alt/text gambar

Jumat, 11 September 2026

Derrida: Sebuah Rekapitulasi Singkat

Martin Suryajaya


Manusia itu rapuh dan kita ingin menyangkalnya. Sejarah ribuan tahun peradaban tak lain adalah upaya penyangkalan itu. Demikian bergulirlah peradaban manusia: mulai dari periode aksial yang melahirkan para filsuf purba yang bertanya tentang hakikat semesta, ke para teolog Abad Pertengahan yang berupaya mengupas hakikat Tuhan pencipta alam, lantas bergulir melalui para filsuf modern yang bertanya tentang hakikat manusia dan pengetahuannya, hingga akhirnya kita hari ini, di sini, yang tetap tak mengerti. 

Sejarah peradaban tak lain adalah sejarah pemujaan atas rasio (baik berupa “Kemanusiaan Universal,” “Negara Hukum yang Rasional,” “Saintisme,” “Metafisika”). Kini kita pun perlahan mulai sadar: sejarah peradaban ribuan tahun yang memuja rasio itu cuma desas-desus. Rasio tak lain adalah bahasa dengan segala gramatikanya. Kita tak bisa berpikir di luar bahasa. Dengan demikian, rasio, alias bahasa, hanya dapat mengurai kebenaran dari realitas dengan pembatasan tertentu atas kebenaran itu. Dengan kata lain, rasio mengejar kebenaran dengan membatasi terlebih dahulu “kebenaran” macam apa yang mesti dicapai. Dengan demikian, rasio adalah muslihat usang yang disembahyangi setiap hari.

Lantas bagaimana dengan irasionalitas? Irasionalitas selalu dipandang sebagai musuh utama peradaban manusia. Peradaban dibangun melalui represi atas apa yang dianggapnya irasional. Represi ini tak sepenuhnya berhasil, yang irasional selalu mengeram di lubuk ketaksadaran. Yang irasional selalu dapat bangkit lagi ke muka peradaban dan terejawantah dalam sejarah (kita ingat: kerusuhan sosial, fundamentalisme agama, peperangan buas, Holocaust dan genosida-genosida etno-religius). Ia muncul sebagai manifestasi kekecewaan atas gagalnya cita-cita emansipatoris dari rasio yang telah berjanji (dan gagal) untuk menguraikan Kebenaran Sejati. 

Apakah ini sebuah impasse alias "jalan buntu”? Ada hal yang belum kita coba masuki, suatu yang terus-menerus dinegasi oleh peradaban. Jika kebuntuan dalam rasio alias bahasa ini tak dapat dilampaui sejauh kita masih mendekam dalam horizon bahasa, maka barangkali ada satu kemungkinan lain di luar bahasa yang belum kita upayakan. Kemungkinan itu adalah dengan masuk ke dalam relung tanpa bahasa dan tanpa rasio, yaitu masuk ke dalam ranah para mistikus: mencecap kesunyian dalam ruang hampa kognisi. Barangkali di sanalah Kebenaran Sejati akan menyingkapkan dirinya. Barangkali kita tak bisa lagi menyebutnya sebagai “kebenaran” karena “kebenaran,” “kesalahan,” “kebaikan,” dan “keburukan” adalah domain rasio. Apa yang tercecap itu tak bisa dinamai, atau bahkan justru boleh dinamai dengan apa saja. Para mistikus menyebutnya Suwung. 

Namun apakah setiap dari kita bisa dan harus mencecapnya? Bukankah yang mistis seperti itu dapat menjadi sangat fundamentalistis dalam politik? Tidakkah dalam proses laku tapa, kita dapat menjadi indiferen terhadap yang fana, terhadap segala yang sia-sia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat kita merenung. Manusia itu rapuh dan kita ingin menyangkalnya. 

Barangkali jalan keluarnya bukanlah sikap alergis terhadap segala yang fana melainkan justru mengakui yang fana itu sebagai bagian dari cara mengada kita. Dengan kata lain, menerima kerapuhan diri kita dengan lapang dada. Bukankah hanya dengan cara demikianlah tindakan etis, politis, dan religius yang tulus menjadi mungkin? Bukankah yang etis selalu mengandaikan “ketidaktahuan” kita akan Yang Baik dan bukankah karena ketidaktahuan inilah kita tidak akan mengeklaim tindak etis kita sebagai tindak etis Yang Sejati? Barangkali bukan karena saya tahu apa itu “baik” maka saya berbuat baik melainkan justru karena saya tak tahu apa itu “baik” maka saya berbuat baik. Bukankah iman yang autentik mengandaikan sejenis ketidaktahuan sehingga kita tidak mengeklaim secara semena-mena bahwa “saya telah mencapai Kebenaran Sejati itu”? Bukankah iman yang autentik adalah iman yang terbuka terhadap sesuatu yang terus luput? Tidakkah hidup adalah afirmasi atas apa yang fana, sementara, dan terkadang sia-sia? Maka, apakah kita perlu Kebenaran yang final, kukuh dan padu? Barangkali yang kita perlukan adalah sikap “rendah hati” untuk disalahpahami, rendah hati dalam ketidaktahuan, rendah hati dalam kefanaan, dan terkadang juga kesia-siaan, seperti daun yang gugur di senja hari, manusia yang menua dalam waktu dan hangat mentari pagi. Kita tak tahu apa-apa. Tapi kita bisa menangis dan menolong yang lain dalam ritus ketidakmengertian kita, dalam momen singular yang takada kata, takada kitab, dan kita tetap taktahu apa yang kita perbuat dan apa yang Kita cintai. Dan kita tetap berbuat. Dan kita tetap mencintai. 

