alt/text gambar

Sabtu, 10 Januari 2026

DENGAN TIGA ANTIDOT

(TEMPO, No. 44/XXX/31 Desember 2001 – 6 Januari 2002)


Catatan Pinggir Goenawan Mohammad


Sebuah tahun lagi di milenium ini akan berakhir, tapi bukan sejarah.

Saya selalu merasa ada sesuatu yang ganjil dalam argumen Francis Fukuyama yang termasyhur bahwa, sejak satu dasawarsa yang lalu, kita tiba di "akhir sejarah". Harus dikatakan di sini bahwa ia tak mengatakannya dengan tempik sorak. Komunisme memang gagal. Tapi justru itu kini tak ada lagi pergulatan untuk perubahan besar—kecuali usaha memperbaiki sistem yang ada, seperti memperbaiki rumah yang telah siap, berdikit-dikit, di sana- sini. Modernitas, bagi Fukuyama, tak akan mungkin ditarik kembali ke gudang tua. Menara Kembar di World Trade Center New York itu—sebuah lambang modernitas yang muluk menjulang—memang dihancurkan, dan beribu-ribu orang yang merasa berumah di sebuah dunia "pra-modern" bertepuk tangan. Tapi, di luar demokrasi liberal dan ekonomi pasar, tak tampak ada alternatif lain yang bisa diandalkan. Dengan teror dan kekerasan ataupun dengan pidato dan pemilihan, tak ada. Komunisme pasti bukan, dan Islam entah.

Fukuyama memang dapat meyakinkan, jika kita lihat betapa besar bondongan orang yang mengarungi ruang dan waktu untuk menikmati buah kapitalisme—sejak para buruh tamu yang datang menghambur ke Eropa dan Amerika Serikat dari Turki dan Filipina, sampai dengan para penikmat komoditi di pelosok Asia dan Afrika. Tapi saya terkadang bertanya-tanya: benarkah sejarah sebuah progresi garis-lurus? Benarkah modernitas tak selamanya mengandung dalam dirinya sesuatu yang menentangnya, atau tampak menentangnya?

Bagaimanapun, modernitas mengandung janji pembebasan. Tapi ia juga menyemaikan kemandekan; ia menuai melankoli. Max Weber sudah memperhitungkan akan datangnya sebuah "kandang besi", dan Fukuyama sendiri menyebut bahwa "akhir dari sejarah" adalah "saat yang sangat sedih". Apa yang berani, nekat, imajinatif, dan idealistis lambat-laun akan digantikan oleh "perhitungan ekonomi". Getar dan gairah akan kikis. Dalam masa "pasca- sejarah", kata Fukuyama, "tak akan ada seni dan filsafat, cuma perawatan terus-menerus atas museum tambo manusia."

Tapi mungkin sebab itulah modernitas mengandung penangkalnya sendiri. Ada tiga tokoh yang dalam perbedaan antarmereka agaknya merupakan contoh bagaimana antidot semacam itu bekerja. Yang pertama adalah Che Guevara. la yang ditangkap dan ditembak mati oleh tentara Bolivia di tahun 1967 adalah orang yang memilih: ia meninggalkan hidup nyaman seorang dokter, melepas hidup tenang seorang anggota keluarga Argentina yang mapan; ia pergi untuk terus berada dalam revolusi. Ketika Revolusi Kuba berhasil menang secara politik, ia menolak untuk menikmatinya. Ia meninggalkan Havana, meninggalkan posisinya sebagai menteri, dan kembali mengarungi hutan: menggerakkan petani, memimpin gerilya, mengubah dunia. la gagal. Tapi ia jadi lambang perlawanan tanpa kendat terhadap kapitalisme, juga simbol keberanian dan imajinasi yang tak betah hidup dengan hanya perhitungan ekonomi. la menolak sejarah berakhir dalam bentuk seperti Amerika Serikat: sebuah ekonomi yang selalu dirundung kepincangan sosial, sebuah politik yang tak bisa mengguncang itu dengan gerak yang dramatik. Che justru kepincangan itu sebuah antidot karena ia adalah gerak dramatik itu sendiri—hidupnya, kematiannya.

Tokoh yang kedua adalah Mishima Yukio. Di tahun 1970 novelis termasyhur ini juga menjadi sebuah guncangan: bersama para anggota Tatenokai yang didirikannya dan berlatih ketahanan dan dibiayainya—para pemuda yang berlatih ketahanan dan keterampilan fisik serta seni bela diri—ia menyerbu sebuah pos militer di Tokyo. Ia berhasil menguasai kantor komandan, mengikat perwira itu di kursinya, dan dengan tenang, di depan tahanannya itu, ia merobek perutnya sendiri dengan tpedang, untuk kemudian diakhiri dengan ritual yang tak kalah mengerikan: seorang pembantunya telah siap berdiri di sampingnya dan, dengan pedang terhunus, memenggal leher Mishima. Ketika pemuda itu tak cukup kuat menetakkan samurainya, seorang anggota Tatenokai lain bertindak. Darah Mishima membanjir. la mati dalam sebuah protes, dengan rasa masygul yang telah tampak dalam novel empat jilidnya, Laut Kesuburan, karena Jepang telah kehilangan keindahan dan kegagahannya yang lama. Bagi Mishima, negeri ini telah tenggelam dalam rutinitas politik dan ekonomi modern, yang menghitung, menghitung, menghitung, tanpa keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan dalam tingkat yang paling ekstrem.

Tokoh yang ketiga adalah Usamah bin Ladin. Orang Amerika menganggapnya sebagai "iblis" (Presiden Bush memanggilnya "the evil one"), tapi banyak orang di Timur Tengah dan Asia Selatan menganggapnya sebagai pahlawan. Yossef Bodansky, Direktur Satuan Tugas tentang Terorisme dan Perang Non-Konvensional dari Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, menulis sebuah telaah tentang miliarwan Saudi ini dalam Bin Laden, The Man Who Declared War on America, dan yang tampil dari sana bukan hanya sebuah potret buruk: Bin Ladin bukan saja mempunyai reputasi dalam keberanian bertempur melawan tentara Uni Soviet di Afganistan di pertengahan 1980-an—dan pulang ke Arab Saudi sebagai pahlawan—tapi juga seorang  yang dengan pengalamannya di bidang bisnis  menyelesaikan keruwetan konstruksi bisa secara efektif menyelesaikan keruwetan keuangan pemerintah Islam Sudan. Ia juga pandai men- dirikan prasarana untuk latihan kemiliteran bagi gerakan Islam yang didukungnya. Ia juga pandai mendirikan prasarana untuk latihan kemiliteran bagi gerakan Islam yang didukungnya, dan dialah yang membangun dan meremajakan Kota Kandahar, yang rusak oleh peperangan.

Terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa Usamah pribadi, yang tinggal di gua-gua Tora Bora, memilih hidup sebagai penangkal arus modernitas. Konon ia ingin sebuah masyarakat yang hidup kembali seperti di zaman Rasulullah di abad ke-6. Tapi apa pun bayangan masa depan dan masa lalunya, yang pasti musuh utamanya Amerika Serikat, sebuah kekuatan yang kian dibenci amat sengit setelah Perang Teluk di tahun 1991. Dalam posisi itu, Usamah jadi lambang yang dibutuhkan oleh sebuah dunia yang hendak mengalahkan kekuasaan uang dan teknologi dengan apa yang disebut Fukuyama sebagai "nekat, keberanian, imajinasi, dan idealisme". Bodansky menceritakan dalam bukunya bagaimana Bin Ladin, waktu itu usianya baru sekitar 29, memimpin satu satuan tempur di Shaban, di Provinsi Paktia, Afganistan, di tahun 1987. Ia berhasil menyerbu posisi tentara Soviet dengan pertempuran satu lawan satu. Sampai saat terakhir, ia masih membawa senapan Kalashnikov yang konon diambilnya dari seorang jenderal Soviet yang tewas di Shaban. "Ia menjadi tambah tak mengenal takut setelah Paktia," kata seorang kenalannya sebagaimana dikutip Bodansky. Usamah berharap bertempur sampai titik darah terakhir, "dan mati secara agung".

Mati secara agung—yang terjadi dengan Che yang gugur, yang dilakukan oleh Mishima dengan seppuku, yang diinginkan Bin Ladin di pegunungan dingin Tora Bora—memang sesuatu yang tak akan terjadi dalam sistem yang meniscayakan hukum dan tiadanya kekerasan. Sebab itu, bagi gairah seperti ini, demokrasi macam Amerika dan Inggris terkadang tak terasa seru. RĂ©gis Debray, cendekiawan sosialis terkenal Prancis yang pernah ikut bergerilya bersama Guevara, mengeluh tentang keadaan demokrasi Prancis yang mulai mirip sistem Anglo-Saxon itu: "Gairah pada umumnya telah mati," tulisnya di sebuah buku yang terbit di tahun 1989. "Masyarakat" telah menggantikan "nasion", katanya pula. "Tiap kita menemukan diri kita bersendiri, kemudian, hilang dalam sebuah kelimun individu yang semuanya serupa dalam hasrat mereka untuk tak mirip satu sama lain. Kembali-ke-individu merupakan  tujuan luhur. Narsisme."

