alt/text gambar

Jumat, 16 Januari 2026

, ,

MANUSIA TAK BISA HIDUP TANPA MAKNA

Oleh: F Budi Hardiman


Banyak hal dalam dunia makna tidak kita ketahui, dan ketidaktahuan kita tentangnya kiranya jauh lebih besar lagi daripada hal-hal yang masih belum kita ketahui tentang dunia alamiah. 

Dunia makna yang digumuli manusia merupakan suatu teritorium yang penuh kontroversi, penuh paradoks, penuh labirin interpretasi, dan memiliki kedalaman yang tidak pernah tuntas untuk dijelaskan. 

Fakta tidaklah cukup bagi manusia; manusia menjadi manusia lewat makna hidupnya, termasuk makna dari fakta yang ditemukannya, dan hal itu tidak hanya menyangkut penelitian, melainkan melibatkan pengalamannya, entah itu perjuangan, harapan, penderitaan, atau kebahagiaan. 

Pencarian makna sudah terjadi jauh di masa silam peradaban manusia sebelum pencarian fakta dalam modernitas. Memahami makna atau—dengan istilah Heidegger—Verstehen lebih primordial daripada mengetahui fakta; ia mendahului pengetahuan akan fakta karena melekat pada eksistensi kita sebagai makhluk yang terbuka terhadap dunia. 

Kita memahami dengan memaknai, termasuk memaknai hal-hal yang tidak kita ketahui (Menurut Heidegger, memahami makna mendahului dikotomi subjek dan Objek yang menandai pengetahuan faktual). Kita tidak tahu fakta tentang asal kesadaran atau tentang alasan atau tujuan eksistensi kita, tetapi kita memahami makna kehidupan kita. 

Teori evolusi memberikan fakta biologis, tetapi fakta itu bukan apa-apa, bila manusia tidak lebih dahulu memaknainya. Makna dapat dikaitkan dengan fakta dan bisa juga mendahului ataupun melampaui fakta. 

Sebelum ditemukan evolusi sebagai fakta biologis, manusia telah memaknai asal-usul hidupnya, entah sebagai penciptaan atau reinkarnasi, dan sampai hari ini makna-makna pra-ilmiah itu tetap ada. Sains tidak dapat mengusir mereka dari dunia. Dunia itu sendiri terdiri dari jejaring makna yang rumit, dan di mana pun ada jejaring makna, di situ juga ada suatu dunia. Kemajemukan makna menghasilkan kemajemukan dunia. 

Dunia makna yang digumuli oleh para sastrawan, teolog, atau filsuf tidak kalah rumitnya dengan dunia fakta yang diteliti para ilmuwan. 

Alam yang diteliti para ilmuwan alam itu juga tidak netral dari makna. Dari perspektif dunia makna, objektivitas dan netralitas yang dikejar oleh para ilmuwan alam itu pun makna.

"Manusia dikutuk untuk makna”, demikian tulis fenomenolog Prancis, Maurice Merleau-Ponty. Manusia tidak dapat hidup tanpa makna, maka segalanya dimaknai agar menjadi bagian dirinya dan menjadi familiar baginya. Keberuntungan dan kemalangan, keberhasilan dan kegagalan, perjuangan dan penarikan diri—semua ini dimaknai dan dikaitkan dengan kebenaran dalam dunia makna. Namun, fakta tidak boleh dikacaukan dengan makna karena keduanya menghadapi kompleksitas pada ranah mereka masing-masing. 

Foto: Patung raksasa di Munich

Bahaya lain yang tak kalah besarnya berasal dari sikap sebaliknya, yakni bila orang memutlakkan kebenaran faktual dan menyingkirkan kebenaran-kebenaran subjektif dan intersubjektif. Secara historis, Pencerahan Eropa dan pendidikan modern telah mengemansipasi masyarakat dari hiperbolisme makna yang bisa timbul dari agama dan kebudayaan dan menempatkan fakta sebagai kebenaran akhir, tetapi persis di sini terjadi ironi yang dilukiskan dengan cara lain oleh Horkheimer dan Adorno dalam Dialektik der Aufklarung ('Dialektika Pencerahan', 1944): kebenaran faktual itu pada gilirannya meraih supremasi dan menjadi Kebenaran (dalam huruf besar K). 

Realitas tidak seluruhnya dapat dijelaskan sebagai fakta. Para kritikus kebenaran yang telah kita bahas mewaspadai bahaya itu yang dapat timbul baik pada ranah epistemologis maupun aksiologis, jika kebenaran faktual dianggap sudah memadai untuk menjelaskan segalanya. Bahaya itu disebut dengan istilah reduksionisme. 

Istilah ini mengacu pada suatu bentukbpenjelasan yang terlalu menyederhanakan realitas yang kompleks, entah secara ontologis atau epistemologis. Jika bicara tentang kurang atau lebih, kita boleh mengatakan bahwa hiperbolisme itu berlebihan, sedangkan reduksionisme itu berkekurangan. Keduanya menyiratkan pengabaian: Sementara hiperbolisme mengabaikan fakta demi makna, reduksionisme mengabaikan makna demi fakta.

Kita mengenali suatu pandangan sebagai reduksionisme, jika dalam pandangan itu suatu model teoretis tertentu, entah dari ilmu-ilmu alam atau dari ilmu-ilmu sosial, dianggap memadai untuk menjelaskan dunia real yang sebenarnya jauh lebih kaya akan makna daripada model itu. 

Fisika, misalnya, memahami dunia real dengan abstraksi-abstraksi matematis, maka pemahaman itu tidak identik dengan dunia real itu sendiri. Fakta, bahkan dalam fisika, tidak lepas dari abstraksi dan konstruksi pikiran. Menyamakan hasil abstraksi dan konstruksi pikiran dengan dunia real adalah sebuah kekeliruan epistemis yang seharusnya dihindari (Bdk. Susanne K. Langer, Philosophy in a New Key. A Study in the Symbolism of Reason, Rite, and Art, (New York: A Mentor Book, 1954), hlm. 74).

