alt/text gambar

Selasa, 01 September 2026

, ,

Nietzsche tentang Seni


Memandang hidup dengan sudut pandang seni adalah inti selanjutnya. Jelas sekali, peran seni sangat penting buat para seniman. Perjuangan hidup itu juga sebuah seni. Dan di “Kepulauan Bahagia" menurut istilah Nietzsche dalam Demikianlah Sabda Zarathustra : 

“Dunia harus dibentuk dalam citra kalian, oleh kehendak kalian, dan oleh cinta kalian.” 

Kesenangan yang dapat diperoleh dari kehidupan bahkan dari nafsu dan kekuasaan juga adalah seni menurut pandangannya. Misalnya, ia pernah mengatakan bahwa lukisan tentang seks juga seni, bukan pornografi. 

Sebaliknya, untuk menghadapi penderitaan yang juga merupakan buah dari kehidupan, kita juga memerlukan seni. Seseorang hanya harus membiarkan perubahan berlangsung, dan menghadapi penderitaan itu dengan selayaknya. Bukan dengan diam dan mengorbankan diri sendiri dalam penderitaan. Namun, seperti Nietzsche misalnya, ia menghadapi kegelapan dalam hidupnya dengan menulis puisi dan komposisi musik yang bagus. Mengenai seni dan penderitaan, dalam buku The Gay Science (terbit 1882, direvisi 1887), Nietzsche menuliskan bahwa Seni boleh dipandang sebagai suatu pertolongan atau obat untuk membela kehidupan. “Hidup memang penuh Derita...,” katanya. 

Sastra juga merupakan implementasi dari perjuangan hidup Nietzsche, ia membuat gaya sastra yang luar biasa dengan model tulisan berbentuk potongan-potongan tentang perumpamaan, kutipan ayat Kitab Suci, dan paragraf yang dinomori secara terpisah. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dapat dilihat dalam buku Demikianlah Sabda Zarathustra, ini terbilang unik, mengingat sentimen keras Nietzsche akan Kristianitas. Bukan Nietzsche namanya, jika pandangan tentang seni yang dilahirkannya berhenti pada dirinya sendiri. Sebagaimana Nietzsche sebagai seorang seniman-filsuf membuahkan pengaruh bagi para seniman setelahnya. 

Tercatat nama-nama seperti penulis drama, August Stinberg dari Swedia, Luigi Pirandello dari Italia, dan Bernand Shaw dari Irlandia, terpengaruh oleh Nietzsche. 

Demikian juga pelukis Gustav Klimt dari Austria. Deretan penyair Jerman terkenal seperti Rainer Maria Rilke dan Herman Hesse juga mendapat pengaruh kental dari Nietzsche. 

Beberapa novelis Perancis terkenal seperti Stendhal, Albert Camus, Andre Gide, dan Andre Malraux juga menuliskan karya sastra yang khas berbau pengaruh Nietzsche. 

Sumber:

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 102-104

**

Kritik terhadap Adat-Istiadat dalam Perspektif Nietzsche

Nietzsche ingin mengatakan bahwa hidup manusia adalah kehendak untuk berkuasa itu sendiri. Sehingga manusia sepantasnya dapat bertindak bebas tanpa terikat oleh aturan moral atau norma-norma yang ada selama ini.

Dalam bukunya yang berjudul Human, All too Human (A Book for Free Spirit), ia menekankan bahwa menjadi bermoral (mematuhi norma-norma yang ada), menganut agama, dan berlaku sopan dan etis tidaklah ada gunanya. 

Nietzsche seolah-olah menggugah manusia dengan kritik, 'Mengapa manusia harus lebih memilih bersikap etis ketimbang estetis?' Ia geram karena manusia hanya mematuhi adat-istiadat yang telah ada semenjak dahulu, dengan sikap dan perbuatannya yang demikian itu, manusia hanya berusaha menjadi manusiawi sesuai dengan kebiasaan yang telah diturunkan para pendahulunya. Tetapi sama sekali tidak bebas. 

Berikut adalah kutipan langsungnya: 

“Menjadi bermoral, bertindak sesuai dengan adat istiadat, menjadi etis berarti membiasakan kepatuhan kepada hukum atau tradisi dari tempo dulu... Seseorang dibilang baik karena dia melakukan apa yang biasanya dilakukan." (Human All Too Human)


Referensi: 

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 76


Senin, 31 Agustus 2026

, ,

Nietzsche tentang Kekuatan Musik


Oleh Maria Popova


“Musik, secara unik di antara semua seni, bersifat sepenuhnya abstrak sekaligus sangat emosional,” tulis Oliver Sacks ketika merenungkan kekuatan musik yang luar biasa atas jiwa manusia—sebuah kekuatan yang telah merendahkan beberapa pikiran paling brilian umat manusia ke dalam keadaan kekaguman yang melampaui akal.