Tapi narsisme juga bisa mengambil bentuk dalam "mati secara agung" yang tak ada dalam etos demokrasi liberal. Bergabung dengan gairah, tekad, dan keberanian, seorang yang menghendaki eksit yang dramatis adalah seorang pahlawan yang melihat dirinya sendiri sebagai sosok yang mengagumkan dan menggetarkan. Tapi dengan demikian ia juga membawa sebuah niat yang mencemaskan, terutama jika kita ingat kata-kata tokoh Galileo dalam lakon Bertold Brecht: "Sungguh malang sebuah negeri yang membutuhkan pahlawan." Pahlawan jadi penting ketika orang kebanyakan menjadi tak penting.

Memang ada melankoli dalam kalimat Brecht, tapi saya kira bukan karena sejarah berakhir, melainkan karena wajah ganda modernitas yang tak akan selesai: selalu ada dalam dirinya sendiri daya yang mengelak, yang menentang, biarpun mungkin sia-sia, dan tak selamanya membuat hidup menjadi lebih baik.

Antidot, dalam pelbagai kasus, juga bisa membawa racun. 

Goenawan Mohamad


Sumber: TEMPO, No. 44/XXX/31 Desember 2001 – 6 Januari 2002


AKU NGENTENI TEKAMU…

Kesaksian Martin Aleida dalam Tribunal Rakyat Internasional 1965

Oleh: MARTIN ALEIDA


JODOH tidak buta. Tak pernah membuat majal kelembutan hati Ratih Sukowati. Malah memperkaya jiwanya.

Rama-Sinta, Ande-Ande Lumut, dan rupa-rupa cerita pembujuk tidur, yang diwariskan ibunya, menemukan kekuatan pada sebuah legenda Batak, yang diceritakan Gumontam Hutajulu, suaminya.

Acapkali, sepulang dari berbagai rapat dan aksi gerakan tani, suaminya itu, melepaskan lelah dengan menceritakan berbagai legenda kepada Ratih. Dari sekian banyak, Si Marsaitan menukik benar di hati sang istri. Dari legenda itu, Ratih menangkap dan terpesona akan pesan kesetiaan yang wajib dijaga sampai pun berkalang tanah. Juga cermin keberanian tiada bandingnya dari seorang perempuan. Walau ada darah yang tumpah.

Alkisah, Si Boru Sangkar Sodalahi berpura-pura jatuh cinta, malahan kawin dengan musuh yang telah memenggal kepala suaminya dalam sebuah pertarungan antar-kelompok yang berat sebelah. Untuk melecehkan lawan sehina-hinanya, kepala suaminya ditanam si pemenang di dasar paling bawah dari tangga batu yang diinjak untuk mendaki ke rumahnya.

Di rumah suami barunya itu Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin. Siang malam. Tenunannya pun lebih bagus. Dengan kata-kata yang menghanyutkan, dimohonnyalah suami barunya itu membuatkan pewarna yang lebih bermutu. Terbuat dari ramuan alam. Sehingga sang suami sibuk sampai matahari tenggelam di balik gunung, sebagai tanda kasihnya pada pasangan yang baru, cantik, istri lawan yang dia tundukkan dengan pedang.

Apabila malam melingkup pucuk gunung, manja dia merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya itu. Hanyut dalam elusan tangan dan gelombang bujuk-rayu si Boru Sangkar Sodalahi.

Pada suatu malam, dalam belaian kata yang menenteramkan, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi, saking lelahnya bekerja seharian, lelaki itu langsung mendengkur.

Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun suaminya. Bukan hasrat surgawi yang menggelora, melainkan dendam yang dia peram untuk menebus kematian suaminya yang sejati: Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya menyaksikan jakun yang turun-naik di batang leher yang rebah menyerah. Dengan siaga, dia menoleh ke sekeliling. Hanya pelita yang mengawasinya. Diam-diam disisipkannya tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya pedang pencabut nyawa suaminya. Bersit cahaya pelita terpantul di mata senjata yang telah menghabisi Tuan Sipallat. Geram dia menatap leher yang berserah diri di pangkuan. Secepat kilat ditebaskannya senjata itu. Kepala lelaki itu menggelinding. Darah bersimbah di peraduan, di mana cinta palsu baru saja berlalu.

Cepat dia tegak. Mengambil ulos ragi hidup dari peti pusaka. Bergegas dia menuruni tangga. Sambil menangis tertahan, dia gali tengkorak suami junjungan jiwanya dari dasar tangga. Sigap, namun takzim, dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos purba tadi. Dia naik lagi ke rumah. Diraihnya tikar bernoda darah. Dengan jijik dibalutnya kepala musuh suaminya itu. Dan dia bergegas ke pusat marga Tuan Sipallat.

Sesampainya di huta, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang yang membenteng. Kepada penjaga dia bilang ingin menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenal wajah dan dosanya, kontan menghardik. Mengusirnya.

“Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya datang ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan,” sergah mereka. “Kepalamu dan kepala suamimu itu..!”

“Percayalah, saya takkan beranjak sebelum diizinkan masuk.”

Wali adat dibangunkan. Disusul perundingan yang dihadiri pemangku kaum. Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk.

“Malam ini saya membawa kembali leluhurmu. Kembali pulang ke rumah ini. Melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi geram seraya melepaskan gendongan. Bersimpuh, dia menggelar tengkorak Tuan Sipallat di lantai.

“Inilah junjungan kita, yang telah kutebus kehormatannya.” Dadanya tegak. “Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah seorang istri yang setia sampai mati.”

Rapat terdiam bagai paku. Yang hadir menangis, meraung, memandangi tengkorak pemimpin mereka yang tergeletak dalam kebesaran ulos.

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat. Nama perempuaan yang gagah laksana kuda semberani menerjang gunung itu dipulihkan. Harkatnya di dalam marga dikembalikan. Anak yang dikandungnya dianggap sebagai darah daging mereka sendiri. Buah bisikan leluhur. Ketika lahir, jabang bayi itu diberi nama Si Marsaitan, untuk memuliakan keberanian bak saitan yang dimiliki Ibunya dalam membela kehormatan marga. Kaumnya. Juga daratan yang diinjak.

***

Pada hari, bulan, serta tahun pengejaran terhadap “orang-orang merah”, penumpasan terhadap para pembagi tanah kepada yang tidak punya, jasad Gumontam Hutajulu ditemukan mengapung di Brantas yang merah anyir. Tersangkut di bangkai akar pepohonan. Didorongkan ke arus dengan batang kayu, bambu, oleh para pemuja kekerasan yang bersorak di tepi bengawan. Gumontam mengapung bersama puluhan, kalau bukan ratusan, kawan-kawan senasib seperjuangannya.

Ratih menyembunyikan sembilu yang mengiris-iris hidupnya. Hatinya tertindih seberat gunung. Dia menitipkan putra tunggalnya kepada Ibunya. Dan memilih satu-satunya jalan yang tersisa dalam menuntaskan sisa hidup, dengan menyerahkan diri sebagai simpanan seorang letnan yang ikut memimpin pembinasaan Gumontam dan kawan-kawan. Betapa pun menyesakkan hidup, namun bakatnya sebagai sinden tidak ikut hanyut.

Dulu, orang-orang sekabupaten mengenalnya sebagai penyanyi utama panem bromo (paduan suara), yang menggelorakan aksi-aksi kaum tani melawan tuan tanah pembangkang landreform. Memasuki peraduan, saban malam, dengan hati yang tersayat-sayat, Ratih berdendang di dekat suami baru yang datang ke dalam hidupnya dengan todongan senjata:

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu/ Aku ngenteni tekamu…

Hatinya tidak ikut mengalun membujuk lelaki yang rebah di sampingnya. Melainkan melayang menjemput Gumontam dan anak lanang mereka. Terkadang suaranya yang membuai membuat mata suami yang tidak diinginkannya itu terkatup sebelum gairah kelaki-lakiannya meradang. Saat itu Ratih bisa saja beringsut. Perlahan tak berderak. Membuka lemari. Menjangkau pistol untuk menyudahi kesengsaraan batin. Memuntahkan peluru ke jidat letnan busuk yang datang ke dalam hidupnya, yang dia sambut dengan rasa jijik yang disembunyikan.