Konsep Kritik yang muncul dari Pencerahan Eropa dibidikkan kepada hiperbolisme makna, sebagaimana terkandung dalam mitos, superstisi, dan bahkan agama; namun, sebuah kritik kebenaran seharusnya tidak hanya terarah ke sana, melainkan juga ke arah reduksionisme makna yang bisa muncul dari realisme ilmiah. 

Tujuannya adalah menempatkan sesuatu fakta dan makna pada tempatnya. Betul bahwa debunking, demitologisasi, dan deilusionasi diperlukan untuk menyingkap kebenaran faktual suatu keyakinan. Perdukunan, faithhealing, kultus relikui, atau hal-hal yang semacam itu dapat dikonfrontasikan dengan fakta agar orang tidak terlalu dibebani atau bahkan ditipu lewat hiperbolisme makna. Namun, kita juga perlu hati-hati karena membersihkan masyarakat dari makna-makna dan simbol-simbol religius dan kultural demi kebenaran faktual juga akan memiskinkan kehidupan yang dapat secara dialektis beralih menjadi irrasionalisme baru. Simbol-simbol bermakna menempatkan manusia di dalam suatu kediaman, suatu home, suatu kampung halaman yang memberinya rasa kerasan memukimi dunia ini. 

Reduksionisme tidak hanya menyempitkan pemahaman kita tentang kebenaran sehingga menyangkal kemungkinan adanya kebenaran-kebenaran lain, melainkan juga mencaplok kekayaan dan kedalaman kenyataan ke dalam satu-satunya sudut pandang kebenaran faktual. Akibatnya, wilayah-wilayah kenyataan yang lain, seperti penghayatan atau ungkapan subjektif (kenyataan spiritual, psikologis, estetis, dst) dan hubungan intersubjektif (kenyataan kultural, sosiologis, politis, ekonomis, dst.) dilihat secara karikatural melulu sebagai 'mekanisme-mekanisme' dunia objektif yang ahistoris. Padahal bahasa yang kita pakai, termasuk bahasa 'objektif' sains, tidak lepas dari pemaknaan subjektif dan intersubjektif juga yang berciri historis. Dunia ini selalu bercakap-cakap, bercerita, dan memaknai, termasuk memaknai dunia objektif, maka dunia objektif juga tidak lepas dari pemaknaan manusia. Dunia objektif, sejauh disentuh oleh manusia, masuk ke dalam struktur-struktur naratif manusia.  

Kuhn, Feyerabend, dan Rorty membuka mata kita untuk melihat bahwa metode ilmiah bukan hanya berciri historis dan sosial, melainkan juga bahwa pengetahuan yang dihasilkannya tidak dapat ditotalisasi sebagai seluruh kenyataan. Begitu juga Dilthey, Heidegger, Gadamer, dan Habermas telah menempatkan kebenaran faktual sebagai salah satu aspek kebenaran. Lebih radikal, Foucault menelanjanginya secara arkeologis sebagai kekuasaan. Mereka menghadapi reduksionisme menurut cara mereka masing-masing. Bukan hanya ilmu-ilmu alam, melainkan juga ilmu-ilmu kemanusiaan bisa jatuh ke reduksionisme, sebagaimana terjadi pada Marxisme yang menganggap segalanya hanyalah proses ekonomi yang material atau terjadi pada Freudianisme yang memandang kebudayaan dan agama hanya sebagai realisasi seksual manusia. 

Dewasa ini momok ini masih membayangi pengetahuan kita. Reduksionisme, misalnya, tampak dalam klaim objektivistis neurosains bahwa yang berpikir bukan “diriku”, melainkan “otak”, atau yang mencintai bukan “hatiku”, melainkan “hormon”. Bahasa ilmiah yang mengobjektifkan itu tidak cocok dengan pemahaman diri kita sehari-hari tentang diri kita karena 'diriku' tidak sama dengan 'otakku'. Seperti dikatakan Lombrozo, “memahami pikiran tidak sama dengan memahami otak”. Ada sesuatu yang “lebih” daripada otak dan hormon yang mewujudkan pikiran dan hati. 

Paham reduksionistis tentang dunia dan manusia disebut dengan beberapa nama untuk menjelaskan aspek-aspek berbeda yang direduksi, yakni saintisme, naturalisme, positivisme, dan materialisme. 

Reduksionisme menganggap penemuan kebenaran di dunia objektif cukup untuk menjelaskan dunia-dunia lain sehingga sensibilitas terhadap dunia makna yang bersifat subjektif dan intersubjektif menjadi tumpul atau bahkan hilang. Kita tentu akan berhati-hati di sini: reduksionisme bukanlah sains, melainkan sebuah pandangan sempit tentang sains, ia juga bukan filsafat sejati, melainkan sebuah pseudo-filsafat atau ideologi sains. Sementara filsafat dan sains masih mencari kebenaran, sebuah pseudo-filsafat seperti reduksionisme juga menghentikan pencarian dengan klaim bahwa pandangannya sudah benar secara final dan definitif sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi. Padahal realitas itu bersegi-segi dan dapat diakses dengan berbagai cara. Proses pembuahan dan perkembangan janin, misalnya, dapat dimaknai secara berbeda-beda. Proses itu tidak harus membeberkan fakta bahwa kita adalah organisme alamiah yang tunduk pada hukum-hukum biologis, melainkan juga membuat kita takjub entah akan keagungan penciptaan ataupun menyingkap misteri Ada. Namun, reduksionisme merasa cukup diri dengan fakta proses biologis itu, dan kerap kali dengan implikasi menyempitkan gambaran diri kita hanya sebagai organisme alamiah. 

Salah satu jenis reduksionisme adalah naturalisme yang bisa muncul dari pandangan yang berbasis sains ataupun filsafat. Pandangan ini mereduksi kehidupan yang berkesadaran pada kesintasan (survival). Memang tidak ada yang bisa membantah kebenaran faktual bahwa kesintasan merupakan hukum keras organisme alamiah, termasuk manusia: namun, mereduksi berbagai dimensi yang timbul dari kesadaran manusia menjadi persoalan kesintasan membuat kebenaran biologis itu tidak benar bagi kehidupan yang berkesadaran. 

