alt/text gambar

Selasa, 16 Juni 2026

,

KONFLIK BUDAYA INDONESIA

 


Oleh: Jakob Sumardjo

(Kompas,16 Juni 2000)


Di Indonesia ini, konflik terbuka, tidak pernah terjadi antara kepentingan etnik yang satu terhadap etnik yang lain, atau lapisan sosial tertentu terhadap lapisan sosial yang lain. Konflik selalu terjadi di dalam etnis dan di dalam lapisan sosial itu sendiri, kalaupun kemudian melibatkan etnis atau lapisan lain, pokok persoalan tetap bukan di situ. Pokok persoalan selalu pada sikap budaya dan dasar cara berpikir dalam menghadapi hidup di Indonesia ini.


Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasanya sendiri yang membawa ciri-ciri budaya atau cara hidup daerah tersebut. Cara hidup dan cara berpikir daerah-bahasa tersebut telah berlangsung ratusan dan ribuan tahun dengan segala perubahan nilai-nilai budayanya. Inilah cara berpikir otentik mereka sebagai dasar kebenaran dalam semua cabang kehidupan sosial, politik, pengetahuan, kesenian, teknologi, ekonomi dan lain- lain. Inilah cara berpikir asli yang otohton, konkret, imanen, historik, unik, dan absolut, yang masih kental didapatkan di lingkungan lapisan bawah masyarakat tiap daerah. Inilah kebudayaan rakyat daerah itu.


Selama sejarah kepulauan Nusantara ini, masuklah cara berpikir asing secara silih berganti. Sejarah budaya Indonesia adalah sejarah penerimaan. Sejarah cara berpikir Indonesia adalah sejarah impor cara berpikir dari luar. Kita semua lantas menjadi murid-murid dari mahaguru-mahaguru berpikir dunia. Perpustakaan berpikir kita dapat dilacak sampai ke pemikiran India, Cina, Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan Jepang. Meskipun demikian, inilah ajaibnya, segala yang asing, yang alohton, yang alien tersebut telah berubah dari bentuk asli konteksnya. Semua yang asing tadi telah diubah, ditransformasi, ditaklukkan, disesuaikan dengan cara berpikir otohton daerah. Dan kita namailah itu sebagai perkembangan cara berpikir Indonesia sepanjang sejarahnya. Itulah yang kita banggakan sampai sekarang ini sebagai candi Indonesia, masjid Indonesia, sastra Melayu, sastra Jawa Kuno, dan banyak lagi.


Masalahnya, di manakah proses transformasi nilai asing itu terjadi? Apakah di semua daerah? Apakah di lapisan sosial tertentu? Apakah seluruh lapisan sosial terlibat? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab.


                                           ***


Pada dasarnya hanya ada dua cara berpikir, yakni yang otohton pada tiap daerah dengan segala aspek budayanya, dan yang alohton berasal dari luar. Bedanya, yang otohton itu bersifat imanen dan transenden sekaligus, sedangkan yang alohton lebih yang transenden saja. Kita berpikir cara Amerika bukan karena ada koloni orang Amerika di sini, tetapi karena ide-ide Amerika itu yang masuk ke sini. Bukan orang-orang India bergaul dengan masyarakat daerah Indonesia, tetapi pikiran-pikiran India itulah yang masuk. Inilah sebabnya kita dapat menjadi Melayu-India, Jawa-India, Bali-India karena badan kita tetap Indonesia sedangkan jiwa dan rohani kita kawin dengan pikiran India. Jadi, yang alohton itu cara berpikir itu sendiri, roh kebudayaan asalnya.


Baik cara berpikir otohton maupun yang alohton bersikap absolut. Penerus tradisi otohton di lingkungan rakyat bawah amat yakin akan kebenaran cara berpikir tradisinya. Apa yang disebut kekuasaan, keadilan, kebenaran, keindahan, kesenangan, kebahagiaan, kepercayaan itu adalah apa yang telah diwarisi dari nenek moyangnya di daerah itu. Mereka hidup tenang dengan cara berpikir demikian, yang otentik dan konkret itu. Cara berpikir ini membuat mereka mencapai harmoni dalam hidup. Kebenaran mereka adalah absolut. Begitu pula sebagian kecil rakyat daerah yang memperoleh masukan cara berpikir baru dari luar, meyakini cara berpikir baru itu sebagai absolut pula. Inilah pencerahan besar-besaran. Inilah pertobatan besar. Inilah manusia baru yang meninggalkan manusia lamanya yang otohton itu. Mereka menjelma sebagai alien benar-benar di lingkungan rekan-rekan daerahnya yang masih teguh pada kebenaran otohton tradisional. Mereka ini pejuang-pejuang fanatik cara berpikir alohton yang dengan semangat tinggi penuh keyakinan menyalahkan dan ingin mempertobatkan pula yang masih "kampungan" cara berpikirnya itu. Karuan saja, sikap-sikap absolut ini mendatangkan konflik. Yang satu ingin mempertahankan kebenaran warisan, yang lain ingin mengubah total seluruh perwajahan lama.


Konflik-konflik itu terjadi lantaran tata nilai yang mereka anut itu saling berbeda dan bahkan ada yang saling bertentangan. Yang alohton terlalu transenden, sedang yang otohton amat imanen. Yang alohton memaksakan kehendak kebenarannya, yang otohton tak rela hidupnya diganggu oleh yang asing itu. Yang alohton bersikap ekstrem sebagai murid baru, lebih India dari India, lebih Arab dari Arab, lebih Amerika dari Amerika. Konflik budaya terjadi.


                                          ***


Dalam kemelut demikian muncullah pemikir-pemikir asli Indonesia yang mencoba men- stransformasikan nilai-nilai alohton dengan yang otohton. Sikap golongan ini moderat, tidak absolut. Dan karenanya kaum moderat ini menjadi sasaran kemarahan kaum alohton itu pula. Pada pikiran mereka, kaum moderat ini adalah pembela kaum otohton pula. Kaum absolut otohton dan kaum moderat sama-sama harus dibasmi oleh kaum alohton. Kalau Indonesia ini mau maju, mau baru, semuanya harus diindiakan, diarabkan, diamerikakan. Habis perkara. Kalau ini dilakukan, maka tak akan ada lagi kebudayaan dan cara berpikir kampungan yang membawa kemiskinan dan kekalahan itu. Prek dengan semua yang mengingatkan dan berbau pribumi otohton. Apa salahnya menjadikan Indonesia sebagai Amerika?


Keganasan konflik budaya di Indonesia selalu terjadi antara pembawa pencerahan transenden dari luar ini dengan golongan-golongan otohton dan moderat. Jelas, bahwa golongan moderat membela akar, membela yang otohton karena itu kenyataan imanen yang tak dapat dilenyapkan dengan kekerasan begitu saja. Meskipun kaum moderat menyadari perlunya pencerahan, pembaharuan, tetapi tidak dapat dilakukan secara paksa dengan dimusuhi, dicurigai, disalahkan. Mereka perlu dimengerti sebagai kenyataan imanen yang berdarah daging, yang di Indonesia ini menduduki jumlah paling besar.


