alt/text gambar

Jumat, 23 Januari 2026

,

Kutbah Jumat: Zikir

Kaum muslimin sidang shalat Jumat yang berbahagia, 


Dalam kesempatan khutbah kali ini, saya ingin meneruskan pembicaraan kita mengenai takwa. Unsur paling penting dalam takwa ialah ingat kepada Allah. Dalam bahasa Arabnya disebut dzikr. Banyak sekali ayat Al-Quran yang berisi pembicaraan dan perintah melakukan zikir. Al-Quran memberi gambaran bahwa ibadah shalat diperintahkan supaya kita berzikir kepada Allah. Supaya kita ingat kepada-Nya. 

Firman Allah kepada Nabi Musa menyatakan: 

Laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. (Qs., Tha Ha [20]: 14) 

Kemudian ada gambaran mengenai kaum munafik, yang disebutkan sebagai: 

Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. Al-Nisa' [4]: 142) . 

Maka dari itu, ada firman Allah yang memperingatkan kita jangan sampai lupa kepada-Nya. 

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (OS Al-Hasyr (59): 19).

Dengan demikian, zikir begitu penting dalam ajaran agama kita. Zikir merupakan salah satu inti ajaran agama. Keberagamaan itu tidak mungkin tanpa kita selalu ingat kepada Allah Swt. Dalam Al-Quran disebutkan, ciri-ciri kaum yang dipuji sebagai ulul-albab—mereka yang memiliki pikiran-pikiran mendalam—adalah mereka yang selalu ingat kepada Allah.

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia: Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (Qs. Ali Amran (3): 191) 

Zikir kepada Allah tidak mengenal ruang dan waktu. Selamanya dan di mana saja kita harus ingat kepada Allah Swt. Bila kita lupa kepada Allah, Allah akan membuat kita lupa akan diri kita sendiri. Hanya dengan ingat kepada Allah, kita mengetahui dan menginsafi bahwa hidup ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Itulah makna ungkapan yang sering kita baca, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. 

Al-quran mengatakan, “Apakah kamu mengira Kami ciptakan kamu ini sia-sia (abasa)? Tidak!” Orang yang memiliki makna hidup, akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Seluruh tingkah lakunya akan bermakna, termasuk penderitaannya. Orang yang menderita untuk suatu makna, untuk suatu tujuan, akan tetap bahagia daripada orang yang meskipun tidak menderita tetapi hidupnya tidak mempunyai arti, tidak mempunyai makna. 

Ada ungkapan dalam literatur kesufian Jawa yang relevan. Bahwa Tuhan itu adalah Sangkan Paran. Sangkan artinya asal. Paran artinya tujuan. Ini adalah penggantian kalimat dari terjemahan kalimat Al-quran, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. 

Kita sesungguhnya terikat oleh suatu perjanjian antara kita dengan Allah Swt. Sebut saja perjanjian primordial. Perjanjian yang terjadi sebelum kita lahir, yang digambarkan dalam Al-quran: 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Qs. Al-A'raf [7]: 172) 

Suatu gambaran dalam Al-quran mengenai keadaan kita sebelum kita lahir. Kita pernah dipanggil oleh Allah dalam suatu alam ruhani, ketika kita masih dalam wujud ruhani, dan dimintakan persaksian kepada kita. Karena perjanjian tersebut terjadi di alam ruhani, maka tidak menjadi kesadaran hidup kita sekarang ini yang berada di alam jasmani. Tetapi perjanjian ruhani itu mempengaruhi hidup kita serta menentukan rasa bahagia dan sengsara kita dalam arti yang paling hakiki. Maka begitu lahir di dunia, kita terikat oleh perjanjian ini. Ia kemudian tumbuh dalam diri kita sebagai dorongan ruhani untuk kembali kepada Tuhan memenuhi janji itu. 

Semua orang ingin kembali kepada Tuhan. Hidup ini adalah perjalanan ingin kembali. Kembali ke asal. Hidup ini bisa diumpamakan seperti anak kecil yang menangis, lalu dilihat ibunya, dan didekaplah dia oleh sang ibu, maka dia akan diam. Dia kembali ke ibunya.

Kita semua ingin kembali pulang. Pulang itu adalah suatu gejala psikologis, bukan gejala fisik. Kalau seseorang tidak berhasil pulang, dia disebut tersesat. Ketersesatannya itu tidak bisa ditebus. Meskipun dia ditampung di rumah yang lebih mewah dari rumahnya sendiri, dia akan tetap sengsara. Dia tetap ingin pulang. Pulang itu adalah gejala psikologis. Ada pepatah dalam bahasa Inggris home sweet home, kediaman adalah rumah yang paling enak. Kata Nabi Muhammad, Bayti Jannati, rumahku adalah surgaku. Rumah, selain mempunyai bentuk fisik berupa pintu, dinding, dan atap, juga memiliki makna psikologis yang disebut home, bukan house. Oleh karena itu, dalam bahasa Inggris tidak ada perkataan Go House, tetapi Go Home, artinya pulang. Sebagai gejala psikologis, pulang adalah suatu pemenuhan hasrat untuk kembali ke asal. Hal itu menimbulkan suatu ketenteraman dan kebahagiaan. Setiap orang ingin kembali ke kampung, kembali ke keluarga. Bahkan siapa saja yang pergi ke luar negeri, selalu saja ada keinginan lekas pulang ke negeri asal. 

Semua proses kembali ini, yang paling mutlak ialah kembali kepada Allah Swt. Dimensinya spiritual. Anak kecil yang berhenti menangis karena berhasil didekap ibunya, lebih merupakan gejala psikologis semata. Tetapi kalau kita berhasil berada dalam dekapan Allah Swt., itu adalah pengalaman ruhani yang jauh lebih dalam. Dalam Al-quran disebutkan, orang yang ingat kepada Allah hatinya akan tenteram. 

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Qs. Al-Ra'd [13]: 28) 

Orang-orang yang sesat dalam istilah keagamaan disebut dhallan. Yaitu, orang yang tidak sanggup kembali ke asal. Dalam makna lain, dhallan adalah mereka yang tidak sanggup kembali kepada Allah, karena tidak pernah mencoba membangun hubungan yang baik dengan Allah melalui ibadah. Maka salah satu unsur penting takwa adalah zikir, yang merupakan wujud keinginan kembali kepada Allah Swt. Dengan zikir, kita menginsafi hadirnya Allah dalam hidup kita. Allah selalu hadir bersama Kita. Allah adalah wujud yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hadid [57]: 4) 

Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. (Qs. Al Baqarah [2]: 115) 

Kalau kita menyadari hadirnya Tuhan dalam setiap detik kehidupan kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur. Ke arah akhlaqul-karimah. Ada sebuah hadis yang mengatakan: 

“Tahukah kalian apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga, yaitu bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur.” (HR Ahmad) 

Inilah bagian sangat penting dari takwa, yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita sendiri. Semua itu tidak terjadi begitu saja. Meskipun benih takwa ada dalam ruhani kita yang paling dalam, tetapi sepertinya semua bakat yang secara laten ada dalam diri kita, ia hanya akan berkembang kalau dilatih dan ditumbuhkan. 

Sama dengan potensi kecerdasan. Sejak kecil kita mempunyai bakat untuk belajar dan memahami sesuatu. Akan tetapi, kita tetap memerlukan pendidikan untuk betul-betul mengembangkan kecerdasan otak kita. Sejak kecil kita mempunyai bakat cinta kepada sesama manusia. Tetapi itu pun baru tumbuh menjadi sikap yang mapan apabila dikembangkan melalui latihan dan pendidikan. Sejak dari lahir kita punya benih keinginan kembali kepada Allah Swt. Itu harus kita latih melalui berbagai ibadah, bacaan, atau zikir yang diajarkan agama. Sehingga potensi takwa .kita benar-benar manifes. 





,

Kerat-Kerat Cinta Para Nestapa dalam Cerpen-Cerpen Martin Aleida

Oleh: Dhianita Kusuma Pertiwi


Dalam tulisannya tentang Bunga Penutup Abad produksi Titimangsa yang berlangsung pada 29–31 Agustus lalu, Putu Fajar Arcana mengaku pertunjukan teater tersebut membawa pikirannya melayang pada Macondo, sebuah desa fiksi yang menjadi latar penceritaan seabad kehidupan keluarga Buendia dalam Seratus Tahun Kesunyian. 

Tahun ini, bertepatan dengan seabad usia Pramoedya Ananta Toer, pertunjukan teater itu menyadarkan Putu akan “paralelitas peristiwa yang dialami dengan Jose Arcadio Buendia” dengan pengalaman hidup Pram. 

