi Derrida, penyebab suatu teks berisi “wilayah terselubung” karena sifat dasar bahasa itu sendiri yang tidak sepenuhnya dapat dikontrol atau dikuasai oleh seorang pengarang. Tanda-tanda dalam teks dapat menyusun pola-pola hubungan baru yang berbeda dari intensi pengarang. 

Selalu ada jarak atau retakan antara intensi pengarang dengan teks yang dihasilkan. Hubungan antara pengarang dengan teks tidak pernah bersifat langsung, tetapi dimediasi oleh bahasa. Medium bahasa itu sendiri tidak bisa dibayangkan seperti cermin yang memantulkan secara sempurna pikiran dan perasaan sang pengarang. Bahasa memiliki otonomi yang dapat terlepas dari logos sang pengarang. 

“Wilayah terselubung” juga dapat dilihat sebagai hal yang direpresi atau sisi tak-sadar dalam teks. Pandangan-pandangan seperti itu muncul ketika otoritas kepengarangan dalam pemaknaan teks mulai dikritisi. 

Meski demikian, ada sebuah catatan penting yang harus digarisbawahi ketika melakukan pembacaan dekonstruktif bahwa “wilayah terselubung” adalah bagian dari struktur itu sendiri. “Wilayah terselubung” bukanlah sesuatu yang dibawa dari luar teks seperti menunjukkan hal yang kurang dari suatu karya.

Kontradiksi Internal Teks 

Suatu teks sastra yang telah selesai ditulis cenderung dipandang sebagai suatu konstruksi tanda yang telah final atau statis. Pandangan seperti itu memiliki kesejajaran dengan pandangan strukturalisme Saussure yang melihat bahasa sebagai suatu yang “terstruktur” atau stabil. Dalam teks sastra tersebut juga terdapat kebenaran dan tugas pembaca adalah menemukan kebenaran tersebut. Suatu analisis kemudian dikatakan berhasil bila pembacaan telah menemukan hal yang dianggap sebagai esensi atau petanda transendental dari karya tersebut. Esensi yang bersifat transenden disebut Derrida logosentrisme karena kegiatan pembacaan diarahkan untuk menemukan pusat makna tertentu yang telah ada. 

Melalui differance, Derrida menunjukkan bahwa selalu ada kontradiksi dalam bahasa karena (1) gerak perbedaan dan penangguhan yang senantiasa berlangsung antar tanda, (2) tanda tidak pernah cukup diri sehingga proses penambahan dan subtitusi (suplementasi) akan selalu terjadi, (3) makna bahasa menyebar (diseminasi), sehingga (4) makna suatu kata tidak selalu bisa diputuskan (undecidability). Stabilitas makna teks adalah sesuatu yang sifatnya temporal dan spasial. Setiap usaha untuk menautkan suatu penanda (teks) dengan satu petanda (makna) transendental (mengatasi ruang-waktu) tidak akan tercapai. 

Barry (2010:86) menunjukkan contoh kontradiksi internal, misalnya pernyataan dalam puisi Dylan Thomas yang berbunyi ‘After the first death there is no other’. Jika ada yang pertama, maka berarti ada yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. 

Frasa ‘the first death’ berkontradiksi dengan frasa ‘there is no other’. Sesuatu disebut berkontradiksi jika tidak ada konsistensi proposisi (Martinich, 2005:40). 


Pola Minimal Tahapan Dekonstruksi 

Rekonstruksi 

Hal yang perlu digarisbawahi rekonstruksi yang dilakukan dalam perspektif dekonstruksi Derrida tidak bertujuan untuk mengembalikan teks kepada yang asli atau kepada kondisi asal, melainkan “what deconstruction attempts to do is to articulate theoften hidden or repressed-conditions according to which it is possible for any structure to be constituted in the first place.” (Bradley, 2008:43). Rekonstruksi merupakan wujud praksis dari pilihan filosofis Derrida untuk mendekonstruksi teks dari dalam. 

Melalui rekonstruksi diungkapkan logika “dominan” yang ada dalam teks. Kata kunci untuk proses ini adalah “pengulangan”. 

Setelah merekonstruksi teks akan terungkap kondisi teks baik struktural maupun logika yang bekerja di dalamnya. Dalam proses rekonstruksi tersebut juga dikemukakan konteks asli dan konteks resepsi dominan atas teks tersebut (Crathley, 2008:3). Konteks resepsi dominan perlu dikemukakan karena cara suatu teks dibaca juga dipengaruhi oleh apa yang disebut Culler (2001:139) sebagai “common procedures of reading”. Menurut Culler kegiatan membaca memiliki dimensi sosial di dalamnya. Green & LeBihan (1996:187) menyebut pandangan Culler di atas sebagai “komunitas baca” (‘reading community’). Dalam esai Malna (1999:99), misalnya, disebutkan bahwa sajak “Aku” karya Chairil Anwar lebih banyak ditafsirkan hanya dalam kerangka nasionalisme dan eksistensialisme. Resepsi dominan yang berlangsung lama atas suatu teks membuat teks sajak “Aku” tersebut seolah hanya bisa dibaca dengan cara itu atau telah mencapai finalitasnya dari segi tafsir. 