Kaum moderat, kaum tengah, kaum otohton-alohton, kaum badan-roh, kaum imanen-transenden, dituntut berpikir baru yang kreatif. Dan inilah hasil kerja mereka yang menghasilkan masjid Indonesia, wayang, sastra Jawa Kuno, sastra Melayu. Transformasi nilai-nilai budaya asing ke nilai-nilai budaya lokal yang ribuan tahun perkembangannya. Tugasnya adalah menemukan Indonesia baru. Menemukan format asing bukan asing lagi, sementara yang asli dan lama bukan yang lama lagi. Dengan cara demikian, barulah kita menjadi murid yang kreatif dan guru-guru dunia sekaligus. Murid yang setia tetaplah murid. Dia tak akan muncul sebagai guru baru terhadap guru-guru lamanya. Dia hanyalah warga berpikir dunia yang sama kedudukannya dengan warga lain di Dunia Ketiga. Adalah mudah menerjemahkan seluruh pemikiran dunia sekarang ini untuk dimiliki. Tinggal rajin membaca. Tetapi bacalah juga kenyataan sendiri yang otohton karena di situlah Anda merupakan bagian daripadanya. Rambut Anda boleh dicat pirang, tapi hidung Anda tetap saja pesek. Masalahnya, bagaimana hidung pesek ini bisa tampil secara mutakhir.


Untuk itu jadilah kaum moderat, kaum kreatif; kaum produktif dan bukan kaum konsumtif. Berpijaklah pada bumi sendiri yang imanen, yang historis. Cara berpikir kita yang ahistoris harus ditransformasi ke dalam cara berpikir historis, dan untuk itu perlu menggali akar, mengenal kenyataan diri yang sangat beragama di Indonesia ini.


                                     ***


Untuk itu diperlukan strategi kebudayaan. Tujuannya adalah membentuk Indonesia baru yang mondial. Menanamkan yang transenden dari luar menjadi bagian imanen kita. Bekalnya adalah pemahaman yang imanen, dan pemahaman yang transenden. Hasil yang hendak dicapai adalah Indonesia baru yang transenden-imanen, yang otohton-alohton, yang historis. Hindari konflik-konflik absolutisme transenden. Jadilah moderat. Jadilah moderat. Jadilah kaum gelisah yang kreatif, bukan kaum konsumtif-pasif dari pemikiran alohton. Memang mudah menjadi murid, dan lebih mudah lagi kalau tak sekolah. Yang sulit adalah menjadi murid kreatif, mengolah ajaran guru menjadi milik diri sendiri.


* Jakob Sumardjo, budayawan, tinggal di Bandung.


Sumber: Kompas, 16 Juni 2000

,

Khutbah Jumat: Metode Dakwah yang Baik

 Jamaah Jumat yang berbahagia, Allah melalui AlOuran memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada umatnya agar berdakwah. Mengajak umat manusia mengikuti jalan Allah, karena satu-satunya jalan kebenaran adalah jalan Allah. Al-Ouran dengan tegas mengatakan: 

Ajaklah umat manusia agar mengikuti jalan Tuhanmu, bukan jalanmu, bukan jalan manusia, bukan jalan hawa nafsumu, bukan jalan kepentinganmu, bukan hasratmu, tapi jalan Allah, Tuhanmu. Sabilil hag, al-hag fil 'agidah wal hag fis syariah wal hag fil akhlag. Ajaklah manusia ke jalan yang benar, jalan Tuhanmu, kebenaran dalam beragidah, beriman pada Allah, pada para malaikat, pada para anbiya, pada kitab suci yang diturunkan, pada hari kiamat, pada gadla dan godar. Al hag fis Syariah, kita harus mengikuti perintah Allah dalam beribadah, dengan berdasarkan Al-Ouran, Hadits, Ijma' dan Oiyas. Al hag fil akhlag, bertasawwuf, kita harus membangun erat budaya, birrul walidain berbakti pada orang tua, ikromu dluyuf (menghormati tamu), ighatsatul lahfan (menolong orang yang sedang kesusahan), izalatul gham wal hamm, takziatul maut (bertakziah), silatur 

rahim, adamut takabbur (tidak sombong), hormat orang tua, hormat kyai, silaturrahim, menolong sesama, gotong royong, tidak boleh bohong, adu domba, fitnah, menghina satu sama lain, ini namanya sabiili rabbika fil akhlaq.

Kemudian, dakwahnya dengan apa itu? Dengan metode seperti apa? Nabi Muhammad sendiri diperintah oleh Allah dan kita harus mengikuti, agar dakwahnya bil hikmah, dengan penuh kearifan, dengan penuh bijak, tidak boleh kasar, tidak boleh menyakiti hati orang, tidak boleh menyinggung. Dakwahnya bit tadrij, step by step, bit taklif, raeminimalisir beban, kemudian “adamul haraj, tidak boleh melukai orang lain, menyinggung perasaan orang. Dan bil masuliyyah dengan tanggung jawab. Ini namanya dakwah bil hikmah.

Contoh, ringkas saja dalam khotbah terbatas sekali waktunya. Contoh, ketika ada orang Badui masuk islam, Nabi Muhammad memberikan pengarahan kemudian dia terima. “Semua arahan dari Anda Rasulullah, saya terima kecuali. satu, saya minta izin diperbolehkan berzina, satu saja ini. Saya mau shalat, mau zakat, mau puasa, mau apa, satu saja, izinkan saya berzina.” Apa jawabnya Nabi Muhammad? Bukan “Haram”. Tapi jawabnya “Coba kalau yang zina itu teman kamu menzinai. ibumu, kalau yang zina itu tetanggamu menzinai 

putrimu, kalau yang zina itu teman kamu, tetanggamu menzinai istrimu, ibumu, putrimu, bagaimana kirakira?” Dia baru tersentuh hatinya dan sumpah dia tidak akan berzina lagi. : 


Itu artinya Nabi Muhammad berhasil memasukkan dakwah bil hikmah. Yidak bil ikrah, tidak menteror, ancaman, menakut-nakuti, tidak, tapi bil hikmah. Seperti ketika Rasulullah masuk kota Makkah dengan penuh kemenangan, Rasul mengatakan “al-Yaum yaumul marhamah.” Yang dulu orang Makkah mengusir, menyiksa, menyakiti bahkan membunuh, sahabat Yasir, sahabat Sumaiyah dibunuh oleh Abu Jahal, Rasulullah masuk kota Makkah setelah 8 tahun penuh kemenangan, apa kata beliau? “Al-yaum yaumul marhamah,” hari ini hari rekonsiliasi, menyambung kembali persaudaraan, tidak ada balas dendam, semua dimaafkan, termasuk anaknya Abu Jahal, Ikrimah, dimaafkan. . 