Di antara mereka adalah filsuf besar Jerman, Friedrich Nietzsche (15 Oktober 1844–25 Agustus 1900). Ia yang menyatakan bahwa “Tuhan telah mati” dan percaya bahwa tidak ada hal berharga yang mudah didapatkan, menemukan dalam musik satu-satunya anugerah tak ternilai dalam hidup.

Dalam sebuah fragmen otobiografi yang dikutip dalam buku Julian Young yang benar-benar fantastis, Friedrich Nietzsche: A Philosophical Biography, Nietzsche—raksasa intelektual Jerman itu—menulis:

Tuhan telah memberi kita musik agar, di atas segalanya, musik dapat menuntun kita ke atas. Musik menyatukan semua kualitas: ia dapat mengangkat kita, menghibur kita, menyemangati kita, atau meluluhkan hati yang paling keras sekalipun dengan nada melankolisnya yang paling lembut. Tapi tugas utamanya adalah menuntun pikiran kita kepada hal-hal yang lebih tinggi, untuk mengangkat, bahkan membuat kita gemetar… Seni musik sering berbicara dalam suara yang lebih menusuk daripada kata-kata puisi, dan menjangkau celah-celah hati yang paling tersembunyi… Nyanyian mengangkat keberadaan kita dan menuntun kita kepada kebaikan dan kebenaran. Namun, jika musik hanya berfungsi sebagai hiburan atau sebagai semacam pameran yang sia-sia, maka itu berdosa dan berbahaya.

Nietzsche menulis baris-baris ini dua bulan sebelum ulang tahunnya yang keempat belas — sebuah detail yang terasa dua kali lebih menyentuh jika dibandingkan dengan "pameran sia-sia" yang dipasarkan kepada remaja saat ini. Namun, rasa hormatnya yang mendalam terhadap musik tidak pernah meninggalkannya. Menjelang akhir hayatnya, Nietzsche mengabadikannya dalam sebuah aforisme yang termasuk dalam bukunya tahun 1889, Senja Para Berhala, atau, Bagaimana Berfilsafat dengan Palu :

"Betapa hal-hal sepele yang membentuk kebahagiaan! Suara seruling Skotlandia. Tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kesalahan (Without music, life would be a mistake). Orang Jerman bahkan membayangkan Tuhan sebagai seorang penyanyi."

Sumber:

https://www.themarginalian.org/2015/09/18/nietzsche-on-music/


Catatan tambahan:

Plato berkata, “Musik adalah hukum moral. Musik memberikan jiwa bagi alam semesta, sayap bagi pikiran, daya terbang bagi imajinasi, serta pesona dan keceriaan bagi kehidupan dan segala sesuatu; Music is a moral law. It gives soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and charm and gaiety to life and to everything.”

 

, ,

Nietzsche: "Tuhan Telah Mati"

Moralitas Budak dan Tuan 


Dalam filsafatnya, Nietzsche merumuskan tentang Moralitas Budak (herdenmoral/slave morality) dan Moralitas Tuan (herrenmoral/ master morality). Rumusan ini digunakannya untuk menjelaskan peran Kristen dalam "Kehendak untuk berkuasa”, sekaligus untuk mengkritik Kristen. 

Keberatan Nietzsche untuk moralitas Kristen Ini adalah karena ajaran Kristiani yang menyebabkan diterimanya apa yang disebut moralitas budak. 

Akibat dari penjungkirbalikan nilai-nilai yang dilakukan Nietzsche, menyebabkan perbedaan pengertian dan ukuran nilai antara umum (lampau atau filsuf-filsuf sebelumnya) dengan ukuran yang dibuat Nietzsche. Di mana yang baik bagi Nietzsche bisa berarti sebaliknya bagi khalayak publik, dan yang buruk bagi Nietzsche bisa berarti sebaliknya pula bagkhalayak publik. 

Pengertian baik bagi majikan (tuan) adalah perasaan jiwa yang tinggi, yang bangga, dan megah. Di sisi sebaliknya, baik bagi budak adalah segala sesuatu yang menyebabkan kedamaian, rendah hati, tidak merugikan, serta yang menaruh belas kasihan. 

Moralitas Tuan pada awalnya baik, berisi kaum yang kuat, upper, megah. Pemilik moralitas ini diwakili oleh kaum aristokrat atau bangsawan. Sementara Moralitas Budak berisi kaum lemah, rendah, yang diwakili oleh rakyat kecil. 