Dekonstruksi 

Kata kunci untuk proses ini adalah “kontaminasi”. Proses dekonstruksi dilakukan dengan cara menunjukkan kontaminasi atau kesalingtergantungan antara dua unsur dalam oposisi biner yang menjadi fokus pembacaan. Kontaminasi tersebut juga dapat dilakukan dengan melacak tilas unsur dalam oposisi biner secara historis seperti yang dilakukan oleh J. Hillis Miller. Miller (Castle, 2007:82) secara brilian mengatasi oposisi antara “host” dan “parasite” dengan melacak tilas (trace) kata secara etimologis. Kata “parasite” ditunjukkan Miller secara detail berasal dari akar kata yang sama, yaitu “host”. Pengaktifkan dimensi historis atau diakronis dari suatu tanda merupakan bagian dari cara kerja “tilas” yang dibuat Derrida. 

Cara tersebut memang berbeda dengan strukturalisme Saussure yang mengutamakan dimensi sinkronis dari tanda. 

Cara lain melakukan dekonstruksi adalah dengan menggunakan gagasan-gagasan kunci dekonstruksi. Melalui gagasan-gagasan kunci tersebut relasi hierarkis antar unsur dalam teks secara sistematis saling mengontaminasi. Dengan kata lain, proses destablisasi atas struktur teks terjadi pada proses ini. 

Teks mengalami krisis. Pada momen krisis tersebut ditampilkan “logika lain” atau unsur “baru” yang tidak dapat dikembalikan kepada relasi hierarkis sebelumnya. Krisis dalam wawasan dekonstruksi lebih diartikan sebagai peluang bagi kemunculan “yang lain” daripada chaos. “Logika lain” atau unsur “baru” tersebut, harus berasal dari material dan sumber ekonomi dalam teks itu sendiri. Secara kiasan, pembacaan tersebut seperti parasit yang makan dari daging teks sembari menelurkan hal-hal kritis dalam teks itu. 

Contoh proses dekonstruksi dengan menggunakan gagasan kunci differance, misalnya menangguhkan hubungan penanda dari petandanya dalam teks. Penanda tersebut kemudian dikaitkan dengan penanda-penanda lain dengan memainkan perbedaan-perbedaan yang merupakan unsur konstitutif bagi identitas tanda. Pada proses tersebut terjadi proses pengulangan tetapi sekaligus menghasilkan perbedaan karena penanda-penanda lain yang tidak hadir (baca: dari sumbu asosiatif atau paradigmatik) terus membuat suatu penanda melampaui batasan dirinya sendiri. 


Reinskripsi 

Pada praktiknya, proses reinskripsi sesungguhnya sudah berlangsung ketika proses dekonstruksi. Kata kunci untuk proses ini adalah “produksi”. Reinskripsi merupakan langkah penting untuk mencapai invensi dalam pembacaan dekonstruksi (Derrida, 1992:316). Teks sebagai jaringan tanda disusun kembali dengan menampilkan “logika lain”, “pesan lain”, atau “teks lain” yang telah dibuka sebelumnya. 


Hasil Pembacaan Dekonstruksi 

Invensi 

Salah satu hasil pembacaan dekonstruksi menurut Derrida adalah invensi. Derrida (1992:312) mengungkapkan bahwa “An invention always presupposes some illegality, the breaking of an implisif contract; it insert a disorder into the peaceful ordering of things, it disregards the proprieties ‘suatu invensi selalu mengandaikan semacam ilegalitas, pelanggaran suatu kontrak implisif; invensi memasukkan suatu ketidakteraturan ke dalam tatanan harmoni berbagai hal, invensi mengabaikan hal umum yang dianggap benar’. Lebih lanjut Derrida mengatakan “There is no natural invention-and yet invention also presupposes originality, a relation to origins, generation, procreation, genealogy, that is to say, a set of values often associated with genius or geneality, thus with naturality.” 

Derrida (1992:317) mengatakan “… for an invention to be an invention, to be unique (even if the uniquess has to be repeatable), it is also necessary for the first time, this unique moment of origin, to be a last time: archaeology and eschatology acknowlodge each other here in the irony of the one and only instant.” Pernyataan ini dapat dipahami dengan gagasan Derrida tentang bahasa dan pengulangan, yaitu iterabilitas. Iterabilitas berarti pengulangan yang menghasilkan perbedaan. Reinskripsi menyusun kembali teks tetapi tidak dalam rangka mengembalikan teks kepada “teks-asli”. 

