alt/text gambar

Minggu, 11 Januari 2026

HADJI AGUS SALIM TENTANG FILSAFAT

Hadji Agus Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakkal, Jakarta: Tintamas, 1962


Hadji Agus Salim, dalam bukunya berjudul Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakkal, menulis dengan ejaan lama tentang pengertian filsafat:

"...Kata filsafat atau falsafat itu pada asalnja kata pindjaman daripada bahasa Gerik-purba atau Junani; dibentuk menurut tata-bahasa Arab (saraf). Asalnja merupakan kata rangkaian, terdiri daripada kata philein, ertinja gemar atau suka, dan kata sophia, ertinja pengetahuan (ilmu). 

Dengan semudah-mudahnja kata itu dapat kita indonesiakan dengan misalnja: ingin-tahu atau suka-tahu. Tapi salinan itu sungguhpun djelas dan boleh pula dikatakan tegas, tidak terasa tepat. Rasanja tawar atau dangkal; tidak sama rasanja dengan kata filsafat dalam istilah. 

Maknanja amat mendalam dan nilainja amat meninggi. Bagiannja jang pertama menaikkan makna keinginan itu ketingkat jang menjamai 'asjik disertai hasrat, tak kurang daripada tjinta asmara.

Tak mau puas, tak senang diam, djika tidak mentjapai, mendapat pokok tudjuannja dengan sepenuhnja. Dan pokok tudjuan itu, dalam bagian kedua kata itu, telah beroleh makna ,pengetahuan jang sempurna sepenuh-penuhnja', jang dapat ditjapai dengan pemeriksaan teliti dan dengan pikir sedalam-dalam dan selandjut-landjutnja tentang kenjataan jang sebenarnja, sehingga mentjapai tingkat tahu-kenal dan tahu-pandai.

Tahu dengan makna jang amat tjukup itu ialah jang dinamakan ma'rifat, dan kenjataan jang sebenarnya itu ialah jang dinamakan hakekat. Maka dapatlah kita maknakan filsafat dengan: hasrat kepada ma'rifat hakekat'.

Dan dengan seluas-luasnja dapatlah kita terangkan filsafat itu sebagai hasil daripada pikir jang sedalam-dalam dan selandjut-landjutnja tentang masalah-masalah jang penting-penting berkenaan dengan wudjud, asal, guna dan nilai tiap-tiap benda dan tiap-tiap peristiwa dalam keadaan; semata-mata karena hasrat akan ma'rifat belaka dan disamping itu hasrat akan pengertian jang jakin tentang kelakuan jang sebaik-baiknja, dalam segala-hal-ihwal kehidupan bagaimanapun djuga, jang sesuai dengan keichlasan niat jang utama; semata-mata karena hasrat akan kebadjikan.

BAHAN FILSAFAT 

Adapun jang mendjadi bahan bagi filsafat adalah dua perkara: pertama, alam keadaan jang kita hidup ditengah-tengahnja, dan kedua, pendapat-pendapat akal jang kita bentuk didalam pikiran kita."

Sumber:

Hadji Agus Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakkal, Jakarta: Tintamas, 1962, hlm. 10-11.

PARA PENCINTA BUKU

Jawa Pos, 11 Januari 2015


Oleh: A.S Laksana


Kami baru bertemu lagi beberapa tahun kemudian setelah pertemuan terakhir di klub kami yang bubar begitu saja. Rizadini, teman saya dalam klub buku diskusi buku bertahun-tahun lalu dan penerjemah buku Gabriel Garcia Marquez Klandestin di Chile, memanggil saya melalui media sosial Twitter dan mengajak bertemu. Dengan senang hati, saya menyambut ajakannya dan kami bertemu suatu siang di sebuah tempat makan. Hari itu dia menyampaikan gagasan:


“Mari kita cari orang kaya yang mau mendanai perpustakaan untuk menyimpan buku-buku koleksi para tokoh negeri ini. Di sana nanti orang bisa menemukan koleksi Pramudya Ananta Toer, Rendra, Usmar Ismail, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, dan lain-lain.” 


Dia menyukai buku dan sering mempunyai gagasan menarik tentang buku karena dia sangat menyukainya. Saya menanggapi, “Ayo!” Namun, hingga sekarang, saya masih berpikir apakah akan ada orang kaya yang mau membiayai perpustakaan semacam itu. Pada waktu dia menyampaikan gagasannya, saya segera teringat kabar yang beberapa waktu sebelumnya, sudah agak lama, saya terima dari kawan baik saya yang lain, seorang penjual buku loak di sekitar Lebak Bulus bahwa sekian kontainer buku dari perpustakaan pribadi Adam Malik dijual kiloan. 


“Sudah tidak ada yang merawatnya lagi, Bang” katanya. “Saya ingin beli semua, tapi tidak ada modal.” 


Saya agak melodramatis soal perpustakaan. Desember tahun lalu, ketika membaca Perpustakaan Karta Pustaka Yogyakarta ditutup dengan alasan “visi-misinya menciptakan kerja sama di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan Belanda telah tercapai”, saya merasa sedih dan marah sekaligus dan ingin berteriak kuat-kuat: “Jangan tutup perpustakaan itu!” Jumlah perpustakaan umum kita sedikit sekali dan Karta Pustaka yang didirikan pada 1968 sekarang sudah tidak ada lagi. Kalaupun benar visi-misinya sudah tercapai, saya pikir ia tetap perlu ada dengan “visi-misi” yang lain. Misalnya, menjadi tempat rekreasi orang-orang yang senang berekreasi di antara buku-buku. 


Kita sangat kekurangan perpustakaan sebagai tempat rekreasi. Sebagai orang yang seumur hidup tinggal di negeri ini, yang sejak lahir memang jarang bertemu dengan gedung perpustakaan, saya tentu saja telah beradaptasi sepanjang hidup dan berdamai dengan keadaan. Ada perpustakaan saya senang, tidak ada tidak apa-apa. 


Namun, tidak demikian halnya dengan Yusuf Arifin. Kami dahulu sekantor dan dia menyeberang ke Inggris setelah pembredelan 1994, bekerja sebagai wartawan BBC, dan tinggal di pinggiran London nyaris 20 tahun. Rumahnya dikepung perpustakaan. Di desanya ada gedung perpustakaan, di desa sebelah ada gedung perpustakaan, di dekat perempatan sana ada gedung perpustakaan, di belakang rumah temannya ada gedung perpustakaan. Ringkasnya, di balik gerumbul semak-semak atau di belakang lemari pakaian dia bisa menjumpai perpustakaan. Tahun lalu dia balik ke Jakarta dan menjadi pemimpin redaksi CNN Indonesia dan tidak ada perpustakaan yang bisa dia kunjungi sewaktu-waktu. Di toko buku dia kesulitan menemukan buku-buku yang dia minati. Kepadanya saya bilang, “Selamat menikmati!” 


Sekarang saya tidak perlu iri mendengar ceritanya tentang perpustakaan. Dia menikmati situasi yang sama dengan saya. Sudah bertahun-tahun saya tidak memasuki gedung perpustakaan dan tidak tahu di mana saja ada perpustakaan umum di Jakarta. Saya hanya tahu satu-dua dan dan sudah lama tidak pernah lagi mengunjungi tempat tersebut karena jalanan macet dan waktu yang terasa sempit. 


Selain itu dengan jaringan internet yang sudah lebih baik ketimbang sepuluh tahun lalu, saya merasa kebutuhan terhadap buku tercukupi. Selalu ada orang yang memberontak terhadap tatanan. Mereka tidak memedulikan undang-undang hak cipta dengan menyediakan ratusan ribu, bahkan jutaan, buku yang bisa kita dapat secara gratis –dalam  format e-book. Kita bisa mengunduh buku semau kita di situs-situs web mereka. 


