alt/text gambar

Minggu, 05 Juli 2026

,

RODA-RODA





Oleh: Mohamad Sobary

(Kompas, 5 Juli 1998, “Asal Usul”)


HARI ini lebih dari sekadar zaman edan. Orang pun ‒ seperti kata pujangga Ki Ronggo Warsito ‒ merasa ewuh oyo ing pambudi, serba kikuk, serba tak enak. Semestinya kalau kita hendak tahu perkara politik, paling tidak kita bisa bertanya kepada para politisi, atau kepada para aktor sejarah yang akhir-akhir ini ikut sibuk menentukan merah hijaunya Indonesia. Tapi rasa ewuh oyo itulah yang membuat saya tak jadi bertanya. Politisi yang mana, dan aktor seperti apa? Itulah soalnya? 


Diam-diam saya merasa, membedakan pahlawan dan bandit sama sulitnya dengan mencari jarum yang jatuh di gelap malam. Peta politik-rohani kita sekarang sedang gelap gulita. Dalam seminar saya di International House of Japan, Tokyo, semalam, Bung Alan Feinstein, dari Japan Foundation, bertanya, tidakkah saya risau memikirkan begitu banyak orang mengaku pahlawan reformasi. Saya jawab, tidak. Biar saja. Memang banyak pahlawan minta balasan jasa. Beberapa malah sudah nangkring di tempat mulia. Padahal bulan lalu, tahun lalu, sepuluh tahun lalu, mereka itu siapa?


Sejarah, Bung Alan, sedang menulis dirinya sendiri, dan ia selalu tahu mana emas mana loyang. "Tak usah dirisaukan" kata saya pura-pura bijaksana.


"Dalam tiap perjuangan, selalu ada pengkhianatan. Jangan kau gusar Hadi," kata Taufiq Ismail dalam sajaknya.


"Setelah menang, yang datang tak selamanya kemurnian," kata Goenawan Mohamad, tidak geram, dan tampaknya juga tidak heran. Dan dalam suratnya kemarin, Mas Harry Tjan Silalahi pun berkata "Dalam situasi ini, pluralitas kita betul-betul terasa. Tapi kalau sudah bicara perkara kepentingan, wah...." Ia sudah tahu, tapi tak urung kaget juga ketika dugaannya ternyata benar, bahwa di mana-mana kepentingan itu "komandan" kita.


Segenap ide bermunculan. Dan mungkin juga saling tabrakan. Boleh jadi tak ada yang bersedia mengalah. Partai apa saja akan muncul lagi. Orang lupa, semua itu perlu manajemen yang baik dan transparan, dan tiap partai perlu tokoh yang teruji komitmennya. 


Zaman Soeharto sudah gone with the wind dan harus buat selamanya. Maka, dalam partai yang akan datang jangan lagi ada tokoh sekadar asal bisa njoget, langsung dianggap tokoh. Orang yang membaca saja susah, dijadikan tokoh. Orang yang tak pernah mengenal Nabi atau iblis, indah atau tercela, busuk atau wangi, menjadi tokoh karena anak pejabat.


Berakhirnya lakon Soeharto harus muncul "babad" Indonesia baru. Buat menjadi baru, semua warisan nenek moyang, dari Aceh sampai Irian Jaya, Majapahit atau Demak, Karaeng Galesong atau Kebo Kanigoro, atau Aru Palaka, boleh menjadi referensi dan cadangan tenaga kebudayaan kita. Tapi kita perlu jelas dari sekarang, mereka bukan orientasi. Titik orientasi kita di depan.


Depannya siapa? Tentu depan kita semua. Semua orang Indonesia mau enak, maka kita cari enaknya bersama. Semua orang Indonesia ingin punya martabat, kita bangun martabat bersama. Orang Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, Katolik, Protestan, Islam, di Indonesia baru, hak dan kewajiban politiknya sama. Mayoritas jangan menakuti tetangga yang anggotanya cuma cukup diajak main remi. Sebaliknya, rombongan yang cuma beberapa orang, jangan minder membangun bangsa bukan membuat jembatan. Kecuali pengerahan tenaga massa, kita perlu pemikiran... Siapa tahu dari rombongan yang kecil jumlahnya, malah mentereng pemikiran.


Tapi sebelum mimpi indah lebih jauh, ada soal yang melela di depan mata. Perkara manipulasi sejarah, dan rekayasa sentimen kelompok yang melahirkan perkosaan, pembunuhan, dan penganiayaan dengan payung agama itu sekarang mau diapakan? Ini bukan pertanyaan moral dari langit, tapi pertanyaan moral politik.


Ia merupakan rem pakem, dan sinyal kuat agar kita hati-hati memilih jenis mimpi. Kita tak boleh impulsif. Agama selalu mengajak rasional. Maka, sebelum pertanyaan ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan ini bisa kita jawab dengan baik, semua progam atau mimpi bagi saya cuma mbel gedes. Seindah apa pun ideologi politik dan ajaran agama kita, kalau kita tidak terampil menangani soal duniawi yang nyata, maka kebrutalan macam itu akan kita ulang lagi, lagi dan lagi, kapan saja kita marah.


Memperkosa dan membunuh, dan menimbulkan kehancuran di muka bumi, bukan soal biasa. Tak semua kita menghitung akibat rohaniah dari suatu kebrutalan politik. Mereka kira ini sama dengan kriminal biasa. Tidak, demi Tuhan, nabi-nabi, rasul-rasul, para wali dan segenap orang suci, semua itu dosanya lebih dahsyat dari tindak kriminal biasa.


Maka, pertanyaan di dalam bingkai tiga Sila di atas, tak saya ajukan pada polisi, tidak pula pada para aktor sejarah, melainkan pada seorang kiai sufi, yang biasa melayani konsultasi jiwa. Gratis, profesional, dan si tamu malah disuguh, siapa tak suka?