Dari situ orang Makkah berbondong-bondong masuk islam. “ Wa raitannaasa yadkhuluuna fii dinillaahi afwaajaa.” Lihatlah Muhammad, orang Makkah semua masuk islam dengan mengatakan “bi abii wa ummii antal karim ibnil karim ibnil karim,” “Demi ayahku, demi ibuku, engkau Muhammad sungguh orang yang mulia dan bijak, putra dari seorang ayah yang mulia dan bijak, cucu dari seorang kakek mulia dan bijak” Panjang kalau 

2

kita bicara hikmah, itu salah satu contoh saja. 


Yang kedua, wal mauidzatil hasanah, tutur kata yang simpati, tutur kata yang baik. Mengapa Al-Ouran turun dengan bahasa yang indah? Mengapa bahasa AlOuran itu sangat indah? Itu supaya menarik, supaya orang yang membaca atau mendengarkan tertarik bahasa arab. Kemudiah lahirlah ilmu yang digagas oleh seorang ulama yang bernama Amr bin Ubayd, meneliti, mengkaji rahasia bahasa Al-Ouran, lahirlah namanya ilmul balaghah. Terdiri dari tiga komponen, ilmu maani, ilmu bayan, ilmu badi. Panjang kalau saya terangkan ini, yang jelas Al-Ouran menggunakan bahasa yang sangat indah. Dan bagi yang mengerti bahasa arab, luar biasa. Bukan syair, bukan pantun, tapi seperti syair, seperti pantun. Bukan sajak, Al-Ouran itu bukan sajak, tapi ada sajaknya dan tidak semuanya sajak. Bukan pantun, tapi ada pantunnya dan tidak semuanya pantun. Bukan syair, 


tapi ada seperti syairnya, tapi bukan. semuanya syair. Itulah bahasa Al-Our'an. 


Dengan menyampaikan kandungan, bukan hanya . perintah dan larangan, tapi kisah-kisah para nabi, kisah-kisah umat terdahulu, ada yang menjadi contoh agar menjadi teladan untuk kita semua. Bagaimana nasibnya orang yang menentang Allah, dan bagaimana akhir daripada orang yang bertakwa pada Allah. Semua 

disampaikan dalam Al-Ouran dengan tutur kata yang indah dan baik, luar biasa.


Ketika gempar orang Badui masuk masjid, kencing. Sahabat mau bentak-bentak, Nabi “Biarkan, biarkan, biarkan tuntaskan dulu pipisnya, setelah itu baru dibersihkan, dicuci dan dikasih nasihat bahwa di masjid tidak boleh pipis sembarangan” Itu cara-cara dakwah bil maudzatil hasanah. “Inna fil bayaani as syira” dalam menyampaikan ceramah atau mauidzah di situ harus mengandung syiir, mengandung daya tarik yaitu dengan . tutur kata yang indah yang baik. Sekali-kali ada syairnya, “ada pantunnya, sekali-kali ada puisinya, sekali-kali ada dongengnya, supaya dapat menarik bagi para pendengar dan para pemirsa kalau di televisi. 


Tidak ada aturan Al-Ouran, tidak boleh dalam AlOuran, dakwah dengan kekerasan, teror, mengancam, caci maki, tidak boleh sama sekali. Seorang sahabat bernama Hassin al Khazraj mempunyai anak tidak mau masuk islam, lama-lama diancam, lama-lama mengancam, ayah kepada anak. “Kalau kamu tidak mau masuk islam saya bunuh” Begitu ada ayahnya mengancam anak, turun ayat Al-Ouran “Laa ikraaha fid diin”, tidak boleh ada kekerasan, teror, dalam agama. Ayat tidak boleh mengancam anak dalam masalah agama. 

Yang terakhir, “wa jaadilhum billati hiya ahsar”. Tapi kalau di kalangan intelektual, kalangan kampus, kalangan orang yang berfikir, maka harus menggunakan diskusi. Tapi diskusi juga ada adabul bahtsi wal munadzarah. Ada metode, ada sistem, harus saling menghormati. Nabi Muhammad, lagi-lagi jadi contoh Nabi Muhammad, kedatangan orang Kristen Najran, tamu orang Kristen dari Najran. Terkenal kota Najran pusatnya Kristen dari — sejak dulu. Apa kata Nabi? Apa kata Al-Ouran? 


| 4, . £ P . £ 4 ad JM GI ea Jd BU Usa Y3 Ayo, kita diskusi yuk. “Innaa au iyyakum” Entah saya 


» € 


atau Anda” “Jaalaa hudan” “yang benar” “au dlalaalin” “atau yang salah. Ayo diskusi mencari kebenaran, entah saya entah Anda yang benar ini. Coba, caranya mujadalah seperti itu, tidak langsung “saya benar kamu salah” tidak ada itu. Ketika kedatangan tamu Kristen | Najran, Nabi mengajak diskusi dengan berangkat dari nol, berangkat dari zero. Ayo kita mencari kebenaran, “Jaalii au iyyakum” aku atau Anda. “Laala hudan au fii 


dlalalin mubin” yang benar atau yang salah. 


Itu, adabul bahtsi wal munadzarah, cara berdebat, cara diskusi, cara berdialog seperti itu. Begitu pula banyak sekali contoh-contoh para auliya, para wali songo sering berdebat dengan masyarakat di nusantara 

ini. Dengan kecerdasannya berdebat, mereka luluh hatinya, merasa kalah dan memeluk agama islam. Dalam berdebat ini antara lain harus mengerti tentang ilmu mantig, logika. Harus menggunakan premis minor, premis major, dan konklusi yang benar. Seperti Nabi Ibrahim dalam pengembangan intelektualitasnya, ketika . melihat bintang dikira tuhan, ternyata hilang, Tuhan tidak mungkin hilang. Kemudian melihat bulan, oh ini Tuhan, ternyata hilang bulan itu. Tidak mungkin Tuhan itu hilang. Ketika melihat matahari, wah ini besar, ini Tuhan ini, tapi ternyata matahari juga hilang, maka tidak mungkin Tuhan itu bisa hilang. 


Ini namanya menggunakan premis minor premis major dan konklusi. Alaalamul mutaghayyir wa kullu mutaghayyirin haadits, wa kullu haaditsin yahtaaju ilaa . muhdits wal muhdits huwallaah. Alam berubah, setiap yang berubah pasti baru, setiap yang baru membutuhkan yang menciptakan, yang menciptakan tidak boleh berubah dan tidak boleh baru, maka itulah Allah, Tuhan wahdahuu laa syariika lah. Ini namanya ilmu mantig, menggunakan intelektualitas, akal yang jernih, akal yang sehat, yang cerdas, sadar Nabi Ibrahim kepada tauhid, kepada Allah.


Sumber: 

Said Aqil Siradj, Khutbah Jumat Said Aqil Siradj, Mojokerto: Ulama Nusantara dan Penerbit Kalam, 2021, h. 1-8.