Betul bahwa mekanisme kesintasan merupakan suatu keniscayaan bagi makhluk alamiah, termasuk manusia. Diri manusia memang bagian dari alam, tetapi dirinya bukan hanya alam, dan di dalam ambivalensi kedudukan manusia ini kebenaran yang dicari dan ditemukan manusia tidak dapat direduksi ke dalam kebenaran faktual belaka. 

Sumber: 

(F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya, hlm. 207-214).



Kamis, 15 Januari 2026

,

Obituari: KARNA TELAH MANGKAT, GUNDONO

(TEMPO, 13-19 Januari 2014)


Obituari: KARNA TELAH MANGKAT, GUNDONO

Oleh: Sujiwo Tejo


Pesinden itu membandingkan saya dengan dalang Ki Slamet Gundono. Dalam pewayangan, kata dia, Gundono itu Karna. Saya saudara kandungnya dari ibu Kunti, Arjuna. Mungkin ia mau menghibur. Waktu itu saya curhat setengah memprotes: kenapa bisa-bisanya dia menangis, bahkan sampai kesurupan, membawakan lagu-lagu Gundono, tapi tidak untuk lagu-lagu saya? 

“Ke Gundono, aku kesurupan. Ke kamu, aku jatuh hati....” 

Sayangnya, tak ada ayat dari kitab suci mana pun yang mewajibkan laki-laki percaya omongan pesinden. Tapi mengenang Slamet Gundono, yang wafat 5 Januari lalu, dalang yang senantiasa tampil dengan sitar-mandolin khasnya, memanglah mengenang lagu-lagunya yang lekas menghanyutkan kita ke alam lain. 

Mereka antara lain ada di album Kelingan Lamun Kelangan, Mabuk Gusti, dan Tuhan Maha Dalang. Melodinya mengalir di sela pola nada-nada orang bule dan orang Jawa. Tepatnya Jawa Pesisiran Banyumas, tempat ia dilahirkan di Dukuh Salam, Slawi, Tegal, pada 1966. Pada ketukan tertentu, kadang liuk-liuk nadanya leyeh-leyeh sejenak di salah satu pola tangga nada tersebut. 

Siapa berani tak tergetar mendengar Gundono dengan suaranya yang tiba-tiba bening menjulang lalu serak-serak menjerembab turun bergunduk-gundukan vibrasi magis tatkala ia lantunkan larik berikut: 

Tresnaku marang sira ora bisa digambarna...

Ademe ngungkuli banyu...

Angete ngungkuli geni...

Itu bahasa Jawa Ngapak alias Jawa dialek Banyumas. Terjemahannya kurang lebih: cintaku padamu tanpa ibarat, anyesnya tak ibarat air, hangatnya tak ibarat bara. Tapi apakah syair dan lagu yang dibalut harmoni sitar-mandolin plus gamelan dan kadang rampak rebana ini eksklusif gaya Banyumasan? 

Elizabeth D. Inandiak, penerjemah Serat Centhini, tepat ketika menggambarkan Slamet Gundono laksana gunungan tanpa jejer. Maksudnya, Gundono luwes. Lihatlah, pesinden yang pernah mendukungnya bukan cuma dari Banyumas. Banyak pesinde dari Jawa yang lain yang bisa dicantumkan dalam riwayat kesenian Gundono, antara lain Cahwati dan Sruti Respati. 

Bahkan, pada 2011, Gundono dan saya, yang berlatar Jawa Timur, pernah berkolaborasi dengan dalang wayang golek Sunda, Asep Sunandar Sunarya. Belum lagi kalau kita sebut kolaborasinya dengan seniman berbagai latar, seperti Garin Nugroho, Sardono W. Kusumo, dan Goenawan Mohamad. Gampangnya Gundono menclok ke berbagai idiom ungkap kesenian itu mungkin karena latar belakangnya. Orang tua biologisnya petani, tapi orang tua non-biologisnya banyak dan beragam, dari almamaternya Institut Kesenian Jakarta dan Institut Seni Indonesia Surakarta; pesantren; Rendra; sampai dalang legendaris bergaya Semarangan, Ki Nartosabdo. 

Namakanlah ia murid tak tercatat dari Ki Natrosabdo, ibarat Karna murid tak tercatat Rama Parasu. Tapi murid-muris resmi penyandang Bintang Maha Putra itu terperangah menonton Gundono. Mereka tak percaya Gundono, yang bergaya pedalangan Banyumasan, sanggup persis meniru gaya Semarangan Ki Nartosabdo lengkap dengan gestur-gestur sang maestro ketika mendalang. 

Sejatinya, menclok-mencloknya Gundono bukan cuma pada segala yang masih berada dalam ranah kesenian. Dari dalang gemblung, wayang akapela khas Banyumas, ia melompat ke wayang kondom, lalu ke wayang air. Tapi sejatinya ia bahkan pernah ingin melompat jauh ke luar kesenian. 

Pagi itu, awal 1990-an, ia dengan sepeda motor bebeknya mendatangi Hotel Cakra tempat saya menginap di Solo. “Saya sebenarnya enggak ingin jadi dalang,” ujarnya. “Karena leluhur saya yang dalang-dalang itu biasanya main perempuan.” 

Saya tertawa. Pulangnya dia saya antar sampai gerbang hotel. Saya masih ketawa bukan lantaran sepeda mptor bebek itu tampak mini sekali dibanding tubuhnya yang amat besar. Saya ketawa lantaran mikir-mikir, takdir kok akan repot-repot dihindari?