Tapi tidak. Manakala si letnan mendengkur, lelah setelah seharian mengejar daging dan darah orang-orang yang tanpa bukti dituduh berkomplot membunuh para jenderal nun jauh di Jakarta. Dengan awas, sinden kita melangkah menghampiri pintu. Menguakkannya. Dan kabur menyongsong gelap malam. Jadi buronan, tertangkap, diperkosa.

Pada suatu malam, dengan ujung kedua jempol yang diikat di belakang, tertatih-tatih Ratih dibentak naik ke atas truk bersama belasan tahanan lelaki, perempuan. Dipaksa jongkok. Di bawah todongan muncung bedil dari empat pengawal, mereka dibawa berpuluh kilometer entah ke mana. Dalam gelap, di suatu tempat, muatan truk itu digiring turun satu-satu. Dikawal menerabas hutan karet. Tak lama kemudian terdengar rentetan peluru. Juga gedebam tubuh yang tumbang. Disusul desir tanah yang diayunkan untuk menimbuni Ratih dan kawan-kawan yang tidak dia kenal, yang dipertemukan nasib.

Bertahun-tahun kemudian, Kresna, sang putra tunggal, ketika sudah berusia setengah baya, menemukan Ibunya dalam deretan nama mereka yang ditembak, dibenamkan, ditimbuni, di sehamparan tanah perkebunan karet.

Kuburan massal itu terbongkar berkat pengakuan supir yang mengemudikan truk maut tempo hari. Sang kopral, ringkih, di usia 90-an, tak punya anak, apalagi cucu, dengan kesatria ingin mewariskan sesuatu kepada bangsa yang akan ditinggalkannya. Kepada para peneliti yang datang menemuinya, pensiunan kopral itu mengajak tamunya ke tepi satu jalan. Sambil berdiri, dia meminta maaf tak sampai hati menghampiri gundukan tanah yang ditumbuhi ilalang. “Saya sampai di sini saja,” katanya lemah. Gemetar jarinya menunjuk ke arah hutan karet.

Kresna menyalin nama-nama korban di kuburan massal itu ke layar telepon selulernya. Daftar itu dia temukan pada status Facebook sebuah yayasan di Jakarta, yang bergerak mencari kuburan massal, mulai dari Jawa, ke Sumatera, Bali, sampai Nusa Tenggara Timur.

Tak terhitung berapa kali dia yakinkan mata dan hatinya bahwa Ratih Sinden, sebagaimana yang tertera di layar telepon pintarnya itu, adalah Ibu kandungnya. Sejumlah orang tua yang dia tanya juga membenarkan. Hilir-mudik dia ke berbagai kota dan desa. Memastikan bahwa nama itu sungguh perempuan yang melahirkan dan menitipkannya kepada neneknya, ketika ibu kandungnya itu dikuasai seorang letnan.

Dari telepon seluler, dia juga tahu ada aksi yang berlangsung setiap Kamis di seberang Istana Merdeka, mendesak Presiden mengakui adanya ratusan kuburan massal di seantero negeri. Aksi yang sudah berlangsung lebih 600 kali.

Dalam pencarian Ibu, yang hanya tinggal sebuah nama, Kresna berangkat ke Jakarta.

Dengan nama Ibunya yang terus berdegub di dalam hatinya, Kresna berdiri di belakang puluhan aktivis Kamisan di pojok Monumen Nasional. Sudut taman itu gelap oleh kaos hitam para pengunjuk rasa. Sekitar 200 langkah dari tangga Istana Merdeka. Terdengar lagu-lagu penyemangat. Juga puisi yang garang maupun yang sendu. Poster-poster berkibar seperti hendak dilayangkan, tidak hanya ke bubungan Istana, juga ke langit ketujuh. Menuntut berbagai pembinasaan manusia sejak 1965 diselesaikan dengan mengakuinya, untuk menyembuhkan luka peradaban. Hati dan bibirnya bergetar ketika Kresna membaca, dan mengeja nama Ibunya baik-baik pada sebuah poster.

“Kawan-kawan,” seorang bertubuh agak kecil, rambut lurus dikocar-kacirkan angin, meminta perhatian.

“Tadi pagi ada telepon dari Istana. Presiden meminta kita datang menemuinya di Istana Bogor siang ini. Tapi kita tolak. Kita ingin dia menemui kita di sini. Di sini…, kawan-kawan. Hanya selangkah dari tangga Istana untuk berjabat tangan dengan kita. Dan itu akan lebih melambungkan namanya di mata dunia, kepada siapa dia pernah berjanji untuk menuntaskan masalah pembinasaan yang keji di negeri ini.”

Kresna terkesima menyaksikan keberanian aktivis itu. Orang-orang bergumam mendengar ucapannya yang menolak ajakan Presiden, namun ingin memuliakannya pula. Menenangkan diri, menghela napas, Kresna memberanikan diri mendekati pegiat yang telah merebut hatinya.

“Bapak, bantulah… Saya datang dari jauh untuk ikut dalam acara ini. Mencari Ibu saya.”

“Saudara dari mana?”

“Pati… Pati, Pak…”

Tangkas dia merogoh telepon genggam. “Pak, lihat ini, Ratih Sinden. Dia Ibu saya. Itu nama julukannya. Dia pesinden. Nama aslinya Ratih Sukowati. Bapak saya dulu tukang bagi-bagi tanah kepada petani tak bertanah.” Dia membiarkan layar telepon genggam menganga, disimak si pemberani.

“Ibu saya itu kabur, Pak. Bapak saya dibunuh. Ibu saya direbut tentara. Saya dititipkan pada nenek saya.”

“Apa yang dapat saya lakukan?”

“Saya tidak mimpi mau ikut ditemui Presiden. Saya cuma ingin kalau Bapak nanti melakukan pencarian, penggalian kuburan massal di Pati, ajaklah saya. Tolong, Bapak. Saya hanya ingin Ibu saya. Walau itu sekadar tulang-belulang.”

Kresna menyodorkan nomor kontaknya. Dalam riuh-rendahnya kendaraan yang melintas, angin sore menyisir rambut si aktivis. Orang Pati yang membekasi hati itu membiarkan telepon genggam tetap terkepal di tangannya. Layarnya tetap menyala. Dengan nama seorang pesinden yang mati dibunuh terpampang di situ. ***

MARTIN ALEIDA, sastrawan Indonesia


Jumat, 09 Januari 2026

Homo Recentis, Kesadaran Semesta, dan Evolusi Keempat

Umat manusia yang hidup sekarang ini disebut manusia modern atau 'homo recentis'. Homo recentis ini telah ada di bumi ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Adam adalah homo recentis pertama. 

Homo recentis mempunyai sensus interior yang dapat menerjemahkan ide dari alam angan-angan. Dengan ide ini manusia modern mengadakan gabungan antara persepsi dengan resepsi yang akhirnya menghasilkan konsepsi yang lebih tinggi derajatnya dari jumlah unsur-unsur yang membentuknya. Dengan jalan demikian, maka homo recentis . mempunyai kemampuan untuk mencipta (creatif vermorgen). 

Homo recentis ini telah memiliki indera batiniah, yakni alat-alat batin kita, yang dapat memandang ke arah alam angan-angan atau alam yang bersifat abstrak. 

Semakin banyak kita mempergunakan pancaindera lahiriah kita, maka semakin banyaklah persepsi dan resepsi yang kita terima; semakin sering indera batiniah kita dipergunakan, semakin banyaklah kita menerima atau membentuk konsepsi. Adapun cara untuk dapat menerima yang disebut belakangan adalah dengan meningkatkan pikiran ke arah alam angan-angan yang bersifat abstrak. Kebiasaan untuk mengadakan abstraksi adalah sifat seorang intelek yang sejati. 

Sehubungan dengan ini, Zoetmulder pernah menegaskan bahwa pikiran yang berkuasalah yang mengadakan abstraksi-abstraksi ini, dan akhirnya ia berkeyakinan bahwa di atas segala yang ada ini, ada Kekuasaan Yang Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. 

Hegel pun pemah menandaskan bahwa pikiran yang pasti benar adalah pikiran yang ditingkatkan ke arah budi dan terus menuju pada Tuhan Yang Maha Tinggi.

Kekuasaan untuk dapat mengadakan abstraksi merupakan satu-satunya sifat dari setiap intelek yang mencari pokok-pokok dari setiap keadaan yang sama, dan dengan demikian, intelek itu mengadakan satu kesatuan yang lebih tinggi derajatnya, untuk akhirnya menghasilkan suatu abstraksi yang terakhir mengenai kesatuan Yang Tertinggi, yang tergabung di dalam paham yang meliputi seluruh keadaan. 