Suatu invensi tidak dimulai dari kekosongan sebab invensi mengandaikan adanya suatu asal atau silsilah. Invensi adalah penemuan kembali teks yang dibaca secara baru. Akan tetapi, invensi tidak mereproduksi teks-asli karena differance dan iterabilitas tidak memungkin pengulangan yang sama persis. Invensi lebih tepat dilihat sebagai hasil dari penangguhan dan pengulangan yang menghasilkan perbedaan. 


“Yang Lain” 

Selain sastra, hal yang secara konsisten dibicarakan Derrida adalah tentang “yang lain”. Bradley (2008:138) mengatakan bahwa bagi Derrida “identitas diri kita, subjektivitas atau arti diri sebenarnya dan sesungguhnya dikonstitusi oleh suatu relasi dengan “yang lain” yang secara potensial jumlahnya tidak berhingga.” Dalam konteks pembacaan teks sastra, “yang lain” bukanlah sesuatu yang berasal dari luar teks, tetapi berasal dari dalam teks itu sendiri. 

Derrida dalam wawancara dengan Attridge (1992:48) mengatakan: No doubt all language refers to something other than itself or to language as something other (‘Tidak diragukan lagi semua bahasa mengacu kepada sesuatu yang lain dari dirinya sendiri atau bahasa sebagai sesuatu yang lain). Setiap tanda yang mengkonstruksi suatu teks selalu membawa “yang lain” sebagai hal yang konstitutif bagi identitasnya.Dengan kata lain, Derrida (Royle, 2003:64) memandang teks sebagai jaringan perbedaan atau pabrik tilas yang terus-menerus mengacu kepada sesuatu yang bukan dirinya. Dalam konteks pembacaan, “yang lain” tidak selalu berupa subjek atau manusia, tetapi juga dapat berupa “other logic” atau “other message” yang sebenarnya berusaha dieliminasi atau ditolak oleh suatu teks. 


Teks Mendekonstruksi Dirinya Sendiri 

Hasil akhir dari pembacaan dekonstruksi adalah teks mendekonstruksi dirinya sendiri. Teks mendekonstruksi dirinya sendiri dapat terjadi dalam (kombinasi) kemungkinan-kemungkinan berikut. Pertama, dua unsur yang diletakkan dalam relasi oposisi biner ternyata saling mengontaminasi. Batas-batas yang membentuk identitas dan memisahkan kedua unsur dalam teks sastra tidak bisa dipertahankan lain. Pada peristiwa pembacaan tertentu hasil dari kontaminasi antara dua unsur membuat suatu istilah tidak bisa diputuskan, misalnya “pharmakon” dalam teks Plato tidak bisa diputuskan artinya apakah ‘memperbaiki’ (baca: sebagai obat) atau sebagai ‘racun’ karena secara etimologis kata tersebut memang mengandung kedua arti tersebut dan saling kelindan dalam teks. 

Kedua, munculnya “yang lain” dari “wilayah terselubung” baik berupa “logika lain”, “pesan lain”, atau “makna lain” yang membuat teks menjadi tidak stabil. “Yang lain” dapat mengubah makna teks secara keseluruhan atau teks berbalik melawan intensi dari sang pengarang. 


SIMPULAN & SARAN 

Simpulan 

Mencermati kompleksitas gagasan dan praksis pembacaan dekonstruksi, disimpulkan bahwa strategi pembacaan dekonstruksi dikategorikan ke dalam jenis pembacaan tingkat advanced. Gagasan-gagasan kunci dekonstruksi adalah (1) differance, (2) suplemen, (3) tilas, (4) ketiadaan putusan, (5) diseminasi, dan (6) iterabilitas. Masing-masing gagasan kunci tersebut beroperasi sebagai jaringan subtitutif dalam pemikiran Derrida. Dengan kata lain, tidak ada gagasan kunci yang menempati posisi sebagai “gagasan induk” bagi gagasan-gagasan lain. 

Strategi dekonstruksi berangkat dari tiga asumsi mendasar. Pertama, bahasa secara tidak terpisahkan ditandai oleh ketidakstabilan dan ketakberhinggaan makna. Kedua, instabilitas dan ketakberhinggaan yang demikian membuat tidak ada metode analisis (seperti filsafat atau kritisisme) bisa memiliki klaim istimewa untuk menguasai segala hal yang berhubungan dengan interpretasi tekstual. Ketiga, konsekuensi dari tidak adanya klaim istimewa yang bisa menguasai pembacaan makna maka interpretasi tekstual kemudian adalah suatu aktivitas tanpa batas (freeranging) yang lebih dekat kepada permainan daripada analisis sebagaimana umumnya istilah interpretasi dipahami. 

