alt/text gambar

Jumat, 03 Juli 2026

,

Bagaimana Uang Bekerja?


Cangkang bilalu dan dolar memiliki nilai hanya dalam imajinasi kita bersama. Nilainya tidak ada dalam struktur kimiawi atau warna atau bentuk cangkang dan kertas. Dengan kata lain, uang bukanlah kenyataan material—uang adalah produk psikologis. Uang bekerja dengan mengubah zat menjadi pikiran.

Namun mengapa uang berhasil? Mengapa orang bersedia menukar sawah yang subur dengan segenggam cangkang bilalu tak berguna? Mengapa Anda bersedia membolak-balik daging hamburger, menjual asuransi kesehatan, atau mengawasi tiga anak manja menyebalkan padahal yang Anda dapatkan untuk jerihpayah Anda hanyalah beberapa lembar kertas berwarna? 

Orang-orang bersedia melakukan hal-hal semacam itu sewaktu mereka mempercayai potongan-potongan imajinasi kolektif mereka. Kepercayaan adalah bahan mentah yang digunakan untuk mencetak semua jenis uang. Ketika seorang petani kaya menjual harta bendanya seharga sekarung cangkang bilalu yang dia bawa ketika berpindah ke provinsi lain, dia percaya bahwa sewaktu mencapai tempat yang dia tuju, orang-orang lain akan bersedia menjual beras, rumah, dan sawah kepadanya, ditukar dengan cangkang-cangkang itu. 

Dengan demikian uang adalah sistem kesaling-percayaan, dan bukan sembarang sistem kesaling-percayaan: uang adalah sistem kesaling-percayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan. 

Yang menciptakan kepercayaan itu adalah jejaring hubungan politik, sosial, dan ekonomi jangka panjang yang sangat kompleks. Mengapa saya mempercayai cangkang bilalu atau koin emas atau lembaran dolar? Karena tetangga-tetangga saya mempercayainya. Dan tetangga-tetangga saya mempercayainya karena saya mempercayainya. Dan kami semua mempercayainya karena raja kami mempercayainya dan menghendakinya dalam bentuk pajak, dan karena rohaniwan kami mempercayainya dan menghendakinya dalam persepuluhan. 

Ambil selembar uang dolar dan amati secara saksama. Anda akan lihat bahwa uang itu tak lebih daripada selembar kertas berwarna-warni dengan tanda tangan menteri keuangan AS di satu sisi, dan slogan “In God We Trust” di sisi lain. Kita menerima dolar untuk pembayaran, karena kita mempercayai Tuhan dan menteri keuangan AS. 

Peran penting kepercayaan menjelaskan mengapa sistem keuangan kita terjalin sedemikian erat dengan sistem politik, sosial, dan ideologi kita, mengapa krisis keuangan kerap dipicu oleh perkembangan politik, dan mengapa naik-turunnya pasar saham bergantung kepada perasaan para pedagang saham pada suatu pagi.

(Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Jakarta; KPG, 2025, h. 213-214) 

***

Pada 2006, total jumlah uang di dunia adalah sekitar $473 triliun, namun jumlah total uang logam dan uang kertas kurang daripada $47 triliun. Lebih daripada 90 persen uang—lebih daripada $400 triliun yang muncul di rekening kita—hanya ada di server-server komputer. Dengan demikian, sebagian besar transaksi bisnis dijalankan dengan memindahkan data elektronik dari satu berkas komputer ke berkas lain, tanpa bertukar uang tunai fisik. Hanya kriminal yang membeli rumah, misalnya, dengan menyerahkan sekoper penuh uang kertas. Selama orang bersedia bertukar barang dan jasa dengan data elektronik, uang jenis ini bahkan lebih baik daripada uang logam yang mengkilap dan uang kertas yang mulus—lebih ringan, tidak menyita tempat, dan lebih mudah diawasi.

(Yuval Noah Harari, Sapiens, h. 211)


7 Cara Baca Buku yang Baik untuk Latih Memori Jangka Panjang

Membaca buku bukan sekadar melihat rangkaian kata, tetapi merupakan proses memahami, menghubungkan, dan menyimpan pengetahuan dalam ingatan. Membaca dengan cara yang tepat membantu seseorang memperoleh manfaat yang lebih besar daripada membaca dengan tergesa-gesa tanpa memahami isi bacaan.

Secara filosofis, membaca adalah dialog antara pikiran pembaca dan gagasan penulis. Semakin aktif seseorang berpikir selama membaca, semakin besar kemungkinan pengetahuan tersebut dipahami dan diingat dalam jangka waktu yang lebih lama.

1. Tentukan tujuan sebelum membaca

Sebelum mulai membaca, tentukan terlebih dahulu apa yang ingin dipelajari dari buku tersebut. Tujuan yang jelas membantu otak memusatkan perhatian pada informasi yang paling penting.

Ketika membaca dengan arah yang jelas, otak lebih mudah menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

2. Membaca secara perlahan dan penuh perhatian

Membaca terlalu cepat sering membuat isi bacaan sulit dipahami. Berikan waktu bagi diri sendiri untuk memahami setiap gagasan utama sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Secara filosofis, pengetahuan tidak diukur dari banyaknya halaman yang dibaca, tetapi dari seberapa baik seseorang memahami makna yang terkandung di dalamnya.

3. Mengajukan pertanyaan saat membaca

Biasakan bertanya kepada diri sendiri, seperti "Apa gagasan utama bagian ini?" atau "Mengapa penulis menyampaikan pendapat tersebut?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana membuat otak bekerja lebih aktif. Cara ini membantu memperkuat pemahaman sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.

4. Membuat catatan dengan kata-kata sendiri

Tuliskan gagasan penting menggunakan kalimat yang mudah dipahami menurut pemahamanmu sendiri.

Menjelaskan kembali isi bacaan dengan bahasa sendiri membantu otak mengolah informasi secara lebih mendalam sehingga lebih mudah disimpan dalam ingatan jangka panjang.

5. Mengulang kembali isi bacaan

Setelah selesai membaca, cobalah mengingat kembali poin-poin utama tanpa langsung melihat buku.

Secara filosofis, mengingat kembali merupakan latihan bagi akal budi untuk memperkuat hubungan antarpengetahuan. Pengulangan yang dilakukan secara berkala membantu ingatan bertahan lebih lama dibandingkan membaca sekali saja.

6. Menghubungkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari

Pengetahuan akan lebih mudah diingat ketika dikaitkan dengan pengalaman, pekerjaan, atau persoalan yang nyata.

Semakin sering ilmu diterapkan dalam kehidupan, semakin kuat jejaknya dalam ingatan dan semakin besar manfaatnya bagi perkembangan diri.

7. Berdiskusi dan mengajarkan kembali kepada orang lain

Salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah kita benar-benar memahami sebuah buku adalah dengan menjelaskan isinya kepada orang lain.

Secara filosofis, pengetahuan yang dibagikan akan semakin dipahami oleh orang yang menyampaikannya. Diskusi juga membuka kesempatan untuk melihat suatu gagasan dari berbagai sudut pandang.

