Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Rahimahullah
Shalat berjamaah merupakan amal dan kebiasaan yang selalu harus diupayakan oleh setiap mukmin yang saleh atau yang berupaya untuk saleh. Ketika hal ini diupayakan oleh sekelompok orang, lalu mereka berjamaah di masjid-masjid besar, ada kenikmatan yang terasa. Enaknya berjamaah, tempat yang semakin rapi, suara imam yang merdu, bacaannya yang agak panjang, surat dan ayat bacaannya yang semakin beragam. Namun di balik itu semua, ada kekurangan yang semakin terasa.
Ketika suara imam yang enak, bacaannya juga beragam, namun
sayang, semakin beragamnya bacaan imam, semakin tidak mengerti si makmum ini
akan bacaan dan pesan ayat yang dibaca imam.
Berbeda kondisinya ketika dia shalat di tempat biasa, meski
suara imamnya kurang fasih dan kurang merdu, namun yang dibacanya dia hafal dan
tahu maksudnya. Itu karena imam tidak pernah mengganti bacaannya, itu dan itu
saja.
Secara konsep, Allah Ta’ala mempersilahkan kita untuk
membaca apa yang kita anggap mudah dari ayat-ayat Alquran ketika melakukan
shalat. Kata mudah bisa ditafsirkan, yang mudah dihafal atau sudah dihafal,
dapat juga ditafsirkan mudah diingat dan menjadi ingatan. Mengambil dasar dari
Surah Al Muzammil ayat ke 20.
Alhasil, ini menjadi kesepakatan ulama bahwa seorang boleh
membaca ayat mana saja dari Alquran dalam shalatnya, minimal satu ayat maksimal
tidak terbatas. Dan shalatnya sah.
Kata mudah dapat diartikan dalam hal jumlah ayat. Ulama Fiqh
sepakat bahwa bacaan minimal dalam shalat adalah 1 ayat. Maksimalnya tidak
terbatas.
Batasan yang terbaik adalah ketika menjadi imam shalat,
terlebih di masjid atau mushalla pasar atau airport (bandara), maka pilihan
terbaik adalah 3 sampai dengan 5 ayat saja. Jika shalat sendiri, terlebih
shalat malam, maka dipersilakan untuk membaca sampai ratusan ayat.
Selain itu, para imam juga sering memilih bacaan sesuai
dengan kondisi atau pesan yang akan disampaikan. Jika shalat Isya’ malam
Jum’at, maka biasanya imam memilih 3 ayat terakhir di surat al-Jum’ah yang
mengabarkan kewajiban shalat Jum’at dan keutamaannya. Berbeda ketika hari itu
menjelang Ramadhan, maka imam akan membacakan surat al-Baqarah ayat 183 sebagai
pesan kewajiban berpuasa Ramadhan. Demikian seterusnya.
Nah, yang perlu diperhatikan imam adalah masalah urutan.
Sebaiknya ayat atau surat yang dibaca dirunut sesuai dengan urutan yang ada
sekarang dalam al-Qur’an.
Contohnya, jika imam ingin membaca ayat 78-85 dari surat
al-Isra’ di rakaat pertama, maka pilihan berikutnya pada rakaat kedua adalah
surat setelah Al-Isra’ atau ayat di surah al-Isra’ setelah ayat 85.
Namun demikian, jika ternyata imam membaca mundur, di
raka’at pertama baca al-Isra’ dan raka’at kedua baca al-Nisa’, shalatnya tetap
sah menurut semua mazhab. Imam al-Syafi’i hanya menilainya sebagai makruh.
Bacaan Shalat Rasulullah
Surah atau ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam dalam shalat-shalatnya sangatlah beragam. Ada yang sangat
panjang, ada yang sedang, ada juga yang pendek. Hal ini paling tidak
menunjukkan kebolehan memilih surah dan ayat yang disukainya.