Hal yang disasar dalam pembacaan dekonstruksi adalah oposisi biner, “wilayah terselubung”, dan kontradiksi internal teks. Pola minimal strategi dekonstruksi dilakukan dalam tiga tahap, yaitu rekonstruksi, dekonstruksi, dan reinskripsi. Kemungkinan hasil pembacaan dekonstruksi adalah invensi (penemuan baru), “yang lain” (baik logika atau pesan), dan teks mendekonstruksi dirinya sendiri. Hasil yang mungkin diperoleh dari melalui pembacaan dekonstruksi adalah invensi, “yang lain”, dan teks mendekonstruksi dirinya sendiri. 

Saran 

Berdasarkan uraian simpulan di atas, disarankan kepada pengajar dan peneliti yang menggunakan strategi dekonstruksi Derrida untuk memperhatikan sejumlah hal berikut. (1) Bagi pengajar sastra Kajian ini belum memetakan posisi strategi dekonstruksi dalam taksonomi pembelajaran. Para pengajar sastra perlu memetakan strategi dekonstruksi dalam taksonomi agar memudahkan pengajar untuk menjelaskan tahap-tahap strategi dekonstruksi dalam kegiatan pembacaan teks. (2) Bagi para peneliti selanjutnya Dekonstruksi Derrida dapat dikembangkan menjadi filsafat pendidikan Bahasa Indonesia. Gagasan Derrida tentang “yang lain” dalam bahasa dapat dijadikan sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan model filsafat pendidikan Bahasa Indonesia yang relevan dengan konteks Indonesia yang majemuk. 


DAFTAR RUJUKAN 

Attridge, Derek. 1992. Acts of Literature. New York: Routledge. 

Barry, Peter. 2010. Beginning Theory: Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya, terj. Harviyah Widyawati & Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra 

Bradley, Arthur. 2008. Derrida’s Of Grammatology: An Edinburgh Philosophical Guide. Edinburgh: Ediburgh University Press. 

Castle, Gregory. 2007. The Blackwell Guide to Literary Theory. Malden, MA: Blackwell Publishing. 

Culler, Jonathan. 2001. The Persuit of Signs. New York: Routledge. 

Derrida, Jacques. 1976. Of Grammatology, terj. Gayatri C. Spivak. Baltimore: The John Hopkins University Press. 

Derida, Jacques. 1981. Dissemination, terj. Barbara Johnson. Chicago: The University of Chicago Press. 

Derrida, Jacques. 1992b. Pysche: Invention of the Other. Dalam Derrek Atridge (Ed.), Jacques Derrida: Acts of Literature. New York. Routledge. 

Green, Keith & Lebihan, Jill. 1996. Critical Theory & Practice: A Course Book. London: Routledge. 

Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Fragmentaris. Yogyakarta: Kanisius. 

Hill, Leslie. 2007. The Cambridge Introduction to Jacques Derrida. New York: Cambridge University Press. 

Malna, Afrisal. 2000. Sesuatu Indonesia: PersonifikasiPembaca-yang-Tak-Bersih. Yogyakarta: Bentang. 

Martinich, Aloysius P. 2005. Philosophical Writing: An Introduction. Oxford: Blackwell Publishing. 

Mikics, David. 2009. Who was Jacques Derrida: An Intellectual Biography. London: Yale University Press. 

Royle, Nicholas. 2003. Jacques Derrida. London: Routledge. 

Simm, Stuart. 1999. Derrida and the End of History. New York: Totem Books. 

Tyson, Lois. 2006. Critical Theory Today: A User-friendly Guide. New York: Routledge. 

Wortham, Simon Morgan. 2010. The Derrida Dictionary. London: Continuum.


***

Sumber:

(Marcelus Ungkang, dalam artikel berjudul "Dekonstruksi Jaques Derrida sebagai Strategi Pembacaan Teks Sastra", 2013, h. 30-37) 


Sabtu, 24 Oktober 2026

, ,

Politik Mahatma Gandhi: Demokrasi dan 'Civil Disobedience'

 

“Pada saat saya menjadi satyagrahi, sejak itu saya berhenti menjadi bawahan, tetapi tidak berhenti menjadi warga negara. Seorang warga negara menaati hukum dengan sukarela dan tak pernah di bawah paksaan atau karena takut pada hukuman yang ditetapkan bagi yang melanggar. Ia melanggar hukum ketika ia menganggapnya perlu dan siap sedia dengan hukuman” (Mahatma, vol. VI, Mei 1943, dlm. AMB: 135). 

Seorang penganut Satyagraha tunduk pada hukum dengan kesadaran bahwa hukum itu benar, dan berani melanggar hukum ketika tahu hukum itu tidak benar. 

Pemimpin yang mencari popularitas dan tidak setia pada suara hatinya, dia tidak mengikuti kebenaran, ibarat perahu yang diombang-ambingkan gelombang. “Pemimpin tidak berguna jikalau ia bertindak melawan apa yang mendesak dari kesadarannya, seperti terjadi saat dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai berbagai macam pendirian. Dia akan didorong seperti kapal yang tidak bersauh kalau dia tidak mempunyai suara dari dalam diri untuk dijadikan pegangan dan pedoman" (Young India, 23 Februari 1922, dlm. AMB: 132). 

Untuk itu, pemimpin harus bisa mendisiplinkan diri. Secara agak panjang Gandhi menulis refleksinya, “... Seorang demokrat adalah seorang yang mendisiplinkan diri. Demokrasi muncul secara alami pada diri orang yang terbiasa dengan kesediaan menaati semua hukum, manusiawi ataupun ilahiah. Saya mendaku diri sebagai seorang demokrat, baik secara instingtif maupun berkat latihan. Biarlah mereka yang ambisius untuk mengabdi demokrasi mengukur diri dengan terlebih dulu tes demokrasi yang tidak menyenangkan ini. Lebih lanjut, seorang demokrat harus sungguh-sungguh ingkar diri (selfless). Dia harus berpikir dan bermimpi tidak dalam rangka kepentingan diri atau partainya, tetapi hanya demi demokrasi ... Saya menghargai kebebasan individual, tetapi kalian harus ingat bahwa manusia secara hakiki adalah makhluk sosial. Ia muncul dalam statusnya yang sekarang dengan mempelajari dan menempatkan individualisme dirinya dalam tuntutan kemajuan sosial. Individualisme yang semena-mena adalah hukum binatang di hutan. Kita telah mempelajari untuk memahami arti kebebasan individual dan pengendalian sosial. Tunduk dengan rela pada pengendalian sosial untuk kesejahteraan seluruh masyarakat, memperkaya baik individu maupun masyarakat, di mana kita menjadi anggotanya" (Harijan, 27 Mei 1939, dlm. AMB: 130).

**

Gandhi tidak sepaham dengan ajaran utilitarianisme, bukan sekadar karena yang dicari adalah keuntungan dan bagi banyak orang, melainkan karena dengan prinsip ini, ada minoritas yang terpaksa dikorbankan. Dia menilai ajaran demikian ini tidak mempunyai hati dan menyengsarakan manusia. “Ajaran yang paling nyata dan pantas untuk manusia seharusnya demi kebaikan terbesar bagi semua, dan hal ini hanya dapat dicapai sepenuhnya dengan pengorbanan diri (self sacrifice)” (The Diary of Mahadev dlm. AMB: 131). Pengorbanan tidak bisa ditimpa-paksakan pada yang lain, tetapi hanya pada diri sendiri. Dari lain pihak, dalam hal yang esensial, seperti sudah diterangkan di atas, yakni menyangkut agama dan suara hati, orang tidak boleh menyerah pada pandangan massa. Bahkan, pemimpin pun harus bertindak berlawanan dengan pandangan massa jikalau hal itu tidak masuk dalam akalnya. 

Demi memegang prinsipnya, Gandhi bersedia untuk menderita. Misalnya, kalau harus menjalankan ketidaktaatan atau pembangkangan sipil (civil disobedience), dengan risiko ditahan, dipukul, bahkan dipenjara. Prinsip nonkekerasannya menyebabkan ia menolak segala bentuk kekerasan dalam perlawanan fisik, meski dikenai kekerasan. 

Itulah pengorbanan yang harus ditanggungnya sebagai risiko. “Ketidaktaatan sipil (civil disobedience) adalah pemberontakan tanpa unsur kekerasan: perlawanan sipil sepenuhnya yang menafikan otoritas negara. Dia berada di luar hukum (outlaw), menyatakan tak peduli dengan setiap hukum negara tak bermoral. Maka, misalnya, ia menolak membayar pajak, menolak untuk mengakui otoritas dalam pergaulan sehari-hari, bisa jadi menolak menaati hukum pelanggaran dan kewajiban militer. Dalam melakukan semua ini, ia tak pernah menggunakan kekerasan dan tak pernah melawan dengan kekerasan, sekalipun hal itu digunakan untuk melawannya. Bahkan, ia membiarkan diri dipenjara dan berbagai kekerasan dikenakan terhadapnya. Semua ini ia jalani karena dan ketika dia menemukan bahwa kebebasan fisik, yang tampaknya ia nikmati, menjadi beban yang tak tertanggungkan. Dia beralasan bahwa negara hanya membiarkan kebebasan pribadi sejauh warga negara tunduk pada pengaturan negara, Ketundukan pada hukum negara merupakan harga yang harus dibayar warga untuk kebebasan pribadi itu. Oleh karena itu, ketundukan pada negara yang seluruhnya, atau sebagian besar, amoral merupakan pertukaran kebebasan yang tidak bermoral pula ...Jikalau demikian, pembangkangan sipil merupakan ekspresi yang paling berdaya dari keresahan jiwa, dan protes yang terang melawan kelangsungan negara yang jahat ...” (Young India, 10 November 1921, dlm. AMB: 135-36). 