Toh, akhirnya, selama Gundono jadi dalang, saya hampir tak pernah mendengar ia main-main dengan banyak perempuan. Ia seperti Adipati Karna yang cuma setia pada Surtikanti, istrinya. Gundono pergi menginggalkan seorang istri, dua anak, dan karya-karyanya. Di Slawi, wayang suket (wayang dari rumput) bikinan Ki Manteb Soedharsono turut dikubur bersama jenazahnya. 

Balik lagi, takdir kok akan repot-repot dihindari? Setelah malang-melintang ke berbagai idiom kesenian, akhirnya Gundono leboh dikenang sebagai dalang wayang suket. Itulah wayang rumput, wayang khas kelas petani udik seperti orang tua bilogisnya, kelas yang dalam lakon wayang menemukan bayi buangan Kunti: Karna. ●

Sujiwo Tejo

Sumber: TEMPO, 13-19 Januari 2014

,

RAMADHAN SEBAGAI MOMENTUM REFORMASI

(Kompas, 15 Januari 1999)


Oleh: Sukidi


Ramadhan 1419 H ini, datang di tengah kondisi bangsa kita sedang diterpa badai krisis: moneter, ekonomi, sosial, politik, dan hukum. Dari sudut pandang etika-keagamaan, semua krisis ini berpangkal pada: krisis moralitas penguasa (korupsi, kolusi dan nepotisme). "Di negara kita, yang muslimnya terbesar di dunia, korupsi terjadi luar biasa..." begitu gugatan Prof Nurcholish Madjid (1998). Inilah paradoks keberagaman kita: muslim terbesar vis a vis korupsi luar biasa. Belakangan, krisis moral ini sudah mengambil bentuknya ke semua lini kehidupan: sosial (kerusuhan massa, penjarahan), ekonomi (penimbunan sembako), agama (pembakaran rumah ibadah; masjid, gereja), politik (santet di Banyuwangi akibat pertarungan elite politik), dan seterusnya.

Itulah akibat krisis moralitas. Padahal, nilai-nilai moral itu merupakan hakikat dan buah dari agama. Logikanya, bila merebak krisis moral, berarti buah dari krisis spiritual-keagamaan. Logika ini mengingatkan saya pada seorang pakar ekonomi pembangunan dunia, EF Schumacher yang menulis buku bagus sekali: A Guide for the Perplexed 1981. Kata Schumacher, belakangan ini orang baru sadar bahwa segala krisis—baik krisis ekonomi, bahan bakar, makanan, lingkungan, maupun krisis kesehatan—, justru berangkat dari krisis spiritual dan krisis pengenalan diri kita terhadap yang Absolut, Tuhan. Betapa dahsyatnya krisis spiritual ini, sehingga Paul Brunton, menamai buku klasiknya dengan judul: The Spiritual Crisis of Man, 1974. 

Itu karena, dari sudut metafisika maupun epistemologi keagamaan, krisis semacam ini bisa dikatakan sebagai akibat daripemberontakan/pembangkangan manusia terhadap Tuhannya. Bahkan, fenomena semacam inilah, yang dahulu kala telah mendorong banyak filsuf tradisional dari berbagai agama—seperti  Huston Smith (Kristen), Frithjof Schuon(Islam),Ananda Comaraswamy (Hindu)—berusaha membuat suatu sketsa yang menunjukkan bahwa krisis semacam ini, muncul karena manusia modern begitu jauh dari "realitas surgawi," atau karena manusia modern dalam bahasa filsafat perennial (sophia perennis)—"hidup ini di pinggir lingkaran eksistensi.” 

Untuk itulah, manusia modern perlu segera merealisasikan dirinya dengan Yang Absolut (Tuhan) sebagai bentuk dari reformasi spiritual, sehingga manusia bisa menyelamatkan bumi dan dirinya dari kehancuran total atau "revolusi sosial" dalam kekhawatiran KH Abdurrahman Wahid. 

Nah, agenda krusialnya adalah bagaimana menjadikan puasa di bulan ramadhan ini sebagai momentum reformasi spiritual dan sosial dalam rangka merealisasikan diri (manusia) ke hadirat Tuhan. Memandang puasa sebagai memomentum reformasi, mungkin dikira mengada-ada. Padahal, itulah wacana baru dalam menyingkap makna hakiki puasa. Puasa sebagai momentum reformasi, dengan demikian dapat diklasifikasikan ke dalam dua bahasan: reformasi spiritual-vertikal dan reformasi sosial-horizontal. Tetapi, dua bahasan ini berujung pada satu tujuan: menggapai ridha Tuhan.

Reformasi 

Puasa sebagai momentum reformasi spiritual yang bergaris vertikal (Tuhan), disandarkan pada doktrin normatif Islam pada Qs. al-Baqarah/2:183. Firman Allah yang memuat perintah berpuasa ini, hanya dikhususkan kepada kaum yang beriman. Jadi, iman merupakan modal dan bekal primer kaum muslimin untuk menunaikan ibadah puasa sebulan penuh ini.

Karena, iman bukan sekadar mempercayai eksistensi Tuhan secara taken for granted, tetapi—ini yang terpenting—menaruh kepercayaan hidup kita hanya kepada Tuhan. Jadi, Tuhan merupakan asal dan orientasi akhir hidup kita, yang karenanya kita harus bersikap—dalam bahasa William James—the will to believe. Dengan cara ini, kita kian inklusif kepada sebuah wacana: bahwa iman adalah komitmen total kepada The Ultimate Reality, yang membuat kita—meminjam istilah Paul Tillich—“berani untuk berada" dalam hidup ini.

Itulah modal primer berpuasa tertinggi bagi kaum beriman: meneguhkan dahulu "kesadaran keimanan" (faith consciousness) kehadirat Allah. Kesadaran ini begitu signifikan untuk menapaki hari demi hari sepanjang bulan Ramadhan ini. Tanpa kesadaran keimanan, puasa kita terasa sia-sia belaka. Karena, kita berpuasa hanya karena beriman kepada Allah. Dan Allah pun mewajibkan ibadah puasa hanya kepada kaum beriman, tidak kepada seluruh manusia, meski muslim sekalipun. Itulah sebab nya, titah berpuasa ini diawali dengan firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman...." (Qs, al-Baqarah/2:183).