Anehnya, pengalaman serupa saya alami ketika membaca kumpulan cerpen Martin Aleida, Kebaya Merah di Tebing Kanal yang baru saja terbit di penghujung tahun ini, yang tidak hanya bertepatan dengan seabad usia Pram tetapi juga enam puluh tahun Genosida 1965–66.

Setelah membuka aplikasi kalender di ponsel, saya pun menyadari bahwa bulan Agustus ternyata juga menjadi pertemuan saya yang terakhir dengan Pak Martin sebelum ia mengirimkan pesan singkat dan mengabari tentang buku terbarunya itu. Saat itu kami berdua diundang ke Jakarta Timur untuk berbicara dalam satu sesi diskusi yang merupakan bagian dari serangkaian kegiatan kursus singkat tentang genosida, ekosida, impunitas, transitional justice, dan hal-hal lain yang berkaitpaut. 

Saya sudah datang lebih awal di tempat acara untuk mengenali peserta acara tersebut yang kebanyakan merupakan mahasiswa dari berbagai kampus dan tingkatan, juga untuk menyiapkan mental saya berbicara berdampingan dengan seorang Martin Aleida.

Hari itu sejatinya bukan perjumpaan pertama saya dengan Pak Martin. Sebelumnya kami cukup sering duduk bersama di tempat yang sama, terkadang sampai malam tiba, untuk mengikuti beragam acara yang menyoal tema-tema tersebut. 

Namun, baru kali itulah saya akan berada di sampingnya sebagai narasumber untuk membahas topik ‘Genosida dan Sastra’, dan saya mendapati itu sebagai momen yang membanggakan sekaligus tugas yang tidak mudah.

Sampai hari ini saya masih merasa bahwa agaknya saya lebih pantas hadir di acara itu sebagai peserta dan mendengarkan penyampaian seorang sastrawan senior yang penuh semangat dan dedikasi itu alih-alih berada di sampingnya.

Tulisan-tulisan fiksi Martin adalah salah satu pendorong dan penggerak saya untuk menulis tentang pengalaman kakek saya sebagai seorang mantan tahanan politik Orde Baru.

Pada taraf berikutnya karya-karya tersebut juga meyakinkan saya untuk mendalami potongan sejarah terkelam dalam perjalanan Indonesia tersebut. Malam Kelabu, Ilyana dan Aku, yang menjadi perkenalan pertama Ruth Indiah Rahayu dengan Martin Aleida sebagaimana ia narasikan dalam pengantar Kebaya Merah di Tebing Kanal, merupakan salah satu karya sastra Indonesia pertama bertemakan Genosida 1965-66 yang ditulis korban yang muncul tidak lama setelah rezim Orde Baru tumbang, tepatnya pada Juli 1998. Buku yang merangkum empat cerita pendek tersebut menjadi pembuka tabir rahasia yang selama tiga dekade lebih dibentangkan oleh rezim, sekaligus pernyataan simbolik seorang penyintas pelanggaran HAM akan eksistensi dan subjektivitasnya.

Tema seputar Genosida 1965–66 terus melekat dalam hampir sebagian besar karya Martin yang muncul kemudian, ketika apa yang disebut sebagai babak baru bernama Reformasi dimulai, dan bahkan sampai hari ini. 

Sebagai pembaca yang belajar menulis, saya menggarisbawahi bagaimana Martin menjadi seorang pengarang yang tidak sekadar menulis tentang peristiwa tersebut, melainkan merasuk ke dalam lapisan-lapisan rasa yang mengitarinya. Sebagaimana sempat diulas oleh Damhuri Muhammad (2009), luka dan nestapa para korban Peristiwa 1965 identik dengan prosa-prosa karya Martin Aleida.

Sampai pada satu titik pembicaraan kami siang itu, ia mengutarakan dengan lantang di hadapan para peserta yang menatapnya dengan sorot mata kagum: “sastra haruslah berpihak pada korban”. 

Lima cerita pendek yang masuk dalam Kebaya Merah di Tebing Kanal, yakni “Lelakiku” dan “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” sebelumnya sudah saya baca di harian Kompas sebagai karya tunggal yang berdiri sendiri, masing-masing dimuat pada 8 Juni 2025 dan 21 Oktober 2018. Selain kedua cerpen tersebut, turut terhimpun “Kebaya Merah di Tebing Kanal” (18 Juni 2023) yang digunakan sebagai judul besar terbitan tersebut, “Perkenalkan, Uno (5 Januari 2025), dan “Tukang Urut di Tepi Danau” (27 Mei 2007). 

Kini, kelima cerpen yang sebelumnya tercecer dan terpaut waktu itu dapat dibaca sebagai satu rangkaian, meski tidak ada penjelasan atau semacam pengantar dari penerbit ataupun penulis yang menerangkan mengapa cerpen-cerpen itu yang dipilih atau mengapa cerpen-cerpen tersebut tidak disusun menurut tanggal penayangannya di surat kabar Kompas.

Dunia dalam kelima cerpen yang tersusun dalam Kebaya Merah di Tebing Kanal memang bukan semesta realisme magis yang diwarnai bayi manusia yang terlahir dengan ekor babi atau pastor yang melayang setelah minum coklat panas. Meski demikian, konstruksi identitas tokoh-tokoh dalam antologi tersebut dan interaksi yang berlangsung di antara mereka mengingatkan saya pada Seratus Tahun Kesunyian yang pertama kali saya baca sekitar 13 tahun lalu sebagai mahasiswa Sastra Inggris. 

Ada satu adegan dalam novel tersebut yang seketika muncul dalam kepala saya ketika mengikuti perjalanan para tokoh dalam kumpulan cerpen tersebut, yakni ketika keponakan-bibi sekaligus pasangan kekasih Aureliano dan Amaranta Ursula menerima surat dari Gaston, suami Amaranta, di mana keduanya “membuka mata mereka, masuk jauh ke relung jiwa mereka, menatap surat itu dengan sepenuh hati, dan memahami bahwa mereka begitu dekat satu sama lain sehingga mereka lebih memilih kematian daripada perpisahan.”

Di tengah segala duka dan nestapa yang mengelilingi atau meliputi diri mereka, para tokoh dalam kumpulan cerpen Martin Aleida memiliki kedekatan dalam kadar yang cukup tinggi terhadap orang-orang dan hal-hal di sekitar mereka. Kedekatan yang membuat mereka terus bersetia meski sisi-sisi tergelap dari kehidupan terus mendera.

Dimulai dari pasangan suami-istri eksil ‘aku’ dan Rubiah dalam “Kebaya Merah di Tebing Kanal” yang menyadari bahwa “pulang ke negeri sendiri sudah menjadi angan-angan yang ujungnya sama dengan bunuh diri”, sampai akhirnya Rubiah benar-benar mengakhiri hidupnya sendiri. Keduanya saling bersetia untuk menjalani hidup dalam statelessness dan placelessness, ditolak oleh rezim yang mengangkangi Ibu Pertiwi dan pada saat yang sama diombang-ambing di tanah orang-orang yang pernah menancapkan bendera kolonialisme di tanah airnya. 

Kematian Rubiah ditempatkan di penghujung cerita tanpa penggambaran lebih lanjut tentang perasaan ‘aku’. Momentum akhir kehidupan yang diciptakan sendiri oleh perempuan berkebaya merah itu digambarkan cukup dingin dan menggantung, alih-alih hadir sebagai berita duka yang memecahkan tangis. Adegan itu menjadi penggambaran manifestasi puncak dari cinta dua orang yang dijadikan para nestapa oleh negaranya sendiri.

Kelindan kenelangsaan-kedekatan dalam relasi suami-istri dapat ditemukan kembali dalam cerpen “Lelakiku”, kali ini dengan menempatkan subjek ‘aku’ pada istri yang mengidap demensia sementara suaminya bergelut dengan “nyeri phantom limb syndrome di kakinya yang diamputasi”. 

Kesetiaanlah yang mengikat ‘aku’ pejuang demensia dan suaminya yang diamputasi, sejak mereka belia sampai tibalah usia senja, ketika raga mulai rontok. Mereka juga terikat oleh ingatan akan kematian leluhur mereka, sekali lagi bukan kematian alami, melainkan meregang nyawa di tangan jagal. 

Entah mana yang akan mematikan mereka terlebih dahulu, badan yang makin menua atau trauma yang terus membayang, tetapi kedekatan di antara keduanya tidak tergoyahkan sejak titik subur sampai uzur.

Sementara itu, kita akan mendapati citraan yang agak berbeda dalam “Namaku Uno” yang mengisahkan ‘aku’ seorang pekerja media massa yang setengah mati berhadapan dengan redaktur yang ia sebut sebagai “orang edan” karena kecepatannya dalam membaca dan mengoreksi serta pengalamannya yang luas sebagai reporter. 