Membaca buku dengan benar bukan tentang seberapa cepat menyelesaikan sebuah bacaan, melainkan tentang seberapa baik memahami, mengingat, dan menerapkan isi buku tersebut. Kebiasaan membaca yang disertai perhatian, refleksi, pengulangan, dan diskusi akan membantu memperkuat ingatan jangka panjang.

Buku bukan hanya sumber informasi, tetapi juga sarana untuk membentuk cara berpikir yang lebih logis, kritis, dan bijaksana. Ketika membaca dilakukan dengan kesungguhan dan dipadukan dengan latihan mengingat secara teratur, pengetahuan akan menjadi bagian dari kehidupan dan terus memberi manfaat sepanjang hayat.


Ilmu Filsafat

Sumber Fb

Senin, 29 Juni 2026

,

SELAMAT BERPUASA, SEMOGA MENJADI PEMENANG


Oleh: A.S. Laksana

(Jawa Pos, 29 Juni 2014)


Ini hari kedua bulan Ramadan jika Anda memulai puasa kemarin dan hari pertama jika Anda memulainya hari ini. Saya menyampaikan selamat berpuasa dan tetaplah seperti diri Anda sebagaimana biasanya. Anda tidak perlu menjadi seseorang yang berbeda, atau ajaib, hanya karena ini bulan Ramadan. Saya berharap puasa Ramadan Anda kali ini berhasil dan Anda bisa mempertahankan kualitas pribadi Anda sebagai "orang yang berpuasa”, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan Syawal, Sya'ban, Muharam, dan di seluruh bulan selama setahun..


Ada satu cerita yang saya ingat tentang puasa, bukan kisah dari zaman nabi atau para sahabat, tetapi cerita dari pesisir Semarang di abad ke-15. Pada waktu itu armada Laksamana Cheng Ho singgah di sana dan beberapa anak buahnya tidak bisa melanjutkan pelayaran karena ada yang sakit. Mereka yang menetap di Semarang itu dipimpin oleh seseorang yang di masa sekarang dikenal sebagai Kiai Juru Mudi Dampo Awang.


Kiai Juru Mudi dan para awak kapal yang menetap di Semarang adalah para pemeluk agama Islam dan pelan-pelan mereka mengajarkan keyakinan mereka kepada penduduk setempat. Mereka membangun surau untuk salat berjamaah dan bangunan itu dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi Klenteng Gedung Batu. Buku sejarah klenteng menjelaskan bahwa perubahan dari surau menjadi klenteng ini dilakukan oleh orang-orang yang datang kemudian dan mereka bukan pemeluk Islam. Orang-orang Tionghoa, Anda tahu, memiliki tradisi menghormati leluhur. Maka, mereka memugar surau sederhana itu sesuai dengan keyakinan mereka. Jadilah klenteng.


Makam Kiai Juru Mudi ada di dalam salah satu ruangan di klenteng tersebut. Hingga beberapa tahun lalu, ketika saya pulang terakhir kali ke Semarang dan mengunjungi klenteng tersebut, para peziarah beragama Islam masih bisa masuk ke dalam ruangan sampai di samping makam. Mungkin sampai sekarang masih begitu. Yang non-muslim hanya bisa melakukan persembahyangan di luar ruangan.


Di Semarang, Kiai Juru Mudi juga menyampaikan kepada penduduk setempat bahwa dalam satu tahun ada satu bulan di mana kita perlu menahan haus dan dahaga. "Itu baik bagi kesehatan," katanya. la mengajarkan puasa Ramadan dan para penduduk setempat mengikuti sarannya. Namun, beberapa waktu kemudian mereka menggugat sang Juru Mudi dan mencemoohnya: "Kami mengikuti apa yang kau ajarkan, tidak makan dan minum, tetapi kau sendiri rupanya makan sembunyi-sembunyi saat kami semua sedang tidur.”


Rupanya ada satu orang di antara penduduk setempat yang pada suatu malam di bulan Ramadan menyaksikan bahwa lampu di rumah Kiai Juru Mudi menyala. Orang itu penasaran dan kemudian mengintip apa yang dilakukan oleh pemilik rumah. la melihat Kiai Juru Mudi sedang makan dan mengira Kiai Juru Mudi, yang menganjurkan tidak makan dan minum selama sebulan, makan sembunyi-sembunyi. Dengan perasaan marah, keesokannya ia menyampaikan apa yang ia lihat kepada orang- orang lain dan mereka semua marah. Penduduk setempat, dengan pengetahuan yang belum lengkap, merasa sedang dikelabui oleh orang yang mereka percayai. Tetapi pada masa itu, ketika urusan dan kepentingan orang belum serumit sekarang, kesalahpahaman mudah sekali diselesaikan. Orang masih bisa dengan mudah menerima penjelasan orang lain dan mereka jadi mengerti bahwa dalam menjalankan puasa itu orang boleh makan sahur di malam hari. 


Itu cerita yang lucu dan memunculkan sebuah adegan yang menarik di dalam benak saya. Karena itu, ketika beberapa tahun lalu saya memiliki kesempatan menulis tujuh episode untuk sinetron serial Laksamana Cheng Ho, yang dibintangi antara lain oleh Yusril Ihza Mahendra (sebagai Cheng Ho) dan Pak Wagub Jawa Timur Gus Ipul (sebagai Raja Majapahit Wikramawardhana), saya menyelipkan adegan itu. Saya tidak tahu apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau tidak. Saya menemukannya di buku sejarah klenteng Sam Po Kong yang saya baca ketika masih sekolah. Rumah orang tua saya tidak jauh dari klenteng itu dan saya sering bersepeda ke sana ketika kecil, mengagumi bangunan, dan mempercayai bahwa akar-akar pepohonan di belakang bangunan tersebut dulunya adalah rantai kapal. Belakangan, saya pernah juga membaca tulisan yang menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho tidak pernah singgah di Semarang.


Entah mana yang benar, tetapi saya sebenarnya lebih menyukai bahwa peristiwa itu benar- benar terjadi dan memperkaya khazanah tentang hal-hal sepele yang pernah berlangsung di negeri ini. la akan menjadi satu kepingan kecil yang, bersama-sama keping-keping lainnya, membentuk mozaik keindonesiaan kita. Saya mensyukuri keberagaman. Saya mensyukuri bahwa kita hidup di negara yang memiliki benteng kuat untuk mempertahankan keberagaman tersebut.


Saya bersyukur bahwa di dalam masyarakat kita ada dua organisasi keagamaan yang bernama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya saling melengkapi dan, dengan kehadiran keduanya, kita memiliki benteng tangguh yang menjadikan kecenderungan kecenderungan ekstrem semacam Taliban di Afganistan mustahil mendapatkan tempat di negara ini.


