alt/text gambar

Senin, 27 Juli 2026

Nietzsche: Perspektivisme


Bukan ketidaktahuan yang menghancurkan peradaban, melainkan keyakinan mutlak bahwa cara pandang Anda adalah satu-satunya kebenaran.

Dalam diskursus epistemologi, pemikiran Friedrich Nietzsche kerap membongkar fondasi dogmatisme modern. Ketika seorang individu atau kelompok mengklaim monopoli atas realitas, mereka sebenarnya sedang mengaitkan diri pada bentuk "kebutaan kognitif" yang paling destruktif sebuah kondisi di mana batas persepsi pribadi dianggap sebagai batas dunia itu sendiri.

Gagasan ini menggarisbawahi bahwa realitas bersifat multidimensional dan selalu terikat pada perspektif penafsirnya (perspektivisme). Ketika kita menutup diri dari sintesis pemikiran lain, proses dialektika intelektual terhenti, dan yang tersisa hanyalah tirani persepsi yang mengisolasi kita dari kebenaran yang lebih luas.

Bias Konfirmatoris dan Jebakan Ego

Secara psikologis dan sosiologis, kecenderungan untuk memutlakkan sudut pandang sendiri sering kali berakar dari confirmation bias mekanisme pertahanan ego yang hanya menerima informasi penjelas rasa aman. Nietzsche melihat ini bukan sekadar kelemahan berpikir, melainkan sebuah ancaman terhadap perkembangan kesadaran manusia.

Ketika sudut pandang tunggal dijadikan dogma, kapasitas kritis runtuh dan digantikan oleh kesucian palsu atas gagasan sendiri. Fenomena ini memicu bias kognitif sistemik yang memecah masyarakat menjadi kubu-kubu ekstremis, di mana dialog rasional digantikan oleh kebebalan kolektif.

Melampaui Kebutaan Epistemik

Mengakui keterbatasan perspektif pribadi bukanlah tanda kelemahan intelektual, melainkan prasyarat utama menuju kedewasaan berpikir. Kebijaksanaan akademis justru lahir dari keberanian untuk terus mempertanyakan asumsi dasar kita dan membuka ruang bagi narasi pembanding.

Dengan meruntuhkan absolutisme berpikir, kita membongkar tembok-tembok dogma yang membatasi pemahaman kita tentang realitas. Pada akhirnya, kebebasan berpikir yang sejati hanya dapat dicapai ketika kita berani mengakui bahwa sudut pandang kita hanyalah satu kepingan kecil dari spektrum kebenaran yang begitu luas.

Kutipan Nietzsche ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang merasa paling benar di tengah era polarisasi informasi hari ini. Menghargai keragaman perspektif adalah satu-satunya cara agar kita tidak terjebak dalam sangkar kebenaran buatan kita sendiri.

Kebenaran hakiki tidak pernah takut pada ketidaksetujuan; ia justru tumbuh dalam ruang dialog yang kritis dan terbuka.

Gagasan atau keyakinan pribadi apa yang belakangan ini paling mengubah sudut pandang Anda tentang realitas? 


Sumber: Fb

, , ,

Nietzsche, Moralitas Itu Palsu, Semuanya Hanya Soal Estetika

Moralitas Itu Palsu, Semuanya Hanya Soal Estetika.

Secara filosofis, manusia sering kali mengklaim bahwa nilai-nilai moral seperti kebaikan, kejahatan, atau keadilan bersifat objektif dan universal. Namun, jika diteliti melalui kacamata filsafat kritis, sistem etika yang kita terapkan sehari-hari kerap kali berdiri di atas fondasi yang sangat dangkal: preferensi visual dan persepsi sensorik.

Ketika Anda membunuh seekor kecoa, lingkungan sosial menyematkan predikat "pahlawan" atas nama kebersihan. Sebaliknya, membunuh seekor kupu-kupu serta-merta melabeli Anda sebagai "penjahat". Fenomena paradoksal ini menjadi bukti nyata argumen Friedrich Nietzsche bahwa standar moralitas manusia sebenarnya tunduk pada batasan-batasan estetika semata.

Bias Kognitif dalam Konstruksi Etika

Kecoa dan kupu-kupu secara biologis hanyalah dua ordo serangga yang sama-sama menjalankan fungsi ekologisnya masing-masing. Namun, sistem saraf manusia melakukan pemrosesan informasi secara berbias melalui halo effect dan persepsi visual. Hewan yang dianggap simetris, berwarna indah, dan tidak mengancam secara visual secara otomatis mendapatkan kepatutan moral (moral standing).