Dalam hal panjang dan pendeknya bacaan, telah dibedakan oleh
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam antara shalat sendirian dan shalat
berjamaah. Beliau bersabda,
“Jika di antara kamu shalat mengimami manusia, maka
hendaklah meringkas, karena di antara mereka ada yang lemah, orang sakit, dan
orang tua. Akan tetapi, jika shalat sendirian, maka hendaklah memanjangkan
semuanya.” (HR. Bukhari)
Akan tetapi, bukanlah yang dimaksudkan meringkas shalat
adalah membaca setiap rakaatnya dengan surat-surat pendek seperti Al-Ikhlash
dan An-Nash atau semisalnya. Kita harus memahami maksud hadis di atas
sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat syariat yang mulia ini. Jika penafsiran
suatu hadis diserahkan kepada semua pihak, niscaya mereka akan berbeda
penafsiran dan akan terus berselisih. Misalnya tentang penafsiran hadis ini,
seorang penghafal Alquran akan mengatakan bahwa Surat Al-Anfal, Surat Yusuf,
Surat Yunus, dan semisalnya adalah surat-surat yang pendek karena dia telah
menghafalnya di luar kepala. Sementara itu, orang yang tidak mempunyai hafalan
Alquran akan mengatakan bahwa surat Al-Ghasyiyah, Al-Alaq, Al-Balad, Adh-Dhuha,
dan semisalnya adalah surat-surat yang panjang. Maka mustahil terjadi kesamaan
persepsi dari setiap orang.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui siapakah seseorang
yang shalatnya ringkas (pendek) ketika menjadi imam? Jawabnya tidak lain adalah
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadis:
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak
pernah shalat bersama seorang imam pun yang lebih pendek dan lebih sempurna
shalatnya daripada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa yang dicontohkan Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam tidak hanya memendekkan shalat ketika menjadi imam,
tetapi juga menyempurnakannya. Inilah maksud hadis yang diinginkan, karena
demikianlah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menerangkan sabdanya dengan
praktik secara langsung yang dilihat oleh para sahabat setiap hari.
Maka bagi setiap imam hendaklah berupaya melaksanakan
shalatnya agar sesuai dengan sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Shalat
yang sesuai dengan sunah adalah shalat yang pendek tetapi sempurna, bukan
shalat yang memperturutkan hawa nafsunya atau hawa nafsu kebanyakan para
makmumnya yang biasanya ingin shalat secepat mungkin. Seorang imam adalah
pemikul amanat manusia, dan orang yang sedang memikul amanat harus menunaikannya
dengan yang sebaik-baiknya, dan shalat yang paling baik adalah yang sesuai
dengan sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam.
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata, “Para ahlul ilmi
mengatakan, yang dianjurkan ketika shalat shubuh adalah membaca thiwalul
mufashal, dalam shalat maghrib membaca qisharul mufashal, dan shalat lainnya
(Zuhur, Ashar, dan Isya) membaca awashitul mufashal. Thiwalul mufashol adalah
dimulai dari surat Qaf sampai dengan surat An-Naba, qisharul mufashal adalah
dimulai dari surat Adh-Duha sampai dengan akhir Alquran, dan awashitul mufashal
adalah dimulai dari surat An-Naba sampai dengan Adh-Dhuha. Inilah yang biasa
dilakukan Nabi. Boleh juga kadang-kadang membaca thiwalul mufashal ketika
shalat maghrib, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kadang-kadang
membacanya pada shalat maghrib.” (Liqo’ al-Bab al-Maftuh)
Pernyataan di atas didasari oleh sebuah hadits dari jalan
Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau berkata,
ما رأَيْتُ أحَدًا أشبَهَ صلاةً برسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم مِن فلانٍ – كان بالمدينةِ – قال سُلَيمانُ : فصلَّيْتُ أنا وراءَه فكان يُطيلُ في الأُولَيَيْنِ مِن الظُّهرِ ويُخفِّفُ الأُخْريَيْنِ ويُخفِّفُ العصرَ ويقرَأُ في الأُولَيَيْنِ مِن المغرِبِ بقِصارِ المُفصَّلِ وفي العِشاءِ بوسَطِ المُفصَّلِ وفي الصُّبحِ بطِوالِ المُفصَّلِ
“Tidak pernah aku melihat orang yang shalatnya lebih mirip
dengan shalat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selain Fulan (ketika itu
di Madinah). Sulaiman berkata, ‘maka aku pun shalat di belakangnya, ia
memperpanjang dua rakaat pertama dalam shalat zhuhur dan memperpendek sisanya.
Ia juga memperpendek bacaan shalat ashar, dan pada shalat maghrib membaca
surat-surat qishar mufashal, dan pada shalat Isya membaca yang wasath mufashal,
dan pada shalat subuh membaca thiwal mufasshal”. (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan
Al Albani dalam Sifat Shalat Nabi)
Tetapi ada riwayat-riwayat menarik, di antaranya Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam sering membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas dalam
banyak kesempatan shalat yang beliau lakukan, termasuk shalat qabliyah subuh.