Kalau saat ini kita merasakan adanya suhu yang sedikit memanas, saya yakin itu hanya hal sesaat yang coba dikobarkan oleh para politisi, dengan kepentingan pragmatis mereka terhadap kekuasaan. Bahkan saya tetap bisa tenang ketika mendapat kabar tentang pertemuan di Jogja yang diberi judul "Perang Melawan Pluralisme". Saya kira itu hanya tindakan dari kelompok kecil yang tidak memahami sejarah dan tidak mau tahu tentang sejarah negeri ini.


"Apa yang saya bisa tinggalkan hanyalah rohku saja, yaitu roh setia hingga terakhir pada tanah air, dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun, menuju cita-cita kebangsaan yang ketat," tulis Robert Wolter Monginsidi di dalam penjara tentara pendudukan Belanda (NICA). la 21 tahun saat itu. Tiga tahun kemudian, subuh, 5 September 1949, pemuda Minahasa ini dieksekusi dan ia menolak ketika matanya akan ditutup: "Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku."


Saya membaca kisahnya di waktu kecil, dan membaca lagi tentangnya beberapa tahun lalu. Jika kelompok kecil yang hendak memerangi pluralisme itu juga membacanya, mereka akan paham bahwa kemerdekaan negeri ini diupayakan dan dipertahankan tidak saja oleh orang-orang Islam, tetapi juga oleh para pemeluk agama lain seperti Wolter dan lain-lainnya. Tidak hanya oleh orang Batak, tetapi juga oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan lain- lainnya. Tidak hanya oleh para lelaki, tetapi juga oleh kaum perempuan.


Maka ketika seorang teman menceritakan dengan kalut tentang seseorang yang berteriak- teriak menyerukan perang melawan pluralisme itu, saya menjawabnya guyon saja, "Jadi saya sebagai orang Jawa harus memerangi orang Batak, Madura, Sunda, Badui, Tengger, Betawi, Tionghoa, Arab, dan lain-lain sampai di Nusantara, atau setidaknya di pulau Jawa ini hanya tersisa orang Jawa?"


Benar bahwa kita perlu berhati-hati, benar bahwa kita tidak boleh meracuni diri sendiri dengan pemikiran yang sempit dan picik, tetapi saya kira tidak perlu memelihara rasa cemas yang berlebihan. Kita hanya perlu menjaga pikiran kita sendiri agar tetap sadar dan waras. Seorang teman pernah memberi tahu saya, dulu menjelang saya menikah, "Ingat, Bung, mulai besok kau lelaki beristri. Jangan sekali-kali melayangkan tanganmu untuk menyakiti istrimu, sebab sekali kau melakukannya, kau akan cenderung mengulanginya, dan tanganmu akan lebih enteng melayang di saat-saat berikutnya."


la benar sepenuhnya dan benar untuk jenis-jenis kebiasaan yang lain: membanting pintu, melempar asbak, melontarkan fitnah, memaki serampangan, dan lain-lain. "Hal paling sulit adalah melakukan sesuatu untuk kali pertama," katanya. "Yang kedua dan seterusnya akan semakin mudah dan pada akhimya kau bisa melakukannya tanpa merasa bersalah sama sekali."


Dari sana kita bisa belajar satu hal, ialah bahwa kita selalu memiliki alasan untuk segala tindakan. Jika Anda telanjur melanggar, Anda punya alasan untuk menjelaskan kenapa Anda melakukan pelanggaran. Jika Anda terus bertahan lurus, Anda pun memiliki alasan kenapa Anda memilih tetap lurus. Hal itu sama belaka dengan jika kita mengatakan kepada teman kita, "Kau kelihatan kusut sekali. Ada masalah?" Maka teman kita akan segera menyampaikan hal-hal yang membuatnya kusut. Sebaliknya, jika kepada orang itu Anda menyampaian, "Kau kelihatan cerah sekali hari ini," ia akan langsung menyampaikan kepada Anda hal-hal menyenangkan yang membuat parasnya cerah.


Pikiran adalah hal terkuat yang kita miliki, tetapi ia juga bisa menjadi hal yang paling rentan dan mudah dipengaruhi. Dengan kekuatan pikiran manusia membentuk sejarahnya, dengan kelemahan pikiran manusia tersuruk-suruk dalam menjalani hidupnya, terombang-ambing oleh ketidakpastian, dan mudah sekali menelan pelbagai jenis sampah yang dijejalkan oleh orang-orang lain. Ada prinsip sepele tentang pikiran, yakni jika Anda sendiri tidak mampu mengendalikan kesadaran Anda, maka orang lain yang mengendalikannya. Orang-orang lain yang akan menjejali kepala Anda dengan apa pun yang mereka suka. Pada saat itu kita kalah.


Selamat berpuasa. Saya tidak ingin Anda kalah. Saya berharap Anda keluar sebagai pemenang saat bulan Ramadan ini berakhir. Saya berharap Anda bisa mempertahankan diri sebagai "orang yang berpuasa" dalam setiap perilaku Anda di bulan-bulan apa pun, selama setahun penuh, sampai tiba Ramadan berikutnya. (*)


Akun twitter: @aslaksana


Sumber: Jawa Pos, 29 Juni 2014

Jumat, 26 Juni 2026

, ,

Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijiriah


Tanpa terasa waktu berlalu. Detik demi detik. Masa demi masa. Maka bagi orang yang selalu ingat kepada Allah, ia memanfaatkan waktu yang ada ini dengan berlomba-lomba melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya.

Firman Allah, surat Al Ashr

Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal saleh. Selalu nasihat menasihati agar tetap berada di jalan yang benar. Dan selalu nasihat-menasihati untuk tetap bersabar dalam segala hal.

Dalam sebuah hadits:

Siapa yang hari ini sama dari hari kemarin, dia rugi.

Siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dia celaka.

Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia beruntung.

Oleh karena itu, hendaknya setiap kita selalu bermuhasabah, menghitung diri. Introspeksi diri. Meningkatkan kualitas spiritualitas kita. Sudahkah kita menjadi orang baik? Baik itu bukan sekedar rajin shalat, rajin ke masjid, rajin puasa saja. Tapi Allah telah menitipkan kepada kita fisik (badan) kita ini, sudahkah kita mempergunakannya untuk berbuat kebajikan bagi kehidupan manusia? Sudah berapa banyakkah kita berbuat baik dengan melakukan yang bermanfaat bagi kehidupan, terutama pada kehidupan manusia.

Jadi, tubuh yang merupakan pemberian Allah ini, mesti kita pergunakan ia agar memberi manfaat bagi orang lain. Ada banyak perbuatan kebajikan—yang dalam bahasa agamanya itu “amal saleh”— yang bisa kita lakukan. Apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, ia bernilai sedekah.

Oleh karena itu, kita harus selalu bersedekah dengan apa saja yang ia miliki. Karena pada intinya, sedekah itu ialah melakukan sesuatu yang benar. Jadi, bukan dalam bentuk memberikan uang saja. Tapi apa saja perbuatan baik itu pada hakikatnya adalah sedekah.

Rasul menggambarkan dalam banyak hadits:

Membuang duri di jalan, adalah sedekah.

Senyum adalah sedekah;

Bahkan memberi minum anjing yang kehausan pun bernilai sedekah.

Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah bersabda: "Seseorang mengalami rasa haus yang sangat saat dalam perjalanan, ketika ia menemukan sebuah sumur. Ia turun ke dalamnya dan minum (air) dan kemudian keluar dan melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya karena haus dan memakan tanah yang lembab. Orang itu berkata: Anjing ini telah menderita haus seperti yang aku alami. Ia turun ke dalam sumur, mengisi sepatunya dengan air, lalu menangkapnya di mulutnya hingga ia naik dan memberi minum anjing itu. Maka Allah menghargai perbuatannya ini dan mengampuninya. Kemudian (para Sahabat di sekelilingnya) berkata: Wahai Rasulullah, apakah ada pahala bagi kami bahkan untuk (melayani) hewan-hewan seperti ini? Ia berkata: Ya, ada pahala untuk setiap hewan yang hidup.

Menolong binatang saja sudah bernilai ibadah, apalagi menolong orang yang kesusahan.

Karena itulah Rasulullah mengatakan, “Khairunnas anfa uhum linnas. Manusia yang paling baik itu ialah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.”

Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba melakukan kebajikan dalam hidup kita. Kebajikan itu bukanlah hanya shalat, puasa, haji, dan ibadah formal lainnya, tapi apa saja perbuatan baik yang kita lakukan, akan bernilai sedekah di hadapan Allah.

Seorang pegawai yang kerja di kantor tapi dipasangkan niat yang benar untuk memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat, untuk mencari nafkah yang halal, membiayai sekolah anak, menghidupi rumah tangga, itu sudah bernilai sedekah.

Seorang petani yang berangkat kerja untuk mencari penghidupan yang halal, juga sudah bernilai sedekah. Kita tak bisa bayangkan seandainya tak ada lagi petani yang mau menanam padi, tak ada lagi peladang yang menanam berbagai kebutuhan pokok, bagaimana mungkin manusia bisa memenuhi kebutuhan pokonya? Jadi, semua pekerjaan itu merupakan sesuatu bernilai manfaat bagi kehidupan manusia. Dan ia bernilai ibadah jika dipasangkan niat untuk mencari ridha Allah.

Jadi, bekerja di kantor itu menjadi amal yang saleh, menjadi pangkal kebahagiaan kehidupan di akhirat—hidup yang sejati itu. 

Kita mencari makan, berdagang, misalnya, itu pekerjaan duniawi. Tapi pasanglah niat: mengapa engkau mencari makan? Karena ada perintah Allah dalam al Qur'an:

"Makanlah segala yang baik rezeki yang Kami berikan kepada kamu…" (Q.s. Al-Baqarah, ayat 172)

Karena ada perintah Allah "makanlah!", maka segala usaha mencari makan tadi karena berdasar kepada ayat itu ia akan menjadi amal buat akhirat. 

Atau seperti menjadi pedagang: apa kata Rasulullah? "Seorang pedagang yang jujur dan amanah akan dibangkitkan bersama para nabi, para shiddiqin, serta para syuhada (orang-orang yang mati syahid)." [HR. At-Tirmidzi 1209, Shahih At-Targhib]

Jujur! Ucapan yang mudah betul, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Tapi itu suatu alat untuk membahagiakan kita pada akhirat kelak. 

Atau yang lain-lain. Dalam al Qur'an banyak perintah:

- Makanlah buah-buahan itu. Artinya, kita diperintahkan untuk menanam supaya dapat melaksanakan perintah Allah itu. 

- Berjalanlah di muka bumi. Injak bahu bumi. Makan rezeki dari bumi itu. 

Jadi, segala amalan kita di dunia ini bisa jadi sumber kebahagiaan di akhirat. 

Bukan "ah saya tidak mau lagi bekerja duniawi, saya mau jadi orang saleh saja.” Bukan saleh namanya. 

Jadi, itulah maksud perkataan Rasulullah:

"Addun-ya mazra'atul akhirah."

Dunia itu suatu "mazra'ah"—suatu kebun, yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat. 

Sebagai uraian penutup, khatib menyampaikan, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dan berhijrahlah.

Tentang hijrah, ada cerita menarik dari KH Zainuddin MZ:

Di kaki Gunung Galunggung, ada seorang kiyai, namanya Kiyai Syadili. Ketika Galunggung mau meletus, orang menyarakan beliau pindah tempat tinggal. Tapi beliau tidak ikut pindah.

Ditanyalah Kiyai Sadili ini.

“Pak Kyai apa gak kepengen hijrah?”

“Hijrah?”

“Ya.”

“Lah, saya malah menganjurkan hijrah,” katanya. “Tapi hijrah yang saya anjurkan: pindah dari maksiat kepada tobat. Pindah dari malas ibadah menjadi rajin ibadah. Pindah dari menentang Allah menjadi taat kepada Allah. Pindah dari jauh dengan Allah menjadi dekat dengan Allah. Hanya dengan hijrah seperti ini insyaallah Galunggung reda.”

“Ya, maksudnya pindah tempat tinggal, Kiyai. Ini kalau lahar jatuh, bahaya.”

Lalu beliau membacakan sebuah ayat: “Tidak ada orang akan mati kecuali dengan izin Allah.”

Akhirnya Galunggung benar-benar meletus. Tapi beliau selamat. Lahar yang jatuh itu tidak masuk ke rumah belaiu.

Dari cerita ini, jadi inspirasi bagi kita bahwa kita mesti hijrah. Terutama hijrah spiritual. Yakni hijrah dari yang buruk pada yang baik. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah.

 

 

Kamis, 25 Juni 2026

,

Khutbah Jumat: Membangun Masyarakat yang Saleh

Jamaah Jumat yang berbahagia, 

Allah menciptakan kita, manusia, dalam bahasa Arab ada tiga macam. Pertama kalau dilihat dari sosok kita yang bersifat Phisical, bersifat material, dimensial, parsial, temporal, disebut sebagai basyarun. Basyarun artinya manusia dilihat dari fisiknya. Alhamdulillaah Allah menciptakan kita semua sebagai basyar, tidak sebagai an'am atau hayawan yang mereka diciptakan untuk mengabdi kepentingan kita. Tapi kita manusia, kita basyar, diciptakan oleh Allah dengan kesempurnaan, dengan kelengkapan yang sempurna. Ada panca indera, ada anggota badan, dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga, semua berfungsi. Pendengaran, pengelihatan, lisan ucapan, tindakan, perbuatan, itu namanya panca indera atau perangkat basyar. 

Syukur-syukur kalau Allah menciptakan kita berparas tampan, berupa ganteng, syukur. Karena Rasulullah pun tampan, Nabi Yusuf juga tampan sekali. Sampai-sampai ketika perempuan-perempuan melihat ketampanan Nabi Yusuf, yang seharusnya mereka memotong-motong buah dengan tidak terasa memotong tangannya. Mereka tidak sadar memotong tangannya sendiri karena larut ke dalam kegantengannya atau ketampanan Nabi Yusuf sambil mengatakan: 

Perempuan-perempuan itu mengatakan, “Ini bukan basyar, ini di atas basyar” “In haadza illd malakun kariim,” “Ini malaikat ini?” Mengapa? Karena perempuan-perempuan yang seketika melihat Nabi Yusuf itu kemampuan pandangnya atau kemampuan penglihatannya sebatas fisik, sebatas jasmani, sebatas lahir. Alhamdulillah, kita menjadi basyar, dan sempurna apalagi syukur-syukur tampan, handsome, jamil. 