Di titik ketika moralitas tuan dianggap baik, namun oleh sebab mereka lama-kelamaan menerima pula moralitas kaum budak/lemah sehingga kaum kuat menjadi berkurang jumlahnya dan kaum budak/lemah bertambah besar dan membalikkan keadaan. Sehingga moralitas tuan menjadi dianggap buruk, dan demikian pula sebaliknya. 

Nietzsche berkali-kali menyatakan keberpihakan kepada kaum aristokrat dan kaum berada sebagai kaum yang lebih leluasa mewujudkan keinginan dan visi atau tujuannya. 

Sementara itu ia menemukan bahwa moralitas Kristen membenci kaum aristokrat yang mana kaum Kristen itu sendiri hidup dengan disertai ciri-ciri lain yang mengikutinya, yang lebih merupakan jelmaan sikap dari moralitas budak menurut Nietzsche. 

Ini tidak adil menurut patokan Nietzsche. Memang tak benar sepenuhnya kata-kata Nietzsche ini. Tetapi banyak dari golongan mayor Kristen ini tidak menyanggahnya, meskipun mengetahui bahwa belas kasihan Kristen tidak begitu saja menghapus jurangjurang antara si kaya dan si miskin, meski semua sama di hadapan Tuhan, namun kenyataannya di dunia, jurang pembeda (distingsi) masih tetaplah ada. Tetapi bagi Nietzsche yang murka pun tidaklah keliru sebab distingsi tersebut antara patokan moral umum dan yang dibuat Nietzsche sendiri. 

Sesungguhnya, memang benar bahwa di Eropa dan sebagian besar negara Barat telah terasuki moralitas Kristen kala itu. Nietzsche menganggap bahwa yang berkuasalah yang boleh menguasai dunia dan manakala moralitas Kristen yang baginya ” budak" merajai seluruh barat ia marah dan berusaha menjungkirbalikkan nilai-nilai. Ia meminta perhatian seluruh dunia untuk mengingatkan bahwa “Tuhan telah mati” dan dengan demikian tidak ada lagi landasan atau dasar yang kokoh untuk manusia bergantung pada Tuhan. 

Dan, meskipun Tuhan yang disebut di Kitab Suci maupun rumah ibadah tidak lagi relevan bagi hidup, menurut interpretasi Goenawan Mohamad atas kutipan karya Nietzsche Frohliche Wissenschaft atau The Gay Science, tak ada orang yang tampak kaget, kehilangan, dan cemas. Tetapi justru Nietzsche yang dianggap sinting dan gila itu peduli. Ia memberitahukan kepada umat manusia bahwa -menurut interpretasi Goenawan Mohamad lagi -, jika Tuhan mati, hilang pegangan tentang yang benar dan dusta.

Meskipun begitu, untuk sekali ini Goenawan Mohamad “menyalahkan” Nietzsche dengan membandingkannya dengan pandangan Dostoyevsky melalui novel Karamazov Bersaudara, yang dipujinya. Begini katanya: 

“Si Sinting dalam parabel? Nietzsche salah. Tuhan memang sudah mati dibunuh, tapi itu Tuhan yang sudah dijadikan obyek, berhala yang dikonstruksikan kekuasaan manusia, Tuhan yang tak berbicara lagi sebab ada orang-orang yang mengangkat diri jadi juru bicara-Nya dan mengambil alih kata-kata-Nya. Sementara itu, Tuhan yang tak jadi berhala tetap membuat keajaiban-keajaiban dalam keindahan yang bersahaja.... (dan) Si Sinting (dan Nietzsche) jauh dari Dimitri." 

Sumber:

Zahma Lika, Nietzsche Membunuh Tuhan: Pergulatan Nietzsche akan Tuhan, Filsafat dan Sastra, serta Luasnya Pengaruh Sang Filsuf, Yogyakarta: Narasi, 2026, h. 79-84

Minggu, 30 Agustus 2026

, ,

Heidegger: Kebenaran, Ada, dan Waktu

Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003

Kerja seorang filsuf adalah mencari kebenaran. Namun, kebenaran bukan satu yang ajeg dan pasti. Ia ditemukan lewat koreksi, kritik, sanggahan terus-menerus. Sebagai seorang filsuf, status kebenaran sebuah pemikiran harus ditanggapi dengan penuh kehati-hatian. Tak ada satu pun bangunan pemikiran yang lolos dari kesalahan. Pun apabila bangunan itu adalah miliknya sendiri. 