                                          ***


MEMANG harga wawancara antarnegara itu agak mahal. Tapi sangat berharga. Mulanya saya cuma ingin tahu, kasus apa yang sedang beliau tangani. Lama-lama berkembang. Ada dua kasus menarik. Seorang lelaki kukuh dan tegap, tapi wajahnya ketakutan mengeluh seluruh badannya sakit.


"Kalau sakit kan Anda ke dokter yang ahli mengobati. Saya ini cuma Kiai."

"Dokter tidak bisa, Kiai."

"Lha kalau dokter saja tidak bisa, apa lagi saya," kata Kiai. sa" "Tolonglah Kiai," rintih orang itu. "Banyak orang bilang Kiai bisa.”


Ya, apa boleh buat. Akhirnya ditanyalah apa sakitnya. Dan orang itu menyatakan, tiap malam, ia mimpi buruk. Ia selalu mendengar jerit dan rintihan orang teraniaya. Dan setelah itu, tiba-tiba muncul itu suara hiruk pikuk memekakkan telinga. Kedengarannya seperti suara kereta kuda, tapi kencang sekali. Dan selalu setelah itu, badannya seperti tergilas lumat di bawah roda-roda yang menggelinding seperti setengah terbang.

"Badan saya sudah hancur Kiai. Daging dan tulang-tulang saya rasanya lumat." 


Kiai yang waskita itu tahu, tapi pura-pura bertanya, apa yang terakhir sekali dia lakukan. Dan orang itu menjawab, dengan gemetar; menyiksa. Ya, ia menyiksa dan menyiksa orang. Kiai mengatakan, obatnya cuma satu: minta maaf pada mereka yang disiksa. Tapi orang itu meraung-raung tak terkendali. Kiai, katanya, ikut gugup. Ahli rohani pun bisa gugup rupanya. 


"Bagaimana saya minta maaf. Kiai. Mereka sudah mati. Semua saya dorong ke dalam nyala api. Tak ada Kiai, yang bisa saya temui lagi."


Tobat. Ini baru kasus. Kiai pun repot dibuatnya. Dan dengan guraunya seperti biasa, khas seorang ahli yang pura-pura bodoh, beliau bertanya sambil menutup pembicaraan telepon itu, "Menurut Anda, obatnya apa Kang Sobary?"


Saya tak mau memikirkan kasus itu. Saya yakin Kiai paham bagaimana menanganinya. Dalam bahasa para Kiai: serahkan semua  hal pada ahlinya. Dan saya telah menyerahkannya. Saya cuma tertarik pada satu hal: roda-roda itu. Bung Karno dulu sering bicara roda-roda revolusi. Siapa plin-plan, tidak jelas mau ke mana, apa lagi tak mendukung sikap progresif revolusioner, orang itu pasti tergilas roda revolusi.


Zaman sekarang orang takut revolusi. Saya ingin bicara perkara lain, perkara yang disukai para pejabat dan semua aparat: konstitusi. Saya hormat pada konstitusi. Ia mekanisme terbaik kita buat menata hidup demokratis, adil, makmur dan manusiawi.


Konstitusi bukan ayat. Ia bukan barang suci. Tapi ia telah menjadi "dataran" tempat kita semua berpijak. Ia menjadi ukuran segenap tingkah laku politik kita semua. Jadi ia harus ditaruh di atas semua kekuatan sosial politik di negeri kita.


Celakanya, para penggede sering bermain institusi sebagai gula dan madu untuk pemanis bibir dalam semua pidato dan pernyataan pers mereka. Memuji diri sendiri dengan konstitusi. Menghadiahi anaknya dengan konstitusi. Dan menghukum semua musuhnya, dengan konstitusi pula.


Rupanya, konstitusi marah. Roda-rodanya yang runcing, dan tajam seperti cakra, menggilas semua lidah munafik, dan menjungkalkan semua kepala yang berisi kebohongan demi kebohongan. Dan siapa bohong atas nama konstitusi, ia tergilas roda-rodanya. Sampai penyek. *** 


Mohammad Sobary


Sumber: Kompas, 5 Juli 1998

,

7 Penyebab Siswa dan Mahasiswa Kesulitan Memahami Isi Bacaan


Membaca bukan sekadar mengenali huruf atau mengucapkan kata-kata, tetapi merupakan proses memahami makna, menghubungkan gagasan, dan menarik kesimpulan. Oleh karena itu, kemampuan memahami bacaan memerlukan latihan yang terus-menerus, bukan hanya kebiasaan membaca dengan cepat.

Secara filosofis, membaca adalah dialog antara pikiran pembaca dan gagasan penulis. Semakin aktif seseorang berpikir saat membaca, semakin besar kemampuannya untuk memahami isi bacaan secara mendalam.

1. Membaca hanya untuk menyelesaikan tugas

Sebagian siswa dan mahasiswa membaca karena ingin menyelesaikan tugas atau menghadapi ujian, bukan karena ingin memahami isi bacaan.

Akibatnya, perhatian lebih tertuju pada hasil akhir daripada proses memahami gagasan. Padahal, pemahaman yang baik lahir dari ketekunan dalam membaca dan merenungkan isi bacaan.

2. Kurang melatih kemampuan berpikir kritis

Memahami bacaan memerlukan kemampuan untuk bertanya, menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi informasi yang diperoleh.

Secara filosofis, membaca bukan kegiatan yang pasif. Pembaca yang aktif selalu mencari alasan, hubungan antargagasan, dan makna yang ingin disampaikan oleh penulis.

3. Terburu-buru saat membaca

Membaca terlalu cepat sering membuat gagasan utama terlewat sehingga isi bacaan menjadi sulit dipahami.

Memberikan waktu untuk berhenti sejenak, merenungkan isi paragraf, dan menghubungkan informasi akan membantu membangun pemahaman yang lebih kuat.

4. Kosakata yang masih terbatas

Pemahaman bacaan dipengaruhi oleh penguasaan kosakata. Semakin banyak kata yang dipahami, semakin mudah seseorang menangkap maksud penulis.

Karena itu, memperluas kosakata melalui membaca berbagai jenis buku menjadi salah satu cara penting untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan.