Oleh karena iman berada dalam domain hati, maka tugas kita sekarang adalah: bagaimana mengembangkan kesadaran hati (soul consciousness)?

Puasa di bulan Ramadhan merupakan momentum istimewa untuk mengembangkan kesadaran hati sebagai kesadaran tertinggi (the Higher Consciousness)? Caranya adalah menjadikan puasa sebagai instrumen reformasi-spiritual atau pendakian spiritual. Secara epistemologi-keagamaan, pendakian spiritual dalam prosesi ibadah puasa ini, dicapai  melalui tiga tahapan. Imam besar Islam Abu Hamid al-Ghazali secara jenius merinci tiga tahapan ibadah spiritual, yakni: puasa sebagai proses pendakian spiritual, yakni: 

Pertama, puasa orang awam, yang sekadar menahan rasa lapar, haus, dan hubungan seksual. Hadits Nabi, "banyak orang berpuasa hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga," mungkin berada pada level ini.

Kedua, puasa orang khusus, yang bukan sekadar mampu menahan rasa lapar, haus, dan hubungan seks, tetapi mampu pula menahan "panca-inderanya" dari perbuatan dosa. Inilah tahapan kedua dalam proses pendakian spiritual.

Ketiga, puasa orang super khusus, yang bukan sekadar menahan rasa lapar, haus, syahwat, panca-indera, tapi juga "puasa hati-nurani." Inilah puncak tertinggi ibadah puasa dalam proses pendakian spiritual, yang bisa mencapai The Higher Consciousness. Yakni, mencapai kesadaran hati (soul consciousness) untuk mengalami makna hakiki puasa sebagai sebuah disclosure, pengalaman akan kehadiran Tuhan dalam diri kita: "... Ke mana engkau hadapkan wajahmu, di situlah wajah Tuhan..." begitulah penggalan bahasa puitis Al Quran, (al-Baqarah/2:115).

Itulah sebabnya, kenapa sejak dahulu kala, banyak orang arif dan bijak mengajak manusia untuk menyucikan hati. "Untuk mengerti sifat-sifat Tuhan, maka harus ada kesucian hati kita," begitu pesan John Smith. Pesan serupa disampaikan filsuf Plotinus dalam bahasa aslinya, never can the the soul have vision of First Beauty unless itself be beautiful. Di  samping John Smith, filsuf Plotinus, Thomas Aquinas,  pesan seperti itu juga dilontarkan oleh beberapa sufi Islam, seperti Jalaluddin Rumi, yang berkata "It is the sun's self that lets the sun be seen... God alone can feel God's Love" (Khosla, The Sufism of Rumi, 1987). Ini lanjut Rumi, dikarenakan "mata  hati bukan saja penting, tetapi punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan" (Mathnawi, Vol. 4).

Pada frame inilah, puasa sebagai instrumen pengembangan kesadaran hati, menemukan common platform-nya. Inilah puncak reformasi spiritual-vertikal ibadah puasa, yang secara teologis mampu menumbuhkankesadaran hati-nurani untuk ikut berpuasa. Pada level ini, tujuan hakiki ibadah puasa benar-benar tercapai secara sempurna, yang dalam firman Allah (al-Baqarah/2:183) dirumuskan la'allakum tattaquun: agar kamu sekalian menjadi orang- orang yang bertakwa.

Menuju reformasi sosial-horisontal 

Jika iman berujung pada kesadaran keimanan, maka ujung takwa adalah kesadaran ketuhanan (God-consciousness). Tugas kita adalah: bagaimana pola relasi puasa-kesadaran ketuhanan, yang berujung pada reformasi sosial bergaris horisontal.

Takwa, sebagai tujuan utama ibadah puasa, memang lebih tepat dimaknai—mengikuti rumusan Muhammad Asad dalam tafsirnya; The Message of the Quran, (1980)—sebagai God-consciousness, yaitu "kesadaran ketuhanan," yang dalam bahasa Arab, sinonim dengan kesadaran rabbaniyyah atau ribbiyyah. Dalam konteks ini, bisa  dikedepankan sebuah pertanyaan filosofis: mengapa di saat kita berpuasa, rela menahan rasa lapar, haus, dan pemenuhan kebutuhan seks, padahal kita dapat saja melakukan semua itu, kapan saja dan di mana saja, secara pribadi dan sembunyi-sembunyi, tanpa  diketahui orang lain?

Jawabnya tiada lain karena kita menyadari sepenuh hati, berada dalam bingkai "kesadaran ketuhanan"—makna hakiki takwa sebagai tujuan utama ibadah puasa—, di mana Tuhan selalu melihat, mengawasi dan menyertai kita; di mana pun kita berada. Karenanya, sekecil apa pun, kita tidak akan pernah melanggar larangan-Nya, biar pun kita sendirian. Karena kita sudah meyakini bahwa Tuhan adalah Maha Hadir (omnipresent) dalam keseharian hidup kita. Hakikat puasa, dengan demikian adalah penyerahan diri secara total di bawah cahaya "kesadaran ketuhanan." "Dia(Tuhan) itu bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Tuhan itu Maha Periksa akan apa pun yang kamu kerjakan," begitu firman Tuhan pada Q.s., al- Hadid/57:4.

Maka, konsekuensi logisnya adalah tiada jalan lain kecuali patuh di bawah cahaya kesadaran ketuhanan. Maksudnya, bila puasa diyakini sebagai refleksi kesadaran ketuhanan, maka hakikat puasa sebenarnya adalah bagian dari latihan untuk "berani berada" dan "berani dalam ketiadaan."