Ya, barangkali itulah pathos dekonstruksi. Derrida pernah berkata, “dekonstruksi takkan berjalan tanpa cinta.” Dalam arti tertentu, dekonstruksi adalah cinta. Force (aktivitas differance yang mengalir dengan membedakan-membagi-menunda-menyuplemen) adalah cinta. Cinta akan yang lain yang akan datang, akan yang terkalkulasi, akan yang sudah selalu menginterupsi . kita, cinta akan yang takmungkin. Dalam ranah cinta, masih adakah sesuatu yang pasti? Masih adakah sesuatu yang sepenuhnya terprogram dan terprediksi? Mungkinkah cinta jika ia dirumuskan (baca: dikonseptualisasikan secara rigorous)? Mungkinkah cinta jika ia adalah sesuatu yang pasti, yang terantisipasi sepenuhnya, yang terpahami? Dan mungkinkah cinta jika ia terjamin dan sepenuhnya timbal-balik? Barangkali cinta hanya mungkin ketika ia tidak mungkin, ketika tak ada jaminan akan terus mencintai, ketika kita bisa lupa bahwa kita pernah mencintai, bahwa kita memang mencintai, bahwa kita akan terus mencintai. Hanya ketika cinta tidak mungkin, maka cinta menjadi mungkin. Hanya ketika cinta bukanlah Cinta (baca: mencapai kepenuhan), maka cinta menjadi mungkin. Cinta selalu mengandaikan jarak, selalu mengandaikan separasi, selalu mengandaikan kemungkinan untuk tidak mencintai (lagi). Cinta mengandaikan kefanaan. Cinta mengandaikan ketaksempurnaan. Cinta mengandaikan kontaminasi. Oleh karena itu: mencintai adalah menangis. Cinta hanya mungkin sejauh ia tak mungkin dan akan tak mungkin sejauh ia mungkin. Love is out of joint... 

Dengan menunjukkan dimensi ketaktentuan pada pelbagai aspek kehidupan semacam itulah, Derrida berupaya menunda metafisika. Dalam dimensi ketaktentuan inilah, metafisika yang berupaya mengorganisasikan perbedaan ke dalam skema oposisional yang pasti demi mencapai pengertian tentang dasar, asal tujuan dan identitas menjadi tak mungkin. Skema oposisional selalu didirikan di atas dasar yang bukan dasar, yaitu arus differance, alunan, force, yang terus menunda dan membeda, yang terus 'membelum' dalam ketaktentuannya. Oleh karena didirikan di atas fondasi yang tak ajek inilah, skema oposisional metafisika selalu gagal merengkuh keseluruhan dalam sebuah kepastian. Selalu ada yang tercecer, selalu ada yang lain, selalu ada yang masih tersisa.

Apakah ini berarti metafisika telah mati? Tidak. Metafisika tak pernah mati. Derrida pernah mengatakan bahwa seluruh diskursus tentang “akhir” (akhir sejarah, akhir metafisika, akhir manusia) selalu metafisis. Pandangan ini sesuai dengan gagasannya mengenai logika kontaminasi. Jika oposisi adalah karakter dari metafisika, maka oposisi antara “terjebak dalam metafisika” dan “melampaui metafisika” adalah suatu metafisika karena oposisi ini juga bertumpu pada oposisi antara “dalam” dan “luar” metafisika. Bagi Derrida, untuk mengkritik metafisika, kita mesti melihat “batas” antara luar dan dalam domain metafisika itu sebagai batas yang kontaminatif. Maksudnya, yang di luar sudah selalu berada di dalam dan yang di dalam sudah selalu berada di luar. Namun, muncul suatu konsekuensi: segalanya imanen dalam ranah kontaminasi alias ranah metafisika ini. Lantas, apakah ada suatu jalan keluar dari ranah ini? Apakah ada suatu “momen keputusan” yang bisa melampaui seluruh ranah ini walaupun akhirnya akan kembali pada ranah ini? Jika segalanya imanen, apakah “lompatan” dimungkinkan? 

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 315-319




Kamis, 10 September 2026

,

Trace dan Contohnya: Memahami Filsafat Dekonstruksi Derrida


Contoh trace (jejak) dalam dekonstruksi Jacques Derrida adalah kehadiran makna dari kata "terang" yang selalu membawa bekas atau bayangan dari kata "gelap" (lawannya) di dalam dirinya. 