Bisa juga dilihat di YouTube: 

https://www.youtube.com/live/hx32b0hYBzI?si=uJCKAY46Brn345_w




Senin, 15 Juni 2026

, ,

Khutbah Jumat: Fitrah versi 2

Sidang shalat Jumat yang berbahagia. 

Marilah kita merenungkan mengenai apa yang disebut sebagai fitrah atau kesucian asal manusia. Manusia, menurut agama kita, diciptakan oleh Allah Swt. dalam keadaan fitrah. Rasulullah mengatakan: 

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Bukhari) 

Adanya fitrah adalah sebagai kelanjutan dari perjanjian kita dengan Allah Swt. ketika kita masih berada di alam ruhani. Oleh karena itu juga disebut sebagai perjanjian primordial (perjanjian azali), perjanjian di masa yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity. Waktu ruh mau ditiupkan dalam diri kita Ketika kita masih berada di alam Rahim, Allah mengambil kesaksian pada diri kita. Jadi, ia merupakan syahadat setiap manusia. Dari Rahim siapa pun dia, ia sudah bersyahadat (bersaksi). Dijelaskan oleh Allah Swt dalam surah Al A’raf ayat 172:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ”Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: ”Betul (Engkau Tuhan kami). Kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.  (Q.,s. al-A’raaf/ 7:172).

Hasil dari bersyahadat dalam alam ruh itu maka setiap anak itu dalam keadaan fitrah (suci; berislam)

Fitrah inilah yang membuat manusia berkeinginan suci dan selalu cenderung kepada kebenaran (hanif). Fitrah pada diri manusia itu, semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, tidak pernah berubah dan akan berubah. Artinya, fitrah dalam diri setiap manusia itu tetap sama: sama-sama cenderung pada kebenaran dan kebaikan. Terlepas apapun ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, waktu, tempat, dan lain sebagainya. Fitrah pada setiap manusia itu tidak akan berubah sepanjang masa. Firman Allah:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.,s. Ar-Ruum/ 30:30).

Jadi, manusia, semenjak Nabi Adam hingga kini, diciptakan dalam kesucian asal yang disebut fitrah. Fitrah membuat manusia cenderung pada hal-hal yang baik, yang benar, yang adil, yang indah, yang  suci, meskipun dalam faktanya versi tentang kebenaran itu berlainan. Tapi yang jelas, manusia itu suka pada kebaikan dan kebenaran.  (cenderung pada kebenaran dan kebaikan), yang disebut hanif.

Nah, tempat bersemayamnya kesucian asal itu pada diri manusia adalah hati yang disebut “nurani” (bersifat nur/cahaya; bersifat terang).

Kata hanief  ini selalu kita ucapkan dalam  do’a iftitah di waktu shalat. (inni wajjahtu wajhia lilladzii fatharas-samaawaati wal ardla hanifaw wa maa ana minal musyrikin). Artinya: Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif (selalu cenderung kepada kebenaran), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

Hati nurani (dlamier) inilah yang selalu mencahayai manusia sehingga manusia mampu mengetahui  apa yang baik, apa yang suci dan benar. Manusia akan selalu dalam fitrahnya jika ia hidup mengikuti nuraninya yang suci.

Fitrah bawaan harus dibantu dengan fitrah yang diturunkan

Tapi, walaupun manusia pada dasarnya adalah hanif, manusia juga diciptakan sebagai makhluk yang lemah. Hal itu dijelaskan dalam beberapa,misalnya:

(Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. Q.,s. al-Nisaa'/4:28)

Karena kelemahannya itu, maka manusia cenderung berpandangan pendek, mementingkan hal-hal segera, dan mengabaikan hal-hal jangka Panjang. Dalam surat Al A’la, Allah mengatakan:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ

Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia,

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Jadi, karena kelemahan-kelemahan itu semua membuat manusia juga rawan terhadap kesalahan dan kekeliruan.

Manusia, dalam kehidupannya sehari-hari, tak selalu dapat mendengar hati nuraninya. Atau karena hati sudah kehilangan cahayanya, sehingga tak lagi bersifat terang atau bersifat cahaya (nurani). Yang membuat hati kehilangan cahaya apa? Yaitu  dosa dan kejahatan yang dilakukan. Dosa yang sering dilakukan akan menjadikan hati tidak lagi bersifat nur atau cahaya, tapi membuat hati gelap—tak mampu lagi membedakan yang baik dan yang zalim. Karena itu, dosa—dalam al Qur’an—disebut zhulm yang berarti “gelap”, dan orang yang berbuat dosa disebut “zhalim” (orang yang melakukan kegelapan).

Orang yang selalu berbuat jahat akan melihat kejahatan itu sebagai kebaikan. Tak dirasakannya sebagai dosa karena sudah terbiasa. Itulah yang dikatakan oleh Allah:

”Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (Al Furqan ayat 43)

Jadi, karena kelemahan manusia itulah, maka Allah karena kasih sayangnya, membantu fitrah yang sudah ada pada diri manusia itu dengan wahyu (kitab-kitab) yang disampaikan melalui nabi-nabi. Itulah yang kita kenal dengan agama. Jadi, agama ini juga merupakan fitrah. Yaitu, ”fitrah yang diturunkan”, yang diistilah oleh Ibnu Taymiyyah sebagai ”fitrah munazzalah”. Jadi, bisa katakan bahwa hati nurani itu sifatnya internal, sedangkan agama itu faktor eksternal.

Artinya, manusia itu secara instingtif bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Jika tidak terkontaminasi oleh pengaruh kehidupan sosial, ia akan tetap suci dan tetap dalam keadaan fitrah. Tetapi, adalah tidak mungkin kita bisa hidup tanpa interaksi sosial. Karena itulah, Allah memberikan manusia itu pedoman: yakni wahyu Allah yang disampaikan kepada para nabi, terutama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang berupa al-Qur’an, sehingga kita tetap berada dalam fitrah atau di jalan  yang lurus (siratul mustaqim).

Jadi, sikap lurus sesuai fitrah kita ini, itulah sikap islam yang sejatinya. Sikap tunduk, patuh dan berserah diri (islam) pada Allah berdasarkan nurani, itulah inti ajaran para nabi mulai dari Nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa al-Masih, sampai Nabi Muhammad s.a.w. Itulah yang dimaksud dalam surat Ar Ruum/30:30 di atas.

Jadi, islam itu sikap batin, bukan organisasi. Walaupun di KTP-nya tertulis agama: Islam, belum tentu ia islam dalam hakikat batin.

Jadi, marilah kita beragama dengan selalu setia pada suara hati nurani kita yang suci. ”Istafti kalbaka,” kata Rasulullah. ”Mintalah fatwa pada hatimu sendiri.” Agar nurani kita ini selalu tajam membedakan apa yang baik apa yang jahat, maka selalulah kita berbuat baik dalam kehidupan kita, bukan memperbanyak dosa. Jika perbuatan baik yang kita perbanyak, maka hati kita akan semakin tajam membedakan kebaikan dan keburukan, tetap akan menjadi cahaya (nur) yang akan senantiasa membimbing kita pada kebenaran, di samping kita berpedoman kepada Al Quran dan hadits tentunya.