Pada awal-awal mengenal situs tersebut, setiap malam hingga dinihari saya “berbelanja” ratusan judul buku dan dalam waktu beberapa minggu saja saya sudah mengoleksi ribuan buku. Hingga sekarang, saya masih sering “berbelanja” di situs-situs itu meskipun sudah ada lebih dari 9.000 judul buku di folder komputer saya dan baru sedikit yang saya baca. 


Saya pernah iseng-iseng menghitung berapa buku yang bisa saya baca sampai hidup saya berakhir nanti. Misalkan, saya masih punya sisa umur 100 tahun lagi dan sebagai pemalas saya hanya bisa membaca satu judul sepakan, maka dalam seratus tahun itu, setelah dikurangi masa-masa tidak berdaya karena flu berat atau tidak enak badan, saya hanya akan bisa menyelesaikan paling banter 5.000 judul buku. Itu pun kalau sisa umur saya 100 tahun dan saya membaca secara ajek. Padahal, gairan membaca saya sama belaka kondisinya dengan iman seseorang—kadang naik, kadang turun. Tidak apa-apa, yang penting mengunduh. 


Dengan perpustakaan yang sedikit jumlahnya dan tidak terlalu diperhatikan di negara ini, dengan akses terhadap buku yang semula sangat terbatas, dan dengan maaf sebesar-besarnya terhadap unsur pelanggaran di dalam kegiatan unduh-mengunduh itu, saya bersyukur bahwa internet telah memungkinkan saya mengoleksi karya para penulis yang saya sukai, nyaris lengkap, dan buku-buku dengan berbagai topik yang saya ingin baca. 


Saya juga bersyukur internet memberikan banyak teman, melalui media sosial. Dalam waktu cepat, saya bisa mengumpulkan teman melalui Facebook. Itu hal yang tidak mungkinsaya lakukan dalam kenyataan sehari-hari. Sekarang saya mempunyai orang-orang yang berstatus “teman” di hampir semua provinsi negeri ini. 


Beberapa orang mengeluhkan bahwa pergaulan di media sosial telah mengiterupsi dan juga menyabot pergaulan sehari-hari dengan orang-orang terdekat, dengan teman-teman, dengan kerabat, juga dengan penumpang yang duduk di sebelah kita. Berada di mana pun dan kapan pun, orang sibuk dengan smartphone di tangannya. Dunia menjadi sunyi senyap karena orang membeku di depan layar, tetapi sekaligus riuh. Anda tahu, pergaulan di media sosial sangat riuh. Setiap hari ada pembicaraan menarik. Setiap hari ada topik yang bisa digunjingkan. Setiap hari ada yang bisa dicaci maki. 


Seorang suami menjadi jarang berbicara dengan istrinya. Seorang ayah menjadi kekurangan waktu untuk anak-anaknya, dan sebaliknya, anak-anak kekurangan waktu untuk orang tua mereka karena sebab yang sama. Dan seorang penulis kekurangan waktu khusyuk untuk menulis karena dorongan untuk ubyang-ubyung di internet melalui media sosial begitu tinggi. 


Dalam urusan itu saya merasa baik-baik saja. Hanya ada satu hal yang sangat terasa bagi saya: internet telah menjauh saya dari seseorang yang sudah menjadi teman baik sejak 1998, yakni penjual buku loak yang saya sebut di awal tulisan ini, pemuda Batak yang ramah dan selalu menawari kopi setiap saya mampir di kiosnya. Bertahun-tahun saya setia mengunjungi kios dan rumahnya dan dia selalu menyimpankan untuk saya buku-buku yang dia pikir saya sukai—agar tidak dibeli orang lain. 


Dari kiosnya saya pernah membawa pulang buku satu rak, masih bagus-bagus, dengan harga yang sangat murah. “Dapat dari pembantu di Pondok Indah, Bang,” katanya. “Majikannya pulang ke negaranya, tidak balik lagi. Ia meninggalkan koleksi bukunya kepada si pembantu. Pembantu itu menjualnya ke saya.” 


Dia tahu bagaimana mencari buku untuk mengisi kiosnya dan dia sering pula mendapat buku-buku lelang dari Jakarta International School jika sekolah tersebut hendak memperbarui koleksi buku di perpustakaannya dan harus menyingkirkan buku-buku yang sudah lama. Beberapa buku di rak saya adalah lungsuran dari perpustakaan sekolah tersebut. 


Saya masih lewat di depan kiosnya setiap hari, tetapi nyaris tidak pernah mampir lagi. Beberapa hari terakhir saya lihat kiosnya selalu tutup. Menurut kabar, lahan tempat dia menyewa kios harus dikosongkan karena hendak dibangun apartemen. Dia berpindah ke tempat lain, masih di daerah sekitar tempat tinggl saya. Tetapi, saya belum pernah ke temapt barunya. 


Internet telah benar-benar mencukupi kebutuhan saya akan buku bacaan yang saya inginkan—yang semula hanya tersedia dalam harga murah di kios buku loak itu. Saya masih tetap ke toko secara berkala, untuk mendapatkan buku-buku yang hanya ada di toko buku dan sebagai tempat rekreasi anak-anak. 


Bagaimanapun, saya pikir anak-anak perlu menikmati pemandangan buku-buku terpajang di rak dan mereka bisa memilih buku yang mereka sukai. Dan jika ada perpustakaan di dekat rumah, atau perpustakaan tempat menyimpan kolesi buku-buku para tokoh negeri ini, sebagaimana yang diangankan oleh Rizadini, saya akan senang sekali mengajak anak-anak berekreasi ke sana. Sampai sekarang saya masih memikirkan siapa kira-kira orang kaya yang bersedia mewujudkan gagasan tersebut. (*)


Sumber: Jawa Pos, 11 Januari 2015

BUDAYA KEKERASAN

 

D&R No 21/XXVIII/4 & 11 Januari 1997

Oleh: Arief Budiman *)


Tampaknya, gejala yang paling mengkhawatirkan yang terjadi pada tahun 1996 adalah meningkatnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh massa. Kita lihat terjadinya kekerasan pada 27 Juli terhadap Partai Demokrasi Indonesia (PDI), kekerasan yang terjadi di Situbondo, kemudian merembet ke Tasikmalaya (26 Desember), dan kekerasan yang terjadi di Kalimantan Barat yang bermula pada 30 Desember dan berlanjut ke permulaan tahun 1997. Meskipun didasarkan pada dinamika sosial yang agak lain, meningkatnya perkelahian antarpelajar di Jakarta juga merupakan tindak kekerasan yang dilakukan secara massal, yang sedikit banyak merupakan produk dari keadaan masyarakat yang cenderung menggunakan kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Tampaknya, pada tahun 1997, dan mungkin pada tahun-tahun selanjutnya, kejadian seperti itu masih akan berlangsung kalau tidak ditangani secara baik. 


Mengapa kekerasan massal akhir-akhir ini meningkat frekuensinya? Menurut pendapat saya, hal itu terutama disebabkan kurang berfungsinya lembaga-lembaga dan sarana-sarana lainnya yang bisa menyelesaikan ketidakpuasan yang ada di masyarakat secara adil dan damai, seperti pengadilan dan kepolisian. 


Tampaknya, kepastian hukum sedang mengalami kemerosotan yang drastis: kasus Adi Andojo di Mahkamah Agung, kasus terbunuhnya wartawan Udin di Yogya, rangkaian kasus penggeseran Megawati sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Semua itu membuat semua orang merasakan bahwa, di negeri tercinta ini, kekuasaan dan kekerasanlah yang dipakai untuk menyelesaikan masalah. Sudah menjadi rahasia umum: banyak di antara kita segan untuk melaporkan masalah yang kita hadapi ke kepolisian atau membawanya ke pengadilan. Karena, itu akan memakan waktu yang lama dan biaya yang mahal. 