Pengorbanan dalam melawan pemerintah atau negara tentu saja dimaksudkan dalam perlawanan pada negara yang betul-betul jahat dan tidak bermoral. Gandhi tidak memberi spesifikasi mengenai sifat amoral negara, tetapi yang dimaksud kiranya pertama-tama adalah penjajah Inggris yang tidak sah menguasai India. 

Meskipun demikian, ia tidak serta-merta membiarkan rakyat India melawan dengan senjata, melainkan dengan moral yang kuat, disiplin terhadap diri sendiri, dan sedia berkorban. “Disiplin bukan saja mempunyai tempat dalam strategi nonkekerasan, tetapi, lebih dari itu, juga dituntut. Dalam pasukan Satyagraha, setiap orang adalah tentara dan pelayan. Tetapi, pada puncaknya, setiap tentara Satyagrahi juga harus menjadi jenderal dan pemimpin bagi diri sendiri. Sekadar disiplin tidak dapat membentuk kepemimpinan seseorang. Untuk itu diperlukan iman dan visi” (Harijan, 28 Juli 1940, dlm. AMB: 136). “Keyakinan saya teguh. Jikalau setiap satyagrahi bertahan setia sampai akhir, maka kemenangan sudahlah pasti” (Sbarmati, 1928, dlm. AMB: 137). Bertahan dalam kebenaran, setia dan tidak mengubah keyakinan meski menghadapi kesulitan, itulah Satyagraha. Itulah harga diri. “Pekerjaan saya akan berakhir kalau saya berhasil menyampaikan keyakinan pada keluarga manusia, bahwa setiap pria dan wanita, betapapun lemah secara fisik, adalah penjaga untuk harga diri dan kebebasannya sendiri. Pertahanan ini berhasil meski seluruh dunia mungkin menentang perlawanan individual ini” (Mahatma, vol. VI., 9 Agustus 1944, dlm. AMB: 137). 

Konsekuensi dari keteguhan sikap dalam kebenaran adalah tidak mau bekerja sama (nonkooperasi) dengan penguasa dan penjajah bangsa. “Apa arti nonkooperasi dalam kaitannya dengan penderitaan? Kita rela untuk kehilangan bantuan dari pemerintah dan ikhlas untuk menerima ketidaknyamanan sebagai akibatnya karena yang memerintah (kita) berlawanan dengan kehendak kita. “Di bawah pemerintahan yang tidak adil, memiliki kekuasaan dan kekayaan adalah kejahatan. Sedang kekurangan dan kemiskinan dalam hal ini (justru) menjadi keutamaan, kata Thoreau. Tetapi dalam negara yang sedang berkembang, bisa terjadi kesalahan ini, yakni serta-merta mau menghindari penderitaan, lalu menerima apa saja, asal menguntungkan ... ” Hal demikian menurut Gandhi tidak bisa dilakukan: alasan takut pada diri sendiri atau (karena) seolah peduli pada rakyat yang menderita, lantas mau berpartisipasi dengan pemerintah penjajah (Young India, 16 Juni 1920, dlm. AMB: 135). Banyak warga negara mau bekerja sama dengan pemerintah penjajah karena memberi keuntungan dirinya, akan tetapi dalam ukuran makro hal ini harus dibayar oleh warga negara yang lainnya. 

Sumber: 

A. Sudiarja, "Becermin dari Demokrasi untuk India: Sumbangan Pemikiran Mahatma Gandhi", dalam Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun Ke-75, 2026, h. 16-18



Rabu, 21 Oktober 2026

, ,

Immanuel Kant: Agama dan Akal

 

Immanuel Kant adalah filsuf dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat. Ia tumbuh dalam keluarga menengah yang sederhana dan saleh. Ia sempat belajar di sekolah, di mana ia dididik oleh seorang pendeta Protestan, Pastors Franz Albert Schultz yang amat pietis. Pendidikan agama sedemikian membekas dalam dirinya, juga ketika ia mulai mengembangkan ilmunya. Amat mengherankan, dengan latar belakang keagamaan sedemikian, ia toh bisa sangat kritis terhadap agama. Ini tidak berarti ia meninggalkan agama. Ia justru sangat beragama, tapi dengan sungguh-sungguh hendak tetap menggunakan akalnya.

Maka kendati taat beragama, ia berusaha untuk membebaskan pikirannya dari ajaran agama apa pun, bahkan dari kuasa Tuhan sekali pun. Sampai kemudian ia berkeyakinan, tanpa Tuhan dan pewahyuannya pun, orang bisa bermoral, dan tetap harus mempertahankan moral, sesuai dengan tuntutan akal. 

Dari Kant kita belajar: akal manusia tidak bisa dibatasi oleh apa pun, termasuk agama dan norma-normanya. Kant mengajak kita kritis terhadap agama, demi murni dan benarnya penghayatan keagamaan kita. 

