alt/text gambar

Selasa, 14 April 2026

,

Mengapa 1966 dan 1998 Berhasil, Sementara yang Lain Gagal?

(Bagian ke-2 dari 5 artikel)


Oleh: Pius Lustrilanang


Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia memperlihatkan sebuah pola yang tidak sepenuhnya konsisten. Mahasiswa berulang kali turun ke jalan, dari masa pergerakan nasional hingga era Reformasi dan sesudahnya. Namun, hanya pada momen-momen tertentu gerakan itu benar-benar menghasilkan perubahan politik yang mendasar. Tahun 1966 dan 1998 menjadi dua titik paling menentukan, ketika tekanan mahasiswa berkontribusi pada runtuhnya kekuasaan. Sementara itu, peristiwa lain—seperti Peristiwa Malari 1974, gerakan 1978, hingga gelombang Reformasi Dikorupsi 2019—meskipun besar, tidak mampu menghasilkan perubahan struktural yang setara. Pertanyaannya kemudian menjadi jelas: apa yang membedakan keberhasilan dari kegagalan itu?


Jawaban pertama terletak pada konteks krisis yang melingkupi gerakan tersebut. Tahun 1966 terjadi di tengah disintegrasi politik dan ekonomi yang parah pada akhir pemerintahan Soekarno. Inflasi melambung tinggi, stabilitas politik terguncang, dan konflik elite mencapai titik yang tidak lagi dapat dikelola. Demikian pula pada 1998, ketika krisis finansial Asia menghantam Indonesia dengan dampak yang sistemik: nilai rupiah jatuh, ekonomi runtuh, dan legitimasi pemerintahan Soeharto terkikis secara drastis. Dalam kedua kasus ini, demonstrasi mahasiswa bukanlah penyebab utama perubahan, melainkan katalis yang mempercepat runtuhnya sistem yang sudah rapuh.


Dalam kerangka Theda Skocpol melalui States and Social Revolutions (1979), revolusi atau perubahan besar tidak terjadi hanya karena mobilisasi massa, tetapi karena adanya krisis negara yang mendalam. Negara kehilangan kapasitas untuk mengelola konflik internalnya, sementara tekanan eksternal memperparah situasi. Dalam konteks ini, mahasiswa menjadi aktor yang mempercepat proses yang sudah berjalan, bukan pencipta kondisi itu sendiri.


Faktor kedua yang menentukan adalah fragmentasi atau kesatuan elite. Pada 1966 dan 1998, elite politik tidak berada dalam kondisi solid. Di akhir era Soekarno, terjadi pergeseran kekuatan antara militer dan kelompok politik lainnya. Pada 1998, dukungan terhadap Soeharto mulai terbelah, termasuk dari dalam lingkaran kekuasaan sendiri. Ketika elite terpecah, gerakan mahasiswa menemukan celah untuk masuk dan memperbesar tekanan. Sebaliknya, pada peristiwa seperti 1974 dan 2019, elite relatif lebih solid. Kritik mahasiswa tidak menemukan sekutu yang cukup kuat di dalam sistem, sehingga tekanan yang muncul tidak berkembang menjadi krisis kekuasaan.


Di sini, analisis Barrington Moore Jr. dalam Social Origins of Dictatorship and Democracy (1966) menjadi relevan. Perubahan politik besar sering kali terjadi bukan semata karena tekanan dari bawah, tetapi karena adanya perpecahan di tingkat elite. Tanpa perpecahan itu, gerakan sosial akan menghadapi tembok yang sulit ditembus.


Faktor ketiga adalah kesederhanaan dan kejelasan tuntutan. Gerakan 1966 dikenal dengan Tritura—tiga tuntutan rakyat yang jelas dan mudah dipahami. Tahun 1998 bahkan lebih sederhana: tuntutan untuk menurunkan Soeharto. Kesederhanaan ini memberikan fokus dan arah yang kuat. Sebaliknya, gerakan lain sering kali membawa banyak isu sekaligus. Pada 2019, misalnya, mahasiswa menolak berbagai rancangan undang-undang dalam satu waktu. Secara moral, tuntutan itu kuat, tetapi secara strategis menjadi terfragmentasi. Tekanan yang tersebar sulit menghasilkan dampak yang terpusat.


Faktor keempat adalah kemampuan membangun aliansi sosial. Pada 1966 dan 1998, gerakan mahasiswa tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan tekanan dari masyarakat luas, termasuk kelompok pekerja, kelas menengah, dan bahkan sebagian elite. Pada 1998, misalnya, krisis ekonomi membuat kemarahan publik meluas, sehingga gerakan mahasiswa menjadi representasi dari keresahan yang lebih besar. Sebaliknya, dalam banyak gerakan pasca-Reformasi, mahasiswa sering kali bergerak tanpa dukungan sosial yang cukup luas. Mereka menjadi suara yang lantang, tetapi tidak selalu menjadi representasi mayoritas.