5. Jarang menghubungkan bacaan dengan pengetahuan yang telah dimiliki

Informasi baru akan lebih mudah dipahami apabila dikaitkan dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.

Secara filosofis, pengetahuan berkembang melalui hubungan antara gagasan lama dan gagasan baru. Tanpa proses ini, isi bacaan lebih mudah terlupakan.

6. Kurang melakukan refleksi setelah membaca

Setelah selesai membaca, sebagian orang langsung berpindah ke kegiatan lain tanpa mencoba mengingat kembali atau merangkum isi bacaan.

Padahal, membuat ringkasan dengan kata-kata sendiri atau menjelaskan kembali isi bacaan merupakan cara yang efektif untuk memperkuat pemahaman dan ingatan jangka panjang.

7. Kurangnya kebiasaan membaca secara teratur

Kemampuan memahami bacaan berkembang melalui latihan yang dilakukan secara konsisten. Semakin sering seseorang membaca dengan penuh perhatian, semakin baik kemampuan berpikir dan memahami informasi.

Secara filosofis, kecerdasan bukan hanya hasil dari bakat, tetapi juga buah dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Membaca secara rutin membentuk cara berpikir yang lebih logis, kritis, dan mendalam.

Kemampuan memahami bacaan tidak ditentukan oleh usia atau jenjang pendidikan semata, tetapi juga oleh kebiasaan membaca, cara berpikir, dan kemauan untuk terus belajar. Dengan membaca secara aktif, memperluas kosakata, serta melatih kemampuan berpikir kritis, pemahaman terhadap bacaan akan berkembang secara bertahap.

Membaca yang baik bukanlah membaca paling cepat, melainkan membaca dengan penuh perhatian hingga mampu memahami makna, menemukan kebenaran, dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah membaca menjadi jalan untuk membentuk kecerdasan, kebijaksanaan, dan karakter yang terus bertumbuh.


Ilmu Filsafat

Sumber: Fb


, ,

NAWAL EL-SAADAWI: HARGA UNTUK KEBEBASAN BERPIKIR

(Kompas, 5 Juli 2001)


Kebebasan mempunyai harga dan harga yang harus dibayar oleh perempuan untuk kemerdekaannya adalah ketenangan hidupnya, kedamaian, kesehatannya, bahkan kebahagiaan dan masa depannya. Namun, harga yang sangat tinggi itu pun sering kali tidak cukup. (Nawal el-Saadawi dalam The Hidden Face of Eve)

KONTROVERSI mengenai Nawal el-Saadawi (70) kembali muncul ke permukaan ketika sidang awal untuk dirinya diumumkan akan kembali di gelar di Cairo, Mesir, tanggal 9 Juli mendatang. Seperti dikutip dari kantor berita Associated Press (AP), kali ini kasus yang dituduhkan kepada Saadawi oleh ahli hukum Nabih el-Wahsh adalah penghinaan terhadap agama Islam dalam suatu wawancara yang dimuat pada mingguan Al-Midan pada bulan Maret lalu.

Tuduhan ini dimungkinkan setelah Saadawi dinyatakan sebagai orang yang mengingkari agamanya (murtad) sehingga dipaksa untuk bercerai dengan suaminya, novelis dan penganjur HAM, Dr Sharif Hatatah. Pernikahan Saadawi dengan Hatatah merupakan pernikahan ketiga setelah kegagalan dua pernikahannya terdahulu. Mereka telah menikah selama 37 tahun.

Pengadilan terhadap Saadawi dengan tuduhan simultan yang dilakukan ahli hukum Nabih el-Wahsh ini segera mengingatkan kepada kasus pengadilan yang menuntut perceraian pasangan ini pada tahun 1995, tetapi kemudian dibatalkan oleh pengadilan banding. 

Tampaknya pendiri Himpunan Solidaritas Perempuan Arab (AWSA) ini bergeming terhadap tuduhan apa pun yang ditimpakan pada dirinya, meski ia bukan tidak tahu akibatnya. Saadawi bersama ratusan cendekiawan Mesir lainnya pernah dipenjara atas tuduhan kejahatan terhadap negara ketika artikelnya di Al Shaab, surat kabar Partai Buruh, menyengat kemarahan Presiden Anwar Sadat pada tahun 1981. Di penjara itu ia terus menulis meskipun hanya ada kertas toilet dan kertas pembungkus rokok.

Namun setelah bebas, pemikir, penulis dan feminis Mesir ini bukan hanya tetap tidak mau menghindari isu-isu kontroversial, seperti soal seks, politik, dan agama, tetapi bahkan berpartisipasi dalam "pertempuran" pendapat mengenai hal itu dengan penuh antusias sampai-sampai rumahnya mendapat penjagaan ketat dari pemerintah pada tahun 1987-1989 untuk melindungi Saadawi dari kemungkinan kemarahan kalangan konservatif religius. 

Ancaman serupa juga membuat Saadawi untuk beberapa lama tinggal dan mengajar di beberapa universitas di AS. Pandangan-pandangan dan pemikirannya membuat Saadawi kehilangan jabatannya sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat pada Departemen Kesehatan Mesir.

"Agama digunakan untuk menghentikanku menulis. Mereka ingin membungkamku atau mengasingkan aku," ujar Saadawi, menegaskan ia tidak akan menyerah.

Kalau pengadilan memaksa mereka bercerai?

"Kami akan pulang ke rumah. Sharif dan aku. Apa yang akan mereka lakukan? Menggunakan pasukan untuk memisahkan kami? Mereka tidak bisa memisahkan kami dan aku akan tetap tinggal di Mesir. Aku tidak akan pergi.” 

Bagaimana dengan ancaman pembunuhan?

"Kami sudah bosan dengan semua (ancaman) itu," tegasnya.

Pernyataan Saadawi bukan tidak mengandung bahaya. Para ahli agama menyatakan, seorang Muslim yang dinyatakan murtad terancam hukuman mati; sementara hukum Mesir yang merupakan campuran hukum sekular dan hukum Islam tidak jelas sikapnya dalam masalah ini.

