alt/text gambar

Rabu, 12 Agustus 2026

,

Hukum Shalat Berjamaah di Masjid bagi Pria


Dalam madzhab Syafi'i, hukum shalat berjamaah memiliki ketentuan yang berbeda-beda tergantung pada jenis shalat dan kondisi jamaah. Menurut pendapat yang mu’tamad, shalat berjamaah untuk shalat lima waktu hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini berlaku bagi sebagian orang dalam suatu komunitas. Jika sebagian orang sudah melaksanakannya, maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lain. Namun, untuk shalat Jum'at, hukum berjamaah adalah fardhu 'ain, sehingga wajib bagi setiap individu laki-laki muslim yang memenuhi syarat.

Kewajiban fardhu kifayah ini khusus berlaku bagi laki-laki yang merdeka, mukim, dan tidak memiliki uzur. Bagi perempuan, budak, dan musafir, hukum shalat berjamaah adalah sunnah. Beberapa kondisi yang dianggap sebagai uzur dan membolehkan seseorang tidak berjamaah antara lain hujan lebat, cuaca sangat dingin, sakit, atau dalam keadaan darurat seperti harus buang hajat. Dengan demikian, ketentuan hukum ini memperhatikan situasi dan kondisi jamaah secara rinci.

Penegakan syiar agama menjadi alasan utama diwajibkannya shalat berjamaah. Oleh karena itu, pelaksanaan shalat berjamaah sangat dianjurkan di masjid, bukan di rumah-rumah. Minimal pelaksanaan shalat berjamaah adalah terdiri dari satu imam dan satu makmum. Hal ini menegaskan pentingnya kebersamaan dalam ibadah serta menampakkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Secara rinci, hukum shalat berjamaah dalam madzhab Syafi'i dapat dijabarkan sebagai berikut:

- Fardhu 'ain dan menjadi syarat sah: berjamaah dalam shalat Jum'at.

- Fardhu kifayah: berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.

- Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat gerhana (kusuf), shalat istisqa’ (meminta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.

- Khilaful aula (kurang utama): shalat rawatib dan dhuha dilakukan berjamaah.

- Makruh: shalat di belakang imam yang fasik.

- Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Subuh di belakang imam yang sedang shalat jenazah.

Dalam praktiknya, shalat berjamaah di masjid lebih utama bagi laki-laki, kecuali jika di rumah terdapat jamaah yang lebih banyak. Dalam kondisi tersebut, shalat berjamaah di rumah bisa menjadi lebih utama. Hal ini menunjukkan adanya fleksibilitas dalam penerapan hukum sesuai dengan kondisi dan manfaat yang lebih besar bagi jamaah.

Kitab Fathul Qarib menyebutkan bahwa menurut penulis dan Ar-Rafi'i, shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat wajib selain Jum'at hukumnya sunnah muakkadah. Namun, pendapat yang lebih kuat menurut Imam An-Nawawi adalah fardhu kifayah. Selain itu, makmum tetap mendapatkan keutamaan berjamaah bersama imam selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun makmum belum sempat duduk bersama imam.

Dengan demikian, hukum shalat berjamaah dalam madzhab Syafi'i menekankan pentingnya kebersamaan dan penegakan syiar agama. Ketentuan hukum ini disusun secara jelas dan terperinci, menyesuaikan dengan kondisi jamaah serta jenis shalat yang dilaksanakan, sehingga dapat memberikan panduan yang komprehensif bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah berjamaah.

Sumber: 

https://man3bungo.mdrsh.id/news/65681/ketentuan-shalat-berjamaah-bagi-pria-di-masjid.html#:~:text=Dalam%20madzhab%20Syafi'i%2C%20hukum,sebagian%20orang%20dalam%20suatu%20komunitas.

Lihat juga penjelasan Buya Yahya: 

https://youtu.be/ehHvkLvogGk?si=lZBR1VATBexSU_nT

Selasa, 11 Agustus 2026

Politik, Agama, dan Kepatuhan


"Politik butuh rakyat bodoh. Agama butuh jama'ah patuh. Kebenaran tak dibutuhkan oleh keduanya, karena kebenaran suka memberontak." — Tan Malaka

Tan Malaka berpendapat bahwa kedua institusi tersebut—politik dan agama—cenderung membutuhkan kepatuhan dan ketidakberdayaan dari pihak yang mereka kuasai atau pimpin, bukan kejujuran intelektual atau pemikiran kritis.