Keadaan itulah yang mengakibatkan tumbuh-suburnya debt collector atau DC, yang menagih utang dengan menggunakan ancaman kekerasan. Para DC itu kadang-kadang memiliki kantor yang cukup mewah, bagai kantor para pengacara hukum. Yang menjadi klien mereka bukan saja pribadi-pribadi, tapi juga perusahaan-perusahaan besar, lembaga-lembaga perbankan, dan sebagainya. Pada aras yang lebih rendah, dalam persoalan individual yang lebih kecil, banyak orang cenderung menyelesaikan maslahnya dengan melibatkan keluarganya atau kenalannya yang menjadi anggota ABRI. Sekali lagi, di sini berperan unsur kekuasaan dan kekerasan, yang memang lebih efektif ketimbang menempuh jalur hukum. 


Maka, lambat laun, tapi pasti, muncul dan makin menguatlah apa yang dinamakan sebagai “budaya kekuasaan’ dan “budaya kekerasan”. Siapa yang mempunyai akses ke kekuasaan dan kekerasan, dia akan selalu berada di atas angin. Kebenaran, keadilan, dan yang sejenisnya merupakan sesuatu yang indah dan memberi harapan sejauh mereka hanya dibicarakan dan dipidatokan. Di lapangan, keadaannya sangat berlainan. 


Yang memonopoli kekuasaan dan kekerasan adalah negara. Bukankah, menurut Max Weber, negara adalah lembaga yang memiliki kebasahan untuk menggunakankekerasan? Sayangnya, di negara kita sekarang ini sering terjadi monopoli itu dipakai secara tidak semestinya. Karenanya, Direktur Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia, Mulya Lubis, menyatakan, tahun lalu, yang paling banyak melakukanpelanggaran hak asasi manusia adalah aparat keamanan, yakni sekitar 85 persen dari seluruh pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi (Jakarta Post, 20 Desember 1996).


Kelompok kedua yang menggunakan kekerasan adalah kelompok penjahat, baik yang terorganisasi maupun yang tidak. Perbedaan mereka dengan negara, dalam penggunaan kekerasan., mereka tidak memiliki dasar hukum ataupun keabsahan lainnya. Tapi, tidak bisa disangkal, terutama di negara-negara ketika hukum lemah, kekuasaan mereka menjadi besar. Berkembangnya lembaga penjaul jasa DC menunjukkan bahwa inilah yang sekarang terjadi di Indonesia: budaya kekerasan sedang tumbuh subur di sini. 


Maka, apa yang sedang kita alami sekarang mencerminkan keadaan di atas. Pemerintah, karena memiliki kekuasaan dan memonopoli penggunaan kekerasan secara sah, selalu menang dalam menghadapi masalah. Apa saja yang diinginkan pemerintah, biasanya, pasti terlaksana. 


Bagi masyarakat kelas menengah dan kelas atas yang beruang, mereka juga selalu berada di atas angin kalau terlibat dalam suatu persoalan. Mereka bisa membeli kekuasaan dan kekerasan, baik dari pemerintah maupun dari kelompok-kelompok di luar hukum, kecuali kalau mereka harus berhadapan dengan pemerintah. 


Bagaimana dengan orang-orang kecil di bawah? Mereka tidak memiliki kekuasaan dan mereka tidak bisa membelinya. Kalau ada persoalan, mereka hanya bisa mengadu ke para mahasiswa, ke lembaga bantuan hukum, ke tokoh-tokoh informal, ke parlemen, ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, atau ke pers. Tapi, sayangnya, lembaga-lembaga itu pun sedang menghadapi masalah kehilangan akses ke kekuasaan. Mereka banyak mengandalkan mekanisme hukum yang justru sedang dalam keadaan krisis. Dalam keadaaan ini, apa yang dikatakan sosiolog Univesitas Gadjah Mada, Loekman Soetrisno, memang ada benarnya: orang kecil di bawah tidak memiliki “kawan”. Lebih tepatnya, kawan yang mereka miliki dalam keadaan lemah. 


Mereka lalu harus menyusun kekuatan mereka sendiri. Bagaimana caranya? Dengan membentuk kelompok demi orang senasib. Mereka bangkit sebagai orang-orang yang senasib, orang-orang yang dipecundangi dalam sistem kemasyarakatan yang menyudutkan mereka. Mereka bersatu untuk memperjuangkan perbaikan nasib. 


Begitlah, orang-orang kecil di bawah ini mulai berkelompok, misalnya, sebagai buruh yang hanya digaji di bawah upah minimum regional alias upah minimum rata-rata. Para pedagang kaki lima yang digusur, dibantu oleh para aktivis mahasiswa yang idealis, juga mengorganisasi dirinya. Demikian juga para petani yang dipaksa meninggalkan tanahnya. Tapi, kalau mereka berkumpul berdasarkan kelas sosial-ekonomi mereka, dengan mudah mereka dituduh mengobarkan pertentangan kelas, dus komunis. Para intelektual dan mahasiswa yang membantu mereka juga akan dikenakan tuduhan subversif, serta mau menghidupkan lagi ideologi komunisme. Itulah yang dialami oleh orang seperti Muchtar Pakpahan atau aktivis-aktivis yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik. 


Masalahnya, bagi orang-orang kecil itu tidak ada jalan lain. Maka pengelompokan terus terjadi. Hanya, sekarang, mereka memilih jalan yang lebih “aman”: melalui agama, khususnya Islam. Tampaknya, pemerintah mengalami kesulitan menghadapi mereka. Sebagai negara yang didasarkan Pancasila yang sangat menghormati agama, sulit bagi pemerintah untuk menumpas pengelompokan berdasarkan agama. Apalagi, Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas bangsa ini. Bila orang menyatakan bahwa seorang “Pedagang kaki lima Islam” digusur aparat keamanan, kekuatannya akan berlipat ganda ketimbang dia mengatakan hanya”seorang pedagang kaki lima” yang digusur. 


Itu artinya, masalah-masalah orang kecil (yang kebanyakan masalah eknomi untuk mempertahankan hidup) akhir-akhir ini selalu mencetus menjadi gerakan massa Islam, yang menunjukkan kekuasaanya dengan melakukan kekerasan massal. Dalam gerakan massa seperti itulah orang-orang kecil mendapatkan kekuasaannya. Apalagi, pemerintah merasa serbasalah dalam menindak mereka. Bila mereka dihadapi dengan kekuasaan dan kekerasan lagi, tindakan itu bisa mengobarkan api yang lebih besar. 


Sayangnya, kalau pengelompokan berdasarkan agama itu sudah terjadi, selalu terjadi ekses, yaitu berupa penyerangan terhadap gereja dan toko-toko yang dimiliki oleh Cina, meskipun kedua kelompok itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sebab-musabab gerakan tersebut. Kasus Situbondo dan Tasikmalaya jelas menunjukkan hal itu. 


Yang terjadi di Kalimantan Barat juga serupa, meski tak sama. Terjadi konflik antarindividu ataupun kelompok. Karena lembaga-lembaga untuk menyelesaikan konflik itu secara adil dan damai sudah tidak dipercayai lagi oleh masyarakat, individu atau kelompok cenderung menyelesaikan persoalan dengan cara mereka sendiri: adu kuat. Bukankah itu yang diajarkan pemerintah dalam menyelesaikan kasus PDI? Bukan lembaga-lembaga musyawarah yang ada di partai tersebut yang dipakai, melainkan dilakukan operasi militer yang menggunakan kekuasaan dan kekerasan. Hanya, berbeda dengan kasus-kasus yang terjadi di Situbondo dan Tasimalaya, di Kalmantan Barat, pengelompokan mengambil jalur kesukuan. Seperti juga pengelompokan berdasarkan agama, pengelompokan suku pun punya daya mobilitas yang kuat dan sulit dituduh sbagai komunis. 


