Martin Suryajaya
Manusia itu rapuh dan kita ingin menyangkalnya. Sejarah ribuan tahun peradaban tak lain adalah upaya penyangkalan itu. Demikian bergulirlah peradaban manusia: mulai dari periode aksial yang melahirkan para filsuf purba yang bertanya tentang hakikat semesta, ke para teolog Abad Pertengahan yang berupaya mengupas hakikat Tuhan pencipta alam, lantas bergulir melalui para filsuf modern yang bertanya tentang hakikat manusia dan pengetahuannya, hingga akhirnya kita hari ini, di sini, yang tetap tak mengerti.
Sejarah peradaban tak lain adalah sejarah pemujaan atas rasio (baik berupa “Kemanusiaan Universal,” “Negara Hukum yang Rasional,” “Saintisme,” “Metafisika”). Kini kita pun perlahan mulai sadar: sejarah peradaban ribuan tahun yang memuja rasio itu cuma desas-desus. Rasio tak lain adalah bahasa dengan segala gramatikanya. Kita tak bisa berpikir di luar bahasa. Dengan demikian, rasio, alias bahasa, hanya dapat mengurai kebenaran dari realitas dengan pembatasan tertentu atas kebenaran itu. Dengan kata lain, rasio mengejar kebenaran dengan membatasi terlebih dahulu “kebenaran” macam apa yang mesti dicapai. Dengan demikian, rasio adalah muslihat usang yang disembahyangi setiap hari.
Lantas bagaimana dengan irasionalitas? Irasionalitas selalu dipandang sebagai musuh utama peradaban manusia. Peradaban dibangun melalui represi atas apa yang dianggapnya irasional. Represi ini tak sepenuhnya berhasil, yang irasional selalu mengeram di lubuk ketaksadaran. Yang irasional selalu dapat bangkit lagi ke muka peradaban dan terejawantah dalam sejarah (kita ingat: kerusuhan sosial, fundamentalisme agama, peperangan buas, Holocaust dan genosida-genosida etno-religius). Ia muncul sebagai manifestasi kekecewaan atas gagalnya cita-cita emansipatoris dari rasio yang telah berjanji (dan gagal) untuk menguraikan Kebenaran Sejati.
Apakah ini sebuah impasse alias "jalan buntu”? Ada hal yang belum kita coba masuki, suatu yang terus-menerus dinegasi oleh peradaban. Jika kebuntuan dalam rasio alias bahasa ini tak dapat dilampaui sejauh kita masih mendekam dalam horizon bahasa, maka barangkali ada satu kemungkinan lain di luar bahasa yang belum kita upayakan. Kemungkinan itu adalah dengan masuk ke dalam relung tanpa bahasa dan tanpa rasio, yaitu masuk ke dalam ranah para mistikus: mencecap kesunyian dalam ruang hampa kognisi. Barangkali di sanalah Kebenaran Sejati akan menyingkapkan dirinya. Barangkali kita tak bisa lagi menyebutnya sebagai “kebenaran” karena “kebenaran,” “kesalahan,” “kebaikan,” dan “keburukan” adalah domain rasio. Apa yang tercecap itu tak bisa dinamai, atau bahkan justru boleh dinamai dengan apa saja. Para mistikus menyebutnya Suwung.
Namun apakah setiap dari kita bisa dan harus mencecapnya? Bukankah yang mistis seperti itu dapat menjadi sangat fundamentalistis dalam politik? Tidakkah dalam proses laku tapa, kita dapat menjadi indiferen terhadap yang fana, terhadap segala yang sia-sia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat kita merenung. Manusia itu rapuh dan kita ingin menyangkalnya.
Barangkali jalan keluarnya bukanlah sikap alergis terhadap segala yang fana melainkan justru mengakui yang fana itu sebagai bagian dari cara mengada kita. Dengan kata lain, menerima kerapuhan diri kita dengan lapang dada. Bukankah hanya dengan cara demikianlah tindakan etis, politis, dan religius yang tulus menjadi mungkin? Bukankah yang etis selalu mengandaikan “ketidaktahuan” kita akan Yang Baik dan bukankah karena ketidaktahuan inilah kita tidak akan mengeklaim tindak etis kita sebagai tindak etis Yang Sejati? Barangkali bukan karena saya tahu apa itu “baik” maka saya berbuat baik melainkan justru karena saya tak tahu apa itu “baik” maka saya berbuat baik. Bukankah iman yang autentik mengandaikan sejenis ketidaktahuan sehingga kita tidak mengeklaim secara semena-mena bahwa “saya telah mencapai Kebenaran Sejati itu”? Bukankah iman yang autentik adalah iman yang terbuka terhadap sesuatu yang terus luput? Tidakkah hidup adalah afirmasi atas apa yang fana, sementara, dan terkadang sia-sia? Maka, apakah kita perlu Kebenaran yang final, kukuh dan padu? Barangkali yang kita perlukan adalah sikap “rendah hati” untuk disalahpahami, rendah hati dalam ketidaktahuan, rendah hati dalam kefanaan, dan terkadang juga kesia-siaan, seperti daun yang gugur di senja hari, manusia yang menua dalam waktu dan hangat mentari pagi. Kita tak tahu apa-apa. Tapi kita bisa menangis dan menolong yang lain dalam ritus ketidakmengertian kita, dalam momen singular yang takada kata, takada kitab, dan kita tetap taktahu apa yang kita perbuat dan apa yang Kita cintai. Dan kita tetap berbuat. Dan kita tetap mencintai.