Pertama, puasa sebagai latihan untuk "berani berada” dalam hidup ini, seperti dipopulerkan pemikir besar abad ini, Paul Tillich melalui karyanya: The Courage To Be. Maksudnya, dengan  keberanian hidup bersandarkan kesadaran ketuhanan, maka kita akan terbebaskan dari berbagai kecemasan eksistensial diri kita: teror, santet, penculikan, kematian, dan sederetan kecemasan eksistensial lainnya yang seringkali menghantui hidup manusia. Oleh karena hidup kita hanya bersandarkan ke hadirat Tuhan, maka "tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, dan tiada tempat mengabdi, kecuali Dia," papar pakar tafsir Prof Quraish Shihab, 1995. Inilah yang membuat diri kita tegar untuk "berani berada" dalam hidup ini.

Kedua, puasa juga latihan untuk "berani dalam ketiadaan": tidak makan, minum, hubungan seks, dan perbuatan tercela lainnya. Pararel makna generiknya, puasa berarti menahan diri dari: nafsu makan, nafsu minum, nafsu seks, nafsu kuasa, nafsu serakah, dan nafsu-nafsu amarah lainnya. "Nafsu (buruk) itu dapat membawa manusia pada keserakahan," begitu peringatan Tuhan kepada kita. Melalui puasa di bulan Ramadhan ini, seluruh hawa nafsu manusia dikekang, dikontrol, dan dikendalikan oleh iman dan takwa. Puasa, dengan demikian berpangkal pada: iman dan takwa. Inilah dua nilai intrinsik yang paling sentral dalam agama, seperti bunyi sabda Nabi Muhammad SAW, "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah takwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur."

Ini tentu wajar sekali, dan dengan sendirinya benar, karena logika dari keinsyafan yang mendalam akan takwa sebagai pengalaman (simbolik) kehadiran Tuhan dalam hidup ini ada- lah munculnya kesadaran moral-etis manusia untuk berbudi pekerti luhur dan berperilaku jujur. Kesadaran inilah yang melahirkan sebuah etika baru, yang secara gampangnya kita sebut sebagai "etika ketuhanan." Sebuah etika yang dibangun bersandarkan pada sifat- sifat kebaikan Tuhan. Karenanya, etika ini merupakan bentuk dari sifat-sifat kebaikan Tuhan, seperti rahman (pengasih), rahim (penyayang), barr (pemulia), ghafur (pemaaf), dan ihsan (berbuat baik). 

Etika ketuhanan ini, tentu amat diperlukan manusia dalam membangun kesadaran moralitas bangsa.Inilah kewajiban yang secara imperatif, melekat pada diri kita: membangun standar moral dalam kehidupan sosial dewasa ini. Reformasi sosial dari ibadah puasa, dengan demikian diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai moral yang senapas dengan nilai-nilai keislaman secara universal: keadilan, kebenaran, dan demokrasi. Karenanya, bukan tanpa kebetulan bila tahun 1995, Kuntowijoyo memasukkan disiplin moral dan demokrasi sebagai sebuah dari pendidikan puasa. 


* Sukidi, Staf Yayasan Paramadina dan Alumnus IAIN Jakarta, tinggal di Ciputat.


Sumber: Kompas, 15 Januari 1999

Rabu, 14 Januari 2026

, , ,

MENGUCILKAN SDSB

TEMPO, No. 46, Tahun XVIII, 14 Januari 1989)


Oleh: M. Amien Rais



Porkas  itu, kata K.H. Hasan Basri suatu ketika, mengandung lebih banyak mudarat daripada manfaat. Artinya, daya rusak lebih banyak mudarat daripada manfaat. 


Yang dimaksud Ketua MUI tentunya Porkas itu judi. Barangkali, tata krama Melayu menyebabkan beliau tidak sampai hati menegaskan Porkas sama dengan judi. Penegasan sebagai judi dinyatakan oleh MUI Jawa Barat dan Jawa Timur.


Almarhum Blegoh Sumarto, seorang tokoh DPRD Jawa Timur, menentang Porkas dengan alasan telah merusakkan mental dan ekonomi rakyat kecil. Para pendidik dan orangtua juga menyatakan keprihatinan terhadap Porkas lewat berbagai media massa. Mereka cemas dan khawatir karena sebagian anak didik dan generasi muda bangsa telah kecanduan Porkas.


F-KP, fraksi Golkar di DPR, akhirnya angkat bicara, meminta Porkas ditinjau kembali. Pendapat "dari dalam" ini cukup menyegarkan. Porkas, yang telah bergentayangan hampir di seluruh tanah air berdasarkan SK Mensos No. BSS-26-12/87, oleh F-KP diusulkan supaya ditinjau kembali.


Dalam eufemisme bahasa kita, arti "ditinjau kembali" adalah dihapuskan. Akan tetapi setelah gelombang protes beruntun, Porkas tidak dihapuskan. Ia hanya berganti baju menjadi KSOB. Yang terakhir ini pun tidak pernah sepi dari protes masyarakat, karena dampak sosial, mental, dan psikis KSÓB cukup destruktif bagi masyarakat. Pada gilirannya, dampak destruktif itu makin meluas. 


Mentalitas spekulatif, untung-untungan, dan mental pemalas makin membudaya. Banyak pedagang mengeluh karena pasar jadi lesu. Kriminalitas di kampung-kampung juga cenderung meningkat. Banyak rumah tangga guncang dan ambruk.


Bukti-bukti faktual yang ada tampaknya belum cukup untuk menghapuskan sama sekali KSOB, yang merupakan kelanjutan Porkas. Sekarang KSOB berganti baju lagi menjadi SDSB, dengan sedikit perubahan di sana-sini.


Memang agak sulit menembak Porkas, TSSB, KSOB, dan SDSB dengan senapan agama dan bedil hukum. Seorang ulama dengan logika akrobatik fikih dapat saja berfatwa bahwa SDSB bukan judi, dengan dalih para pemainnya tidak berhadap-hadapan. Seorang ahli hukum, dengan logika yang sama, juga dapat mengatakan bahwa SDSB bukan judi, karena sulit dijaring oleh pasal-pasal KUHP. 


