Tanpa terasa waktu berlalu. Detik
demi detik. Masa demi masa. Maka bagi orang yang selalu ingat kepada Allah, ia
memanfaatkan waktu yang ada ini dengan berlomba-lomba melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya.
Firman Allah, surat Al Ashr
Sesungguhnya manusia itu berada
dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal saleh. Selalu nasihat
menasihati agar tetap berada di jalan yang benar. Dan selalu nasihat-menasihati
untuk tetap bersabar dalam segala hal.
Dalam sebuah hadits:
Siapa yang hari ini sama dari hari
kemarin, dia rugi.
Siapa yang hari ini lebih buruk dari
hari kemarin, dia celaka.
Siapa yang hari ini lebih baik dari
hari kemarin, dia beruntung.
Oleh karena itu, hendaknya setiap
kita selalu bermuhasabah, menghitung diri. Introspeksi diri. Meningkatkan kualitas
spiritualitas kita. Sudahkah kita menjadi orang baik? Baik itu bukan sekedar
rajin shalat, rajin ke masjid, rajin puasa saja. Tapi Allah telah menitipkan
kepada kita fisik (badan) kita ini, sudahkah kita mempergunakannya untuk
berbuat kebajikan bagi kehidupan manusia? Sudah berapa banyakkah kita berbuat
baik dengan melakukan yang bermanfaat bagi kehidupan, terutama pada kehidupan
manusia.
Jadi, tubuh yang merupakan
pemberian Allah ini, mesti kita pergunakan ia agar memberi manfaat bagi orang
lain. Ada banyak perbuatan kebajikan—yang dalam bahasa agamanya itu “amal
saleh”— yang bisa kita lakukan. Apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, ia
bernilai sedekah.
Oleh karena itu, kita harus
selalu bersedekah dengan apa saja yang ia miliki. Karena pada intinya, sedekah
itu ialah melakukan sesuatu yang benar. Jadi, bukan dalam bentuk memberikan
uang saja. Tapi apa saja perbuatan baik itu pada hakikatnya adalah sedekah.
Rasul menggambarkan dalam banyak
hadits:
Membuang duri di jalan, adalah
sedekah.
Senyum adalah sedekah;
Bahkan memberi minum anjing yang
kehausan pun bernilai sedekah.
Abu Huraira melaporkan bahwa
Rasulullah bersabda: "Seseorang mengalami rasa haus yang sangat saat dalam
perjalanan, ketika ia menemukan sebuah sumur. Ia turun ke dalamnya dan minum
(air) dan kemudian keluar dan melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya karena
haus dan memakan tanah yang lembab. Orang itu berkata: Anjing ini telah
menderita haus seperti yang aku alami. Ia turun ke dalam sumur, mengisi
sepatunya dengan air, lalu menangkapnya di mulutnya hingga ia naik dan memberi
minum anjing itu. Maka Allah menghargai perbuatannya ini dan mengampuninya.
Kemudian (para Sahabat di sekelilingnya) berkata: Wahai Rasulullah, apakah ada
pahala bagi kami bahkan untuk (melayani) hewan-hewan seperti ini? Ia berkata:
Ya, ada pahala untuk setiap hewan yang hidup.
Menolong binatang saja sudah
bernilai ibadah, apalagi menolong orang yang kesusahan.
Karena itulah Rasulullah
mengatakan, “Khairunnas anfa uhum linnas. Manusia yang paling baik itu ialah
yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.”
Oleh karena itu, marilah kita
berlomba-lomba melakukan kebajikan dalam hidup kita. Kebajikan itu bukanlah
hanya shalat, puasa, haji, dan ibadah formal lainnya, tapi apa saja perbuatan
baik yang kita lakukan, akan bernilai sedekah di hadapan Allah.
Seorang pegawai yang kerja di
kantor tapi dipasangkan niat yang benar untuk memberikan pelayanan yang baik
pada masyarakat, untuk mencari nafkah yang halal, membiayai sekolah anak,
menghidupi rumah tangga, itu sudah bernilai sedekah.