Di sini, ‘aku’ sebenarnya juga tidak kalah gilanya dengan atasannya itu.

‘Aku’ mengaku telah berhadapan dengan banyak redaktur tetapi baru ini ia mendapati sosok yang benar-benar memberikan tekanan pekerjaan yang terasa nyata baginya. 

Di sisi lain, ‘aku’ juga telah mendengar kabar bagaimana para bawahan Uno sebelumnya mengundurkan diri karena tidak kuat menghadapi tekanan darinya. Apalagi yang menjadi kenestapaan bagi reporter kecuali hasil tulisannya tidak pernah diloloskan oleh redaktur untuk bisa ditayangkan? 

Terlepas semua itu, ‘aku’ tidak menyerah dan terus bertahan menghadapi Uno. Barangkali bukan karena dilandasi perasaan yang sama seperti pasangan kekasih pada dua cerita sebelumnya, tetapi ‘aku’ adalah satu dari sedikit orang yang menemukan kedekatan intelektual dengan atasannya. Kedekatan yang membuat pekerjaan itu melampaui sekadar rutinitas untuk memenuhi kebutuhan, menjadi semacam misi yang membuat ‘aku’ terus hidup.

Dibandingkan tokoh-tokoh yang lain, ‘aku’ pensiunan dalam “Tukang Urut di Tepi Danau” adalah karakter paling kompleks dalam Kebaya Merah di Tebing Kanal. 

Pada awal cerita dikisahkan bahwa ‘aku’ memutuskan untuk pensiun dini sebagai upaya perlawanan antisipatif terhadap pergantian usia “yang dapat memojokkannya”, meski pada kemudian hari ia menyadari tidak semudah itu untuk meninggalkan rutinitas yang telah dilakukan selama tiga puluh tahun. Menjadi tukang urut dan memintal sabut menjadi sabut, keduanya ia lakukan dengan sukarela dan untuk membantu penderita kusta, merupakan manifestasi dari keinginannya “untuk bebas dari kungkungan kekuasaan dan perasaan ingin dihargai” sebagai “nilai yang ingin dijunjung seorang pensiunan. 

Namun, kekuasaan muncul dalam berbagai bentuk. Terbebas dari cengkeraman tuntutan dunia kerja, ‘aku’ mesti berhadapan dengan pangkat jenderal yang menjadikan seseorang merasa berhak untuk mendapatkan semua yang ia mau. 

Kedekatan yang dimiliki ‘aku’ dengan nilai-nilai kebebasan dan kerja-kerja sukarela itulah yang membuatnya tidak gentar melawan kekuasaan semena-mena itu, sembari tetap meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini.

Sementara itu, “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” menawarkan teknik berbeda dengan menghadirkan tokoh-tokohnya dalam sudut pandang ketiga, yakni Ulong Bahari dan Halawiyah Sibarani. Keduanya sama-sama pernah mendekam di penjara Orde Baru, satu bergelut dalam kemarahan dan kesendiriannya, sementara “politik dan kekejian tidak memisahkan Halawiyah dari suami yang jadi Insinyur Metalurgi di benua jauh.” 

Kenelangsaan menelisik dalam hampir setiap relung kehidupan mereka, dan di sanalah harapan akan kedekatan muncul. Ulong Bahari menyelipkan segulung kertas kecil dalam ubi rebus berisi keyakinannya untuk mendapatkan Halawiyah sebagai pendamping hidupnya, menggantikan sosok yang sudah hilang.

Beberapa dari cerpen tersebut sempat disinggung Pak Martin dalam pemaparannya siang itu, termasuk “Lelakiku” yang ditulisnya berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri saat ini. Hampir bersamaan ketika lutut kanannya harus diamputasi untuk mencegah virus di tapak kakinya menyebar, ia menyaksikan istrinya makin kehilangan kemampuannya untuk mengingat seiring pergantian hari. 

Sampai pada satu titik, Pak Martin menggeser kursi rodanya ke dekat meja lalu menjadikan permukaannya sebagai tumpuan baginya untuk berdiri, dengan sorot mata yang menyala-nyala, dengan satu kaki. Pada saat itulah saya menyadari ada gairah yang seakan tidak pernah mati dalam diri seorang Martin Aleida, yang dengan sadar ia rawat dan ia tuangkan dalam karya-karyanya.

Kemudian, berhadapan dengan kumpulan cerpen terbarunya, saya mendapati tokoh-tokoh dalam Kebaya Merah di Tebing Kanal sebagai manifestasi dari gairah penulisnya yang tidak padam itu. 

Martin Aleida dengan sastra adalah Aureliano dengan Amaranta Ursula dalam wujud realisnya. Meski negara berusaha menariknya ke jurang dehumanisasi, ia menemukan kedekatannya yang paling intim dengan kata-kata, kesetiaannya yang paling lekat dengan perjuangan korban, dan di situlah ia meyakinkan pembacanya bahwa selalu ada yang tersisa untuk dicintai.

Enam puluh tahun kesunyian Paralelitas antara peristiwa yang dialami dengan Jose Arcadio Buendia dengan pengalaman hidup Pram, sebagaimana dinyatakan oleh Putu Fajar Arcana, membawa pikiran saya ke konteks dan pembicaraan yang lebih luas.

Sepanjang tahun ini, paling tidak saya sudah terlibat dalam enam acara yang diselenggarakan di bawah baliho ‘Seabad Pram’. Salah satunya adalah menyampaikan memorial lecture pada pembukaan rangkaian peringatan tersebut yang berlangsung di Blora, kota kelahiran Pram, Februari lalu. Kemudian disusul dengan acara-acara lain yang dibungkus dalam berbagai bentuk, kebanyakan diskusi publik yang mendatangkan pembicara dengan pengetahuan di bidang sastra dan kebudayaan. Namun, jarang, atau bahkan seingat saya, tidak ada, yang mengaitkan pembahasan tentang seratus tahun usia Pram dengan enam puluh tahun kesunyian negara dalam upaya penuntasan Genosida 1965–66.

Siang itu, sebelum sesi diskusi di Jakarta Timur dimulai, sempat ditayangkan video kesaksian Martin Aleida dalam Pengadilan Rakyat Internasional 1965–66 atau yang lebih akrab disebut IPT ‘65. Terdengar dengan jelas suaranya yang bergetar ketika ia menceritakan kembali pengalamannya ditangkap dan diinterogasi dalam Operasi Kalong tahun 1966. 

Tatapan saya berkali-kali berpindah-pindah dari layar yang digantung di belakang punggung kami, menghadap para peserta, ke wajah yang tepat berada di sebelah saya. Sepuluh tahun sudah sejak pengadilan itu diselenggarakan di Den Haag, Belanda, dan sejauh ini pemerintah masih melangkah maju-mundur untuk menyembuhkan luka mendalam masyarakatnya. 

Enam puluh tahun sudah sejak Gerakan 30 September yang kemudian berlanjut dengan darah jutaan manusia tumpah ke bumi Pertiwi, dan sepuluh kejahatan HAM berat terkait peristiwa 1965–1966 yang menjadi putusan persidangan tersebut belum direspons secara resmi dan penuh oleh pemerintah.

Tidak banyak yang berubah dari dua wajah yang muncul di layar dan yang duduk di samping saya, kecuali keriput yang menemukan semakin banyak tempat di sudut-sudut mata dan bibirnya. Bahkan jika ada yang melihat amputasi yang harus dijalani Martin Aleida sebagai satu bentuk kehilangan, hari itu saya memaknainya sebagai bukti kuat atas kedekatan dan kesetiaannya pada sastra, pada narasi berpihak kepada korban. 

Ia bisa saja menyerah pada kedukaan lalu berpisah dan menyerah, tapi jelas sudah bahwa itu bukan jalan ia tempuh. Hal serupa tentunya juga berlaku untuk para korban lain yang sampai hari ini masih bergelut dalam ruang antara kenestapaan struktural dan keyakinan akan kebenaran yang akan terungkap.

Dalam hal ini, cerpen-cerpen Martin Aleida, baik yang terangkum dalam Kebaya Merah di Tebing Kanal, maupun yang masih tercecer sebagai karya-karya tunggal, atau bahkan yang sedang dikerjakannya, membantu kita menyadari tentang kebisuan ini.

Persoalannya kemudian apakah negara punya cukup hati untuk memperpanjang enam puluh tahun kesunyian ini sampai seratus tahun, membiarkan lebih banyak kebaya merah yang berdiri di tepi kanal menjemput sendiri kematiannya.