Dalam Islam ada yang dikenal dengan perjanjian primordial, yakni semacam syahadat ketika manusia masih berada di alam rahim (lih. Q.s. Al A'raf: 172). Syahadat itu adalah pengakuan asali manusia akan Allah sebagai Tuhan. Dari perjanjian primordial itulah yang menjadikan manusia secara fitrah cenderung pada kebaikan, kebenaran, keadilan, kesucian, dan sebagainya. Artinya, tanpa wahyu dari Allah, manusia secara fitrah (nurani) sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang benar dan yang salah. Fungsi agama atau wahyu, sama seperti fungsi al Quran, yakni sebagai petunjuk agar manusia selalu berada di jalan kebenaran yang didasari oleh nuraninya sendiri yang suci dan cenderung pada kebaikan atau 'hanif'. 

________

Referensi:

1. Sindhunata, "Immanuel Kant dan Aufklarung: Bangunlah dari Kemalasan Akalmu", dalam Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun ke-75, 2026, h. 48.

2. Al Quran

, ,

Kemajuan Sains dan Teknologi Tak Selalu Disertai Kemajuan Moral: Immanuel Kant dan Kritik terhadap Ilmu Pengetahuan yang Instrumental

Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun ke-75, 2026


Aufklarung telah membawa demikian banyak kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi kemajuan teknik dan sains itu tidaklah dibarengi dengan terwujudnya cita-cita moral seperti dicita-citakan Immanuel Kant. Malah kemajuan teknik itu bertentangan dengan konsep moralitas. Kant berpikir, ajaran Kristen diletakkan dalam dasar nalar. Ia ingin menunjukkan bahwa pandangan Kristen tentang manusia sebagai citra Allah dengan kehendak bebasnya itu dapat dimengerti secara rasional, tanpa pewahyuan pun. Pandangan ini menghasilkan implikasi politik dan tatanan sosial bahwa manusia itu adalah tujuan yang tidak bisa dimanfaatkan sebagai alat, dan semua manusia mempunyai hak terhadap martabat kemanusiaannya. 

***

Masyarakat Barat memang maju dengan akalnya, tapi itu lebih demi kemajuan tekniknya, dan bukan demi kebebasan dan emansipasi menuju kemanusiaan dunia, seperti dicita-citakan Kant. Malah menurut Fukuyama, masyarakat barat sendiri sudah menyimpang jauh dari cita-cita tersebut. Mereka belum sungguh bangun dari “kemalasan akalnya”. Mereka sudah merasa mapan di dunia yang telah menjadi sekuler ini. Dan sekularisasi itu sudah dianggap cukup sebagai cita-cita seperti diinginkan Aufklarung. 

***

Perdamaian universal adalah bagian dari cita-cita Aufklarung. Dan cita-cita itu belum tentu atau belum sepenuhnya tercapai. Maka peringatan Kant akan bahaya yang mengancam perdamaian di atas kiranya benar. Dan kiranya peringatan itu juga berlaku bagi cita-citanya akan Aufklarung secara keseluruhan. Setelah 300 tahun sejak merekahnya, Aufklarung ternyata juga belum meraih cita-citanya. Malah banyak pula yang beranggapan, Aufklarung adalah program gagal. Tentu anggapan ini terlalu menyederhanakan. Aufklarung adalah buah kedewasaan berpikir manusia, yang layak dihargai. Tapi sesuai dengan klaim kedewasaannya, penghargaan itu sekaligus justru terbuka untuk terus dikritisi. 

Menurut Francis Fukuyama, di zaman Kant, Aufklarung telah memberanikan orang untuk mempersoalkan kekuasaan agama, dalam hal ini gereja. Kepatuhan pada agama bisa membuat orang tinggal dalam Unmundigkeit, ketidakdewasaan. Ketidakdewasaan ini adalah ongkos yang harus dibayar, karena manusia malas dan takut menggunakan pikirannya. Maka untuk menjadi dewasa, orang harus berani membebaskan diri cengkeraman kebiasaan berpikir lama, yang biasanya dan kebanyakan ditentukan oleh insitusi agama. Buah dari keberanian berpikir itu adalah kehendak untuk memisahkan otoritas agama dari otoritas politik. 

Sejak Aufklarung sampai ke zaman modern ini, negara-negara di Barat sudah ditandai dengan pemisahan agama dan politik itu. Malah itu sudah menjadi perihal yang begitu saja diandaikan dan terjadi. Paus tetap bisa menyerukan suara dan otoritasnya. Tapi otoritas itu dianggap saja sebagai satu dari sekian otoritas-otoritas lainnya. Meski demikian sungguhkah masyarakat Barat orang sudah sungguh-sungguh mundig, terbangun dari kemalasannya untuk benar-benar menggunakan akal budinya? 