Artinya, penilaian etis manusia tidak murni berakar pada kalkulasi dampak ekologis atau rasionalitas objektif. Penilaian tersebut dipengaruhi oleh respons afektif mendasar: kecantikan visual membangkitkan empati, sementara rupa yang menjijikkan memvalidasi tindakan destruktif. Etika, dalam hal ini, hanyalah bentuk lain dari penilaian keindahan.

Implikasi Moralitas Estetis pada Realitas Sosial

Konsep "moralitas estetis" Nietzsche ini tidak berhenti pada interaksi manusia dengan dunia fauna. Fenomena ini terproyeksi secara masif dalam struktur sosial modern, di mana individu yang memenuhi standar estetika tertentu sering kali secara tidak sadar diberi pengampunan moral atau diperlakukan lebih adil (lookism).

Kita merasa telah bertindak etis, padahal kita hanya sedang memanjakan preferensi visual diri sendiri. Keadilan universal yang diagung-agungkan manusia sejatinya rapuh, karena pada akhirnya, pandangan kita tentang "yang baik" sangat bergantung pada "yang indah" di mata kita.

Batas Antara Keadilan dan Empati 

Memahami bahwa kebaikan sering kali tunduk pada persepsi estetika menuntut kita untuk bersikap lebih kritis terhadap keputusan etis yang kita buat setiap hari. Apakah empati yang kita berikan benar-benar berdasar pada nilai keadilan, atau sekadar respons intuitif terhadap sesuatu yang menyenangkan secara visual?

Pertanyaan untuk Anda. Menurut Anda, apakah mungkin manusia memiliki standar moral yang murni murni tanpa terpengaruh oleh bias fisik dan estetika?

Sumber FB

Minggu, 26 Juli 2026

,

DOKTOR SUKIDI Cendekiawan (50 tahun) Speaks up


Presiden sekali pun harus miliki fondasi pertumbuhan  intelektualitas yang matang baik dan benar (agar tidak ngawur dalam mengambil kebijakan dan pilihan² program seperti misal MBG, Red).


Bisa saja buku yang dibaca relatif banyak, itu penting, tetapi membaca buku saja tidak cukup untuk membangun intelektualitas yang matang. 


Pengetahuan dari buku perlu ditopang oleh fondasi berpikir: kemampuan bernalar, intelektual dalam menganalisis, membandingkan berbagai sudut pandang, menguji bukti, dan menarik kesimpulan secara kritis. 


Tanpa fondasi itu, seorang hanya mengumpulkan informasi, bukan membangun kebijaksanaan.


Fondasi tersebut umumnya dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas --dan proses belajar mandiri (self-study) yang berlangsung seumur hidup, Red. Masalah terbesar, utama penting kita adalah aspek pendidikan. Pendidikan melatih disiplin berpikir, metodologi ilmiah, logika, dan etika intelektual.


Sementara self-study memperluas wawasan, memperdalam minat, serta membiasakan seseorang untuk terus belajar melampaui ruang kelas, Red.


Intelektualitas sejati lahir ketika membaca, pendidikan formal, pengalaman hidup, dialog dengan orang lain, dan refleksi diri saling melengkapi. 


Orang yang benar² intelektual bukan hanya mengetahui banyak hal, tetapi juga mampu berpikir jernih, rendah hati terhadap fakta, bersedia merevisi pandangannya ketika bukti baru muncul, dan menggunakan pengetahuannya untuk mencari kebenaran serta memberi manfaat bagi masyarakat.


Mudah dibayangkan apa yang akan terjadi jika seseorang membaca buku pun tidak, lalu hanya mengandalkan apa yang disebut "ilmu di luar buku" yang semata-mata bertumpu pada pengalaman lapangan.


Tanpa literasi yang memadai, tanpa fondasi berpikir yang kuat, tanpa kemampuan bernalar secara kritis, serta tanpa integritas, karakter, etika, adab, dan moral yang kokoh, sebuah bangsa akan kesulitan membangun peradaban yang maju. Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman yang tidak diuji oleh pengetahuan dan refleksi dapat melahirkan keputusan yang dangkal, bias, atau keliru.


Akibatnya, ruang publik mudah dipenuhi pencitraan yang mengalahkan substansi, kebijakan yang tidak berbasis bukti, budaya anti-intelektual, serta lemahnya akuntabilitas. Dalam situasi seperti itu, korupsi, pencucian uang, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan lebih mudah berkembang karena nilai-nilai integritas tidak menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa.