Sumber: Facebook Martin Aleida


Kamis, 22 Januari 2026

, , ,

Khutbah Jumat: Pesan-Pesan Taqwa

 Nani Efendi

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

*******

Alhamdulillaahil ladzii arsala rasuulahu bil huda wadiinil haq, liyudzhirohu 'alad diini kullihi walau karihal musyrikuun.

Asyhadu allaa ilaaha illa llah wahdahu lasyarikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Allahummasalli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa’ala alihi wasahbihi ajmain.

Faya ayyuhannas, usikum wa iyya ya bitaqwallah faqad fazal muttaqun.

Qalallahutaala fil quranil azim: yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Shodaqollaahul 'adziim.

***

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Pertama khatib ingin mengawali khutbah ini dengan menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan shalat Jumat. Sebagaimana kita ketahui, beberapa aspek shalat Jumat telah menjadi diskursus atau wacana dalam kehidupan beragama, yang kadang-kadang mengganggu ukhuwah Islamiah dalam masyarakat.

Salah satu rukun khutbah shalat Jumat ialah membaca salam. Setelah salam, khatib kemudian duduk. Hal itu sebetulnya adalah sikap rileks yang merupakan sisa-sisa praktek Rasulullah saw. Pada waktu itu, Rasulullah tinggal di sebelah masjid, rumah beliau satu tembok dengan masjid. Kalau beliau merasa sudah banyak orang yang datang ke masjid untuk shalat Jumat, beliau lalu keluar rumah dan mengucapkan salam.

Kemudian beliau duduk sambil mengamati siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir. Karena itu, tempat duduk beliau dibikin lebih tinggi. Itulah kemudian yang menjadi rujukan desain mimbar kutbah Jumat. Namun demikian, bentuk mimbar kutbah Jumat tidaklah seragam. Bahkan, ada sebagian umat Islam dan para ulama yang menganggap bentuk mimbar kutbah Jumat—di beberapa tempat saat ini—adalah bid’ah, karena tidak sesuai dengan desain Nabi.

Setelah Nabi mengucapkan salam, dikumandangkanlah azan. Seolah-olah diumumkan bahwa shalat akan segera dimulai karena Rasulullah telah hadir. Pada zaman Utsman bin Affan, ketika Madinah sudah menjadi kota yang sangat besar, azan dirasa tidak cukup satu kali. Maka, Utsman pun memerintahkan agar azan dilakukan lagi di luar masjid untuk mengumumkan bahwa shalat Jumat sudah dimulai. Maka muncullah tradisi azan menjadi dua kali.

Ini sama saja dengan perkembangan shalat tarawih. Awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah. Karena Nabi selalu mengerjakannya di rumah, karena prinsipnya shalat sunnah itu memang dilakukan di rumah. Oleh karena itu, sekarang masih ada orang yang seusai shalat wajib, lalu ketika shalat sunnah dia pindah tempat. Itu sebetulnya tiruan simbolis berpindah ke rumah untuk melakukan shalat sunnah.

Jadi begitulah, banyak aspek rileks dari agama yang telah menjadi formalitas karena kita tidak tahu asal usulnya. Padahal sebetulnya, banyak yang menyangkut masalah praktis seperti dipraktekkan Rasulullah Saw.

Ketika khutbah, Nabi selalu menyandarkan pedang atau tombak pada bahu beliau, karena waktu itu umat Islam adalah komunitas militer. Dalam konteks itulah, ketika Nabi menjadi khatib beliau tampil gagah di atas mimbar sambil menyandarkan pedang, atau kadang tombak pada bahu beliau. Praktik itu sekarang masih kita temui di banyak daerah, hanya saja pedang dan tombaknya kini diganti dengan tongkat. 

Setelah itu, seperti yang telah kita ketahui bersama, isi khutbah yang paling penting dan wajib disampaikan ialah pesan-pesan takwa. Karena itu, para khatib setiap Jumat selalu mengutip firman Allah tentang pesan takwa. 

Ayat yang biasa dikutip adalah Q.s. Ali Amran, ayat 102: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri atau Muslim.”

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Seluruh ayat Alquran sendiri sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, sebenarnya dirancang sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Ada beberapa indikasi orang-orang yang bertakwa menurut ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, yaitu: 

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ

Mereka yang percaya pada yang gaib. (Q.s. Al-Baqarah, 3) 

Gaib pada ayat ini adalah gaib dalam pengertian seluas-luasnya, tidak sebatas percaya pada adanya malaikat, iblis, jin, dan syaitan saja, tapi juga percaya pada hal-hal gaib lainnya seperti persoalan taqdir, rezeki, nasib, masa depan, dan lain sebagainya. Kita harus yakin bahwa semua urusan itu berada dalam genggaman Allah.

Indikasi kedua orang bertaqwa itu:

وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ 

Dan mereka menegakkan shalat. (Q.s. Al-Baqarah, 3) 

Orang yang menegakkan shalat itu berimplikasi pada perilaku kehidupan sehari-hari. Shalat yang benar adalah yang bisa menjauhkan orang dari perbuatan keji dan mungkar. Jika selesai shalat berjamaah, misalnya, seseorang masih enggan bertegur sapa dengan orang-orang yang di sampingnya, berarti shalatnya belum memberi kebaikan pada orang itu. Artinya, orang itu belum menegakkan shalat, tapi masih sebatas melaksanakan kewajiban saja. Padahal, inti shalat adalah untuk membentuk berakhlak yang baik.

Indikasi ketiga orang bertaqwa itu:

وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ

Dan mereka menginfakkan sebagian harta yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.s. Al-Baqarah, 3) 

Seorang yang bertaqwa itu, di samping mempunyai kesadaran vertikal, hubungan dengan Allah (hablumminallah), juga harus memiliki kesadaran horizontal, yaitu hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Dua kesadaran itu disimbolkan dalam praktik shalat: dimulai dengan takbiratulihram (hablumminallah), dan diakhiri dengan ucapan salam, as-salamu'alaikum, yang secara simbolik menunjukkan hubungan atau kepedulian sosial kepada sesama manusia. Itulah akhlaqul-karimah, yang intinya adalah menebarkan kebaikan dan kepedulian kepada sesama, terutama pada masyarakat yang kurang beruntung. 

Ciri orang bertakwa berikutnya adalah: 

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ

Dan mereka beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka sebelum engkau (Muhammad). (Q.s. Al-Baqarah, 4) 

Ada banyak nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad. Di mana-mana, kalau ada sekumpulan umat, maka di situ pernah ada rasul, sebab Al-Quran juga mengatakan:

Dan tidak ada satu umat pun melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Q.s. Fathir, ayat 24).

Para rasul itu berbicara dengan bahasa kaumnya. Nabi Muhammad, misalnya, karena beliau orang Arab, maka beliau menyampaikan wahyu dari Allah dalam bahasa Arab. Karena itulah al Qur’an berbahasa Arab. Nabi Isa berbahasa Aramia. Kitab suci Nabi Musa lain lagi: Nabi Musa menggunakan bahasa Ibrani, atau bahasa Yahudi kuno.

Tapi yang jelas, semua nabi itu membawa misi yang sama, yaitu menyampaikan ajaran ketundukan dan kepasrahan kepada Allah, yang dalam bahasa Arab disebut “islam”.

Orang bertaqwa harus beriman kepada seluruh nabi dan rasul beserta kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad itu.

Ciri orang bertakwa selanjutnya: 

وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Dan mereka yakin akan Hari Akhirat. (Q.s. Al-Baqarah, 4) 

Kesadaran kepada Hari Akhir ini penting sekali, karena implikasinya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang percaya pada Hari Akhir, akan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab. Karena ia yakin, apa yang ia lakukan di dunia, akan berkonsekuensi langsung pada kehidupan akhirat.

Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban secara pribadi di akhirat. Di akhirat tidak ada pertanggungjawaban kolektif. Semua orang tampil dalam kapasitas individu-individu di hadapan Allah. Orang bisa saja melakukan kejahatan di dunia secara bersama-sama, tapi pertanggungjawaban tetaplah bersifat pribadi-pribadi atau individu-individu di hadapan Allah.

Firman Allah: 

Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong. (Q.s. Al-Baqarah, 48) 

Rangkaian indikasi-indikasi takwa di atas merupakan dasar yang sangat kokoh untuk hidup yang benar.

Asas hidup itu hanya dua: benar dan salah.

Asas dan orientasi hidup yang benar adalah: takwa kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Selain daripada itu adalah tidak benar. Kalau kita betul-betul mengasaskan hidup kita kepada takwa dan mencari ridha Allah, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah akhlaqul-karimah atau akhlak yang baik. 