Yang kedua, bahasa Arab-nya manusia itu insan. Insan ini wujud manusia yang ideal, yang universal, yang global, yang perenial, abadi atau langgeng, disebut insan. Insan adalah wujud manusia secara rohani, spiritual, tidak kelihatan. Tidak dilihat dari lahir fisik, tapi dari hakikat universalitas manusia. Maka manusia membawa misi yang universial yaitu kasih sayang, keadilan, ramah, santun, yang semua disebut kemanusiaan. Itu bahasa Arab-nya insaniyah. 

Kemanusiaan itu lahir dari insan, lahir dari wujud kita yang disebut insan. Yaitu wujud kita yang rohani, yang abstrak, yang ideal. Insan ini tidak menerima hal-hal yang bahasa agamanya bersifat munkarat. Munkarat itu artinya yang tidak disenangi. Maka permusuhan, pembunuhan, konflik, su udzon, semua yang jelek-jelek itu sebenarnya ditolak oleh insaniyyah kita. Wujud kita sebagai insan sebenarnya menolak sifat-sifat itu menolak watak-watak yang jelek itu. Akan tetapi seringkali kita terperosok dalam sifat-sifat itu karena ketidaksempurnaan wujud insaniyyah kita. Insaniyyah kita dikalahkan oleh yang namanya hawa nafsu. 

Sedikit tentang sosok manusia. Manusia itu, kita ini, perumpamaannya bagaikan negara. Presidennya atau pemimpinnya adalah qalbu (hati), kalau hati kita baik, kalau presiden baik, maka rakyat pun akan mudah diajak baik. Kalau hati kita baik, maka semua, penglihatan mata kita, pendengaran telinga kita, perilaku tangan kita, perbuatan kaki kita, langkah-langkah kita, sikap kita semuanya baik. Itu namanya qalbu (hati). Itulah kepala negaranya, ibaratnya begitu. 

Nah, aql (akal) adalah ibaratnya adalah kelompok intelektual yang mempunyai konsep, yang mempunyai rencana. Itu akal, perumpamannya dalam satu negara tenaga kerjanyalah, teknokratnya, think tank-nya. 

Hawa nafsu ada dua, nafsu ghadlabiyah atau nafsu amarah munkar dan nafsu syahwatiyah. Nafsu ghadlabiyah bagaikan tentara dalam negara. Tergantung perintahnya. Jika perintah baik, maka tentara jadi baik. Kalau perintahnya jelek, maka tentara akan jelek. Tapi juga harus hati-hati, Presiden atau kepala negara harus mampu mengendalikan tentara. Begitu pula hati kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu ghadlabiyah. 

Hawa nafsu syahwatiyah bagaikan budak. Jadi, di negara atau kerajaan itu ada budak, ada pelayan, ada pembantu, ada OB, ada yang bekerja di dapur. Itulah hawa nafsu syahwatiyah, harus ada. Di istana harus ada pembantu, tukang nyapu, tukang masak, penjaga pintu, harus ada semuanya di istana itu. Hati presiden tidak boleh kalah dari pembantu atau dipengaruhi oleh pembantu. Begitu pula kita, kita mempunya hawa nafsu syahwatiyah, ingin kaya, ingin mewah, ingin banyak duit, banyak rumah, banyak lagi, ingin happy-lah hidup ini. Itu baik, boleh, tapi tidak boleh semua keinginan itu mendikte hati kita, mendikte qalbu kita, qalbu kita jangan kalah, jangan mau diatur oleh hawa nafsu syahwatiyah. Jadi, hawa nafsu itu, ghadlabiyah dan syahwatiyah sebenarnya adalah penting. Penting untuk mempertahankan keberadaan kita. Asalkan hati kita mampu mengendalikan. Hawa nafsu ghadlabiyah sebagai penyerang, sebagai tentara, harus diarahkan ke jalur yang baik yang benar. Sedangkan hawa nafsu syahwatiyah sebagai budak yang membantu, yang siap membantu qalbu atau membantu raja juga harus diarahkan ke jalan yang benar. Jangan sampai qalbu kita, jangan sampai raja kalah oleh kemauan tentara, oleh hawa nafsu ghadlabiyah atau kalah oleh kemauan hawa nafsu syahwatiyah yaitu budak atau pembantu-pembantunya. 

Tidak ada lain, konsep yang paling efektif yang bisa mengatur hati atau menjaga hati adalah iman kepada Tuhan, iman kepada Allah. Itu yang bisa membangun kebesaran qalbu kita, memperkuat raja, membuat kerajaan, itu hanya dengan iman. 

Qalbu belum tentu benar, akal belum tentu benar, apa bedanya qalbu dan akal? Akal itu mengetahui kebenaran dari juz'iyah. Dari yang parsial menuju yang global, itu akal. Maka kalau premis minor dan premis majornya benar, konklusinya akan benar. Kalau premis minor dan premis majornya salah, konklusinya akan salah. Itu akal. Kebenaran dicari step by step, dari hal-hal yang kecil menjadi kebenaran universal, itu akal. 

Kalau hati tidak, kalau hati langsung menerima kebenaran universal. Kebenaran universal yang maha mutlak yaitu iman kepada Allah untuk memperkuat, untuk mempertahankan keuniversalan itu. Silakan kalau kita ingin merinci, kalau kita ingin membedah, merinci kebenaran universal itu. Jadi pola hati itu menerima kebenaran universal yang nanti akan dicari rinciannya. Kalau akal mencari kebenaran dari rincian nanti akan menuju kepada yang universal. Itu bedanya akal dengan hati. 

Oleh karena itu hati punya perangkat yang sangat tajam, antara lain namanya, khawatir. Khawatir itu diwujudkan oleh dzauq (intuisi). Hati khawatir akan menerima bisikan ide lintasan empat macam. Pertama, khawatir rabbaniyyah. Lintasan dari Allah. Tahunya dari Allah. Bagaimana? Lama-lama menjadi ilham, lama-lama menjadi kasaf, lama-lama menjadi marifat. Itu namanya khawatir rabbaniyyah. 

Kedua, khawatir malakutiyyah. Lintasan yang dari malaikat, kalau kita pelihara terus akan menjadi ilmu. Ilmunya ada tiga macam, ilmu al-yaqin, haqq al-yaqin, dan ain al-yaqin. Itu nanti puncaknya adalah ilmu ladunni. Itulah khawatir malakutiyyah.