***

Akal manusia dewasa ini diam-diam tereduksi pada aspeknya yang material dan teknis. Pereduksian ini antara lain menghasilkan ilmu pengetahuan modern, yang cara berpikirnya tersempitkan pada hubungan sebab-akibat. Kejadian-kejadian hanyalah seperti rentetan dan urutan sebab akibat yang tak berkesudahan. Semua lalu menjadi seperti mekanis belaka. Buah dari cara kerja ilmu pengetahuan modern itu adalah mesin komputer yang canggih. 

Ilmu pengetahuan modern yakin, komputer yang merekam apa saja secara teknis dan mekanis sampai ke tingkatnya yang paling kompleks. Tingkat tersebut suatu saat bisa dicapai. Pada titik pencapaiannya itu, mesin ciptaan manusia bahkan bisa mempunyai kemampuan yang “melebihi manusianya sendiri”, baik dalam aspek kesadaran akalnya maupun dalam aspek emosional perasaannya. Pengandaian semacam ini ternyata tidak mustahil, ketika manusia mengalami dan merasakan benar kemampuan teknologi Artificial Intelegence. 

Ilmu pengetahuan modern sudah bersiap menyempurnakan landasan-landasan teknis dan mekanis bagi programnya yang amat kompleks. Dengan program itu diperhitungkan perkembangan manusia bisa disetir lewat pengendalian molekul-molekul DNA-nya. Begitulah, evolusi manusia yang dilihat oleh ilmu pengetahuan manusia yang berkerja dengan prinsip-prinsip reduksionisme dan teknis belaka. Secara tidak sadar, manusia seakan hanya diderajatkan pada level biologis keanimalannya saja. 

Menurut Fukuyama, pandangan ini jelas berlawanan dengan cita-cita pencerahan Immanuel Kant. Dalam memandang manusia, Kant selalu bergulat untuk mendamaikan dualisme antara alam dan manusia. Menyelesaikan dualisme itu memang tidak mudah. Namun, Kant tidak pernah sedikit pun menyerah dan mengorbankan manusia hanya pada derajat kealamannya, apalagi keanimalannya. Ia tetap melihat, dalam dualisme itu, moral dan kebebasan manusia haruslah diutamakan. 

Untuk itu Kant memikirkan tentang tatanan moral, yang menjamin agar kebebasan manusia tidak begitu saja dikebawahkan di bawah perundang-undangan, dan jangan sampai kebebasan manusia direduksikan karena perundang-undangan itu. Pendeknya, dalam perundang-undangan haruslah dimaktubkan bahwa kebebasanlah satu-satunya jaminan bagi manusia untuk bisa menjadi tujuan pada dirinya, karena itu ia tidak dapat dianggap sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan apa pun. Kebebasan yang dijamin oleh undang-undang inilah dasar dari hak asasi. 

Filsafat Kant adalah upaya untuk benar-benar bisa memberikan pertanggungjawaban tentang kebebasan sebagai dasar hak asasi itu. Tanpa dasar filosofis demikian, martabat manusia itu disepelekan, dan kita akan terjerumus ke dalam pandangan relavitisme atau utilitarisme moral, yang bisa mereduksikan manusia di bawah hukum dan aturan formal demi tujuan yang bisa saja bertentangan dengan kemanusiaan. 

Dan itulah yang terjadi pada ilmu pengetahuan sekarang. Sekarang kuasa ilmu pengetahuan seakan tiada batasnya lagi, sampai bisa mendikte manusia dan perilakunya, demi kepentingan-kepentingan di baliknya. Kecenderungan ini tidak bisa dilawan dengan alasan yang kurang rasional, misalnya dengan menyandarkan diri pada anjuran dan ajaran institusi-instusi ilahi seperti agama. Alasan untuk membantahnya juga harus didasarkan pada pemikiran yang rasional dan sekular. 

Menurut Fukuyama, dalam arti ini filsafat Kant yang amat rasional dan sekular itu dapat kita andalkan sebagai pegangan untuk berwacana secara rasional pula dengan arus ilmu pengetahuan itu. Dengan bahasa rasional dan sekular, bukan dengan bahasa keilahian atau mitologis, kita seharusnya bisa mengatakan, bahwa arah ilmu pengetahuan yang kelewat batas dalam mendikte manusia itu sungguh berlawanan dengan cita-cita Aufklarung tentang manusia dan kemanusiaan. Itulah relevansi Kant: mengkritik kesewenangan rasionalitas yang melulu bersifat instrumental dengan argumen rasionalitas yang menginginkan pencerahan demi kemanusiaan dan perdamaian. 


____

Sumber:

Sindhunata, "Immanuel Kant dan Aufklarung: Bangunlah dari Kemalasan Akalmu", dalam Majalah Basis, Nomor 05-06, Tahun ke-75, 2026, h. 24-49.



TERBARU

MAKALAH