Namun, menarik untuk diamati reaksi masyarakat dan beberapa pejabat tinggi terhadap SDSB. Seperti dapat diduga, kaum agamawan, kaum pendidik, kaum pemimpin informal, dan banyak orangtua akan terus menyatakan keprihatinan terhadap SDSB. Sikap mereka terhadap SDSB kira-kira sama dengan sikap sebelumnya terhadap Porkas dan KSOB.


Sementara itu, Pemda Aceh dan NTT telah melarang SDSB memasuki wilayahnya. Semua gubernur akan memperketat pengawasan peredaran SDSB. Sejumlah mahasiswa UGM dengan diantar Rektor Koesnadi menemui Pemda DIY, meminta agar SDSB tidak diedarkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.


Dalam sebuah ceramah, seorang panglima sebuah kodam mengatakan bahwa setiap anggota ABRI dalam jajaran kodam yang dipimpinnya dilarang membeli SDSB. Bila ada oknum yang jadi backing agen SDSB, kata panglima, oknum itu akan digebukin. 


Pihak penyelenggara SDSB sendiri tampaknya menderita rasa salah. Buktinya, mereka menganjurkan supaya penjualan SDSB dijauhkan dari sekolahan dan rumah-rumah ibadat. Jadi, dapat disimpulkan, memang ada yang tidak beres atau ada daya rusak yang terkandung dalam SDSB.


Nama SDSB-pun, sebagai kepanjangan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah, agak menyesatkan. Derma adalah sebagian kecil dari penghasilan seseorang yang dikeluarkan untuk menolong orang lain. Bila seorang abang becak, tukang kayu, tukang batu, kuli bangunan, atau pegawai rendah membeli kupon SDSB seharga Rp5.000, jelas mereka tidak sedang berderma.


Abang becak yang berpenghasilan sekitar Rp20.000 seminggu, dan ditunggu oleh istri dan anak-anaknya di rumah, pada hakikatnya sedang bunuh diri perlahan-lahan bila setiap minggu membeli satu atau dua kupon SDSB. Dalam kenyataan, kebanyakan mereka yang tergila-gila pada SDSB adalah rakyat kecil yang dililit kesulitan hidup. SDSB bagi mereka menjadi eskatolog semu, pembebas palsu dari derita ekonomi sehari-hari.


Setelah Porkas dan KSOB, mengapa lahir SDSB? Jawabnya pasti, karena kita perlu biaya besar untuk pembinaan olahraga. Sesungguhnya, bukan olahraga saja yang butuh biaya besar. Pembinaan pendidikan dan pembinaan kesehatan masyarakat, misalnya, juga perlu biaya besar. Toh kita dapat mengelola pendidikan dan kesehatan tanpa lewat kupon-kupon undian. 


Atau mungkin sudah menyangkut prestise dan wibawa pihak penyelenggara? Bila Porkas dan KSOB dihapuskan menuruti protes masyarakat, jangan-jangan prestise dan wibawa itu melorot? Seharusnya tidak demikian. Tradisi bangsa kita mengajarkan bahwa mengambil sikap surut dan mundur dari suatu keputusan yang keliru justru pertanda sifat kesatria dan jiwa besar. Cerita pewayangan penuh dengan tamsil-tamsil seperti itu.


Jadi? Prestise olahraga kita memang belum meningkat sejak Porkas dan KSOB digelarkan. Yang meningkat mungkin adalah keuntungan para distributor dan agen kupon undian yang berdaya tarik masal itu.


Nah, sesuai dengan anjuran pemerintah, sebaiknya SDSB memang diperketat pengedarannya, dipersulit aksesnya, dan dikucilkan dari masyarakat ramai. Jangan lupa, suatu ketika bila SDSB sudah dihapuskan dan dikubur total, kita masih menghadapi persoalan kelewat berat.


Persoalan itu adalah bagaimana kita dapat melakukan rekonstruksi mental masyarakat. Bagaimana memulihkannya kembali setelah beberapa tahun rusak berat akibat Porkas dan saudara-saudaranya. Membangun kembali sesuatu yang sudah hancur bukan perkara mudah. Proses rekonstruksi selalu lebih sulit dan pelik daripada proses destruksi. Hal ini bukan masalah enteng.


Semoga, kelak setelah dikubur, SDSB tidak lagi mengalami reinkarnasi, menjadi makhluk lain yang lebih ganas. Makhluk dengan seribu satu buntut yang membuat kita semua kewalahan.


Sumber: TEMPO, No. 46, Tahun XVIII, 14 Januari 1989

Selasa, 13 Januari 2026

,

Demokrasi Dekaden


Oleh: Yudi Latif


Demokrasi sering disebut dalam konotasi positif. Namun, yang lebih berkembang di negeri ini sisi negatifnya. 

Aristoteles membagi sistem pemerintahan ke dalam tiga kategori. Pada setiap kategori, ada bentuk yang baik, ada yang buruk. Pemerintahan oleh satu orang:  yang baik, kerajaan; yang buruk, tirani. Pemerintahan oleh sedikit orang:  yang baik, aristokrasi; yang buruk, oligarki. Pemerintahan oleh banyak orang: yang baik, polity; yang buruk, demokrasi. 

Polity adalah sistem pemerintahan oleh banyak orang dengan dukungan kelas menengah terdidik yang besar. Sedangkan demokrasi adalah pemerintahan oleh banyak orang dengan kehadiran rakyat miskin tak terdidik yang besar. 

Aristoteles cenderung memilih pemerintahan oleh banyak orang karena, "yang banyak lebih sulit terkorupsi ketimbang yang sedikit" bak samudera yang tak mudah tercemar. Meski begitu, ia tak menghendaki keliaran demokrasi.

Dalam bahasa Yunani, kata 'demos' bisa berarti  rakyat (people), bisa juga berarti 'kerumunan jelata' (mob). Menurut Aristoteles, dalam demokrasi dengan kaum miskin yang besar, pemerintahan mudah jatuh pada logika kerumunan. Bagi kaum miskin "terlalu sedikit yang dipertaruhkan" (too little to lose). Hak suara bisa mudah dipertukarkan dengan kepentingan segera. 