Sebaliknya, hati akan gelap tak bersifat nurani (cahaya) lagi dikarenakan dosa, kejahatan, dan kezaliman yang banyak. Lawan dari ”nurani” adalah ”zulmani”. Hati yang gelap bukan lagi disebut nurani, tapi zulmani. Karena itulah ada istilah ”zulumati ilannur; dari lumpur kegelapan kepada cahaya yang terang benderang”. Semoga kita selalu berada dalam fitrah kita dengan setia pada suara nurani kita.



,

Khutbah Jumat: Fitrah versi I

Sidang shalat Jumat yang berbahagia. 


Dalam kesempatan khutbah yang pendek ini, mari kita merenungkan sedikit mengenai apa yang disebut sebagai fitrah atau kesucian asal. Manusia, menurut agama kita, diciptakan oleh Allah Swt. dalam keadaan fitrah. Sebuah hadis yang sering sekali dikutip oleh para mubalig ialah: 

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Bukhari) 

Adanya fitrah adalah sebagai kelanjutan dari perjanjian kita dengan Allah Swt. ketika kita masih berada di alam ruhani. Oleh karena itu juga disebut sebagai perjanjian azali, perjanjian di masa yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity. Yang digambarkan oleh sebuah ayat suci, bahwa kita sebelum lahir dipanggil oleh Allah Swt. secara 

bersama-sama menghadap dan dimintakan kesaksian, bahwa kita akan ber-Tuhan-kan Allah, ber-Pangeran-kan Tuhan, dan ber-Rabb yang lebih tinggi yaitu Allah: 

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (OS Al-A'af (7): 172) 

Jadi, kita ini terikat dalam perjanjian itu. Maka dari itu, agama pun sebetulnya memangadalah perj anjian, yang dalam bahasa Arab disebut mitsag atau 'ahdun, perjanjian dengan Allah Swt. Seluruh hidup kita merupakan realisasi atau pelaksanaan untuk memenuhi perjanjian kita dengan Allah. Yang intinya ialah ibadah, artinya memperhambakan diri kepada Allah. Karena Allah telah kita akui sebagai Rabb, sebagai Pangeran kita. Maka implikasinya, akibat dari beribadah kepada Allah itu adalah, bahwa kita harus menempuh jalan hidup yang benar. Inilah yang pernah dimintakan juga kepada Adam. 

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi 

dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat: padanya. (OS Tha Ha (20): 115)

Adam pun melanggar perjanjian itu. Sebagaimana yang kita baca di Al-Ouran mengenai kisah bagaimana dia melanggar larangan mendekati pohon di surga. Akibatnya ialah, Adam pun diusir dari surga. Jatuh tidak terhormat. Mengapa Adam dan Hawa itu sampai melanggar, sebetulnya tidak lain karena tidak tahan terhadap dorongan keserakahan, thama' dalam bahasa Arabnya. Yaitu, nafsu memiliki sesuatu lebih dari keperluan yang wajar. Apalagi kalau pemilikan tadi tidak benar Oleh karena itu, dosa pertama manusia ialah karena keserakahan itu. 

Dan karena kita ini adalah anak cucu Adam, maka kita semuanya punya potensi untuk jatuh seperti itu. Kita semuanya punya kemungkinan untuk melanggar larangan Allah, melupakan janji kita dengan Allah, dan kemudian kita akan jatuh tidak terhormat. Sebab, itulah yang dialami oleh Adam. Manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci, maka dia sebetulnya lahir dalam Kebahagiaan, dalam surga, dalam paradiso. Tapi karena melanggar larangan-larangan Allah, dia jatuh masuk ke neraka (interno). 

Jadi, kita semuanya pernah di surga. Kalau surga itu intinya ialah cinta kasih, maka sebetulnya surga kita yang paling dekat ialah, ketika kita masih berada dalam perut ibu. Maka tempatnya itu disebut rahim, yang artinya cinta kasih. Cinta kasih Allah Swt. Karena perkataan rahm itu satu akar kata dengan rahmatun, rahman, dan rahim, oleh kerena itu kita kemudian harus menyucikan diri. Menyucikan diri dalam arti, membersihkan diri, yaitu masuk bulan Ramadhan, masuk alam purgatorio itu, yang kalau sukses, maka 1 Syawwal kita kembali ke fitrah. Fitri itu kembali ke paradiso, 

ke surga. Tentu saja kita harus menjaga keadaan kita alan surga itu, yaitu dengan jalan menjaga kesucian kita sendir!: Tazkiyatun-nafs dalam bahasa Arabnya. 

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (OS Al-Syams (91): 7-10) 

Kalau diri sendiri itu sudah suci atau berusaha menjadi suci, maka dia harus berbuat suci kepada orang lain. Oleh karena itu, takwa harus menghasilkan amal saleh atau budi pekerti luhur yang sudah kita ketahui semuanya. Jadi, di sini kita bertemu dengan suatu hal yang sangat nyata untuk kebahagiaan kita sendiri. Kita harus hidup dalam salim, dalam kedamaian. Tetapi sebetulnya, perkataan saltim itu lebih mendalam daripada damai dalam arti peace dalam bahasa Inggris. Karena salim adalah suatu keadaan diri kita yang bersih, yang utuh, yang integral. Salim itu artinya adalah sana dalam bahasa Inggris. 

Oleh karena itu, moto olimpiade men sana in corporisano diterjemahkan menjadi al-'aglus-salim fi-jismis-salim, akal yang "bersih" (utuh) ada dalam badan yang "bersih" (utuh). Di Al-Ouran, digambarkan bahwa nanti kalau kita menghadap Allah di Hari Kiamat, maka seluruh harta dan anak kita itu tidak berguna: 

(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (OS Al-Syu'ara (261: 88-89) 

Memang, salah satu wujud dari hati yang bersih—wujud integralitas—itu ialah kedamaian. Bahkan juga kelapangan dada. Oleh karena itu, Rasulullah dalam sekian banyak definisi beliau, mengenai sebaik-baik agama itu disebutkan: 

“Seseorang bertanya pada Nabi, Ajaran Islam yang mana yang lebih baik?" Nabi menjawab, “Kamu memberi makan orang yang - memerlukan dan mengucap salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR Nasa'i) 

Oleh karena itu, Nabi selalu mengucapkan salam pada siapa pun. Kepada yang dikenal dan kepada yang tidak dikenal. Memang dalam suasana yang kadang-kadang tegang di Madinah, ada semacam krisis dalam soal salam itu, misalnya ada sekelompok orang Yahudi yang datang kepada Nabi dengan perasaan bermucuhan. Dan kita membayangkan bahwa masyarakat di zaman Nabi itu sangat demokratis, tidak terlalu banyak unggah-ungguh. Orang yahudi itu mengucapkan suatu ucapan yang sebetulnya kurang ajar, karena: mereka mengatakan assammu “alayka. As-samm, itu artinya mati. Jadi kalau kita terjemahkan agak sedikit kasar, "Mampus engkau Muhammad. Mendengar itu, Nabi tidak menjawab as sammu “alayka, melainkan hanya 'alayka. Suatu saat, beberapa orang Yahudi masuk rumah Nabi dan mengucapkan hal seperti itu. Di samping Nabi ada Aisyah. Aisyah sangat marah sekali dan dijawab dengan ucapan was-sammu 'alayka wa la'natulldhi ikhwan al-giradah al-khasin. 