Pada akhirnya, negara akan semakin tertinggal di bidang sektor human capital, ketinggalan dalam penguasaan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), riset dan inovasi, teknologi, produktivitas ekonomi, daya saing investasi, kualitas budaya, serta pembangunan sumber daya manusia. SDM hanya dipenuhi tenaga kerja "unskilled labors" "tidak kompetitif" didominasi lulusan SMP SMA di "pasar" lapangan kerja.


Bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan pengalaman praktis, tetapi juga membutuhkan tradisi intelektual yang kuat, pendidikan yang bermutu, literasi yang tinggi, kemampuan bahasa (khususnya bahasa Inggris) serta kepemimpinan yang berkarakter dan berintegritas. Hal ini berkorelasi langsung dengan kecerdasan serta kemakmuran rakyat bangsa negara.


---


Profil Doktor Sukidi, Ph.D Harvard.


Nama Lengkap: Dr. Sukidi Mulyadi

Kelahiran Sragen Jawa Tengah 2 Agustus 1976. Usia 50.

Profesi: Cendekiawan, filsuf, penulis, dosen, dan kolumnis Indonesia.

Kewarganegaraan: Indonesia

Bidang: Filsafat, agama, politik, demokrasi, etika publik, dan pemikiran Islam.


Riwayat Pendidikan

S1: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (Fakultas Ushuluddin/Filsafat dan Pemikiran Islam).

S2: Harvard University – Master of Arts (MA).

S3: Harvard University – Doktor (Ph.D.) dalam bidang yang beririsan dengan agama, etika, dan pemikiran politik, pemikiran Islam, kebhinekaan, demokrasi, dan HAM.


Riwayat Pekerjaan

Dosen dan peneliti.

Penulis buku dan artikel ilmiah.

Kolumnis di berbagai media nasional.

Pembicara pada seminar nasional maupun internasional mengenai demokrasi, pluralisme, etika, dan kepemimpinan.


Karier Organisasi

Aktif di berbagai forum akademik dan intelektual.

Pernah terlibat dalam jaringan intelektual muda Jaringan Islam Liberal.

Menjadi anggota berbagai asosiasi akademik selama studi dan kariernya di Amerika.


Bidang Kepakaran

Filsafat politik

Etika publik

Demokrasi

Agama dan kehidupan publik

Kepemimpinan

Pemikiran Islam kontemporer


Karya.

Dr. Sukidi telah menulis sejumlah buku dan ratusan artikel yang membahas filsafat, demokrasi, agama, dan isu-isu kebangsaan. Ia juga kerap menjadi narasumber di berbagai forum diskusi publik mengenai masa depan demokrasi dan kepemimpinan Indonesia.


https://www.facebook.com/hans.m.simanjuntak/subscribe/

Sabtu, 25 Juli 2026

Masturbasi Intelektual. Kegelisahan Pecinta Tumpukan Kertas


Gemar membaca dan suka ngoleksi buku sejak kelas 3 MTs. Hingga hari ini sudah terkumpul kira-kira 10.000 judul buku. Tapi gak punya tujuan yang konkrit dan jelas. Bisa dibilang disorientasi. Membaca dan membeli buku tidak terarah akhirnya hampir semua disiplin ilmu dan pengetahuan ada. Yang ada di pikiranku yang penting senang dan bahagia. Judul buku apapun asal aku suka dan sesuai dengan minatku aku beli saja. Dengan koleksi yang cukup lumayan besar itu, akhirnya tanpa sengaja buku-buku yang aku koleksi sejak 29 tahun yang lalu sekarang sudah berbentuk perpustakaan pribadi. Saya kasik nama perpustakaan "Rumah Peradaban Al Asnawiyah Ibnu Ahmadun".  Ini sebenarnya nama-nama ayah dan kakekku. Aku sengaja menggunakan nama mereka sebagai bentuk kecintaan saya pada mereka dan agar anak-anakku kenal pada leluhurnya. 

