![]() |
| Badiou |
Ada satu jenis kesunyian yang kita kenal betul: kesunyian seseorang yang duduk di tengah sebuah seminar, atau sebuah acara bincang-bincang di layar kaca, mendengarkan orang-orang pintar bergiliran mengucapkan kata "kompleksitas" semacam deklarasi relativisme terhadap segala sesuatu dan diam-diam ada orang ingin berdiri, menyela, mengatakan sesuatu yang di zaman ini terdengar hampir memalukan, bahwa ada yang benar, dan ada yang keliru.
Tentu saja ia tidak berdiri. Ia tahu, seperti kita semua tahu, bahwa kalimat semacam itu diucapkan begitu saja, tanpa tanda kutip, tanpa kualifikasi akan membuatnya terdengar seperti orang yang belum selesai membaca. Seperti orang yang lupa bahwa kebenaran, kata orang-orang pintar itu, selalu tergantung pada siapa yang bicara, dari mana ia bicara, dan bahasa apa yang ia pakai untuk bicara.
Filusuf Alain Badiou adalah orang yang berdiri.
Sejak Prancis tahun 1960-an, ketika ia masih muda dan dunia sedang gaduh oleh mahasiswa yang melempar batu ke arah masa lalu, sampai ke usianya yang hampir sembilan puluh sekarang, filsuf ini melakukan satu hal yang di kalangan sejawatnya nyaris dianggap tabu: ia terus bicara tentang kebenaran seolah-olah kata itu masih punya arti. Bukan kebenaranmu atau kebenaranku. Bukan kebenaran sebagai fungsi dari kekuasaan, atau efek dari wacana, atau sekadar nama lain untuk apa yang kebetulan disepakati orang banyak pada suatu masa.
Melainkan kebenaran yang, dalam bahasa Badiou sendiri, datang menerobos yang memaksa dunia mengubah cara ia memandang dirinya.
Ia membayar harga untuk kekeraskepalaan ini. Sementara nama-nama seperti filusuf Derrida atau Foucault menjadi semacam mata uang yang beredar bebas di seminar-seminar sastra dan program studi budaya di seluruh dunia, nama Badiou lebih sering tinggal di pinggir dikutip oleh segelintir orang yang cukup sabar untuk mengikuti argumennya sampai ke ujung, yang sering kali panjang, berat, dan menolak untuk diringkas.
Peter Hallward, yang menulis buku paling tebal tentang dia dalam bahasa Inggris, memulai dengan sebuah pernyataan yang berani, karya utama Badiou, L'Être et l'événement, terbit 1988, adalah karya filsafat paling ambisius yang ditulis di Prancis sejak Sartre menulis Critique de la raison dialectique pada 1960. Di antara dua tanggal itu, hampir tiga puluh tahun, penuh dengan nama-nama besar tapi menurut Hallward tak satu pun yang berani mencoba apa yang dicoba Badiou: membangun sebuah sistem yang utuh, di zaman ketika kata "sistem" sendiri sudah dianggap sebagai dosa filsafat.
Kenapa orang seperti Badiou tak juga populer, padahal kata orang yang membacanya dengan serius ia mungkin filsuf hidup paling penting yang ditulis dalam bahasa Prancis?
Kita kira jawabannya sederhana, dan sedikit menggelikan, Badiou terlalu jujur untuk jadi populer.
Derrida bisa dipetik separuh-separuh. Kita bisa mengambil satu-dua istilahnya différance, dekonstruksi lalu memakainya untuk membongkar apa saja, dari iklan sampai undang-undang, tanpa harus membaca seluruh korpusnya. Foucault bisa jadi alat, sebuah cara membicarakan kekuasaan yang lentur, yang bisa ditempelkan ke topik apa pun. Tapi Badiou membangun sebuah bangunan. Dan bangunan tidak bisa dinikmati sepotong-sepotong; ambil satu ruangnya, dan yang tersisa hanya reruntuhan yang tak jelas maksudnya.
Ia sendiri tahu ini, dan tampaknya tidak keberatan. "Konsep-konsep filsafat harus dipahami secara perlahan," katanya suatu ketika. "Filsafat membutuhkan kesabaran." Ia bahkan, dengan agak jahil, sengaja membuat tulisannya berat bukan untuk mengusir pembaca, melainkan untuk mengusir pembaca yang tergesa-gesa. Ada perbedaan di situ, dan perbedaan itu, kita kira, adalah salah satu bentuk kesetiaannya yang paling konsisten.