Trace atau jejak adalah gagasan bahwa sebuah kata atau konsep tidak pernah memiliki makna yang murni, mandiri, atau hadir sepenuhnya. Di dalam setiap kata yang diucapkan atau ditulis pada masa kini, selalu terdapat "jejak" dari kata lain yang tidak hadir (dihilangkan atau ditangguhkan) tetapi mutlak diperlukan agar kata tersebut memiliki arti.

Oposisi Biner Terang dan Gelap: 

Ketika kita mengucapkan kata "terang", makna terang itu tampak hadir secara penuh. Namun, secara struktural, kata "terang" tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak secara implisit tahu apa itu "gelap". Makna "gelap" tidak tampak secara fisik di dalam kata "terang", tetapi ia meninggalkan trace (jejak) di dalamnya.

Konsep Kehadiran dan Ketiadaan: Dalam Jejak kritik sastra - Britannica, trace menunjukkan bahwa identitas suatu konsep terbentuk karena ada penolakan atau perbedaan dari konsep lain. Kata "hadir" selalu membawa jejak "absen". Sesuatu dianggap ada karena ia tidak absen, sehingga ketiadaan itu membekas sebagai jejak di dalam keadaannya.

Sumber: Google

***

Kata "Tuhan" dalam perspektif filsafat dekonstruksi Derrida dan dipengaruhi pemikir seperti Emmanuel Levinas, dimaknai sebagai upaya membongkar konsep ketuhanan tradisional yang terikat pada metafisika, logosentrisme, dan ontoteologi.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai pemahaman tersebut:

Kritik terhadap Ontoteologi dan Logosentrisme Ontoteologi: Filsafat barat sering kali mendefinisikan Tuhan sebagai "Ada yang tertinggi" (Supreme Being) atau pusat dari segala kebenaran (logos). Dekonstruksi melihat ini sebagai cara manusia memenjarakan Tuhan ke dalam kategori objek atau konsep akal budi manusia. 

Melampaui Definisi: Dekonstruksi tidak bertujuan menolak Tuhan (ateisme mutlak), melainkan membebaskan kata "Tuhan" dari cengkeraman definisi kaku yang mengklaim bisa memetakan hakikat mutlak-Nya secara total.

Konsep "Tuhan Tanpa Kepastian" (The God Who May Be / The Perhaps)

Menolak Kehadiran Penuh (Presence): Dalam dekonstruksi, bahasa selalu bersifat menunda makna (différance). Oleh karena itu, Tuhan tidak bisa dihadirkan secara penuh dalam konsep bahasa manusia atau doktrin mutlak yang tertulis.

Keterbukaan pada yang Lain (The Other): Melalui jejak (trace) dan keterbukaan tanpa syarat, Tuhan hadir bukan sebagai penguasa sistem metafisik, melainkan sebagai "Yang Lain" (The Wholly Other) yang memanggil manusia melalui etika (seperti dalam pemikiran Levinas).

Sumber: Google

***

Tambahan: Trace berperan menginterupsi setiap kepenuhan makna ( Martin Suryajaya, Nihilisme, h. 304) 


Rabu, 09 September 2026

, , ,

Memahami Dekonstruksi Derrida

Oleh: Nani Efendi


Ada anggapan umum bahwa ada makna pasti dari sebuah kata atau teks. Tapi, filsuf Perancis, Jacques Derrida tak setuju dengan itu. Menurut Derrida, makna kata selalu terkait dengan makna kata lain. Itulah yang diistilahkan dengan "intertekstualitas". Artinya, tak ada satu makna yang tunggal dan final. Makna suatu kata itu selalu tertunda. Tertunda artinya, ketika dihubungkan dengan kata lain, maka makna 'kata' itu berubah lagi. Dihubungkan lagi dengan kata lain lagi, berubah lagi maknanya. Begitulah seterusnya. Jadi, tak pernah final. Itulah maksud tertunda. Dan, makna kata juga berubah (terbedakan) ketika dihubungkan dengan kata lain. 

Maka, Derrida menggunakan istilah khusus: "Differance" (menunda/to defer; membedakan/to differ). Artinya, makna suatu kata itu tak pernah stabil. Tak pernah tetap. Selalu berubah. Karena, kata demi kata ketika digabungkan akan membentuk makna yang terus berubah tanpa ada akhirnya. Seperti labirin. 

Kata atau bahasa itu bukan saja yang berwujud tulisan. Tapi juga yang lisan. Semua itu, menurut Derrida, adalah teks. Tak ada sesuatu apa pun di luar teks.

Pernyataan Derrida: "il n'y a pas de hors-texte" atau "tidak ada apa pun di luar teks", sering disalahpahami sebagai penolakan terhadap dunia nyata. 

Padahal, maksud pernyataan "tidak ada yang di luar teks" (il n'y a pas de hors-texte) dari Jacques Derrida, adalah: segala pemahaman kita tentang realitas selalu diperantarai oleh bahasa, terikat dan dibentuk oleh konteks serta jaringan tanda bahasa. Jadi, bukan berarti dunia fisik di luar diri kita tidak nyata.