Pada permulaan tahun 1997 ini, kita patut merenungkan kembali pengalaman kita pada tahun-tahun yang lalu, khususnya tahun 1996 ketika segalanya tampaknya mencapai puncaknya. Kalau lembaga-lembaga dan mekanisme-mekanisme untuk menyelesaikan konflik secar adil dan damai tak dihidupkan lagi, kekuasaan dan kekerasan akan menjadi alternatif satu-satunya. Bagi masyarakat kecil, untuk memperoleh kekuasaan, satu-satunya jalan yang dapat mereka tempuh adalah pengelompokan massal yang memungkinkan mereka menggunakan kekerasan. Pada saat ini, pengelompokan massal melalui agama, khususnya agama Islam, tampaknya merupakan pengelompokan yang paling kuat dan efektif. 


Tanpa sadar, tampaknya pemerintah sendirilah yang menggiring rakyat kecil untuk mengambil jalur pengelompokan melalui agama dan suku. Itulah yang terjadi pada tahun lalu dan kemungkinan besar akan terjadi lagi pada tahun ini dan pada tahun-tahun mendatang, kaalu akar permasalahan itu tidak diselesaikan.


*) Pengamat Sosial, Politik, dan Budaya


Sumber: D&R No 21/XXVIII/4 & 11 Januari 1997

Sabtu, 10 Januari 2026

DENGAN TIGA ANTIDOT

(TEMPO, No. 44/XXX/31 Desember 2001 – 6 Januari 2002)


Catatan Pinggir Goenawan Mohammad


Sebuah tahun lagi di milenium ini akan berakhir, tapi bukan sejarah.

Saya selalu merasa ada sesuatu yang ganjil dalam argumen Francis Fukuyama yang termasyhur bahwa, sejak satu dasawarsa yang lalu, kita tiba di "akhir sejarah". Harus dikatakan di sini bahwa ia tak mengatakannya dengan tempik sorak. Komunisme memang gagal. Tapi justru itu kini tak ada lagi pergulatan untuk perubahan besar—kecuali usaha memperbaiki sistem yang ada, seperti memperbaiki rumah yang telah siap, berdikit-dikit, di sana- sini. Modernitas, bagi Fukuyama, tak akan mungkin ditarik kembali ke gudang tua. Menara Kembar di World Trade Center New York itu—sebuah lambang modernitas yang muluk menjulang—memang dihancurkan, dan beribu-ribu orang yang merasa berumah di sebuah dunia "pra-modern" bertepuk tangan. Tapi, di luar demokrasi liberal dan ekonomi pasar, tak tampak ada alternatif lain yang bisa diandalkan. Dengan teror dan kekerasan ataupun dengan pidato dan pemilihan, tak ada. Komunisme pasti bukan, dan Islam entah.

Fukuyama memang dapat meyakinkan, jika kita lihat betapa besar bondongan orang yang mengarungi ruang dan waktu untuk menikmati buah kapitalisme—sejak para buruh tamu yang datang menghambur ke Eropa dan Amerika Serikat dari Turki dan Filipina, sampai dengan para penikmat komoditi di pelosok Asia dan Afrika. Tapi saya terkadang bertanya-tanya: benarkah sejarah sebuah progresi garis-lurus? Benarkah modernitas tak selamanya mengandung dalam dirinya sesuatu yang menentangnya, atau tampak menentangnya?

Bagaimanapun, modernitas mengandung janji pembebasan. Tapi ia juga menyemaikan kemandekan; ia menuai melankoli. Max Weber sudah memperhitungkan akan datangnya sebuah "kandang besi", dan Fukuyama sendiri menyebut bahwa "akhir dari sejarah" adalah "saat yang sangat sedih". Apa yang berani, nekat, imajinatif, dan idealistis lambat-laun akan digantikan oleh "perhitungan ekonomi". Getar dan gairah akan kikis. Dalam masa "pasca- sejarah", kata Fukuyama, "tak akan ada seni dan filsafat, cuma perawatan terus-menerus atas museum tambo manusia."

Tapi mungkin sebab itulah modernitas mengandung penangkalnya sendiri. Ada tiga tokoh yang dalam perbedaan antarmereka agaknya merupakan contoh bagaimana antidot semacam itu bekerja. Yang pertama adalah Che Guevara. la yang ditangkap dan ditembak mati oleh tentara Bolivia di tahun 1967 adalah orang yang memilih: ia meninggalkan hidup nyaman seorang dokter, melepas hidup tenang seorang anggota keluarga Argentina yang mapan; ia pergi untuk terus berada dalam revolusi. Ketika Revolusi Kuba berhasil menang secara politik, ia menolak untuk menikmatinya. Ia meninggalkan Havana, meninggalkan posisinya sebagai menteri, dan kembali mengarungi hutan: menggerakkan petani, memimpin gerilya, mengubah dunia. la gagal. Tapi ia jadi lambang perlawanan tanpa kendat terhadap kapitalisme, juga simbol keberanian dan imajinasi yang tak betah hidup dengan hanya perhitungan ekonomi. la menolak sejarah berakhir dalam bentuk seperti Amerika Serikat: sebuah ekonomi yang selalu dirundung kepincangan sosial, sebuah politik yang tak bisa mengguncang itu dengan gerak yang dramatik. Che justru kepincangan itu sebuah antidot karena ia adalah gerak dramatik itu sendiri—hidupnya, kematiannya.

Tokoh yang kedua adalah Mishima Yukio. Di tahun 1970 novelis termasyhur ini juga menjadi sebuah guncangan: bersama para anggota Tatenokai yang didirikannya dan berlatih ketahanan dan dibiayainya—para pemuda yang berlatih ketahanan dan keterampilan fisik serta seni bela diri—ia menyerbu sebuah pos militer di Tokyo. Ia berhasil menguasai kantor komandan, mengikat perwira itu di kursinya, dan dengan tenang, di depan tahanannya itu, ia merobek perutnya sendiri dengan tpedang, untuk kemudian diakhiri dengan ritual yang tak kalah mengerikan: seorang pembantunya telah siap berdiri di sampingnya dan, dengan pedang terhunus, memenggal leher Mishima. Ketika pemuda itu tak cukup kuat menetakkan samurainya, seorang anggota Tatenokai lain bertindak. Darah Mishima membanjir. la mati dalam sebuah protes, dengan rasa masygul yang telah tampak dalam novel empat jilidnya, Laut Kesuburan, karena Jepang telah kehilangan keindahan dan kegagahannya yang lama. Bagi Mishima, negeri ini telah tenggelam dalam rutinitas politik dan ekonomi modern, yang menghitung, menghitung, menghitung, tanpa keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan dalam tingkat yang paling ekstrem.

Tokoh yang ketiga adalah Usamah bin Ladin. Orang Amerika menganggapnya sebagai "iblis" (Presiden Bush memanggilnya "the evil one"), tapi banyak orang di Timur Tengah dan Asia Selatan menganggapnya sebagai pahlawan. Yossef Bodansky, Direktur Satuan Tugas tentang Terorisme dan Perang Non-Konvensional dari Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, menulis sebuah telaah tentang miliarwan Saudi ini dalam Bin Laden, The Man Who Declared War on America, dan yang tampil dari sana bukan hanya sebuah potret buruk: Bin Ladin bukan saja mempunyai reputasi dalam keberanian bertempur melawan tentara Uni Soviet di Afganistan di pertengahan 1980-an—dan pulang ke Arab Saudi sebagai pahlawan—tapi juga seorang  yang dengan pengalamannya di bidang bisnis  menyelesaikan keruwetan konstruksi bisa secara efektif menyelesaikan keruwetan keuangan pemerintah Islam Sudan. Ia juga pandai men- dirikan prasarana untuk latihan kemiliteran bagi gerakan Islam yang didukungnya. Ia juga pandai mendirikan prasarana untuk latihan kemiliteran bagi gerakan Islam yang didukungnya, dan dialah yang membangun dan meremajakan Kota Kandahar, yang rusak oleh peperangan.

Terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa Usamah pribadi, yang tinggal di gua-gua Tora Bora, memilih hidup sebagai penangkal arus modernitas. Konon ia ingin sebuah masyarakat yang hidup kembali seperti di zaman Rasulullah di abad ke-6. Tapi apa pun bayangan masa depan dan masa lalunya, yang pasti musuh utamanya Amerika Serikat, sebuah kekuatan yang kian dibenci amat sengit setelah Perang Teluk di tahun 1991. Dalam posisi itu, Usamah jadi lambang yang dibutuhkan oleh sebuah dunia yang hendak mengalahkan kekuasaan uang dan teknologi dengan apa yang disebut Fukuyama sebagai "nekat, keberanian, imajinasi, dan idealisme". Bodansky menceritakan dalam bukunya bagaimana Bin Ladin, waktu itu usianya baru sekitar 29, memimpin satu satuan tempur di Shaban, di Provinsi Paktia, Afganistan, di tahun 1987. Ia berhasil menyerbu posisi tentara Soviet dengan pertempuran satu lawan satu. Sampai saat terakhir, ia masih membawa senapan Kalashnikov yang konon diambilnya dari seorang jenderal Soviet yang tewas di Shaban. "Ia menjadi tambah tak mengenal takut setelah Paktia," kata seorang kenalannya sebagaimana dikutip Bodansky. Usamah berharap bertempur sampai titik darah terakhir, "dan mati secara agung".

Mati secara agung—yang terjadi dengan Che yang gugur, yang dilakukan oleh Mishima dengan seppuku, yang diinginkan Bin Ladin di pegunungan dingin Tora Bora—memang sesuatu yang tak akan terjadi dalam sistem yang meniscayakan hukum dan tiadanya kekerasan. Sebab itu, bagi gairah seperti ini, demokrasi macam Amerika dan Inggris terkadang tak terasa seru. Régis Debray, cendekiawan sosialis terkenal Prancis yang pernah ikut bergerilya bersama Guevara, mengeluh tentang keadaan demokrasi Prancis yang mulai mirip sistem Anglo-Saxon itu: "Gairah pada umumnya telah mati," tulisnya di sebuah buku yang terbit di tahun 1989. "Masyarakat" telah menggantikan "nasion", katanya pula. "Tiap kita menemukan diri kita bersendiri, kemudian, hilang dalam sebuah kelimun individu yang semuanya serupa dalam hasrat mereka untuk tak mirip satu sama lain. Kembali-ke-individu merupakan  tujuan luhur. Narsisme."

Tapi narsisme juga bisa mengambil bentuk dalam "mati secara agung" yang tak ada dalam etos demokrasi liberal. Bergabung dengan gairah, tekad, dan keberanian, seorang yang menghendaki eksit yang dramatis adalah seorang pahlawan yang melihat dirinya sendiri sebagai sosok yang mengagumkan dan menggetarkan. Tapi dengan demikian ia juga membawa sebuah niat yang mencemaskan, terutama jika kita ingat kata-kata tokoh Galileo dalam lakon Bertold Brecht: "Sungguh malang sebuah negeri yang membutuhkan pahlawan." Pahlawan jadi penting ketika orang kebanyakan menjadi tak penting.

Memang ada melankoli dalam kalimat Brecht, tapi saya kira bukan karena sejarah berakhir, melainkan karena wajah ganda modernitas yang tak akan selesai: selalu ada dalam dirinya sendiri daya yang mengelak, yang menentang, biarpun mungkin sia-sia, dan tak selamanya membuat hidup menjadi lebih baik.

Antidot, dalam pelbagai kasus, juga bisa membawa racun. 

Goenawan Mohamad


Sumber: TEMPO, No. 44/XXX/31 Desember 2001 – 6 Januari 2002


AKU NGENTENI TEKAMU…

Kesaksian Martin Aleida dalam Tribunal Rakyat Internasional 1965

Oleh: MARTIN ALEIDA


JODOH tidak buta. Tak pernah membuat majal kelembutan hati Ratih Sukowati. Malah memperkaya jiwanya.

Rama-Sinta, Ande-Ande Lumut, dan rupa-rupa cerita pembujuk tidur, yang diwariskan ibunya, menemukan kekuatan pada sebuah legenda Batak, yang diceritakan Gumontam Hutajulu, suaminya.

Acapkali, sepulang dari berbagai rapat dan aksi gerakan tani, suaminya itu, melepaskan lelah dengan menceritakan berbagai legenda kepada Ratih. Dari sekian banyak, Si Marsaitan menukik benar di hati sang istri. Dari legenda itu, Ratih menangkap dan terpesona akan pesan kesetiaan yang wajib dijaga sampai pun berkalang tanah. Juga cermin keberanian tiada bandingnya dari seorang perempuan. Walau ada darah yang tumpah.

Alkisah, Si Boru Sangkar Sodalahi berpura-pura jatuh cinta, malahan kawin dengan musuh yang telah memenggal kepala suaminya dalam sebuah pertarungan antar-kelompok yang berat sebelah. Untuk melecehkan lawan sehina-hinanya, kepala suaminya ditanam si pemenang di dasar paling bawah dari tangga batu yang diinjak untuk mendaki ke rumahnya.

Di rumah suami barunya itu Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin. Siang malam. Tenunannya pun lebih bagus. Dengan kata-kata yang menghanyutkan, dimohonnyalah suami barunya itu membuatkan pewarna yang lebih bermutu. Terbuat dari ramuan alam. Sehingga sang suami sibuk sampai matahari tenggelam di balik gunung, sebagai tanda kasihnya pada pasangan yang baru, cantik, istri lawan yang dia tundukkan dengan pedang.

Apabila malam melingkup pucuk gunung, manja dia merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya itu. Hanyut dalam elusan tangan dan gelombang bujuk-rayu si Boru Sangkar Sodalahi.

Pada suatu malam, dalam belaian kata yang menenteramkan, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi, saking lelahnya bekerja seharian, lelaki itu langsung mendengkur.

Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun suaminya. Bukan hasrat surgawi yang menggelora, melainkan dendam yang dia peram untuk menebus kematian suaminya yang sejati: Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya menyaksikan jakun yang turun-naik di batang leher yang rebah menyerah. Dengan siaga, dia menoleh ke sekeliling. Hanya pelita yang mengawasinya. Diam-diam disisipkannya tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya pedang pencabut nyawa suaminya. Bersit cahaya pelita terpantul di mata senjata yang telah menghabisi Tuan Sipallat. Geram dia menatap leher yang berserah diri di pangkuan. Secepat kilat ditebaskannya senjata itu. Kepala lelaki itu menggelinding. Darah bersimbah di peraduan, di mana cinta palsu baru saja berlalu.

Cepat dia tegak. Mengambil ulos ragi hidup dari peti pusaka. Bergegas dia menuruni tangga. Sambil menangis tertahan, dia gali tengkorak suami junjungan jiwanya dari dasar tangga. Sigap, namun takzim, dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos purba tadi. Dia naik lagi ke rumah. Diraihnya tikar bernoda darah. Dengan jijik dibalutnya kepala musuh suaminya itu. Dan dia bergegas ke pusat marga Tuan Sipallat.

Sesampainya di huta, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang yang membenteng. Kepada penjaga dia bilang ingin menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenal wajah dan dosanya, kontan menghardik. Mengusirnya.

“Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya datang ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan,” sergah mereka. “Kepalamu dan kepala suamimu itu..!”

“Percayalah, saya takkan beranjak sebelum diizinkan masuk.”

Wali adat dibangunkan. Disusul perundingan yang dihadiri pemangku kaum. Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk.

“Malam ini saya membawa kembali leluhurmu. Kembali pulang ke rumah ini. Melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi geram seraya melepaskan gendongan. Bersimpuh, dia menggelar tengkorak Tuan Sipallat di lantai.

“Inilah junjungan kita, yang telah kutebus kehormatannya.” Dadanya tegak. “Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah seorang istri yang setia sampai mati.”

Rapat terdiam bagai paku. Yang hadir menangis, meraung, memandangi tengkorak pemimpin mereka yang tergeletak dalam kebesaran ulos.