Di dalam Al-Ouran dijelaskan bahwa ada sebagian orang Yahudi dan pernah dikutuk menjadi seperti kera-kera yang sangat hina. Jadi Aisyah menjawab, “Mampus kamu juga dan laknat Allah atas kamu, kamu orang-orang yang dikutuk oleh Tuhan menjadi kera-kera yang hina itu.” Mendengar itu, Nabi marah sekali, “Aisyah! Jangan begitu, siapa yang mengajari kamu seperti itu! Aku tidak diutus untuk melaknat orang dan 

bicara kasar seperti itu.” Aisyah menjawab, “Nabi mendengar sendiri apa yang dikatakan orang itu, jadi saya balas.” 

Nabi berkata, "Saya 'kan sudah membalas dan saya jawab wa '“alaykum saja.” Nabi tetap menerima mereka dan berbicara dengan baik sekali. Jadi, kesopanan-kesopanan ini adalah termasuk kemanusiaan. Karena itu manusia dalam bahasa Arab disebut insan, insun, al-ins, artinya ramah, lemah lembut. Maka ada orang namanya anis, artinya adalah orang yang ramah dan lemah lembut. 

Jadi, rahmat Allah kepada kita sebagai manusia itu diwujudkan ke dalam salam. Dan dari situlah perkataan Islam diambil. Yaitu suatu keadaan di mana kita bersih, utuh dan integral, tidak ada perasaan dengki, perasaan iri hati, perasaan buruk sangka pada orang dan sebagainya. Hal itu yang disebut halalun bi haldalin, sama-sama bersih, sama-sama tidak ada persoalan. Kita juga harus halalbihalal dengan Allah, dalam arti, ridha kepada Allah. Dan karena itu, Allah akan ridha. Itulah yang akan menjadi ketenteraman 

ketika disebutkan dalam Al-Ouran berkenaan dengan al-nafs al-muthma'innah. 

 Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (OS Al-Fajr (891: 27-30) 

Karena itu, tidak ada persoalan dengan Tuhan dan Tuhan pun tidak ada persoalan dengan kita. Itu juga halalbihalal dengan Allah. Karenanya dengan begitu kita memperoleh tuma'ninah dan akan memperoleh sakinah. Yang dalam bahasa lain disebut qurratu a'yun, suatu inti atau esensi kebahagiaan. Seperti misalnya, tujuan dari rumah tangga itu ialah untuk menciptakan sakinah, yang dalam bahasa lain ialah gurratu ayun. Seperti kita ungkapkan dalam doa: 

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (OS Al-Furgan (25): 74) | 

Esensi kebahagiaan itu adalah surga. Surga itu setidaknya adalah sakinah. Karena itu, banyak sekali gambarangambaran mengenai surga. Tetapi rupanya yang paling menarik bagi Nabi adalah di dalam Surah Al-Sajdah ketika disebutkan: 

Maka tidak seorang pun mengetahui apayang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan 

hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan. (OS Al-Sajdah (32J: 17) 

Itulah surga. Surga itu tidak ada seorang pun yang mengetahui. Lalu bagaimana dengan gambaran di Al-OGuran? Itu semuanya adalah simbol, adalah metafora, adalah gambaran-gambaran populer Karena itu, Nabi kemudian menyampaikan sebuah firman Allah atau Hadis Oudsi (firman Allah tapi kalimatnya dari Nabi), Allah berfirman:

“Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan kalau kamu mau (kata Nabi), bacalah (ayat Ouran itu), tidak seorang pun mengetahui esensi kebahagiaan yang dirahasiakan baginya sebagai balasan untuk amal perbuatan baiknya.” (HR Bukhari) 

Nah, kita itu akan merasa aman, salam, dan sebagainya, dalam suatu stadium tingkat tertinggi yang bersifat ruhani, yang sebetulnya tidak bisa digambarkan. Itu hanya bisa dialami. Dan untuk mengalaminya pun perlu usaha yang sungguhsungguh, yang dalam bahasa Arabnya disebut juhdun. Dari perkataan juhdun (usaha yang sungguh-sungguh) diambil perkataan jihad. Jihad itu tidak hanya berarti fisik seperti perang, tetapi juga jihddun-nafs, jihad melawan diri sendiri, atau ijtihad menggunakan seluruh kemampuan kita. Dan bahkan mujahadah, atau spiritual exercise, olah ruhani. Jadi tidak hanya olahraga, olah jasmani, juga tidak hanya olah jiwa, olah nafsanf, tapi juga olah ruhani. 

Maka dari itu, sebetulnya kebahagiaan itu ialah dalam kelapangan ini, yang sebetulnya tempat di mana terletak adanya rahmat Allah kepada kita. Ketika Allah memuji Nabi Muhammad sebagai orang yang lapang dada, maka dikaitkan dengan rahmat Allah: 

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (OS Ali Imran (3): 159) 

Jadi, Nabi itu seorang yang paling empatik. Empatik itu menempatkan diri pada posisi orang. Sehingga, mengetahui dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mengerti orang lain, considerate, penuh pertimbangan dengan orang lain. 

Jadi, orang lain diikutsertakan dalam proses-proses pengambilan keputusan oleh beliau. Selama hal itu tidak mengenai agama murni. Karena kalau agama murni itu memang hanya wewenang beliau sebagai rasul Allah Swt. 

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (OS Had (11): 118119) 

Bagi orang yang mendapat rahmat dari Allah, perbedaan tidak akan menjadi unsur pertentangan. Juga misalnya firman Allah agar kita selalu melakukan ishlah, perdamaian antara sesama manusia itu dinamakan rahmat.  

(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan takwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (OS a-Hujurat (491: 10) 

Artinya, hanya orang yang mendapat rahmat dari Allah yang bisa mendamaikan orang-orang yang berselisih. Maka karena kita sekarang 

ini sedang berada dalam serba permusuhan, sehingga ada orang mengatakan kita ini adalah masyarakat dengan tingkat saling percaya yang rendah, Iow truth society. Itu berarti ada sesuatu yang hilang. Dan ini sangat prinsipiil, yaitu rahmat Allah tidak ada. Oleh karena itulah, salah satu perintah Allah yang disejajarkan dengan perintah untuk bertakwa itu, ialah memelihara cinta kasih sesama manusia. Yang istilahnya sudah kita kenal, yaitu silaturahim. Tapi biasanya suatu istilah banyak sekali digunakan sehari-hari, lalu mengalami inflasi, 

— nilainya turun tapi tidak terasa. Silaturahim adalah persoalan yang sangat prinsipiil, yaitu menciptakan hubungan saling kasih antara sesama manusia. 

