![]() |
| Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994 |
Oleh: R. Paryana Suryadipura
Semesta alam yang terbatas dan mempunyai bentuk bulat, terdiri dari pusaran aether yang bersifat dualistis. Pusaran aether yang akan menjelma sebagai alam semesta, dan mempunyai batas-batas dan berbentuk, dengan sendirinya bukanlah Tuhan. Artinya, pusaran tersebut adalah ciptaan Tuhan. Untuk membentuk pusaran aether ini, Tuhan pun harus menggunakan bahan. Artinya, butir-butir atau partikel-partikel aether itu harus masih dapat dibagi-bagi lagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil.
Oleh karena aether sudah merupakan keadaan yang bersifat dualistis, maka aether haruslah terdiri dari butir-butir yang terakhir, karena di atas aether, tidak ada lagi ciptaan Tuhan. Partikel-partikel yang terakhir itu berarti merupakan butir-butir yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau yang tidak memiliki bagian atau komponen apapun. Jumlah keseluruhan dari butir terakhir ini disebut Zat Mutlak atau sari dari segala yang ada (essence van al her zijn).
Eksistensi dari zat mutlak itu, sekalipun tidak dapat kita buktikan dengan jalan apapun, jelas tidak dapat disangkal, karena setiap keadaan hanya dapat diadakan bila tersedia bahan-bahan untuk membuatnya, sedangkan pikiran manusia yang mencari hakikat tidak akan pernah puas apabila bahan untuk menciptakan sesuatu yang serba satu dan yang disebut Zat Mutlak itu, tidak dapat diketahui. Seperti yang telah kita singgung, pendapat Spinoza pun demikian pula adanya.
Aether yang runtuh di dalam bahan-bahannya merupakan butir-butir zat mutlak yang kehilangan dua tujuannya dan menjadi bahan bagi semua keadaan yang bersifat satu, yakni Zat Mutlak yang serba satu dan serba esa (monistis).
Sebelum runtuh menjadi Zat Mutlak, keadaan aether dapat diibaratkan sebagai dua gelas yang dibuat dari satu bahan yang sama, akan tetapi bentuknya berbeda sesuai dengan tujuannya, yang satu gelas minum dan yang lain adalah jambangan bunga.
Apabila kedua gelas ini kita hancurkan menjadi bubuk, kita tidak lagi dapat membedakan bubuk mana yang berasal dari gelas minum dan bubuk mana pula yang berasal dari jambangan bunga. Dengan kata lain, kedua gelas tadi telah kehilangan tujuannya dan menjadi bubuk gelas yang serupa dan sebentuk: satu jenis dan satu sifat. Keadaan yang demikian disebut serba satu atau serba esa.
Kita sekalian telah mengetahui bahwa sesuatu yang bersifat esa hanyalah Tuhan: Katakanlah bahwa Tuhan itu Esa." (Q.s. al Ikhlas, ayat 1). Sangat tidak mungkin bahwa di samping Tuhan masih terdapat sesuatu apapun yang bersifat esa, karena--seperti yang telah berkali-kali kita nyatakan--keesaan Tuhan dengan sendirinya akan lenyap bila masih terdapat hal lain yang bersifat esa, kecuali jika yang kita anggap esa tadi adalah bagian daripada Tuhan.
Tidak mungkinkah bahwa yang kita anggap esa itu juga merupakan ciptaan Tuhan--di samping Tuhan itu sendiri--sehingga ia menjadi sesuatu yang bersifat esa pada tingkatan kedua, seperti Putra Tuhan (Zoon Gods), misalnya?
Ini pun kita anggap tidak mungkin karena ciptaan Tuhan selalu terdiri dari satuan dengan dua keadaan yang berlawanan, akan tetapi saling menggenapi, seperti halnya aether yang merupakan ciptaannya yang pertama yang terdiri dari dua bagian yang saling bertentangan.
Walaupun sifat serba dua dari aether ini masih merupakan dugaan (hipotesa), pembentukan proton yang positif dan elektron yang negatif pun tidak mungkin juga dapat dilakukan, apabila pembentukan dua keadaan ini diambil dari satu jenis bahan yang sama: “Maha suci Tuhan menjadikan pasangan-pasangan semuanya, baik apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dan dari diri mereka maupun dari apa yang mereka tidak ketahui". (Q.s. Yasin, ayat 36).
Dengan ayat Al-Qur'an ini dapat dibuktikan bahwa setiap ciptaan Tuhan harus berpasang-pasangan; demikian juga halnya dengan aether, yang kemudian berubah menjadi Semesta alam.
Zat Mutlak yang bersifat esa tidak mungkin merupakan ciptaan Tuhan yang berada di samping Tuhan; karena itu Zat Mutlak adalah Zat Tuhan, yakni Tuhan yang Maha Esa itu sendiri.
Nyatalah sekarang bahwa semua kenyataan itu tercantum di dalam Kitab Suci Al-Qur'an: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kita akan kembali; Innalillahi wa inna ilaihi radji'un (Q.s. Al-Baqarah, ayat 156).
Zat Mutlak atau Tuhan adalah Sebab Pertama (Causa Prima) dari semua keadaan dan kejadian--Wujud yang wajib dan tak mempunyai sebab sendiri.