Derrida tidak bermaksud menyatakan bahwa benda fisik, manusia, atau alam semesta ini tidak nyata. 

Sekali lagi ditegaskan: pemahaman kita tentang segala sesuatu selalu diperantarai oleh bahasa. Nah, bahasa itu adalah teks. Kita memahami, memikirkan sesuatu selalu diperantarai oleh teks atau bahasa. Itulah yang dimaksud "tak ada apa pun yang di luar teks". 

Jadi, setiap objek, pengalaman, atau realitas yang kita pahami selalu hadir melalui jaringan tanda, bahasa, dan sistem penafsiran.

Oleh karenanya, tak ada makna murni. Tak ada titik acuan mutlak atau makna stabil di luar sistem penandaan tersebut.

Implikasi dalam dekonstruksi jaringan tanda adalah: makna bersifat dinamis dan selalu merujuk pada tanda-tanda lain (intertekstualitas). 

Segala hal di dunia sosial dan budaya dapat dibaca dan dianalisis layaknya sebuah "teks" yang terbuka pada tafsir tanpa batas.

Filsuf sebelumnya, yakni Nietzsche—yang juga mempengaruhi pemikiran Derrida—mengatakan: "There are no facts, only interpretation." Tak ada yang namanya fakta. Semua adalah interpretasi. 

Nani Efendi


Selasa, 08 September 2026

, ,

Metafisika Kehadiran, Sebuah Kritikan atasnya

Sebagaimana diakui Derrida dalam Positions bahwa filsafatnya tak mungkin ada tanpa menaruh perhatian pada konsep perbedaan ontologis. Dengan mencermati perbedaan ontologis, Derrida berupaya menunda setiap upaya merepresentasikan segalanya sebagai “kehadiran” karena, seperti telah kita lihat, perbedaan ontologis menekankan perbedaan antara Ada (yang diasumsikan tak termasuk dalam horizon kehadiran langsung) dan adaan (seperti Tuhan dan substansi yang termasuk dalam horizon kehadiran). Dapat dikatakan bahwa pembacaan dekonstruktif adalah pembacaan yang ingat akan perbedaan ontologis sehingga konsep-konsep metafisis (yang diandaikan hadir penuh) selalu ditunda (dengan menunjukkan peran “yang lain”). Dengan terus berpegang pada perbedaan ontologis, kita menjadi berhati-hati untuk tidak terjebak pada metafisika kehadiran. Namun kata “perbedaan ontologis” dalam konteks pembicaraan kita mengenai Derrida ini mesti dimengerti tidak sekadar dalam pengertian Heideggerian (yaitu perbedaan antara Ada dan adaan) melainkan dalam arti yang lebih luas, yaitu sebagai perbedaan antara yang tak termasuk dalam horizon kehadiran langsung (walau bukan berarti ketakhadiran alias ketiadaan) dan yang termasuk dalam horizon kehadiran langsung. 

Terkait dengan perbedaan ontologis, kritik atas metafisika kehadiran (Anwesenheit) yang dilakukan oleh Heidegger juga diteruskan oleh Derrida. Penyilangan terhadap kata Ada (kreuzweise Durchstreichung) yang dilakukan Heidegger dalam Zur Seinsfrage untuk menghindari representasi atas Ada sebagai kehadiran langsung juga digunakan oleh Derrida untuk menyilang kata apa pun yang umumnya kita representasikan sebagai kehadiran langsung. Dengan menyilang kata Ada dan menghindar dari keterjebakan pada metafisika kehadiran, Derrida menulis dalam Of Grammatology bahwa Heidegger telah melakukan suatu permulaan baru dalam sejarah metafisika (dan bahwa pencoretan itu adalah “the final writing of an epoch”). Memang terdapat sense yang berbeda antara Heidegger dan Derrida dalam penggunaan frasa “metafisika kehadiran”. 

Metafisika Kehadiran antara Heidegger dan Derrida

Bagi Heidegger, metafisika kehadiran ialah suatu bentuk paradigma yang merepresentasikan, yang meng-kerangka (Ge-Stell), Ada sehingga Ada dihadirkan dalam skema pemikiran manusia dan tidak menyingkapkan dirinya sendiri. Bagi Derrida, metafisika kehadiran adalah suatu paradigma yang menganggap bahwa identitas, makna atau apa pun dapat hadir penuh dan identik pada dirinya tanpa kontaminasi oleh “yang lain”. Kita dapat melihat bahwa pengertian Derrida atas metafisika kehadiran merupakan radikalisasi atas pengertian Heidegger. Jika Heidegger memandang bahwa pengerangkaan atas Ada membuat manusia menjadi konstruktor makna dan menghadirkan Ada secara paksa, dan bahwa pandangan metafisika kehadiran Ada dipandang dapat hadir penuh tanpa aktivitas Streit serta withdrawal of Being, maka Derrida meradikalisasikan pandangan ini dengan mengeksplisitkan bahwa kehadiran (entah Ada atau apa pun) sudah selalu terkontaminasi oleh elemen lain. Jadi kritik atas metafisika kehadiran merupakan sebuah proyek bersama yang dilakukan oleh Heidegger dan Derrida. Walaupun demikian, penekanan yang diberikan jelas berbeda. Jika Heidegger menggunakan kritik atas metafisika kehadiran agar mencapai suatu pengertian akan Kebenaran Ada, Derrida berfokus pada kritik atas metafisika kehadiran tanpa memastikan apa yang akan datang setelahnya yang hanya ia sebut sebagai “yang lain yang akan datang” tanpa melakukan identifikasi lebih lanjut (walaupun akhirnya ia menamai itu sebagai “keadilan” atau “demokrasi”. 