عن أبي هريرة – رضي الله عنه -: ” أن رسول الله – صلى الله عليه
وسلم – قرأ في ركعتي الفجر: قل يا أيها الكافرون، و قل هو الله أحد”
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca dalam dua rekaat fajar: Qul Ya
ayyuhal Kafirun dan Qul Huwallahu Ahad”. (HR. Muslim)
Ada lagi beberapa riwayat seputar bacaan Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam dalam shalatnya, antara lain:
Dari Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar al-Bara’ ibn Azib
Radhiyallahu Anhu bercerita:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ
فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الْعِشَاءَ ، فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ بِالتِّينِ
وَالزَّيْتُونِ
“Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuah
perjalanan membaca dalam salah satu dari dua rakaat shalat Isya’ surah al-Tin
wa al-Zaitun”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ
بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَنَحْوِهَا مِنْ السُّوَرِ
Dari Buraidah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata: Dahulu
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah membaca waktu shalat isya’ surah
Al-Syamsyi wa dhuhaha dan sejenisnya dari surat-surah yang ada”. (HR.
al-Tirmizi, al-Nasa’i, dan Ahmad)
عَنْ عَمِّهِ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ
فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى
Dari Quthbah ibn Malik berkata: Saya mendengara Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam membawa dalam shalat subuh pada rakaat pertama:
(surat Qof 5:10) (HR. Muslim, al-Tirmizi, al-Nasa’i dan Ibn Majah)
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَنَحْوِهِمَا مِنْ السُّوَرِ
Dari Jabir ibn Samurah Radhiyallahu Anhu, beliau bercerita
bahwa: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika shalat Dluhur dan Ashar
pernah membaca surah wa al-sama’ zat al-buruj dan wa al-sama’i wa al-Tariq dan
surah-surah sejenisnya”. (HR. Abu Daud, al-Tirmizi, dan al-Nasa’i)
Surat-Surat Yang Sering Dibaca Imam
Secara fiqh, imam diperbolehkan membaca 1 ayat atau lebih, bahkan 1 surat atau lebih.
Berdasarkan catatan perjalanan pemateri selama belajar,
mengajar, kuliah, menjadi makmum dan juga menjadi Imam. Perjalanan penulis
shalat di Makkah, Madinah, Syam, Maghrib, Masyriq, Asean, Eropa dan Australia.
Dengan imam besar, imam kecil, yang hafizh dan belum hafizh, yang fasih dan
yang tidak fasih. Di antara surat-surat yang secara penuh sering dibaca imam
dalam shalat berjamaahnya adalah sebagai berikut:
1-28 : surat 87-114 : al-A’la al-Dhuha sampai dengan al-Nas
29 : surat 78 : al-Naba’
30 : surat 76 : al-Insan
31 : surat 75 : al-Qiyamah
32 : surat 73 : al-Muzzammil
33 : surat 68 : al-Qalam
34 : surat 67 : al-Mulk
35 : surat 62 : al-Jumu’ah
36 : surat 56 : al-Waqi’ah
37 : surat 57 : al-Rahman
38 : surat 48 : al-Fath
39 : surat 32 : al-Sajadah
40 : surat 31 : Luqman
Lalu, ketika ditanyakan, apa alasan mereka memilih
surat-surat ini, jawabnya ada 4 kemungkinan:
Karena pendeknya,
Karena fadilahnya,
Karena ini yang sering dibaca Rasulullah saw pada
kesempatan-kesempatan tertentu. Contoh: al-A’la dan al-Ghasyiyah pada shalat
Jum’at. Al-Sajadah dan al-Insan pada subuh Jum’at.
Karena ada pesan yang ingin disampaikan imam melalui surat
ini.
Sekali lagi pemateri ingin menegaskan bahwa ayat dan surat yang mana saja yang ada dalam al-Qur’an, boleh dibaca dan sah hukum shalatnya.
Adapun surat-surat yang sering dibaca oleh imam dalam shalat
menurut pengalaman dan perjalanan pemateri ke berbagai pelosok adalah:
1. Al-Baqarah [2] : 183-186 berkaitan dengan perintah untuk
puasa Ramadhan
Pesan-pesan utama
Perintah Puasa Ramadhan
Waktu diturunkannya al-Qur’an.
Perintah untuk berdoa dan janji akan dikabulkan.
Pesan-pesan lainnya
Jumlah hari yang diperintahkan berpuasa Ramadhan.
Kondisi diperbolehkannya seseorang untuk tidak berpuasa.