Heidegger pun tak lepas dari hukum filsafat tersebut. Pemikirannya dalam Being and Time dirasakannya kurang memadai. Dia merasa perlu membenahi pemikirannya yang belum tuntas dan masih cacat di sana-sini. Kecacatan akibat masih menapaknya jejak filsafat Barat dalam pemikiran awalnya tersebut.

Dalam Being and Time, Heidegger masih berupaya merumuskan konsepsi alternatif tentang “Ada”. Konseptualisasi “Ada” yang berbeda dari apa yang selama ini dirumuskan filsafat Barat. Namun, ambisi inilah yang menjerumuskan Heidegger dalam tradisi yang dia kritisi habis-habisan. Tradisi yang menempatkan “Ada” sebagai objek representasi subjek. Tradisi representasionalisme. Bagaimana aku menangkap objek dan merepresentasikannya seakurat mungkin. 

Perubahan dalam pemikiran Heidegger bisa dilihat dalam esai-esai maupun buku yang ditulisnya setelah Being and Time. Teks-teks kunci seperti What is Metaphysics, On the Essence of Truth, Introduction to Metaphysics, dan On The Origin of the Work of Art merupakan sebagian dari sekian banyak tulisan yang menunjukkan perubahan pemikiran sang filsuf. Dalam On the Origin of the Work of Art tampak kegairahan Heidegger lanjut dalam mempersoalkan seni. Penulis sendiri berpendapat bahwa pemikiran Heidegger tentang seni adalah pesta perpisahan terakhirnya pada filsafat Barat. 

Perubahan pemikiran Heidegger bisa dilihat dalam beberapa hal. Pertama, perubahan konsentrasi dari dasein (manusia) ke “Ada” itu sendiri. Perbincangan yang terlalu intens tentang dasein dalam Being and Time membuat Heidegger terjebak dalam polarisasi subjek-objek. Kedua, penolakan Heidegger terhadap modus berfilsafat transendental. Modus berfilsafat yang tidak lagi mencari tahu apa itu kenyataan melainkan syarat kemungkinan pengetahuan kita tentangnya. Heidegger lanjut mengkoreksi gaya berfilsafatnya tersebut. Ketiga, Heidegger tidak lagi berbicara tentang peran aktif dasein dalam menangkap kenyataan. Heidegger lebih banyak berbicara tentang menerima, menunggu, dan mendengarkan. Berfilsafat bukan lagi memaksakan rumusan kita atas “Ada” melainkan mendengarkan dan menerima kidung penyingkapan “Ada”. Keempat, pemikiran ulang tentang relasi antara “Ada” “dan “Waktu” dengan lebih menekankan dimensi kesementaraan “Ada”. Kuliahnya tentang “Waktu dan Ada” (diterbitkan dengan judul On Time and Being) merupakan hasil pemikiran ulangnya tersebut. Keempat komponen perubahan tersebut didasari atas satu benang merah: ambisi Heidegger untuk melepaskan diri dari tradisi representasionalisme filsafat Barat dan memikirkan ulang hubungan antara manusia dan kenyataan.

Karakter dasar filsafat Barat adalah pencarian prinsip dasar yang menyatukan kenyataan. Sebuah rumusan umum yang mengatasi sekaligus mendefinisikan partikularitas. Plato menyebutnya dunia ide. Aristoteles menyebutnya substansi. Nietzsche menyebutnya kehendak untuk penguasaan. Kenyataan tak pernah dibiarkan berbicara sendiri. “Ada” selalu ditelikung oleh rumusan-rumusan sang subjek.

Sejak kapan ritual pembatasan “Ada” itu mulai dijalankan. Heidegger menunjuk hidung para filsuf pasca-Sokrates, khususnya Plato. Sebelum Sokrates, para filsuf Yunani memahami “Ada” sebagai physis. Physis, menurut Heidegger, pada awalnya diartikan sebagai “menjelma dan bertahan”. “Ada” dipahami sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Ia menjelma, bertahan kemudian menghilang. Bayangkan setangkai bunga jambu. Kebenaran sang bunga mengaktualisasikan, menyingkapkan atau memanifestasikan dirinya. Ia bertahan sejenak lalu lenyap guna memberi jalan bagi sang buah mengaktualisasikan dirinya.

Para filsuf Yunani pra-Sokrates memahami “Ada” sebagai yang menyingkapkan dirinya. Karenanya, kebenaran diartikan sebagai aleitheia: penyingkapan. Sebuah kejadian yang muncul dari kekosongan untuk kembali pada kekosongan itu lagi. Kesementaraan bukan kekekalan. 