Kebenaran digambarkan sebagai sesuatu yang "suka memberontak" karena ia menentang status quo, mempertanyakan otoritas, dan mendorong perubahan. Politik dan agama, dalam pandangan ini, lebih nyaman dengan keadaan di mana pengikut atau rakyat mereka tidak banyak bertanya atau menentang. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol tanpa gangguan.



Caping 1979

(TEMPO, 11 Agustus 1979)


CIOMAS, Pebruari 1886.

Camat dibunuh orang! Kegemparan telah terjadi. Dan aku, Apan, dicari. Malam itu pun segera aku dan kawan-kawanku mundur ke Pasir Paok. Aku tak mau menyerah kepada tentara kumpeni.

Kenapa aku harus menyerah? Aku dibesarkan di tanah ini, yang subur, cantik, tapi tergencet. Gunung Salak dari jauh memang masih tegak, di antara langit segar dan cahaya hangat, tapi hanya gunung itu yang bisa tegak di depan de Struler.

Tuan tanah kulit putih yang bangsat! 15.000 penduduk meringkuk di bawahnya terkena cuke. Dia kirim mandor dan centeng, yang bisa bikin kakek, nenek, perawan, bocah, pada gemetaran. Dia biarkan orang luar datang ikut panen ke sini, hingga kami tak kebagian banyak padi. Dia paksa petani membawa panenan Tuan Besar ke gudang, terbongkok-bongkok 18 kilometer. Dia paksa serahkan petani aren, dia paksa kami tanam kopi. Dia sita tanah, rumah dan kerbau, ketika kami tak bisa bayar hutang!

Maka aku, Apan, tak bisa tinggal diam.

Sudah hampir 2000 orang lari menghindari hukuman yang tak adil. Sudah beratus kali kami mengadu kepada pegawai gubernemen, tapi tak digubris. Malam itu kami bunuh Camat Abdurrakhim. Aku, Apan, anak tani ini, biarlah jadi sang Ratu Adil. Biarlah, kuangkat diriku jadi Imam Mahdi. Karena dari mana lagi keadilan akan datang kepada kami?

Sejarah pedesaan Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditandai oleh gerakan keresahan petani yang berulang ulang . . . ‒ Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java.

                                           ***

PURWAKARTA, Agustus 1913. 

Bapa Eming, jangan menangis. Rumahmu digeledah. Keris dan jimatmu dirampas polisi. Hidupmu terancam. Tapi kau telah hina Tuan Regent ‒ kau telah tuduh ia disuap tuan tanah, dan kami tahu kau telah suarakan hati kami. Sebab Regent manakah yang tak melihat kami ditindas?

Pagi itu kami, 230 orang, datang kehadapannya. Kami protes. Cuke yang dikenakan kepada kami teramat mencekik. Tuan Regent musti tahu. 200% naik! Bukankah tuan tanah sebenarnya cuma boleh dapat seperlima dari panenan?

Lihatlah, kami tidak sendiri. Empat  bulan yang lalu sudah datang ke Tuan Regent 400 petani, juga protes. Di bulan Juni datang lagi 350 orang, turun dari pedalaman. Kini kami datang dari  Babakansawah dan sekitarnya. Dan Tuan Regent, Bapa Eming hanyalah sebagian dari kami. 

Gerakan protes dari kaum petani tidak hanya merupakan pernyataan tidak puas terhadap mereka yang berkuasa, tetapi juga merupakan cerminan dari jawaban mereka terhadap suatu masalah komunikasi yang mereka hadapi ‒ Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV. 

                                        ***

DI Burma di tahun 1930 adalah seorang yang bernama Saya San. Ia mengaku sebagai Setkyamin raja yang membalas dendam dalam legenda rakyat. Ia juga mengaku sebagai Budha Yaza, pencipta utopia Budhis yang dikirim dari langit.

Dalam semua hal itu, ia agaknya hanya konsekwensi dari impian rakyat Burma miskin yang terpojok. Ratu Adil seperti itu telah berkali-kali tampil dalam kepercayaan rakyat, yang sudah praktis mengigau merindukan penyelamatan. Dan ketika Saya San pun datang, pemberontakan meletus meliputi sebagian besar wilayah utara, tengah dan timur.

Api itu berlangsung setengah tahun. Pada akhirnya, 9000 orang ditahan, 3000 terbunuh atau luka, 350 dihukum. Saya San sendiri digantung oleh penguasa Inggeris.

Kemudian, sepi. Tapi apakah itu damai?