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat. Nama perempuaan yang gagah laksana kuda semberani menerjang gunung itu dipulihkan. Harkatnya di dalam marga dikembalikan. Anak yang dikandungnya dianggap sebagai darah daging mereka sendiri. Buah bisikan leluhur. Ketika lahir, jabang bayi itu diberi nama Si Marsaitan, untuk memuliakan keberanian bak saitan yang dimiliki Ibunya dalam membela kehormatan marga. Kaumnya. Juga daratan yang diinjak.

***

Pada hari, bulan, serta tahun pengejaran terhadap “orang-orang merah”, penumpasan terhadap para pembagi tanah kepada yang tidak punya, jasad Gumontam Hutajulu ditemukan mengapung di Brantas yang merah anyir. Tersangkut di bangkai akar pepohonan. Didorongkan ke arus dengan batang kayu, bambu, oleh para pemuja kekerasan yang bersorak di tepi bengawan. Gumontam mengapung bersama puluhan, kalau bukan ratusan, kawan-kawan senasib seperjuangannya.

Ratih menyembunyikan sembilu yang mengiris-iris hidupnya. Hatinya tertindih seberat gunung. Dia menitipkan putra tunggalnya kepada Ibunya. Dan memilih satu-satunya jalan yang tersisa dalam menuntaskan sisa hidup, dengan menyerahkan diri sebagai simpanan seorang letnan yang ikut memimpin pembinasaan Gumontam dan kawan-kawan. Betapa pun menyesakkan hidup, namun bakatnya sebagai sinden tidak ikut hanyut.

Dulu, orang-orang sekabupaten mengenalnya sebagai penyanyi utama panem bromo (paduan suara), yang menggelorakan aksi-aksi kaum tani melawan tuan tanah pembangkang landreform. Memasuki peraduan, saban malam, dengan hati yang tersayat-sayat, Ratih berdendang di dekat suami baru yang datang ke dalam hidupnya dengan todongan senjata:

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu/ Aku ngenteni tekamu…

Hatinya tidak ikut mengalun membujuk lelaki yang rebah di sampingnya. Melainkan melayang menjemput Gumontam dan anak lanang mereka. Terkadang suaranya yang membuai membuat mata suami yang tidak diinginkannya itu terkatup sebelum gairah kelaki-lakiannya meradang. Saat itu Ratih bisa saja beringsut. Perlahan tak berderak. Membuka lemari. Menjangkau pistol untuk menyudahi kesengsaraan batin. Memuntahkan peluru ke jidat letnan busuk yang datang ke dalam hidupnya, yang dia sambut dengan rasa jijik yang disembunyikan.

Tapi tidak. Manakala si letnan mendengkur, lelah setelah seharian mengejar daging dan darah orang-orang yang tanpa bukti dituduh berkomplot membunuh para jenderal nun jauh di Jakarta. Dengan awas, sinden kita melangkah menghampiri pintu. Menguakkannya. Dan kabur menyongsong gelap malam. Jadi buronan, tertangkap, diperkosa.

Pada suatu malam, dengan ujung kedua jempol yang diikat di belakang, tertatih-tatih Ratih dibentak naik ke atas truk bersama belasan tahanan lelaki, perempuan. Dipaksa jongkok. Di bawah todongan muncung bedil dari empat pengawal, mereka dibawa berpuluh kilometer entah ke mana. Dalam gelap, di suatu tempat, muatan truk itu digiring turun satu-satu. Dikawal menerabas hutan karet. Tak lama kemudian terdengar rentetan peluru. Juga gedebam tubuh yang tumbang. Disusul desir tanah yang diayunkan untuk menimbuni Ratih dan kawan-kawan yang tidak dia kenal, yang dipertemukan nasib.

Bertahun-tahun kemudian, Kresna, sang putra tunggal, ketika sudah berusia setengah baya, menemukan Ibunya dalam deretan nama mereka yang ditembak, dibenamkan, ditimbuni, di sehamparan tanah perkebunan karet.

Kuburan massal itu terbongkar berkat pengakuan supir yang mengemudikan truk maut tempo hari. Sang kopral, ringkih, di usia 90-an, tak punya anak, apalagi cucu, dengan kesatria ingin mewariskan sesuatu kepada bangsa yang akan ditinggalkannya. Kepada para peneliti yang datang menemuinya, pensiunan kopral itu mengajak tamunya ke tepi satu jalan. Sambil berdiri, dia meminta maaf tak sampai hati menghampiri gundukan tanah yang ditumbuhi ilalang. “Saya sampai di sini saja,” katanya lemah. Gemetar jarinya menunjuk ke arah hutan karet.

Kresna menyalin nama-nama korban di kuburan massal itu ke layar telepon selulernya. Daftar itu dia temukan pada status Facebook sebuah yayasan di Jakarta, yang bergerak mencari kuburan massal, mulai dari Jawa, ke Sumatera, Bali, sampai Nusa Tenggara Timur.

Tak terhitung berapa kali dia yakinkan mata dan hatinya bahwa Ratih Sinden, sebagaimana yang tertera di layar telepon pintarnya itu, adalah Ibu kandungnya. Sejumlah orang tua yang dia tanya juga membenarkan. Hilir-mudik dia ke berbagai kota dan desa. Memastikan bahwa nama itu sungguh perempuan yang melahirkan dan menitipkannya kepada neneknya, ketika ibu kandungnya itu dikuasai seorang letnan.

Dari telepon seluler, dia juga tahu ada aksi yang berlangsung setiap Kamis di seberang Istana Merdeka, mendesak Presiden mengakui adanya ratusan kuburan massal di seantero negeri. Aksi yang sudah berlangsung lebih 600 kali.

Dalam pencarian Ibu, yang hanya tinggal sebuah nama, Kresna berangkat ke Jakarta.

Dengan nama Ibunya yang terus berdegub di dalam hatinya, Kresna berdiri di belakang puluhan aktivis Kamisan di pojok Monumen Nasional. Sudut taman itu gelap oleh kaos hitam para pengunjuk rasa. Sekitar 200 langkah dari tangga Istana Merdeka. Terdengar lagu-lagu penyemangat. Juga puisi yang garang maupun yang sendu. Poster-poster berkibar seperti hendak dilayangkan, tidak hanya ke bubungan Istana, juga ke langit ketujuh. Menuntut berbagai pembinasaan manusia sejak 1965 diselesaikan dengan mengakuinya, untuk menyembuhkan luka peradaban. Hati dan bibirnya bergetar ketika Kresna membaca, dan mengeja nama Ibunya baik-baik pada sebuah poster.

“Kawan-kawan,” seorang bertubuh agak kecil, rambut lurus dikocar-kacirkan angin, meminta perhatian.

“Tadi pagi ada telepon dari Istana. Presiden meminta kita datang menemuinya di Istana Bogor siang ini. Tapi kita tolak. Kita ingin dia menemui kita di sini. Di sini…, kawan-kawan. Hanya selangkah dari tangga Istana untuk berjabat tangan dengan kita. Dan itu akan lebih melambungkan namanya di mata dunia, kepada siapa dia pernah berjanji untuk menuntaskan masalah pembinasaan yang keji di negeri ini.”

Kresna terkesima menyaksikan keberanian aktivis itu. Orang-orang bergumam mendengar ucapannya yang menolak ajakan Presiden, namun ingin memuliakannya pula. Menenangkan diri, menghela napas, Kresna memberanikan diri mendekati pegiat yang telah merebut hatinya.

“Bapak, bantulah… Saya datang dari jauh untuk ikut dalam acara ini. Mencari Ibu saya.”

“Saudara dari mana?”

“Pati… Pati, Pak…”

Tangkas dia merogoh telepon genggam. “Pak, lihat ini, Ratih Sinden. Dia Ibu saya. Itu nama julukannya. Dia pesinden. Nama aslinya Ratih Sukowati. Bapak saya dulu tukang bagi-bagi tanah kepada petani tak bertanah.” Dia membiarkan layar telepon genggam menganga, disimak si pemberani.