Yang ketiga, khawatir nafsaniiyah atau disebut hawajiz. Ajakan-ajakan hawa nafsu untuk melakukan hal yang tidak benar, itu namanya hawajiz. Bagaimana tahunya itu hawajiz? Tahunya, yang sedang terlintas dalam khawatir kita jangan sampai diketahui orang lain. Jangan sampai ada orang yang tahu, itu pasti datangnya dari hawajiz, dari hawa nafsu, nafsaniyyah. 

Yang terakhir khawatir syaithaniyyah lintasan dari setan, yang dari setan itu namanya waswasah, “Yuwaswisu fii shudur al-naas”. Menggelitik, menggoda, dan mengganggu kita supaya belok dari kebenaran. Yang paling rendah, yang paling gampang dilawan adalah godaan setan, yang paling berat godaan hawa nafsu. Itulah bahasa Arab-nya insan. Panjang lebar kalau diterangkan, karena masih banyak lagi ini pembahasan insan.

Yang terakhir, bahasa Arab-nya manusia, “an-naas”. Jadi yang pertama bahasa Arabnya manusia “basyarun”; dua “insanun"; tiga “naasun" atau “an-naas”. 

Apa "naas" itu? "Naas" ini manusia dilihat dari sisi sebagai makhluk sosial. Makhluk bermasyarakat itu namanya "naas". Kalau membangun basyar, supaya basyar sehat, kuat, tampan, gampang. Ada batasannya insya Allah akan tercapai. 

Membangun insan yang baik, bisa diusahakan ada batasannya, insyaallah bisa tercapai kalau diupayakan. Tapi membangun naas sampai kapan pun tidak akan selesai. Membangun masyarakat tidak akan selesai sampai kapan pun. 

Oleh karena itu, betapa besar pahalanya orang yang memperjuangkan kebaikan masyarakat. Bukan hanya kebaikan dirinya sendiri, bukan hanya kebaikan keluarganya, tapi kebaikan bangsanya, kebaikan masyarakatnya. Betapa besar pahalanya. 

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

La khaira fî katsîrim min najwâhum illâ man amara bishadaqatin au ma‘rûfin au ishlâḫim bainan-nâs, wa may yaf‘al dzâlikabtighâ'a mardlâtillâhi fa saufa nu'tîhi ajran ‘adhîmâ

(Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar) (An-Nisa', ayat 114)

Tidak ada gunanya kita berkumpul, bernegara, berpartai politik, berormas, ber-jam'iyyat, kecuali kalau kita punya tiga agenda. Satu, “Amara bi shadaqotin,” menghilangkan kemiskinan. Kedua, “Au ma'rufin, membangun hal-hal yang positif. Ketiga, ini yang paling sulit, “Ishlaahin baina an-naas,” membangun masyarakat yang saleh. Jadi, yang saleh bukan hanya kiai, bukan hanya ustadz, bukan hanya satu dua orang, sepuluh orang, dua puluh orang, tapi seluruh bangsa menjadi bangsa yang saleh, ini yang sulit. 

Maka (dalam rangka) pembangunan "an-naas”, Allah mengutus nabi dan rasul. Kalau membangun pribadi satu dua orang, kelompok tertentu itu Allah cukup hanya mengutus ulama, mengutus nabi yang bukan rasul. Tapi kalau membangun umat “Ishlahin baina al-naas,” Allah mengutus rasul. Kalau rasul pasti nabi, kalau nabi, banyak yang bukan rasul dan misinya terbatas hanya pada waktu tertentu dan pada bagian umat tertentu. 

Maka membangun “Ishlahin baina an-naas,” dibutuhkan kerja keras dari semua pihak. Ya pemerintahnya, ulamanya, teknokratnya, semuanya, kalau mau jadi bangsa yang baik, bangsa yang saleh. Nah kalau kita contohkan sekarang, masyarakat atau negara yang bagus adalah masyarakat yang berkeadilan, tegaknya hukum, tidak ada korupsi, sejahtera, makmur. 

Hal itu, kalau dicari, tidak kita jumpai di negara Islam. Tidak kita jumpai di negara-negara yang umat Islamnya banyak. Justru yang ada di negara-negara non-muslim, New Zealand, Swedia, Switzerland, itu yang namanya “naas”-nya sudah baik. Maka dalam ayat lain Allah berfirman: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ

"Ya ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum"

(Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa). (Q.s. Al-Hujurat, ayat 13).

Aku jadikan kamu berbangsa dan bernegara dan yang paling mulia di mata Allah adalah bangsa yang paling bertakwa. Bukan satu, dua, tiga orang, bukan, bukan sepuluh dua puluh orang

Bangsa yang paling bertakwa kepada Allah itulah bangsa yang paling mulia di mata Allah. Bukan satu, sepuluh, seratus dua ratus, seribu, dua ribu orang saleh, tapi bangsa yang saleh. Jadi, ayat itu tekannya adalah masalah “an-naas”.

Sekali lagi kesimpulannya apa yang saya sampaikan ini adalah pertama, kita disebut dalam Al-Qur'an dari segi fisik namanya basyarun. Mari kita pelihara basyariyah kita. Kita sehat, kuat jasmaninya, tampan, itu basyar, penting. Yang kedua, bahasa Arab-nya manusia adalah “insan”. Insan berkaitan dengan spiritual, moralitas, akhlaqul karimah, Itulah insan. Mari kita perbaiki akhlaq kita, kita bangun ilmu kita, kita bangun martabat budaya kita, itulah yang disebut membangun insan.

Terakhir, “naas”. Naas adalah masyarakat, umat manusia itu bahasa Arab-nya naas. Bagaimana kita membangun naas yang saleh? Nabi Muhammad SAW telah berhasil membangun masyarakat Madinah yang saleh, masyarakat yang saleh. 

Dan barang siapa yang berhasil membangun naas yang saleh, maka pahalanya, “Fasaufa nu'tiihi ajran adziiman” “... akan dibalas dengan pahala yang sangat-sangat besar”.

Barakallahu liwalakum fil qur'anil 'azim, innahu huwal gafururrahim

Sumber:

Said Aqil Siradj, Khutbah Jumat Said Aqil Siradj, Mojokerto: Ulama Nusantara dan Penerbit Kalam, 2021, h. 70-79




Rabu, 24 Juni 2026

, ,

Khutbah Jumat: Metode Dakwah yang Baik


Jamaah Jumat yang berbahagia,

Allah melalui Al Quran memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada umatnya agar berdakwah. Mengajak umat manusia mengikuti jalan Allah, karena satu-satunya jalan kebenaran adalah jalan Allah. Al-Quran dengan tegas mengatakan:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (Q.s. An-Nahl, ayat 125)

Ajaklah umat manusia agar mengikuti jalan Tuhanmu, bukan jalanmu, bukan jalan manusia, bukan jalan hawa nafsumu, bukan jalan kepentinganmu, bukan hasratmu, tapi jalan Allah, Tuhanmu. Sabilil haq, al-haq fil 'aqidah wal haq fis syariah wal haq fil akhlaq.

Ajaklah manusia ke jalan yang benar, jalan Tuhanmu.