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 234-236

Tambahan:

Derrida menunjukkan peran “yang lain" yang berperan dalam menunda kepenuhan makna, h. 246


, ,

KRITIK DERRIDA ATAS HEIDEGGER

Dekonstruksi Mendahului Ontologi Fundamental 

Walaupun tak bisa dimungkiri bahwa pengaruh Heidegger begitu merasuk dalam filsafat Derrida, “sang murid” ini tetap melancarkan kritik atas gurunya. Kritik Derrida atas Heidegger merentang sejak karya-karya awalnya (dalam bentuk yang, karena seringkali hanya sekadar menyinggung sedikit, terasa “agak malu-malu”) hingga periode akhirnya (dalam bentuk yang lebih panjang). Sejak karyanya, Of Grammatology, Derrida telah melihat suatu privilese terhadap kata “Ada” (terutama pada Heidegger awal). “Ada” seperti sebuah “kata-primordial” (Urwort) yang menggambarkan suatu realitas transenden (dalam arti, melampaui segala adaan) dan mengatur setiap kata dan adaan yang lain. Hal ini disadari oleh Heidegger sendiri pada periode akhirnya sehingga ia memilih untuk menulis kata “Ada” dalam tanda silang. Namun “glorifikasi” kata Ada pada Heidegger awal ini juga terkait dengan susunan pelbagai metafor dalam filsafatnya. Susunan oposisi-hierarkis itu misalnya antara tuturan x tulisan, tulisan tangan x tulisan hasil ketikan mesin, otentisitas x inotentisitas, waktu autentik x waktu vulgar, kematian autentik x kematian vulgar (yang terjadi dalam Das Man), dan sebagainya. 

Hal-hal ini akan kita lihat satu persatu. Dalam konteks Being and Time, terdapat suatu asumsi umum bahwa Dasein dapat mencapai pengertian tentang makna Ada secara autentik jika ia berhasil mencapai otentisitas dalam kondisi faktisitasnya (dalam kesadaran waktunya yang autentik tentang ada-menuju-kematian). Proyek ontologi fundamental berupaya mencari syarat kemungkinan bagi pengertian akan Ada secara autentik. Melalui analisis Heidegger, tampak bahwa syarat kemungkinan yang dimaksud adalah otentisitas Dasein yang bertolak dari kesadaran mewaktu sebagai ada-menuju kematian (yang merupakan horizon transendental Dasein). Kita dapat bertanya di sini: apakah kondisi faktisitas Dasein adalah titik tolak pertama pertanyaan akan Ada? Apakah otentisitas dan inotentisitas Dasein tidak didahului oleh sesuatu (yang bahkan telah ada sebelum kesadaran akan kondisi faktisitasnya)? Kita dapat mencoba melakukan inskripsi suatu “konsep” Derrida dalam proyek ontologi fundamental Heidegger ini. “Konsep” itu adalah differance. Kita ingat, differance adalah suatu “mekanisme” penundaan-pembedaan (defer-differ) yang menyebabkan kontaminasi seluruh makna, yang memungkinkan konstitusi suatu makna sekaligus menunda kepenuhan dari makna tersebut. Dengan kata lain, tak pernah ada sesuatu apa pun (bahkan “ketiadaan”) yang hadir sebelum differance karena mekanisme inilah yang memungkinkan makna. Differance bukanlah bahasa karena ia lah yang memungkinkan terjadinya bahasa. Namun differance juga bukan asal-usul atau fondasi yang kokoh karena ia adalah nama kosong untuk menandai suatu aktivitas kontaminasi yang terus melibatkan pembedaan-penundaan yang tanpa kepastian (alias tak tertebak), suatu aktivitas yang terus “mengalun”, suatu force. Proyek ontologi fundamental, karena terpusat pada kemungkinan otentisitas demi pengertian akan makna ada, mendasarkan diri pada aktivitas “pemaknaan” (Bedeutsamkeit). Jika kita menghubungkan “konsep” differance dengan proyek Heidegger awal ini maka dapat dikatakan bahwa sebelum Dasein menjadi Dasein, differance sudah selalu terjadi. Dasein adalah Dasein ketika ia menyadari kondisi faktisitasnya di dunia. Kesadaran akan Dasein, karena selalu melibatkan pemaknaan, selalu didahului dan dihantui oleh aktivitas differance. Jadi dapat dikatakan bahwa sebelum Dasein ada sudah selalu ada differance. Dan aktivitas differance ini tidak sekadar melahirkan Dasein melainkan juga menghantui Dasein karena aktivitas pemaknaan (Auslegung / interpretasi dan bahkan Verstehen/pemahaman), yang berlangsung hingga momen kematian Dasein, juga hanya dapat terjadi dalam aktivitas differance. Perlu kita ingat bahwa differance ini tidak pernah tetap, ia sudah selalu mengontaminasi dan terkontaminasi oleh segala sesuatu (termasuk Dasein sendiri). Jemeinigkeit (kemilikku-an), sebagai kondisi utama faktisitas, juga dimungkinkan karena differance. Faktisitas, dengan demikian, bukanlah titik tolak absolut pertanyaan akan Ada karena faktisitas sudah selalu didahului oleh differance. Maka differance-lah yang memungkinkan (dan sekaligus membatasi) pertanyaan akan Ada. Momen dekonstruktif mendahului ontologi fundamental. 