Plato meratakan semua ini dengan teori dua dunianya. Plato membagi dunia menjadi dunia kekal dan dunia kemenjadian. “Ada” dipahami sebagai kekekalan sedang waktu sebagai kesementaraan. “Ada” merupakan sesuatu yang tetap di dalam waktu yang berubah. Kebenaran bukan lagi dipahami sebagai “yang menyingkap” melainkan semata-mata kesesuaian antara gagasan dengan kenyataan. Kebenaran selalu diasosiasikan dengan keajekan bukan kebetulan. Plato memulai tradisi “kealpaan Ada” filsafat Barat. 

Masih berpendarnya nyala representasionalisme dalam Being and Time, membuat Heidegger merasa perlu memikirkan ulang tentang “Ada”, waktu, kebenaran, dan dasein. Penelitiannya terhadap khazanah klasik filsafat pra-Sokrates menghasilkan kesimpulan yang mengejutkan: “Ada” adalah yang menyingkapkan diri. “Ada” adalah sebuah kejadian bukan kekekalan. Definisi Platonian tentang “Ada” dan “Waktu” pun runtuh. “Ada” bukan lagi sesuatu yang menetap dalam waktu yang berubah. “Ada” adalah kesementaraan itu sendiri. 

Seiring waktu bergerak, makna “Ada” timbul dan tenggelam. “Ada” menyingkapkan dirinya, bertahan lalu hilang. Setiap revolusi adalah momen pergantian “Ada”. Revolusi sosial di Prancis, misalnya. Kenyataan sosial yang bertingkat berubah menjadi lebih setara. Kekuasaan memperoleh makna baru. Bukan lagi hadiah Sang Ilahi melainkan hasil kontrak sosial sang rakyat. Begitu pula konsep-konsep seperti negara, politik, konstitusi, dan lain sebagainya. Semuanya mengalami perubahan. 

Kesementaraan sang “Ada” berhubungan erat dengan karakter dasein. Karakter dasein, seperti sudah dibahas di bab kedua, adalah kesementaraan. Dasein tidak sekadar “ada”, ia “mengada”. Ia terlempar dari kekosongan ke-dalam dunia eksistensial yang sarat warisan makna. Dunia yang menenggelamkannya sekaligus memberinya kemungkinan-kemungkinan. Nasibnya ini memberinya hak istimewa sebagai sang penyingkap. 

Dasein bukan satu keajekan. Ia adalah kebisajadian. Karena itu ia selalu mempersoalkan keberadaannya dan benda-benda. Apabila dunia disimbolisasikan sebagai rimba belantara yang gelap, maka dasein bisa diibaratkan sebagai obor. Obor yang menyingkapkan segala sesuatu di sekelilingnya. Sebuah “penyingkapan" (clearing), begitu diistilahkan Heidegger. Hubungan dasein dan “Ada” tidak sedingin yang dikira filsafat Barat. “Ada” bukanlah sesuatu yang tercerabut dari kita. Ia bukanlah objek yang membentang untuk kita representasikan. Dan kita bukan pengamat a-sejarah yang mampu merumuskan, “Ada” secara jernih dan akurat. Heidegger mengatakan bahwa “Ada” melibatkan kepemilikan dan perhatian. “Ada” adalah milik kita. Milik tradisi yang kita jalani dan hidupi bersama. Demikian halnya “Ada” pun memiliki kita. Ia menangkap dan mengubah kita menjadi dasein. Dasein menjadi dasein berkat “Ada”. Kita menjadi sang penyingkap karena “Ada” yang menyingkapkan dirinya. Hubungan yang sungguh hangat nan mesra.

Kita tidak menjadi makhluk tertutup berkat “Ada”. Hanya pada dasein “Ada” menampilkan dirinya dalam pelbagai manifestasi. Awan, misalnya. Pada sang penyair ia menampilkan dirinya sebagai metafor kegalauan. Pada sang petani ia menampilkan dirinya sebagai tanda-tanda hujan. Sedang pada sang ilmuwan geofisika, ia menampilkan dirinya sebagai campuran uap air dan kristal-kristal es.

Fakta bahwa dasein (manusia) terbuka pada pelbagai manifestasi “Ada” adalah bukti kebebasannya. Binatang tidak bebas karena tak bisa memaknai objek selain apa yang didefinisikam oleh instingnya. Binatang tidak bisa memaknai objek sebagai sesuatu yang estetis, misalnya. Ernst Cassirer, filsuf neo-Kantian asal Jerman, membahasakan gagasan ini dengan menarik. Binatang bereaksi terhadap tanda sedang manusia: simbol. Tanda adalah bagian dari dunia fisik. Asap adalah tanda api. Sedangkan simbol adalah bagian dari dunia budaya. Ia adalah produk konsensus pemaknaan manusia. Bendera kuning adalah simbol kematian. Namun di tempat lain mungkin kebahagiaan. Simbol berbeda dari satu budaya ke budaya lain. 