"Bahkan para pejabat kolonial... di Burma Bawah di tahun 1930-an siap mengakui, bahwa perdamaian di daerah agraris itu mungkin perdamaian penindasan, dan bukannya perdamaian kepuasan” ‒ James C. Scott, The Moral Economy of the Peasant.


Sumber: TEMPO, 11 Agustus 1979


Sabtu, 08 Agustus 2026

KORAN

Ariel Heryanto


Oleh: Ariel Heryanto

(Kompas, 7 Agustus 2026)


Teknologi digital menjadi ujung tombak perubahan sejarah terbesar abad ini. Perubahan itu membawa berkah bagi sebagian pihak. Sebagian pihak lain jadi korbannya, termasuk media cetak. Banyak yang bangkrut. Yang bertahan tinggal segelintir dan hidup megap-megap.

Berakhirnya masa jaya media cetak berdampak meluas pada kehidupan berbangsa. Hingga akhir abad ke-20- kehidupan publik punya sosok kebangsaan yang bisa dibayangkan, antara lain berkat hadirnya media cetak. Wujud materialnya: selama satu abad, perhatian publik setiap hari terfokus sejenak pada koran edisi hari itu.

Jumlah koran dan majalah terbatas. Segelintir media besar sangat dominan sehingga perhatian warga bangsa lebih terpusat dan dipersatukan. Terlepas dari konten dan kualitasnya, terhimpunnya perhatian rutin di media cetak itu membentuk ikatan kesadaran bersama dan wacana publik tanpa harus ada kesepakatan tentang topik yang dibahas.

Menurut teori Ben Anderson, ritual kolektif membaca koran yang dijalani turun-temurun itu memungkinkan terbentuknya angan-angan sebuah komunitas yang setara, berdaulat, dan menghuni sebuah teritori terbatas. Itulah nasion modern. Yang tidak dibahas Anderson, kini, sebagai angan-angan pun, sosok nasion itu berantakan karena memudarnya eksistensi media cetak dan maraknya teknologi digital.

Segelintir koran besar masih terbit, tetapi kehadiran mereka tidak lagi sama karena pembacanya sudah jauh berkurang. Yang tersisa jauh berubah. Perhatian publik tidak lagi terpusat pada satu atau dua media cetak. Perhatian mereka bukan beralih ke satu atau dua media daring, melainkan tercerai-berai ke berbagai platform digital. Nasib koran ibarat ikan dalam kolam yang gelagapan karena menyusutnya volume air kolam itu ke level kritis.

Hingga akhir abad ke-20 beberapa koran besar di Tanah Air membuka ruang diskusi dan polemik mencerahkan di kalangan sarjana dan mahasiswa. Di negara lain, peran itu dijalankan oleh jurnal akademik. Di negeri ini, pada abad lalu, ruang Opini sesekali mirip simposium besar ketika koran menyajikan polemik berminggu-minggu tentang topik berat, termasuk teori klasik dalam ilmu sosial.


Lewat koran, banyak intelektual muda di masa Orde Baru berkenalan dengan teori strukturalisme dan marxisme. Bukan dari ruang kuliah, atau jurnal akademik. Perdebatan paling seru semasa Orde Baru tentang feminisme, Pancasila, atau sastra juga berlangsung di koran. Pemerintah Orde Baru berusaha membanjiri media massa dengan sampah propaganda. Namun, mereka tidak pernah berhasil menguasai sepenuhnya ruang publik.


Satu edisi koran biasa dibaca habis dalam hitungan menit. Edisi berikut baru hadir 24 jam kemudian. Berbeda dari pesan serba singkat dan instan di media sosial, koran memberi ruang cukup bagi ulasan panjang. Ia juga memberi kesempatan pembacanya mencerna teks yang kompleks bernuansa, kalimat demi kalimat, secara perlahan. Tanggapan dari pembaca butuh berhari-hari untuk ditulis, dikirim lewat pos ke penerbit, diperiksa redaksi, sebelum antre terbit.


Koran tidak hanya untuk kaum elite. Pembaca awam bersuara lewat rubrik Surat Pembaca. Sulit dipastikan seberapa banyak suara mereka diperhatikan publik. Terlepas dari soal itu, pesan mereka mendapat privilese tercetak dalam koran yang sama, menjangkau ratusan ribu pembaca koran yang sama bersama aneka pesan elitis. Privilese seperti itu sulit diharapkan di media sosial masa kini.