Ia juga menolak masuk kubu mana pun yang tersedia. Bukan analis, bukan Heideggerian, bukan dekonstruksionis, bukan pula Marxis dalam pengertian lama yang gampang dikenali. Ia mengkritik Nietzsche dan Wittgenstein dengan tenaga yang sama besarnya dengan kritiknya terhadap Heidegger dan Derrida.
Di dunia akademik yang, seperti dunia mana pun, suka pada label karena label memudahkan kita untuk berhenti berpikir, seseorang yang menampik semua label adalah seseorang yang sulit ditaruh di rak mana pun dan yang sulit ditaruh di rak, biasanya, dibiarkan berdiri sendiri di lorong.
Tapi ia bukan cuma filsuf kering yang menulis untuk filsuf lain. Ia menulis drama. Ia menulis novel. Ia turun ke jalan bersama gerakan Maois di Prancis pada usia muda, dan sampai sekarang masih ikut kampanye untuk hak-hak buruh migran. Ia mengagumi Mallarmé, mengagumi Beckett. Ia menguasai teori himpunan matematis bukan sebagai perhiasan intelektual, melainkan sebagai fondasi betul-betul fondasi dari cara ia memikirkan apa itu "ada". Filsafat, sastra, matematika, politik, bagi kebanyakan orang, empat dunia yang berbeda. Bagi Badiou, empat jalan menuju satu tujuan yang sama.
Ada satu pertanyaan yang, kalau kita boleh menebak, menghantuinya sepanjang hidup, dan yang ia kembalikan lagi dan lagi dalam berbagai buku dengan berbagai kosakata: bagaimana sesuatu yang benar-benar baru bisa masuk ke dalam dunia?
Bukan yang baru dalam pengertian mode baju baru, gawai baru, jargon baru yang menggantikan jargon lama tahun depan. Melainkan yang baru dalam pengertian yang lebih keras, sesuatu yang tak bisa diramalkan dari apa pun yang sudah ada sebelumnya, yang datang tanpa izin dari logika yang berlaku, dan yang, begitu datang, memaksa kita mengubah seluruh peta.
Bayangkan Prancis menjelang 1789. Berabad-abad, tatanan dunia disusun berdasarkan hierarki yang dianggap sealami hukum alam: raja di atas, rakyat di bawah, dan di antara keduanya sebuah tangga panjang hak yang diwariskan lewat darah. Tak ada dalam logika feodal itu tak satu inci pun yang bisa menyimpulkan bahwa petani dan raja, pada dasarnya, setara. Namun tiba-tiba gagasan itu ada. Liberté, égalité, fraternité. Ia tidak lahir dari perhitungan yang masuk akal dalam sistem lama; ia menerobos sistem lama, seperti kilat yang tak pernah bisa diramalkan cuaca sebelumnya.
Inilah yang oleh Badiou disebut l'événement atau peristiwa.
Dan pertanyaan berikutnya, yang menurut kita jauh lebih menarik daripada pertanyaan pertama: mengapa ada orang yang, setelah sebuah peristiwa terjadi, memilih untuk tetap setia padanya padahal peristiwa itu tidak menjamin apa-apa, tidak memberi bukti apa-apa, tidak menawarkan kepastian apa pun selain dirinya sendiri?
Mengapa Paulus, sesudah pengalamannya di jalan menuju Damaskus, tidak kembali saja ke kehidupan lamanya sebagai penyidik pengikut Kristus, melainkan menghabiskan sisa umurnya mengelilingi Mediterania untuk menyebarkan sesuatu yang belum tentu dipercaya siapa pun? Mengapa ada orang bersedia mati untuk sebuah gagasan yang, pada saat kematiannya, belum juga terbukti benar? Mengapa seorang ilmuwan mau mempertaruhkan seluruh kariernya pada sebuah hipotesis yang ditertawakan koleganya?
Jawaban Badiou, kalau kita tak salah tangkap, karena pada saat-saat itulah, dan hanya pada saat-saat itulah, manusia sungguh-sungguh menjadi subjek bukan sekadar individu yang menjalani hidupnya, mengikuti kebiasaan, menghitung untung-rugi, melainkan sesuatu yang bergerak dari kekuatannya sendiri, digerakkan bukan oleh kalkulasi, melainkan oleh apa yang ia sebut kebenaran.
Untuk mengerti kenapa ini penting, kita perlu mengerti apa yang sedang dilawannya.