Faktor kelima adalah karakter negara itu sendiri. Negara pada era Orde Lama dan Orde Baru memiliki kecenderungan represif, tetapi juga relatif kaku. Ketika tekanan mencapai titik tertentu, negara tidak memiliki fleksibilitas untuk beradaptasi, sehingga runtuh secara drastis. Sebaliknya, negara pasca-Reformasi memiliki kemampuan yang lebih adaptif. Seperti dijelaskan oleh Jeffrey Winters dalam Oligarchy (2011), kekuasaan modern cenderung menyerap tekanan, bukan menolaknya secara frontal. Demonstrasi dapat dibiarkan berlangsung, tuntutan dapat sebagian diakomodasi, tetapi struktur kekuasaan tetap bertahan.


Pada akhirnya, perbedaan antara keberhasilan 1966 dan 1998 dengan kegagalan relatif gerakan lainnya terletak pada pertemuan berbagai faktor: krisis negara, perpecahan elite, kejelasan tuntutan, luasnya aliansi sosial, dan karakter adaptif atau kaku dari kekuasaan itu sendiri. Mahasiswa bukanlah satu-satunya aktor, tetapi mereka menjadi penting ketika semua faktor itu bertemu dalam satu momentum.


Dari sini, kita dapat menarik satu kesimpulan yang tidak selalu nyaman: keberhasilan gerakan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh keberanian atau jumlah massa, tetapi oleh konteks yang melingkupinya. Tanpa krisis yang mendalam dan tanpa celah di dalam kekuasaan, gerakan sebesar apa pun cenderung hanya menghasilkan tekanan, bukan perubahan.


Pertanyaan ke depan bukan lagi apakah mahasiswa mampu turun ke jalan—itu sudah terbukti berulang kali. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah mereka mampu membaca konteks secara lebih strategis: kapan harus menekan, di mana celah kekuasaan terbuka, dan bagaimana mengubah energi moral menjadi kekuatan politik yang efektif. Tanpa kemampuan itu, sejarah mungkin akan terus berulang—dengan gerakan yang besar, tetapi hasil yang terbatas.

,

Doa Tarawih

Doa Tarawih :

Doa antar empat rakaat: allahumma inna nas aluka ridhaka wal jannah, wa na'u zubika min syakhatika wannar

Doa setelah tarawih (sebelum witir) : 

الّلهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اللهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 

Allahumma rabbana taqabbal minna shalatana, wasiyamana, wa ruku'ana, wa sujudana, wa qu'udana, wa tadharru'ana, wa takhasysyu'ana, wa ta'abbudana, wa tammim taqshirana ya Allah ya rabbal 'alamin. 

 اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

Allahummaghfir lanaa dzunuubanaa wa liwaalidiinaa warhamhumaa kamaa rabbayaanaa soghiiraa. 

Walijami'il mu'minina wal mu'minat... 

Dan seterusnya..

,

BAHASA PEJABAT

TEMPO, No. 7, Tahun XX – 14 April 1990


Oleh: Slamet Djabarudi


Mulai akhir Maret, tarif kereta api disesuaikan. Seperti biasa, disesuaikan berarti dinaikkan. Sangat jarang sesuai berarti turun. Eufimisme seperti itu sudah lama dipakai untuk kata menciduk, menahan, dan yang sering tampil sebagai pengganti adalah mengamankan. Walau sudah sejak tahun 1965-an mengamankan berarti menciduk, makna yang "baru” itu tidak dijelaskan di kamus.

Bila kita rajin menyimak pidato, "bahasa pejabat" dapat ditandai dengan melihat kosakatanya. Kata-kata yang baku adalah pembangunan, tinggal landas, delapan jalur pemerataan, peran serta, swadaya, boleh mengkritik tapi kritik yang membangun, dengan mengabaikan apakah lawan bicaranya tahu maknanya atau tidak.

Sering kita dengar ucapan kita akan pertimbangkan dengan maksud kami akan mempertimbangkan. Kebiasaan memakai kata kita seolah-olah lawan bicara ikut di dalamnya akan tampil utuh bila ucapan dikutip langsung media elektronik. Namun, pemakaian kita belum sejauh remaja di kota besar, yang memakai kita untuk menunjuk saya.

Sejumlah pejabat belakangan juga terdengar mengucapkan meliputi daripada .... Biasanya yang bersangkutan tidak sadar akan kesalahannya mengucapkan daripada karena itu sudah lazim. Gejala serupa muncul di dalam ungkapan dalam rangka, yang oleh pemuka pers Rosihan Anwar digolongkan "kata-kata penat" lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Di dalam tema-tema kegiatan, dalam rangka tidak pernah kehabisan peminat. Malah ada pejabat yang dalam sebuah kalimat pendek memakai dua kali dalam rangka. 

Ada sementara orang yang berkeberatan atas pemakaian berkenan dengan alasan tidak demokratis. Karena bahasa sebagai alat komunikasi, pemakaian berkenan oleh pejabat yang lebih rendah sebagai penghormatan kepada pejabat yang lebih tinggi boleh-boleh saja. Begitu juga perkenan (izin, persetujuan). Yang aneh, bila ada pembawa acara berkata, "Bapak dan Ibu ... berkenan meninggalkan ruangan. Hadirin dimohon berdiri." Timbul kesan seolah-olah ada kejutan, tadinya Bapak dan Ibu... tidak berkenan, tetapi kemudian berkenan. Padahal sang pembawa acara sekadar menyampaikan pemberitahuan.