Nasr Abu Zeid, seorang profesor ahli sastra Arab juga mengalami tuduhan serupa seperti yang dituduhkan kepada Saadawi. Ia harus bercerai dari istrinya dan diancam hukuman mati pada tahun 1996. Pasangan itu melarikan diri ke Belanda dan tidak kembali.

                                        ***

KONFLIK antara Saadawi dengan otoritas-otoritas negara dan kalangan konservatif berlangsung sepanjang kariernya sebagai penulis. Dokter ahli bedah yang menguasai Ilmu Jiwa ini menyodok para pemuka agama dengan pendapat dan kebebasannya berpikir yang diekspresikan melalui tulisan yang dihasilkan secara intensif sejak 40 tahun lalu. Kekritisannya pada persoalan ketidakadilan membuat penguasa dan pendukung status-quo seperti duduk di atas bara.

Puluhan bukunya menohok tepat di jantung kaum patriarkh karena mempersoalkan nilai-nilai yang menindas kaum perempuan lebih banyak diterbitkan dalam berbagai bahasa asing. Pemerintah Mesir melarang penerbitan buku-bukunya karena dianggap berbahaya bagi masyarakat.

Saadawi mengungkapkan sebagian Dalam Memoir of Woman Doctor, pengalaman hidupnya, termasuk kegagalan perkawinannya. Dalam Woman at Point Zero ia mengisahkan nasib seorang pelacur dengan penuh empati; dalam God Dies at the Nile ia mengisahkan kekerasan seksual yang dilakukan laki-laki kaya terhadap perempuan petani miskin. Dalam Death of an ex-Minister ia berkisah tentang pemerintahan yang amburadul di suatu negara, namun sebenarnya menyiratkan situasi di negerinya sendiri. 

Esai sosiologinya mengenai perempuan Arab dalam The Hidden Face of Eve (1980)‒di dalamnya terdapat masalah-masalah peka menyangkut praktik-praktik budaya seperti pemutungan alat kelamin perempuan, pelacuran, perbudakan, dan penindasan yang dialami para perempuan di desa-desa di seluruh wilayah Mesir‒bahkan tidak bisa ditemukan dalam edisi bahasa Arabnya di Mesir, negerinya sendiri.

Buku nonfiksinya Woman and Sex (1972) merupakan "tiket" yang membawanya masuk daftar hitam penguasa dan kelompok garis keras. Namun, ia juga menghadapi kritik dari ilmuwan lain seperti Georges Tarabishi dalam bukunya Woman Against her Sex: A Critique of Nawal el Saadawi (1980) yang kemudian dijawabnya dalam buku yang sama.

Dalam Daughter of Isis, Saadawi memakai Isis, Dewi Kesuburan, istri penguasa Mesir Kuno, Pharaoh Orisis sebagai metaphor perjuangan perempuan. Di situ ia menuliskan sejarah hidupnya secara rinci, termasuk pemutungan alat kelaminnya saat berusia enam tahun; yang membuat jiwanya. terguncang sampai waktu lama.

                                        ***

MESKI tulisan-tulisannya cukup jelas menyatakan standpoint-nya, namun banyak pihak sering keliru menginterpretasikan "kemerdekaan" yang dilontarkan Saadawi. Bahkan banyak perempuan menolak Saadawi karena menganggap ia menganjurkan seks bebas.

Padahal pijakan Saadawi tidak terlalu jauh dari akarnya. Ia mengaku hanya mengikuti apa yang telah dirintis para pendahulunya, seperti Sheikh Mohammed Abdou, Abdallah Nadeem pada para penulis pada awal tahun 1900-an, seperti Kassim Ameen, Malak Hefni Nassef, dan May Ziada.

Saadawi sendiri sebenarnya tidak selalu sejalan dengan pemikiran feminis Barat. Ketidakhadirannya pada Konferensi Perempuan IV di Beijing tahun 1995 merupakan sikap protesnya karena konferensi itu menurut dia dikuasai agenda feminis Barat. Seluruh karya Saadawi membangunkan para aktivis negara berkembang bahwa kapitalisme bisa "berkawin" nilai-nilai setempat untuk merantai perempuan.

Saadawi, yang oleh banyak pihak juga disebut sebagai humanis menyatakan dirinya tetap seorang Muslim; yang  mempercayai dengan segenap jiwanya bahwa Islam adalah agama yang membebaskan. (Maria Hartiningsih)


Sumber: Kompas, 5 Juli 2001


Dari Fb Herry Anggoro Djatmiko

(https://www.facebook.com/share/p/18kyF1ZjFL/) 

Jumat, 03 Juli 2026

,

Memilih Bacaan Surat atau Ayat dalam Shalat

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, MA Rahimahullah

Shalat berjamaah merupakan amal dan kebiasaan yang selalu harus diupayakan oleh setiap mukmin yang saleh atau yang berupaya untuk saleh. Ketika hal ini diupayakan oleh sekelompok orang, lalu mereka berjamaah di masjid-masjid besar, ada kenikmatan yang terasa. Enaknya berjamaah, tempat yang semakin rapi, suara imam yang merdu, bacaannya yang agak panjang, surat dan ayat bacaannya yang semakin beragam. Namun di balik itu semua, ada kekurangan yang semakin terasa.

Ketika suara imam yang enak, bacaannya juga beragam, namun sayang, semakin beragamnya bacaan imam, semakin tidak mengerti si makmum ini akan bacaan dan pesan ayat yang dibaca imam.

Berbeda kondisinya ketika dia shalat di tempat biasa, meski suara imamnya kurang fasih dan kurang merdu, namun yang dibacanya dia hafal dan tahu maksudnya. Itu karena imam tidak pernah mengganti bacaannya, itu dan itu saja.