Filsafat abad kedua puluh dalam tiga aliran besarnya yang tampak berbeda tapi diam-diam serupa, filsafat analitik yang lahir dari positivisme logis, hermeneutika yang berutang pada Heidegger, dan pascastrukturalisme ala Derrida serta Lyotard punya satu kesamaan yang jarang disebut orang, ketiganya, dengan cara masing-masing, menjadi sangat curiga pada kata "kebenaran".
Ketiganya, dengan berbagai kosakata yang berbeda-beda kecanggihannya, sampai pada kesimpulan yang serupa: apa yang kita sebut kebenaran hanyalah konstruksi, konstruksi bahasa, konstruksi kekuasaan, konstruksi sudut pandang tertentu yang kebetulan sedang berkuasa.
Badiou menyebut ini sofisme dalam pengertian Platonis yang lama, filsafat yang melepaskan diri dari kebenaran dan menggantinya dengan opini, dengan retorika, dengan "apa yang berhasil" untuk sementara waktu, di tempat tertentu, bagi orang tertentu. Dan menurutnya, itulah yang sesungguhnya terjadi pada sebagian besar filsafat kontemporer, meski dibungkus kosakata yang jauh lebih rumit daripada sofisme Yunani kuno.
Ini bukan cuma soal akademik. Begitu "kebenaran" diturunkan derajatnya menjadi sekadar "perspektif", yang menang bukan lagi yang benar, melainkan yang paling pandai bicara. Yang menang adalah pasar opini dan pasar, seperti kita semua tahu dari pengalaman sehari-hari, tidak selalu memilih yang terbaik, melainkan yang paling ramai disukai.
Ada satu kisah kecil, yang dikutip Žižek, tentang dua seniman Soviet, Komar dan Melamid, yang pada awal 1990-an membuat survei besar-besaran: lukisan macam apa yang paling disukai orang Amerika? Jawabannya: pemandangan biru-hijau yang damai, dengan George Washington berjalan santai dan seekor rusa mengintip dari balik pohon persis seperti kalender murah yang tergantung di dapur. Dan lukisan yang paling tidak disukai? Sebuah komposisi abstrak yang tajam, mirip Kandinsky. Kalau selera mayoritas dijadikan ukuran keindahan, begitulah hasilnya: seni terbaik adalah seni yang paling tidak mengganggu siapa pun.
Badiou dalam filsafat, politik, seni, cinta menolak logika semacam ini sampai ke akar-akarnya. Baginya, justru hal-hal paling penting, paling nyata, paling benar, adalah hal-hal yang tak bisa diterima begitu saja oleh logika situasi yang sedang berlaku. Kebenaran, dalam pengertiannya, selalu muncul sebagai gangguan terhadap konsensus bukan hasil darinya.
Ini membawa kita pada gagasannya tentang subjek, yang barangkali paling orisinal di antara semua sumbangannya.
Dalam hidup sehari-hari, kita adalah individu: punya nama, kebiasaan, kepentingan, afiliasi produk dari keluarga, kelas, sejarah, kebetulan lahir di satu tempat dan bukan di tempat lain. Tak ada yang salah dengan ini. Tapi bagi Badiou, eksistensi semacam ini, betapapun sibuk dan penuhnya, belum menghasilkan apa yang ia sebut kebenaran.
Sekali-sekali, dalam hidup seseorang, terjadi sesuatu yang tak bisa diantisipasi, sebuah pertemuan, sebuah penemuan, sebuah momen ketika dunia lama tiba-tiba retak, sebuah karya seni yang memukul seperti petir di siang bolong. Sesuatu yang menolak dijelaskan dengan kosakata lama, yang tak mau dimasukkan ke laci mana pun yang sudah tersedia.
Di depan peristiwa semacam itu, kata Badiou, kita punya dua pilihan.
Yang satu: menekannya, berpura-pura tak terjadi apa-apa, kembali ke rutinitas, pilihan yang, jujur saja, diambil oleh hampir semua orang, hampir sepanjang waktu.
Yang lain: mengafirmasinya, menanggung konsekuensinya, mulai hidup berdasarkan peristiwa itu walau belum ada jaminan, walau dunia sekitar tak paham, walau kemungkinan gagal jauh lebih besar daripada kemungkinan berhasil.
Mereka yang memilih yang kedua itulah, bagi Badiou, subjek dalam pengertian penuh. Bukan karena mereka lebih pintar atau lebih baik dari yang lain, melainkan karena mereka setia pada sesuatu yang melampaui kepentingan mereka sendiri.