Karena melihat seringnya pejabat kurang cermat berbahasa, ada yang mengusulkan agar para pejabat tidak usah berbicara di radio dan televisi. Di dalam banyak kesempatan, misalnya Kongres Bahasa Indonesia V, 1988, orang mempersoalkan "bahasa pejabat".

Di Kongres Bahasa Indonesia V itu Menteri Sekretaris Negara Moerdiono diminta membawakan makalah "Berbahasa dengan Baik dan Benar Meningkatkan Citra Pejabat Negara". Atas izin panitia, Menteri mengubah judul itu menjadi "Bahasa Indonesia dalam Tugas Penyelenggaraan Pemerintahan" dengan alasan judul pertama agak teknis dan di luar kemampuannya. Adalah benar jika Moerdiono menulis bahwa masyarakat kita tidak sudi dipermalukan di depan umum.

Kalau kita amati, kritik mengenai "bahasa pejabat", yang notabene pejabat yang sudah lanjut, sebagian diwarnai keinginan mengolok-olok. Ada yang berdalih karena pemimpin jadi anutan, anak-anak akan mengikuti berbahasa secara salah. Memang banyak yang karena kebiasaan melafalkan akhiran kan menjadi ken. Toh anak-anak tetap melafalkan memberikan, misalnya. Kalau ada anak SMP atau SMA melafalkan memberiken, itu bukan karena terpengaruh, tetapi ingin mengolok-olok.

Ketika ada usul mengadakan "penertiban bahasa” di kalangan pejabat tinggi, usul itu "diredam" supaya paling tinggi sampai pada pejabat eselon I saja. Kalau disampaikan secara pribadi, empat mata mungkin, kritik itu lebih mengenai sasaran. Umpamanya di kalangan sesama menteri. Sayangnya, salah seorang pengusul "penertiban bahasa" ternyata bekas menteri.

Bila usul "penertiban bahasa" itu realistis, kritik tidak akan seramai yang ada selama ini. Harus diakui bahwa pembakuan lafal (atau yang mendekatinya) sangat sulit, lebih sulit daripada pembakuan ejaan, yang ternyata juga sangat amat susah. Orang yang sudah lama di Jakarta pun ada yang tetap melafalkan pendidi'an dan memili'i alih-alih pendidi-kan dan memili-ki. 

Tidak heran kalau ada penyiar TVRI yang selalu melafalkan mengena'kan dengan suara k rangkap seperti meletakkan. Bahkan ada penyiar lain yang selalu salah memberi tekanan pada kata juga, yakni juga lebih menempel pada subyek daripada menempel ke predikat. Umpamanya, "Presiden juga / mengadakan temu wicara" padahal yang lebih tepat "Presiden / juga mengadakan temu wicara", sebagai penjelas bahwa ada kegiatan lain, misalnya meresmikan proyek.

"Penertiban bahasa", khususnya lafal, untuk Angkatan 45 dapat tidak usah diprioritaskan. Yang lebih penting, dan lebih mungkin dilakukan, adalah "penertiban bahasa" untuk generasi penerus, dan menghindarkan pejabat dari suku lain mengikuti lafal yang salah hanya karena diucapkan oleh pejabat yang lebih tinggi. 

"Penertiban bahasa" untuk pejabat tentu tidak boleh diartikan bahwa semua pejabat berbahasa buruk. Menteri Moerdiono dalam makalah itu, untuk mengutarakan hasil mengamati, memunculkan kata amatan, yang selama ini sering kita pilih bentuk lainnya, pengamatan. Pilihan amatan itu benar, ada di kamus, dan mengilatkan seperti "bahasa pejabat bahasa", sejalan dengan Prof. Dr. Anton Moeliono yang lebih memilih simpulan (hasil menyimpulkan) daripada kesimpulan.

"Bahasa pejabat bahasa" sering menimbulkan kesan khas, resmi. Dalam kegiatan sehari-hari di Pusat Bahasa acap terdengar ucapan "rapat nanti pukul 10.00", yang kalau di kantor lain akan terdengar "rapat nanti jam 10.00".

Ada yang usul agar Pusat Bahasa dibubarkan. Bagaimana kalau dibesarkan? Kalau tidak organisasinya, ya kewenangan teknisnya. Penyuluhan kepada lembaga-lembaga tinggi memang perlu, tetapi yang tidak kalah penting adalah aktivitas secara praktis. Misalnya naskah pidato dan makalah yang akan disampaikan para menteri dan pejabat eselon I diserahkan ke Pusat Bahasa untuk disunting. Bila naskah sangat mendesak, pesawat facsimile telah ada. Dengan hasil suntingan itu, para staf dan pejabat yang bersangkutan lebih tahu "bahasa yang baik dan benar", dan makin terjaga bahasanya, paling tidak bahasa tulisnya.