“Ibu saya itu kabur, Pak. Bapak saya dibunuh. Ibu saya direbut tentara. Saya dititipkan pada nenek saya.”

“Apa yang dapat saya lakukan?”

“Saya tidak mimpi mau ikut ditemui Presiden. Saya cuma ingin kalau Bapak nanti melakukan pencarian, penggalian kuburan massal di Pati, ajaklah saya. Tolong, Bapak. Saya hanya ingin Ibu saya. Walau itu sekadar tulang-belulang.”

Kresna menyodorkan nomor kontaknya. Dalam riuh-rendahnya kendaraan yang melintas, angin sore menyisir rambut si aktivis. Orang Pati yang membekasi hati itu membiarkan telepon genggam tetap terkepal di tangannya. Layarnya tetap menyala. Dengan nama seorang pesinden yang mati dibunuh terpampang di situ. ***

MARTIN ALEIDA, sastrawan Indonesia


Jumat, 09 Januari 2026

Homo Recentis, Kesadaran Semesta, dan Evolusi Keempat

Umat manusia yang hidup sekarang ini disebut manusia modern atau 'homo recentis'. Homo recentis ini telah ada di bumi ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Adam adalah homo recentis pertama. 

Homo recentis mempunyai sensus interior yang dapat menerjemahkan ide dari alam angan-angan. Dengan ide ini manusia modern mengadakan gabungan antara persepsi dengan resepsi yang akhirnya menghasilkan konsepsi yang lebih tinggi derajatnya dari jumlah unsur-unsur yang membentuknya. Dengan jalan demikian, maka homo recentis . mempunyai kemampuan untuk mencipta (creatif vermorgen). 

Homo recentis ini telah memiliki indera batiniah, yakni alat-alat batin kita, yang dapat memandang ke arah alam angan-angan atau alam yang bersifat abstrak. 

Semakin banyak kita mempergunakan pancaindera lahiriah kita, maka semakin banyaklah persepsi dan resepsi yang kita terima; semakin sering indera batiniah kita dipergunakan, semakin banyaklah kita menerima atau membentuk konsepsi. Adapun cara untuk dapat menerima yang disebut belakangan adalah dengan meningkatkan pikiran ke arah alam angan-angan yang bersifat abstrak. Kebiasaan untuk mengadakan abstraksi adalah sifat seorang intelek yang sejati. 

Sehubungan dengan ini, Zoetmulder pernah menegaskan bahwa pikiran yang berkuasalah yang mengadakan abstraksi-abstraksi ini, dan akhirnya ia berkeyakinan bahwa di atas segala yang ada ini, ada Kekuasaan Yang Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. 

Hegel pun pemah menandaskan bahwa pikiran yang pasti benar adalah pikiran yang ditingkatkan ke arah budi dan terus menuju pada Tuhan Yang Maha Tinggi.

Kekuasaan untuk dapat mengadakan abstraksi merupakan satu-satunya sifat dari setiap intelek yang mencari pokok-pokok dari setiap keadaan yang sama, dan dengan demikian, intelek itu mengadakan satu kesatuan yang lebih tinggi derajatnya, untuk akhirnya menghasilkan suatu abstraksi yang terakhir mengenai kesatuan Yang Tertinggi, yang tergabung di dalam paham yang meliputi seluruh keadaan. 

Seorang intelektual tidak hanya menggunakan ilmu yang diperolehnya dari pendidikan akademis saja, akan tetapi juga harus dapat mempergunakan abstraksi yang diperolehnya itu dengan cara mengandalkan asosiasi-asosiasi antara apa yang diperolehnya melalui ilmu pengetahuan dengan angan-angan (ide) yang berasal dari alam angan-angan. 

Sebagai contoh dari hasil abstraksi yang merupakan pendapat tertinggi adalah rumus kesetaraan (equivalentie-formulae) cetusan Einstein. Rumus ini diperolehnya semata-mata melalui abstraksi, dan dapat digunakan untuk membuktikan bahwa benda (massa) adalah bersifat setara (equivalent) dengan tenaga (energie). Secara populer matematis, rumusan ini dapat dibekukan sebagai E = mc2.

Seorang intelektual yang sejati sering dan banyak sekali berabstraksi, dan karenanya dapat melihat jauh ke depan serta dapat meraba-raba apa yang terjadi. Di samping itu, seperti kata Einstein, mereka dapat menghasilkan suatu pendapat baru yang gilang-gemilang. Orang yang demikian disebut orang yang mempunyai intuisi. 

Di dalam setiap usaha dan upaya yang mereka lakukan guna membentuk roman dunia (wereld bouwers) dan corak masyarakat (sociaal-hervormes), para sarjana terkemuka tidak pula pernah dapat membebaskan diri mereka dari intuisi ini. 

Newton, Keppler, dan Waals pernah mengatakan bahwa sebagian besar dari buah pikiran mereka adalah hasil dari intuisi mereka. Ketika kepada Newton ditanyakan bagaimanakah caranya ia memperoleh teori gravitasi, maka dia menjawab, dengan cara berpikir sedalam-dalamnya. 

Selanjutnya, Waals juga pernah menandaskan bahwa pendapatnya justru diperoleh melalui intuisi, yang sudah muncul jauh sebelum ia mengadakan perhitungan matematis.

Seperti yang telah diterangkan, intelek yang sejati itu adalah intelek yang mempunyai kebiasaan untuk dapat mengadakan abstraksi, yang ternyata juga bersifat hierarkis atau bertingkat-tingkat. Abstraksi yang tertinggi tingkatannya adalah abstraksi yang dapat menemukan kenyataan Yang Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Telah diterangkan juga bahwa sel-sel otak menjadi bertambah banyak bila ia sering digunakan untuk memiliki hal-hal yang baru. Di dalam evolusi intelek, intuisi merupakan tingkatan intelek yang dapat dianggap sebagai tingkatan yang tertinggi bagi ummat manusia zaman sekarang. Unsur-unsur yang menjadi pikirannya adalah abstraksi. 

Pertumbuhan intelek selalu dibarengi dengan pertumbuhan kesadaran. Kesadaran yang menyertai persepsi dan resepsi disebut kesadaran sederhana (eenvoudig bewustzijn). Ia memiliki kesadaran akan keadaan di sekelilingnya dan kesadaran akan anggota-anggota badannya serta juga mengetahui anggota-anggota badannya ini menjadi bagian dari dirinya.

Konsepsi yang disertai oleh kesadaran akan diri sendiri (zelfbewustzijn) terdiri dari kesadaran akan diri sendiri, yakni badani, jiwani, dan kesadaran akan diri sendiri yang murni. 

Tingkatan evolusi intelek yang dinamai intuisi disertai oleh evolusi kesadaran yang dinamai kesadaran jagad raya (cosmisch bewustzijn), (kesadaran tauhid), kesadaran akan isi jagad raya atau semesta alam memungkinkannya untuk mengetahui isi jagad raya. Adapun alat-alat untuk menangkap isi semesta alam ini adalah indera batin (sensus interior). 

Tingkatan evolusi intelek yang dinamai konsepsi mungkin telah dimiliki oleh Homo Neanderthalensis dan pasti oleh Homo recentis, sedangkan yang terakhir ini telah dikaruniai tunas tingkatan intelek yang disebut intuisi. 

Menurut pendapat para sarjana, pertumbuhan intuisi pada homo recentis baru berlangsung dalam waktu 5.000 tahun dan belum banyak orang yang telah mencapai tingkatan evolusi intelek ini. Yang diketahui dengan sungguh-sungguh dan diselidiki oleh ilmu pengetahuan baru sekitar 43 orang. 