Inti takwa adalah kesadaran yang sangat mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Takwa ialah kalau kita mengerjakan segala sesuatu, kita kerjakan dengan kesadaran penuh bahwa Allah beserta kita, Allah mengawasi kita, dan memperhitungkan segala perbuatan kita.

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.s. Al-Hadid ayat ke-4) 

Inilah pengawasan melekat yang sebenarnya, yakni pengawasan yang ada dalam diri kita sendiri karena iman. Dengan demikian, takwa menghasilkan tindakan yang ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih. Dengan takwa, kita berbuat baik bukan karena takut pada orang. Kita meninggalkan kejahatan juga bukan karena pengawasan orang lain. Tapi tumbuh secara otentik dalam diri kita sendiri sebagai akibat daripada takwa. 

Orang yang bertaqwa yakin segala amal perbuatannya selalu diawasi dan dicatat oleh Allah swt.

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

"Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh). (Q.s. Yaa Siin, ayat ke-12) 

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia

Sekarang timbul pertanyaan: Dari mana sebenarnya ukuran kebaikan itu? Ukuran kebaikan itu, pertama, adalah dari modal primordial yang diberikan Allah kepada kita, yaitu hati nurani. Hati ini disebut nurani—berasal dari kata nuraniyun—artinya bersifat cahaya atau terang karena nurani bisa membedakan yang baik dan buruk, benar dan tidak benar, adil dan tidak adil.

Hati nurani merupakan modal pertama yang diberikan Allah untuk menerangi perilaku manusia. Banyak hadis yang menggambarkan bahwa kalau kita ingin tahu mana yang baik dan benar, kita harus bertanya pada hati nurani kita sendiri. 

Rasulullah pernah ditanya oleh beberapa orang sahabat, di antaranya bernama Wabishah. Orang itu datang kepada Rasulullah dengan sedikit memaksa. Kemudian dihalangi oleh para sahabat, tapi oleh Rasulullah justru disuruh menghadap. Ketika menghadap, dengan setengah bersumpah orang itu mengatakan, “Hai Muhammad, saya tidak akan pergi dari depanmu sebelum kamu mengajari aku apa itu kebaikan dan kejahatan.

Dalam situasi seperti itu, Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke dada Wabishah, “Hai Wabishah, kebaikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram dan kejahatan ialah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.”

Nah, ketika orang yang seperti itu datang juga kepada Nabi dan bertanya tentang kebaikan dan keburukan, maka Nabi pun menjawab, “Tanyalah kepada hati kecilmu.”

Suatu saat Nabi didatangi orang serupa, dan bertanya hal yang serupa. Nabi mengatakan, “Mintalah nasihat pada hatimu sendiri.”

Menurut hadis, orang yang bertanya seperti itu kepada Nabi—kemudian dengan setia berpegang kepada pesan Nabi itu—mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang baik, menjadi manusia-manusia yang mendekati kualitas insan kamil.

Hati Nurani ini bersifat hanif (selalu cenderung pada kebaikan). Itulah fitrah manusia.

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Qs. Ar Ruum, ayat 30).

Fithrah itu tidak akan berubah sepanjang masa. Ia merupakan lokus kearifan abadi (al-hikmat al khalidah, sophia perennis).

***

Tapi, walaupun setiap pribadi manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci, tidak selamanya manusia memiliki sensitivitas fithrah. Manusia masih bisa tergelincir dalam dosa. Karena manusia juga bersifat lemah. Oleh karena itu, manusia harus dibimbing dengan wahyu dari Allah agar manusia tetap berada dalam fitrahnya yang hanif.

Maka, ukuran kebaikan yang kedua adalah agama (wahyu). Agama disebut juga sebagai hati nurani atau fitrah yang diturunkan oleh Allah, yang diistilahkan dengan “fithrah munazzalah”. Fitrah yang diturunkan—yakni wahyu atau agama yang dibawa oleh para rasul—ini berfungsi memperkuat fitrah alami yang sudah ada dalam hati nurani setiap manusia.

***

Kemudian, ukuran kebenaran yang ketiga ialah mu'ahadah al-'uqud, yaitu perjanjian-perjanjian antarsesama manusia. Allah selalu berpesan agar kita senantiasa menghormati perjanjian-perjanjian atau kontrak-kontrak ('uqud) di antara kita. Oleh karena itu, undang-undang (hukum) yang benar-benar adil dan mempunyai legitimasi—yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan—haruslah kita hormati demi kebaikan bersama.

Umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. Oleh karenanya, Islam disebut juga sebagai din (sistem ketundukan atau kepatuhan). Sedangkan masyarakatnya disebut madinah, yang berarti suatu tempat di mana kehidupan itu teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh pada aturan.

Baarakallahu lii wa lakum fiil quranil 'azhiiim, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

 

Kutbah II

Alhamdulillahi hamdan katsiiron kamaa amar.

Asyhadualla ilaha illallah wah dahula syarikalah, wa asyhaduanna Muhammaddan ‘abduhu warasuluh.

Allahummasalli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wasahbihi ajmain.

Faya ayyuhannas, usikum wa iyya ya bitaqwallah faqad fazal muttaqun

Qalallahutaala fil quranil azim: innalaha wamalaikatahu yusallunaalannabiy ya ayyuhallazi na amanu sallu ‘alaihi wasallimutaslima.

Allahummasalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamasallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali ibrahim. Wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Fil ‘alamin innaka hamidummajid.

Alhummagfirlillmuslimin wal muslimat, wal mukminina wal mukminat al ahya iminmum wal amwat. Innaka sami’un qaribummujibu da’awat ya qadial hajat.

Rabbana atina fiddun ya hasanah wa fil akhiratihasanah wa kina ‘azabannar.

‘Ibadallah. Innallāha ya`muru bil-'adli wal-iḥsāni wa ītā`i żil-qurbā wa yan-hā 'anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya'iẓukum la'allakum tażakkarụn. Wa la zikrullahi akbar.



 

Selasa, 20 Januari 2026

INLANDER

TEMPO, No. 4747/14-20 Januari 2019, “Bahasa!”


Oleh: Mustakim*


Ini bukan istilah baru. Sejak awal abad ke-19, ketika masih dijajah Belanda, kita sudah mengenal istilah itu. Pada masa penjajahan Belanda, istilah inlander—seperti diterangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia—merupakan sebutan yang digunakan orang Belanda untuk mengejek bangsa pribumi atau penduduk asli di Indonesia. Istilah itu menarik untuk dibincangkan kembali karena ada hubungannya dengan perilaku berbahasa saat ini.


Kamus Merriam-Webster juga mencatat adanya istilah inlander. Istilah tersebut sudah digunakan sejak 1610. Sebagai istilah, inlander terdiri atas dua unsur, yaitu inland dan imbuhan -er, yang bermakna "orang yang tinggal di inland". Inland sendiri merupakan bagian dari suatu wilayah, mungkin semacam dusun atau kampung. Dengan demikian, bisa jadi penduduk pribumi Indonesia oleh orang Belanda dianggap sebagai orang dusun, orang kampung, atau wong ndeso. Karena itu, wajar jika inlander dianggap sebagai sebutan ejekan bagi bangsa Indonesia oleh orang Belanda.


Meskipun tidak tertutup kemungkinan ada dusun, kampung, dan desa yang maju, dalam konteks orang dusun, orang kampung, atau wong ndeso, memang sebutan itu bisa berkonotasi udik, jauh dari keramaian, kurang gaul, dan sejenisnya yang bernilai rasa "rendah". Pada kenyataannya, pada masa penjajahan Belanda memang bangsa Indonesia dianggap sebagai "warga kelas tiga" atau warga kelas rendah. Warga kelas duanya adalah Arab, India, dan Cina, sementara yang dianggap sebagai warga kelas satu adalah orang Belanda dan Eropa pada umumnya. Anggapan semacam itu tentu saja menurut penilaian orang Belanda.


Anehnya, bangsa Indonesia sendiri pada masa penjajahan Belanda menganggap bangsa Belanda dan Eropa pada umumnya sebagai bangsa yang "berkelas", bangsa yang hebat, yang lebih tinggi daripada bangsa Indonesia. Karena itu, sebagian orang Indonesia yang bisa bekerja pada pemerintah Belanda, bisa bersekolah di sekolah Belanda, atau bisa berbahasa Belanda merasa derajatnya naik dan bisa menyejajarkan diri dengan "golongan atas". Sementara itu, orang yang tidak bisa mencapai taraf tersebut tetap merasa diri sebagai warga "kelas tiga" atau "warga rendahan".


Dari situlah tampaknya mulai muncul bibit-bibit inferioritas, muncul sikap rendah diri, atau muncul mentalitas inlander, kehilangan rasa percaya diri sebagai suatu bangsa yang bermartabat. Sikap tersebut kemudian merasuk dalam diri sebagian besar bangsa Indonesia sebagai bangsa jajahan. Sikap rendah diri semacam itu lalu terwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.