Sumber: TEMPO, No. 7, Tahun XX – 14 April 1990


Minggu, 12 April 2026

SURAT UNTUK WAI TSZ

Kompas, 12 April 1998



Cerpen oleh: Leila S Chudori


Udara di Jakarta tampaknya menunjukkan keadaan negara kami. Panas, penuh peluh dan tak ada pohon-pohon untuk berteduh. Saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja teringat untuk menulis surat kepadamu, padahal saya tahu betul di dalam newsletter Keep In Touch alumni kita, kau selalu disebut-sebut sebagai salah satu dari rekan-rekan yang menghilang sejak peristiwa Tianamen. Tetapi, aku selalu punya harapan, karena aku percaya Tuhan selalu mengirimkan tangan-Nya. Suratmu terakhir yang bau sayur dan anyir ikan asin itu yang tampaknya kau kirim dari luar Beijing sebelum melarikan diri begitu gagah berani, begitu inspiratif dan semakin membuatku merasa begitu kecil dan tak berarti.


Wai Tsz yang baik,


Tepat 14 tahun silam, sembari memandang bintang, kita berempat kau, aku, Finn dan Maria – saling berjanji. Kita tak akan menikah sebelum "mencapai bintang itu".


Finn, teman sekamar kita, Putri Salju berambut panjang blonda dan bermata biru itu meletakkan misi hidupnya di sekitar kumpulan bintang Andromeda. Dan katanya, "Yang kuinginkan adalah persamaan hak lelaki dan perempuan. Dan kukira itu sebuah cita-cita yang berlaku bagi kita semua," katanya dengan nada romantis. Idealisme teman sekamar kita asal Denmark ini memang sangat menjengkelkan. Dan karena itu, saya tidak mau pusing untuk membicarakan masalah kemiskinan dan korupsi yang menggila di negaraku, karena pasti susah untuk memaksanya berimajinasi. Gimana dong, negaranya begitu kaya raya dan sentosa, apa dia bisa mengerti?


Lalu, aku ingat Maria dari Filipina mengatakan, "Aku menginginkan perubahan di negaraku. Aku berharap aku bisa menjadi bagian dari perubahan itu," katanya dengan nada tetap dan yakin. Kau dan aku sama-sama langsung berteriak, saling berebutan, "Aku juga mau mengatakan hal itu!"


"Ah, mana pula Indonesia punya persoalan. Ekonomi kalian sungguh luar biasa dibanding keadaan kami," tukas Maria. "Dan kau Wai Tsz, Cina adalah raksasa tidur yang sedang menggeliat bangun. Sekali dia tegak, negara Barat akan habis sekali lahap. Cuma Filipina yang tak memiliki harapan yang pasti di bawah presiden seperti  Marcos…"


Ternyata, yang pertama mengobarkan api demokrasi adalah negaranya, Filipina. Dan sesuai cita-citanya, Maria menjadi bagian dari proses demokratisasi itu. Aku ingat ketika ia mengirim sehelai potongan koran di mana ada foto Maria di antara segerombolan kawan-kawannya di University of the Philippines yang tengah berdemonstrasi di jalan besar Edsa yang bersejarah itu. Seperti sebuah film, aku membayangkan Maria, kawan sekamar kita yang susah bangun pagi itu, menjadi bagian dari sebuah perubahan besar di negaranya. Bayangkan, ia ikut menjadi bagian revolusi damai Filipina Februari tahun 1986, ketika akhirnya Marcos terpaksa bergegas ke Hawaii dan seorang janda akhirnya duduk di atas kursi kepresidenan. Sementara, aku yang menjadi tetangganya, masih dalam keadaan yang sama, bekerja di sebuah majalah berita terbesar di negaraku, dengan naif menyangka bahwa keadaan negaraku aman sentosa sejahtera dan paling tidak masih lebih mending dibanding beberapa negara teman-teman kita sekampus yang setahun bisa mengalami kudeta beberapa kali.


Wai Tsz, sejak kita lulus, aku pulang, menghirup udara yang bercampur polusi ini, menjadi wartawan. Kau pulang, menghirup udara yang bercampur polusi di Beijing, dan menjelma menjadi aktivis hak asasi manusia.


Yang menarik di negaramu itu, peristiwa masuknya berbagai perusahaan Amerika, segera saja dianggap sebagai sebuah "gebrakan Deng" yang luar biasa. Mahasiswa Cina yang diperkenankan membaca terjemahan Milan Kundera dan nonton film James Bond seolah-olah menjadi titik awal demokrasi. Salah satu suratmu dengan penuh gairah bercerita betapa menariknya ceramah-ceramah Fang Lizhi yang tak ragu-ragu mengucapkan kata demokrasi dan kebebasan. Namun setelah peristiwa Tianamen pecah, barulah kita menyadari bahwa "gebrakan" yang didengungkan pakar Barat itu hanya sebuah cara pandang yang menyederhanakan persoalan.