Paulus adalah salah satu contohnya. Sepasang kekasih yang memilih setia pada pertemuan yang rapuh dan tak terjamin, dan dari situ membangun kata Badiou sebuah "kebenaran berdua", sebuah cara memandang dunia yang tak mungkin ada seandainya hanya salah satu dari mereka yang ada.
Ilmuwan yang keras kepala menggali hipotesis yang belum diterima siapa pun. Seniman yang setia pada satu jalur penemuan estetis meski pasar tak menghendakinya. Orang-orang yang turun ke jalan meski kemenangan masih jauh dari pandangan.
Semua ini, kata Badiou, adalah wajah-wajah berbeda dari satu struktur yang sama: subjek yang lahir dari kesetiaan.
Ia menyebut empat wilayah tempat kebenaran dalam pengertiannya yang keras ini bisa muncul: politik, cinta, sains, seni.
Dalam politik, contohnya bukan cuma revolusi-revolusi besar Prancis, Rusia, Tiongkok melainkan juga peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dan sering terlupakan: Intifada di Palestina, gerakan mahasiswa Burma 1988, perjuangan petani tak bertanah di Brasil. Semua saat ketika orang-orang yang sebelumnya tak terlihat dalam tatanan yang ada tiba-tiba menjadi aktor yang tak bisa diabaikan lagi.
Dalam cinta, peristiwanya adalah pertemuan itu sendiri yang tak bisa direncanakan, tak bisa dihitung sebelumnya, dan kebenarannya adalah proses panjang membangun sebuah dunia berdua dari sesuatu yang, pada mulanya, hanya kebetulan.
Dalam sains, peristiwanya adalah penemuan yang memaksa kerangka lama dibongkar bukan sekadar tambahan pada apa yang sudah diketahui, melainkan cara memandang yang harus dibangun dari nol. Einstein tidak menambal fisika Newton; ia memaksa kita membangun ulang gagasan tentang ruang dan waktu.
Dalam seni, peristiwanya adalah karya yang membuka kemungkinan baru dalam bentuk dan persepsi yang tidak sekadar indah menurut ukuran lama, melainkan yang memaksa kita mendefinisikan ulang apa itu keindahan.
Dan filsafat sendiri, kata Badiou dengan rendah hati yang jarang kita duga dari seorang pembangun sistem, tidak menghasilkan kebenaran apa pun. Filsafat hanya merenungkan apa yang terjadi ketika kebenaran-kebenaran itu muncul di keempat wilayah tersebut, dan mencoba merumuskan bagaimana caranya kita bisa setia padanya. Filsafat, katanya, selalu berdiri di bawah bayang-bayang peristiwa yang datang dari luar dirinya sendiri.
Dan sampailah kita pada satu titik yang, kita kira, paling menggigit untuk zaman kita.
Dunia hari ini terutama dunia yang menyebut dirinya progresif sangat percaya pada satu jargon: hak untuk berbeda. Setiap kelompok mengklaim haknya berdasarkan identitas partikularnya: jenis kelamin, ras, agama, orientasi. Dan cara paling ampuh memenangkan perdebatan adalah dengan membuktikan diri sebagai korban yang paling menderita.
Badiou tidak menyangkal adanya penindasan yang nyata. Tapi ia menolak kerangka ini, dan penolakannya tajam.
Pertama, karena politik identitas, betapapun ia terdengar radikal, sebenarnya bermain di dalam logika yang sama dengan tatanan yang ingin dilawannya. Ia tak mempertanyakan prinsip dasar sistem; ia hanya meminta sistem itu mengakui kelompoknya sebagai sah. Ia tak menuntut dunia baru; ia menuntut pengakuan dari dunia lama. Dan pengakuan semacam itu, kata Badiou, pada akhirnya hanya bisa diberikan oleh pasar pasar budaya, pasar representasi, pasar simpati.
Kedua, dan ini lebih dalam, politik identitas beroperasi di ranah perbedaan, bukan kebenaran. Ia menyusun manusia berdasarkan apa yang memisahkan mereka, bukan apa yang bisa menyatukan mereka. Dan karena itu ia tak pernah bisa menjadi dasar bagi sebuah politik yang benar-benar universal.
Yang kita butuhkan, kata Badiou, bukan hak untuk berbeda, melainkan hak untuk sama kesetaraan yang tak bergantung pada dari komunitas mana kita berasal, atau seberapa besar penderitaan yang bisa kita tunjukkan. Sebuah kebenaran politik sejati harus bisa bicara kepada semua orang, bukan hanya kepada "kita" yang sudah sekubu.