Seorang intelektual tidak hanya menggunakan ilmu yang diperolehnya dari pendidikan akademis saja, akan tetapi juga harus dapat mempergunakan abstraksi yang diperolehnya itu dengan cara mengandalkan asosiasi-asosiasi antara apa yang diperolehnya melalui ilmu pengetahuan dengan angan-angan (ide) yang berasal dari alam angan-angan. 

Sebagai contoh dari hasil abstraksi yang merupakan pendapat tertinggi adalah rumus kesetaraan (equivalentie-formulae) cetusan Einstein. Rumus ini diperolehnya semata-mata melalui abstraksi, dan dapat digunakan untuk membuktikan bahwa benda (massa) adalah bersifat setara (equivalent) dengan tenaga (energie). Secara populer matematis, rumusan ini dapat dibekukan sebagai E = mc2.

Seorang intelektual yang sejati sering dan banyak sekali berabstraksi, dan karenanya dapat melihat jauh ke depan serta dapat meraba-raba apa yang terjadi. Di samping itu, seperti kata Einstein, mereka dapat menghasilkan suatu pendapat baru yang gilang-gemilang. Orang yang demikian disebut orang yang mempunyai intuisi. 

Di dalam setiap usaha dan upaya yang mereka lakukan guna membentuk roman dunia (wereld bouwers) dan corak masyarakat (sociaal-hervormes), para sarjana terkemuka tidak pula pernah dapat membebaskan diri mereka dari intuisi ini. 

Newton, Keppler, dan Waals pernah mengatakan bahwa sebagian besar dari buah pikiran mereka adalah hasil dari intuisi mereka. Ketika kepada Newton ditanyakan bagaimanakah caranya ia memperoleh teori gravitasi, maka dia menjawab, dengan cara berpikir sedalam-dalamnya. 

Selanjutnya, Waals juga pernah menandaskan bahwa pendapatnya justru diperoleh melalui intuisi, yang sudah muncul jauh sebelum ia mengadakan perhitungan matematis.

Seperti yang telah diterangkan, intelek yang sejati itu adalah intelek yang mempunyai kebiasaan untuk dapat mengadakan abstraksi, yang ternyata juga bersifat hierarkis atau bertingkat-tingkat. Abstraksi yang tertinggi tingkatannya adalah abstraksi yang dapat menemukan kenyataan Yang Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Telah diterangkan juga bahwa sel-sel otak menjadi bertambah banyak bila ia sering digunakan untuk memiliki hal-hal yang baru. Di dalam evolusi intelek, intuisi merupakan tingkatan intelek yang dapat dianggap sebagai tingkatan yang tertinggi bagi ummat manusia zaman sekarang. Unsur-unsur yang menjadi pikirannya adalah abstraksi. 

Pertumbuhan intelek selalu dibarengi dengan pertumbuhan kesadaran. Kesadaran yang menyertai persepsi dan resepsi disebut kesadaran sederhana (eenvoudig bewustzijn). Ia memiliki kesadaran akan keadaan di sekelilingnya dan kesadaran akan anggota-anggota badannya serta juga mengetahui anggota-anggota badannya ini menjadi bagian dari dirinya.

Konsepsi yang disertai oleh kesadaran akan diri sendiri (zelfbewustzijn) terdiri dari kesadaran akan diri sendiri, yakni badani, jiwani, dan kesadaran akan diri sendiri yang murni. 

Tingkatan evolusi intelek yang dinamai intuisi disertai oleh evolusi kesadaran yang dinamai kesadaran jagad raya (cosmisch bewustzijn), (kesadaran tauhid), kesadaran akan isi jagad raya atau semesta alam memungkinkannya untuk mengetahui isi jagad raya. Adapun alat-alat untuk menangkap isi semesta alam ini adalah indera batin (sensus interior). 

Tingkatan evolusi intelek yang dinamai konsepsi mungkin telah dimiliki oleh Homo Neanderthalensis dan pasti oleh Homo recentis, sedangkan yang terakhir ini telah dikaruniai tunas tingkatan intelek yang disebut intuisi. 

Menurut pendapat para sarjana, pertumbuhan intuisi pada homo recentis baru berlangsung dalam waktu 5.000 tahun dan belum banyak orang yang telah mencapai tingkatan evolusi intelek ini. Yang diketahui dengan sungguh-sungguh dan diselidiki oleh ilmu pengetahuan baru sekitar 43 orang. 

**


Orang-orang yang Memiliki Kesadaran Alam Semesta 

Evolusi intelektual tingkat keempat seperti yang diterangkan di atas mulai sejak 5000 tahun yang lampau. Akan tetapi yang diketahui hingga saat ini yang memiliki intelektual tersebut baru mencapai 43 orang, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat evolusi yang keempat ini baru mencapai tingkat permulaan.

Apabila kita mengingat bahwa umat manusia di dunia ini telah ada selama lebih kurang 2.000.000 tahun, dan seandainya hanya ada empat tingkat evolusi maka ketiga evolusi yang pertama masing-masing berlangsung lebih kurang 700.000 tahun. Evolusi tingkat keempat ini baru berlangsung selama 5.000 tahun, sehingga masih beratus-ratus ribu tahun lagi umat manusia akan sampai ke tingkat evolusi yang keempat. 

Orang yang memiliki tingkat keempat ini adalah: 1. Nabi Musa, 2. Gideon. 3. Jesaya. 4. Li R. 5. Buddha Gautama. 6. Socrates. 7. Nabi Isa. 8. Paulus. 9. Plotinus. 10. Nabi Muhammad s.a.w. 11. Roger Bacon, 12. Dante. 13. Las Casas. 14. Juan Yepes. 15. Francis Bacon. 16, Boehme. 17. Pascal. 18. Spinoza. 19. Mme. Guyon. 20. Swedenberg. 21. Gardiner. 22. Blake. 23. Balzac. 24. J.B.B 25. Whitman. 26. J.B. 27. C.P. 28. H.B. 29. R.P.S. 30. E.T. 31. Paramahamsa. 32. J.H.J. 33. Richard Maurice Bucke. 34. T.S.R. 35. W.H.W. 36. Carpenter. 37. C.M.C. 38. M.C.L. 39. J.W.W. 40. William Lloyd. 41. P.Tyner. 42. C.Y.E. 43. A.J.S.

Mereka-mereka inilah yang termasuk golongan yang memiliki kesadaran alam semesta dan yang disebut-sebut sebagai manusia sempurna (insan kamil). 

Apabila kita menyelidiki riwayat hidup mereka masing-masing, maka terbuktilah bahwa mereka itu semuanya taat beribadah, memiliki pola hidup yang sederhana, mengenyampingkan masalah keduniawian, suka mengasingkan diri dari dunia ramai dan bersembunyi di dalam tempat-tempat sunyi, di dalam rimba belantara atau gua yang gelap gulita. 

Di dalam alam yang sunyi itu, pekerjaan utama mereka sehari-hari adalah bermenung (meditatie) atau tafakur (contemplatie). Kegiatan mengadakan abstraksi ini tidak menyangkut hal-hal yang nyata (riel) akan tetapi abstraksi-abstraksi yang abstrak, terutama abstraksi yang tertinggi, yaitu Tuhan. 

Dalam setiap tingkatan evolusi terdapat perbedaan derajat, artinya ada yang memperoleh derajat tinggi dan ada yang memperoleh derajat rendah atau menengah. 

Apabila kesadaran alam semesta seseorang diibaratkan antena alat penerimaan radio (radio ontvanger) maka di antara pemilik kesadaran alam semesta ini ada yang memiliki kesadaran yang sangat tinggi dan ada pula yang rendah. 

Mereka yang memiliki antena yang paling tinggi sudah pasti akan dapat dengan seterang-terangnya dan senyaring-nyaringnya menangkap suara alat penyiar radio (radio zender), sedangkan mereka yang memiliki antena yang sangat rendah akan menerima gangguan suara (gestoord) dan kadang-kadang suara ini tidak terdengar sama sekali (feeding). 

Diakui bahwa di kalangan tiap-tiap bangsa terdapat seseorang atau beberapa orang yang memiliki kesadaran alam semesta ini. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan atau petunjuk (Q.s. Al Faathir ayat 24, berbunyi: "Tidak ada satu umat pun, kecuali telah datang kepadanya seorang pemberi peringatan.").

Di kalangan bangsa Indonesia kita dapati misalnya para wali, pujangga-pujangga, di antaranya almarhum R. Ng.Ronggowarsito, para kiai kenamaan dan beberapa orang ahli kebatinan. 

Sudah barang tentu antena mereka tidak setinggi antena para nabi dan orang-orang yang termasuk dalam daftar di atas. Sehubungan dengan hal tersebut maka tidaklah pada tempatnya jika golongan yang menganut aliran ilmu kebatinan menentang golongan agama. 