Dan juga salah satu ciri yang paling penting dari orang kafir, ialah tidak adanya saling cinta kasih sesama manusia. Arhim, bentuk jamak dari rahmah. Maka, Allah yang memberi contoh lebih dahulu. Ada sebuah hadis Nabi yang mengatakan bahwa cinta kasih Allah itu seratus. 99 persen untuk dirinya sendiri, satu persen dibagi untuk seluruh makhluk. Dari 99 persen yang terbagi secara tak terhingga itu, maka kasih itu terwujud dalam hadis. Misalnya, dalam gejala bagaimana 

kuda melindungi anaknya. Kalau ada anaknya yang terbaring di tanah, pasti kuda akan mengangkat kakinya untuk tidak menginjak anaknya itu. Itu adalah rahmah. Maka dari itu, termasuk kepada binatang, kita harus menunjukkan kasih. Allah berfirman: 

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (OS Al-An'aim (61: 38) 

Oleh karena itulah, dalam ibadah haji, kita dikasih pelajaran. Jangan membunuh apa pun, biarpun semut yang merambat di badan kita. Membunuh seekor semut yang merambat di badan, kita sudah kena denda. Itu sebenarnya adalah pendidikan supaya kita itu melanjutkan rahmah ini kepada semuanya. Karena itu, sekali lagi Allah memberikan contoh rahmat itu. Dalam sebuah hadis kita didorong untuk meniru budi pekerti Tuhan, “Tirulah akhlak Allah”. Salah satu yang paling penting adalah rahmah. Yang satu-satunya sifat Allah, yang diwajibkan atas Diri-Nya. 

Diri kita harus kembali ke fitrah itu. Kita harus menjadi manusia in optima forma, manusia yang suci dan berbuat suci kepada orang lain. Manusia itu suci maka harus berbuat suci bagi sesamanya.



Minggu, 14 Juni 2026

,

"Kesesuatuan dari Ketiadaan" (The Somethingness of Nothingness)


Barangkali ada yang tertarik mendengarkan pandangan Heidegger mengenai ketiadaan (das Nichts). Ini adalah rekaman webinar Circle Indonesia pada Sabtu, 8 Juni 2024 lalu.

Ketiadaan adalah struktur terdasar realitas. Ketiadaan menyingkapkan dirinya melalui pengalaman kecemasan (Angst, anxiety). Kecemasan itu menyangkut keberadaan kita di dunia (In-der-Welt-sein), maksudnya dunia yang bermakna. Dunia adalah struktur kebermaknaan. Itulah pengertian dunia dalam fenomenologi.

Dalam kecemasan, dunia yang sebelumnya bermakna (meaningful), tampak tidak bermakna (meaningless). Kecemasan menyingkapkan ketidakbermaknaan dunia. Itulah yang dimaksud oleh Heidegger dengan ketiadaan.

Kecemasan yang menghadirkan ketiadaan itu bagaikan disrupsi ontologis (ontological disruption) dari dunia keseharian yang kita akrabi. Melalui kecemasan kita seakan-akan dibawa ke titik nol, atau ke "situasi batas" (Grenzsituation, menurut Karl Jaspers). Kita melihat bahwa keseluruhan realitas, bahkan diri kita sendiri, ternyata ditopang oleh ketiadaan.

Respons orang terhadap situasi batas itu bermacam-macam. Misalnya bunuh diri, karena ia mengalami bahwa dunia ini tidak lagi bermakna. Tapi bisa juga pengalaman eksistensial di situasi batas itu mendorongnya melakukan leap of faith (lompatan iman), berpegang pada Tuhan atau pegangan lainnya, misalnya tradisi, sains, dll. Keluar dari situasi batas menghasilkan "hidup baru".

Ketiadaan itu lebih primordial dibandingkan ke-ada-an (keseluruhan realitas yang kita lihat dan kita akrabi dalam keseharian). Pada mulanya adalah ketiadaan. Melalui/dari ketiadan itulah ada muncul sebagaimana ada-nya mereka. Ex nihilo omne ens qua ens fit -- "dari ketiadaan semua yang ada menjadi ada."


Sumber: Fb Fitzerald Kennedy Sitorus

,

Khutbah Jumat: Kehidupan yang Sejati

Hidup yang kekal, yang menjadi tujuan dari segala kita yang hidup ini, hidup yang dikejar oleh orang yang sadar akan arti hidup ini, yang orang-orang berlomba menempuhnya, ialah hidup sesudah mati. Itulah yang diserukan oleh kitab-kitab yang diturunkan oleh Tuhan. Itulah yang disampaikan oleh nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan. 


وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (Q.s. Al-'Ankabut, ayat 64) 


Kehidupan di dunia ini hanyalah main-main. Hanya senda gurau. Hidup di akhirat itulah hidup yang sejati kalau sekiranya kita pikirkan dan kita renungkan betul-betul. 

Hidup yang sekarang ini dibandingkan dengan kehidupan yang kemudian itu adalah seperti tidur saja. 

Hidup yang sejati, hidup yang di akhir, hidup akhirat. Dengan demikian, kita dapat membuat supaya kehidupan yang sekarang ini menjadi kebun. 


الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

(Addun-ya mazra'atul akhirah). 

Dunia ini seperti perkebunan untuk mengambil hasilnya di akhirat. Mendorong kita supaya berbuat baik banyak-banyak di dunia ini. 

Jadi kehidupan di dunia ini sudah menentukan kehidupan akhirat nanti. Kalau di sini, di dunia ini, baik yang kita kerjakan, maka lepas dari kehidupan di dunia ini, kita menerima kebahagiaan, kesenangan. 

Nabi Muhammad SAW pernah memisalkan. Apa kata beliau: "Kehidupan di dunia ini, jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, hanyalah seperti seorang yang mencelupkan ujung telunjuknya ke dalam laut, kemudian dia cabut kembali. Basah. Nah, basah yang sedikit di tangan itulah hidup di dunia ini. Berapa luas lautan lagi tak dapat kita tentukan dalam dan luasnya, dibandingkan air yang tinggal di ujung telunjuk kita tadi. 

Hari akhir itu menafaskan jiwanya. Jadi, seperti kita mengambil ribuan nafas sehari-hari. Satu di antara nafas yang ribuan kali kita nafaskan siang dan malam itulah perbandingan kehidupan dunia, dibandingkan dengan akhirat.

Maka orang yang pandai memanfaatkan nafas yang sejenak itu dapat dipakainya dengan baik: dia beramal. 