Namun, mesti diingat, bahwa kebebasan dasein bukanlah kebebasan ala eksistensialisme. Kebebasan eksistensial menolak rumusan makna, nilai, patokan yang mendahului pilihan. Manusia adalah sang pencipta makna. 

Sedangkan, manusia bagi Heidegger bukanlah pencipta makna. Makna tertanam dalam satu tradisi yang membatasi kemungkinan-kemungkinan manifestasinya. Manusia yang mentradisi tidak bebas menciptakan makna. Kebebasan yang dimaksud Heidegger lebih pada keterbukaan manusia pada pelbagai penyingkapan “Ada”. Manusia tidak terisolasi oleh satu pemaknaan “Ada” layaknya binatang. Inilah kebebasan menurut Heidegger. Secarik kebebasan semiotikal bukan eksistensial. 


Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 64-71




Kamis, 27 Agustus 2026

, ,

KANT, PENCERAHAN, 300 TAHUN KEMUDIAN

Patung untuk menghormati filsuf Immanuel Kant di Königsberg (sekarang Kaliningrad, Rusia). Dipahat oleh pematung Christian Daniel Rauch. Diresmikan pada 1864. 


Oleh: Fitzerald Kennedy Sitorus


Semboyan Pencerahan (Enlightenment, Aufklärung) yang biasa kita kenal dari Immanuel Kant berbunyi: „Sapere aude! Habe Mut, dich deines eigenen Verstandes zu bedienen!“ Sapere aude. Beranilah menggunakan pikiranmu sendiri." 

Kant menuliskan kalimat ini dalam tulisan pendeknya yang terkenal, “Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung“ - „Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?“ dalam jurnal Berlinische Monatsschrift 1784. 

Frase sapere aude sendiri berasal dari penyair Romawi terkenal, Horace, yang dalam salah satu syairnya mengatakan: „Sapere aude; Incipe!“ Artinya: „Beranilah untuk tahu; sekarang.“ 

Dalam perdebatan panjang mengenai Pencerahan di Jerman tahun 1700-an, frase tersebut diterjemahkan dan ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda. Penyair Friedrich Schiller misalnya menerjemahkannya, demikian: Erkühne dich, weise zu sein, - „Beranilah untuk menjadi bijaksana“. 

Tetapi terjemahan Kant-lah yang kemudian paling terkenal dan diterima sebagai semboyan Pencerahan.

Melalui semboyan ini, Kant menuntut agar orang berani berpikir sendiri, tidak begitu saja tunduk menerima pendapat otoritas lain, siapa pun itu. Berani berpikir sendiri, menimbang secara kritis setiap pendapat yang diterimanya, sebelum mengambil sikap terhadap pendapat itu, adalah tanda kedewasaan. Itulah otonomi.

Kalau orang belum berani berpikir sendiri, belum berani menimbang secara kritis pendapat orang lain, atau kalau lebih senang mengikuti pendapat otoritas lain, entah itu otoritas agama, tradisi, politik, dan lain-lain, itulah tanda kebelum-dewasaan, atau kekanak-kanakan.

Tetapi tidak banyak yang tahu bahwa Kant juga memiliki definisi lain mengenai Pencerahan. Bahkan definisi inilah yang paling tepat untuk zaman kita sekarang. 

Dua tahun setelah menerbitkan tulisan berjudul „Menjawab Pertanyaan: Apa itu Pencerahan?“, Kant menerbitkan tulisan lain yang berjudul: Was heisst: Sich im Denken Orientieren? – „Apa artinya mengorientasikan diri dalam pemikiran?“ 

Dalam tulisan ini ia memberikan pengertian yang lebih jelas dan konkret mengenai Pencerahan sebagai tindakan „berpikir sendiri“ (Selbstdenken). Apa artinya berpikir sendiri?

Ia menulis: „Selbstdenken heisst den obersten Probierstein der Wahrheit in sich selbst (d. i. in seiner eigenen Vernunft) suchen; und die Maxime, jederzeit selbst zu denken, ist die Aufklärung,“;  „Berpikir sendiri artinya mencari batu uji kebenaran tertinggi dalam diri sendiri, yakni dalam akal budi sendiri. Dan maksim, setiap saat berpikir sendiri, itulah Pencerahan.“ 

Ini sama dengan otonomi yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan otonomi, maka kebenaran tidak ditemukan dan tidak diuji berdasarkan pendapat atau diktat pihak-pihak lain, melainkan hanya berdasarkan akal budi atau pikiran diri sendiri. Manusia yang telah tercerahkan mampu memutuskan sendiri apa yang menurutnya benar, sesuai dengan akal budinya sendiri. Itulah kedewasaan.