Seperti yang telah diterangkan, jasad-jasad atau benda yang paling kecil yang masih dapat disaksikan dengan mata jelas masih dapat kita bagi-bagi ke dalam bagian yang lebih kecil lagi, karena jasad-jasad itu masih dapat dibagi ke dalam beberapa tingkatan yang lebih kecil, yakni ke dalam molekul, atom dan elektron, proton dan neutron. Yang disebut terakhir ini tersusun di dalam butir-butir aether dan akhirnya butir-butir aether itu di dalam butir-butir Zat Mutlak yang tak lagi mempunyai bagian apapun. Photon-photon pun, setelah runtuh, akan menjadi butir-butir aether yang akhirnya juga runtuh ke dalam butir-butir Zat mutlak.
Butir-butir yang paling kecil yang masih dapat disaksikan dengan mata disebut keadaan yang nyata (riel). Molekul tidak lagi dapat dilihat dengan mata telanjang, kecuali dengan mikroskop yang mempunyai lensa yang sangat tajam. Molekul bersifat relatif riel. Selanjutnya, Wilson Kamer menandaskan bahwa atom dan elektron tidak dapat dilihat dengan alat apapun juga, kecuali garis perjalanannya bila ia bergerak di dalam ruang yang berisi uap air.
Keadaan atom dan elektron tersebut disebut keadaan yang teoritis, akan tetapi terdapat banyak bukti yang sangat meyakinkan tentang keberadaan keduanya.
Photon dapat dibuktikan dengan bantuan teori quanten yang dirumuskan oleh Max Planck, oleh karena itu keadaan photon juga bersifat teoritis.
Aether dianggap ada karena andaikata ia tidak ada, maka berbagai kenyataan tidak mungkin dapat diterangkan. Misalnya, darimana elektron mendapatkan tambahan tenaganya, sehingga dapat berputar-putar tanpa akhir, sedangkan menurut ilmu mekanika, setiap benda yang bergerak pasti akan kehilangan tenaganya. Keadaan yang demikian disebut keadaan yang bersifat hipotesis.
Zat Mutlak harus ada, karena tidak mungkin ada kejadian atau keadaan apabila tidak ada yang menjadi pangkal kejadiannya, yang merupakan Sebab Yang Pertama.
Keharusan yang demikian kita sebut postulat, yang artinya adalah syarat mutlak (absolute eisch)
Benda yang paling kecil yang masih dapat dilihat dengan mata, mempunyai garis tengah yang panjangnya kira-kira beberapa mikron (1 mikron sama dengan 0,001 milimeter).
Sesuai dengan jenisnya, maka panjang garis tengah molekul dan atom cenderung berbeda-beda. Jumlah molekul-molekul air di dalam sebuah sendok teh adalah kira-kira 3 x 10 (pangkat 22) dan panjang garis tengah molekul air (H2O) adalah 3 x 10(pangkat minus 8) Cm.
Sekalipun sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi ukuran elektron e masih dapat ditetapkan dengan formula sebagai berikut: garis tengahnya adalah kira-kira 10 (pangkat minus 13) Cm dan beratnya adalah 9 x 10 (pangkat minus 28) gram.
Photon-photon dan butir-butir aether terdiri dari butir-butir yang lebih kecil lagi yang belum dapat diketahui ukurannya.
Akhirnya, Zat Mutlak tersusun dari butir-butir yang tidak lagi mempunyai bagian apapun.
Setiap keadaan yang mempunyai bagian, betapapun kecil ukurannya, masih dapat dibesarkan dengan mikroskop sehingga dapat dilihat. Sebaliknya, bila setiap keadaan itu masih dapat dibesarkan dengan mikroskop, maka itu berarti bahwa keadaan itu masih mempunyai bagian.
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari kenyataan itu adalah bahwa butir-butir yang tidak mempunyai bagian tidak mungkin dapat dibesarkan dengan bantuan alat apa sekalipun.
Butir-butir yang demikian adalah partikel yang tidak terhingga kecilnya (oneindig klien) dan bagi manusia butir-butir yang serupa itu merupakan suatu yang gaib, dan karenanya tidak dapat dilihat dan dibuktikan.
Tasawuf Islam menyebut butir-butir yang demikian sebagai noktah gaib yang artinya adalah titik tersembunyi (verborgen punt). Ia disebut juga sebagai Jauhar Awal, yang artinya adalah keadaan yang sangat halus dan menjadi awal dan akhir bagi semua kejadian dan keadaan.
Oleh karena noktah gaib ini tidak mungkin dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan alat apa sekalipun, maka ia merupakan sesuatu yang bersifat nafi (negatif), akan tetapi bukan nafi yang bersifat mutlak, karena daripada-Nya terjadi semua keadaan. Nafi yang demikian disebut nafi nakirah sedangkan nafi yang bersifat mutlak disebut nafi jinis.
Lambang nafi adalah nol; (0) yang berarti sesuatu, yang tidak terhingga kecilnya sedangkan lambang bagi Maha Ruang yang terisi dengan butir-butir yang tak terhingga kecilnya dan yang tak mempunyai batas atau tak terhingga besarnya itu adalah (oneindig groot).
Sumber:
Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, h. 32-36.