Secara konsep, Allah Ta’ala mempersilahkan kita untuk membaca apa yang kita anggap mudah dari ayat-ayat Alquran ketika melakukan shalat. Kata mudah bisa ditafsirkan, yang mudah dihafal atau sudah dihafal, dapat juga ditafsirkan mudah diingat dan menjadi ingatan. Mengambil dasar dari Surah Al Muzammil ayat ke 20.

Alhasil, ini menjadi kesepakatan ulama bahwa seorang boleh membaca ayat mana saja dari Alquran dalam shalatnya, minimal satu ayat maksimal tidak terbatas. Dan shalatnya sah.

Kata mudah dapat diartikan dalam hal jumlah ayat. Ulama Fiqh sepakat bahwa bacaan minimal dalam shalat adalah 1 ayat. Maksimalnya tidak terbatas.

Batasan yang terbaik adalah ketika menjadi imam shalat, terlebih di masjid atau mushalla pasar atau airport (bandara), maka pilihan terbaik adalah 3 sampai dengan 5 ayat saja. Jika shalat sendiri, terlebih shalat malam, maka dipersilakan untuk membaca sampai ratusan ayat.

Selain itu, para imam juga sering memilih bacaan sesuai dengan kondisi atau pesan yang akan disampaikan. Jika shalat Isya’ malam Jum’at, maka biasanya imam memilih 3 ayat terakhir di surat al-Jum’ah yang mengabarkan kewajiban shalat Jum’at dan keutamaannya. Berbeda ketika hari itu menjelang Ramadhan, maka imam akan membacakan surat al-Baqarah ayat 183 sebagai pesan kewajiban berpuasa Ramadhan. Demikian seterusnya.

Nah, yang perlu diperhatikan imam adalah masalah urutan. Sebaiknya ayat atau surat yang dibaca dirunut sesuai dengan urutan yang ada sekarang dalam al-Qur’an.

Contohnya, jika imam ingin membaca ayat 78-85 dari surat al-Isra’ di rakaat pertama, maka pilihan berikutnya pada rakaat kedua adalah surat setelah Al-Isra’ atau ayat di surah al-Isra’ setelah ayat 85.

Namun demikian, jika ternyata imam membaca mundur, di raka’at pertama baca al-Isra’ dan raka’at kedua baca al-Nisa’, shalatnya tetap sah menurut semua mazhab. Imam al-Syafi’i hanya menilainya sebagai makruh.

Bacaan Shalat Rasulullah

Surah atau ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam shalat-shalatnya sangatlah beragam. Ada yang sangat panjang, ada yang sedang, ada juga yang pendek. Hal ini paling tidak menunjukkan kebolehan memilih surah dan ayat yang disukainya.

Dalam hal panjang dan pendeknya bacaan, telah dibedakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam antara shalat sendirian dan shalat berjamaah. Beliau bersabda,

“Jika di antara kamu shalat mengimami manusia, maka hendaklah meringkas, karena di antara mereka ada yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Akan tetapi, jika shalat sendirian, maka hendaklah memanjangkan semuanya.” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, bukanlah yang dimaksudkan meringkas shalat adalah membaca setiap rakaatnya dengan surat-surat pendek seperti Al-Ikhlash dan An-Nash atau semisalnya. Kita harus memahami maksud hadis di atas sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat syariat yang mulia ini. Jika penafsiran suatu hadis diserahkan kepada semua pihak, niscaya mereka akan berbeda penafsiran dan akan terus berselisih. Misalnya tentang penafsiran hadis ini, seorang penghafal Alquran akan mengatakan bahwa Surat Al-Anfal, Surat Yusuf, Surat Yunus, dan semisalnya adalah surat-surat yang pendek karena dia telah menghafalnya di luar kepala. Sementara itu, orang yang tidak mempunyai hafalan Alquran akan mengatakan bahwa surat Al-Ghasyiyah, Al-Alaq, Al-Balad, Adh-Dhuha, dan semisalnya adalah surat-surat yang panjang. Maka mustahil terjadi kesamaan persepsi dari setiap orang.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui siapakah seseorang yang shalatnya ringkas (pendek) ketika menjadi imam? Jawabnya tidak lain adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadis:

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak pernah shalat bersama seorang imam pun yang lebih pendek dan lebih sempurna shalatnya daripada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak hanya memendekkan shalat ketika menjadi imam, tetapi juga menyempurnakannya. Inilah maksud hadis yang diinginkan, karena demikianlah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menerangkan sabdanya dengan praktik secara langsung yang dilihat oleh para sahabat setiap hari.

Maka bagi setiap imam hendaklah berupaya melaksanakan shalatnya agar sesuai dengan sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Shalat yang sesuai dengan sunah adalah shalat yang pendek tetapi sempurna, bukan shalat yang memperturutkan hawa nafsunya atau hawa nafsu kebanyakan para makmumnya yang biasanya ingin shalat secepat mungkin. Seorang imam adalah pemikul amanat manusia, dan orang yang sedang memikul amanat harus menunaikannya dengan yang sebaik-baiknya, dan shalat yang paling baik adalah yang sesuai dengan sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam.

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata, “Para ahlul ilmi mengatakan, yang dianjurkan ketika shalat shubuh adalah membaca thiwalul mufashal, dalam shalat maghrib membaca qisharul mufashal, dan shalat lainnya (Zuhur, Ashar, dan Isya) membaca awashitul mufashal. Thiwalul mufashol adalah dimulai dari surat Qaf sampai dengan surat An-Naba, qisharul mufashal adalah dimulai dari surat Adh-Duha sampai dengan akhir Alquran, dan awashitul mufashal adalah dimulai dari surat An-Naba sampai dengan Adh-Dhuha. Inilah yang biasa dilakukan Nabi. Boleh juga kadang-kadang membaca thiwalul mufashal ketika shalat maghrib, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kadang-kadang membacanya pada shalat maghrib.” (Liqo’ al-Bab al-Maftuh)

Pernyataan di atas didasari oleh sebuah hadits dari jalan Sulaiman bin Yasar dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau berkata,