Sementara itu, Wai Tsz,  yang terjadi di tanah airku adalah kebijakan-kebijakan ekonomi baru yang kemudian menghasilkan ratusan bank baru, gedung baru, perusahaan-perusahaan baru, stasiun televisi baru, kelompok kaya baru, mobil-mobil baru, kebijaksanaan baru lagi, gedung-gedung baru lagi, jalan baru lagi, warga super-kaya-baru lagi, dan seterusnya yang oh, sungguh luar biasa dan oh, sungguh memabukkan....


Keadaan seperti ini, Wai Tsz, memang telah membuat kami menjadi wartawan yang profesional, gesit, lincah, kompetitif dan sedikit takabur. Keadaan ini, ternyata membuat kami melupakan banyak hal dalam kemanusiaan. Misalnya, ya misalnya, jika kami sedang membicarakan tentang sebuah peperangan di negara lain pada saat rapat perencanaan, kami duduk bagai sekelompok komentator bola yang sok jago yang melecehkan salah satu pemain yang begitu "goblok" sembari menggigit ayam goreng dan tertawa cekakan, padahal yang tengah kami bicarakan itu adalah nasib ribuan ibu dan bayi yang dibantai di negara itu. Profesi ini telah membuat aku – seperti yang dikatakan Profesor Humphrey yang tidak menyetujui pilihanku untuk menjadi wartawan – mampu membuat kami menjadi sekelompok "orang sok tahu yang tak terlalu tahu apa-apa".


Pendapat Profesor Humphrey tidak sepenuhnya benar, tetapi harus kuakui, terkadang pada beberapa kasus, pendapat itu tidak terlalu salah. Profesi ini telah membuatku duduk di atas awan, memandang rakyat sebagai obyek berita, bagian dari deadline, bagian dari pergunjingan di pub, bagian dari perbincangan di hand-phone atau sekadar deretan angka-angka statistik yang tak berarti. Tianamen yang menjadi sebuah peristiwa besar bagimu adalah sebuah gerakan moral. Namun bagi kami, para wartawan, peristiwa itu tak lebih sebagai sebuah excitement, sebuah aliran adrenalin yang segar, sebuah pompa bagi darah jurnalistik kami. Aku hampir melupakan bahwa selama bertahun-tahun aku mempunyai kawan sekamar yang mungkin menjadi salah satu dari mereka yang sedang merunduk-runduk diburu dan bersembunyi di antara keranjang sayuran di batas kota. Wai Tsz... ada di mana engkau?


Di dalam suratmu terakhir, setelah peristiwa Juni 1989 – surat lusuh berbau anyir itu – aku membaca tulisan tanganmu yang ditulis dengan tinta agak luntur. "Nadira, tolonglah kami dengan tulisanmu..."


O, Wai Tsz, alangkah malunya aku. Tentu saja kami menulis, meliput, memotret peristiwa di negerimu dengan gagah perkasa. Tetapi aku tak yakin bahwa ratusan wartawan yang datang meliput peristiwa itu terdorong oleh keprihatinan. Mungkin ada juga yang memang prihatin, tetapi selebihnya adalah dorongan kompetisi, kebanggaan mendapat berita eksklusif dan kalau perlu karena keinginan meraih piala Pulitzer yang gagah perkasa itu.


Di tahun 1997 ini, tiba-tiba aku terhenyak...


Sementara perusahaan-perusahaan mulai runtuh, bangkrut, jutaan orang terkena PHK, bank-bank dilikuidasi, bahan-bahan pokok ditimbun agar harga-harga melambung tak terhentikan, perusahaan pers mulai menjerit karena harga kertas yang menjulang, para mahasiswa yang protes, ibu-ibu yang protes karena harga susu naik, maka aku baru kembali menjadi "manusia" dan teringat padamu. Teringat pada jalan-jalan kita di tepi Sungai Otonobee; teringat pada pertengkaran kita tentang persamaan dan perbedaan antara kebudayaan Barat dan Timur; dan oh... aku teringat akan "Teori Galaxi"-mu saat engkau mencoba menghiburku ketika menemui aku menangis tersedu-sedu. Kau mengajakku rebahan di atas rumput dan menatap bintang. "Dalam keadaan pedih dan terpuruk, Nadira, terbanglah ke galaksi itu dan tinggalkan Bumi ini. Maka di atas sana, Bumi ini akan terlihat begitu kecil; hingga kau akan heran mengapa kau harus menangisinya. Setelah itu, kembalilah ke Bumi, tariklah napas yang panjang dan kemudian selesaikanlah persoalan itu."


Wai Tsz, "Teori Galaksi"-mu itu sungguh sederhana dan manjur untuk beberapa hal. Tetapi untuk masalah negerimu dan masalah negeriku ini, "Teori Galaksi"-mu ini akan sia-sia. Belum pernah aku seputus asa ini. Belum pernah aku merasa tak berdaya seperti ini. Setiap hari, aku membuka jendela, dan kudengar keluhan ibu-ibu tentang kenaikan harga barang pokok, tentang orang-orang yang baru saja kehilangan kerja; tentang spekulan yang berjingkrak girang setiap kali nilai dolar melesat bagai meteor, beratus-ratus orang yang mendadak menjadi aktor teater, tersenyum-senyum di muka kamera televisi mengucapkan betapa mereka mencintai republik ini.