Kritik ini menggigit ke kanan dan ke kiri sekaligus. Dan siapa pun yang hidup di negeri ini, di mana afiliasi etnis, agama, dan daerah semakin menentukan siapa memilih siapa, tahu betul betapa relevannya kegelisahan itu.
Bukankah kita juga menyaksikan, hampir setiap hari, bagaimana cara termudah memenangkan sebuah argumen adalah dengan mengklaim kelompok kita yang paling terzalimi? Bukankah "perbedaan" di negeri ini juga lebih sering jadi senjata pembelah daripada jembatan penyatu?
Sarjana Hallward menulis dengan sebuah kalimat yaitu tak ada filsuf yang lebih mendesak dibutuhkan zaman ini daripada Badiou. Kita hidup di masa yang sangat reaksioner, katanya masa ketika politik yang berani berimajinasi telah digantikan oleh manajemen ekonomi, ketika pasar global muncul sebagai satu-satunya cara yang tersisa untuk mengoordinasikan kehidupan bersama.
Dan alternatif yang tersedia bagi keterasingan itu? Hampir semuanya adalah variasi dari identitas: ultranasionalisme, fundamentalisme, tribalisme etnis semua menawarkan "komunitas" sebagai pelarian dari kesepian pasar, tapi komunitas yang dibangun di atas pengecualian, bukan pelukan.
Badiou menolak keduanya. Ia menolak pasar sebagai satu-satunya logika yang tersisa. Ia menolak identitas sebagai jawabannya. Yang ia tawarkan jauh lebih sulit, dan jauh lebih menuntut: filsafat sebagai latihan kesetiaan pada kebenaran pada momen-momen langka ketika sesuatu yang benar-benar baru menjadi mungkin, dan seseorang memilih untuk tidak berpaling darinya.
Ini bukan optimisme yang naif. Ia tak pernah bilang dunia sedang membaik, atau revolusi sudah di ambang pintu. Yang ia katakan lebih sederhana, peristiwa bisa terjadi kapan saja, di mana saja dalam politik, sains, seni, cinta. Dan begitu ia terjadi, kita selalu punya pilihan: mengabaikannya dan kembali ke rutinitas yang aman, atau mengafirmasinya dan menanggung seluruh akibatnya, betapapun beratnya itu.
Ada satu ironi kecil, yang menurut kita cukup indah, dalam cara Badiou memilih berkomunikasi.
Di zaman yang menuntut kecepatan ringkasan tiga menit, kesimpulan tanpa proses, kebenaran yang bisa dibaca sambil menunggu bus ia justru menulis lambat, berat, berputar-putar, dengan kosakata yang harus dipelajari pelan-pelan, seperti belajar bahasa asing di usia tua.
Ini bukan keangkuhan seorang intelektual yang ingin dianggap sulit. Ini adalah pernyataan filosofis itu sendiri, bahwa ada hal-hal yang tak bisa diringkas tanpa kehilangan intinya, sebagaimana sebuah lagu tak bisa dinyanyikan dengan setengah nada dan tetap disebut lagu yang sama.
Bahwa kebenaran jenis kebenaran yang dibicarakan Badiou hanya bisa diraih lewat proses yang panjang dan sering melelahkan. Bahwa kesabaran, bukan kelincahan, bukan kepandaian merangkum, adalah syarat pertama bagi pikiran yang sungguh-sungguh berpikir.
Di dunia yang dipenuhi orang-orang yang merasa sudah paham sesudah membaca satu alinea pertama, mungkin gestur paling radikal yang tersisa bagi kita adalah sesuatu yang sederhana sekali, duduk, membuka buku yang berat, membacanya perlahan-lahan dengan keyakinan bahwa di suatu halaman, kelak, ada sesuatu yang akan menghantam kita, memaksa kita berpikir ulang, dan mengundang kita untuk setia pada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kita sendiri.
Itu, pada akhirnya, yang ditawarkan Badiou. Bukan jawaban yang gampang. Bukan peta jalan menuju kemenangan yang terjamin. Melainkan sesuatu yang mungkin lebih berharga daripada semua itu, keyakinan bahwa kebenaran masih mungkin, bahwa sesuatu yang benar-benar baru masih bisa terjadi kapan saja, dan bahwa kita siapa pun kita, betapapun kecilnya kita dalam sejarah bisa memilih untuk menjadi bagian dari peristiwa itu, alih-alih hanya menontonnya dari pinggir dan kemudian pulang.
Barangkali itu, dan bukan yang lain, satu-satunya alasan yang cukup untuk mulai membacanya.
Sumber: Fb