Sebaliknya, pemerintahan juga sangat riskan bila dikuasai segelintir oligarki. Oligarki hartawan, menurutnya, terlalu banyak yg harus dilindungi. 

Yang ideal itu polity dengan dukungan kelas menengah yang besar. Di sini, rasionalitas dan keseimbangan politik terjaga dengan nalar dan keterlibatan aktif warga dalam mengemban hak dan kewajiban kewargaan.

Indonesia memang tak bisa menunggu kehadiran kelas menengah yg besar untuk mengusung pemerintahan. Yang bisa dilakukan adalah memasang sabuk pengaman, agar pemerintahan tak terjerembab pada pragmatisme kerumunan atau dikendalikan oleh oligarki. 

Para pendiri bangsa sudah bisa mengendus kemungkinan itu, dan secara visioner telah merancang sabuk pengamannya dengan memilih "sistem sendiri": sistem demokrasi Pancasila yang mengatasi paham perseorangan dan golongan, dengan sistem perwakilan yang mengakomodasi segala unsur kekuatan rakyat yang menjelma dalam MPR.


, ,

KOMEDI KEADILAN VERSI PANJI


Oleh ReO Fiksiwan


"Struktur dan makna lelucon, serta struktur dan makna konsep filosofis, terbuat dari bahan yang sama.” — Thomas Cathcart(84) & Daniel Klein(86), Plato and a Platypus Walk into a Bar… (2007; Kanisius 2011).

Di panggung monolog Mens Rea, Pandji Pragiwaksono yang kini berusia 46 tahun tampil dengan gaya khasnya: satir, tajam, dan frontal. Potongan kalimat yang viral di Netflix dan media sosial—“Soal keadilan, hari ini kita cuma bisa berharap pada diri kita sendiri. 

„Mau berharap ke siapa? Polisi membunuh, tentara berpolitik, presiden memaafkan koruptor, wapres kita… Gibran”—menjadi semacam pukulan telak yang mengundang tawa getir sekaligus renungan mendalam. 

Pandji tidak sekadar melucu, ia menertawai model kekuasaan yang kemaruk dan brutal, yang justru menjauhkan rakyat dari rasa keadilan.

Komedinya bekerja seperti cermin retak: setiap pecahan memantulkan wajah institusi yang seharusnya menjaga hukum, tetapi justru menambah luka. 

Dalam tradisi filsafat keadilan John Rawls, keadilan adalah fairness, sebuah sistem yang memastikan distribusi hak dan kewajiban secara merata. Namun di tangan Pandji, Rawls seakan dihadirkan kembali dalam bentuk parodi. 

Ia teIah menunjukkan bahwa prinsip keadilan yang mestinya melindungi yang lemah justru dipelintir oleh kekuasaan yang rakus. 

Ketika aparat bersenjata masuk ke gelanggang politik, ketika pengampunan terhadap koruptor menjadi kebiasaan, maka “veil of ignorance” Rawlsian runtuh, digantikan oleh tirai kepentingan yang transparan.

Humor Pandji juga bisa dibaca melalui lensa Thomas Cathcart dan Daniel Klein dalam Plato and a Platypus Walk into a Bar…. Buku itu menjelaskan bagaimana filsafat bisa dijelaskan lewat lelucon, dan bagaimana humor menjadi alat untuk mengungkap absurditas sosial. 

Menurut Cathcart, alumni filsafat Harvard, teologi di University of Chicago dan Klein, penulis dan homoris kelahiran Massachusetts, AS, humor dan filsafat sama-sama berfungsi untuk mengganggu cara pandang konvensional, menyingkap kontradiksi, dan memaksa kita melihat dunia dari sudut berbeda.

Humor politik, menurut mereka, adalah cara paling sederhana untuk menunjukkan absurditas kekuasaan. 

Dengan lelucon, publik bisa melihat bahwa banyak praktik politik sebenarnya tidak masuk akal, dan tawa menjadi bentuk perlawanan

Pandji mempraktikkannya dengan sempurna: ia menertawakan absurditas kekuasaan, bukan untuk sekadar menghibur, melainkan untuk membuka ruang kesadaran. 

Tawa yang lahir dari penonton bukanlah tawa kosong, melainkan tawa yang mengandung kritik, sebuah humor politik yang menyingkap ironi keadilan di negeri ini.

Reaksi publik pun beragam. 

Ada yang menilai Pandji terlalu keras, ada yang menganggapnya sekadar refleksi kegelisahan kolektif. 

Namun satu hal jelas: komedi ini berhasil memantik diskusi besar tentang siapa yang seharusnya menjadi sandaran keadilan. Ketika institusi gagal, rakyat dipaksa menoleh ke diri sendiri. 

Pandji menegaskan bahwa keadilan bukanlah hadiah dari penguasa, melainkan kesadaran warga untuk terus bersuara, meski dengan risiko ditertawakan atau dicibir.

Komedinya adalah perayaan keberanian. 

Ia menertawakan kekuasaan yang brutal, sekaligus mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh mati dalam diam. 

Di tengah rapuhnya sistem, komedi menjadi senjata yang paling jujur: ia menghibur sekaligus menggugat. 

Pandji menunjukkan bahwa di balik tawa, ada luka; dan di balik luka, ada harapan yang hanya bisa dijaga oleh keberanian dengan akal waras rakyat sendiri.


#coversongs:

Humorous Songs dari album Midnight Woods Melody dirilis pada 26 Agustus 2024 oleh grup The Three of Us. Album ini berisi 30 lagu dengan durasi total sekitar 56 menit. 

Makna dari karya ini adalah menghadirkan nuansa humoris sekaligus reflektif, menggunakan musik sebagai medium untuk menertawakan absurditas hidup, sambil tetap memberi ruang bagi renungan tentang kebersamaan dan keindahan alam malam.


Sumber:

https://www.facebook.com/share/p/185QVcDoJi/


TERBARU

MAKALAH