Relasi pemaknaan yang sudah selalu terkontaminasi differance inilah pula yang membuat tak pernah ada Vorhandenheit murni dan Zuhandenheit murni. Tak ada benda yang sepenuhnya tergeletak di sana tanpa terlibat dalam relasi pemaknaan dengan Dasein dan tak ada benda yang sepenuhnya familiar dan intim dengan Dasein. Keduanya saling mengontaminasi: relasi intim dengan benda-benda sehari-hari juga melibatkan suatu keasingan dan keasingan dengan benda-benda di luar keseharian sudah selalu melibatkan suatu relasi pemaknaan. Bersamaan dengan ini, tak ada pula perbedaan penuh antara waktu autentik dan waktu vulgar. Distingsi ini dimungkinkan oleh aktivitas differance. Waktu autentik yang muncul karena pemaknaan Dasein akan ada-menuju-kematiannya juga dimungkinkan karena differance (melalui pembedaan antara hidup x mati, ada x tiada, dan sebagainya). Waktu vulgar juga dimungkinkan oleh differance karena hitungan sekuensional (yang terdiri dari jetzt alias “kini”) selalu melibatkan diferensiasi (antara “kini” yang pertama, yang kedua, dan seterusnya). Distingsi ini, beserta seluruh penggunaan metafor oposisional-distingtif dalam Heidegger, justru merupakan metafisika “itu sendiri”. 

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 239-242


Tambahan:

Derrida menunjukkan peran “yang lain" yang berperan dalam menunda kepenuhan makna, h. 246




Kamis, 03 September 2026

, ,

Heidegger dan Politik

  

Politik berasal dari kata Yunani “polis”. Polis adalah sebutan bagi negara-kota pada masa Yunani Kuno. Di dalam polis semua warga negara diperlakukan sama. Kesetaraan yang dijamin oleh konstitusi. Kesetaraan ini berdampak pada sebuah pemerintahan secara kolektif. Semua warga negara berhak berbicara di majelis guna mendiskusikan masalah-masalah publik.

Diskusi menuntut sebuah keterampilan bertutur. Persuasi menjadi metode perdebatan di majelis. Persuasi mensyaratkan rasionalitas. Memenangkan hati publik lewat argumentasi. Hanya warga dewasa laki-laki-nonbudak yang berhak bicara di majelis. Mereka dianggap sosok yang sudah meninggalkan ranah rumah tangga dengan segala urusan privatnya. Sosok yang tidak lagi didikte kebutuhan-kebutuhan badaniah. Dalam ranah publik orang tidak membincangkan masalah alokasi gaji bulanan. Namun, membincangkan perlu tidaknya hukum yang mengatur kasus penyerobotan tanah.

Ranah publik menjadi prinsip yang sangat penting dalam politik. Politik harus dijalankan lewat negosiasi, lobi, dan dialog. Bukan kekerasan dan perintah. Yang belakangan disebut itu adalah karakter politik ranah privat. Polis adalah format demokrasi awal yang mengakomodasi keterlibatan publik dalam urusan politik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ranah publik diberi tempat. Setelah sebelumnya sejarah politik didominasi oleh monarki yang menutup ranah publik. Munculnya polis adalah sebuah belokan sejarah politik ketika untuk pertama kalinya kebijakan publik dibuat dalam alam terbuka (majelis) dan bisa dikritisi. 

Totalitarianisme adalah antitesis paling sempurna dari prinsip ranah publik. Kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas dicampakkan dari politik. Rezim totaliter Nazi, misalnya. Kebebasan sipil warga keturunan Yahudi dirampas. Kesetaraan berpolitik dibungkam. Kodrat politik adalah ketidaksetaraan. Politik tidak terbuka bagi semua melainkan ras tertentu saja. Solidaritas hanya berlaku secara primordial. Kelompok di luar kelompok politik dominan diacuhkan. Singkatnya, ranah publik dihancurkan. Politik bukan lagi urusan bersama melainkan sarat dengan kekerasan dan komando. Urusan politik adalah urusan elit. Akses politik publik dimampetkan secara sistematis. 