Kebenaran dalam beraqidah, beriman pada Allah, pada para malaikat, pada para anbiya, pada kitab suci yang diturunkan, pada hari kiamat, pada qadla dan qodar.

Al haq fis Syariah, kita harus mengikuti perintah Allah dalam beribadah, dengan berdasarkan Al-Quran, Hadits, Ijma' dan Qiyas.

Al haq fil akhlaq: bertasawwuf; kita harus membangun erat budaya; birrul walidain (berbakti pada orang tua); ikromu dluyuf (menghormati tamu); ighatsatul lahfan (menolong orang yang sedang kesusahan); izalatul gham wal hamm; takziatul mauta (bertakziah orang yang meninggal), menengok orang sakit, silaturrahim, adamut takabbur (tidak sombong), hormat orang tua, menghormati ulama, menolong sesama, gotong royong, tidak boleh bohong, adu domba, fitnah, menghina satu sama lain. Ini namanya: sabiili rabbika fil akhlaq.

Kemudian, dakwahnya dengan apa itu? Dengan metode seperti apa? Nabi Muhammad sendiri diperintah oleh Allah dan kita harus mengikuti, agar dakwahnya bil hikmah. Dengan penuh kearifan. Dengan penuh bijak. Tidak boleh kasar. Tidak boleh menyakiti hati orang. Tidak boleh menyinggung. Dakwahnya bit tadrij, step by step, bit taklif, meminimalisir beban. Kemudian ‘adamul haraj, tidak boleh melukai orang lain, menyinggung perasaan orang. Dan bil mas’uliyyah/dengan tanggung jawab. Ini namanya dakwah bil hikmah.

Contoh, ringkas saja dalam khotbah terbatas sekali waktunya ini. Ketika ada orang Badui masuk Islam, Nabi Muhammad memberikan pengarahan kemudian dia terima. “Semua arahan dari Anda Rasulullah, saya terima kecuali satu. Saya minta izin diperbolehkan berzina. Satu saja ini. Saya mau shalat, mau zakat, mau puasa, mau apa saja. Tapi satu saja, izinkan saya berzina.” Apa jawabnya Nabi Muhammad? Bukan “Haram”. Tapi jawabnya: “Coba kalau yang zina itu teman kamu menzinai ibumu, kalau yang zina itu tetanggamu menzinai putrimu, kalau yang zina itu teman kamu, tetanggamu menzinai istrimu, ibumu, putrimu, bagaimana kira-kira?” Dia baru tersentuh hatinya dan sumpah dia tidak akan berzina lagi. Itu artinya Nabi Muhammad berhasil memasukkan dakwah bil hikmah. Tidak bil ikrah, tidak menteror, ancaman, menakut-nakuti. Tidak. Tapi bil hikmah.

Seperti ketika Rasulullah masuk kota Makkah dengan penuh kemenangan, Rasul mengatakan, “al-Yaum yaumul marhamah.” Yang dulu orang Makkah mengusir, menyiksa, menyakiti bahkan membunuh. Sahabat Yasir, sahabat Sumaiyah dibunuh oleh Abu Jahal. Rasulullah masuk kota Makkah setelah 8 tahun penuh kemenangan, apa kata beliau? “Al-yaum yaumul marhamah,” hari ini hari rekonsiliasi, menyambung kembali persaudaraan, tidak ada balas dendam, semua dimaafkan, termasuk anaknya Abu Jahal, Ikrimah, dimaafkan.

Dari situ orang Makkah berbondong-bondong masuk islam.

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

 (Wa raitannaasa yadkhuluuna fii dinillaahi afwaajaa)

Lihatlah Muhammad, orang Makkah semua masuk Islam dengan mengatakan, “Bi abii wa ummii antal karim ibnil karim ibnil karim,” (Demi ayahku, demi ibuku, engkau Muhammad sungguh orang yang mulia dan bijak, putra dari seorang ayah yang mulia dan bijak, cucu dari seorang kakek mulia dan bijak).

Panjang kalau kita bicara hikmah, itu salah satu contoh saja.

Yang kedua, wal mauidzatil hasanah, tutur kata yang simpati, tutur kata yang baik. Mengapa Al-Ouran turun dengan bahasa yang indah? Mengapa bahasa Al Quran itu sangat indah? Itu supaya menarik, supaya orang yang membaca atau mendengarkan tertarik bahasa arab. Kemudiah lahirlah ilmu yang digagas oleh seorang ulama yang bernama Amr bin Ubayd, meneliti, mengkaji rahasia bahasa Al-Quran, lahirlah namanya ilmul balaghah. Terdiri dari tiga komponen, ilmu maani, ilmu bayan, ilmu badi. Panjang kalau saya terangkan ini.

Yang jelas Al-Ouran menggunakan bahasa yang sangat indah. Dan bagi yang mengerti bahasa Arab, luar biasa. Bukan syair, bukan pantun, tapi seperti syair, seperti pantun. Bukan sajak, Al-Quran itu bukan sajak, tapi ada sajaknya dan tidak semuanya sajak. Bukan pantun, tapi ada pantunnya dan tidak semuanya pantun. Bukan syair, tapi ada seperti syairnya, tapi bukan semuanya syair. Itulah bahasa Al-Qur'an.

Dengan menyampaikan kandungan, bukan hanya perintah dan larangan, tapi kisah-kisah para nabi, kisah-kisah umat terdahulu, ada yang menjadi contoh agar menjadi teladan untuk kita semua. Bagaimana nasibnya orang yang menentang Allah, dan bagaimana akhir daripada orang yang bertakwa pada Allah. Semua disampaikan dalam Al-Quran dengan tutur kata yang indah dan baik, luar biasa.

Ketika gempar orang Badui masuk masjid, kencing. Sahabat mau bentak-bentak. Kata Nabi, “Biarkan, biarkan, biarkan tuntaskan dulu pipisnya, setelah itu baru dibersihkan, dicuci dan dikasih nasihat bahwa di masjid tidak boleh pipis sembarangan.”

Itu cara-cara dakwah bil maudzatil hasanah. “Inna fil bayaani as syira” dalam menyampaikan ceramah atau mauidzah di situ harus mengandung syiir, mengandung daya tarik yaitu dengan tutur kata yang indah yang baik. Sekali-kali ada syairnya, ada pantunnya, sekali-kali ada puisinya, sekali-kali ada dongengnya, supaya dapat menarik bagi para pendengar.

Tidak ada aturan Al-Quran, tidak boleh dalam Al Quran, dakwah dengan kekerasan, teror, mengancam, caci maki, tidak boleh sama sekali. Seorang sahabat bernama Hassin al Khazraj mempunyai anak tidak mau masuk Islam, lama-lama diancam, lama-lama mengancam, ayah kepada anak. “Kalau kamu tidak mau masuk islam saya bunuh.” Begitu ada ayahnya mengancam anak, turun ayat Al-Quran “Laa ikraaha fid diin”, tidak boleh ada kekerasan, teror, dalam agama. Ayat tidak boleh mengancam anak dalam masalah agama.