Saya terkadang merasa apa yang sudah saya lakukan ini sangat berlebih-lebihan dan tidak semestinya. Rasa bersalah sering kali mondar mandir dikepalaku. Menghabiskan uang puluhan atau mungkin ratusan juta rupiah hasil kerja kerasku untuk menumpuk buku. Memangnya untuk apa mengoleksi buku sebanyak itu?. Apa yang akan kau dapatkan dari semua itu?. Terkadang saya sempat goyah. Aku berniat tidak akan lagi membeli buku. Apalagi kalau ingat aku membangun perpustakaan ini bukan hanya dengan keringatku saja dan bahkan dengan air mata istriku. Kenapa tidak! karena aku terkadang mengorbankan belanja dapur keluargaku hanya untuk membeli dan memborong buku-buku. Tapi setiap aku berjanji gak akan lagi beli buku, aku selalu gagal, gagal dan gagal lagi. Rasa kecintaan pada tumpukan buku-buku mengalahkan segalanya. Setiap ada buku-buku baru yang belum aku punya, saya bernafsu memilikinya. Dan tiba-tiba sikap tamak menguasai hatiku. Pikiranku baru terasa tenang, dan hatiku riang ketika aku sudah memilikinya. Saya gak pernah berpikir apakah kondisi psikis seperti ini adalah gangguan kesehatan jiwa atau kegilaan dalam bentuk lainnya. Aku tidak perduli. Aku hanya teringat ungkapan bung Hatta "Aku rela dipenjara asal bersama buku, karena dengan buku aku merasa bebas".

Hidup dalam kelimpahan buku-buku dan literatur tidak bisa menjadikan aku sebagai siapa-siapa. Setan sangat sering menggodaku. “Kenapa dirimu tidak bisa seperti mereka yang sering kau lihat di media sosial. Mereka yang fasih berbicara ini dan itu dengan keahlian dan profesionalisme yang mumpuni. Lalu apa yang bisa kau harapkan dengan memplototi untaian teks-teks yang berbaris rapi itu. Kau hanya dapat mata yang buram karena siang malam mengeja huruf, kalimat dan paragraf perparagraf buku. Pantatmu kempes dan tipis karena berlama-lama duduk mengangkangi buku-buku, dan bahkan harta kekayaanmu hampir saja habis dan ludes karena kau menukarkan nya dengan paket-paket buku". Begitulah setan tak henti-hentinya membisiki telinga dan memprovokasi pikiran yang bersemayam dibatok kepalaku. Saya tidak diam untuk melawannya. saya terus melawan, walaupun saya lebih sering kalah daripada menangnya.

Saya merenung kenapa tidak bisa seperti mereka?. Ya mungkin karena saya tidak perna belajar serius dan formal seperti mereka. Berbeda dengan mereka yang memang belajar dan membaca untuk meraih prestasi dan kompetensi dibidang masing-masing. Saya lihat diantara mereka ada yang mendapat berkah prestise sosial akademik bahkan keuntungan material yang membanggakan. Sedangkan aku membaca sangat tidak serius dan hanya untuk senang-senang saja. Jujur saja yang saya rasakan adalah banyak membaca justru saya semakin tidak tau apa-apa. Mungkin ini akibat metode belajar yang salah. Saya tidak memiliki keahlian dan keterampilan tertentu karena metode membaca yang tidak teratur, terarah dan tidak sistematis. Disini saya membuktikan kebenaran sebuah adagium bahwa “belajar cara belajar itu lebih penting ketimbang belajar itu sendiri. Belajar secara serampangan, tidak teratur dan terencana memang tidak efektif untuk mendapatkan kompetensi dalam sebuah proses pembelajaran. Tetapi paradox nya adalah justru dengan cara belajar seperti inilah saya mendapatkan kepuasan batin, keriangan jiwa dan pencerahan intelektual. Saya merasa hidup terasa lebih otentik dan menikmatan kebebasan yang luar biasa saat saya dengan bebas membaca apa saja buku-buku yang ada dihadapku. Terkadang 30 menit pertama saya membaca buku fiqih, 30 menit kemudian membaca sejarah, 30 menit lagi membawa buku politik, dan 30 menit selanjutnya membaca buku-buku spiritual. Begitu yang saya dilakukan setiap hari. Sastra, tasawuf, ekonomi, sains, kadang kitab hadis, tafsir kemudian balik lagi baca filsafat, studi Islam dan lain sebagainya. 

Bacaan acak dan tidak beraturan seperti itu, ringan saja saya lakukan karena memang saya tidak dituntut oleh keadaan, dimana saya tertuntut dan harus membaca dan mendalami buku atau disiplin ilmu tertentu. Saya bukan dosen, bukan peneliti, bukan seorang da'i atau penceramah sehingga tidak tertuntut untuk membaca atau mendalami satu buku atau disiplin ilmu tertentu. Beberapa kawan yang berkunjung ke perpustakanku dengan nada penuh ragu sering bertanya kepadaku, “Apakah buku sebanyak ini sudah anda baca tuntas seluruhnya”. “Memang apa kepentingaku harus membaca seluruhnya atau memahami isi buku seutuhnya, wong saya bukan siapa-siapa”. Sambil cengingiran begitu saya menjawabnya. Teruss, gimana??. Lha saya hanya senang saja mengoleksi dan membacanya. tidak lebih dari itu. Dalam kesendirian saya terkadang juga tergoda berpikir. Untuk apa aku banyak tahu hal dari membaca buku ini dan itu jika tidak bermanfaat untuk lingkungan dan sesama. Apalagi ketika pikiranku sudah penuh dengan gagasan dan ide, rasanya mau ledak saja. Ibarat tekanan air yang terus bertamba tanpa lobang-lobang dimana air bisa mengalir. Di titik ini saya merasa berada dititik nadzir, dimana makna eksistesial hidup menjadi buram. Saya merasa hidup didunia lain. Ibarat ikan yang terlempar didaratan. Ia sesak bernafas dan berlahan lemas dan diam. Di tengah kegelapan malam saya terkadang berprasangka yang tidak-tidak. Saya lihat disekitar kita hidup terkadang tidak adil dan paradoks. Saya lihat ada orang yang matanya belum perna kabur, wajahnya lesuh dan layu karena kelelahan membaca. Pantatnya belum tipis karena kelamaan duduk dan bahkan hartanya belum perna digunakan untuk membeli bertruk-truk buku, tapi Tuhan jadikan mereka tumpuan, rujukan dan tempat umat belajar. Dan pada akhirnya umat tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya doktrinasi dan pembodohan atas nama agama. Sedangkan pada sisi lain, meraka yang bertungkus-lumus dengan ilmu dan pengetahuan, yang mewakafkan diri dan hartanya untuk ilmu tidak menjadi tumpuan umat belajar dan terbuang murah dimata masyarakat.

Ingin sekali saya protes keutamaan-keutamaan ilmu yang sering didawuhkan oleh para ahli ilmu, itu semua hanyalah ilusi yang menina-bobohkan para santri untuk menuntut ilmu. Faktanya ahli ilmu itu tidak ada apa-apanya dalam realitas kehidupan sosial. Keagungan ilmu tenggelam dibawah glamornya  gelar-gelar dan status sosial di masyarakat. Hanya status akademik dan sosial yang memiliki privilege di tengah masyarakat yang cenderung feodal dan aristokratik. Lama sekali saya tersandra dengan pemahaman dan asumsi seperti ini. Pada akhirnya saya harus beranjak. Mindset yang benar dan positif harus saya tanamkan dalam diri. Ilmu adalah jauhar cahaya. Ia terus bersinar menerangi. Dengan sifat ini Tuhan menciptakan dan mengatur semesta raya. Sesedikit apapun sebuah ilmu yang kau miliki, hal itu lebih mulya dan agung ketimbang segunung amal dan ibadahmu. Karena ilmu adalah sifat Tuhanmu, sedangkan amal dan ibadah adalah sifat para hamba sepertimu. Dalam paradoks kehidupan diatas Tuhan seakan-akan berbicara kepadaku “Bukan ilmu dan pengetahuan dalam genggamanmu yang dapat memberikan kemulyaan dan keutamaan pada dirimu. Bukan pula kebodohan dan kejahilan yang membuat dirimu hina dan rendah. Tetapi Akulah yang memberi kemulian dan kehinaan kepada siapapun yang aku kehendaki”. Aku berangsur-angsur insaf bahwa Tuhan dapat menghinakan orang yang berilmu sekalipun dan sebaliknya mengangkat derajat orang jahil sekalipun.

Menghabiskan banyak waktu dengan berkutat dengan teks-teks rumit yang memusingkan kepala dan mengangkangi tumpukan buku berjibun berdebu, akan terasa hampa jika aku terus berhasrat pada kepuasaan dan kebanggaan sosial dan material. Di fase inilah aku perlu nilai-nilai spiritualitas. dengan menginsafi bahwa mengeja kalimat demi kalimat adalah lelaku batin seseorang kepada Tuhannya. Terus membaca ilmu sampai diri ini menjadi ilmu itu sendiri dan bahkan jumbuh dengan pemilik ilmu sendiri yakni Tuhan. Sedangkan prestise sosial seperti kebutuhan pada predikat ahli ilmu, aktivis literasi, pinter, wawasan luas, perpustakaan berjalan seperti yang sering kawan-kawan sematkan kepadaku adalah penjara yang mensandra pikiran dan jiwa. Semua predikat itu semua adalah ilusi, fantasi, fatamorgana dan menipu yang hanya akan membangun penjara gelap dalam jiwa dan membakar pencerahan-pencerahan iluminatif yang kita peroleh dari pergulatan teks.

Pada akhirnya saya merasakan setiap hari saya hanya melakukan "Masturbasi intelektual". 😁


Motivasi saya gemar membaca mungkin hanya ini فتح عام وسلوك تام


Sumber: Fb

Kamis, 23 Juli 2026

,

WAWANCARA Ariel Heryanto: KELAS YANG BISA DIHARAPKAN

TIRAS, NO. 25/THN. III/21 JULI 1997, “Nuansa”


Ariel Heryanto, mantan dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga, Jawa Tengah, kini sudah hijrah ke Universitas Nasional Singapura pada progam studi South East Asia Program. Meski demikian, Ariel mengaku tetap mengikuti perkembangan sosial politik di Indonesia. Termasuk masalah kelas menengah di Indonesia. Bagaimana pandangan Ariel tentang kelas menengah di Indonesia? Berikut petikan wawancara TIRAS dengan Ariel melalui sambungan internasional, Selasa(8/7).


● Masalah kelas menengah masih diperbincangkan, sehingga menimbulkan kontrovesi, apakah di Indonesia memang ada kelas menengah. Bagaimana pendapat Anda?


Saya kira, banyak orang mencampuradukkan, antara kelas menengah sebagai konsep atau sebagai alat analisis, dan realitas yang dilihat. Jadi, sebetulnya, yang namanya kelas, baik itu kelas atas, bawah, atau menengah, adalah alat analisis. Tentu saja, alat analisis itu tidak bisa kita cocokkan 100% dengan realitas. Sehingga, orang, kalau melihat kecocokannya, ya jadinya menganggap itu nggak ada. Sehingga, terjadi kebingungan pencampuradukan kerangka berpikir antara alat analisis dan realitas yang mau diukur.


● Bagaimana Anda melihat kelas menengah di Indonesia sendiri, yang jumlahnya sekitar 14 juta? 


Kalau menurut saya, potensi kekuatan perubahan sosial itu tidak ditentukan oleh jumlah. Dari zaman dulu sampai sekarang, kita lihat, sejarah kita nggak pernah ditentukan oleh banyak orang. Kalau Anda perhatikan sejarah proklamasi kemerdekaan, itu sedikit orang. Berapa orang yang jadi panitia yang bikin proklamasi kemerdekaan di rumah Soekarno itu. Banyak orang ndak ngerti itu.


● Lalu, sejauh mana peran kelas menengah membawa angin perubahan?


Begini. Kelas menengah adalah kelas yang mempunyai kepentingan untuk mengadakan perubahan. Dan, kelas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan itu. Kalau minat dan kepentingan saja, kelas bawah juga ada, tapi nggak punya kekuatan. Kalau kelas atas, mungkin punya kekuatan untuk melakukan perubahan, tapi mereka nggak punya kemauan. Kelas menengah adalah kelas yang bisa diharapkan, minimal mempunyai kemauan dan kekuatan untuk ikut mengubah itu. Itu bedanya dia dengan kelas atas dan bawah. Kelas atas mungkin mempunyai kekuatan tapi nggak mau perubahan, karena mungkin itu merugikan kepentingan mereka.


● Tapi, katanya, concern kelas menengah Indonesia terhadap perubahan sosial sangat kecil? 


Ya, itu memang suatu yang bisa diperdebatkan. Kalau saya, memang menganggap cukup besar. Dan, memang sebetulnya yang penting dicatat adalah, perjuangan mereka untuk melakukan perubahan itu nggak selalu sama besarnya. Geregetnya nggak selalu sama.


● Maksudnya?


Artinya apa? Dari periode ke periode, itu bisa mulur-mengkuret. Bisa mekar, bisa mengkuret. Jadi, kelas yang sama, pada tahun 1970-an, misalnya, itu sangat konservatif. Tahun 1990-an, itu sangat radikal kita. Itu bisa dijelaskan panjang lebar lagi. Tapi, yang mau saya katakan adalah, aspirasi politik kelas, termasuk kelas menengah, tidak pernah statis. Selalu berubah-ubah, sesuai dengan lingkungan sejarah yang menuntutnya. Di mana ada kekuatan dan ada tekanan, ada gereget, ada frustrasi, dia akan menuntut lebih banyak. Tapi, begitu ada banyak intimidasi dan konsolidasi itu lemah, dia cari selamat dulu. Dan, itu bukan hanya hanya khas kelas menengah, semua kelas juga begitu.