Ya, barangkali itulah pathos dekonstruksi. Derrida pernah berkata, “dekonstruksi takkan berjalan tanpa cinta.” Dalam arti tertentu, dekonstruksi adalah cinta. Force (aktivitas differance yang mengalir dengan membedakan-membagi-menunda-menyuplemen) adalah cinta. Cinta akan yang lain yang akan datang, akan yang terkalkulasi, akan yang sudah selalu menginterupsi . kita, cinta akan yang takmungkin. Dalam ranah cinta, masih adakah sesuatu yang pasti? Masih adakah sesuatu yang sepenuhnya terprogram dan terprediksi? Mungkinkah cinta jika ia dirumuskan (baca: dikonseptualisasikan secara rigorous)? Mungkinkah cinta jika ia adalah sesuatu yang pasti, yang terantisipasi sepenuhnya, yang terpahami? Dan mungkinkah cinta jika ia terjamin dan sepenuhnya timbal-balik? Barangkali cinta hanya mungkin ketika ia tidak mungkin, ketika tak ada jaminan akan terus mencintai, ketika kita bisa lupa bahwa kita pernah mencintai, bahwa kita memang mencintai, bahwa kita akan terus mencintai. Hanya ketika cinta tidak mungkin, maka cinta menjadi mungkin. Hanya ketika cinta bukanlah Cinta (baca: mencapai kepenuhan), maka cinta menjadi mungkin. Cinta selalu mengandaikan jarak, selalu mengandaikan separasi, selalu mengandaikan kemungkinan untuk tidak mencintai (lagi). Cinta mengandaikan kefanaan. Cinta mengandaikan ketaksempurnaan. Cinta mengandaikan kontaminasi. Oleh karena itu: mencintai adalah menangis. Cinta hanya mungkin sejauh ia tak mungkin dan akan tak mungkin sejauh ia mungkin. Love is out of joint...
Dengan menunjukkan dimensi ketaktentuan pada pelbagai aspek kehidupan semacam itulah, Derrida berupaya menunda metafisika. Dalam dimensi ketaktentuan inilah, metafisika yang berupaya mengorganisasikan perbedaan ke dalam skema oposisional yang pasti demi mencapai pengertian tentang dasar, asal tujuan dan identitas menjadi tak mungkin. Skema oposisional selalu didirikan di atas dasar yang bukan dasar, yaitu arus differance, alunan, force, yang terus menunda dan membeda, yang terus 'membelum' dalam ketaktentuannya. Oleh karena didirikan di atas fondasi yang tak ajek inilah, skema oposisional metafisika selalu gagal merengkuh keseluruhan dalam sebuah kepastian. Selalu ada yang tercecer, selalu ada yang lain, selalu ada yang masih tersisa.
Apakah ini berarti metafisika telah mati? Tidak. Metafisika tak pernah mati. Derrida pernah mengatakan bahwa seluruh diskursus tentang “akhir” (akhir sejarah, akhir metafisika, akhir manusia) selalu metafisis. Pandangan ini sesuai dengan gagasannya mengenai logika kontaminasi. Jika oposisi adalah karakter dari metafisika, maka oposisi antara “terjebak dalam metafisika” dan “melampaui metafisika” adalah suatu metafisika karena oposisi ini juga bertumpu pada oposisi antara “dalam” dan “luar” metafisika. Bagi Derrida, untuk mengkritik metafisika, kita mesti melihat “batas” antara luar dan dalam domain metafisika itu sebagai batas yang kontaminatif. Maksudnya, yang di luar sudah selalu berada di dalam dan yang di dalam sudah selalu berada di luar. Namun, muncul suatu konsekuensi: segalanya imanen dalam ranah kontaminasi alias ranah metafisika ini. Lantas, apakah ada suatu jalan keluar dari ranah ini? Apakah ada suatu “momen keputusan” yang bisa melampaui seluruh ranah ini walaupun akhirnya akan kembali pada ranah ini? Jika segalanya imanen, apakah “lompatan” dimungkinkan?
Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 315-319