ما رأَيْتُ أحَدًا أشبَهَ صلاةً برسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم مِن فلانٍ – كان بالمدينةِ – قال سُلَيمانُ : فصلَّيْتُ أنا وراءَه فكان يُطيلُ في الأُولَيَيْنِ مِن الظُّهرِ ويُخفِّفُ الأُخْريَيْنِ ويُخفِّفُ العصرَ ويقرَأُ في الأُولَيَيْنِ مِن المغرِبِ بقِصارِ المُفصَّلِ وفي العِشاءِ بوسَطِ المُفصَّلِ وفي الصُّبحِ بطِوالِ المُفصَّلِ

“Tidak pernah aku melihat orang yang shalatnya lebih mirip dengan shalat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam selain Fulan (ketika itu di Madinah). Sulaiman berkata, ‘maka aku pun shalat di belakangnya, ia memperpanjang dua rakaat pertama dalam shalat zhuhur dan memperpendek sisanya. Ia juga memperpendek bacaan shalat ashar, dan pada shalat maghrib membaca surat-surat qishar mufashal, dan pada shalat Isya membaca yang wasath mufashal, dan pada shalat subuh membaca thiwal mufasshal”. (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat Nabi)

Tetapi ada riwayat-riwayat menarik, di antaranya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sering membaca surah al-Kafirun dan al-Ikhlas dalam banyak kesempatan shalat yang beliau lakukan, termasuk shalat qabliyah subuh.

عن أبي هريرة – رضي الله عنه -: ” أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قرأ في ركعتي الفجر: قل يا أيها الكافرون، و قل هو الله أحد”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca dalam dua rekaat fajar: Qul Ya ayyuhal Kafirun dan Qul Huwallahu Ahad”. (HR. Muslim)

Ada lagi beberapa riwayat seputar bacaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam shalatnya, antara lain:

Dari Adi bin Tsabit berkata, aku mendengar al-Bara’ ibn Azib Radhiyallahu Anhu bercerita:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الْعِشَاءَ ، فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuah perjalanan membaca dalam salah satu dari dua rakaat shalat Isya’ surah al-Tin wa al-Zaitun”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَنَحْوِهَا مِنْ السُّوَرِ

Dari Buraidah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata: Dahulu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah membaca waktu shalat isya’ surah Al-Syamsyi wa dhuhaha dan sejenisnya dari surat-surah yang ada”. (HR. al-Tirmizi, al-Nasa’i, dan Ahmad)

عَنْ عَمِّهِ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى

Dari Quthbah ibn Malik berkata: Saya mendengara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membawa dalam shalat subuh pada rakaat pertama: (surat Qof 5:10) (HR. Muslim, al-Tirmizi, al-Nasa’i dan Ibn Majah)

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَنَحْوِهِمَا مِنْ السُّوَرِ

Dari Jabir ibn Samurah Radhiyallahu Anhu, beliau bercerita bahwa: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika shalat Dluhur dan Ashar pernah membaca surah wa al-sama’ zat al-buruj dan wa al-sama’i wa al-Tariq dan surah-surah sejenisnya”. (HR. Abu Daud, al-Tirmizi, dan al-Nasa’i)

Surat-Surat Yang Sering Dibaca Imam

Secara fiqh, imam diperbolehkan membaca 1 ayat atau lebih, bahkan 1 surat atau lebih.

Berdasarkan catatan perjalanan pemateri selama belajar, mengajar, kuliah, menjadi makmum dan juga menjadi Imam. Perjalanan penulis shalat di Makkah, Madinah, Syam, Maghrib, Masyriq, Asean, Eropa dan Australia. Dengan imam besar, imam kecil, yang hafizh dan belum hafizh, yang fasih dan yang tidak fasih. Di antara surat-surat yang secara penuh sering dibaca imam dalam shalat berjamaahnya adalah sebagai berikut:

1-28 : surat 87-114 : al-A’la al-Dhuha sampai dengan al-Nas

29 : surat 78 : al-Naba’

30 : surat 76 : al-Insan

31 : surat 75 : al-Qiyamah

32 : surat 73 : al-Muzzammil

33 : surat 68 : al-Qalam

34 : surat 67 : al-Mulk

35 : surat 62 : al-Jumu’ah

36 : surat 56 : al-Waqi’ah

37 : surat 57 : al-Rahman

38 : surat 48 : al-Fath

39 : surat 32 : al-Sajadah

40 : surat 31 : Luqman

Lalu, ketika ditanyakan, apa alasan mereka memilih surat-surat ini, jawabnya ada 4 kemungkinan:

Karena pendeknya,

Karena fadilahnya,

Karena ini yang sering dibaca Rasulullah saw pada kesempatan-kesempatan tertentu. Contoh: al-A’la dan al-Ghasyiyah pada shalat Jum’at. Al-Sajadah dan al-Insan pada subuh Jum’at.

Karena ada pesan yang ingin disampaikan imam melalui surat ini.

Sekali lagi pemateri ingin menegaskan bahwa ayat dan surat yang mana saja yang ada dalam al-Qur’an, boleh dibaca dan sah hukum shalatnya.

Adapun surat-surat yang sering dibaca oleh imam dalam shalat menurut pengalaman dan perjalanan pemateri ke berbagai pelosok adalah:

1. Al-Baqarah [2] : 183-186 berkaitan dengan perintah untuk puasa Ramadhan

Pesan-pesan utama

Perintah Puasa Ramadhan

Waktu diturunkannya al-Qur’an.

Perintah untuk berdoa dan janji akan dikabulkan.

Pesan-pesan lainnya

Jumlah hari yang diperintahkan berpuasa Ramadhan.

Kondisi diperbolehkannya seseorang untuk tidak berpuasa.

Perintah untuk mengganti puasa yang ditinggalkan.

Allah menurunkan ajaran-Nya tidak untuk mempersulit manusia.

2. Al-Baqarah [2] : 254-257 (Perintah Untuk Bersedekah Sebelum Ajal Datang)

 

Pesan-pesan utama

 

Perintah untuk bersedekah sebelum ajal datang.