Perintah untuk mengganti puasa yang ditinggalkan.
Allah menurunkan ajaran-Nya tidak untuk mempersulit manusia.
2. Al-Baqarah [2] : 254-257 (Perintah Untuk Bersedekah
Sebelum Ajal Datang)
Pesan-pesan utama
Perintah untuk bersedekah sebelum ajal datang.
Ayat Kursi : Kekuasaan Allah swt.
Agama yang diterima Allah adalah Islam.
Pesan-pesan lainnya
Tidak ada paksaan dalam beragama.
Allah penolong orang-orang yang beriman.
Allah yang mengeluarkan orang-orang mu’min dari kezaliman.
Setan menggoda dan menjerumuskan manusia dalam kesesatan.
3. Al-Baqarah [2] : 261-265 (Pahala dan Manfaat Orang
Bersedekah)
Pesan-pesan utama
Pahala dan manfaat orang bersedekah.
Syarat sedekah yang makbul.
Pahala sedekah bisa batal karena cacian.
Pesan-pesan lainnya
Pahala sedekah dan balasannya bisa 10 sampai 700 x lipat.
Perkataan baik juga dikategorikan sedekah.
Menyakiti penerima sedekah dapat membatalkan pahala sedekah.
4. Al-Baqarah [2] : 283-286 (Langit dan Bumi Adalah Milik
Allah)
Pesan-pesan utama
Langit dan bumi adalah milik Allah.
Allah mengetahui hal sekecil apapun juga.
Doa mohon ampun dari berbagai bentuk kesalahan dan kekhilafan.
Pesan-pesan lainnya
Allah Ta’ala bisa memaafkan yang Dia kehendaki, juga tidak
memaafkan orang yang dikehendaki.
Allah tidak membeda-bedakan antara para Rasul-Nya.
Beban syari’at yang dipikul manusia, sudah sesuai dengan
kemampuannya.
Pahala dan dosa yang didapat atau dipikul manusia adalah
hasil perbuatannya.
5. Ali Imran [3] : 18-20 (Ketuhanan Allah)
Pesan-pesan utama
Ketuhanan Allah.
Agama yang diterima Allah adalah Islam.
Pesan-pesan lainnya
Fungsi Rasulullah saw adalah sebagai penyampai, bukan
pemberi hidayah.
Ali Imran [3] : 102-108
Ali Imran [3] : 110-115
Ali Imran [3] : 133-136
Ali Imran [3] : 190-194
An-Nisa’ [4] : 1-6
Al-Ma’idah [5] : 6-9
Al-An’am [6] : 159-165
Al-Taubah [9] : 128-129
Yusuf [12] : 1-6
Ibrahim [14] : 5-8
Al-Nahl [16] : 125-128
Al-Isra’ [17] : 1-10
Al-Isra’ [17] : 78-85
Al-Kahf [18] : 1-13
Al-Kahf [18] : 102-110
Al-Mu’minun [23] : 1-16
Al-Nur [24] : 35-38
Al-Furqan [25] : 72-77
Al-Rum [30] : 1-11
Luqman [31] : 12-19
Al-Ahzab [33] : 21-24
Al-Ahzab [33] : 40-48
Al-Ahzab [33] : 70-73
Yasin [36] : 77-83
Saad [38] : 71-88
Al-Zumar [39] : 71-74
Fussilat [41] : 30-35
Al-Fath [48] : 1-6
Al-Fath [48[ : 27-29
Al-Hujurat [49] : 1-6
Al-Mujadalah [58] : 9-11
Al-Hasyr [59] : 18-24
Al-Saff [61] : 10-14
Al-Jumu’ah [62] : 9-11
Al-Munafiqun [63] : 9-11
Al-Taghabun [64] : 11-18
Al-Tahrim [66] : 8-12
Karena itu, jika didapati berbeda dengan sebuah masjid
tertentu, maka sangat mudah untuk dipahami sebabnya. Mungkin karena imam di
masjid Anda hafal al-Qur’an dan bacannya berkelanjutan dari awal sampai akhir.
Atau Imam masjid termaksud hanya hafal satu-dua surat saja yang dipilihnya
sendiri. Atau ayat yang dibacanya merupakan bagian dari juz ke 29 dan 30 yang
pemateri kategorikan, semuanya masuk kategori standar. Wallahu Ta’ala A’lam.
Sumber: Memilih
Bacaan Surat Atau Ayat Dalam Shalat – Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur

