alt/text gambar

Minggu, 16 Agustus 2026

Caping Agustus 1979

 17 AGUSTUS


© Goenawan Mohamad


17 Agustus. Benarkah kita butuhkan cerita pahlawan: tokoh-tokoh yang termasyhur, para pemimpin rakyat dan komandan pasukan? Jika masa lampau macam itu yang akan kita kenang, barangkali sejarah kita cukup selesai dengan serangkaian riwayat hidup orang-orang besar.


Atau ia menjadi seperti cerita wayang. Di layar yang nampak hanya para raja dan kerabatnya. Unsur lain hanya diwakili oleh para dewa dan punakawan. Kita pun lupa bahwa perang sebesar Bharatayudha pastilah suatu perang yang melibatkan ratusan ribu manusia: pegawai kecil, petani miskin dan anak-anak tak bersalah. Tidak cuma keluarga Bharata.


Tapi kita agaknya terlampau banyak terkenang dongeng para sultan dan raja, hingga kita lupa bahwa Nusantara kita juga terdiri dari rakyat. Tak mengherankan apabila pada suatu ketika ada orang yang percaya bahwa perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan kaum intelektual dan kaum elite lain dan bahwa rakyat hanya ikut-ikut.


Tak heran bila mereka pun berbisik-bisik, "Rakyat masih bodoh, bung." Maka jika ada sejumlah petani ber-gejolak dan memprotes, dengan cepat itu dianggap "di-gerakkan". Dan ketika ada sejumlah rakyat marah punya ide untuk memutuskan kabel telepon, yang dipertanyakan jalah: "Bagaimana mungkin mereka pinter?"


Bagaimana mungkin? Rakyat bukan segumpal batu. Salah satu jasa penelitian sejarah yang dilakukan Prof. Sartono Kartodirdjo dengan Protest Movements in Rural Java ialah karena ia menunjukkan bahwa perjuangan masa silam kita bukan cuma perlawanan para raja dan pangeran yang termasyhur. Para raja dan pangeran itu kiranya sudah cukup dicatat. Bukankah sejarawan R. Moh. Ali seperempat abad yang lalu menerbitkan bukunya dengan judul Perdjoangan Feodal Indonesia?


Perjuangan para pemimpin "feodal" ini, kata Moh. Ali, "sebenarnya merupakan sebagian kecil dari perjuangan rakyat jelata yang dahsyat. Tetapi berkat kedudukan sang pemimpin feodal, maka rakyat feodal dapat ditipu, dikhia-nati dan diperkuda


Kalimat Moh. Ali terlampau berapi-api (buku ini disusun di tahun 1948), dan ketepatan data-datanya mungkin masih bisa dipersoalkan. Tapi paling tidak menjelang akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, memang terbukti: gejolak rakyat di daerah pertanian pegang peranan peting dalam menyalakan api revolusi - dan kita pun punya  17 Agustus 1945 dengan semangat yang menjalar ke sana

ke mari. 


Rakyat memang bukan sesuatu yang netral.

Rakyat juga bukan sesuatu yang tanpa bekas. Seorang cerdik cendikia pernah berkata: Sebuah sejarah umatnya manusia yang konkret kalau ada yang menuliskannya, tentu akan merupakan sejarah semua orang. la akan merupakan sejarah harapan, pergulatan dan penderitaan manusia."


Dengan kata lain, ia bukan cuma sejarah kekuasaan. la bukan cuma sejarah tentang sukses. Barangkali riwayar umat manusia tak punya arti apa-apa. Tapi jika kita harus memberikan arti kepadanya, maka yang penting jelaslah bukan hanya kekuasaan dan sukses, tapi keluhuran manusia hingga ia bisa memberi dirinya makna walaupun tanpa semua itu.


Sebab apakah artinya kekuasaan kini untuk nanti tahun 2000? Apakah artinya sukses untuk tahun 2000? Apakah yang akan kita tumbuhkan hingga kita bisa hidup bahagia dengan penduduk yang bertambah banyak, dengan mi-nyak dan gas yang habis, dan pendapatan per kapita yang tak akan mencapai US$ 500?


Di tanggal 17 Agustus ini, biarlah kita kian dekat dengan kenyataan itu. Tutupkan buku sejarah dan lihatlah cermin di sana kepada rakyat yang mengerti ketenteraman hati meski di bawah $ 500. Marilah kita lihat sejarah sebagai sejarah mereka: harapan, pergulatan, penderitaan, dan juga ketahanan.


• Catatan Pinggir Tempo, 18 Agustus 1979.

, ,

Tragedi, Akademia, dan Susanah

Made Supriatma


Tragedi, Akademia, dan Susanah: Kita mulai dari Jason Arday, seorang profesor Sosiologi dari Universitas Cambridge. Dia adalah profesor termuda yang pernah diangkat oleh Cambridge. Tidak itu saja. Dia berkulit hitam. 

Kalau Anda paham dalam sistem rasial di negara seperti Inggris atau Amerika Serikat, Anda pasti tahu bahwa cerita jalan hidup Jason Arday itu seperti kisah keajaiban. Bocah dari daerah kumuh di bagian selatan London bisa menjadi profesor di Universitas Cambridge! 

Cerita ini bisa jadi inspiratif. Ia bisa menjadi cerita motivator: Anda bisa menjadi apapun di dunia ini asal kerja keras. Asal punya semangat, ya semangat untuk jadi pemenang! 

Ia juga bisa menjadi proyek percontohan di universitas semacam Cambridge, institusi elit yang mahasiswanya sebagaian besar dari lapisan elit juga. Jason Arday menjadi semacam 'examplar' untuk Cambridge. Juga dijadikan proyek emansipasi: bahwa Cambridge terbuka untuk siapa saja yang pintar dan pekerja keras. 

Hanya saja, cerita bocah ajaib ini kemudian berbalik. Orang mulai menyelidiki tulisan-tulisan Jason Arday. Mereka mendapati bahwa dia melakukan plagiarisme di beberapa bagian disertasinya. Dia juga mengarang sejumlah data risetnya. Dan, anak ajaib kesayangan Cambridge ini jatuh. 

Minggu lalu dia mengundurkan diri. Kemarin saya baca dia ditemukan sudah meninggal. 

Tragis. Dan, media-media Inggris, yang membantu mengamplifikasi kasus Jason Ardy kemudian rame-rame memberitakan tragedi ini. Para politisi, mulai dari PM Inggris hingga ke Walikota London semuanya mengecam. Mereka menyalahkan Cambridge yang tidak memeriksa terlebih dahulu latar belakang Jason Ardy dan tidak teliti menelisik disertasinya. 

Di luar sana, dunia akademik itu keras. Ini adalah dunia yang memang secara penghasilan tidak akan membuat Anda kaya raya. Anda tidak akan bisa mendapat 0,1 persen kekayaan Elon Musk atau Bill Gates dengan menjadi akademik (dosen). 

Namun persaingan sangat tinggi. Jalan untuk ke sana sangat terjal. Orang dilatih bertahun-tahun. Pada tahun-tahun awal, orang hidup dengan upah minimum dan kerja keras melebihi batas jam kerja. 

Ketika sudah mendapat posisi tetap, hidup memang menjadi lebih nyaman. Namun itu tidak berkelebihan juga. Beberapa kawan saya yang menjadi profesor masih harus menghitung ketat pengeluarannya.

Dan, disana ada hirarki. Ketika Anda menulis buku dan buku itu menarik perhatian banyak orang serta dipakai sebagai rujukan di kelas-kelas, disanalah Anda bisa naik ke kasta Brahmana. Ini akan sangat terlihat di konferensi-konferensi. Ruang ceramah Anda akan penuh sesak. Sementara, ilmuwan junior -- atau yang selamanya junior -- hanya akan diisi satu dua orang. Itu pun biasanya adalah kolega-kolega terdekat. 

Sebenarnya, ada cerita lain yang serupa tapi tak sama dengan Jason Arday. Itu adalah tentang Alice Goofman, yang menulis buku sangat bagus berjudul "On the Run: Fugitive Life in an American City." Ini adalah buku tentang polisi, penguntitan, dan kriminalitas di kota Philadelphia, Amerika Serikat. 

Goofman perlu waktu enam tahun hidup di perkampungan kumuh Phily. Dia mengikuti kelompok pengedar narkoba. Dia juga menceritakan secara detail kekerasan yang terjadi baik oleh polisi maupun di dalam kelompok ini. 

Seperti Jason Arday, Goofman adalah 'the rising star' dalam bidang sosiologi. Metode ethnografinya dalam memahami sistem keadilan saat itu dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa. Hanya saja, kemudian orang menelisik karyanya. Dia tidak memperlihatkan konsistensi antara waktu kejadian yang ditulis di bukunya dan catatan kepolisian. 

Alice juga menghancurkan catatan-catatan etnografis yang dia miliki. Ini bisa dipahami karena catatan-catatan itu bisa dipakai  untuk menjeratnya secra legal. 

Orang mulai curiga. 

Dia juga menghadapi problem etik. Dia melihat terjadinya kekerasan dan bahkan pemb4n4h@an namun tidak melaporkannya ke polisi. Dia juga mendapat tuduhan melakukan 'racial profiling' karena medan penelitiannya di daerah kumuh yang dihuni komunitas kulit hitam. 

Kritik bertubi-tubi membuat univesitas yang mempekerjakannya tidak memberinya posisi tetap (tenure). Alice Goofman akhirnya mengundurkan diri dari dunia akademik. 

Tragis. Karena Alice adalah putri dari seorang sosiolog yang amat terkenal, Erving Goofman. 

Di negeri kita ini, posisi sebagai insan akademis juga berat. Tidak saja berat secara ilmiah namun juga menghadapi tekanan politik. Ada hal-hal yang tidak boleh dibicarakan oleh insan akademis. Itu satu. Yang kedua adalah tekanan politik. 

Saya seringkali mendengar kawan-kawan yang memilih waras sebagai akademik bahwa mereka menghindar menjadi pembimbing atau penguji akademis politisi atau pejabat. 

Seperti yang kita ketahui, kasta pejabat dan politisi di negeri ini sangat rakus. Mereka tidak akan puas kalau nama depannya tidak ada doktor dan profesor. Seolah-olah gelar itu sama dengan gelar keningratan. 

Tapi sudahlah. Kita tahu betapa bangsatnya kelakuan mereka. Dan kita pun tidak berharap dunia akademik akan menjadi baik karena begitu banyaknya kuman yang menggerogotinya baik dari luar mau pun dari dalam. 

Hanya saja, seperti badan, ada juga akademisi-akademisi yang memilih untuk tidak menjadi sakit dan busuk. Tentu kita berharap banyak dari mereka dan mendukung perjuangannya. 

Itulah yang pagi ini membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya nasib akademisi kita tidak berbeda dengan nasib Susanah, pengupas bawang, yang oleh Presiden Prabowo di dalam pidato kenegaraannya disebut menerima upah Rp 700 ribu per kilogram. 

Susanah segera menjadi sensasi dunia maya. Dia menjadi bahan ejekan, candaan, makian, dan segala macamnya. Jutaan meme diciptakan. Gambar mukanya yang membeku ketika disebut oleh Prabowo tersebar dimana-mana. 

Dia hanyalah orang kecil. Pekerjaan sehari-harinya menjahit. Kalau sore dia menjadi pencuci ompreng di dapur MBG. Dia juga menjadi pengupas bawang dengan upah hanya Rp700/kg. 

Saya bisa bayangkan bagaimana orang kecil yang hendak dipakai sebagai 'poster child' oleh presiden Indonesia kemudian nasibnya berubah menjadi petaka. Dia menjadi bahan tertawaan dan makian seluruh bangsa. 

Persis seperti Cambridge memperlakukan Jason Arday. 

Dan, yang lebih menyesakkan untuk saya adalah istana tidak segera mengklarifikasi isu ini. Hingga sekarang, saya tidak mendapati istana buka suara untuk soal ini. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, hanya mengatakan akan mengecek.

Menurut saya, Prabowo Subianto sebagai pribadi dan Presiden RI harus meminta maaf kepada Susanah atas pidato yang ngawur ini. Dia harus memberikan kompensasi atas tekanan mental yang luar biasa yang pasti dialami Susanah dan keluarganya. 

Kompensasi tentu bukan sesuatu yang amat berat untuk Prabowo secara pribadi. Jika satu kudanya kabarnya bisa berharga beberapa milyar, tentu tidak berat baginya memberikan kompensasi untuk Susanah dan keluarga. 

Namun, yang terpenting adalah Presiden Republik Indonesia berhutang maaf yang tak terhingga pada Susanah, orang kecil yang mencari makan dengan menjahit, mencuci ompreng, dan mengupas bawang. 

Dia harus menjalani beberapa pekerjaan sekaligus setiap hari untuk bisa menghidupi keluarganya. Susanah adalah cerminan pekerja keras, yang sering digambarkan Prabowo sebagai orang miskin namun tetap tersenyum. 

Dia adalah kaum yang selalu dipidatokan oleh Prabowo akan diangkat dari kemiskinan. Namun justru orang seperti Susanah yang sering digambarkan secara peyoratif entah sengaja atau tidak. 

Saya percaya bahwa Susanah tidak akan seperti Jason Arday. Dia lebih memiliki daya tahan. Semoga!

Sumber: Fb Made Supriatma


Jumat, 14 Agustus 2026

, ,

Nietzsche, Moralitas, dan Idea Plato

Nietzsche


Kini kita akan membahas kebenaran dalam tataran yang lebih kasat mata, yaitu moralitas. Nietzsche melihat moralitas sebagai tanda dekadensi, suatu sikap ketidakpercayaan-atas-hidup. Dalam bab Origin of Moral Valuations pada buku The Will to Power, Nietzsche menggambarkan moralitas senada dengan penjelasannya atas kebenaran: “Yang saya maksud dengan 'moralitas' adalah suatu sistem evaluasi yang sebagian sejalan dengan kondisi kehidupan suatu makhluk.” Moralitas adalah bentuk nyata dari klaim kebenaran di dalam masyarakat. Bagi Nietzsche, fenomena moral tak pernah ada, yang ada hanyalah interpretasi moral atas fenomena itu. Perbuatan seperti membantu orang tua, hidup sederhana, rendah hati, bukanlah perbuatan moral. Perbuatan semacam itu hanya kita tafsirkan secara moral. Sedangkan interpretasi itu berasal dari sesuatu yang bersifat extra-moral. Apa itu ekstra-moral? Untuk memahami ini, terdapat sebuah aforisme Nietzsche yang menarik:

Dahulu ada yang mengatakan tentang setiap moralitas: “Dari buahnya kamu akan mengetahuinya.” Saya katakan tentang setiap moralitas: “Ini adalah buah yang dengannya saya mengenali tanah dari mana ia tumbuh.” 

Dalam aforisme itu, Nietzsche sebenarnya berbicara tentang fenomena extra-moral. Orang pada umumnya melihat moralitas dari buah yang dihasilkan moralitas itu (misalnya perbuatan etis). Namun Nietzsche melihat sebaliknya: moralitas merupakan buah yang kita bisa menyadari dari tanah macam manakah buah itu muncul. Bisa kita duga, “tanah” (soil) yang dimaksud oleh Nietzsche adalah masyarakat. Di sinilah kita dapat melihat analisis—dan juga kritik tajam—Nietzsche atas masyarakat Kristiani-Eropa.

Masyarakat Eropa yang Kristiani, bagi Nietzsche, telah menjadi masyarakat yang dekaden. “Apa yang ditolak oleh Kristus? Semua yang kini disebut Kristiani.” Dekadensi yang meresapi peradaban Eropa disebabkan oleh “paradigma berpikir Platonis”. Paradigma ini membuat manusia Eropa menghasrati pembebasan setelah kematian, semacam ranah Idea Plato, dan dengan itu menampik kehidupan itu sendiri. Maka itu, Nietzsche menyebut agama Kristiani sebagai “la religion de la souffrance humaine” (agama penderitaan manusia).” Agama Kristiani mengajarkan manusia untuk menegasi dirinya sendiri, menyangkal eksistensinya di dunia, meredam gejolak manusiawinya. Semua itu dilakukan demi imbalan surga yang abadi dan final. Kritik Nietzsche atas Kristianitas cukup keras:

"Sejak awal, iman Kristiani adalah sebuah pengorbanan: sebuah pengorbanan dari seluruh kebebasan, semua kesombongan, semua kepercayaan diri dari roh: pada saat yang sama, perbudakan dan ejekan terhadap diri sendiri, mutilasi diri."

Bagi Nietzsche, moralitas Kristiani adalah “moralitas budak”. Moralitas ini adalah moralitas milik para budak: kesetiakawanan, saling mengasihi, menyangkal diri demi komunitas, semua itu merupakan ciri khas moralitas budak. Moralitas ini disebut pula “moralitas kawanan”. Moralitas semacam ini membuat orang-orang hanya berani hidup dalam kerumunan, dalam kebersamaan yang dangkal, dalam anonimitas yang aman. Nietzsche sendiri menulis, “Masuk ke kehidupan nyata—seseorang menyelamatkan kehidupan pribadinya dari kematian dengan menjalani kehidupan biasa.” Bagi Nietzsche, tak ada jalan lain, moralitas semacam itu harus dihancur-leburkan. Moralitas itu bertanggung jawab atas dekadensi masyarakat Eropa yang semakin takut untuk berpikir, yang hanya berani hidup dalam kerumunan. “Seluruh moralitas penyangkalan diri harus dipertanyakan tanpa ampun dan dibawa ke pengadilan [...] Ada terlalu banyak pesona dan gula dalam perasaan 'untuk orang lain', 'bukan untuk diri saya sendiri'.” Oleh karena itu, dalam suatu adegan singkat di tepi sungai, Zarathustra bersabda: 

Wahai saudara-saudaraku, bukankah segala sesuatunya sedang berubah-ubah saat ini? Bukankah semua pagar dan gang terjatuh ke air? Siapa yang masih berpegang pada "kebaikan" dan "jahat"? 

Sekarang kita akan beralih menuju pandangan Nietzsche mengenai ateisme. Baginya, seperti ia tulis dalam The Antichrist (Der Antichrist), kepercayaan akan Tuhan tak hanya merupakan suatu kesalahan namun juga suatu “pengkhianatan atas hidup”. Kita menganggap Tuhan memang sungguh ada, namun kita tak sadar bahwa kita, nun dahulu kala, telah menciptakan-“Nya” dari ketidaktahuan kita. Begitulah kira-kira yang dimaksud oleh Nietzsche ketika ia menulis dalam Beyond Good and Evil: “circulus vitiosus deus”. “Lingkaran setanlah yang menciptakan Tuhan”. Tampaknya term “lingkaran setan” (vicious circle) di sini dapat diartikan sebagai “lingkaran setan logika”, yaitu hubungan antarkonsep yang jalin-jemalin sehingga membentuk lingkaran penuh yang tanpa jalan keluar, circulus in definiendo. Contoh yang jelas adalah pertanyaan ini: “Manakah yang lebih dulu ada, telur atau ayam?” Pertanyaan semacam itu hanya akan bergerak melingkar-lingkar saja tanpa jalan keluar, kecuali jika kita menghadirkan semacam deus ex machina sebagai entitas ketiga yang melampaui keduanya. Dan persis di sinilah, Tuhan dihadirkan. Maka Tuhan tercipta justru dari lingkaran setan, dari ketidaktahuan kita. Selain itu, Tuhan membuat manusia menyangkal dirinya, sebagaimana Nietzsche menulis dalam Ecce Homo: “Apa yang menjadi penolakan terbesar terhadap keberadaan sejauh ini? Tuhan.“ Penerimaan akan adanya Tuhan dan moralitas Kristiani sebetulnya hanya merupakan kedok ketakutan manusia. Hal-hal itu membuat manusia merasa memiliki legitimasi yang sah di atas bumi (sebagai homo imago Dei), yang dalam kenyataannya merupakan makhluk kecil yang tak berarti, sebuah aksiden selintas di tengah gelombang kemenjadian dan arus buas dari jagat raya yang chaotic ini. 

In summa: kebenaran adalah nilai yang berguna untuk melestarikan kehidupan manusia. Moralitas, sebagai manifestasi kebenaran dalam tataran sosial, adalah ciptaan manusia, atau lebih persisnya dalam konteks Eropa, adalah ciptaan orang-orang lemah (budak) yang hanya berani hidup dalam kerumunan. Masyarakat Eropa yang diresapi moralitas budak atau kawanan mau tak mau akan segera terjatuh dalam dekadensi. Tuhan, sebagai manifestasi kebenaran dalam tataran spiritual, adalah konsep kosong hasil ciptaan manusia yang lemah, yang lari dari kenyataan hidupnya, yang tak bisa lagi berpikir. Semua ini adalah gejala, tanda-tanda lahirnya suatu zaman yang muram: era nihilisme.

***

Kedatangan nihilisme adalah sesuatu yang niscaya. Nihilisme terlahir dari kesalahan manusia sendiri. Kepercayaan manusia terhadap nilai moral yang mutlak, kepercayaan manusia pada Tuhan dan surga, kepercayaan manusia pada kebenaran yang baku, itu semua membuat manusia tak lagi berefleksi, tak berani berefleksi (no longer reflects, afraid to reflects). Kepercayaan kita pada nilai-nilai seperti itu telah mengantarkan kita pada konsekuensi finalnya: kedatangan nihilisme. Oleh karena itu, Nietzsche menulis pada bab European Nihilism: “Apa yang dimaksud dengan nihilisme? Bahwa nilai-nilai tertinggi mendevaluasi dirinya sendiri. Tujuannya tidak ada, 'Mengapa?' tidak menemukan jawaban.” Kepercayaan manusia pada kebenaran sebagai kebenaran, pada adanya kebenaran absolut, kebenaran pada-dirinya-sendiri, membuat kepercayaan itu sendiri runtuh. Nilai-nilai yang dulunya diyakini benar, kini mendevaluasi dirinya sendiri, hancur dengan sendirinya. Semuanya karena manusia hanya berani hidup dalam kawanan, tanpa bertanya, dan akhirnya, merasa tanpa tujuan, tanpa makna.

***

Nietzsche menjelaskan tentang nihilisme sebagai kondisi ini dalam tiga tahap: “[1] ketika kita telah mencari 'makna' dalam segala peristiwa yang tidak ada [... ] merasa malu di hadapan diri sendiri, seolah-olah telah lama menipu diri sendiri. [2] manusia telah kehilangan kepercayaan pada nilai dirinya ketika tidak ada keseluruhan yang sangat berharga yang bekerja melalui dirinya, yaitu dia menyusun keseluruhan agar dapat percaya pada nilai dirinya sendiri. [3] ketika manusia mengetahui bagaimana dunia itu dibuat semata-mata dari kebutuhan psikologis, dan bagaimana ia sama sekali tidak mempunyai hak atas hal itu, bentuk nihilisme yang terakhir muncul: ia mencakup ketidakpercayaan terhadap dunia metafisik mana pun dan melarang dirinya sendiri untuk memercayai apa pun yang benar.” Nihilisme menyelimuti masyarakat kerumunan seperti awan gelap. Orang tak bisa menemukan makna yang sungguh menyentuh dalam kerumunan, ketika tersadar, ia merasa ditipu oleh dirinya sendiri. Orang menyadari bahwa nilai yang absolut itu tak ada, selama ini ia hanya berusaha percaya pada nilai yang ia pegang sendiri. Pada akhirnya, orang sadar bahwa semua yang kita anggap realitas, yang kita anggap benar, sebenarnya tak lain dari manifestasi kebutuhan praktis kita: ia kini merasa sakit hati karena telah dibohongi oleh keyakinannya sendiri ketika dulu percaya akan adanya kebenaran, moralitas dan Tuhan. Oleh karena itu, Nietzche menggembar-gemborkan perlunya suatu upaya “revaluasi semua nilai” (Umwertung aller Werte), sebagaimana merupakan subjudul buku The Will to Power. Nilai-nilai lama seperti Tuhan, moralitas, kebenaran mutlak, harus dirombak total. 

Pada titik inilah kita bisa mengerti maksud aforisme The Madman yang kita kutip tadi. “Tuhan telah mati!! Kebenaran telah mati!!!” Lalu bagaimana jika bumi ini terlepas dari orbitnya? Apakah kita bergerak? Menjauh dari matahari? Menjauh dari segala patron? Apakah kita hanya berputar-putar saja? Mana barat, mana timur? Apakah kita tak menghirup udara kosong? Tidakkah kini terasa dingin? Kenapa hanya ada malam dan malam senantiasa? Tidakkah kita dengar suara bising penggali kubur yang sedang menguburkan Tuhan dengan ocehan gosip yang tolol, dengan sikap letoy, sebuah psikopatisme dalam kehidupan sehari-hari—seakan-akan kehidupan ini berjalan baik-baik saja? Mau kemana kita? Nietzsche bersorak: “Semuanya salah! Semuanya diperbolehkan!”

Nihilisme membuat kita hilang tak tentu arah, seperti orang yang hilang di padang tandus. Kita tak lagi punya telos (tujuan), kita bahkan tak bisa tahu dari mana kita, kita terdampar. Maka: dimulailah tragedi, Incipit Tragodia

Kini kita akan melihat arti kedua dari term “nihilisme,” yaitu sebagai laku. Sebagai laku, Nietzsche memaksudkan “nihilisme” sebagai suatu sikap dalam menghadapi kondisi nihilistis yang niscaya datang. Nietzsche membagi laku nihilis ini ke dalam dua bentuk: nihilisme pasif dan nihilisme aktif."' Jika dalam menghadapi kondisi nihilitas manusia menyerah ke dalam sikap keputus-asaan, ketakutan, ingin lari dari hidup yang tanpa tujuan ini, maka manusia itu menjalankan laku nihilisme pasif. Laku ini sangat dibenci oleh Nietzsche, nihilisme pasif adalah sebentuk penyangkalan atas hidup. Satu-satunya cara untuk “melampaui nihilisme” (Uberwindung der Nihilismus) adalah dengan menjalankan laku nihilisme aktif. Laku ini mengatakan “Ya” pada hidup, dengan kata lain, mengafirmasi seluruh “kekacauan” (khaos) hidup ini. Dengan menjalankan laku ini, kita menjadi “manusia tragis”. Tapi perlu dibedakan antara pesimisme dan tragisme. Pesimisme adalah sikap menolak hidup, ketakutan atas ketidakbertujuan hidup ini. Pesimisme adalah muara sikap nihilisme pasif. Tragedi adalah sesuatu yang agung di mata Nietzsche. Dalam The Birth of Tragedy, ia menulis, “pengetahuan membunuh tindakan: tindakan memerlukan tabir ilusi: itulah doktrin Hamlet.” Sikap tragis hanya muncul karena ada unsur ketidaktahuan dalam diri kita. Hamlet tak tahu persis apakah yang ia ketahui itu benar atau salah, dan dia tetap berani mengafirmasi kehidupan, melancarkan konfrontasi atas pamannya, walaupun sungguh tahu bahwa hal itu dapat mengakibatkan kematian dirinya, ia mengamini itu semua dan berjuang hingga akhir. 

Dalam Twilight of the Idols (Gotzen-Dcimmerung), Nietzsche menuliskan bahwa orang sebijak Sokrates pun, pada akhirnya hidupnya, mengakui bahwa hidup itu sia-sia, hal itu terlihat lewat kata-kata terakhirnya: “Hidup—itu berarti sakit dalam waktu yang lama: Aku berutang budi kepada penyelamat Asclepius.”

Nietzsche melihat dalam kata-kata Sokrates: hidup adalah sesuatu yang sia-sia. Bahkan kalimatnya yang terakhir, bahwa Sokrates berhutang seekor ayam pada Asklepius, menunjukkan betapa remehnya kehidupan itu, sebuah aksiden selintas yang tanpa arti. 

Jadi, sejak awal, hidup itu sendiri adalah tragedi. Manusia tragis adalah ia yang berkata “Ya,” mengafirmasi, menerima sepenuhnya absurditas kehidupan ini tanpa harapan akan surga dan segala tujuan final yang lain, tanpa menambatkan diri pada kepercayaan akan kebenaran absolut, tanpa takut tersingkir dari kawanan. Manusia tragis adalah manusia yang berani dipeluk oleh kesepian. 

Berkata “Ya” pada hidup, mengafirmasi hidup, menerima sepenuhnya seluruh gejolak alam yang kacau, maka kita akan sampai pada ajaran Nietzsche yang terkenal: kehendak untuk berkuasa. 

Kehendak untuk Berkuasa 

Kita akan membahas, setidaknya, dua aspek dari kehendak untuk berkuasa yang paling terkenal, yaitu sebagai kekuatan alamiah dan sebagai pengetahuan. Kita mulai dari yang pertama. Dalam bab Principles of a New Evaluation, Nietzsche menggambarkan kehendak untuk berkuasa sebagai: “bentuk pengaruh yang primitif, yang semua pengaruh lainnya hanyalah pengembangan dari pengaruh itu [...] ada perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan, untuk peningkatan kekuasaan.” 

Kehendak untuk berkuasa adalah daya dorong asali. Banyak hal yag dihasilkan oleh kehendak untuk berkuasa ini, tetapi semua itu hanyalah residu atau ekses sampingan, kehendak untuk berkuasa sendiri hanya bergolak untuk kekuasaan, untuk pencapaian lebih dari kekuasaan itu sendiri. Bahkan bagi Nietzsche, hidup itu sendiri juga hanyalah suatu kasus khusus dari kehendak untuk berkuasa. Ia menyebut kehendak untuk berkuasa ini sebagai “esensi terdalam dari keberadaan”; “Dunia ini penuh dengan keinginan untuk berkuasa—dan tidak ada yang lain selain itu! Dan Anda sendiri juga memiliki keinginan untuk berkuasa—dan tidak lebih dari itu!” 

Untuk lebih memahami kehendak untuk berkuasa, kita akan masuk ke dalam aspek yang kedua: sebagai pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnya merupakan manifestasi kehendak untuk berkuasa. “Pengetahuan bekerja sebagai alat dari kekuasaan,” tulis Nietzsche. 

Esensi keputusan (the believe that something is thus and thus), skematisasi dan seluruh klaim kebenaran sebenarnya adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa. Kita ingin menguasai alam ini, oleh karena itu kita ciptakan ilmu ukur, konsep baik-buruk dan sebagainya. “Kehendak untuk kebenaran,” bagi Nietzsche, merupakan salah satu bentuk dari kehendak untuk berkuasa. Maka ia berkata bahwa kriteria kebenaran adalah seberapa besar ia meningkatkan perasaan kekuasaan.

Hanya saja kata “kuasa” di sini jangan melulu dimengerti dalam arti yang politis, ia lebih luas ketimbang itu. Konsepsinya mengenai kehendak untuk berkuasa sebenarnya terkait dengan upaya Nietzsche untuk melakukan revaluasi atas seluruh nilai. Mereka yang mengafirmasi kehendak untuk berkuasa berarti mengafirmasi pula seluruh gejolak alam-semesta ini, hal ini juga berarti bahwa mereka berkata “Ya” terhadap hidup. Oleh karena itu, kita bisa mengerti revaluasi Nietzsche atas “baik” dan “buruk” seperti yang ia tulis dalam The Antichrist

"Apa yang baik?—Semua itu meningkatkan perasaan berkuasa, keinginan untuk berkuasa, kekuasaan itu sendiri dalam diri manusia. 
Apa yang buruk? Semua itu timbul dari kelemahan. 
Apa yang dimaksud dengan kebahagiaan?—Perasaan bahwa kekuatan meningkat—bahwa perlawanan telah diatasi.” 

Mengafirmasi kehendak untuk berkuasa berarti terus-menerus mengalami pelampauan kehendak, menjadi liar, mabuk-total seperti sehabis pulang dari “simposium” (pesta minum minuman keras) Dionysius. Itulah kehendak untuk berkuasa, “keinginan hidup yang tidak habis-habisnya dan berkembang biak.” 

Afirmasi atas kehendak untuk berkuasa menunjukkan penghormatan manusia atas hidup, bukan penyangkalan atas hidup seperti yang dilakukan oleh para penganut agama.

Dengan begitu manusia menerima seluruhnya absurditas kehidupan, seluruh gejolak chaotic alam raya, tanpa mengharapkan surga. Itulah figur seorang Ubermensch (Overman)' seperti yang diwartakan oleh Zarathustra: “Aku mengajarimu Ubermensch. Manusia adalah sesuatu yang harus dilampaui. [...] Superman adalah arti dari bumi.” Itulah Ubermensch, ia yang berani berkata “Ya” pada gejolak kehendak untuk berkuasa, pada absurditas hidup. 

Lalu, jika hidup ini absurd dan surga, apa pun itu, tak ada, akan ke manakah kita? Dengan pertanyaan ini, kita masuk ke ajaran Nietzsche yang lain: eternal return of the same.