Pemimpin-pemimpin kebatinan percaya dengan sungguh-sungguh akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi pada umumnya mereka tidak mau atau segan untuk mematuhi aturan-aturan agama yang difirmankan oleh Tuhan dan yang sudah tentu lebih lengkap dari apa yang telah diterimanya. Diibaratkan kita percaya kepada seorang pemimpin akan tetapi kita bersikap acuh tak acuh terhadap amanat-amanatnya atau bahkan merendahkannya, maka asas yang berlawanan demikian (paradox) tidak akan sesuai dengan kebenaran, atau dengan kata lain kita mengabdi kepada kesesatan. 

Aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama sudah barang tentu lebih lengkap, karena suara yang mengandung amanat Tuhan tersebut diterima melalui antena para nabi yang tinggi sehingga suara tersebut terdengar dengan jelas dan suci. Mungkin tidak ada dosa yang lebih besar dibandingkan menyembah sesuatu sambil meludahinya, oleh karena yang disembah adalah Tuhan beserta firman-Nya. Di dalam hadist disebut: “Siapa yang menimbulkan sara maka kufurlah dia." 

Aliran kebatinan seharusnya menjadi usaha untuk memperdalam pengetahuan mengenai hikmah-hikmah dalam aturan-aturan agama karena kebesaran suatu agama ditetapkan oleh usaha di lapangan ilmu kebatinan (mistik) yang dilakukan oleh para penganutnya. Alexis Carrel mengatakan, “De kracht van een godsdients is afhankelijk van zijn haarden van mystieke werkzaambeie.” 

Walaupun aliran kebatinan lebih baik daripada atheisme, akan tetapi alangkah baiknya apabila aliran kebatinan bernaung di bahwa patokan-patokan agama, sebagaimana yang dilakukan para wali dan para pujangga-pujangga kuno kita, yang melalui usaha mereka telah menciptakan suatu kebudayaan yang hingga kini masih digemari oleh seluruh lapisan masyarakat.

(Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, h. 193-200, dan h. 207-210).

***

Keterangan tambahan dari layanan AI:

Istilah ini (kesadaran semesta) dipopulerkan oleh psikiater Richard Maurice Bucke dalam bukunya yang terbit pada tahun 1901, Cosmic Consciousness: A Study in the Evolution of the Human Mind. Bucke mendefinisikannya sebagai bentuk kesadaran yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh manusia biasa, sering kali dialami sebagai pencerahan mendadak yang melibatkan perasaan menyatu dengan alam semesta, kegembiraan luar biasa, dan wawasan mendalam tentang makna kehidupan. Dalam bukunya, Bucke menyebutkan beberapa tokoh sejarah yang ia yakini telah mencapai tingkat kesadaran ini, di antaranya:
Buddha
  • Yesus Kristus
  • Muhammad
  • Walt Whitman (penyair Amerika)
  • Henry David Thoreau (penulis dan naturalis Amerika)
  • Francis Bacon (filsuf Inggris)Di luar daftar Bucke, banyak tradisi spiritual dan filsafat lainnya yang membahas pencapaian kesadaran yang mendalam terhadap alam semesta, seperti:
  • Para sufi, seperti Ibn 'Arabi, yang visinya tentang kosmologi sufi mengeksplorasi kesadaran tauhid (keesaan Tuhan) dan keterikatan kosmik.
  • Tokoh spiritual Hindu dan Buddha (seperti Dalai Lama XIV), di mana moksha atau nirwana sering digambarkan sebagai puncak kesadaran diri dan penyatuan kosmik. 


Kamis, 08 Januari 2026

, , ,

MARXISME


Oleh: Ariel Heryanto


Sulit dicerna akal sehat mengapa sebuah paham dianggap mengancam sebuah negara. Apalagi jika itu paham seperti Marxisme. Terlebih aneh jika dalih yang dipakai untuk melarangnya, paham itu dianggap bertentangan dengan Pancasila. Aneh tapi nyata itu bernama Kitab Undang-undang Hukum Pidana atau KUHP. 

Marxisme sudah hadir di tanah jajahan Hindia Belanda sebelum wilayah ini disebut Indonesia. Bersama isme-isme lain, Marxisme mendorong perjuangan kemerdekaan RI sebelum lahirnya Pancasila. Berkat ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara (1945), bangsa majemuk ini bisa bersatu, merdeka, dan saling bertoleransi dalam perbedaan ideologi, paham, dan isme. 

Ide bahwa Marxisme bertentangan dengan Pancasila dikarang oleh Orde Baru pada pertengahan 1960-an. Dua dekade kemudian, Islamisme dianggap ancaman bagi Pancasila. Pantas, dalam KUHP yang baru, selain Marxisme, disebut ada paham-paham lain yang dianggap menentang Pancasila. Jadi, semakin sulit membedakan pemerintah masa kini dari rezim Orde Baru. 

Pancasila dibajak Orde Baru sebagai senjata politik untuk menjagal lawan politik dan menjegal kekuasaan Presiden Sukarno. Sejak itu fungsi Pancasila bertolak belakang dengan Pancasila sebagai dasar negara (1945). Sejak itu istilah “anti-Pancasila” terhambur berpuluh tahun dan korbannya bertumbangan di mana-mana. 

Sukarno bukan hanya proklamator kemerdekaan dan presiden pertama RI. Ia adalah juga penggemar berat Marxisme. Hal itu lazim bagi kaum terpelajar di masa hidup Sukarno, termasuk mereka yang kemudian menjadi pejabat tinggi negara di awal kemerdekaan RI. Pengaruh Marxisme mengglobal, termasuk di kalangan mereka yang taat beragama. 

Demam Marxisme di paruh pertama abad ke-20 selazim demam modernisasi, demokratisasi, atau rambut gondrong  bagi pria di paruh kedua abad itu. Selazim kepedulian kaum muda masa kini pada lingkungan hidup dan perubahan iklim. Memidana penggemar Marxisme seaneh memidana jutaan penganut demokrasi atau gerakan lingkungan. Lebih aneh jika itu terjadi ketika Marxisme sudah kalah populer ketimbang K-pop di kalangan kaum muda. 

Jangan-jangan yang anti-Marxisme tidak pernah belajar tentang Marxisme. Mau belajar di mana? Kan, dilarang. Jangan-jangan meluasnya anggapan Marxisme bertentangan dengan Pancasila akibat kurangnya pengajaran sejarah lahirnya Pancasila serta kuatnya warisan cuci otak Orde Baru. 

Bagaimana kelak KUHP diterapkan? Bagaimana tuduhan penyebaran paham terlarang akan disambut masyarakat yang tidak diberi kesempatan belajar secara bebas dan kritis paham-paham itu? Kita lihat saja nanti, tetapi sejarah sudah memberi banyak pelajaran penting. 

Jika hukum disusun secara sewenang-wenang dan sulit dilawan, ia akan dilahap masyarakat tanpa dikunyah. Lalu dimuntahkan kembali ke realitas sehari-hari secara kreatif, sesuai selera masing-masing. Hasilnya penuh kejutan dan kocak, sulit dijelaskan dengan Marxisme, apalagi dengan ilmu hukum. Berikut ini beberapa contohnya. 

Di masa Orde Baru, berkat beasiswa studi di luar negeri, saya bisa membeli buku-buku Marxisme. Seusai studi, buku-buku itu saya kirimkan ke Tanah Air lewat pos. Semua lolos. Yang disita petugas imigrasi malah novel berjudul Atheis karya Achdiat Kartamihardja. Penerbitnya Pemerintah RI, majikan si petugas. Buku itu sudah dicetak sebanyak 13 kali, dijual di toko-toko dan dibahas di kelas-kelas SMA. Isinya antikomunis. 

Pendahulu Badan Intelijen Negara (BIN) disebut Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin). Sewaktu dipimpin Letnan Jenderal Sutopo Yuwono, ia berkisah rahasia dapurnya: “Sebagai intel, kita mengarang isu, yang kemudian kita lemparkan entah di pers cetak, radio, atau televisi. Kita bikin seolah-olah cerita ini beneran. Biasanya, setelah dilemparkan, orang akan membahas dan cenderung nambah-nambah. Akhirnya, isu tadi kan kembali menjadi laporan. Nah, lucunya, dari laporan yang kembali itu, kita sendiri percaya bahwa itu beneran. Bahkan, ketakutan sendiri dan berpikir, jangan-jangan isu tadi memang bener....”