● Kalau melihat kelas menengah Indonesia ada di sektor swasta, di mana pengusaha dan keluarga pejabat sangat kuat dominasinya, apakah ini justru tidak melemahkan upaya pengembangan demokratisasi di Indonesia?


Kalau saya melihat, justru memperkuat. Karena, yang terjadi, harus kita bedakan antara kelas dan individu oknumnya. Yang terjadi dalam kelas menengah ini, ada semacam penimbunan kekuasaan dan monopoli di segelintir orang, yang justru sebetulnya menjengkelkan rekan-rekan dari kelasnya sendiri. Jadi, tindakan-tindakan monopoli seperti itu justru meradikalisasi. Itulah yang menjadi aktor dalangnya. Itulah justru komporisasi kelas menengah itu. Banyak orang yang sudah berusaha, yang sudah bikin investasi, jadi morat-marit karena ini. Mereka marah karena itu. Yang bikin marah bukan buruh sebetulnya, tapi segelintir orang yang mempunyai hak istimewa atau monopoli itu. Jadi, mereka (oknum itu) sebetulnya tidak memperjuangkan sesama kelas menengah, tapi memperjuangkan dirinya sendiri. Sehingga, rekan-rekan kelas menengah itu jadi marah semua kan? Dan, ini memang seperti yang terjadi di Filipina waktu sebelum Marcos jatuh.


● Berkaitan dengan dijatuhkannya Megawati, orang pun banyak beranggapan, kelas menengah kita sudah ingin sekali melakukan perubahan. Bagaimana Anda melihat hal ini?


Kalau yang terjadi sekarang, saya lihat, hampir semua kelas itu menginginkan perubahan. Karena, sudah geregetan gitu ya. Itu tampaknya. Kelas atas juga ada, kelas menengah ada. Kelompok R.O. Tambunan, Goenawan Mohamad, itu kan kelas menengah semua. Kelas bawah itu jelas sekali, yang mengobrak-abrik dan membakar itu. Jadi, saat ini terjadi semacam persatuan nasional oposisi Indonesia sebetulnya. Dan, ini sangat kritis. Ini yang bisa mengancam perubahan yang besar sekali. 


● Bagaimana Anda melihat sikap kelas menengah Indonesia terhadap pemilu baru lalu?


Kelas menengah ini, kalau semangat perubahannya, sudah banyak. Tapi, yang belum cukup bagus, sehingga hasilnya juga belum cukup kuat, adalah organisasi. Kalau kita perhatikan di negara-negara lain, perjuangan itu memang membutuhkan waktu yang panjang sekali. Maraton sekali. Jadi, semangatnya boleh menggebu-gebu, tapi juga ada kloter yang lain yang dipersyaratkan selain itu, yakni waktu yang panjang dan organisasi yang rapi, serta perjuangan yang nggak henti-hentinya. Dan, kita kalau di Indonesia menghadapi skala luas yang luar biasa jumlahnya, baik geografis maupun jumlah orangnya. Sehingga, ini juga pasti lebih lama, butuh waktu dan kesabaran.


● Lalu, soal fenomena Mega-Bintang dalam kampanye pemilu lalu?


Begini. Kalau saya lihat, Mega-Bintang itu menarik sekali, karena dia sebetulnya pakai nama Mega dan Bintang sebagai simbol saja. Di sini, yang penting bukan lagi Megawati maupun partai berlambang Banteng. Tetapi, kekuatan arus bawah. Fenomena itu nggak dibikin oleh Megawati, nggak dibikin oleh elite PPP. Justru arus bawah ini yang memperalat Mega dan PPP. Walaupun pemerintah bisa menjinakkan Mega, atau menjinakkan PPP, arus bawahnya nggak bisa ditahan. Itu kayak OTB (organisasi tanpa bentuk) kok arus bawah itu, nggak ada bentuknya. Tapi, nggak bisa terus-terusan nggak ada bentuk begini. Sebab, kalau nggak dibentuk, lama-lama cuma kekerasan kayak begini terus. Nggak akan membuahkan apa-apa. Di sinilah letak peran kelas menengah untuk mengorganisir kekuatan arus bawah itu. Dan, fungsi itu susah diharapkan dari kelas yang lain.


● Caranya?


Dengan organisasi, seperti yang sudah dirintis orang-orang seperti Sri Bintang Pamungkas, Pakpahan, Goenawan, dengan KIPP dan lainnya. Mereka memang belum bisa berhasil, tapi saya kira nggak bisa nggak. Kalau nggak diorganisasi oleh kelas menengah, ya akhirnya sebentar-sebentar marah ke jalan, membakar, dan sebagainya. Dan bubar, nggak ada apa-apanya itu. 