Kembalinya Segala Sesuatu yang Sama Secara Abadi 

Ajaran ini terkait dengan pandangan Nietzsche bahwa alam raya ini adalah “aliran kemenjadian"' (flux of becoming) yang bergerak tak tentu arah berdasarkan gejolak kehendak untuk berkuasa. Dengan pandangan tentang kembalinya segala sesuatu ini, Nietzsche ingin melakukan konfrontasi dengan pandangan teleologis Plato dan agama-agama secara umum. Nietzsche menulis: 

Mari kita renungkan pemikiran ini dalam bentuknya yang paling mengerikan: keberadaan sebagaimana adanya, tanpa makna atau tujuan, namun berulang secara tak terelakkan tanpa akhir dari ketiadaan: “pengulangan yang kekal”. Ini adalah bentuk nihilisme yang paling ekstrim: yang tidak ada (“yang tidak berarti”), selamanya!” 

Sayangnya, konsep ini belum selesai dikembangkan oleh Nietzsche hingga hari kematiannya. Yang tersisa untuk kita hanyalah sketsa awal dari konsep ini. Tampaknya Nietzsche memang mengartikan eternal reccurence ini secara harfiah. Bahkan ia pun tampak ingin memberikan pembuktian ilmiah atas konsep ini.” Dengan konsep ini, Nietzsche memaksudkan bahwa tak ada yang namanya “tujuan terakhir” (end goal) dari eksistensi. Semuanya hanya akan berulang-ulang saja tanpa tujuan akhir yang definitif. 

Ini jelas merupakan kritik atas konsep waktu agama-agama Samawi. Konsep waktu agama-agama Samawi bersifat linear, mengandaikan adanya akhir sejarah, konsep waktu Nietzsche bersifat siklis, semuanya berulang secara abadi. Namun, konsep eternal reccurence ini juga merupakan upaya Nietzsche untuk membuat manusia berkata “Ya” pada hidup yang absurd ini dan mengafirmasi kehendak untuk berkuasa tanpa mengharapkan apa pun, tanpa bersandar pada apa pun. Terus-menerus timbul tenggelam dalam kekacauan. 

***

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 40-51



Rabu, 12 Agustus 2026

,

Hukum Shalat Berjamaah di Masjid bagi Pria


Dalam madzhab Syafi'i, hukum shalat berjamaah memiliki ketentuan yang berbeda-beda tergantung pada jenis shalat dan kondisi jamaah. Menurut pendapat yang mu’tamad, shalat berjamaah untuk shalat lima waktu hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, kewajiban ini berlaku bagi sebagian orang dalam suatu komunitas. Jika sebagian orang sudah melaksanakannya, maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lain. Namun, untuk shalat Jum'at, hukum berjamaah adalah fardhu 'ain, sehingga wajib bagi setiap individu laki-laki muslim yang memenuhi syarat.

Kewajiban fardhu kifayah ini khusus berlaku bagi laki-laki yang merdeka, mukim, dan tidak memiliki uzur. Bagi perempuan, budak, dan musafir, hukum shalat berjamaah adalah sunnah. Beberapa kondisi yang dianggap sebagai uzur dan membolehkan seseorang tidak berjamaah antara lain hujan lebat, cuaca sangat dingin, sakit, atau dalam keadaan darurat seperti harus buang hajat. Dengan demikian, ketentuan hukum ini memperhatikan situasi dan kondisi jamaah secara rinci.

Penegakan syiar agama menjadi alasan utama diwajibkannya shalat berjamaah. Oleh karena itu, pelaksanaan shalat berjamaah sangat dianjurkan di masjid, bukan di rumah-rumah. Minimal pelaksanaan shalat berjamaah adalah terdiri dari satu imam dan satu makmum. Hal ini menegaskan pentingnya kebersamaan dalam ibadah serta menampakkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Secara rinci, hukum shalat berjamaah dalam madzhab Syafi'i dapat dijabarkan sebagai berikut:

- Fardhu 'ain dan menjadi syarat sah: berjamaah dalam shalat Jum'at.

- Fardhu kifayah: berjamaah dalam shalat wajib lima waktu.

- Sunnah: shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), shalat gerhana (kusuf), shalat istisqa’ (meminta hujan), tarawih, dan witir di bulan Ramadhan.

- Khilaful aula (kurang utama): shalat rawatib dan dhuha dilakukan berjamaah.

- Makruh: shalat di belakang imam yang fasik.

- Haram: bermakmum di belakang imam yang shalatnya berbeda, misalnya shalat Subuh di belakang imam yang sedang shalat jenazah.

Dalam praktiknya, shalat berjamaah di masjid lebih utama bagi laki-laki, kecuali jika di rumah terdapat jamaah yang lebih banyak. Dalam kondisi tersebut, shalat berjamaah di rumah bisa menjadi lebih utama. Hal ini menunjukkan adanya fleksibilitas dalam penerapan hukum sesuai dengan kondisi dan manfaat yang lebih besar bagi jamaah.

Kitab Fathul Qarib menyebutkan bahwa menurut penulis dan Ar-Rafi'i, shalat berjamaah bagi laki-laki dalam shalat wajib selain Jum'at hukumnya sunnah muakkadah. Namun, pendapat yang lebih kuat menurut Imam An-Nawawi adalah fardhu kifayah. Selain itu, makmum tetap mendapatkan keutamaan berjamaah bersama imam selama imam belum mengucapkan salam pertama, meskipun makmum belum sempat duduk bersama imam.

Dengan demikian, hukum shalat berjamaah dalam madzhab Syafi'i menekankan pentingnya kebersamaan dan penegakan syiar agama. Ketentuan hukum ini disusun secara jelas dan terperinci, menyesuaikan dengan kondisi jamaah serta jenis shalat yang dilaksanakan, sehingga dapat memberikan panduan yang komprehensif bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah berjamaah.