Awal 1990-an, anak saya termasuk generasi yang diwajibkan menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Suatu hari, ia pulang dari sekolah dan berkisah dengan menggebu tentang “asyiknya bermain PKI-PKI-an” bersama sejumlah teman sekolah pada jam istirahat. Mainan apa itu? Dia menjelaskan: “Anak-anak memperagakan kisah G30S. Semua mau jadi PKI. Sebab, bisa menendang, memukul yang berperan jadi jenderal. Yang ditunjuk jadi jenderal lari. Kami kejar terus. Mereka sembunyi di WC dan tak berani keluar. Ha-ha-ha.” 

Tahun 1995, Kota Pemalang digemparkan oleh isu bangkitnya komunisme. Awalnya, pejabat setempat cemas menyaksikan larisnya balon mainan anak-anak berbentuk palu. Setelah diselidiki, petugas intelijen menyimpulkan: apabila dipukulkan ke sebuah benda keras, balon mainan ini berbunyi seperti boneka. Menurut telinga aparat keamanan bunyinya “arit,arit, arit”! Jadilah palu-arit! Ini pasti PKI. 

Semakin gencar diperangi, PKI-PKI-an” Orde Baru semakin marak di mana-mana. Belakangan ada yang punya ritual setiap akhir September: bikin bendera PKI untuk dibakar sendiri. Ada yang menuduh Presiden Joko Widodo itu keturunan PKI. Sayang, beliau tidak menjawab: “Kalau ya, emangnya kenapa?” 

Marxisme tak perlu dikeramatkan. Zaman emas Marxisme sudah lewat sebagai ilham gerakan politik. Dalam forum akademik, ia tidak lagi sepopuler dulu. Namun, sebagai salah satu teori klasik, pokok-pokok wawasannya wajib dikenal siapa pun yang menekuni ilmu sosial-budaya. 

Penduduk RI lebih dari 276 juta. Berapa persen yang bisa terpikat Marxisme seandainya bebas mempelajarinya? Berapa persen yang menganut paham-paham lain yang diancam KUHP? Berapa persen yang hidup bersama di luar nikah atau bercinta dengan sesama jenis kelamin? 

Negara sebesar RI merasa terancam sebuah paham atau kegiatan seks segelintir minoritas? Kok bisa?

Ariel Heryanto, Profesor Eemeritus dari Universitas Monash, Australia


(Kompas, 7 Januari 2023)


Sumber: Kompas, 7 Januari 2023


Rabu, 07 Januari 2026

PENDIDIKAN UNTUK KEHIDUPAN: SEBUAH GUGATAN DAN PENGUKUHAN

(PUSTAKA, No. 12, Th. I, Edisi Januari 1978)


Oleh: BACHRUM M. TOPATIMASANG


"Apakah yang harus diajarkan di zaman penuh sarjana dan sedikit lapangan kerja?"  - Majalah Titian No. 24 

---

Kini hubungan yang tak menguntungkan antara kecepatan "tercetaknya" sarjana dan kemampuan ekonomi untuk menyerap mereka bukan lagi merupakan hal yang tak terbantah. Jaminan keemasan dulu itu merupakan hal kebetulan saja dan lekas berlalu. Sejumlah besar lulusan universitas kini mencari jenis-jenis pekerjaan yang tak tersedia lagi di pasaran kerja. Seiring dengan itu maka nilai materil titel mereka telah merosot. Bagi para pemegang titel yang masih baru, per dahan dari pendidikan ke pekerjaan – yang dulunya dapat dilalui dengan mudah – telah menjadi hal yang bisa membahayakan pengharapan dan harga diri. 

Walter Guzzardi Jr., menulis pernyataan itu dalam artikelnya "Masa perubahan di Universitas Amerika". Jangan dikira, dilemma pendidikan Amerika Serikat itu, tidak merupakan dilemma dunia pendidikan kita juga di sini. Indikasi makin meningkatnya kemampuan produksi atau daya hasil (bukan tepat hasil) sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, yang dihadapkan pada indikasi makin sulitnya mencari lowongan kerja merupakan satu bukti pula. Dan jangan dikira, bahwa, sejak pagi-pagi pun kita tidak menyadarinya.

JAMU CAP JAGO

Menjadikan pendidikan betul-betul relevan dengan kebutuhan masyarakat, memang bukan pekerjaan gampang. Sampai sekarang pun dalam persoalan ini, kita masih terus mencari dan berusaha agar pendidikan dan kebutuhan masyarakat dapat ces pleng, seperti iklan Jamu cap Jago! Kita mau tak mau, harus terus mempertanyakan apa makna relevansi itu sesungguhnya? Bagaimana yang disebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat? Masyarakat yang mana, di mana dan kapan, dan seterusnya.

Relevansi atau kesesuaian sebenarnya terikat batas ruang dan waktu. Relevansi seharusnya diukur berdasarkan tiga aspek: memokok/mendasar (essential) penting (important) dan sangat mendesak (urgent). Tahun 50-60-an di Jerman Barat tenaga apoteker sangat dibutuhkan. Tapi sekarang, negara GSG-9 itu terpaksa mengekspor apotekernya ke Afrika dan Asia, karena kelebihan! Kita di sini sekarang lebih membutuhkan tenaga teknik menengah, sedang di India, tenaga teknik tinggi sudah mulai dicari-cari.

Jadi akar soalnya adalah pendidikan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Baru menentukan sesuai dan tidak keduanya. Usaha seperti ini dapat ditempuh dengan menganalisa karya atau kegiatan yang ada di masyarakat. Dan program kurikulum yang ada dalam sistim pendidikan kita pun terbentur pada paradoks perkembangan masyarakat yang terus berubah, dan fungsi institusi pendidikan sebagai "agent of change and innovation".

Karena itu, jika ada yang bertanya apakah yang harus didahulukan, program pendidikan yang dapat digunakan secara langsung dalam masyarakat, ataukah ke mampuan umum untuk menghadapi masalah-masalah dalam dunia yang berubah cepat ini ? Maka jawabnya adalah kedua-duanya.

MENCETAK TUKANG CETAK

Maka kurikulum dan sistem pendidikan secara keseluruhan, harus diarahkan pada pemilikan kemampuan bagi anak-didik terhadap kedua tantangan masyarakat di atas tadi. 

Apa yang pernah dilakukan oleh Herbert Spencer (± 1860) dengan prinsip 'mayor area of human living"-nya; dan Franclin Bobbit (1924) dengan prinsip "the centres of human activities"-nya, memang masih belum memadai. Tapi setidaknya prinsip-prinsip itu dapat kita jadikan bahan dan titik berangkat pemikiran dalam rangka penyesuaian antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat.

Dengan menganalisa jenis dan sifat karya yang ada, akan ada dan yang bisa diadakan dalam masyarakat, serta kemampuan-kemampuan yang dituntutnya, pendidikan dapat memberi pelayanan pada anak didik untuk memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan inilah yang menjadi "faktor penyesuai" antara program pendidikan dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Prinsip pendidikan ini sering juga disebut competency based instruction/ education.

Posisi lembaga pendidikan tetap sebagai pengarah, kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Ini penting disadari untuk menjawab keberatan para sosiolog yang memandang peranan seperti itu terlalu muluk. Mengadakan perubahan dan pembaharuan adalah dalam kontek pengarahan. Sebab tak pernah pula ada hasil pendidikan yang mampu merombak habis-habisan lingkungan sosialnya dan membangunnya kembali dari nol koma nol. Selalu ada penyelarasan antara norma sosial yang sudah ada dan norma pembaharuan yang dihasilkan oleh sistem dan institusi pendidikan dalam implementasi nya. Kekhawatiran seperti itu sebenarnya terlalu prematur. Satu bentuk lain dari self-price and pride yang akan menuntun kita pada perdebatan skala prioritas yang tak kunjung selesai.

Dalam alur filsafat pendidikan, seperti misalnya yg berkembang di IKIP, memang umum pendapat yang menganggap analisa Spencer dan Bobbitt tak menjamin tantangan prospektif karya masyarakat masa mendatang. Bobbitt misalnya, hanya mengemukakan jenis karya masyarakat masa kini. Sehingga kemampuan-kemampuan yg diberikan oleh program pendidikan pun hanya kebutuhan saat sekarang. Maka konstatasi Guzzardi pun akan makin tuntas. Contoh problem apoteker Jerman Barat pun akan tetap ada.

Pemikiran ini kemudian berkembang, bahwa 'karya masyarakat boleh menentukan jenis kemampuan yang dapat digunakan secara langsung dalam masyarakat untuk memenuhi tuntutan kini'. Tapi ‘pendidikan-lah yg harus menentukan kemampuan umum untuk menghadapi perubahan perubahan masyarakat, sekaligus kemampuan menciptakan karya masyarakat yang baru dalam konsekwensi perubahan tadi’. Dengan demikian, pendidikan tidak saja menghasilkan 'tukang cari lowongan kerja; tapi juga 'tukang cipta lapangan kerja dan karya baru'.