Sumber: TIRAS, NO. 25/THN. III/21 JULI 1997

Selasa, 21 Juli 2026

,

BEN ANDERSON DAN HAROLD CROUCH: PERAN ABRI DIMASYARAKAT PERLU DIRUMUSKAN KEMBALI

Kompas, 20 Juli 1998


Melbourne, Kompas., Berhentinya Soeharto sebagai Presiden 21 Mei lalu, turut mengubah peranan ABRI di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Karena hubungan ABRI dengan Soeharto adalah hubungan simbiotik. Bila salah satu pihak kehilangan pijakan, maka pihak yang satunya lagi pun akan goyah. Di masa Orde Baru, di mana Soeharto menjadi pusatnya, monopoli kekuasaan dipegang oleh ABRI. Kini, setelah Soeharto mundur dari kekuasaannya, maka tentunya ABRI harus merumuskan kembali peranannya.

Demikian rangkuman pendapat Prof Ben Anderson dari Cornell University, AS, dan Prof Harold Crouch dari Australian National University, Australia. Keduanya dihubungi secara terpisah oleh wartawan Kompas, Ratih Hardjono di Melbourne pekan lalu, untuk diminta tanggapannya tentang keadaan Indonesia, termasuk ABRI, setelah Soeharto mundur.

Keduanya sependapat, posisi ABRI di dalam masyarakat tidak pernah sama lagi. Kalaupun di masa reformasi ini ABRI masih tetap hadir di tengah-tengah masyarakat, maka ABRI tidak mempunyai pilihan lain, kecuali merumuskan peranannya.

Sesungguhnya, di masa Orde Baru pun peranan ABRI telah secara berangsur-angsur menyurut. Di samping karena adanya tuntutan untuk lebih mengedepankan kalangan sipil, menyurutnya peranan ABRI juga dipicu oleh terjadinya Insiden Dili 12 November 1991, yang mengakibatkan tewasnya sekitar 50 orang, 91 luka-luka, dan sekitar 90 hilang. Insiden Dili yang membuat citra ABRI buruk di luar negeri itu, telah membuat ABRI menjadi sangat hati-hati dengan gerak-geriknya.

Perubahan peranan ABRI di masyarakat itu tentunya mencakup pula perubahan dalam rumusan Dwifungsi ABRI dan jumlah personel ABRI di Dewan Perwakilan Rakyat. Dan, menurut kedua pakar itu, dorongan untuk merumuskan kembali peranan ABRI di masyarakat itu bukan hanya da- tang dari kalangan sipil, melainkan juga datang dari kalangan ABRI sendiri. Di sekitar Wiranto ada sekelompok perwira tinggi yang pandai, liberal dan getol dengan reformasi, di antaranya adalah Agus Widjojo dan SB Yudhoyono.

"Peran dwifungsi ini tidak tercantum dalam UUD 1945, karena itu jika ABRI ingin mempertahankan dwifungsi, maka UUD 1945 perlu disesuaikan," ujar Ben Anderson.

Baik dengan Wiranto

Baik Anderson maupun Crouch berpendapat, perubahan peranan ABRI di masyarakat itu, diikuti pula oleh perubahan dalam hubungan Panglima ABRI dengan Presiden. Keberadaan Habibie, yang berasal dari kalangan sipil, tentunya berbeda dengan Soeharto yang datang dari kalangan militer. Sebab itu, sebagai orang yang datang dari kalangan sipil, kedudukan Habibie bisa dibilang lemah di depan Wiranto.

Walaupun Pasal 10 UUD 1945 menyatakan bahwa Presiden (sebagai Kepala Negara) memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara,

Keduanya menilai, sebagai Panglima ABRI, Jenderal TNI Wiranto masih harus membuktikan bahwa ia adalah orang yang tepat di posisi itu. Anderson berpendapat, keterbatasan pengalaman Wiranto dalam menghadapi krisis, menjadikan dalam melangkah, ia bertindak sangat hati-hati dan mengambil sikap wait and see. "Pengalamannya terbatas, ketika 1965 terjadi, ia masih remaja, dan ia dibentuk oleh kebudayaan Orde Baru," kata Anderson.

Mengenai masa depan Indonesia, kedua pakar itu mengatakan, Indonesia bisa mengatasinya, walaupun diperlukan waktu untuk itu. Persatuan Indonesia tidak akan goyah hanya karena krisis yang tengah melanda saat ini. *


Sumber: Kompas, 20 Juli 1998


TERBARU

MAKALAH