Ayat Kursi : Kekuasaan Allah swt.

Agama yang diterima Allah adalah Islam.

Pesan-pesan lainnya

 

Tidak ada paksaan dalam beragama.

Allah penolong orang-orang yang beriman.

Allah yang mengeluarkan orang-orang mu’min dari kezaliman.

Setan menggoda dan menjerumuskan manusia dalam kesesatan.

3. Al-Baqarah [2] : 261-265 (Pahala dan Manfaat Orang Bersedekah)

 

Pesan-pesan utama

 

Pahala dan manfaat orang bersedekah.

Syarat sedekah yang makbul.

Pahala sedekah bisa batal karena cacian.

Pesan-pesan lainnya

 

Pahala sedekah dan balasannya bisa 10 sampai 700 x lipat.

Perkataan baik juga dikategorikan sedekah.

Menyakiti penerima sedekah dapat membatalkan pahala sedekah.

4. Al-Baqarah [2] : 283-286 (Langit dan Bumi Adalah Milik Allah)

 

Pesan-pesan utama

 

Langit dan bumi adalah milik Allah.

Allah mengetahui hal sekecil apapun juga.

Doa mohon ampun dari berbagai bentuk kesalahan dan kekhilafan.

Pesan-pesan lainnya

 

Allah Ta’ala bisa memaafkan yang Dia kehendaki, juga tidak memaafkan orang yang dikehendaki.

Allah tidak membeda-bedakan antara para Rasul-Nya.

Beban syari’at yang dipikul manusia, sudah sesuai dengan kemampuannya.

Pahala dan dosa yang didapat atau dipikul manusia adalah hasil perbuatannya.

5. Ali Imran [3] : 18-20 (Ketuhanan Allah)

 

Pesan-pesan utama

 

Ketuhanan Allah.

Agama yang diterima Allah adalah Islam.

Pesan-pesan lainnya

 

Fungsi Rasulullah saw adalah sebagai penyampai, bukan pemberi hidayah.

 

Ali Imran [3] : 102-108

Ali Imran [3] : 110-115

Ali Imran [3] : 133-136

Ali Imran [3] : 190-194

An-Nisa’ [4] : 1-6

Al-Ma’idah [5] : 6-9

Al-An’am [6] : 159-165

Al-Taubah [9] : 128-129

Yusuf [12] : 1-6

Ibrahim [14] : 5-8

Al-Nahl [16] : 125-128

Al-Isra’ [17] : 1-10

Al-Isra’ [17] : 78-85

Al-Kahf [18] : 1-13

Al-Kahf [18] : 102-110

Al-Mu’minun [23] : 1-16

Al-Nur [24] : 35-38

Al-Furqan [25] : 72-77

Al-Rum [30] : 1-11

Luqman [31] : 12-19

Al-Ahzab [33] : 21-24

Al-Ahzab [33] : 40-48

Al-Ahzab [33] : 70-73

Yasin [36] : 77-83

Saad [38] : 71-88

Al-Zumar [39] : 71-74

Fussilat [41] : 30-35

Al-Fath [48] : 1-6

Al-Fath [48[ : 27-29

Al-Hujurat [49] : 1-6

Al-Mujadalah [58] : 9-11

Al-Hasyr [59] : 18-24

Al-Saff [61] : 10-14

Al-Jumu’ah [62] : 9-11

Al-Munafiqun [63] : 9-11

Al-Taghabun [64] : 11-18

Al-Tahrim [66] : 8-12

Karena itu, jika didapati berbeda dengan sebuah masjid tertentu, maka sangat mudah untuk dipahami sebabnya. Mungkin karena imam di masjid Anda hafal al-Qur’an dan bacannya berkelanjutan dari awal sampai akhir. Atau Imam masjid termaksud hanya hafal satu-dua surat saja yang dipilihnya sendiri. Atau ayat yang dibacanya merupakan bagian dari juz ke 29 dan 30 yang pemateri kategorikan, semuanya masuk kategori standar. Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Sumber: Memilih Bacaan Surat Atau Ayat Dalam Shalat – Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur



,

Bagaimana Uang Bekerja?


Cangkang bilalu dan dolar memiliki nilai hanya dalam imajinasi kita bersama. Nilainya tidak ada dalam struktur kimiawi atau warna atau bentuk cangkang dan kertas. Dengan kata lain, uang bukanlah kenyataan material—uang adalah produk psikologis. Uang bekerja dengan mengubah zat menjadi pikiran.

Namun mengapa uang berhasil? Mengapa orang bersedia menukar sawah yang subur dengan segenggam cangkang bilalu tak berguna? Mengapa Anda bersedia membolak-balik daging hamburger, menjual asuransi kesehatan, atau mengawasi tiga anak manja menyebalkan padahal yang Anda dapatkan untuk jerihpayah Anda hanyalah beberapa lembar kertas berwarna? 

Orang-orang bersedia melakukan hal-hal semacam itu sewaktu mereka mempercayai potongan-potongan imajinasi kolektif mereka. Kepercayaan adalah bahan mentah yang digunakan untuk mencetak semua jenis uang. Ketika seorang petani kaya menjual harta bendanya seharga sekarung cangkang bilalu yang dia bawa ketika berpindah ke provinsi lain, dia percaya bahwa sewaktu mencapai tempat yang dia tuju, orang-orang lain akan bersedia menjual beras, rumah, dan sawah kepadanya, ditukar dengan cangkang-cangkang itu. 

Dengan demikian uang adalah sistem kesaling-percayaan, dan bukan sembarang sistem kesaling-percayaan: uang adalah sistem kesaling-percayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan. 

Yang menciptakan kepercayaan itu adalah jejaring hubungan politik, sosial, dan ekonomi jangka panjang yang sangat kompleks. Mengapa saya mempercayai cangkang bilalu atau koin emas atau lembaran dolar? Karena tetangga-tetangga saya mempercayainya. Dan tetangga-tetangga saya mempercayainya karena saya mempercayainya. Dan kami semua mempercayainya karena raja kami mempercayainya dan menghendakinya dalam bentuk pajak, dan karena rohaniwan kami mempercayainya dan menghendakinya dalam persepuluhan. 