Apa yang terjadi bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh ketika nyawanya bercerai dengan badan, ketika lepas dari penjara dunia ini? Pada zahirnya kelihatan tubuh dimasukkan ke dalam bumi. Asal tanah pulang ke tanah. Air pulang ke air. Tapi ruh itu terlepas dari ikatannya. Seperti kata Suhrawardi, seorang sufi yang besar, yaitu seperti burung di dalam sangkar: ia berkicau. Ia ingin keluar. Kemudian sangkar terbuka, burung pun terbang. Sangkar kosong, burung bernyanyi di tempat yang luas. Begitulah ruh apabila keluar dari badan. 

Setelah mendapat kelapangan di alam barzah, bagaimana lagi keadaan di darunna'im? Di negeri yang indah? Dikatakan bahwa yang menjadi inti kebahagiaan di dalam surga jannatunna'im itu ialah melihat wajah Tuhan. 


وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ​ ۚ‏

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. (karena) memandang Tuhannya. (Q.s. Al-Qiyamah, ayat 22-23).


Muka pada waktu itu berseri-seri. Karena pada hari itu kita dapat memandang Tuhan. Tak ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada itu. 

Sehingga pernah ditanyakan kepada Rabi'ah al Adawiyah, seorang sufi perempuan: bagaimana pandangannya tentang neraka dan tentang surga. "Pandangan saya cuma satu: memandang wajah Allah. Mau ditempatkan di mana pun yang saya melihat wajah Allah, itu seribu kali lebih daripada surga."

Tapi timbul pertanyaan: mengapa kebanyakan manusia takut menghadapi kehidupan yang sejati itu? Mengapa manusia lengah daripadanya? Mengapa kehidupan dunia saja yang dicintai orang? Padahal dunia ini seperti khayal atau bayangan saja? 

Apakah karena salah menggambarkannya di dalam hati? Atau karena perasaan sendiri yang tumpul? Atau karena tidak percaya kepada kehidupan akhirat itu? Atau karena akal kita sendiri tidak memahami? 

Atau karena tertarik dengan barang-barang duniawi yang pasti lepas dari diri manusia ini? Banyak manusia menjawab: ya. Itu sebabnya. 

Pertama karena salah menggambarkannya. Yang kedua karena tidak mau percaya. Yang ketiga, akal yang tidak mampu menjangkau. Yang keempat karena pengaruh barang yang ada di dunia dan tak tahu bahwa penggantinya jauh lebih baik. 

Dan, sebab yang utama itu adalah: lemah iman. 

Iman inilah yang mesti diperkuat. Karena iman itulah yang menjadi ruh dari segala amal. Iman itulah yang membangkitkan semangat kita untuk bekerja yang lebih baik (berbuat kebajikan). Dan iman juga yang mencegah kita melakukan hal yang buruk. Dengan kekuatan imanlah kita tidak merasa payah melakukan perintah Allah. 

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Iman kepada kehidupan akhirat bukan artinya kita menolak hidup. Bukan menyuruh kita shalat saja dari pagi sampai malam sehingga tidak tidur lagi. 

Apabila kita bekerja di kantor, misalnya, ataudi ladang, berdagang di pasar, dan lain sebagainya, pasangkanlah niat kita itu dengan iman. Nah, dengan begitu, itu nanti akan menjadi amal untuk persediaan kita di akhirat kelak. 

Misalnya, orang menjadi pegawai negeri, dipasangnya niat dari hati: saya menjadi pegawai ini supaya saya dapat memberikan pelayanan pada masyarakat dengan baik, mencari harta yang halal untuk rumah tangga saya, untuk menyekolahkan anak saya, bair sedikit asalkan amal saya ini amal yang saleh. 

Jadi, bekerja di kantor itu menjadi amal yang saleh, menjadi pangkal kebahagiaan kehidupan di akhirat--hidup yang sejati itu. 

Kita mencari makan, berdagang, misalnya, itu pekerjaan duniawi. Tapi pasanglah niat: mengapa engkau mencari makan? Karena ada perintah Allah dalam al Qur'an:

"Makanlah segala yang baik rezeki yang Kami berikan kepada kamu.. "

Karena ada perintah Allah "makanlah!", maka segala usaha mencari makan tadi karena berdasar kepada ayat itu ia akan menjadi amal buat akhirat. 

Atau seperti menjadi pedagang: apa kata Rasulullah? 

"Pedagang yang jujur itu tempatnya sama dengan para syuhada (orang yang mati syahid), di hari kiamat."

Jujur! Ucapan yang mudah betul, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Tapi itu suatu alat untuk membahagiakan kita pada akhirat kelak. 

Atau yang lain-lain. Dalam al Qur'an banyak perintah:

-Makanlah buah-buahan itu. Artinya, kita diperintahkan untuk menanam supaya dapat melaksanakan perintah Allah itu. 

-berjalanlah di muka bumi. Injak bahu bumi. Makan rezeki dari bumi itu. 

Jadi, segala amalan kita di dunia ini bisa jadi sumber kebahagiaan di akhirat. 

Bukan "ah saya tidak mau lagi bekerja duniawi, saya mau jadi orang saleh saja. Bukan saleh namanya. 

Jadi, itulah maksud perkataan Rasulullah:

"Addun-ya mazra'atul akhirah."


Dunia itu suatu "mazra'ah"; suatu kebun, yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat. 

Kaum muslimin sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Sebab kedua yang menjadikan kita lengah, karena hanya memandang kehidupan yang ini saja. Karena kelalaian telah masuk ke dalam hati kita. Lalai itu sama dengan tidur. Lalai itu tidur hati. Karena itu banyak orang yang matanya nyalang, tapi hatinya tidur. Lain dengan Nabi: matanya tidur tapi hatinya nyalang. 

Orang yang terbiasa bangun shalat tahajud jam 3 malam, misalnya, walaupun kondisi baru tertidur jam 2, misalnya, tetap terbangun jam 3. Ini menandakan kesadaran batin. Sehingga lebih dulu bangun hatinya daripada matanya. Tapi orang yang hatinya tertidur tak ingat lagi waktu shalat. Jangankan shalat sunat, shalat wajib pun dilalaikan. Karena ia tidak ingat kehidupan yang sejati bukan di sini. 

Kesimpulannya: kehidupan yang sejati itu, itulah tujuan daripada perjalanan kita di dunia ini. 


***

Ctt: 

Wasiat takwa: 

marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dengan cara apa? Dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah formal kita. Dan memperbanyak berbuat kebajikan bagi manusia. Jadi, tak cukup hanya ibadah formal saja, tapi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Manfaatkanlah tubuh kita ini untuk bersedekah (berbuat yang benar. Sedekah dari kata "sidq; sidik" atau "shadaqta": artinya benar). Apa saja yang kita lakukan dengan benar maka ia sudah bernilai sedekah. Bahkan membuang duri di jalan pun disebut "sedekah". Karena ia merupakan perbuatan yang benar. 


Sumber: Tausyiah Buya Hamka



TERBARU

MAKALAH