Yang terakhir, وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

Kalau di kalangan intelektual, kalangan kampus, kalangan orang yang berfikir, maka harus menggunakan diskusi. Tapi diskusi juga ada adabul bahtsi wal munadzarah. Ada metode, ada sistem. Harus saling menghormati. Nabi Muhammad, lagi-lagi jadi contoh. Nabi Muhammad kedatangan orang Kristen Najran, tamu orang Kristen dari Najran. Terkenal kota Najran pusatnya Kristen dari sejak dulu. Apa kata Nabi? Apa kata Al Quran?

قُلِ اللَّهُ ۖ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Qulillâhu wa innâ au iyyâkum la‘alâ hudan au fî dlalâlim mubîn (Q.s. Saba’ ayat 24)

(Katakanlah, “Allah.” Sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) benar-benar berada di dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata).

Ayo kita diskusi. “Inna aw iyyakum; entah saya atau Anda”. “La ‘ala hudan; yang benar”, “au dlalaalin; atau yang salah”. Ayo diskusi mencari kebenaran. Entah saya, entah Anda yang benar ini. Artinya, kedua-duanya (kita dan orang lain punya potensi salah dan potensi benar). Coba, caranya mujadalah seperti itu, tidak langsung “saya benar kamu salah” tidak ada itu.

Ketika kedatangan tamu Kristen Najran, Nabi mengajak diskusi dengan berangkat dari nol. Berangkat dari zero. Ayo kita mencari kebenaran, “laalii au iyyakum” aku atau Anda, “la’ala hudan au fii dlalalin mubin” yang benar atau yang salah. Itu, adabul bahtsi wal munadzarah, cara berdebat, cara diskusi, cara berdialog seperti itu.

Begitu pula banyak sekali contoh-contoh para auliya, para wali songo sering berdebat dengan masyarakat di Nusantara ini. Dengan kecerdasannya berdebat, mereka luluh hatinya, merasa kalah dan memeluk agama Islam. Dalam berdebat ini antara lain harus mengerti tentang ilmu mantiq, logika. Harus menggunakan premis minor, premis major, dan konklusi yang benar. Seperti Nabi Ibrahim dalam pengembangan intelektualitasnya, ketika melihat bintang dikira Tuhan, ternyata hilang, Tuhan tidak mungkin hilang. Kemudian melihat bulan, oh ini Tuhan, ternyata hilang bulan itu. Tidak mungkin Tuhan itu hilang. Ketika melihat matahari, wah ini besar, ini Tuhan ini, tapi ternyata matahari juga hilang, maka tidak mungkin Tuhan itu bisa hilang.

Ini namanya menggunakan premis minor premis major dan konklusi. Al’aalamul mutaghayyir wa kullu mutaghayyirin haadits, wa kullu haaditsin yahtaaju ilaa muhdits wal muhdits huwallaah. Alam berubah, setiap yang berubah pasti baru, setiap yang baru membutuhkan yang menciptakan, yang menciptakan tidak boleh berubah dan tidak boleh baru, maka itulah Allah, Tuhan wahdahuu laa syariika lah. Ini namanya ilmu mantiq, menggunakan intelektualitas, akal yang jernih, akal yang sehat, yang cerdas, sadar Nabi Ibrahim kepada tauhid, kepada Allah.

***

Kedatangan Islam tak mesti "disruptif" atau bersifat memotong suatu masyarakat dari masa lampaunya semata, melainkan juga dapat ikut melestarikan apa saja yang baik dan benar dari masa lampau itu dengan cara membersihkannya dari unsur-unsur syirik. Bentuk praktek kebiasaan masyarakatnya bisa saja sama seperti masa lalu, tapi esensinya sudah berorientasi islami (tauhid). Itulah yang dilakukan Sunan Kalijaga pada masyarakat Jawa yang sebelum Islam datang masyarakatnya masih menganut budaya Hinduisme dan Budhaisme.

Terkait peran Islam terhadap adat kebiasaan, kita bisa lihat contoh, misalnya, tradisi upacara menghormati orang yang meninggal (3, 7, 40, 100 hari). Ada yang mengatakan itu bukan ajaran Islam, tapi merupakan budaya masyarakat sebelum Islam. Terlepas dari itu, yang jelas, Islam meluruskan praktek itu dengan mengisinya dengan amalan (tahlilan), membaca lafal “la ilaha illa Allah”. Jadi, Islam datang tak langsung memberantas adat kebiasaan masyarakat, tapi cukup membersihkannya dari unsur syirik yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Praktiknya bisa saja sama dengan di masa lalu, tapi orientasi dan esensinya harus bernafaskan Islam.

Abdul al Wahhab Khallaf, sebagaimana dijelaskan Cak Nur dalam bukunya Islam: Doktrin dan Peradaban, menguraikan bahwa para pembangun mazhab dahulu juga menggunakan unsur-unsur tradisi untuk sistem hukum yang mereka kembangkan. Cak Nur mengutip: “Oleh karena itulah para ‘ulama berkata: al 'adah syari'ah muhakkamah (adat adalah syariah yang dihukumkan).”

Al-Adah al-Muhakkamah yaitu adat adalah hukum. Adat kebiasaan masyarakat yang dapat dijadikan landasan hukum. Namun tidak semua adat dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Hanya adat yang tidak bertentangan dengan syariat dapat dijadikan sebagai landasan hukum dalam hukum Islam.

“Dan adat kebiasaan (‘urf) itu, lanjut Cak Nur, “dalam syara’ harus dipertimbangkan. Imam Malik membangun banyak hukum-hukumnya atas dasar praktik penduduk Madinah. Abu Hanifah dan pendukungnya beraneka ragam dalam hukum-hukum mereka berdasarkan aneka ragamnya adat-kebiasaan mereka. Imam Syafi’i setelah berdiam di Mesir merubah sebagian hukum-hukum perubahan adat-kebiasaan (dari Irak ke Mesir). Karena itu, ia mempunyai pandangan hukum: yang lama dan yang baru (qawl qadim dan qawl jadid). Dan dalam fiqh Hanafi banyak hukum yang didasarkan pada adat kebiasaan.”

Jadi, begitulah Rasulullah mengembangkan Islam. Yang juga dicontoh oleh para imam Mazhab, termasuk para Wali Songo di Nusantara. Sehingga Islam bisa tersebar luas di Nusantara dan menjadikan Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.

***

 

 

Referensi

1. Said Aqil Siradj, Khutbah Jumat Said Aqil Siradj, Mojokerto: Ulama Nusantara dan Penerbit Kalam, 2021, h. 1-8.

2. Nurcholish Madjid, Islam: Doktrin dan Peradaban (Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan), Jakarta: Paramadina, 1992

3Jurnal UIN Alauddin berjudul Al-Adah Al-Muhakkamah: Esensi dan Implementasinya

4Bisa juga dilihat di YouTube:  https://www.youtube.com/live/hx32b0hYBzI?si=uJCKAY46Brn345_w

5. https://catatannaniefendi.blogspot.com/2022/10/tentang-adat-kerinci-sebuah-catatan.html?m=1

 

 

 

TERBARU

MAKALAH