PROLOG SEBUAH GUGATAN DAN PENGUKUHAN.

Ada baiknya kita memperhatikan satu bentuk model " areas of competencies" yang pernah diajukan oleh Pramoetadi. Satu bentuk model yang mengelompokkan jenis dasar kemampuan yang harus diberikan oleh program pendidikan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan, baik pribadi si anak didik sendiri maupun masyarakatnya untuk saat sekarang maupun yang akan datang. Tiga dasar kemampuan dalam model yang disebut Pramoetadi sendiri dengan model "Partomo Alinasah''nya itu yg diakuinya sendiri banyak dipengaruhi oleh gagasan D. Rowntree adalah: kemampuan kehidupan, kemampuan metodologis, dan kemampuan subyek*).

Kecaman terhadap pendidikan kita ditujukan pada masalah ini, yang sesungguhnya menjadi inti dari idea relevansi program pendidikan dan kebutuhan masyarakat. Sistem pendidikan formal kita yang ada saat ini, baru mencapai kesanggupan memberi kemampuan kandungan subyek dalam bidang keahlian, sedikit kemampuan dalam bidang penyajian (metodologis) keahlian itu, dan sangat miskin kemampuan penerapan-nya untuk menghadapi kehidupan yang nyata, dalam pada karya-karya.

KESOMBONGAN AJAIB

Beberapa waktu yang lalu, DM ITB mengadakan program "KAKAP (Kunjungan Antar Kampus Pesantren). Ada teman yang mengikuti program itu mengatakan pada saya, rasa salut dan kagumnya pada kehidupan pendidikan di "pondok-pondok" tersebut. Akhirnya kami sepakat bahwa sistem pendidikan pondok itu sebenarnya lebih komprehensif (dari sudut tiga dimensi kemampuan tadi) dari pada apa yang kami terima dan alami di'kampus.

Jangan dikira bahwa di negara-negara hebat, prinsip pendidikan 'pondok' seperti itu tidak dilaksanakan juga. Institut Technology Massachussette, Institut Carnegie Melon, Universitas Oregon, Berea High School of Kentucky, Hollins Women High-School og Virginia, dan Institut General Motors, adalah sederet contoh "kampus" AS yang melembagakan secara khusus cara cara yang dapat ditempuh oleh mahasiswanya untuk memiliki kemampuan pengambilan keputusan dalam keahlian itu dan penciptaan lapangan kerja secara serentak.**)

Sekedar illustrasi saja. Sebab masih ada semacam kesombongan aneh dan ajaib sekali pada kita, untuk terpana pada segala sesuatu yang ada di sana. Namun kalau rajin menekuni Taxonomy-nya Bloom cs, Human Resources Investation (HRI)-nya Harbison + Myers, dan juga Sistemic Thinking-nya Coombs yang relatif menjadi kiblat-kiblat pendekatan dalam penyusunan program dan sistem pendidikan saat ini pada dasarnya sama saja.

Apa yang diterapkan di "pondok-pondok" Jawa dan "kampus-kampus" AS itu, sebenarnya sederhana sekali. Menanamkan sikap, pengetahuan dan ketrampilan teknis kewiraswastaan. Amboi, sederhana sekali. Makanya jangan kaget. Sebab alasan seperti ini bisa membeliakkan kesombongan aneh kita itu. Mahasiswa misalnya belajar sebuah gagasan bergerak melalui tahap-tahap seperti design, produksi-prototip, analisa biaya dan pemasaran, dan seterusnya, dalam suatu flow diagram. Atau mengerjakan hampir semua urusan yang ada hubungan dengan menjalankan perguruan tingginya. Dari kerja tangan seharian seperti menyediakan makanan, mompa bensin, operator telepon, sampai tugas-tugas ketatausahaan, membuat daftar gaji, memegang pembukuan toko, bursa, atau kantin kampus, kataloger perpustakaan, programer komputer, dll.

"Student Employment" dalam kelompok sanggar kerja karier/ hidup seperti itu ternyata efektif bagi mahasiswa dalam menentukan arah/ jenjang karier yang akan mereka tempuh dalam kehidupan bermasyarakat nanti. Paling tidak mendapatkan langsung lapangan kerjanya. Dan syukur dapat menciptakan lapangan kerja dan karya masyarakatnya.

Sanggar kerja seperti ini patut digaris bawahi. Apa yang kita kenal internship program, praktek lapangan dan kuliah kerja dalam sistem pendidikan kita sekarang, terlalu ditekankan sebagai missi pengabdian. Makanya agak sulit mengaitkan idea ini dengan program akademis. Pengabdian memang mutlak, malah asasi. Tapi kepentingan dan prospek mahasiswa juga harus dipertimbangkan sebagai suatu aspek mendasar. Halo Dewan Mahasiswa !! Ini satu tantangan menarik.

LEBIH DARI ADAGIUM MUNGIL SAJA.

Mengapa saya menekankan kaitan program pendidikan dan lapangan kerja? Jawabnya jamak saja. Bahwa justru dengan lapangan kerjalah manusia dihadapkan pertama kali pada pemikulan tanggung jawab, hak dan kwajiban menghadapi kehidupan nyata, kehidupan seorang dewasa. Adagium dibawah kepala tulisan ini bukan sekedar pemanis mungil untuk membuat yakin. Ia lebih dalam daripada itu.

Menghadapi kehidupan harus dibedakan menilai dan memandang kehidupan. Menilai dan memandang kehidupan baru paripurna dengan melihatnya sebagai suatu gelondongan, totalitas yang menantang. Tetapi menghadapinya secara nyata, adalah parsil (partial), bagian per bagian. Parsilnya kehidupan ini adalah keahlian dan kemampuan bekerja, melakukan suatu karya. Dan itu seharusnya dibentuk dan diberikan oleh program pendidikan. Pendidikan formal, apalagi ! Rada sophisticated. Tapi cobalah renungkan.

Adalah sukar membayangkan suatu relevansi suatu program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, tanpa menyinggung pertautannya yang mendasar: antara materi pelajaran/kurikulum/program pendidikan dengan karya masyarakat yang ada, perspektif dan prospektifnya. Dan sama sukarnya untuk menyiapkan anak-didik yang sungguh siap menghadapi kehidupan nyata, tanpa memberikan mereka dasar-dasar kemampuan untuk melakukan dan menciptakan suatu karya masyarakat.

Bumisiliwangi, Januari 1978.


*) Pramoetadi, Seminar Pengembangan Kurikulum Ma- tematika, Yogyakarta, 1977.

**) TITIAN No. 24.


Sumber: PUSTAKA, No. 12, Th. I, Edisi Januari 1978


Selasa, 06 Januari 2026

PEMIMPIN, KEPEMIMPINAN, DAN PARA PENGIKUT

Abdurrahman Wahid

Oleh: Abdurrahman Wahid


Ketika Mahatma Gandhi meninggal, tak lama setelah India mendapat kemerdekaan, dunia merasa sangat cemas. Mungkinkah India yang berpenduduk ratusan juta jiwa itu mampu mempertahankan keadaan damai sepeninggal Gandhi? Bukankah pemisahan Pakistan dari India sudah cukup membuat traumatis, apalagi setelah diikuti kemangkatan sang pemimpin besarnya? 

Ternyata, perdamaian dapat dipelihara berkat kepemimpinan yang diperlihatkan Jawaharlal Nehru, seorang murid Gandhi yang luar biasa. India tetap meniti jalan kemajuan dengan kesederhanaanya, dan kini kita saksikan hal yang sama tetap berjalan. 

Dengan kata lain, keadaan traumatik itu tetap terkendali menuju kemajuan bagi India yang selalu dilanda kekurangan dan kemiskinan tersebut. Mengapa? Karena Gandhi berhasil memelihara kepemimpinan yang mengabdi pada kepentingan rakyat, yang dirintisnya sejak masih di Afrika Selatan, puluhan tahun sebelum itu. 

Karier gemilang sebagai pengacara ditinggalkannya, hidup enak sebagai anggota kelas menengah tidak dijalaninya dan sisi kerohanian kehidupannya sanggup mengimbangi sifat keduniawian rakyatnya. 

Di sini, Gandhi menunjukkan kepemimpinan yang sangat pribadi (personal leader). Hal itu sangat berlainan dengan Ieyazu Tokugawa. Pendiri imperium Meiji ini justru–adalah seorang prajurit yang menjadi besar dalam tradisinya. Ia tinggal di istana dan memakai baju raja-raja, tetapi hingga hari ini orang Jepang tetap mengingatnya. Selama lebih dari tiga ratus lima puluh tahun, nama Tokugawa selalu disenyawakan dengan kemajuan Jepang, padahal ia tidak hidup seperti halnya kesederhanaan Gandhi. Mengapa kepemimpinannya memperoleh kelanggengan? Karena, ia tidak diukur dengan cara hidupnya, melainkan dengan capaian-capaiannya. Seperti halnya Gandhi: ia dihormati orang karena ia lebih besar dari kehidupannya (larger than life). 