**


Orang-orang yang Memiliki Kesadaran Alam Semesta 

Evolusi intelektual tingkat keempat seperti yang diterangkan di atas mulai sejak 5000 tahun yang lampau. Akan tetapi yang diketahui hingga saat ini yang memiliki intelektual tersebut baru mencapai 43 orang, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat evolusi yang keempat ini baru mencapai tingkat permulaan.

Apabila kita mengingat bahwa umat manusia di dunia ini telah ada selama lebih kurang 2.000.000 tahun, dan seandainya hanya ada empat tingkat evolusi maka ketiga evolusi yang pertama masing-masing berlangsung lebih kurang 700.000 tahun. Evolusi tingkat keempat ini baru berlangsung selama 5.000 tahun, sehingga masih beratus-ratus ribu tahun lagi umat manusia akan sampai ke tingkat evolusi yang keempat. 

Orang yang memiliki tingkat keempat ini adalah: 1. Nabi Musa, 2. Gideon. 3. Jesaya. 4. Li R. 5. Buddha Gautama. 6. Socrates. 7. Nabi Isa. 8. Paulus. 9. Plotinus. 10. Nabi Muhammad s.a.w. 11. Roger Bacon, 12. Dante. 13. Las Casas. 14. Juan Yepes. 15. Francis Bacon. 16, Boehme. 17. Pascal. 18. Spinoza. 19. Mme. Guyon. 20. Swedenberg. 21. Gardiner. 22. Blake. 23. Balzac. 24. J.B.B 25. Whitman. 26. J.B. 27. C.P. 28. H.B. 29. R.P.S. 30. E.T. 31. Paramahamsa. 32. J.H.J. 33. Richard Maurice Bucke. 34. T.S.R. 35. W.H.W. 36. Carpenter. 37. C.M.C. 38. M.C.L. 39. J.W.W. 40. William Lloyd. 41. P.Tyner. 42. C.Y.E. 43. A.J.S.

Mereka-mereka inilah yang termasuk golongan yang memiliki kesadaran alam semesta dan yang disebut-sebut sebagai manusia sempurna (insan kamil). 

Apabila kita menyelidiki riwayat hidup mereka masing-masing, maka terbuktilah bahwa mereka itu semuanya taat beribadah, memiliki pola hidup yang sederhana, mengenyampingkan masalah keduniawian, suka mengasingkan diri dari dunia ramai dan bersembunyi di dalam tempat-tempat sunyi, di dalam rimba belantara atau gua yang gelap gulita. 

Di dalam alam yang sunyi itu, pekerjaan utama mereka sehari-hari adalah bermenung (meditatie) atau tafakur (contemplatie). Kegiatan mengadakan abstraksi ini tidak menyangkut hal-hal yang nyata (riel) akan tetapi abstraksi-abstraksi yang abstrak, terutama abstraksi yang tertinggi, yaitu Tuhan. 

Dalam setiap tingkatan evolusi terdapat perbedaan derajat, artinya ada yang memperoleh derajat tinggi dan ada yang memperoleh derajat rendah atau menengah. 

Apabila kesadaran alam semesta seseorang diibaratkan antena alat penerimaan radio (radio ontvanger) maka di antara pemilik kesadaran alam semesta ini ada yang memiliki kesadaran yang sangat tinggi dan ada pula yang rendah. 

Mereka yang memiliki antena yang paling tinggi sudah pasti akan dapat dengan seterang-terangnya dan senyaring-nyaringnya menangkap suara alat penyiar radio (radio zender), sedangkan mereka yang memiliki antena yang sangat rendah akan menerima gangguan suara (gestoord) dan kadang-kadang suara ini tidak terdengar sama sekali (feeding). 

Diakui bahwa di kalangan tiap-tiap bangsa terdapat seseorang atau beberapa orang yang memiliki kesadaran alam semesta ini. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan atau petunjuk (Q.s. Al Faathir ayat 24, berbunyi: "Tidak ada satu umat pun, kecuali telah datang kepadanya seorang pemberi peringatan.").

Di kalangan bangsa Indonesia kita dapati misalnya para wali, pujangga-pujangga, di antaranya almarhum R. Ng.Ronggowarsito, para kiai kenamaan dan beberapa orang ahli kebatinan. 

Sudah barang tentu antena mereka tidak setinggi antena para nabi dan orang-orang yang termasuk dalam daftar di atas. Sehubungan dengan hal tersebut maka tidaklah pada tempatnya jika golongan yang menganut aliran ilmu kebatinan menentang golongan agama. 

Pemimpin-pemimpin kebatinan percaya dengan sungguh-sungguh akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi pada umumnya mereka tidak mau atau segan untuk mematuhi aturan-aturan agama yang difirmankan oleh Tuhan dan yang sudah tentu lebih lengkap dari apa yang telah diterimanya. Diibaratkan kita percaya kepada seorang pemimpin akan tetapi kita bersikap acuh tak acuh terhadap amanat-amanatnya atau bahkan merendahkannya, maka asas yang berlawanan demikian (paradox) tidak akan sesuai dengan kebenaran, atau dengan kata lain kita mengabdi kepada kesesatan. 

Aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama sudah barang tentu lebih lengkap, karena suara yang mengandung amanat Tuhan tersebut diterima melalui antena para nabi yang tinggi sehingga suara tersebut terdengar dengan jelas dan suci. Mungkin tidak ada dosa yang lebih besar dibandingkan menyembah sesuatu sambil meludahinya, oleh karena yang disembah adalah Tuhan beserta firman-Nya. Di dalam hadist disebut: “Siapa yang menimbulkan sara maka kufurlah dia." 

Aliran kebatinan seharusnya menjadi usaha untuk memperdalam pengetahuan mengenai hikmah-hikmah dalam aturan-aturan agama karena kebesaran suatu agama ditetapkan oleh usaha di lapangan ilmu kebatinan (mistik) yang dilakukan oleh para penganutnya. Alexis Carrel mengatakan, “De kracht van een godsdients is afhankelijk van zijn haarden van mystieke werkzaambeie.” 

Walaupun aliran kebatinan lebih baik daripada atheisme, akan tetapi alangkah baiknya apabila aliran kebatinan bernaung di bahwa patokan-patokan agama, sebagaimana yang dilakukan para wali dan para pujangga-pujangga kuno kita, yang melalui usaha mereka telah menciptakan suatu kebudayaan yang hingga kini masih digemari oleh seluruh lapisan masyarakat.

(Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, h. 193-200, dan h. 207-210).

***

Keterangan tambahan dari layanan AI:

Istilah ini (kesadaran semesta) dipopulerkan oleh psikiater Richard Maurice Bucke dalam bukunya yang terbit pada tahun 1901, Cosmic Consciousness: A Study in the Evolution of the Human Mind. Bucke mendefinisikannya sebagai bentuk kesadaran yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh manusia biasa, sering kali dialami sebagai pencerahan mendadak yang melibatkan perasaan menyatu dengan alam semesta, kegembiraan luar biasa, dan wawasan mendalam tentang makna kehidupan. Dalam bukunya, Bucke menyebutkan beberapa tokoh sejarah yang ia yakini telah mencapai tingkat kesadaran ini, di antaranya:
Buddha
  • Yesus Kristus
  • Muhammad
  • Walt Whitman (penyair Amerika)
  • Henry David Thoreau (penulis dan naturalis Amerika)
  • Francis Bacon (filsuf Inggris)Di luar daftar Bucke, banyak tradisi spiritual dan filsafat lainnya yang membahas pencapaian kesadaran yang mendalam terhadap alam semesta, seperti:
  • Para sufi, seperti Ibn 'Arabi, yang visinya tentang kosmologi sufi mengeksplorasi kesadaran tauhid (keesaan Tuhan) dan keterikatan kosmik.
  • Tokoh spiritual Hindu dan Buddha (seperti Dalai Lama XIV), di mana moksha atau nirwana sering digambarkan sebagai puncak kesadaran diri dan penyatuan kosmik. 


TERBARU

MAKALAH