Dalam jagat media digital, warganet tercerabut dan tercerai dari komunitas nasional. Mereka terbelah dalam kubu-kubu lintas negara oleh polarisasi algoritma yang dikendalikan segelintir miliarder terkaya di dunia. Suara warganet tenggelam dalam samudra pesan dari mesin bot, disinformasi dan misinformasi dari aneka platform. Semua hanya selintas tampil di layar gawai yang terus-menerus berubah dan cepat kedaluwarsa. Semua orang berpeluang bersuara berkali-kali tanpa henti, tanpa jaminan ada yang membaca, mendengar, atau menonton.


Di masa jayanya, koran dicetak untuk dibaca pada hari yang sama, lalu biasanya dibuang. Ada yang menggunakan koran bekas untuk alas duduk di lantai atau kursi bioskop yang penuh kutu. Ada yang memanfaatkan kertas koran bekas untuk pembungkus. Ada pula yang mengumpulkan lalu menjual koran bekas ke pedagang loakan.


Ada sebagian kecil pembaca yang memilih konten koran karena dianggap bernilai istimewa. Konten itu digunting lalu dilem pada selembar kertas sebagai klipingan. Setelah beberapa tahun, koleksi klipingan bisa sangat besar.


Sejak tahun pertama bermahasiswa, saya berkenalan dengan kliping koran di perpustakaan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dua perpustakaan di sana mengerjakan klipingan koran dengan tekun. Hasilnya menjadi sebagian koleksi penting. Jumlahnya sangat besar dan tersusun di beberapa rak. Setiap bulan perpustakaan di sana menerbitkan buku katalog berisi daftar klipingan yang terbaru, dikoleksi dan dipilah sesuai tema. Empat dekade kemudian, salinan buku-buku katalog klipingan koran dari UKSW saya temukan tersimpan rapi di perpustakaan Universitas Monash, Australia.


Koleksi kliping koran di perpustakaan kampus mengilhami saya membuat koleksi klipingan sendiri. Kliping koran tidak sekadar bernilai eksotik atau antik. Bagi saya, klipingan koran melengkapi bacaan akademik yang berat, teoretis, dan abstrak. Setelah berpuluh tahun, koleksi klipingan itu banyak memperkaya data empirik penelitian saya, khususnya tentang kehidupan sehari-hari kaum non-elite di masa lalu.


Misalnya soal vulgarnya semipornografi film nasional pada 1980-1990-an atau ilustrasi berbagai kasus ekstrem penindasan budaya Tionghoa di tingkat lokal. Ada masanya jilbab diharamkan, tetapi homoseksualitas dan transjender diberi toleransi. Ketika Orde Baru menyebarkan kampanye antikiri di Ibu Kota, di tingkat lokal operasinya bisa jadi serba binal dan sebagian kocak.


Setiap perubahan sosial membuka cakrawala hidup baru. Juga berangsur menghapus ingatan publik atas perubahan yang dialami bangsa. Masa jaya koran sudah berakhir, tetapi koleksi kliping koran membantu kita melawan lupa.


Sumber: 7 Agustus 2026

Jumat, 07 Agustus 2026

YANG DARI BAWAH...

Goenawan Mohamad

Belum pernah sebanyak ini tersiar -- dari mana-mana -- video pendek yang diproduksi masyarakat sendiri.  Isinya lucu, mencemooh, kesal, terutama kepada apa yang dipidatokan Prasiden Prabowo . 

Masyarakat kita sedang naik pitam, tapi dengan kreatif menunjukkannya dengan  humor. Humor yang kadang-kadang pahit dan  kasar. Dan informatif.  MIsalnya bisa diikuti dari sana, bahwa ada kemarahan yang menjalar -- khususnya terhadap penarikan pajak yang makin melebar dan meninggi -- justru ditengah  penganggutan yang mengingkat dan penghasilan yang menciut...

Saya tak bisa meramal, apakah dari keadaan itu  akan ada semacam pembangkangan rakyat dari bawah yang keras dan meluas.  

Mungkin tidak...

Yang bisa saya tangkap:  di kampus dan di forum debat para "cendekiawan", masalah-masalah yang mereka perbinncangkan masih soal yang itu-itu juga.

Mungkin saya salah. Tapi tak bisa saya elakkan pertanyaaan: bisakah kiranya suara galak para aktivis mahasiswa dan para komentator politik menemukan titik pertemuan yang pas dengan kekesalan yang kini sedang melanda dari bawah?  Tidakkah soal-soal yang jadi perhatian  para cdnewkiawan di kota itu mulai membosankan?  Adakah   strategi dan benih-bentih garakan perbaikan? 