Perbincangan tentang keterlibatan Heidegger dalam politik pada dasarnya terbagi dua kubu. Pertama, kubu yang mengatakan bahwa filsafat Heidegger adalah traktat fasistik par excellence. Being and Time adalah traktat yang sarat konsep-konsep “politis”. Konsep-konsep yang bisa ditafsirkan sebagai memikul tanggung jawab penuh atas keterlibatan Heidegger dalam rezim totaliter Nazi. Tafsiran ini mendapat penguatan dari Heidegger sendiri. Saat bertemu dengan Karl Lowith, Heidegger, dengan pin swastika melekat di kerah, mengatakan bahwa komitmen politiknya berdasar pada konsep “historisitas” dalam filsafatnya. 

Tafsir politik paling tajam kubu pertama datang dari Hannah Arendt, bekas mahasiswi bimbingan Heidegger sendiri. Terlepas dari isu seputar hubungan asmara antara Arendt dan Heidegger, tafsir politis Arendt sungguh patut diperhatikan. Arendt bertolak dari tesis bahwa tradisi filsafat Barat adalah tradisi ketidakpercayaan terhadap ranah publik. Arendt menunjuk Plato sebagai pelopor tradisi ini. Traktat Plato, The Republic menggambarkan ranah publik sebagai sarat kegelapan, kebingungan, dan halusinasi. Kebenaran sejati tidak bisa ditemukan di sana. Kebenaran sejati hanya bisa ditemukan dalam kesendirian. Berpaling dari ranah. publik guna meraih gagasan-gagasan ideal, kekal, dan bening. Arendt menempatkan Heidegger dalam tradisi filsafat Platonian. Sesuatu yang tentu saja cukup mengagetkan. Heidegger ditempatkan dalam tradisi yang menjadi sasaran pokok kritik filosofisnya. 

Arendt mengutip, ungkapan Heidegger dalam Being and Time: Die Oeffenlichkeit verdunkelt alles. Dalam bahasa Indonesia ungkapan itu bisa diartikan: ranah publik mengaburkan segalanya. Berikut kutipan langsung dari Being and Time (terjemahan Bahasa Inggris): 

by publicness everything gets obscured, and what has thus been covered up gets passed off as something familiar and accesible to everyone 

(BT, 1962:165) 

Dengan adanya ranah publik segala sesuatu menjadi kabur, dan apa yang sesungguhnya misteri diperbincangkan seolah sesuatu yang akrab dan terakses oleh semua. 

Heidegger menegaskan bahwa kesehariannya dasein hadir dalam ranah publik (mitwelt) tempat dasein bertindak, berpikir, dan berbicara layaknya manusia massa (das man). Keberadaan dasein dalam ranah publik menurut Heidegger menyamarkan kebenaran. Karenanya, dasein dituntut untuk membebaskan diri dari dominasi manusia massa dalam ranah publik. Menjadi otentik dan menemukan kenyataan yang lebih hakiki. 

Di situlah letak keterjebakan Heidegger dalam tradisi ketidakpercayaan terhadap ranah publik. Arendt menunjuk analisis Heidegger terhadap dunia sehari-hari sebagai bukti. Meski tidak mengatakan dengan eksplisit, kritik Arendt mau mengatakan bahwa komitmen politis Heidegger bertalian dengan traktat filsafatnya. Traktat filsafat yang bisa ditafsirkan sebagai bermusuhan dengan ranah publik. Sikap bermusuhan yang menjadi raison d'etre rezim fasis-totaliter mana pun di jagad ini. 

Kubu kedua adalah mereka yang menafsirkan filsafat Heidegger sebagai anti-totalitarianisme. Komitmen politis Heidegger adalah pilihan sejarah, bukan sesuatu yang tumbuh dari filsafatnya. Nazisme berhadapan secara diametral dengan konsep otentisitas Heidegger. 

Dalam konteks hidup bersama, otentisitas artinya membuka kemungkinan-kemungkinan bagi yang lain. Politik totaliter, sebaliknya, menutup kemungkinan-kemungkinan lewat represi ideologis. Nazisme, misalnya, memaksakan ideologi sosialisme-nasional sebagai asas tunggal bagi semua kelompok politik. Ini adalah modus berada yang tidak otentik. Modus berada manusia massa yang dikritisi Heidegger. Komitmen politik Heidegger pada Nazisme merupakan penghianatan pada filsafatnya sendiri.