Dan sungguh benar si jenius William Shakespeare itu.


all the world's stage 

and all the men and women merely players

they have exits and their entrances

and one man in his time plays many parts


Ingatkah engkau ketika Prof Johnson membacakan bait ini dari lakon As Your Like it? Apakah aku tengah menjadi sosok yang tak berdaya dan melankolis seperti Jacques?


Aku membayangkan Shakespeare tengah tertawa terpingkal-pingkal karena dunia ini – panggung drama ini – hanya dipenuhi oleh segerombolan orang dungu. Menurutku, panggung drama ini dipenuhi oleh orang-orang yang kepandaiannya bersandiwara begitu mengerikan. Setiap pagi, koran-koran penuh dengan berbagai berita kesulitan ekonomi, tetapi toh mereka yang mengeluh sibuk menggaruk-garuk rupiahnya untuk ditukar ke mata uang asing dan hidup di atas mayat-mayat penderitaan orang lain.


Wai Tsz, kenapa aku lahir di antara masyarakat yang melahirkan kata "gotong-royong" tetapi sesungguhnya kami adalah sekelompok orang-orang yang sangat individualistis? Hatiku sudah cedera. Seandainya aku sama individualistisnya; mungkin aku sudah pergi terbang melayang bergabung dengan teman-teman kita untuk mengejar pendidikan setinggi awan di AS. Tetapi, pada akhirnya, hatiku memang ada di sini Wai Tsz, tertanam begitu erat dan berakar sekeras-kerasnya di bumi ini. Linggis atau pacul sekuat apa pun tak akan mampu mencerabut hatiku dari tanah ini.


Untuk beberapa bulan lamanya, aku diserang mimpi-mimpi buruk yang isinya lebih mirip lukisan-lukisan Salvador Dali. Satu malam aku bermimpi terjatuh dari gedung bertingkat, seluruh anggota tubuhku terpisah namun aku masih tetap hidup. Malam yang lain aku bermimpi kedua tanganku dirantai dan ujung kakiku mulai digerogoti puluhan anjing berwarna hitam. Malam yang lain lagi aku tiba-tiba saja terlempar ke sebuah lapangan, dalam keadaan hamil tua, dan ratusan burung gagak mencoba menghisap bayiku keluar dari perutku. Maka untuk menghindar mimpi-mimpi itu, aku ke toko buku dan menghabiskan gajiku dengan memborong setumpuk buku komik Lat dengan harapan aku bisa tertawa terbahak-bahak. (Yang terjadi, aku tertawa hingga air mataku mengalir sederas-derasnya yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah episode kesedihan tak bernama). Kemudian aku menghindar dari tidur yang kelam hingga untuk beberapa bulan berikutnya aku menjadi penderita insomnia yang parah. Yang kemudian menambah parah keadaan adalah karena aku sama sekali tak mampu bergerak maupun berpikir. Very pathetique. Itulah yang bisa kulakukan: mengeluh dan marah (kepada siapa?). 


Wai Tsz, aku ingat ketika engkau berkata "sesuatu yang dimulai dari niat baik dan nurani selalu lebih sukar dipercaya daripada sesuatu yang dimulai dari niat jahat." Mungkin itulah sebabnya orang sukar percaya bahwa gerakan untuk memprotes adalah sebuah dorongan nurani. Mungkin kata "nurani" memang sudah langka, atau bahkan sudah waktunya masuk ke museum saja.


Wai Tsz, di manakah engkau? Menyamar menjadi pelayan toko? Atau mengajar di salah satu sekolah dasar di sebuah dusun? Atau mungkin secara diam-diam kau masih di Beijing? Aku tak yakin kau akan membaca suratku; aku mengirimnya ke alamatmu yang lama di Beijing. Wai Tsz di mana pun engkau berada... jika kau tak membaca surat ini, aku yakin kau telah membaca isi hatiku.


Sahabatmu,

Nadira

(Jakarta, November '97)


Sumber: Kompas, 12 April 1998

Jumat, 10 April 2026

,

KIAI BEJO

TEMPO, No. 50, Tahun XXI, 8 Februari 1992


Oleh: Mohamad Sobary


Meskipun Kiai Ali Yafie tak berkenan hadir dalam Munas dan Konbes NU di Bandarlampung, saya masih tetap terheran-heran melihat "simpanan" kiai NU sebanyak itu tumplak-blak hadir dalam momen penting tersebut. Ini merupakan kesempatan pertama bagi saya melihat kiai sebanyak itu sekaligus.

Para kiai itu, seperti biasanya, memakai jubah putih dan surban putih. Atau sarung putih, kemeja lengan panjang (tak berleher) putih, dan pecinya pun putih. Pokoknya, serba putih. 

Tanpa pandang bulu, para kiai itu saya salami dengan ketakziman yang merata. Orang boleh tak setuju, tapi saya tetap membungkuk dalam menyalami para kiai itu, dan juga mencium tangan mereka. Menciumi tangan kiai tidak akan pernah rugi karena tangan orang-orang yang paling dekat dengan Allah itu penuh berkah. Setidaknya, ini menurut tradisi NU.