Akibat dari mentalitas inlander itulah sebagian di antara kita menjadi kehilangan rasa percaya diri pada kekuatan bahasa dan budaya sendiri. Akibat lebih lanjut, apa pun yang kita miliki dirasa kalah hebat, kalah nilai, dan kalah gengsi daripada milik bangsa lain. Sebaliknya, apa pun yang dimiliki bangsa lain dianggap lebih hebat, lebih keren, dan lebih bergengsi daripada milik kita sendiri. Karena kita menilai bangsa lain atau orang asing lebih tinggi, dalam hampir segala hal kita pun menghargai mereka dengan "harga" yang lebih tinggi. Hal itu termasuk pula dalam memberikan gaji kepada orang asing meskipun kelas jabatannya sama dengan orang Indonesia. Itulah perwujudan dari mentalitas inlander. Mentalitas semacam itu tampaknya merasuk pula dalam perilaku berbahasa masyarakat.


Karena telah dirasuki mentalitas inlander, banyak di antara kita yang menganggap bahasa asing lebih bergengsi, lebih bernilai, dan lebih memiliki daya jual. Akibatnya, dalam berbagai penamaan, bahasa asing lebih kerap dipilih daripada bahasa Indonesia. Dalam menulis buku pun judulnya menggunakan bahasa asing, padahal isinya berbahasa Indonesia. Begitu pula pada judul film, judul lagu, nama kelompok musik, nama rubrik di media massa, nama acara, serta nama kegiatan dalam berbagai peristiwa. Dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pun, banyak kata dan istilah asing digunakan.


Semua itu dilakukan dengan satu tujuan: dianggap berkelas. Akibatnya, fenomena penggunaan kata dan istilah asing makin marak. Bahasa Indonesia malah terpinggirkan. Padahal bukan bahasa asing yang menentukan nilai suatu produk, melainkan mutu produk itu sendiri. Kebanggaan pada bahasa Indonesia akhirnya tergadaikan. Sumpah untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, pun dikhianati meski tiap tahun Sumpah Pemuda diperingati.


*) KEPALA BALAI BAHASA JAWA TIMUR


Sumber: TEMPO, No. 4747/14-20 Januari 2019

Senin, 19 Januari 2026

TIPS CARA BACA KETEBALAN BUKU SASTRA

 


oleh ReO Fiksiwan


“Kemerosotan karya  sastra menandakan kemerosotan suatu bangsa.” — Johann Wolfgang Goethe(1749-1832),  Maximen und Reflexionen(Terjemahan Berthold Damshäuser & Agus R. Sarjono dalam Seri Puisi Jerman, Satu dan Segalanya, 2007). 


Membaca buku sastra yang tebal sering kali menjadi momok bagi pembaca. 


Ketika berhadapan dengan novel atau antologi yang halamannya ratusan, bahkan ribuan, otak pembaca normalnya langsung “sembelit” oleh bayangan panjangnya perjalanan membaca. 


Ambil misal, buku dari Hans Emil Wilhelm Grimm (1875–1959), Volk ohne Raum(1934) setebal 1307 halaman dan dikenal dengan tagarnya:  “Ohne das Buch, ohne das Volk.” 


„Tak ada bangsa tanpa buku“ dalam Volk ohne Raum menjadi salah satu teks yang dipakai sebagai justifikasi ideologi ekspansionis Nazi.


Karna itu, frase  “Ohne das Buch, ohne das Volk” muncul dalam wacana Grimm tentang pentingnya karya sastra sebagai pengikat bangsa.


Lain juga, karya-karya  Remy Sylado,  nama asli Japi Panda Abdiel Tambayong, lahir 12 Juli 1945 di Makassar dan wafat 12 Desember 2022 di Jakarta pada usia 77 tahun. 


Buku-buku tebalnya, antara lain: 

Kerygma & Martyria(2004), kumpulan puisi berhalaman 1056; Hotel Prodeo(2010), novel  setebal 1044 halaman  yang berkisah ihwal  fiksi kritik sosial-politik Orde Baru, dan Sam Po Kong: Perjalanan Pertama(2005) tebal 1.128 halaman.


Lapisan tebal teks dari fiksi hingga fakta  sejarah dari ketiga buku sastra di atas, semuanya menghadirkan tantangan bukan hanya pada isi, tetapi juga pada ketebalan fisik buku itu sendiri.


Untuk tujuan membaca strategi literer, bisa dibaca buku antologi kritik sastra dari sosiolog, mendiang Ignaz Kleden, dalam  bukunya Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan(2004), menekankan bahwa membaca karya sastra secara kritis adalah sebuah tarik-menarik antara subjektivitas dan objektivitas, yang menuntut pembaca untuk tidak hanya menikmati teks, tetapi juga menguji dan menafsirkan maknanya.


Dikutip Kleden menyatakan: 


„Dalam suatu tipe ideal…, sebuah sajak adalah murni subyektivitas, ilmu berusaha sekuat tenaga mendekati obyektivitas, tetapi esai selalu merupakan tarik-tambang yang melelahkan, senda-gurau yang manis atau dialektik yang keras di antara dua pihak yang saling menggoda dan saling meledek, saling mengandaikan dan saling meremehkan, yaitu subyektivitas dan obyektivitas.”


Uraiannya berikut menegaskan tiga tahap pembacaan karya sastra:


1/ Subjektivitas: 

Membaca sastra berarti membuka diri pada pengalaman personal, emosi, dan imajinasi.


2/ Objektivitas: 

Kritik sastra menuntut analisis sistematis, dengan kerangka teori dan metodologi.


3/ Dialektika: 

Menurutnya, membaca kritis adalah proses tarik-menarik antara dua kutub itu. Pembaca tidak bisa sepenuhnya objektif, tetapi juga tidak boleh larut dalam subjektivitas.


4/ Strategi literer: 

Membaca kritis berarti menempatkan diri sebagai pembaca yang aktif, yang menguji teks, mengaitkan dengan konteks sosial, dan menimbang makna di antara subjektivitas dan objektivitas.


Lain hal ketebalan  halaman karya sastra sering kali menjadi pertimbangan penerbit. Sekat produksi teks dari penerbit  dianggap berisiko rugi, alias tak laku, karena pembaca enggan membeli atau merasa tidak sanggup menuntaskan. 


Namun di sisi lain, karya sastra yang tebal justru menyimpan kekayaan makna, lapisan simbol, dan kompleksitas yang tidak bisa dipadatkan begitu saja. 


Dengan kata lain,  membaca buku sastra tebal bukan sekadar soal stamina, melainkan soal strategi.


Secara teknis, panduan membaca buku sudah lama ditulis oleh Mortimer Adler dan Charles van Doren dalam How to Read a Book(Edisi revisi 1972; Terjemahan 2007). 


Mereka menekankan bahwa membaca bukan hanya aktivitas pasif, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.


Dimulai dari membaca dengan cara berikut:


1/ Inspectional Reading(membaca inspeksi): Membaca cepat dengan teknik skimming dan superficial reading, untuk memahami struktur dan ide pokok buku dalam waktu terbatas. 


Adler menyebutnya sebagai seni “membaca dengan cepat tetapi sistematis.”


2/ Analytical Reading(membaca analitis): 

Membaca mendalam, mengikuti aturan-aturan tertentu(11 rules of analytical reading), dengan tujuan memahami argumen penulis secara menyeluruh. 


Adler menulis: “The reader tries to uncover the skeleton that the book conceals.”


3/ Syntopical Reading(membaca sintopikal): Membaca banyak buku sekaligus, membandingkan dan menempatkan ide-ide dari berbagai penulis dalam hubungan satu sama lain. 


Disebut sebagai level tertinggi membaca karena menuntut pembaca menjadi “penulis baru” yang merumuskan sintesis dari berbagai sumber


Dengan cara ini, ketebalan buku tidak lagi menjadi beban, melainkan ladang eksplorasi. 


Pembaca bisa memilih untuk membaca cepat bagian tertentu, lalu mendalami bagian yang dianggap penting.


Selain anjuran Kleden sebelumnya, membaca secara kritis sebaiknya pula menuntut penguasaan dan pendekatan dalam  ilmu sastra dan linguistik. 


Salah satunya, Wolfgang Iser(1926-2007), dikenal luas sebagai teoretikus utama reader-response criticism(teori resepsi), serta profesor di Universitas Konstanz dan University of California, Irvine, dalam Der Akt des Lesens: Theorie ästhetischer Wirkung(1976), menekankan bahwa teks sastra bukanlah entitas yang selesai dengan sendirinya, melainkan potensi makna yang baru terwujud ketika dibaca. 