Penulis sendiri berpendapat bahwa perubahan pemikiran Heidegger bisa ditafsirkan sebagai ungkapan penyesalan tersembunyi. Heidegger lanjut menolak tradisi representasionalisme filsafat Barat. Kecenderungan merumuskan sang “Ada” secara akurat dan menampik setiap alternatif, “Ada” atau kenyataan, bagi Heidegger, tidak pernah bisa disajikan secara bulat-penuh. “Ada” selalu terkait dengan waktu. Maknanya tak bisa dilepaskan dari ruang-waktu yang mengepungnya. Artinya, “Ada” atau kenyataan bersifat majemuk. Segalanya adalah tafsiran dan bukan apa yang sesungguhnya. Ideologi adalah tafsiran mutlak atas kenyataan yang berdampak pada tindakan. Nazisme, misalnya, memutlakkan tafsir yang meminggirkan etnis Yahudi. Tafsir yang berdampak pada jerit kematian di kamp-kamp konsentrasi. Orde Baru memutlakkan satu tafsir tentang demokrasi. Tafsir yang membungkam gerakan-gerakan prodemokrasi yang menginginkan iklim politik yang lebih liberal. Semua format politik totaliter selalu memaksakan ideologi tunggal. 

Dekonstruksi Heidegger atas tradisi representasionalisme bertolak belakang dengan komitmen politisnya. Dekonstruksi atas representasionalisme secara politis melahirkan prinsip kemajemukan dan toleransi. Sebuah masyarakat nontotaliter tidak bisa diatur oleh satu ideologi. Setiap kelompok ideologis mesti merelativisir klaim-klaimnya guna membuka toleransi dan solidaritas. Filsafat Heidegger lanjut berjalan seiring dengan konsep masyarakat terbuka Karl Popper. Masyarakat yang tidak mengenal pemutlakan ideologi. Setiap kebijakan harus melibatkan semua kelompok yang berkepentingan. Ini artinya ranah politik harus terbuka bagi akses publik. Sesuatu yang tidak dikenal dalam kosakata politik totalitarian.

Rangkuman 

Dekonstruksi Heidegger terhadap filsafat Barat sungguh inspiratif. Refleksi-refleksinya terhadap sejarah, manusia, pengetahuan, dan bahasa mendorong lahirnya posmodernisme, khususnya di bidang filsafat. Modus berfilsafat posmodern menolak penjelasan universal atas segala sesuatu. Sebuah lanjutan proyek penggulingan filsafat Barat Heidegger. Dengan keras para filsuf posmodern membuktikan bahwa narasi-narasi besar seperti dialektika, epistemologi, dan hermeneutika tak lebih dari sekedar narasi. Lyotard memperlihatkan dengan tajam bagaimana pengetahuan di masa pasca-industri tidak lagi menghamba pada objektivitas. Patokan kebenaran sekarang bergeser pada performativitas. Dialektika sejarah juga mendapat giliran. Sejarah tidak mengikuti hukum gerak yang universal. Sejarah, seperti halnya yang dikemukakan Heidegger, sarat kejutan dan patahan. Mono-sejarah memberi jalan pada multi-sejarah. 

Dalam bidang filsafat politik sosok Heidegger menjadi sangat kontroversial. Keterlibatannya dengan rezim Nazi membuat banyak orang bertanya-tanya. Apakah ada benih-benih totalitarian dalam filsafatnya yang membuat Heidegger bersenyum-senyuman dengan rezim Nazi. Atau sebaliknya. Filsafat Heidegger adalah sesuatu yang terlepas dari pilihan politiknya. Heidegger sang filosof berbeda dengan Heidegger sang kader Nazi. Lebih jauh, banyak komentator Heidegger menilai jalan politik Heidegger harusnya berbeda apabila ia setia dengan filsafatnya. Posisi pertama diwakili oleh Hannah Arendt. Bekas mahasisiwi bimbingan Heidegger ini menuduh Heidegger belum lepas sepenuhnya dari tradisi filsafat Barat. Tradisi yang masih menghantui Heidegger adalah tradisi Platonian ketidakpercayaan terhadap ranah publik. Ranah publik, bagi Heidegger, seayun dengan kekaburan yang menelikung kebenaran. Padahal, ranah publik adalah pilar penyangga utama demokrasi. Penghancurannya berarti sinyal kuat berdirinya sebuah rezim totaliter. Filsafat Heidegger, karenanya, bertanggung jawab penuh atas pilihan politiknya. Mereka yang mengambil posisi kedua tidak sependapat dengan Arendt. Filsafat Heidegger tidak bisa dijadikan kambing hitam pilihan politik Heidegger. Apalagi, Heidegger lanjut banyak membenahi pemikiran sebelumnya. Heidegger lanjut merumuskan “Ada” sebagai yang pandai mengelak. Kegesitan “Ada” mengelak mematahkan setiap klaim keakuratan representasi. Filsafat mengelak Heidegger tidak bisa bermesraan dengan rezim totaliter, Rezim yang mengklaim satu representasi pokok kenyataan dan memaksakannya pada publik. Filsafat mengelak hanya bisa bersanding dengan rezim demokrasi yang mengagungkan toleransi, kesetaraan, dan solidaritas. 

Donny Gahral Adian, Martin Heidegger, Jakarta: Teraju, 2003, h. 97-105




TERBARU

MAKALAH