Namun, yang menarik adalah uraian Kant selanjutnya dalam tulisan singkatnya di atas. Ia mengingatkan bahwa memiliki banyak informasi tidak identik dengan kondisi tercerahkan. Tidak jarang orang beranggapan bahwa pencerahan identik dengan perolehan informasi yang banyak. 

Padahal, katanya, justru sering terjadi, ketika banyak informasi tersedia, orang tidak lagi menggunakan pikirannya. „Orang yang paling kaya dalam informasi adalah yang sering paling tidak tercerahkan dalam penggunaan informasi tersebut,” tulis Kant. 

Kelimpahan informasi itu justru sering melumpuhkan kemampuan dan keberanian kita berpikir. Kita nyaris tidak memiliki kesempatan dan kemampuan lagi menarik jarak dari banjir informasi itu. Pada titik inilah peringatan Kant menjadi sangat penting: sapere aude. 

Kita harus mampu dan berani mengambil jarak dari gempuran informasi itu, lalu secara kritis dan rasional memikirkannya, mengujinya dengan pikiran kita sendiri, agar dapat mengambil sikap yang tepat dan rasional atasnya. 

Tatkala informasi, opini, gossip, hoax dan berbagai komoditi informasi lainnya begitu mudah memborbardir kita setiap saat, di situlah kemampuan dan keberanian berpikir sendiri, sapere aude, menjadi sangat diperlukan. 

Ternyata apa yang dikatakan Kant 300 tahun yang lampau justru sangat relevan untuk kita hari ini.

Sumber: Fb Fitzerald Kennedy Sitorus


Rabu, 26 Agustus 2026

,

7 Cara Belajar Agar Otak Cerdas

Ilustrasi


Kecerdasan bukan sekadar kemampuan mengingat banyak informasi. Kecerdasan juga terlihat dari kemampuan memahami sesuatu, menghubungkan pengetahuan, mempertimbangkan bukti, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan dengan baik. Penelitian tentang kesehatan kognitif menunjukkan bahwa aktivitas fisik, belajar keterampilan baru, tidur yang cukup, dan kebiasaan hidup sehat dapat mendukung fungsi kognitif. 

Membentuk otak bukan berarti memaksanya bekerja tanpa berhenti. Otak membutuhkan tantangan sekaligus istirahat. Berikut tujuh cara yang dapat dijadikan kebiasaan sehari-hari agar pikiran semakin tajam, terbuka, dan bijaksana.


1. Bacalah sesuatu yang menambah pengetahuan

Membaca adalah salah satu cara sederhana untuk memperluas dunia pikiran. Ketika membaca buku, artikel berkualitas, sejarah, ilmu pengetahuan, filsafat, atau karya sastra, kita bertemu dengan gagasan yang mungkin berbeda dari pengalaman kita sendiri. Dari sana, pikiran belajar melihat kehidupan dari lebih dari satu sudut pandang.

Namun, membaca tidak seharusnya hanya mengejar jumlah halaman. Setelah membaca, tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya saya pelajari? Mengapa gagasan ini masuk akal? Apakah ada bagian yang perlu saya pertanyakan?” Dengan begitu, membaca berubah dari kegiatan mengumpulkan kata menjadi proses membentuk cara berpikir.


2. Biasakan bertanya sebelum mempercayai sesuatu

Pikiran yang cerdas tidak mudah menerima setiap informasi sebagai kebenaran. Biasakan bertanya: Apa buktinya? Dari mana informasi ini berasal? Apakah ada penjelasan lain? Apa yang belum saya ketahui? Pertanyaan seperti ini melatih kita untuk membedakan fakta, pendapat, asumsi, dan kesimpulan.

Tetapi berpikir kritis bukan berarti selalu menolak pendapat orang lain. Justru, pikiran yang matang bersedia mengubah pandangan ketika menemukan bukti yang lebih kuat. Kecerdasan bukan kemampuan untuk selalu merasa benar, melainkan keberanian untuk mencari kebenaran meskipun hasilnya berbeda dari keyakinan kita sebelumnya.