Buku Der Akt des Lesen sebagai pencetus teori resepsi sastra dalam horison wawasan,  menekankan bahwa membaca adalah proses interaktif antara teks dan pembaca, di mana “ruang kosong” dalam teks justru mengundang pembaca untuk mengisi makna. 


Ia mengajukan beberapa gagasan penting: Teks sebagai “struktur kosong”;  teks  menyediakan kerangka, tetapi pembaca harus mengisi “ruang kosong”(gaps) dengan imajinasi dan interpretasi.


Berikut tahapan  membaca dari Iser:


1/ Prefiguring(pra-pemahaman): 

Pembaca membawa horizon harapan (expectations) berdasarkan pengalaman dan budaya.


2/ Interaction(interaksi): 

Pembaca berhadapan dengan teks, menemukan konfirmasi atau frustrasi atas harapan mereka.


3/ Gap-filling(pengisian ruang kosong): 

Pembaca aktif menafsirkan bagian yang tidak eksplisit, sehingga makna teks terbentuk.


4/ Reconfiguration(rekonstruksi): 

Setelah membaca, pembaca menyusun kembali pemahaman, sering kali berbeda dari awal.


Demikian pula, Jacques Derrida, pencetus pembaca dekonstruktif dalam Off Grammatology(1967)  menunjukkan bahwa teks selalu terbuka pada penafsiran, sehingga ketebalan bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk menemukan jejak-jejak makna yang tersembunyi. 


Sementara itu, Bill Ashcroft, Gareth Griffiths, Helen Tiffin dalam The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures(1989;2002)

menyoroti bagaimana teks sastra kolonial dan pascakolonial bisa dibaca sebagai arena pertarungan ideologi, yang menuntut pembaca untuk kritis terhadap konteks sejarah dan politik.


Dengan demikian, cara membaca buku sastra tebal bukanlah sekadar menaklukkan jumlah halaman. 


Ia adalah latihan mental, kesediaan untuk masuk ke dalam dunia yang kompleks, dan keberanian untuk menantang diri sendiri. 


Ketebalan buku hanyalah kulit luar; yang lebih penting adalah bagaimana pembaca mampu menembus isi, mengolah makna, dan menjadikan pengalaman membaca sebagai bagian dari perjalanan intelektual. 


Penerbit boleh khawatir soal laku atau rugi, tetapi bagi pembaca sejati, ketebalan buku sastra adalah tantangan yang justru memperkaya rasa dan nalar.


#coversongs:

Lagu Serat Kalatida II karya Remy Sylado dirilis pada 1977 oleh Harpa Records, masuk dalam album Bromocorah dan Putrinya.


#credit foto buku tiga di atas koleksi ReO Biblothek Kokima Hill dan di bawah buku Kafka dan Sitor Situmorang koleksi Sigit Susanto, penekun semua karya-karya Kafka.

Minggu, 18 Januari 2026

,

Khutbah: Pesan Taqwa


Hadirin sidang Jumat yang terhormat. 


Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, saya ingin urun rembuk berkenaan dengan sembahyang Jumat. Sebagaimana kita tahu, beberapa aspek sembahyang Jumat telah menjadi discourse atau wacana dalam masyarakat kita, yang kadang-kadang mengganggu ukhuwah Islamiah di antara kita. 

Salah satu rukun khutbah Jumat ialah membaca salam. Setelah salam, khatib kemudian duduk. Hal itu sebetulnya adalah sikap rileks yang merupakan sisa-sisa praktik Nabi. Pada waktu itu, Nabi tinggal di sebelah masjid. Rumahnya, yang sekarang menjadi makam beliau, terletak satu tembok dengan masjid. Kalau dirasa sudah banyak orang yang datang ke masjid untuk shalat Jumat, beliau keluar rumah dan mengucapkan salam. Kemudian beliau duduk sambil mengamati siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir. 

Tempat duduknya dibikin lebih tinggi, yang kemudian menjadi rujukan desain mimbar Jumat. Oleh karena itu, ada sebagian umat Islam dan para ulama yang menganggap mimbar Jumat seperti yang ada sekarang ini adalah bidah, karena tidak sesuai dengan desain Nabi. Yang betul seperti apa? Kalau kita pergi ke masjid Tanah Abang, di sana ada contoh mimbar Jumat seperti zaman Nabi. 

Setelah Nabi mengucapkan salam, kemudian dikumandangkanlah azan. Seolah-olah diumumkan bahwa sembahyang akan segera dimulai, karena Nabi telah hadir. Pada zaman Utsman bin Affan, ketika Madinah sudah menjadi kota yang sangat besar, azan sekali dirasa tidak cukup. Maka, Utsman memerintahkan agar azan juga dilakukan di luar masjid untuk mengumumkan bahwa shalat Jumat sudah dimulai. Maka tumbuhlah azan dua kali. 

Ini sama saja dengan perkembangan shalat tarawih. Awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah. Nabi selalu mengerjakannya di rumah, karena pada prinsipnya sembahyang sunnah memang dilakukan di rumah. Oleh karena itu, sekarang masih ada orang yang seusai sembahyang wajib, lalu ketika sembahyang sunnah dia pindah tempat. Itu sebetulnya tiruan simbolik pindah ke rumah. Jadi begitulah, banyak aspek rileks dari agama yang telah menjadi formalitas karena kita tidak tahu asal usulnya. Padahal sebetulnya, banyak yang menyangkut masalah praktis seperti dipraktikkan Nabi. 

Ketika khutbah, Nabi selalu menyandarkan pedang atau tombak pada bahu beliau, karena waktu itu umat Islam adalah komunitas militer. Setiap orang Islam adalah seorang militer. Maka orang yang murtad kala itu menjadi desersi dan hukumannya adalah dibunuh. Padahal menurut Alqur'an, yang menghukum orang murtad adalah Allah Swt. sendiri di akhirat nanti. Tapi karena waktu itu murtad mempunyai implikasi desersi (meninggalkan barisan perjuangan) maka hukumnya dibunuh. 

Dalam konteks itulah, ketika menjadi khatib Jumat, Nabi tampil gagah sekali di atas mimbar sambil menyandarkan pedang, atau kadang tombak, pada bahu beliau. Praktik itu sekarang masih ada di masjid-masjid lama, hanya saja pedang dan tombaknya kini diganti dengan tongkat. 

Setelah itu, seperti yang telah kita ketahui bersama, isi khutbah yang paling penting dan wajib disampaikan ialah pesan takwa. Karena itu, khatib selalu mengutip firman Allah yang berkenaan dengan takwa. 

Ayat yang biasa dikutip ialah firman Allah: 

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (Q.s. Ali Amran (31: 102) 

Seluruh ayat Alquran sendiri, sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, sebenarnya dirancang sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Indikasi orang yang bertakwa menurut ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, yang pertama adalah: 

Mereka yang percaya pada yang gaib. (Q.s. Al-Baqarah (2): 3) 

Gaib pada ayat ini adalah gaib dalam pengertian seluas-luasnya, tidak seperti pengertian harian yang berlaku sekarang. 

Indikasi kedua: 

Dan mereka menegakkan shalat. (Q.s. Al-Baqarah (2): 3) 

Jadi, orang yang bertakwa tidak sekadar mengerjakan shalat, tetapi menegakkan shalat. Patut diperhatikan, dalam Al Quran perintah shalat tidak pernah dalam bahasa, “Shalatlah kamu!” atau “Kerjakanlah shalat!”, akan tetapi, "Tegakkanlah shalat!” atau aqimus-shalah. 

Indikasi ketiga: 

Dan mereka mendermakan sebagian harta yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.s. Al-Baqarah (2): 3) 

Di samping mempunyai kesadaran vertikal, berupa hubungan dengan Allah, orang yang bertakwa juga memiliki kesadaran horizontal, yaitu hubungan dengan sesama manusia. Dua kesadaran itu dilambangkan dalam praktik shalat. Shalat dibuka dengan takbiratulihram, artinya takbir yang mengharamkan segala pekerjaan selain menghadap Allah, dengan ucapan Allahu akbar, Allah Mahabesar. Takbir ini menggambarkan kesadaran vertikal. 

Tetapi shalat harus diakhiri dengan ucapan salam, as-salamu'alaikum, yang secara simbolik menunjukkan bahwa kita mempunyai perhatian kepada sesama manusia. Kemudian diperkuat dengan anjuran menengok ke kanan dan ke kiri, seolah-olah Allah berpesan, “Kamu betul telah sungguh-sungguh menghadap-Ku melalui shalatmu, membina hubungan yang baik dengan-Ku. Maka, tunjukkanlah buktinya dengan membina hubungan yang baik dengan sesama manusia”. Itulah akhlaqul-karimah, yang intinya adalah perhatian kepada kelompok-kelompok masyarakat yang kebetulan tidak beruntung. 