Sumber: Fb


,

Agar Otak Cerdas dan Kritis


Otak adalah anugerah yang berkembang melalui latihan. Semakin sering digunakan untuk belajar, berpikir, dan memecahkan persoalan, semakin baik kemampuannya dalam memahami dunia di sekitarnya.

Secara filosofis, kecerdasan bukan sekadar kemampuan mengingat banyak informasi, tetapi kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang bijaksana.


1. Biasakan membaca buku setiap hari

Membaca buku memperluas pengetahuan, memperkaya kosakata, dan melatih kemampuan memahami gagasan yang kompleks. Pilihlah bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan tujuan belajar agar wawasan terus berkembang.

Secara filosofis, buku adalah jembatan menuju pengetahuan. Orang yang gemar membaca tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga belajar melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang.


2. Latih diri untuk bertanya dan mencari alasan

Jangan hanya menerima informasi apa adanya. Biasakan bertanya, "Mengapa hal ini terjadi?", "Apa buktinya?", dan "Apakah ada penjelasan lain yang lebih tepat?" Kebiasaan ini membantu memperkuat kemampuan berpikir kritis.

Secara filosofis, pertanyaan yang baik membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Pikiran yang kritis tidak mudah menerima sesuatu tanpa pertimbangan yang masuk akal.


3. Bedakan fakta, pendapat, dan dugaan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menerima banyak informasi. Belajarlah membedakan mana yang didukung oleh bukti, mana yang merupakan pendapat, dan mana yang masih berupa dugaan.

Orang yang mampu membedakan ketiganya akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kemampuan ini membuat pikiran lebih objektif dan tidak mudah dipengaruhi oleh informasi yang belum teruji.


4. Renungkan pengalaman dan belajar dari kesalahan

Setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, dapat menjadi sumber pembelajaran. Luangkan waktu untuk mengevaluasi apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

Secara filosofis, pengalaman yang direnungkan akan menjadi kebijaksanaan. Kesalahan bukan akhir dari perjalanan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki cara berpikir dan bertindak.


5. Berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda

Diskusi yang dilakukan dengan saling menghormati dapat memperluas cara berpikir. Mendengarkan pendapat yang berbeda membantu melihat persoalan dari sudut pandang yang mungkin belum pernah dipertimbangkan.

Secara filosofis, pencarian kebenaran berkembang melalui dialog yang terbuka. Orang yang cerdas tidak takut belajar dari orang lain, tetapi mampu menilai setiap gagasan dengan bijaksana.


6. Jaga kesehatan tubuh dan otak

Otak bekerja lebih baik ketika tubuh memperoleh istirahat yang cukup, makanan bergizi, aktivitas fisik yang teratur, dan waktu untuk memulihkan diri. Kesehatan fisik mendukung kemampuan belajar dan berkonsentrasi.

Secara filosofis, tubuh dan pikiran saling berkaitan. Menjaga kesehatan adalah bentuk tanggung jawab terhadap kemampuan yang telah dimiliki agar dapat digunakan secara optimal.


7. Gunakan ilmu untuk melakukan kebaikan

Kecerdasan akan mencapai makna yang lebih tinggi ketika digunakan untuk membantu orang lain, menyelesaikan masalah, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Pengetahuan yang tidak diterapkan akan kehilangan sebagian manfaatnya.

Secara filosofis, tujuan akhir dari kecerdasan bukan hanya mengetahui lebih banyak, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Ilmu yang dipadukan dengan karakter yang baik akan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat.

Mengasah otak agar semakin cerdas dan berpikir kritis memerlukan latihan yang dilakukan secara konsisten. Membaca buku, bertanya dengan kritis, membedakan fakta dari pendapat, belajar dari pengalaman, berdiskusi secara terbuka, menjaga kesehatan, dan menggunakan ilmu untuk kebaikan merupakan langkah-langkah yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir.

Kecerdasan sejati bukan hanya terlihat dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menggunakan akal dengan jernih, hati dengan bijaksana, dan tindakan dengan penuh tanggung jawab. Ketika seseorang terus belajar, terus mencari kebenaran, dan terus berbuat baik, ia sedang membangun kehidupan yang lebih bermakna serta membawa manfaat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Sumber: Fb Ilmu Filsafat



TERBARU

MAKALAH