3. Pelajari sesuatu yang belum pernah engkau kuasai

Otak perlu menghadapi pengalaman belajar yang baru. Cobalah mempelajari bahasa baru, keterampilan digital, alat musik, menulis, matematika, memasak, menggambar, atau bidang ilmu yang selama ini belum pernah dipelajari. National Institute on Aging mencatat adanya bukti bahwa mempelajari keterampilan baru dan aktivitas yang menuntut kemampuan kognitif dapat mendukung fungsi memori. 

Jangan takut menjadi pemula. Ketika kita belum mahir, otak justru mendapat kesempatan untuk membangun pemahaman baru melalui latihan dan kesalahan. Manusia tidak menjadi cerdas karena selalu mengetahui jawaban, tetapi karena bersedia terus belajar ketika belum mengetahui jawabannya.


4. Latih dirimu memecahkan masalah

Setiap hari, pilih satu persoalan sederhana dan coba pecahkan dengan pikiran yang teratur. Tentukan masalahnya, cari penyebabnya, kumpulkan informasi, buat beberapa pilihan, kemudian pikirkan akibat dari setiap pilihan. Cara ini dapat diterapkan pada persoalan belajar, pekerjaan, keuangan, maupun kehidupan sehari-hari.

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan hanya karena sebuah jawaban terlihat mudah. Tanyakan, “Apakah solusi ini benar-benar menyelesaikan akar masalah atau hanya mengatasi gejalanya?” Dengan kebiasaan tersebut, pikiran menjadi lebih sistematis. Orang yang bijaksana tidak hanya bertanya, “Apa jawabannya?”, tetapi juga “Mengapa jawaban ini tepat?”


5. Gerakkan tubuh agar pikiran ikut terawat

Otak dan tubuh tidak dapat dipisahkan. Aktivitas fisik secara teratur tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga mendukung kesehatan otak. CDC menyebutkan bahwa aktivitas fisik dapat membantu kemampuan berpikir, belajar, memecahkan masalah, dan menjaga keseimbangan emosional. 

Karena itu, sisihkan waktu untuk berjalan kaki, bersepeda, berenang, melakukan pekerjaan rumah, atau aktivitas fisik lain yang sesuai kemampuan. Untuk orang dewasa, pedoman aktivitas fisik umumnya menganjurkan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, jika kondisi kesehatan memungkinkan.  Pikiran yang ingin berkembang juga membutuhkan tubuh yang dirawat.


6. Tidurlah dengan cukup dan berikan otak waktu untuk beristirahat

Belajar sepanjang hari tanpa istirahat bukan tanda kecerdasan. Tidur memiliki peran penting dalam proses belajar, mengingat informasi, perhatian, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Kekurangan tidur dapat mengganggu kemampuan berpikir dan belajar. 

Karena itu, jangan merasa bersalah ketika tubuh membutuhkan istirahat. Buatlah jadwal tidur yang teratur dan berikan waktu kepada pikiran untuk tenang setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Seperti tanah yang membutuhkan waktu untuk memulihkan kesuburannya, pikiran juga membutuhkan keheningan agar dapat kembali bekerja dengan jernih.


7. Renungkan pengalaman dan periksa kembali cara berpikirmu

Setiap malam, luangkan beberapa menit untuk bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang saya pelajari hari ini? Kesalahan apa yang dapat saya perbaiki? Keputusan apa yang sudah tepat? Apakah saya memperlakukan orang lain dengan baik?” Kebiasaan refleksi membantu kita mengubah pengalaman menjadi pelajaran.

Di sinilah kecerdasan bertemu dengan kebijaksanaan. Orang yang hanya mengumpulkan pengetahuan mungkin menjadi pintar, tetapi orang yang mampu menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki dirinya dan memperlakukan kehidupan dengan lebih baik sedang membangun kebijaksanaan. Ilmu memberi kita kemampuan untuk mengetahui; refleksi mengajarkan kita bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut.

Membentuk otak menjadi lebih cerdas dan bijaksana bukanlah pekerjaan satu malam. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali: membaca, bertanya, belajar hal baru, memecahkan masalah, bergerak, tidur dengan cukup, dan melakukan refleksi. Penelitian juga menunjukkan bahwa kesehatan kognitif tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan berbagai kebiasaan hidup dan kesehatan secara keseluruhan. 

Jangan mengejar kecerdasan hanya agar terlihat lebih hebat daripada orang lain. Gunakan kecerdasan untuk memahami kehidupan, membuat keputusan yang lebih baik, menyelesaikan masalah dengan tenang, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Ingatlah: otak yang cerdas mencari pengetahuan, pikiran yang kritis mencari kebenaran, tetapi hati yang bijaksana tahu bagaimana menggunakan keduanya dengan benar.

Sumber: Fb


TERBARU

MAKALAH