Siang itu, ketika bertemu dengan orang berpakaian serba putih, saya membungkuk hormat sambil memberi salam, "Assalamualaikum, Pak Kiai," kata saya.

Seorang wartawan, sahabat saya, menyikut sambil berbisik, "Dia bukan kiai. Ngawur kamu," kata sang wartawan.

Wah, malu juga awak. Rupanya, seperti halnya tak semua yang kuning adalah emas, tak semua orang yang berpakaian serba putih adalah kiai. Pengetahuan saya tentang dunia kiai memang amat terbatas. Tapi saya berjanji tak akan lagi membuat kesalahan serupa dalam Munas itu. Saya mencoba berhati-hati.

Lagi pula, sahabat wartawan itu sudah hampir menjadi pemandu saya. Saya "taruh" dia di depan, di mana saja, kapan saja. Tapi sekali lagi, suatu saat, saya toh "kepleset". Ketika siang itu sidang komisi berjalan dengan panasnya, saya melenggang dari komisi A ke komisi B.

Lupa pada "protokoler"–sebagaimana disepakati dengan teman wartawan itu–saya  berjalan di depan. Di luar ruangan, ketika saya jumpai seorang kakek berdiri sendirian di tangga, saya cuma menegurnya dengan "halo" biasa-biasa saja. Sedangkan wartawan kita itu saya lihat membungkuk dalam-dalam, menciumi tangan orang tua itu dan bicaranya pelan. Hormat betul sikapnya.

Mulanya saya mengira ia kebetulan bertemu mertua atau paman, yang lama tak ditemuinya. Tapi ketika kemudian kami duduk di ruangan sidang komisi B, dia bertanya, 

"Kenal orang itu tadi?"

"Tidak," sahut saya.

"Dia kiai besar. Di kalangan sesama kiai, dia dikenal sebagai wali Tanah Jawa."

"Siapa namanya?" tanya saya penasaran. Dan ketika wartawan kita menyebutkan namanya, kontan saya menghambur ke luar. Nama itu sudah lama saya dengar. Tapi tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa penampilan beliau sesederhana itu. Celana panjang biasa, kemeja biasa, bersendal jepit, tanpa peci. Rambutnya bahkan seperti tak disisir.

Di dunia NU memang dikenal konsep tentang kiai 'indannas dan kiai 'indallah. Bagi yang tak paham bahasa Arab, jangan gusar. Kedua istilah itu cuma menunjukkan adanya perbedaan tajam antara kiai yang mengutamakan simbol-simbol luar agar dikenal baik sesama manusia, dan kiai yang merasa tak perlu berbuat begitu karena "inti" kekiaiannya merupakan urusan langsung dia dengan Allah.

Kiai kita ini jelas termasuk kategori kiai 'indallah' tadi. Ia tak peduli orang lain tak mengenalnya sebagai kiai. Urusan pokoknya menolong orang. Dirinya sendiri dia abaikan.

Orang pun percaya, siapa berurusan dengan kiai kita ini ia akan selalu bejo (beruntung). Berkah Allah bisa diminta lewat perantara dia. Oleh karena itu, saya menamakannya Kiai Bejo.

Di luar ruangan, Kiai Bejo tidak tampak. Saya cari di komisi A dan C. Tapi Kiai itu tak ada di sana. Panitia pun tak tahu ke mana perginya. Ia mirip Nabi Khidir, atau Ki Ageng Pandan Alas, pendekar ciptaan S.H. Mintardja dalam Naga Sasra dan Sabuk Inten itu. Ia nyentrik. Urakan. Dan muncul kapan saja ada keruwetan. Kemudian amblas lagi. Entah ke mana.

Sia-sia saya mencarinya hari itu. Saya ingin menemuinya untuk pertama-tama minta berkah. Kemudian minta maaf karena saya tak mengenalnya. Saya takut kesiku (kualat). Sebab, selama ini saya pun rupanya sudah terbiasa menilai orang hanya dari penampilan luarnya.

Pagi esoknya, seorang menteri datang memberi ceramah. Bertemu dengan menteri juga merupakan kejadian langka bagi wong cilik seperti saya. Tapi berhubung menteri tidak bisa memberkati, maka saya putuskan untuk lebih baik mencari Kiai Bejo. Biar di lubang semut sekalipun, saya akan tetap mencarinya. Apa boleh buat, jadinya tak bisa menatap wajah menteri.

Doa salat subuh saya pagi itu saya tambahi satu pasal lagi, yakni pasal permintaan kepada Allah agar dipertemukan dengan Kiai Bejo. Syukur, kalau di Munas itu juga. Lebih syukur lagi kalau bertemu hari itu.

Dengan perasaan enteng, saya melangkah menuju Islamic Centre. Udara panas. Di bawah sebatang pohon kecil, jauh di pojok gedung, saya lihat seorang kakek bersandar terkantuk- kantuk pada batang pohon itu.