Ambil selembar uang dolar dan amati secara saksama. Anda akan lihat bahwa uang itu tak lebih daripada selembar kertas berwarna-warni dengan tanda tangan menteri keuangan AS di satu sisi, dan slogan “In God We Trust” di sisi lain. Kita menerima dolar untuk pembayaran, karena kita mempercayai Tuhan dan menteri keuangan AS. 

Peran penting kepercayaan menjelaskan mengapa sistem keuangan kita terjalin sedemikian erat dengan sistem politik, sosial, dan ideologi kita, mengapa krisis keuangan kerap dipicu oleh perkembangan politik, dan mengapa naik-turunnya pasar saham bergantung kepada perasaan para pedagang saham pada suatu pagi.

(Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Jakarta; KPG, 2025, h. 213-214) 

***

Pada 2006, total jumlah uang di dunia adalah sekitar $473 triliun, namun jumlah total uang logam dan uang kertas kurang daripada $47 triliun. Lebih daripada 90 persen uang—lebih daripada $400 triliun yang muncul di rekening kita—hanya ada di server-server komputer. Dengan demikian, sebagian besar transaksi bisnis dijalankan dengan memindahkan data elektronik dari satu berkas komputer ke berkas lain, tanpa bertukar uang tunai fisik. Hanya kriminal yang membeli rumah, misalnya, dengan menyerahkan sekoper penuh uang kertas. Selama orang bersedia bertukar barang dan jasa dengan data elektronik, uang jenis ini bahkan lebih baik daripada uang logam yang mengkilap dan uang kertas yang mulus—lebih ringan, tidak menyita tempat, dan lebih mudah diawasi.

(Yuval Noah Harari, Sapiens, h. 211)


7 Cara Baca Buku yang Baik untuk Latih Memori Jangka Panjang

Membaca buku bukan sekadar melihat rangkaian kata, tetapi merupakan proses memahami, menghubungkan, dan menyimpan pengetahuan dalam ingatan. Membaca dengan cara yang tepat membantu seseorang memperoleh manfaat yang lebih besar daripada membaca dengan tergesa-gesa tanpa memahami isi bacaan.

Secara filosofis, membaca adalah dialog antara pikiran pembaca dan gagasan penulis. Semakin aktif seseorang berpikir selama membaca, semakin besar kemungkinan pengetahuan tersebut dipahami dan diingat dalam jangka waktu yang lebih lama.

1. Tentukan tujuan sebelum membaca

Sebelum mulai membaca, tentukan terlebih dahulu apa yang ingin dipelajari dari buku tersebut. Tujuan yang jelas membantu otak memusatkan perhatian pada informasi yang paling penting.

Ketika membaca dengan arah yang jelas, otak lebih mudah menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

2. Membaca secara perlahan dan penuh perhatian

Membaca terlalu cepat sering membuat isi bacaan sulit dipahami. Berikan waktu bagi diri sendiri untuk memahami setiap gagasan utama sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Secara filosofis, pengetahuan tidak diukur dari banyaknya halaman yang dibaca, tetapi dari seberapa baik seseorang memahami makna yang terkandung di dalamnya.

3. Mengajukan pertanyaan saat membaca

Biasakan bertanya kepada diri sendiri, seperti "Apa gagasan utama bagian ini?" atau "Mengapa penulis menyampaikan pendapat tersebut?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana membuat otak bekerja lebih aktif. Cara ini membantu memperkuat pemahaman sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.

4. Membuat catatan dengan kata-kata sendiri

Tuliskan gagasan penting menggunakan kalimat yang mudah dipahami menurut pemahamanmu sendiri.

Menjelaskan kembali isi bacaan dengan bahasa sendiri membantu otak mengolah informasi secara lebih mendalam sehingga lebih mudah disimpan dalam ingatan jangka panjang.

5. Mengulang kembali isi bacaan

Setelah selesai membaca, cobalah mengingat kembali poin-poin utama tanpa langsung melihat buku.

Secara filosofis, mengingat kembali merupakan latihan bagi akal budi untuk memperkuat hubungan antarpengetahuan. Pengulangan yang dilakukan secara berkala membantu ingatan bertahan lebih lama dibandingkan membaca sekali saja.

6. Menghubungkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari

Pengetahuan akan lebih mudah diingat ketika dikaitkan dengan pengalaman, pekerjaan, atau persoalan yang nyata.

Semakin sering ilmu diterapkan dalam kehidupan, semakin kuat jejaknya dalam ingatan dan semakin besar manfaatnya bagi perkembangan diri.

7. Berdiskusi dan mengajarkan kembali kepada orang lain

Salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah kita benar-benar memahami sebuah buku adalah dengan menjelaskan isinya kepada orang lain.

Secara filosofis, pengetahuan yang dibagikan akan semakin dipahami oleh orang yang menyampaikannya. Diskusi juga membuka kesempatan untuk melihat suatu gagasan dari berbagai sudut pandang.

Membaca buku dengan benar bukan tentang seberapa cepat menyelesaikan sebuah bacaan, melainkan tentang seberapa baik memahami, mengingat, dan menerapkan isi buku tersebut. Kebiasaan membaca yang disertai perhatian, refleksi, pengulangan, dan diskusi akan membantu memperkuat ingatan jangka panjang.

Buku bukan hanya sumber informasi, tetapi juga sarana untuk membentuk cara berpikir yang lebih logis, kritis, dan bijaksana. Ketika membaca dilakukan dengan kesungguhan dan dipadukan dengan latihan mengingat secara teratur, pengetahuan akan menjadi bagian dari kehidupan dan terus memberi manfaat sepanjang hayat.


Ilmu Filsafat

Sumber Fb

TERBARU

MAKALAH