Sumber: 

https://man3bungo.mdrsh.id/news/65681/ketentuan-shalat-berjamaah-bagi-pria-di-masjid.html#:~:text=Dalam%20madzhab%20Syafi'i%2C%20hukum,sebagian%20orang%20dalam%20suatu%20komunitas.

Lihat juga penjelasan Buya Yahya: 

https://youtu.be/ehHvkLvogGk?si=lZBR1VATBexSU_nT

Selasa, 11 Agustus 2026

Politik, Agama, dan Kepatuhan


"Politik butuh rakyat bodoh. Agama butuh jama'ah patuh. Kebenaran tak dibutuhkan oleh keduanya, karena kebenaran suka memberontak." — Tan Malaka

Tan Malaka berpendapat bahwa kedua institusi tersebut—politik dan agama—cenderung membutuhkan kepatuhan dan ketidakberdayaan dari pihak yang mereka kuasai atau pimpin, bukan kejujuran intelektual atau pemikiran kritis.

Kebenaran digambarkan sebagai sesuatu yang "suka memberontak" karena ia menentang status quo, mempertanyakan otoritas, dan mendorong perubahan. Politik dan agama, dalam pandangan ini, lebih nyaman dengan keadaan di mana pengikut atau rakyat mereka tidak banyak bertanya atau menentang. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol tanpa gangguan.



Caping 1979

(TEMPO, 11 Agustus 1979)


CIOMAS, Pebruari 1886.

Camat dibunuh orang! Kegemparan telah terjadi. Dan aku, Apan, dicari. Malam itu pun segera aku dan kawan-kawanku mundur ke Pasir Paok. Aku tak mau menyerah kepada tentara kumpeni.

Kenapa aku harus menyerah? Aku dibesarkan di tanah ini, yang subur, cantik, tapi tergencet. Gunung Salak dari jauh memang masih tegak, di antara langit segar dan cahaya hangat, tapi hanya gunung itu yang bisa tegak di depan de Struler.

Tuan tanah kulit putih yang bangsat! 15.000 penduduk meringkuk di bawahnya terkena cuke. Dia kirim mandor dan centeng, yang bisa bikin kakek, nenek, perawan, bocah, pada gemetaran. Dia biarkan orang luar datang ikut panen ke sini, hingga kami tak kebagian banyak padi. Dia paksa petani membawa panenan Tuan Besar ke gudang, terbongkok-bongkok 18 kilometer. Dia paksa serahkan petani aren, dia paksa kami tanam kopi. Dia sita tanah, rumah dan kerbau, ketika kami tak bisa bayar hutang!

Maka aku, Apan, tak bisa tinggal diam.

Sudah hampir 2000 orang lari menghindari hukuman yang tak adil. Sudah beratus kali kami mengadu kepada pegawai gubernemen, tapi tak digubris. Malam itu kami bunuh Camat Abdurrakhim. Aku, Apan, anak tani ini, biarlah jadi sang Ratu Adil. Biarlah, kuangkat diriku jadi Imam Mahdi. Karena dari mana lagi keadilan akan datang kepada kami?

Sejarah pedesaan Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditandai oleh gerakan keresahan petani yang berulang ulang . . . ‒ Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java.

                                           ***

PURWAKARTA, Agustus 1913. 

Bapa Eming, jangan menangis. Rumahmu digeledah. Keris dan jimatmu dirampas polisi. Hidupmu terancam. Tapi kau telah hina Tuan Regent ‒ kau telah tuduh ia disuap tuan tanah, dan kami tahu kau telah suarakan hati kami. Sebab Regent manakah yang tak melihat kami ditindas?

Pagi itu kami, 230 orang, datang kehadapannya. Kami protes. Cuke yang dikenakan kepada kami teramat mencekik. Tuan Regent musti tahu. 200% naik! Bukankah tuan tanah sebenarnya cuma boleh dapat seperlima dari panenan?

Lihatlah, kami tidak sendiri. Empat  bulan yang lalu sudah datang ke Tuan Regent 400 petani, juga protes. Di bulan Juni datang lagi 350 orang, turun dari pedalaman. Kini kami datang dari  Babakansawah dan sekitarnya. Dan Tuan Regent, Bapa Eming hanyalah sebagian dari kami. 

Gerakan protes dari kaum petani tidak hanya merupakan pernyataan tidak puas terhadap mereka yang berkuasa, tetapi juga merupakan cerminan dari jawaban mereka terhadap suatu masalah komunikasi yang mereka hadapi ‒ Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV. 

                                        ***

DI Burma di tahun 1930 adalah seorang yang bernama Saya San. Ia mengaku sebagai Setkyamin raja yang membalas dendam dalam legenda rakyat. Ia juga mengaku sebagai Budha Yaza, pencipta utopia Budhis yang dikirim dari langit.

Dalam semua hal itu, ia agaknya hanya konsekwensi dari impian rakyat Burma miskin yang terpojok. Ratu Adil seperti itu telah berkali-kali tampil dalam kepercayaan rakyat, yang sudah praktis mengigau merindukan penyelamatan. Dan ketika Saya San pun datang, pemberontakan meletus meliputi sebagian besar wilayah utara, tengah dan timur.

Api itu berlangsung setengah tahun. Pada akhirnya, 9000 orang ditahan, 3000 terbunuh atau luka, 350 dihukum. Saya San sendiri digantung oleh penguasa Inggeris.

Kemudian, sepi. Tapi apakah itu damai?

"Bahkan para pejabat kolonial... di Burma Bawah di tahun 1930-an siap mengakui, bahwa perdamaian di daerah agraris itu mungkin perdamaian penindasan, dan bukannya perdamaian kepuasan” ‒ James C. Scott, The Moral Economy of the Peasant.


Sumber: TEMPO, 11 Agustus 1979


TERBARU

MAKALAH