Ciri orang bertakwa berikutnya adalah: 

Dan mereka beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka sebelum engkau (Muhammad). (Q.s. Al-Baqarah (2): 4) 

Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa Dia mengutus seorang utusan untuk setiap umat. 

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul. (Q.s. Al-Nahl (16): 36) 

Di mana-mana, kalau ada sekumpulan manusia yang bisa disebut umat, maka di situ pernah ada rasul, sebab Al-Quran juga mengatakan: 

Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Q.s. Fathir (35: 24) 

Dan para rasul berbicara menurut bahasa masing-masing umatnya. 

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. (Q.s. Ibrahim (14): 4) 

Nabi Muhammad adalah orang Arab, karena itu beliau menyampaikan pesan-pesannya dalam bahasa Arab. Tetapi Nabi Isa berbahasa Aramia. Sehari-hari dia menggunakan bahasa Aramia yang dicampur dengan bahasa Yunani, karena waktu itu wilayah Timur Tengah sudah mengalami pe-Yunani-an atau Helenisasi, sehingga disebut daerah Helenik. 

Kitab suci Nabi Musa lain lagi. Dia menggunakan bahasa Ibrani, yaitu bahasa Yahudi kuno. Padahal, Nabi Musa sendiri berbahasa Mesir. Nama Musa adalah perkataan Mesir yang artinya air, Nama ini diberikan Fir'aun karena ketika bayi, Musa ditemukan istri Firaun di Sungai Nil. 

Musa mulanya menggunakan bahasa Mesir. Kemudian belajar bahasa Ibrani-melalui kaumnya, yaitu Bani Israel yang ada di Mesir. Tapi Musa mengetahui atau belajar agama itu dari mertuanya, Nabi Syu'aib, dari Madyan, yang agaknya adalah seorang Arab. 

Oleh karena itu, Musa juga menggunakan perkataan Arab, yang sampai sekarang orang Yahudi sendiri tetap tidak paham, yaitu kata Yahweh. Yahweh berasal dari kata Arab “Ya Huwa', artinya wahai Dia, maksudnya ialah Allah Swt.

Dalam bahasa Arab, kalau kita memanggil seseorang dengan penuh kemesraan, maka ditambah dengan "ya". 

Misalnya, ya Abahu, wahai Ayah. Ya Ummahu, wahai Ibu. Ya Huwa, wahai Dia Tuhanku. 

Ciri orang bertakwa selanjutnya: 

Dan mereka yakin akan Hari Akhirat. (Q.s. Al-Baqarah (2): 4) 


Hari Akhir adalah hari pertanggungjawaban pribadi secara mutlak di akhirat. Di sana tidak ada khullah. Khullah itu berasal dari kata khalil yang artinya teman. Di akhirat tidak ada pertemanan. Tidak ada solidaritas. Tidak ada perkoncoan. Semua orang tampil secara pribadi di hadapan Allah Swt. Dan, tidak ada perantaraan dengan Allah Swt.: 


Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong. (Q.s. Al-Baqarah (2): 48) 


Hadirin sidang Jumat yang terhormat. 


Kesadaran kepada Hari Akhirat ini penting sekali, karena implikasinya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Hidup di dunia ini akan menuju pada kehidupan akhirat. Itulah hidup yang sebenarnya. Hidup di dunia ini harus kita jalani dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, karena semuanya akan berakhir dengan pertanggungjawaban pribadi di hadapan Allah Swt. Rangkaian indikasi-indikasi takwa tadi jelas merupakan dasar yang sangat kukuh bagi kehidupan yang benar. Dalam ayat Al-Quran yang lain disebutkan, bahwa takwa adalah asas hidup yang benar. 

Bahasa kita sudah mengenal kata asas, yang kadang-kadang bagi mereka yang tidak tahu bahasa Arab, ejaannya diganti menjadi azaz. Yang benar adalah asas. Kata asas dalam Al-Quran ada yang disebutkan berkenaan dengan sebuah peristiwa menyangkut Masjid Dhirar. Yaitu, masjid yang didirikan kaum munafik atas dasar iktikad kurang baik. Ini kebalikan Masjid Kuba yang didirikan Nabi sendiri, yang disebut sebagai masjidun ussisa 'ala taqwa, masjid yang didirikan atas dasar takwa. Setelah cerita hal praktis-historis ini, ada pesan moral yang bunyinya sebagai berikut: 


Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.s. Al-Taubah [9]: 109) 

Ini adalah gambaran mengenai asas hidup. Asas hidup itu hanya dua: yang benar dan yang salah. Asas hidup yang benar adalah takwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridha-Nya. Asas hidup mana pun, selain takwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridha-Nya, adalah tidak benar. Kalau kita betul-betul mengasaskan hidup kita kepada takwa dan keinginan mencapai ridha-Nya, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah budi pekerti luhur atau akhlaqul-karimah. 

Melalui takwa, kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup. Inti takwa adalah kesadaran yang sangat mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Takwa ialah kalau kita mengerjakan segala sesuatu, kita kerjakan dengan kesadaran penuh bahwa Allah beserta kita, Allah menyertai kita, Allah mengawasi kita, dan Allah memperhitungkan perbuatan kita. 


Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.s. Al-Hadid [571]: 4) 


Hadirin sidang Jumat yang terhormat. 


Inilah pengawasan melekat (waskat) yang sebenarnya. Pengawasan yang built in dalam diri kita melalui iman. Dengan demikian, takwa menghasilkan tindakan yang ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih. Dengan takwa, kita berbuat baik bukan karena takut pada orang. Kita meninggalkan perbuatan jahat juga bukan karena pengawasan orang. Tetapi karena dinamika yang tumbuh dalam diri kita sebagai akibat dari takwa. 

Kalau kita sudah memperhitungkan kehadiran Allah dalam hidup kita, dan segala sesuatu yang kita kerjakan menurut kesadaran bahwa Allah mengawasi dan memperhitungkan perbuatan kita, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah budi pekerti luhur. Logikanya, kalau kita hanya melakukan sesuatu yang diridhai Allah, maka dengan sendirinya kita hanya melakukan sesuatu yang baik. 


"Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh). (Q.s. Ya Sin [36]: 12) 


Dari mana ukuran kebaikan itu? Pertama-tama dari modal primordial yang diberikan Allah kepada kita, yaitu hati nurani. Hati ini disebut nurani—berasal dari kata nuraniyun, artinya bersifat cahaya karena merupakan modal pertama dari Allah untuk menerangi sikap kita. Banyak hadis yang menggambarkan bahwa kalau kita ingin tahu mana yang baik dan benar, maka kita harus bertanya pada hati nurani. 

Nabi bersabda: 

"Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu wahai wabishah (bin Ma'bad Al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” (HR. Ahmad) 


Ukuran kebaikan yang kedua ialah agama. Karena itu, agama disebut juga hati nurani yang diturunkan oleh Allah atau fitrah yang diturunkan oleh Allah kepada manusia (fithrah munazzalah). Kalau hati nurani yang ada dalam diri kita itu adalah fitrah (kecenderungan suci) yang ada secara alami dalam diri kita, maka agama adalah fitrah yang diturunkan Allah kepada umat manusia untuk memperkuat fitrah alami itu. 

Ukuran kebenaran yang ketiga ialah mu'ahadah al-'uqud, yaitu perjanjian-perjanjian antarsesama manusia. Manusia mempunyai sisi keburukan dan kebaikan, oleh karena itu kumpulan dari pikiran manusia, besar sekali kemungkinan menuju pada kebaikan. Allah selalu berpesan agar kita senantiasa menghormati perjanjian-perjanjian atau kontrak-kontrak ('uqud) di antara kita. 

Karena itu, undang-undang yang betul-betul absah harus kita hormati. Maka kalau kita sudah sepakat lampu merah adalah berhenti, kita harus menghormati lampu merah itu. Ini adalah ketaatan yang sepertinya sederhana, tetapi dari segi agama hal itu adalah ketaatan kepada Allah. 

Allah berfirman: 


"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki. (Q.s. Al Maidah [5]: 1) 

Dengan ayat itu, jelaslah bahwa umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. Makanya, Islam disebut sebagai din. Din adalah sistem ketundukan atau kepatuhan. Sedangkan masyarakatnya disebut madinah, artinya suatu tempat di mana kehidupan itu teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh pada aturan.


Baarakallahu lii wa lakum fiil quranil 'azhiiim, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm. 


TERBARU

MAKALAH