Hal yang sama juga terjadi pada diri Martin Luther King Jr, yang berhasil membawa warga negara Amerika Serikat (AS) kulit hitam ke kotak suara. Ia juga lebih besar dari kehidupannya karena berhasil membuktikan kebenaran cita-cita yang sudah dua ratus tahun lebih dimiliki kaumnya. 

Keempat contoh di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik dapat membawa hasil yang baik tanpa banyak menumpahkan darah. Memang, di masa mudanya, Tokugawa banyak menumpas kerajaan-kerajaan lain yang terkenal  dengan sebutan penguasa militer lokal, Daim Jo. Akan tetapi, semua itu masuk periode lain dari masa Ieyazu Tokugawa. Hal ini berbeda dengan kepemimpinan Ganel Abdul Naser di Mesir yang justru ditopang oleh kucuran darah dan air mata. Atau Kemal Attaturk di Turki, Mao Zedong di Cina, serta Ayatullah Khomeini di Iran. Dan, hal yang sama juga terjadi dalam sejarah di negara kita.

Bangsa kita sebenarnya adalah bangsa yang cinta damai. Perubahan sosial yang diinginkan juga diupayakan berjalan damai. Tetapi, mengapakah perubahan yang terjadi tidak berjalan damai? Karena para pemimpinnya lebih mementingkan tingkat pencapaian kepentingan yang lebih besar dalam sejarah melalui konflik berdarah. Dengan kata lain, kepemimpinan mereka masih belum terlepas dari kepentingan pribadi yang–selalu, disenyawakan dengan kepentingan bangsa. 

Pertanyaan yang menarik hati kita, mengapa bangsa kita lebih memilih Bung Karno ketimbang Bung Hatta? Padahal, kita tahu bahwa Bung Hatta-lah yang berani mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan bangsa. Jawabannya, ternyata terletak pada gaya kepemimpinan yang disukai oleh bangsa kita. Jadi, bangsa kita mempunyai gaya kehidupan senang damai tetapi senang terhadap para pemimpin yang mengejar kejayaan pribadi. 

                                               ***

Dalam zaman keemasan Majapahit, Raja Sunda dari Bubat, berangkat ke negara tersebut untuk mengawinkan anaknya dengan Raja Hayam Wuruk. Bukannya upacara perkawinan yang megah yang mereka temui, melainkan sebuah penumpasan berdarah oleh tentara Majapahit terhadap Raja Bubat beserta rakyatnya atas anjuran sang Maha Patih Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Hingga saat ini, nama-nama mereka tidak diabadikan di jalan-jalan di berbagai daerah Jawa Barat. Dengan kata lain, orang-orang Sunda menolak pola kepemimpinan yang berlumuran darah tersebut, meski mereka sendiri menjalankan pola kepemimpinan semacam itu juga. Jadi, di sinilah letak sesuatu yang menarik perhatian. Anda boleh bertentangan dengan pihak lain, tetapi corak kepemimpinan haruslah sama. Artinya, perbedaan dalam pola kepemimpinan tidak berarti perbedaan dalam substansinya, melainkan hanya dalam gayanya. 

Ini memang merupakan sesuatu hal yang lumrah terjadi dalam sejarah. Dalam sejarah Asia modern saja, kita lihat pola kepemimpinan Mao Zedong yang lebih baik dalam teknik pemerintahan. Meski begitu, dalam substansinya mempunyai persamaan yang besar dengan pemerintahan Chiang Kai Sek, yang kepemimpinnya dibuat secara personal (personal leader) hingga kepemimpinan identik dengan kekuasaan. 

Menjadi pemimpin berarti berkuasa, dan menentangnya identik dengan penentangan terhadap pemerintahan. Menurut sudut pandang ini, kekuasaan justru merupakan sesuatu yang formal: dengan sang pemimpin sebagai simbolnya. Dengan demikian, menentang sang pemimpin, sama halnya dengan menentang negara. 

Pandangan ini tetap berlaku di banyak negara hingga saat ini, termasuk negara kita. Inilah yang membuat Presiden Habibie menindak mahasiswa dan orang gaek dari kelompok Barisan Nasional (Barnas), sebagai bertindak makar. Mereka menolak adanya MPR dan DPR,– yang berarti, dengan demikian menolak kewenangan pemerintah. 

Terlepas dari mudah atau sulitnya membuktikan status tersebut, sikap verbalistik inilah yang jutsru menunjukkan watak otoritatif pemerintahan kita selama ini. 

Mengritik seorang pejabat sama halnya mengritik pemerintah secara keseluruhan, dan mengritik pemerintah  secara keseluruhan dianggap makar karena dipandang menentang pemerintah secara keseluruhan pula. Seharusnya perbedaan dalam dua macam kritikan itu dinilai secara analitis dan diperlakukan secara benar. 

Kalau, misalnya, mengritik pemerintahan secara keseluruhan dalam arti lembaga negara, memang haruslah dianggap sebagai makar. Ini sama artinya dengan keinginan menggantikn landasan pemerintah. Tetapi, jika yang dikritik sistem pemerintahan bukan landasannya, haruslah dipahami sebab-sebabnya. Yaitu, bahwa yang ingin diperbaiki adalah aparat dan cara memerintah bukannya landasan atas mana pemerintahan didirikan. 

Kemampuan membedakan seperti itulah yang tak pernah dimiliki oleh sistem pemerintahan di negara kita. Masalahnya, karena kita tidak pernah memiliki birokrasi yang terlepas dari urusan landasan tersebut. Di Indonesia, birokrasi tidaklah terlalu mementingkan masalah ideologi, karena itu urusan partai-partai politik. Jadi, selama suatu hal masih bisa dihubungkan dengan undang-undang yang obyektif, selama itu pula birokrasinya tak membawa hal itu pada Undang-Undang Dasar. Jelasnya, tidak setiap hal  harus dikaitkan dengan Undang-Undang Dasar. 

Selama birokrasi dianggap identik dengan soal politik, maka selama itu pula birokrasi tersebut tidak dapat berdiri sendiri secara obyektif. Meski, proses ideologisasi birokrasi pemerintahan menuju ke titik terjauh sekalipun. Bukankah hal itu patut disesalkan? Dalam hal ini, partai-partai politik tidak pernah benar-benar berdiri sendiri (independen) dari birokrasi pemerintah dan akan menyeret lembaga tersebut pada jauh bangunnya perkembangan yang menyangkut Undang-Undang Dasar (UUD).

                                          *** 

Di atas tadi telah kita lihat bahwa ada kaitan erat antara corak kepemimpinan dan sikap dalam menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh negara. Jika kepemimpinan personalnya kuat, seperti di India di bawah Gandhi dan Jepang di bawah Ieyazu Tokugawa, maka birokrasi berdiri secara independen dari masalah-masalah kenegaraan. Tidak setiap masalah pemerintah terkait dengan persoalan negara, dan demikian pula sebaliknya, harus dikembangkan kemampuan dari pihak birokrasi pemerintahan membedakan secara tajam hal ini, bila tidak ingin terlibat dalam semua hal. 

Dengan demikian, menjadi jelas betapa pentingnya melihat hubungan antara jenis kepemimpinan dan corak birokrasi yang dimiliki para pengikut sebuah gerakan ketika menjadi ajang perebutan antar berbagai pihak. Kalau mereka dilihat sebagai partikel masyarakat yang independen, maka ia pun memiliki status yang independen. Dengan demikian, dari mereka tidak begitu banyak dituntut kesetiaan terhadap lembaga tertentu yang menjadi simbol konstitusi. Tetapi, kalau birokrasi pemerintahan tidak independen dari partai politik, maka masyarakat pun tidak akan bersikap independen dan terjadilah perebutan yang penuh kemelut atas para pengikut ini. 

Di Amerika Serikat atau Jepang, orang gampang saja memilih partai A dalam pemilu ini dan partai B dalam pemilu mendatang. Sedangkan di sini, hal itu dianggap sebagai sebuah pengkhianatan. Jika sikap ini yang selalu diambil, maka pemilu pun tidak banyak artinya sebagai sarana perubahan dan hanya jadi sarana penegasan. 

Nah, siapa yang bisa mengatakan bahwa pemilu dan loyalitas para pengikut pemimpin-pemimpin  yang memiliki kharisma tidak memiliki arti?

Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU, pengamat sosial-politik


Sumber: Kompas, 5 Januari 1999

Kompas, 5 Januari 1999



TERBARU

MAKALAH