Seorang petani yang berangkat
kerja untuk mencari penghidupan yang halal, juga sudah bernilai sedekah. Kita
tak bisa bayangkan seandainya tak ada lagi petani yang mau menanam padi, tak
ada lagi peladang yang menanam berbagai kebutuhan pokok, bagaimana mungkin
manusia bisa memenuhi kebutuhan pokonya? Jadi, semua pekerjaan itu merupakan
sesuatu bernilai manfaat bagi kehidupan manusia. Dan ia bernilai ibadah jika
dipasangkan niat untuk mencari ridha Allah.
Jadi, bekerja di kantor itu
menjadi amal yang saleh, menjadi pangkal kebahagiaan kehidupan di akhirat—hidup
yang sejati itu.
Kita mencari makan, berdagang,
misalnya, itu pekerjaan duniawi. Tapi pasanglah niat: mengapa engkau mencari
makan? Karena ada perintah Allah dalam al Qur'an:
"Makanlah segala yang baik
rezeki yang Kami berikan kepada kamu…" (Q.s. Al-Baqarah, ayat 172)
Karena ada perintah Allah
"makanlah!", maka segala usaha mencari makan tadi karena berdasar
kepada ayat itu ia akan menjadi amal buat akhirat.
Atau seperti menjadi pedagang:
apa kata Rasulullah? "Seorang pedagang yang jujur dan amanah akan
dibangkitkan bersama para nabi, para shiddiqin, serta para syuhada (orang-orang
yang mati syahid)." [HR. At-Tirmidzi 1209, Shahih At-Targhib]
Jujur! Ucapan yang mudah betul,
tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Tapi itu suatu alat untuk membahagiakan
kita pada akhirat kelak.
Atau yang lain-lain. Dalam al
Qur'an banyak perintah:
- Makanlah buah-buahan itu.
Artinya, kita diperintahkan untuk menanam supaya dapat melaksanakan perintah
Allah itu.
- Berjalanlah di muka bumi. Injak
bahu bumi. Makan rezeki dari bumi itu.
Jadi, segala amalan kita di dunia
ini bisa jadi sumber kebahagiaan di akhirat.
Bukan "ah saya tidak mau
lagi bekerja duniawi, saya mau jadi orang saleh saja.” Bukan saleh
namanya.
Jadi, itulah maksud perkataan
Rasulullah:
"Addun-ya
mazra'atul akhirah."
Dunia itu suatu "mazra'ah"—suatu
kebun, yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat.
Sebagai uraian penutup, khatib
menyampaikan, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.
Dan berhijrahlah.
Tentang hijrah, ada cerita
menarik dari KH Zainuddin MZ:
Di kaki Gunung Galunggung, ada
seorang kiyai, namanya Kiyai Syadili. Ketika Galunggung mau meletus, orang
menyarakan beliau pindah tempat tinggal. Tapi beliau tidak ikut pindah.
Ditanyalah Kiyai Sadili ini.
“Pak Kyai apa gak kepengen
hijrah?”
“Hijrah?”
“Ya.”
“Lah, saya malah menganjurkan
hijrah,” katanya. “Tapi hijrah yang saya anjurkan: pindah dari maksiat kepada
tobat. Pindah dari malas ibadah menjadi rajin ibadah. Pindah dari menentang
Allah menjadi taat kepada Allah. Pindah dari jauh dengan Allah menjadi dekat
dengan Allah. Hanya dengan hijrah seperti ini insyaallah Galunggung reda.”
“Ya, maksudnya pindah tempat
tinggal, Kiyai. Ini kalau lahar jatuh, bahaya.”
Lalu beliau membacakan sebuah
ayat: “Tidak ada orang akan mati kecuali dengan izin Allah.”
Akhirnya Galunggung benar-benar meletus.
Tapi beliau selamat. Lahar yang jatuh itu tidak masuk ke rumah belaiu.
Dari cerita ini, jadi inspirasi
bagi kita bahwa kita mesti hijrah. Terutama hijrah spiritual. Yakni hijrah dari
yang buruk pada yang baik. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah.