Alhamdulillah. Kiai Bejo. Tanpa peduli sopan santun, saya betot tangan orang tua itu dan saya ciumi sejadi-jadinya. Anehnya, ia tetap merem, terkantuk-kantuk. Seolah tak terjadi sesuatu pun atasnya.

"Maafkan saya Kiai," kata saya.

"Dan kau tak perlu mencariku di lubang semut," sahutnya. Saya terbengong-bengong. Tapi Kiai Bejo malah mendengkur, membiarkan saya tetap siaga menunggu, berjam-jam lamanya.


Sumber: TEMPO, No. 50, Tahun XXI, 8 Februari 1992


Libido seksual sebagai dorongan biologis dasar manusia.

Secara sederhana (literal), kutipan ini menyatakan bahwa kerumitan hidup manusia, entah apapun itu, baik sosial, ekonomi, budaya, bahkan moral, pada akhirnya berakar pada dorongan dasar, yaitu libido seksual.


~ “Sejelimet apa pun kehidupan” → kompleksitas hidup manusia.

~ “Muaranya cuma satu” → ada satu akar fundamental.

~ “Libido seksual” → dorongan biologis dasar manusia.


Pernyataan ini terdengar reduksionis (menyederhanakan), tetapi justru di situlah letak provokasinya.


🧩

Pernyataan Fahruddin Faiz ini sangat dekat dengan teori milik Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa, perilaku manusia di dominasi atau banyak dipengaruhi oleh libido (energi seksual). Namun, Libido tidak selalu tampil sebagai seks secara langsung, tetapi bertransformasi menjadi berbagai bentuk gerak aktif manusia seperti, ambisi, kreativitas, kekuasaan, bahkan moralitas sekalipun.


Dalam kerangka ini: 👉 Politik bisa jadi sublimasi hasrat dominasi.

👉 Seni bisa jadi sublimasi hasrat cinta.

👉 Relasi sosial bisa mengandung dorongan seksual terselubung.


Ini artinya, Faiz sedang menggemakan gagasan bahwa, di balik “Peradaban Tinggi”, ada dorongan naluriah yang sangat primitif.


🔍

Tafsir filosofis (lebih dalam)


Namun, penting untuk diketahui bahwa, Faiz bukan sekadar menyatakan “manusia hanya makhluk seksual”. Justru bisa jadi ada beberapa kemungkinan tafsir/ interpretasi:


1️⃣ Kritik terhadap kemunafikan sosial.

Manusia sering berbicara moral tinggi, menjunjung norma, seolah-olah tampak rasional, akan tetapi: 👉 banyak keputusan hidup tetap dipengaruhi oleh hasrat biologis.


Artinya, Ada jarak antara apa yang kita akui (rasional) dan apa yang menggerakkan kita (naluriah).


2️⃣ Ajakan untuk jujur terhadap diri sendiri.

Dalam konteks filsafat eksistensial, memahami manusia berarti memahami dorongan terdalamnya bukan hanya identitas sosialnya. Faiz seperti mengajak, “Kenali dirimu bukan dari topeng, tapi dari dorongan paling dasar.”


3️⃣ Provokasi intelektual (bukan kebenaran mutlak).

Gaya Fahruddin Faiz dalam buku ini memang ringan, penuh reflektif sekaligus provokatif. Buku ini bertujuan membuka cara berpikir filsafat yang kritis dan reflektif, bukan memberi dogma tunggal. 


Jadi, kutipan ini lebih tepat dipahami sebagai “Pemantik Berpikir”, bukan kesimpulan final tentang manusia.


⚖️

Namun begitu saya menaruh kritik terhadap pernyataan ini, karena tidak semua filsuf setuju dengan reduksi manusia ke libido, seperti beberapa tokoh berikut:


🔹Abraham Maslow → manusia juga digerakkan oleh Aktualisasi Diri.


🔹Viktor Frankl → manusia digerakkan oleh pencarian makna (bukan libido).


Sehingga Libido 🫦 merupakan salah satu faktor penting, namun bukan satu-satunya.


🌿 

Pernyataan Faiz ini bisa diringkas sebagai berikut:


Manusia sering tampak kompleks, tetapi memiliki dorongan dasar yang sederhana. Libido adalah salah satu energi paling kuat dalam kehidupan manusia. 


Namun, pernyataan ini bersifat provokatif karena memang bertujuan untuk menggugah kesadaran, bukan membatasi hakikat manusia.


🔑 Intinya:

Faiz mengajak kita melihat bahwa di balik rasionalitas manusia, ada dimensi naluriah yang tidak bisa diabaikan.


Sumber 📚:

• Sebelum Filsafat Quotes | goodreads.com

• Fahruddin Faiz - Sebelum Filsafat | iflegma.com

• Sebelum Filsafat Karya Fahruddin Faiz: Lentera Bagi yang Ingin Memahami Hidup Tanpa Tersesat dalam Teks Berat | ibenews.id

• Freud, S. Three Essays on the Theory of Sexuality (1905)


#fahruddin #faiz #filsafat #sigmund #freud #psikologi #libido #naluri #hasrat #sex #manusia


Sumber: Fb

TERBARU

MAKALAH